cover
Contact Name
Herie Saksono
Contact Email
heri030@brin.go.id
Phone
+628118899965
Journal Mail Official
jurnaletheia@gmail.com
Editorial Address
Pondok Indah Office Tower 3, 17 Floor, Jl. Sultan Iskandar Muda Kav. V-TA Pondok Indah, Jakarta - 12310
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Aletheia: Jurnal Sosial & Humaniora, Inovasi, Ekonomi dan Edukasi
Published by INDOCAMP
ISSN : 30642485     EISSN : 30642612     DOI : https://doi.org/10.63892/aletheia
Fokus dan Ruang Lingkup Fokus ALETHEIA: Jurnal Sosial & Humaniora, Inovasi, Ekonomi, dan Edukasi merupakan jurnal ilmiah yang berfokus pada bidang-bidang ilmu Sosial & Humaniora, Inovasi, Ekonomi, dan Edukasi beserta pengembangannya. Jurnal ini menerbitkan artikel berdasarkan studi empiris baik yang menggunakan pendekatan kuantitatif atau kualitatif atau kombinasi keduanya. Ruang Lingkup ALETHEIA: Jurnal Sosial & Humaniora, Inovasi, Ekonomi, dan Edukasi membutuhkan artikel ilmiah tentang Sosial & Humaniora, Inovasi, Ekonomi, dan Edukasi. Ini mencakup isu-isu di berbagai tingkat analisis (penelitian pribadi, kelompok, dan kemasyarakatan). Selain itu, memberikan peluang publikasi artikel berdasarkan penelitian interdisipliner, multidisipliner, transdisipliner, dan krosdisipliner, bahkan memprioritaskan dan/atau memberikan ruang khusus untuk itu.
Arjuna Subject : -
Articles 30 Documents
Ketimpangan Sistem Pelayanan Kesehatan dan Dinamika Keluhan Penduduk: Bukti Spasial dari Provinsi Kepulauan di Indonesia Lestari, Kadek Dwipa Citra
ALETHEIA: Jurnal Sosial & Humaniora, Inovasi, Ekonomi, dan Edukasi Vol 2 No 2 (2025)
Publisher : Penerbit Indocamp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63892/aletheia.2.2025.95-107

Abstract

Keluhan kesehatan penduduk merupakan indikator morbiditas subjektif yang penting dalam menilai kinerja sistem pelayanan kesehatan dan ketimpangan kesehatan antarwilayah. Meskipun secara nasional terjadi penurunan keluhan kesehatan, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) masih mencatat tingkat keluhan tertinggi di Indonesia, disertai disparitas spasial yang signifikan antar kabupaten/kota. Sebagian besar kajian sebelumnya cenderung bersifat potret statis tahunan dan belum mampu menjelaskan kecepatan perbaikan atau degradasi kesehatan masyarakat sebagai hasil pembangunan sistem kesehatan daerah. Penelitian ini bertujuan menganalisis dinamika tren keluhan kesehatan penduduk, mengidentifikasi disparitas laju perubahan antarwilayah, serta menjelaskan perbedaannya dalam kaitannya dengan ketersediaan sarana pelayanan kesehatan di Provinsi NTB selama periode  2019–2023. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif komparatif berbasis data sekunder Badan Pusat Statistik (BPS), dengan teknik analisis tren dan perhitungan laju pertumbuhan rata-rata tahunan (Compound Annual Growth Rate/CAGR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara agregat Provinsi NTB mengalami penurunan keluhan kesehatan dengan CAGR –2,94%, namun terdapat dispersi antarwilayah yang sangat lebar, dari –13,16% hingga +4,66%. Wilayah kota menunjukkan laju perbaikan kesehatan yang jauh lebih cepat dibandingkan wilayah kabupaten, sementara beberapa kabupaten justru mengalami peningkatan keluhan kesehatan meskipun jumlah sarana pelayanan kesehatan relatif besar. Temuan ini mengindikasikan bahwa pertumbuhan kuantitas sarana kesehatan tidak secara otomatis menurunkan keluhan kesehatan tanpa dukungan kualitas layanan dan efektivitas sistem rujukan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa dinamika kesehatan masyarakat di NTB bersifat struktural dan sistemis. Oleh karena itu, rekomendasi kebijakan diarahkan pada penguatan kualitas layanan, integrasi sistem rujukan, dan pemanfaatan indikator keluhan kesehatan sebagai instrumen evaluasi kebijakan kesehatan daerah secara berkelanjutan.
Siapa Mendorong Pertumbuhan E-Commerce Daerah? Analisis Transformasi Spasial dan Demografi Pelaku Usaha di Provinsi Nusa Tenggara Barat Jauhari, M. Agusnul
ALETHEIA: Jurnal Sosial & Humaniora, Inovasi, Ekonomi, dan Edukasi Vol 2 No 2 (2025)
Publisher : Penerbit Indocamp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63892/aletheia.2.2025.131-141

