cover
Contact Name
Ristiani
Contact Email
ferdi@bbg.ac.id
Phone
+6282273305152
Journal Mail Official
ferdi@bbg.ac.id
Editorial Address
Jl. Bunga Ncole Raya Komp.Medan Permai No.100, Kemenangan Tani, Kec. Medan Tuntungan, Kota Medan, Sumatera Utara 20136, Medan, Provinsi Sumatera Utara, 20136
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Jurnal Ilmu Kesehatan & Kebidanan Nusantara
ISSN : -     EISSN : 30479584     DOI : 10.62710
Core Subject : Health,
JKKN: Jurnal Kebidanan & Kesehatan Nusantara adalah jurnal online dalam bidang kebidanan yang dikelola oleh Prodi Kebidanan Langsa Poltekkes Kemenkes Aceh dengan nomor ISSN (Online): , ISSN (Print) : . Terbit dua kali dalam setahun (Juni dan Desember). FJK memuat berbagai artikel sebagai hasil penelitian (original research), tinjauan pustaka dan laporan kasus di bidang kebidanan. JKKN menerima manuskrip dari hasil penelitian bidang keilmuan kebidanan, yang meliputi: kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, bayi dan balita, masa remaja, Keluarga Berencana (KB), klimakterium, komunitas kebidanan, pendidikan kebidanan dan terapi komplementer dalam kebidanan.
Arjuna Subject : -
Articles 123 Documents
HUBUNGAN AKTIVITAS FISIK DENGAN KEJADIAN OBESITAS PADA REMAJA Warlinda; Rizky Aprilia
Jurnal Ilmu Kesehatan & Kebidanan Nusantara Vol. 3 No. 3 (2026): Juli-September, Innovative Approach to Maternal and Child Health
Publisher : Akademi Kebidanan Nusantara 2000

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/0fpvm542

Abstract

Obesitas pada remaja merupakan masalah kesehatan masyarakat yang terus meningkat dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya aktivitas fisik. Rendahnya aktivitas fisik akibat perubahan gaya hidup sedentari diduga berkontribusi terhadap peningkatan kejadian obesitas pada remaja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan aktivitas fisik dengan kejadian obesitas pada remaja di wilayah kerja UPT Puskesmas Lara Kabupaten Luwu Utara. Penelitian menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi sekaligus sampel penelitian berjumlah 61 remaja berusia 10–19 tahun yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Aktivitas fisik diukur menggunakan Physical Activity Questionnaire for Adolescents (PAQ-A), sedangkan status obesitas ditentukan berdasarkan Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan p<0,05. Mayoritas responden berusia 15 tahun (52,5%), berjenis kelamin perempuan (55,7%), memiliki aktivitas fisik kategori ringan (55,7%), dan tidak mengalami obesitas (77,0%). Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara aktivitas fisik dengan kejadian obesitas pada remaja (p=0,000). Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa obesitas tidak hanya dipengaruhi oleh aktivitas fisik, tetapi diduga berkaitan dengan faktor lain seperti pola makan, asupan energi, kebiasaan sedentari, dan faktor genetik. Aktivitas fisik berhubungan signifikan dengan kejadian obesitas pada remaja, sehingga peningkatan aktivitas fisik perlu diintegrasikan dengan edukasi gizi dan penerapan gaya hidup sehat sebagai upaya pencegahan obesitas.
RELATIONSHIP BETWEEN SERUM HOMOCYSTEINE LEVELS AND MANGANESE SUPEROXIDE DISMUTASE (MNSOD) ON RETINAL NERVE FIBER LAYER (RNFL) THICKNESS IN DIABETIC RETINOPATHY AND NON-DIABETIC RETINOPATHY PATIENTS Delfi Delfi; Rini Nurrakhmah; Rodiah Rahmawaty Lubis
Jurnal Ilmu Kesehatan & Kebidanan Nusantara Vol. 3 No. 3 (2026): Juli-September, Innovative Approach to Maternal and Child Health
Publisher : Akademi Kebidanan Nusantara 2000

