cover
Contact Name
Abdi Hanra Sebayang
Contact Email
nexus@polmed.ac.id
Phone
+62 81374892140
Journal Mail Official
nexus@polmed.ac.id
Editorial Address
Jl. Almamater No.1, Padang Bulan, Medan Baru, Medan City, North Sumatra 20155, Medan, Provinsi Sumatera Utara, 20155
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Nexus
  • nexus_sains_dan_teknologi
  • Website
ISSN : -     EISSN : 31094392     DOI : https://doi.org/10.51510/nst
Nexus: Jurnal Sains dan Teknologi Politeknik Negeri Medan, adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Politeknik Negeri Medan. Nexus berarti koneksi, yaitu menghubungkan antara ilmu pengetahuan (sains) dan penerapannya dalam teknologi. Ruang lingkup jurnal ini meliputi bidang Fisika Material, Geofisika, Fisika Atom, Fisika Radiasi, Fisika Kelistrikan, Fisika Nano, Fisika Energi, Fisika Sensor, Aerodinamika, Kimia Industri, Kimia Material, Nanoteknologi, Kimia Lingkungan, Energi Keberlanjutan, Biomaterial, Bioteknologi, Katalis, Bioproses dan Sintesis Material. Jurnal ini dipublikasikan secara online dengan e-ISSN 3109-4392 dan dapat diakses melalui situs web https://ojs.polmed.ac.id/index.php/nexus_sains_dan_teknologi. Tujuan dari jurnal ini adalah untuk mempublikasikan hasil-hasil penelitian berkualitas yang memberikan kontribusi signifikan bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta penerapannya dalam dunia industri dan kehidupan sehari-hari khususnya bidang Kimia, Fisika dan Teknik mesin. Kami menerima kontribusi artikel dari seluruh Indonesia dengan anggota Dewan Editorial kami yang terdiri dari peneliti nasional maupun internasional yang aktif di bidangnya.
Articles 17 Documents
Magnetic Zeolite Composites for Heavy Metal Ions Removal: A Concise Review Wayan Gracias; Annisha Noor Dienna; Defia Indah Permatasari
Nexus Sains dan Teknologi Vol. 1 No. 2 (2025): Nexus: Jurnal Sains dan Teknologi (Edisi November)
Publisher : Politeknik Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51510/nst.v1i2.2880

Abstract

Magnetic zeolite is a composite material that combines the porous characteristics of zeolite with the magnetic separation capability of magnetic nanoparticles. This study discusses the development of magnetic zeolite synthesis using several main methods, including hydrothermal synthesis, coprecipitation, and dry-gel conversion, each offering different levels of control over particle size, surface area, and magnetic strength of the resulting composite. The synthesized materials generally possess a high surface area and strong magnetic response, making  them  effective  for adsorbing heavy metal ions from aqueous solutions. The reported maximum adsorption capacities reach 625 mg g⁻¹ for Pb(II), 204 mg g⁻¹ for Cd(II), 181 mg g⁻¹ for Cu(II), more than 400 mg g⁻¹ for Cr(VI), and around 42 mg g⁻¹ for Ni(II). According to various studies, the adsorption of heavy metal ions onto magnetic zeolite commonly follows the pseudo-second-order kinetic model and the Langmuir isotherm, indicating that the adsorption process is dominated by a monolayer chemisorption mechanism. In addition to its high adsorption capacity, the main advantage of magnetic zeolite is the ease of separating it from the solution using an external magnetic field, making it an efficient adsorbent that can be easily recovered and reused.
Studi Komparatif Pengaruh Jenis Pelarut terhadap Pembentukan dan Karakteristik Nanopartikel ZnO Berbasis Ekstrak Daun Parthenium hysterophorus L. Nahzim Rahmat; Prisca Caesa Moneteringtyas; Pina Budiarti Pratiwi
Nexus Sains dan Teknologi Vol. 1 No. 2 (2025): Nexus: Jurnal Sains dan Teknologi (Edisi November)
Publisher : Politeknik Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51510/nst.v1i2.2885

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki pengaruh jenis pelarut terhadap karakteristik nanopartikel ZnO yang disintesis menggunakan ekstrak daun Parthenium hysterophorus L. sebagai agen pereduksi alami. Ekstrak daun direndam dengan dua pelarut yaitu metanol atau aquabides selama 24 jam dan digunakan sebagai agen pereduksi dalam sintesis ZnO. Endapan yang dihasilkan dikeringkan, dikalsinasi pada 600 °C, dan dikarakterisasi menggunakan FTIR serta XRD. Hasil analisis FTIR menunjukkan adanya pita serapan O–H pada 3318 cm⁻¹ pada sampel B yang tidak muncul pada sampel A. Hal ini mengindikasikan bahwa keberadaan gugus hidroksil sisa yang lebih dominan pada sintesis berbasis air. Sementara itu, hasil XRD mengonfirmasi bahwa kedua sampel memiliki struktur kristal ZnO heksagonal tipe wurtzite (JCPDS No. 36-1451) dengan puncak utama pada 2θ sekitar 31,7°, 34,4°, dan 36,3°. Ukuran kristalit yang dihitung menggunakan persamaan Scherrer menunjukkan nilai rata-rata sekitar 41 nm untuk sampel A dan 28 nm untuk sampel B. Hasil ini menunjukkan bahwa metanol menghasilkan kristal ZnO yang lebih besar, sedangkan air menghasilkan kristalit lebih kecil dengan strain kisi lebih tinggi.
Episodic Variability of Gamma Rays in Quasar 3C 273 Based on Fermi-LAT Statistical Analysis Ruben Cornelius Siagian
Nexus Sains dan Teknologi Vol. 2 No. 1 (2026): Nexus: Jurnal Sains dan Teknologi (Edisi Mei)
Publisher : Politeknik Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51510/nst.v2i1.3163