Abstract

Digital transformation has restructured trade systems through the rapid expansion of platform-based e-commerce. However, such growth remains uneven across regions and business actors. This study aims to analyze the structural dynamics of e-commerce growth from a regional perspective and to identify the dominant demographic actors driving its acceleration. The core problem lies in digital adoption disparities and the limited body of research examining e-commerce from the supply-side perspective rather than consumer behavior. The study employs a quantitative-descriptive approach with a comparative-structural design using secondary data from Indonesia’s E-Commerce Statistics (2019–2024). Analytical techniques include descriptive-comparative analysis, growth analysis, and demographic structural analysis. Findings reveal a significant rise in e-commerce enterprises both nationally and in West Nusa Tenggara (NTB), although NTB remains in a catching-up phase with lower penetration. The regional business structure reflects coexistence between e-commerce and non-e-commerce, indicating a gradual hybrid transformation. Demographically, growth is not youth-dominated but concentrated among mature productive-age entrepreneurs transforming existing businesses into digital platforms. This study identifies a dual transformation pattern—regional acceleration and generational adaptation—as its novelty. It concludes that the future of regional e-commerce depends on digital infrastructure convergence and cross-generational capacity building. Policy recommendations emphasize connectivity expansion, MSME digital incubation, and marketplace ecosystem integration.
Pengangguran Lulusan Pendidikan Tinggi di Indonesia: Dinamika Pertumbuhan dan Ketidaksesuaian Pasar Kerja (2019–2025) Pratiwi, Rizkia Ariyani
ALETHEIA: Jurnal Sosial & Humaniora, Inovasi, Ekonomi, dan Edukasi Vol 2 No 2 (2025)
Publisher : Penerbit Indocamp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63892/aletheia.2.2025.85-94

Abstract

Ekspansi pendidikan tinggi di Indonesia diposisikan sebagai instrumen strategis pembangunan modal manusia, namun perkembangan empiris menunjukkan paradoks berupa meningkatnya pengangguran lulusan Diploma dan Universitas di tengah perbaikan indikator pasar tenaga kerja. Permasalahan ini mengindikasikan ketidaksesuaian struktural antara output pendidikan tinggi dan kebutuhan dunia kerja. Penelitian terdahulu umumnya berfokus pada determinan makro pengangguran atau mismatch berbasis mikro, sehingga masih terbatas yang mengkaji perbedaan dinamika pertumbuhan pengangguran antarjenjang pendidikan tinggi dalam perspektif deret waktu nasional. Berangkat dari kesenjangan tersebut, penelitian ini bertujuan menganalisis tren dan laju pertumbuhan pengangguran lulusan Diploma dan Universitas di Indonesia periode 2019–2025 serta mengidentifikasi implikasi strukturalnya terhadap kebijakan ketenagakerjaan. Penelitian berpijak pada Teori Modal Manusia sebagai grand theory, kredensialisme sebagai middle-range theory, serta teori pencarian kerja dan education–job mismatch sebagai applied theory. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif deskriptif-analitis dengan desain runtut waktu menggunakan data sekunder Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) BPS periode 2019–2025. Hasil penelitian menunjukkan divergensi struktural: pengangguran lulusan Diploma menurun, sementara lulusan Universitas meningkat dengan laju positif. Di sisi lain, pertumbuhan kesempatan kerja lebih banyak terserap pada pekerja berpendidikan rendah, mengindikasikan dominasi pekerjaan berkeahlian rendah. Temuan ini menegaskan terjadinya inflasi kredensial, mismatch vertikal–horizontal, serta penurunan nilai tukar ekonomi ijazah. Kebaruan penelitian terletak pada pengukuran komparatif laju pertumbuhan pengangguran antarjenjang pendidikan tinggi berbasis data nasional jangka menengah. Disimpulkan bahwa ekspansi pendidikan tinggi belum diimbangi kapasitas absorpsi pasar kerja berkeahlian tinggi. Direkomendasikan penguatan kebijakan link and match berbasis kompetensi, reformasi kurikulum adaptif, serta integrasi sistem informasi pasar kerja guna menekan pengangguran terdidik secara berkelanjutan.
Mobilitas Wisatawan dalam Mendukung Pariwisata Berkelanjutan di Kawasan Lombok–Sumbawa Raudatul
ALETHEIA: Jurnal Sosial & Humaniora, Inovasi, Ekonomi, dan Edukasi Vol 2 No 2 (2025)
Publisher : Penerbit Indocamp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63892/aletheia.2.2025.121-130

