cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Gedung Graha Medika Lt. 1, Ruang 104
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Brawijaya
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 02169347     EISSN : 23380772     DOI : http://dx.doi.org/10.21776/ub.jkb
Core Subject : Health,
JKB contains articles from research that focus on basic medicine, clinical medicine, epidemiology, and preventive medicine (social medicine).
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 18, No 2 (2002)" : 9 Documents clear
Kejadian Toxoplasmosis pada Kasus-kasus Abortus Spontan di RS Dr. Saiful Anwar dideteksi dengan Pemeriksaan Serologik, Histopatologik dan PCR Sardjono, Teguh Wahju; Soewarto, Soetomo; Muhammad, Lubnah
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 18, No 2 (2002)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2048.369 KB)

Abstract

Toxoplasmosis dikenal sebagai salah satu penyebab penting dari abortus spontan pada manusia, tetapi seberapa besar sebenarnya peran dari penyakit ini sebagai penyebab abortus, belum diketahui secara pasti. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui angka kejadian Toxoplasmosis pada kasus-kasus abortus spontan di RSUD dr. Saiful Anwar (RSSA) Malang, dengan menggunakan metode pemeriksaan serologic, histopatologik dan PCR. Dalam kurun waktu 4 bulan (Maret-Juni 2000) dari 2395 kunjungan pasien di bagian Obstetri-Ginekologi RSSA didapatkan 451 kasus abortus (18,83%). Diperoleh 43 kasus abortus spontan dan 23 kaus kehamilan normal yang memenuhi syarat dan bersedia mengikuti penelitian ini. Pada kelompok kehamilan normal, rerata kadar IgM maupun IgG ternyata lebih tinggi dibanding kelompok subyek, tetapi perbedaan tersebut tidak bermakna (p>0,05). Rasio prevalensi kasus dengan IgM (-) dan IgM (+) pada kelompok pembanding (1:22) dibandingkan pada kelompok studi (3:40) tidak berbeda secara bermakna (p=0,67; OR=1,65). Rasio prevalensi kasus dengan IgG (+) dan IgG (-) pada kelompok pembanding (14:9) lebih besar dari kelompok subyek (22:21), tetapi perbedaan ini juga tidak bermakna (p=0,45; OR=0,67). Pada penelitian ini tidak ditemukan adanya Toxoplasma di jaringan kerokan sisa kehamilan, baik melalui pemeriksaan histopatologik maupun PCR. Hasil penelitian ini tidak dapat menyimpulkan bahwa Toxoplasmosis merupakan penyebab utama dari abortus spontan. Wanita hamil dengan IgG Toxoplasma positif justru mempunyai resiko lebih rendah untuk mengalami abortus dibandingkan yang IgGnya negatif.
Pengaruh Pemberian Bawang Putih (Allium sativum Linn.) Fraksi Tidak Larut Air terhadap Pengaktifan Sistem Komplemen Mencit Winarsih, Sri
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 18, No 2 (2002)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1847.942 KB)