Abstract

Quasar 3C 273 is one of the brightest quasars, known for its active core and relativistic jets that produce intense gamma-ray emissions. This study aims to analyze the gamma-ray variability of 3C 273 using Fermi-LAT data (0.1–300 GeV), detect episodic flares, and understand the physical mechanisms in the quasar core. Data were collected through Xamin Search at coordinates J2000 RA = 187.278° and Dec = 2.052°, cleaned of observations with offsets >0.05° or missing flux, then analyzed for average flux, standard deviation, variance, fluctuation amplitude, and gamma-ray luminosity. Flares were identified as flux >2σ above the average, while periodicity was tested using the Lomb-Scargle periodogram. Results show that from 1,212 observations, the average flux was 6.22 × 10⁻⁷ ph/cm²/s with a standard deviation of 4.53 × 10⁻⁷ ph/cm²/s, and a fluctuation amplitude of 4.90 × 10⁻⁶ ph/cm²/s. Thirty-eight flares (>2σ) were detected during 3.14% of the observation time. The periodogram showed a broad power distribution without any apparent periodicity, confirming the stochastic variability dominated by sporadic flares. This study closes the gap in the quantification of episodic gamma-ray flares with systematic statistical analysis. In conclusion, 3C 273 exhibits significant variability and sporadic flares, consistent with the relativistic jet and accretion instability models. The novelty of this study is the integration of quantitative analysis of gamma-ray fluctuations to systematically assess the dynamics of the quasar core.
Biomaterial Laut Berbasis Kimia Komputasi untuk Nanoteknologi Hijau: Literature Review Annisha Noor Dienna; Annisa Ananda; Ratri Mauluti Larasati
Nexus Sains dan Teknologi Vol. 2 No. 1 (2026): Nexus: Jurnal Sains dan Teknologi (Edisi Mei)
Publisher : Politeknik Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51510/nst.v2i1.3310

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis perkembangan biomaterial laut berkelanjutan berbasis pendekatan computational chemistry melalui metode literature review deskriptif-kualitatif. Kajian dilakukan terhadap 22 artikel jurnal internasional tahun 2021–2026 yang membahas marine biomaterials, molecular docking, molecular dynamics simulation, nanotechnology, dan sustainable biomaterials. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biomaterial laut seperti alginate, fucoidan, chitosan, carrageenan, marine collagen, phlorotannins, dan marine peptides memiliki potensi tinggi sebagai sustainable biomaterials karena bersifat biodegradable, biokompatibel, bioaktif, dan mendukung green material technology. Molecular docking menjadi pendekatan komputasi paling dominan untuk memprediksi binding affinity, molecular interaction, dan bioaktivitas biomaterial terhadap target biologis, sedangkan molecular dynamics simulation digunakan untuk mengevaluasi stabilitas kompleks biomaterial protein dan sifat mekanik biomaterial pada tingkat atomistik dan nanoscale. Selain itu, integrasi biomaterial laut dengan green nanotechnology dan computational modeling menunjukkan potensi besar dalam pengembangan hydrogel, scaffold, nanocarrier, biosensor, dan smart biomaterials berbasis sumber daya laut terbarukan. Penelitian ini juga mengidentifikasi research gap berupa keterbatasan validasi biologis, standardisasi biomaterial laut, dan minimnya integrasi AI-based biomaterials design. Dengan demikian, computational marine biomaterials berbasis sustainability berpotensi menjadi frontier research yang mengintegrasikan chemistry, nanotechnology, biotechnology, dan green material engineering modern.
Optimasi Pupuk Organik Cair Limbah Pisang dengan EM4 sebagai Bioaktivator untuk Pertumbuhan Kangkung Muhammad Abdi Lubis; Nina Hartati; Edi Kurniawan; Anjar Siti Mashitoh; Ayu Syufiatun Br Tarigan; Adelia Yesya Putri Hasibuan
Nexus Sains dan Teknologi Vol. 2 No. 1 (2026): Nexus: Jurnal Sains dan Teknologi (Edisi Mei)
Publisher : Politeknik Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51510/nst.v2i1.3302