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/apvz7w98

Abstract

Diabetic retinopathy is a visual disorder caused by abnormalities in the retina, characterized by progressive microangiopathy resulting in damage and blockage of fine blood vessels, leading to impaired retinal nutrition. This study aims to determine the relationship between serum homocysteine and MnSOD levels on retinal nerve fiber layer (RNFL) thickness in diabetic retinopathy and non-diabetic retinopathy patients. This is an analytic observational case-control study involving 31 subjects for each group. A 3 cc venous blood sample was taken to assess serum homocysteine and MnSOD levels, then analyzed by ELISA method in the integrated laboratory of the USU Medical Faculty. The results showed a significant difference in Avg RNFL and Nasal RNFL thickness between the two groups (p = 0.015), with mean AvgRNFL thickness of 100.94 (SD = 17.04) and mean nasal RNFL thickness of 90.16 (SD = 33.68). The highest MnSOD levels were found in non-diabetic retinopathy subjects with a mean of 142.77 (SD = 101.77). No significant relationship was found between homocysteine and superior RNFL (p = 0.346), inferior RNFL (p = 0.292), temporal RNFL (p = 0.109), and nasal RNFL (p = 0.190). However, a significant association was found between homocysteine and Avg RNFL (p = 0.007). In the diabetic retinopathy case group, a significant relationship was found between Hcy and Avg RNFL (p = 0.007), where an increase in serum homocysteine levels will be followed by a decrease in Avg RNFL thickness.
EFEKTIVITAS TELEHEALTH KEPERAWATAN NEUROLOGI TERHADAP PEMULIHAN FUNGSIONAL PASIEN PASCA-STROKE AKUT Sri Puguh Kristiyawati; Tena Djuartina
Jurnal Ilmu Kesehatan & Kebidanan Nusantara Vol. 3 No. 3 (2026): Juli-September, Innovative Approach to Maternal and Child Health
Publisher : Akademi Kebidanan Nusantara 2000

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/2gyzjm64

Abstract

Stroke merupakan penyebab utama disabilitas jangka panjang di seluruh dunia, sehingga rehabilitasi berkelanjutan diperlukan untuk mengoptimalkan pemulihan fungsional setelah fase akut. Telehealth menjadi pendekatan inovatif untuk meningkatkan akses dan kontinuitas perawatan keperawatan neurologis, namun bukti efektivitasnya dalam rehabilitasi pasca-stroke akut masih terfragmentasi. Tinjauan Literatur Sistematis ini bertujuan mengevaluasi efektivitas intervensi telehealth keperawatan neurologi dalam meningkatkan pemulihan fungsional pasien pasca-stroke akut. Penelusuran literatur dilakukan berdasarkan pedoman PRISMA 2020 pada lima basis data, yaitu PubMed, Scopus, ScienceDirect, SpringerLink, dan Wiley Online Library, terhadap studi yang diterbitkan tahun 2020–2025. Kualitas metodologi dan risiko bias dinilai menggunakan Joanna Briggs Institute Critical Appraisal Tool. Dari 1.284 catatan yang diidentifikasi, 10 studi dengan desain randomized controlled trials, kuasi-eksperimental, kohort, dan controlled clinical trials dimasukkan dalam sintesis kualitatif. Hasil menunjukkan telehealth secara signifikan meningkatkan aktivitas kehidupan sehari-hari (ADL) (SMD = 0,45; CI 95% 0,12–0,78) dan memberikan hasil fungsional sebanding dengan rehabilitasi konvensional, terutama pada program terstruktur selama 12 minggu. Intervensi yang dipimpin perawat juga meningkatkan kepatuhan obat, pemantauan faktor risiko, dan keterlibatan pengasuh. Telehealth keperawatan neurologi berpotensi menjadi strategi komplementer untuk mendukung pemulihan fungsional dan kontinuitas perawatan, meskipun heterogenitas intervensi memerlukan kehati-hatian dalam generalisasi.
ASSOCIATION OF LIGHTING INTENSITY, AGE, GENDER, AND LENGTH OF WORK WITH EYE FATIGUE AMONG HOSPITAL STAFF IN MAKASSAR, INDONESIA M. Rio Andita; Syamsiar S Russeng; Lalu Muhammad Saleh; Marzelina Karim
Jurnal Ilmu Kesehatan & Kebidanan Nusantara Vol. 3 No. 3 (2026): Juli-September, Innovative Approach to Maternal and Child Health
Publisher : Akademi Kebidanan Nusantara 2000