Abstract

Bawang putih (Allium sativum Linn.) telah dikenal oleh masyarakat luas dengan berbagai kegunaannya. Pada beberapa penelitian terdahulu diduga bawang putih memiliki efek sebagi imunostimulan. Salah satu uji untuk mengetahu efek imunostimulan adalah uji aktivasi komplemen, tujuan penelitian ini adalh mengetahui efek bawang putih fraksi tidak larut air (ampas) terhadap aktivasi komplemen jalur klasik dan jalur alternatif. Penelitian ini dilakukan menggunakan hewan coba mencit. Mencit dengan berat bdan kurang lebih 25 gram, diberi fraksi tidak larut air dari bawang putih melalui oral dengan dosis 8mg/25g BB, 16mg/25g BB dan 32mg/g BB. Parameter yang diamati oleh CH50 (unit komplemen yang melisiskan 50% indikator hemolitik). Pengukuran CH50 dilakukan pada hari ke-1, ke-3, ke-5, dan ke-7 setelah perlakuan dengan menggunakan metode pre-post test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pengaktifan komplemen baik jalur klasik maupun jalur alternatif (p<0,05), dan terjadi interaksi antara waktu dan dosis. Besarnya pengaktifan komplemen jalur alternatif sesuai dengan besarnya dosis yang diberikan (p<0,05), sedangkan pada jalur klasik tidak demikian, namun demikian, prosentase peningkatan pengaktifan jalur klasik relatif lebih besar dibanding jalur alternatif. Bahan kandungan aktif fraksi tidak larut air dari bawang putih diduga bukan sebagai pencetus pengaktifan sistem komplemen, tetapi memiliki kemampuan menginduksi bagian aktif enzimatik dari komponen komplemen mencit.
POLA PROTEIN DARI OUTER MEMBRANE PROTEIN YANG DIIDOLASI MENGGUNAKAN N-OCTYL GLUCOSIDE DAN MENGGUNAKAN SARCOSYL PADA SALMONELLA TYPHI Muwarni, Sri; Santosaningsih, Dewi; Ramadhona, Aisya
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 18, No 2 (2002)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2402.169 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola protein dari outer membrane protein (OMP) Salmonella typhi, yang diisolasi menggunakan 2 metode yang berbeda yaitu menggunakan sarcosyl dan n-octyl-glucoside (NOG). Apakah dengan cara isolasi yang berbeda akan ditemukan persamaan pola protein OMP tersebut. Harapan lebih lanjut adalah efektivitas kerja dalam mengisolasi OMP. Salmonella typhi diperoleh dari penderita typhoid fever di Rumah Sakit Saiful Anwar, Malang. Bakteri tersebut diidentifikasi dan dimurnikan menggunakan medium yang biasa digunakan untuk identifikasi Enterobactericeae. Kuman yang telah dimurnikan kemudia dipropagasi pada media bifasik Luria agar dan suspensi bakteri pada thyglicolat. Prinsip kerja dari isolasi OMP menggunakan sarcosyl adalah ultrasentrifugasi sonikasi kuman dengan menambahkan sarcosyl sebagai deterjen yang memisahkan OMP dari membran luar. Sedangkan NOG bekerja langsung memecah sel kuman utuh, tanpa sonikasi. Outer membrane protein yang diperoleh dari kedua cara tersebut kemudian didialisa menggunakan phospate buffer saline (PBS) selama 2x24 jam. Outer membrane protein (OMP) dihitung dengan cara mengukur relatif of flow (Rf) fraksi protein dan dihitung menggunakan exponential regression. Dari penelitian ini dapat ditarik kesimpulan, bahwa penggunaan cara isolasi OMP yang berbeda akan diperoleh gambaran pola protein yang berbeda pula. Dari kedua cara isolasi tersebut, fraksi OMP Salmonella typhi yang terberat molekul kurang dari 65kDa dapat terdeteksi dengan menggunakan NOG dan sarcosyl, sedangkan fraksi protein dengan berat molekul lebih dari 65 kDa hanya dapat terdeteksi dengan menggunakan sarcosyl.
Deteksi Antibodi IGA-Spesifik dalam Saliva Penderita Demam Dengue dengan Teknik Elisa Rumende, Rooije RH; HNES, Marsetyawan; Sutaryo, Sutaryo
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 18, No 2 (2002)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1576.705 KB)

Abstract

Demam dengue (DD) merupakan penyakit yang disebabkan virus dengue. Pemeriksaan secara serologis terhadap infeksi dengue dangan menggunakan darah sampai saat ini masih terdapat beberapa kendala. Kendala yang sering dijumpai adalah pasien tidak bersedia karena merasa takut dan sakit saat pengambilan darah. Saat ini sedang dikembangkan pemeriksaan serologis menggunakan saliva dengan alasan lebih mudah, tidak intervensif dan lebih ekonomis. Pengembangan pemeriksaan diarahkan pada deteksi antibodi yang ada dalam saliva. Deteksi antibodi (IgG dan IgM) pada saliva yang terifeksi dengue telah dilaksanakan, sedangkan IgA-spesifik hingga kini belum pernah diperiksa. Tujuan penelitian umum adalah untuk mendeteksi IgA-spesifik terhadap virus dengue pada saliva anak-anak yang terinfeksi DD dengan teknis ELISA. Sedangkan tujuan khusus adalah mendapatkan gambaran kadar IgA-spesifik terhadap virus dengue secara sekuensial (serial) pada saliva anak-anak terinfeksi DD dengan teknik ELISA. Metodologi yang digunakan penelitian ini ada dua tahap. Pertama, pengumpulan saliva individu sehat dan saliva penderita DD/demam nondengue menurut gejala klinis  sesuai kriteria WHO. Kedua, deteksi IgA-spesifik dalam saliva individu (anak) sehat dan saliiva penderita DD/demam nondengue dengan teknik ELISA. Pengumpulan saliva penderita (secara serial) dilakukan di Bagian Anak/SMF RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Saliva individu (anak) sehat dikumpulkan sekali bertempat di Yogyakarta. Hasil penelitian adalah IgA-spesifik pada saliva anak-anak yang terifeksi DD dapat dideteksi dengan teknik ELISA. Dari 14 sampel saliva dari anak-anak yang sehat, cut off value didapat 0,417. Kesimpulan penelitian adalah IgA-spesifik terhadap virus dengue pada saliva anak-anak yang terifeksi dengue dapat terdeteksi. Rerata kadar OD dari penderita demam nondengue (tifoid) mengalami fluktuasi dan dalam tingkat dengue negatif.
Adhesion Test of Hemagglutinin-O36 Protein of Salmonella Typhi Malang Isolate at Balb/C Mice Enterocytes Santoso, Sanarto
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 18, No 2 (2002)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2296.948 KB)

