cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains Materi Indonesia
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Sains Materi Indonesia (Indonesian Journal of Materials Science), diterbitkan oleh Pusat Teknologi Bahan Industri Nuklir - BATAN. Terbit pertama kali: Oktober 1999, frekuensi terbit: empat bulanan.
Arjuna Subject : -
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 1: OKTOBER 2010" : 14 Documents clear
ANALISIS STRUKTUR KRISTAL LaMnO3 DENGAN TEKNIK DIFRAKSI SINAR-X DAN METODE RIETVELD Engkir Sukirman; Wisnu Ari Adi; Yustinus Purwamargapratala
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 12, No 1: OKTOBER 2010
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.165 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2010.12.1.4586

Abstract

ANALISIS STRUKTUR KRISTAL LaMnO3 DENGAN TEKNIK DIFRAKSI SINAR-X DAN METODE RIETVELD. Telah dilakukan analisis struktur kristal LaMnO3 dengan teknik difraksi sinar-X dan metode Rietveld. Cuplikan LaMnO3 disintesis dengan metode milling energi tinggi dari serbuk oksida La2O3 dan MnO2 dengan perbandingan mol yang tepat. Penggerusan dilakukan selama 10 jam, kemudian dipelet dan selanjutnya disinter pada 1.350 oC selama 6 jam. Karakterisasi cuplikan meliputi struktur kristal dan sifat listrik-magnetik bahan, berturut-turut dengan teknik difraksi sinar-X, metode analisis Rietveld dan probe empat titik. Hasil analisis Rietveld berdasarkan data difraksi sinar-X menunjukkan bahwa cuplikan adalah fasa tunggal LaMnO3,0 sistem kristal ortorombik, grup ruang Pnma No. 62 dengan parameter kisi a = 5,4405(9) Å, b = 7,717(1) Å dan c = 5,537(1) Å. Bahan memiliki respon Magnetic Resonance (MR) = 7 %, harga rata-rata ukuran kristalit, D = 17 nm dan regangan kisi, e = -0,5%. Bahan mengalami regangan tekan, dan berdasarkan model regangan Nanda, bahan LaMnO3,0 berperilaku sebagai bahan isolator, antiferromagnetik tipe G. Karena sifat isolator bahan tidak berubah walaupun dikenai medan magnet eksternal, maka respon MR hanya akibat keteraturan spin elektron. Oleh karena itu pada suhu kamar, LaMnO3,0 menampilkan respon MR yang kecil. 
SIFAT MEKANIK, STRUKTURMIKRO DAN SIFAT MAGNETIK MAGNET KOMPOSIT SrO.6Fe2O3 (SrM)-POLIMER TERMOPLASTIK DAN TERMOSET Grace Tj. Sulungbudi; Aloma Karo Karo; Mujamilah Mujamilah; Sudirman Sudirman
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 12, No 1: OKTOBER 2010
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.912 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2010.12.1.4558