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/d3f2w733

Abstract

Eye fatigue is a visual complaint that may occur among workers as a result of visual demands and inadequate workplace conditions. Hospital environments involve diverse work activities and lighting conditions that may affect staff visual comfort during work. This study aimed to analyze the associations of lighting intensity, age, gender, and length of work with eye fatigue among hospital staff in Makassar, Indonesia. An analytic observational study with a cross-sectional design was conducted. A total of 124 hospital staff were included in the analysis from 171 initial responses. Respondent characteristics and eye-fatigue complaints were collected using an online questionnaire, while workplace lighting intensity was measured directly using a lux meter across 19 work areas. Data were analyzed using univariate and bivariate analyses with the Chi-square test and Fisher's exact test, with statistical significance set at α = 0.05. Gender was significantly associated with eye fatigue (p = 0.003), whereas age (p = 0.454) and length of work (p = 0.392) were not significantly associated with eye fatigue. Lighting intensity was significantly associated with the category of the number of eye-fatigue complaints (p = 0.038). The most frequently reported complaints were sleepy eyes (58.06%), headache (54.03%), and stinging eyes (48.39%). The findings indicate that gender and workplace lighting conditions are associated with variations in visual complaints among hospital staff. Regular assessment of workplace lighting and the implementation of visual ergonomic measures should be strengthened to support occupational eye health.
HUBUNGAN TINGKAT AKTIVITAS FISIK DENGAN KEJADIAN DISMENOREA  PADA MAHASISWI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BOSOWA ANGKATAN 2023–2025 Ika Azdah Murnita; Hermawan Hermanto; Bayu Pratama Putra; Mira Kohmala Bauw; Bob Wahyudin
Jurnal Ilmu Kesehatan & Kebidanan Nusantara Vol. 3 No. 3 (2026): Juli-September, Innovative Approach to Maternal and Child Health
Publisher : Akademi Kebidanan Nusantara 2000

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/vn77wz31

Abstract

Dismenorea merupakan keluhan menstruasi yang banyak dialami perempuan usia reproduktif dan dapat mengganggu aktivitas akademik, fisik, serta kualitas hidup. Aktivitas fisik banyak dikaji sebagai faktor gaya hidup yang berhubungan dengan dismenorea, meskipun hasil penelitian terdahulu belum sepenuhnya konsisten. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan tingkat aktivitas fisik dengan kejadian dismenorea pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa angkatan 2023–2025. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional dan melibatkan 302 mahasiswi melalui total sampling. Data dikumpulkan pada Juli 2026 menggunakan kuesioner daring melalui Google Form. Tingkat aktivitas fisik diukur menggunakan International Physical Activity Questionnaire–Short Form (IPAQ-SF), sedangkan kejadian dismenorea diukur menggunakan kuesioner dismenorea. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan IBM SPSS Statistics 32. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 264 responden (87,4%) mengalami dismenorea dan 38 responden (12,6%) tidak mengalami dismenorea. Tingkat aktivitas fisik terdiri atas kategori ringan sebanyak 183 orang (60,6%), sedang 68 orang (22,5%), dan berat 51 orang (16,9%). Proporsi dismenorea mencapai 98,4% pada kelompok aktivitas ringan, 88,2% pada kelompok aktivitas sedang, dan 47,1% pada kelompok aktivitas berat. Uji Chi-Square menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat aktivitas fisik dan kejadian dismenorea (p < 0,001). Tingkat aktivitas fisik yang lebih tinggi berasosiasi dengan proporsi kejadian dismenorea yang lebih rendah. Temuan ini dapat menjadi dasar pengembangan edukasi promotif mengenai aktivitas fisik dan kesehatan menstruasi pada mahasiswi.
EFFECTIVENESS OF EVIDENCE-BASED INTEGRATIVE ACUPUNCTURE ON CLINICAL FUNCTION RECOVERY AND REDUCING PSYCHOLOGICAL TRAUMA POST-DISASTERS IN ACEH Ayunda Prisilia Kusuma Ningtyas; Nurcahyo Aji Legowo; Reca Melati Phonna; Muhibuddin
Jurnal Ilmu Kesehatan & Kebidanan Nusantara Vol. 3 No. 3 (2026): Juli-September, Innovative Approach to Maternal and Child Health
Publisher : Akademi Kebidanan Nusantara 2000