Abstract

Pada umumnya protein hemagglutinin (HA) bakterial juga memerankan adhesin. Pada penelitian terdahulu diketahui bahwa Salmonella typhi isolat amlang memiliki material afimbrial yang dapat mengagglutinasikan eritrosit atau merupakan protein hemagglutinin (HA), berasal dari OMP (outer membrane protein) dengan berat molekul sekitar 36kDa (HA-O36). Dari hasil penelitian ini, melalui uji adhesi dengan 6 perlakuan  dosis protein HA-O36, tampak bahwa dengan makin meningkatnya dosis makin sedikit bakteri Salmonella typhi yang menempel pada eritrosit mencit Balb/c, dan dari hasil Anova menunjukkan bahwa perlakuan dosis berpengaruh sangat bermakna terhadap indeks adhesi. Terdapat hubungan yang nyata antara perlakuan dosis dengan nilai indeks adhesi, yang ditunjukkan dengan koefisien korelasi Pearson sebesar -0,830 denganp=0,001. Dengan demikian maka terbukti bahwa protein HA-O36 Salmonella typhi adalah protein adhesin OMP atau sebagai afimbrial adhesin (AFA), dan selanjutnya protein ini diberi nama protein adhesin –O36 atau AdhO36. Selain itu pada penelitian ini dapat diketahui bahwa protein AdhO36 mampu menginduksi semacam membrane ruffling pada sel entrosit, serta diketahui bahwa dari beberapa pengamatan Salmonella typhi juga menunjukkan pola adhesi tipe localized.
Siderofor: Senyawa Transpor Besi Mikrobial Tandya, Sugiharta; A, Maimun Zulhaidah
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 18, No 2 (2002)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1689.232 KB)

Abstract

Besi merupakan salah satu mineral yang penting bagi bakteri patogenik untuk tumbuh di dalam tubuh inang. Karena konsentrasi besi yang terlarut sangat rendah, bakteri mengembangkan mekanisme-mekanisme untuk memperoleh besi dengan konsentrasi yang memadai, salah satu adalah dengan mensintesa siderofor. Siderofor ini mengadakan kompleks dengan besi yang selanjutnya ditranspor ke dalam sel untuk digunakan oleh mikroorganisme tersebut. Senyawa-senyawa dengan berat molekul rendah ini ditranspor melewati double membrane envelope bakteria melalui gating mechanism yang menghubungkan membran dalam dan luar. Senyawa-senyawa pengkhelat besi ini dibagi menjadi empat kelompok: katekholat, hindroksamat, hindroksipiridonat, dan aminokarboksilat. Potensi patogenik beberapa spesies bakteri dikaitkan dengan kemampuan bakter-bakteri tersebut di dalam mengahasilkan siderofor. Sehingga hal ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan terapi antimikrobial dan pembentukan vaksin.
Pengaruh Peroksidasi Lemak dan Peningkatan iNOS terhadap KErusakan Tulang Rawan Sendi pada Instabilitas (Penelitian Eksperimental Laboratoris) Hidayat, Mohamad
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 18, No 2 (2002)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2487.821 KB)