Abstract

Perkembangan pariwisata berkelanjutan di kawasan kepulauan tidak hanya ditentukan oleh kapasitas destinasi, tetapi juga oleh dinamika mobilitas wisatawan yang membentuk distribusi kunjungan dan pemerataan manfaat ekonomi wilayah. Kawasan Lombok–Sumbawa di Provinsi Nusa Tenggara Barat mengalami pertumbuhan pariwisata yang signifikan, namun masih dihadapkan pada ketimpangan spasial kunjungan antarwilayah. Penelitian ini berangkat dari kesenjangan kajian yang masih terbatas dalam mengintegrasikan analisis mobilitas wisatawan domestik berbasis asal–tujuan dengan pembangunan pariwisata berkelanjutan kewilayahan. Penelitian bertujuan menganalisis pola mobilitas wisatawan nusantara, mengidentifikasi konsentrasi dan polarisasi kunjungan, serta merumuskan implikasinya terhadap keberlanjutan pembangunan pariwisata di Lombok–Sumbawa. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif eksplanatori berbasis analisis mobilitas origin–destination dengan memanfaatkan data sekunder Badan Pusat Statistik Provinsi NTB periode 2019–2025. Teknik analisis meliputi konstruksi matriks mobilitas wisatawan, perhitungan Compound Annual Growth Rate (CAGR), serta analisis komparatif-spasial antarwilayah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kota Mataram dan Lombok Barat berperan sebagai urban tourism generator dengan tingkat produksi perjalanan tertinggi. Sementara itu, Lombok Tengah dan Lombok Barat menjadi destinasi inti dengan pertumbuhan kunjungan paling pesat, mencerminkan kuatnya destination pull effect yang diikuti spillover terbatas pada wilayah penyangga. Sebaliknya, beberapa wilayah seperti Sumbawa dan Lombok Timur menunjukkan stagnasi mobilitas dan kunjungan, menandakan adanya polarisasi pembangunan pariwisata. Studi ini menyimpulkan bahwa struktur mobilitas wisatawan di Lombok–Sumbawa masih terkonsentrasi secara spasial, sehingga berimplikasi pada ketimpangan distribusi manfaat ekonomi dan potensi tekanan daya dukung destinasi inti. Rekomendasi diarahkan pada penguatan konektivitas intra-kawasan, redistribusi investasi destinasi, serta pemerataan arus mobilitas wisatawan guna mendorong pembangunan pariwisata yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Episentrum Baru Konsumsi Rokok: Siapa Tertinggi dan Siapa Tercepat di Indonesia, 2020–2024? Wina Anggi Agistin; Ika Ulandari
ALETHEIA: Jurnal Sosial & Humaniora, Inovasi, Ekonomi, dan Edukasi Vol 3 No 1 (2026)
Publisher : Penerbit Indocamp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63892/aletheia.3.2026.37-47