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/zdkcbv32

Abstract

Disaster survivors often experience multidimensional health issues, including pain, sleep disturbances, fatigue, and psychological trauma. These conditions require a recovery approach that addresses not only physical complaints but also psychological aspects. Evidence-based integrative acupuncture holds potential as a complementary intervention to support the recovery of post-disaster survivors. This study aimed to analyze the effectiveness of evidence-based integrative acupuncture on the recovery of clinical function and the reduction of psychological trauma among disaster survivors in Aceh. A mixed-methods design with a quasi-experimental approach was employed. Fifty disaster survivors aged ≥18 years were divided into an intervention group (n=25), receiving evidence-based integrative acupuncture periodically according to a standard protocol, and a control group (n=25), receiving standard post-disaster care. Study outcomes included pain intensity, sleep disturbances, fatigue, and psychological trauma, measured before and after the intervention. Quantitative data were analyzed using descriptive and inferential statistics, while qualitative data underwent thematic analysis. The intervention group showed reductions in scores for pain (from 6.32 to 3.24; change: −3.08), sleep disturbances (6.08 to 3.48; −2.60), fatigue (6.44 to 3.56; −2.88), and psychological trauma (21.16 to 11.72; −9.44). In the control group, the reductions were 0.84, 0.84, 0.96, and 2.92 points, respectively. Analysis of the differences in changes between the groups revealed significant results for pain (p=0.001), sleep disturbances (p=0.002), fatigue (p=0.001), and psychological trauma (p<0.001). Evidence-based integrative acupuncture demonstrates greater improvements compared to standard care across all examined indicators of clinical function and psychological trauma. These findings support the potential of integrative acupuncture as a complementary intervention for the recovery of disaster survivors, implemented in conjunction with medical and psychological services based on clinical needs.
POTENSI PEWARNA ALAMI KOMBINASI BUAH BINAHONG MERAH DAN JERUK NIPIS SEBAGAI ALTERNATIF SAFRANIN PADA PEWARNAAN GRAM BAKTERI Visensius Krisdianilo; Agnes Felicia Lubis; Lidwina Septie Ch
Jurnal Ilmu Kesehatan & Kebidanan Nusantara Vol. 3 No. 3 (2026): Juli-September, Innovative Approach to Maternal and Child Health
Publisher : Akademi Kebidanan Nusantara 2000