Abstract

Tujuan: mengetahui pengaruh terjadinya proses peroksidasi lemak sebagai manifestasi stres oksidatif dan peningkatan iNOS terhadap kerusakan tulang rawan sendi pada instabilitas sendi. Rancangan penelitian: 18 kelinci New Zealand dewas, dibagi dalam 3 kelompok masing-masing 6 kelinci, dilakukan 3 bentuk perlakuan operaso instabilitas yang berbeda pada lutut kiri. Delapan minggu pasca operasi dilakukan pengambilan sampel tulang rawan sendi lutut perlakuan pada semua kelompok. Setiap sampel diperiksa kadar MDA (Malondialdehid), secara tes thiobarbiturat (TBA test) sebagai indikator peroksidasi lemak, dan SOD (superoksid dismutase) sebagai antioksidan dengan tes Oberley, kadar iNOS (inducible nitric oxide) secara imunohistokimia, dan kadar GAG (glikosaminoglikan) sebagai indikator kerusakan tulang rawan sendi, secara DMMB (dimethyldimethylene blue) dengan spektrofotometri dan imunohistokimia. Hasil: didapatkan hubungan yang bermakna antara derajat instabilitas dengan terjadinya peroksidasi lemak dan peningkatan iNOS dengan peningkatan GAG sebagai indikator kerusakan tulang rawan sendi. Terdapat pengaruh iNOS dan MDA terhadap GAG. Kesimpulan: derajat instabilitas sebanding dengan derajat terjadinya peroksidasi lemak dan peningkatan iNOS yang berpengaruh terhadap kerusakan tulang rawan sendi.
Peran Mitokondria dalam Apoptosis Zulhaidah A, Maimun; Tjahjono, Cholid Tri
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 18, No 2 (2002)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2339.228 KB)

Abstract

Apoptosis merupakan bentuk kematian fisiologis sel yang terprogram dimana secara morfologis dan biokimiawi berbeda dengan nekrosis, yang merupakan proses spontan dan tak terregulasi. Berbagai peristiwa kunci di dalam apoptosis melibatkan mitokondria dimana organela ini melepaskan protein-protein/molekul proapoptotik yang berperan di dalam mengaktifkan cascade apoptotik. Tiga mekanisme bagaimana mitokondria berperan di dalam apoptosis adalah, dengan menyebabkan gangguan transpor elektron dna metabolisme energi yang merupakan gambaran awal kematian sel; melepaskan protein-protein, antara lain sitokrom c (dilepaskan akibat adanyastimuli kematian), yang memicu aktifasi kaspase; dan dengan mengubah potensial oksidasi-reduksi seluler yang melibatkan peran anion superoksida yang banyak terdapat di dalam organella ini.
Inhibition of Amino Acid-mTOR Signaling by a Leucine Derivative Induces G1 Arrest in Jurkat Cells Hidayat, Sujuti; Yoshino, Ken-ichi; Tokunaga, Chiharu; Hara, Kenta; Matsuo, Masafumi; Yonezawa, Kazuyoshi
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 18, No 2 (2002)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2675.512 KB)

Abstract

mTOR, asam amino sensor, berperan dalam siklus pertumbuhan dan pembelahan sel melalui pengaturan aktivitas dari p70 S6 kinase dan eukaryotic initiation factor 4E binding protein 1. Dalam penelitian sebelumnya, telah diamati bahwa N-Acetylleucine arnide, turunan dari L-leucine, menghambat aktivitas dari p70 S5 kinase pada sel hepatoma tikus. Pada peneltian ini, ingin diketahui apakah N-acetylleucine arnide menghambat asam amino-mTOR signaling. N-Acetylleucine arnide mengakibatkan berhentinya siklus pembelahan sel di fase G1 pada sel Jurkat, human leukimia T sel, bersamaan dengan terhambatnya aktivitas dari p70 S6 kinase dan terhambatnya degradasi dari p27 protein. N-Acetylleucine arnide juga menyebabkan dephosphorilasi dari retinablastoma protein. Efek yang tersbut diatas menunjukkan bahwa N-Acetylleucine arnide mempunyai efek seperti rapamycin dalam menghambat asam amino-mTOR signaling yang menyerupai rapamycin dalam menghambat siklus pembelahan sel.

Page 1 of 1 | Total Record : 9