Abstract

Cigarette consumption in Indonesia remains persistently high and constitutes a major determinant of non-communicable disease burden, preventable mortality, and socio-economic losses. The core problem lies in the uneven effectiveness of tobacco control policies across regions, while most previous studies remain sectoral and cross-sectional, limiting their ability to capture spatial variability and temporal dynamics comprehensively. Addressing this gap, this study aims to analyze the provincial distribution of cigarette consumption and its growth dynamics during 2020–2024. The research is grounded in the Social Determinants of Health and Political Economy of Tobacco (grand theory), consumer behavior and health risk theories (middle-range), and spatial distribution epidemiology with longitudinal trend analysis (applied theory). A quantitative descriptive approach was employed using regional distribution and temporal dynamics analysis based on secondary data from the National Socio-Economic Survey (Susenas). Analytical techniques included comparative tabulation and Compound Annual Growth Rate (CAGR) estimation. Findings reveal a moderate national increase from 28.69% (2020) to 28.99% (2024), masking substantial provincial disparities. High-consumption clusters are concentrated in Lampung, Bengkulu, West Java, and West Nusa Tenggara, whereas Bali, Jakarta, and Papua represent low clusters. Temporally, several provinces exhibit accelerated growth while others show sharp contractions. The integrated spatial-temporal findings confirm that Indonesia’s tobacco consumption landscape is geographically dynamic, implying that intervention priorities should consider both prevalence levels and growth rates. The study recommends regionally differentiated tobacco control strategies integrating fiscal instruments, market regulation, and social interventions.
Representasi dan Substansi: Analisis Kritis Keterlibatan Perempuan dalam Parlemen Provinsi Nusa Tenggara Barat Baiq Mela Hilma Yunita
ALETHEIA: Jurnal Sosial & Humaniora, Inovasi, Ekonomi, dan Edukasi Vol 3 No 1 (2026)
Publisher : Penerbit Indocamp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63892/aletheia.3.2026.1-13

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh paradoks pembangunan gender di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), dimana perbaikan indikator kesetaraan – khususnya Indeks Ketimpangan Gender (IKG) – tidak diikuti peningkatan keterwakilan perempuan di parlemen daerah. Permasalahan penelitian terletak pada kesenjangan konversi antara capaian pembangunan gender dan representasi politik elektoral perempuan. Kesenjangan riset muncul karena sebagian besar studi terdahulu berfokus pada dinamika nasional, pra-elektoral, dan belum mengintegrasikan indikator makro pembangunan gender dengan representasi legislatif lokal. Penelitian ini bertujuan menganalisis dinamika perkembangan IKG dan tren keterwakilan perempuan DPRD kabupaten/kota di NTB periode 2019–2023, sekaligus mengidentifikasi disparitas dan struktur peluang politiknya. Kerangka teori memadukan teori representasi politik (deskriptif–substantif), parlemen sebagai gendered workplace, teori rekrutmen politik, serta perspektif gender and development. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif berbasis data sekunder BPS dan komposisi legislatif daerah. Teknik analisis meliputi statistik deskriptif-komparatif, tabulasi longitudinal, serta pengukuran laju pertumbuhan menggunakan Compound Annual Growth Rate (CAGR). Hasil penelitian menunjukkan IKG NTB mengalami perbaikan agregatif namun tidak merata, dengan akselerasi tertinggi di Kabupaten Sumbawa, sementara beberapa wilayah stagnan bahkan meningkat. Sebaliknya, keterwakilan perempuan legislatif cenderung stagnan di mayoritas daerah. Sintesis temuan mengungkap disparitas konversi pembangunan gender terhadap representasi politik akibat mediasi struktural partai, budaya patriarki, patronasi politik, dan hambatan institusional parlemen. Kesimpulan menegaskan bahwa kesetaraan gender di NTB masih berada pada fase developmental equality dan belum mencapai political equality. Keterbatasan penelitian terletak pada penggunaan data kuantitatif sekunder dan belum mengukur kualitas representasi substantif. Rekomendasi diarahkan pada reformasi rekrutmen partai, afirmasi elektoral strategis, penguatan kaderisasi perempuan, serta integrasi pemberdayaan sosial dengan transformasi institusional politik.
Dinamika Produksi Ikan Pelagis Kecil dalam Sistem Pangan Biru: Implikasinya terhadap Ketahanan Pangan Masyarakat Pesisir Baiq Miftahul Jannah
ALETHEIA: Jurnal Sosial & Humaniora, Inovasi, Ekonomi, dan Edukasi Vol 3 No 1 (2026)
Publisher : Penerbit Indocamp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63892/aletheia.3.2026.15-25