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/za7t8q89

Abstract

Pewarnaan Gram merupakan metode dasar dan penting dalam identifikasi awal bakteri di laboratorium medik. Safranin sebagai pewarna penutup yang umum digunakan dalam pewarnaan Gram merupakan zat sintetis yang memiliki keterbatasan, antara lain potensi toksisitas, ketergantungan terhadap bahan kimia impor, serta dampak lingkungan akibat limbah kimia laboratorium. Oleh karena itu, diperlukan alternatif pewarna yang lebih aman, ramah lingkungan, dan mudah diperoleh. Buah binahong merah diketahui mengandung pigmen antosianin yang berpotensi sebagai pewarna alami, sedangkan jeruk nipis memiliki sifat asam yang dapat berfungsi sebagai agen fiksasi alami sekaligus meningkatkan kestabilan warna antosianin. Kombinasi kedua bahan alami tersebut diharapkan mampu menghasilkan pewarna yang efektif sebagai pengganti safranin dalam pewarnaan Gram bakteri. Penelitian ini penting dilakukan untuk mengeksplorasi pewarna alami kombinasi buah binahong merah dan jeruk nipis sebagai alternatif safranin pada pewarnaan gram bakteri. Hasil penelitian didapatkan nilai hasil Uji Mann Whitney U Test  terdapat perbedaan dengan perbedaan paling kecil berdasarkan uji Post Hoc LSD Tukey yaitu pada konsentrasi 75%. Hasil Uji efektifitas, sensitifitas dan spesifisitas mendapat hasil pewarna alami kombinasi buah binahong merah dengan jeruk nipis konsentrasi 75% dapat digunakan untuk menggantikan pewarna safranin akan tetapi hasilnya kurang efektif dengan persen efektifitas hanya 63,43%. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan pewarna alami kombinasi buah binahong merah dan jeruk nipis konsentrasi 75% dapat digunakan sebagai pengganti pewarna safranin di laboratorium pendidikan walaupun hasilnya kurang sebanding dengan safranin komersial. Pewarna alami tersebut kurang efektif dan kurang sensitif jika digunakan dalam diagnosis klinis bakteri.
PENGARUH MEDIA E-BOOKLET “BEKAL MENYUSUI” TERHADAP PENGETAHUAN TENTANG PERSIAPAN LAKTASI PADA IBU HAMIL TRIMESTER III DI PUSKESMAS REJOSARI PEKANBARU Qoirunnisa; Busyra Hanim; Winda Safitri
Jurnal Ilmu Kesehatan & Kebidanan Nusantara Vol. 3 No. 3 (2026): Juli-September, Innovative Approach to Maternal and Child Health
Publisher : Akademi Kebidanan Nusantara 2000

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/0szxfa04

Abstract

Pengetahuan ibu hamil mengenai persiapan laktasi penting dalam mendukung keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Namun, cakupan ASI eksklusif di Provinsi Riau masih sebesar 44,5%, sehingga diperlukan media edukasi yang mudah diakses. e-booklet   dapat digunakan sebagai media edukasi yang menarik dan dapat dibaca secara berulang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan pengetahuan ibu hamil trimester III mengenai persiapan laktasi setelah diberikan edukasi menggunakan e-booklet   “Bekal Menyusui”. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain pre-experimental one-group pretest-posttest. Sampel penelitian berjumlah 30 ibu hamil trimester III di Puskesmas Rejosari Pekanbaru. Pengukuran pengetahuan dilakukan sebelum dan setelah pemberian intervensi menggunakan e-booklet   “Bekal Menyusui”. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji McNemar. Sebelum intervensi, sebanyak 14 responden (46,7%) memiliki pengetahuan baik, sedangkan setelah intervensi meningkat menjadi 28 responden (93,3%). Hasil uji McNemar menunjukkan nilai p-value = 0,000 (p < 0,05). Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan tingkat pengetahuan ibu hamil trimester III setelah diberikan edukasi menggunakan e-booklet    “Bekal Menyusui”. e-booklet    “Bekal Menyusui” dapat menjadi salah satu alternatif media edukasi dalam pelayanan antenatal untuk mendukung peningkatan pengetahuan ibu hamil mengenai persiapan laktasi.
PENGARUH FAMILY-CENTERED CARE TERHADAP FUNGSI KELUARGA, SELF-EFFICACY IBU HAMIL, DAN KEMANDIRIAN LANSIA PADA KELUARGA MULTIGENERASI Suraya Putri; Nosi Delianti; Rahmawati
Jurnal Ilmu Kesehatan & Kebidanan Nusantara Vol. 3 No. 3 (2026): Juli-September, Innovative Approach to Maternal and Child Health
Publisher : Akademi Kebidanan Nusantara 2000