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah batang dan bonggol pisang sebagai bahan baku Pupuk Organik Cair (POC) dengan penambahan bioaktivator EM4 serta mengevaluasi kualitas dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman kangkung. Penelitian dilakukan dalam dua tahap, yaitu produksi dan karakterisasi POC serta aplikasi pada tanaman. Variasi perlakuan meliputi dosis EM4 (40 ml, 50 ml, dan 60 ml) dan waktu fermentasi (14, 18, dan 22 hari). Parameter yang diamati meliputi uji fisik, pH, dan tinggi tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa POC mengalami perubahan warna menjadi lebih gelap dan bau menyengat sebagai indikasi fermentasi. Nilai pH menurun hingga rata-rata 3,3 dan belum memenuhi standar mutu. Aplikasi POC menunjukkan peningkatan tinggi tanaman kangkung dibandingkan kontrol, meskipun tidak signifikan. Secara umum, POC dari limbah batang dan bonggol pisang berpotensi sebagai pupuk organik alternatif, namun memerlukan optimasi proses fermentasi dan peningkatan kandungan hara.
Produksi Biochar dari Berbagai Sumber Biomassa: Metode, Karakteristik, dan Potensi Pemanfaatan Adelia Yesya Putri Hasibuan; Ayu Syufiatun Br Tarigan; Erna Juwita; Nina Hartati; Imas Masriah; Pina Budiarti Pratiwi
Nexus Sains dan Teknologi Vol. 2 No. 1 (2026): Nexus: Jurnal Sains dan Teknologi (Edisi Mei)
Publisher : Politeknik Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51510/nst.v2i1.3304

Abstract

Pemanfaatan limbah biomassa sebagai bahan baku biochar merupakan salah satu alternatif yang efektif dalam mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus meningkatkan nilai tambah limbah. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan systematic review terhadap produksi biochar dari berbagai sumber biomassa dengan fokus pada jenis bahan baku, metode produksi, kondisi proses, serta karakteristik biochar yang dihasilkan. Metode yang digunakan meliputi pencarian literatur dari berbagai basis data ilmiah dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditentukan. Hasil kajian menunjukkan bahwa jenis biomassa dan metode produksi sangat mempengaruhi kualitas biochar. Biomassa lignoselulosa cenderung menghasilkan biochar dengan kandungan karbon dan stabilitas tinggi, sedangkan limbah organik menghasilkan biochar yang kaya unsur hara. Proses pirolisis, khususnya pada suhu 400–600°C, merupakan metode yang paling umum digunakan dan mampu menghasilkan biochar dengan sifat fisikokimia yang baik. Selain itu, peningkatan suhu pirolisis diketahui dapat meningkatkan kandungan karbon, stabilitas termal, serta luas permukaan biochar, meskipun dapat menurunkan yield. Biochar yang dihasilkan memiliki potensi aplikasi sebagai pembenah tanah, adsorben, serta media penyimpanan karbon yang berkontribusi terhadap mitigasi perubahan iklim.Dengan demikian, pemilihan bahan baku dan kondisi proses yang tepat menjadi faktor penting dalam optimasi produksi biochar yang berkelanjutan.
Carbon–TiO₂ Hybrid Photocatalysts: Roles of Carbon Types in Enhancing Photocatalytic Performance Devi Lestari; Imas Masriah; Juli Novita Sari; Amru Daulay
Nexus Sains dan Teknologi Vol. 2 No. 1 (2026): Nexus: Jurnal Sains dan Teknologi (Edisi Mei)
Publisher : Politeknik Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51510/nst.v2i1.3305

Abstract

Titanium dioxide (TiO₂) is one of the most extensively studied semiconductor photocatalysts due to its chemical stability, non-toxicity, and strong oxidizing ability. However, its practical application is hindered by a wide band gap (~3.2 eV for anatase), rapid charge carrier recombination, and limited visible-light response. The integration of various carbon-based materials with TiO₂ has emerged as a highly effective strategy for overcoming these limitations. This review systematically examines the distinct roles played by different carbon allotropes and carbon-based materials including graphene, reduced graphene oxide (rGO), carbon nanotubes (CNTs), carbon quantum dots (CQDs), graphitic carbon nitride (g-C₃N₄), activated carbon (AC), and biochar when hybridized with TiO₂. The mechanisms by which each carbon type enhances photocatalytic performance are critically analyzed, encompassing improved charge carrier separation, extension of light absorption to the visible region, elevated pollutant adsorption through synergistic effects, and the formation of unique heterojunction architectures. Furthermore, recent advances in synthesis methodologies, key photocatalytic applications in environmental remediation and energy conversion, and structure–activity relationships are comprehensively reviewed. Challenges pertaining to scalability, stability, and carbon loading optimization are identified, and future research directions are proposed. This review provides a unified framework for understanding how the structural and electronic properties of carbon materials govern the photocatalytic behavior of Carbon–TiO₂ hybrids, guiding the rational design of next generation photocatalysts.

Page 2 of 2 | Total Record : 17