Abstract

Sektor perikanan tangkap, khususnya ikan pelagis kecil, memiliki posisi strategis dalam menopang ketahanan pangan dan penyediaan protein hewani masyarakat pesisir. Namun demikian, dinamika produksi antarspesies yang tidak merata serta tekanan permintaan pasar berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan dan keterjangkauan konsumsi ikan. Penelitian ini bertujuan menganalisis dinamika pertumbuhan produksi ikan pelagis kecil serta mengkaji implikasinya terhadap ketahanan pangan masyarakat pesisir. Studi ini juga mengisi kesenjangan riset yang selama ini lebih menitikberatkan aspek biologi stok dan oseanografi tanpa mengintegrasikan dimensi produksi, harga, dan pangan dalam satu kerangka bioekonomi terpadu. Pendekatan penelitian menggunakan desain bauran (mixed-method) deskriptif-analitis berbasis data sekunder time-series periode 2020–2024 yang mencakup produksi dan harga lima komoditas utama: tongkol, kembung, layang, lemuru, dan teri. Data dikumpulkan melalui studi dokumentasi perikanan nasional, diolah melalui tabulasi, standarisasi, dan perhitungan kontribusi agregat, serta dianalisis menggunakan Compound Annual Growth Rate (CAGR) dan analisis komparatif antarspesies. Interpretasi dilakukan melalui perspektif bioekonomi dan pangan pesisir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi agregat pelagis kecil mengalami pertumbuhan positif, meskipun dengan disparitas antarspesies. Tongkol mendominasi volume produksi, lemuru mencatat pertumbuhan tertinggi. Di sisi lain, seluruh komoditas mengalami kenaikan harga, dengan laju tertinggi pada lemuru dan teri, yang mengindikasikan tekanan permintaan lebih cepat kapasitas suplai. Temuan ini menegaskan bahwa dinamika produksi dan harga berimplikasi langsung terhadap stabilitas pasokan protein, keterjangkauan konsumsi, dan kesejahteraan rumah tangga nelayan. Kesimpulannya, pelagis kecil merupakan fondasi ketahanan pangan pesisir yang terhadap tekanan eksploitasi dan perubahan pasar. Diperlukan pengelolaan berbasis keberlanjutan stok, penguatan pascapanen, serta stabilisasi distribusi untuk menjaga keseimbangan antara produksi, akses pangan, dan kesejahteraan nelayan.
Akuntansi Kesejahteraan dan Realitas Struktur Konsumsi: Membaca Dinamika Ekonomi Rumah Tangga di Provinsi Nusa Tenggara Barat Mery Afrianti
ALETHEIA: Jurnal Sosial & Humaniora, Inovasi, Ekonomi, dan Edukasi Vol 3 No 1 (2026)
Publisher : Penerbit Indocamp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63892/aletheia.3.2026.49-60

Abstract

Dinamika pengeluaran rumah tangga merupakan indikator strategis dalam membaca kualitas kesejahteraan masyarakat, stabilitas daya beli, serta arah transformasi ekonomi regional. Namun demikian, kajian empiris di Indonesia masih didominasi pendekatan tingkat pengeluaran, sementara analisis struktur konsumsi relatif terbatas. Kesenjangan ini menyebabkan pengukuran kesejahteraan sering bias karena belum membedakan antara pertumbuhan konsumsi yang bersifat welfare-driven dan price-driven. Penelitian ini bertujuan menganalisis dinamika pertumbuhan pengeluaran rumah tangga per kapita disesuaikan serta transformasi struktur konsumsi pangan dan non-pangan antar kabupaten/kota di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif-analitis dengan desain longitudinal dan komparatif kewilayahan berbasis kerangka welfare accounting. Data sekunder bersumber dari statistik konsumsi rumah tangga BPS periode 2010–2025 dan 2016–2024. Teknik analisis meliputi Compound Annual Growth Rate (CAGR), Engel Ratio, tipologi kesejahteraan konsumsi, serta interpretasi spasial-struktural. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh kabupaten/kota mengalami pertumbuhan pengeluaran riil, dengan level absolut tertinggi di Kota Mataram dan pertumbuhan tercepat di Kabupaten Sumbawa. Namun demikian, transformasi struktur konsumsi belum sepenuhnya progresif. Mayoritas wilayah masih didominasi pengeluaran pangan di atas 50%, bahkan meningkat di beberapa kabupaten seperti Dompu dan Lombok Timur. Kondisi ini menandakan tekanan kebutuhan subsisten serta terbatasnya diversifikasi konsumsi non-pangan produktif. Integrasi analisis level dan struktur mengungkap paradoks kesejahteraan: pertumbuhan konsumsi tidak selalu diikuti peningkatan kualitas kesejahteraan. Disimpulkan bahwa transformasi kesejahteraan konsumsi NTB masih berada pada fase transisional dengan disparitas spasial urban–rural yang nyata. Rekomendasi diarahkan pada stabilisasi pangan, diversifikasi pendapatan, penguatan investasi sosial, serta pengembangan sistem welfare accounting daerah guna memastikan pertumbuhan konsumsi berorientasi peningkatan utilitas kesejahteraan secara berkelanjutan.
Implementasi Kebijakan Pemerintah dalam Peningkatan Kompetensi Bidan Melalui Pelatihan CTU (Contraceptive Technology Update) di Kota Palembang Siti Farida; Bachtari Alam Hidayat; Andries Lionardo
ALETHEIA: Jurnal Sosial & Humaniora, Inovasi, Ekonomi, dan Edukasi Vol 3 No 1 (2026)
Publisher : Penerbit Indocamp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63892/aletheia.3.2026.27-35