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/39dxtp89

Abstract

Keluarga multigenerasi menghadapi kebutuhan kesehatan yang kompleks karena melibatkan ibu hamil dan lansia dalam satu sistem keluarga. Family-Centered Care (FCC) menempatkan keluarga sebagai mitra aktif dalam pelayanan kesehatan sehingga berpotensi meningkatkan fungsi keluarga, self-efficacy ibu hamil, dan kemandirian lansia. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh FCC terhadap fungsi keluarga, self-efficacy ibu hamil, dan kemandirian lansia pada keluarga multigenerasi. Penelitian kuantitatif menggunakan desain pre-experimental one-group pretest-posttest di Puskesmas Darussalam, Aceh Besar, pada April 2026. Sampel terdiri dari 36 keluarga multigenerasi yang dipilih dengan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan Family-Centered Care Scale, Family APGAR, Childbirth Self-Efficacy Inventory, dan Barthel Index, kemudian dianalisis menggunakan Paired Sample t-test dan regresi linear dengan α=0,05. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pada fungsi keluarga dari 6,53±1,41 menjadi 8,64±1,02, self-efficacy ibu hamil dari 218,39±24,17 menjadi 258,81±22,48, dan kemandirian lansia dari 82,08±9,36 menjadi 91,47±7,58 (p<0,001). FCC berpengaruh signifikan terhadap fungsi keluarga (β=0,462), self-efficacy ibu hamil (β=0,538), dan kemandirian lansia (β=0,417). Penerapan FCC efektif meningkatkan ketiga luaran pada keluarga multigenerasi.
PENERAPAN KEBIJAKAN KAWASAN TANPA ROKOK (KTR) DI KAMPUS SEBAGAI PROSES BERKELANJUTAN: STUDI KUALITATIF Ainal Mardhiah; Nurleli; Roma Sitio; Nirwan
Jurnal Ilmu Kesehatan & Kebidanan Nusantara Vol. 3 No. 3 (2026): Juli-September, Innovative Approach to Maternal and Child Health
Publisher : Akademi Kebidanan Nusantara 2000

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/d5651r14

Abstract

Merokok merupakan suatu perilaku yang berdampak negative terhadap kesehatan, bukan hanya untuk rokok saja tetapi untuk orang-orang yang berada di sekelilingnya yang ikut terpapar. Kawasan tanpa rokok sangat berperan untuk menurunkan perokok pasif, dan membantu remaja mengalahkan perangkap rokok. Regulasi Kawasan tanpa rokok adalah penting untuk memenuhi hak masyarakat menghirup udara segar bebas dari asap rokok sehingga melindungi kesehatan perseorangan, keluarga, masyarakat yang merupakan hak azazi manusia dari bahan berbahaya yang mengandung karsinogen dan zat adiktif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran penerapan kawasan tanpa rokok di sebuah Kampus swasta di Banda Aceh. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif eksploratif. Pemilihan subjek penelitian ditentukan secara purposive dengan metode pengumpulan data wawancara mendalam, diskusi kelompok terarah, dan observasi. Data dianalisis menggunakan OpenCode 4.4 sesuai dengan tahapan analisis data. Hasil penelitian didapatkan pembentukan kebijakan Kawasan tanpa rokok di Kampus melibatkan stakeholders, sosialisai dilakukan di muai dari Ketua Program studi ke dosen dan seluruh civitas akademika, pengawasan dilakukan oleh security dan civitas akademika baik perokok maupun kok perokok, sanksi yang diberikan berupa surat peringatan dan yang paling berat adalah dikeluarkan. Untuk keberlanjutan penerapan kebijakan Kawasan tanpa rokok sangat diperlukan dukungan baik dari internal maupun eksternal.

Page 8 of 13 | Total Record : 123