Abstract

Pelatihan Contraceptive Technology Update (CTU) merupakan instrumen kebijakan untuk meningkatkan kompetensi bidan dalam pelayanan keluarga berencana. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi kebijakan pelatihan CTU di Kota Palembang serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambatnya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen terhadap 11 informan yang berasal dari instansi pemerintah terkait, fasilitas kesehatan, dan bidan peserta pelatihan. Analisis dilakukan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman dengan kerangka implementasi kebijakan George C. Edward III yang meliputi komunikasi, sumber daya, disposisi, dan struktur birokrasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pelatihan CTU telah berjalan, namun belum optimal. Komunikasi kebijakan belum menjangkau seluruh bidan secara merata; sumber daya masih terbatas, terutama instruktur, sarana-prasarana, dan anggaran; disposisi pelaksana relatif mendukung tetapi belum ditopang sistem insentif dan pengawasan yang kuat; serta struktur birokrasi menunjukkan adanya tumpang tindih kewenangan dan koordinasi lintas instansi yang belum efektif. Implikasi kebijakan menekankan pentingnya penguatan koordinasi antar-lembaga, peningkatan dukungan sumber daya, serta monitoring dan evaluasi pascapelatihan secara terintegrasi agar peningkatan kompetensi bidan dapat berkelanjutan dan berdampak pada kualitas layanan keluarga berencana.
Strategi Inspektorat Daerah Kota Palembang dalam Menindakanjuti Temuan Hasil Audit Internal terhadap Perangkat Daerah di Kota Palembang Nining Widyasti; Maulana; Bachtari Alam Hidayat
ALETHEIA: Jurnal Sosial & Humaniora, Inovasi, Ekonomi, dan Edukasi Vol 3 No 1 (2026)
Publisher : Penerbit Indocamp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63892/aletheia.3.2026.61-69

Abstract

Peningkatan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah menuntut penguatan pengawasan internal, khususnya dalam tindak lanjut temuan audit. Data Inspektorat Daerah Kota Palembang menunjukkan peningkatan signifikan temuan yang belum ditindaklanjuti dari tahun 2022 hingga 2024, sehingga diperlukan strategi yang lebih efektif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi Inspektorat Daerah Kota Palembang dalam menindaklanjuti temuan hasil audit internal terhadap perangkat daerah serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambatnya. Penelitian menggunakan desain kualitatif deskriptif dengan sembilan orang informan yang terdiri dari pejabat dan auditor Inspektorat serta perwakilan perangkat daerah. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis data kualitatif melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan uji keabsahan melalui triangulasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa: (1) strategi tindak lanjut dilakukan melalui penyusunan rencana aksi, penetapan batas waktu, dan monitoring berkala; (2) komitmen pimpinan perangkat daerah menjadi faktor kunci keberhasilan penyelesaian temuan; (3) keterbatasan sumber daya manusia dan lemahnya koordinasi antar perangkat daerah menjadi hambatan utama; serta (4) peningkatan jumlah temuan yang belum ditindaklanjuti mencerminkan belum optimalnya sistem pengendalian internal. Implikasi praktis penelitian ini menekankan penguatan komitmen pimpinan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia pengawasan, serta pengembangan sistem monitoring berbasis kinerja untuk mempercepat dan memastikan efektivitas tindak lanjut temuan audit internal di lingkungan Pemerintah Kota Palembang.

Page 3 of 3 | Total Record : 30