Abstract

SIFAT MEKANIK, STRUKTURMIKRO DAN SIFAT MAGNETIK MAGNET KOMPOSIT SrO.6Fe2O3 (SrM)-POLIMER TERMOPLASTIK DAN TERMOSET. Penggunaan magnet dalam aplikasi di industri tidak selalu mensyaratkan adanya sifat magnetik yang tinggi. Oleh sebab itu, pemakaian polimer sebagai matriks yang berfungsi sebagai binder (perekat) dapat diterapkan sehingga akan diperoleh magnet komposit yang ringan, fleksibel dan murah. Pada penulisan ini dibahas magnet komposit heksaferit SrO.6Fe2O3 (SrM) dengan polimer termoplastik tipe polipropilen (PP) terdiri dari PP2 dan PP10 maupun tipe polietilen (PE) jenis LDPE, serta polimer termoset berbentuk epoksi dan poliester. Sintesis magnet komposit berbasis polimer termoplastik (PP2, PP10, LDPE) menggunakan metode blending sedangkan dengan polimer termoset menggunakan metode casting. Magnet komposit dengan polimer termoplastik dicampur dengan komposisi 50 %berat, 41 %berat, 38 %berat, 33 %berat dan 29 %berat SrM dengan suhu blending 160 oC untuk LDPE dan 180 sup>oC untuk PP2 dan PP10. Untuk magnet komposit termoset dicampur dengan komposisi 30 %berat, 40 %berat, 50 %berat dan 60 %berat SrM. Kemudian dilakukan pengujian yang meliputi : kekuatan tarik (tensile strength) dan perpanjangan putus. Strukturmikro pada permukaan bahan komposit diamati dengan menggunakan alat Scanning Electron Microscope (SEM) dan sifat kemagnetannya diukur dengan Vibrating Sample Magnetometer (VSM). Pengamatan strukturmikro dengan SEM menunjukkan terbentuknya partikel serbuk SrM dengan bentuk pipih berukuran 1,6 μm. Secara umum sifat mekanik magnet komposit untuk polimer polipropilen lebih baik dibandingkan magnet komposit yang menggunakan binder polietilen (LDPE). Untuk binder polipropilen PP10 lebih baik dibandingkan PP2. Sifat magnetik dari magnet komposit berbasis heksaferit mempunyai nilai yang hampir sama baik dengan binder polipropilen maupun polietilen.
PREPARATION OFPOLYURETHANE MICROCAPSULE USING 1,3 PROPANEDIOLAS THE POLYOL COMPONENT. Ahmad Randy; Dewi Sondari; Evi Triwulandari; Murni Handayani
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 12, No 1: OKTOBER 2010
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (540.644 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2010.12.1.4582

Abstract

PREPARATION OFPOLYURETHANE MICROCAPSULE USING 1,3 PROPANEDIOLAS THE POLYOL COMPONENT. Self-healing property is the ability of a material to heal damages automatically and autonomously. Its application would be ranged from paint coating, anti corrosion coating, space-shuttle material, construction (concrete) and automotive. Extrinsic self healing requires self healing agent preembedded or incorporated into polymer matrix that would be released and close the damage in the polymer system, where the polymer itself is not healable. Healing agents are encapsulated or embedded into the material prior application. Example of monomer encapsulated to give self healing property is isophorone diisocyanate (IPDI) encapsulated in polyurethane shell. In this study, we studied the possibility of 1,3 propanediol, that can be derived from palm oil as polyol monomer for polyurethane microcapsule shell containing IPDI or stannous octoate as a self healing agent. Microcapsule in this study was prepared by interfacial polymerization technique to form IPDI monomer in polyurethane shell. FT-IR analysis show that polyurethane prepolymer produced still have unreacted isocyanate group necessary for interfacial polymerization of polyurethane. Morphological analyses of the microcapsule products show that the products have spherical shapes with smooth surface and some with wrinkled surface. The particle sizes were ranged from 40.29 to 526.80 μm.
DEGRADASI FOTOKATALISIS LIMBAH FENOL DENGAN KOMPOSIT TiO2 -PRECIPITATED CALCIUM CARBONATE Slamet Slamet; Rahyani Ermawati; Emmy Ratnawati; Siti Naimah
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 12, No 1: OKTOBER 2010
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (871.167 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2010.12.1.4537

Abstract

DEGRADASI FOTOKATALISIS LIMBAH FENOL DENGAN KOMPOSIT TiO2-PRECIPITATED CALCIUM CARBONATE. Degradasi limbah fenol dengan proses fotokatalisis menggunakan nanokomposit TiO2-Precipitated Calcium Carbonate (PCC) telah dilakukan dalam sistem foto reaktor batch yang dilengkapi dengan sejumlah lampu ultra violet. Nanokomposit TiO2-PCC disintesis dari nanopartikel TiO2 komersial (Degussa P25) dan PCC lokal (Padang dan Yogyakarta). Masing-masing PCC dikombinasikan dengan TiO2 dengan variasi komposisi rasio berat TiO2:PCC sebesar 0:100, 10:90, 80:20 dan 100:0. Nanokomposit TiO2-PCC kemudian dikarakterisasi dengan X-Ray Diffractometer (XRD), (PSA) dan Scanning Electron Microscope (SEM).Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa PCC vaterite memiliki kinerja yang paling optimal diantara jenis PCC lainnya. Dalam komposit TiO2-PCC, peran PCC lebih dominan sebagai penyangga, bukan adsorben. PCC saja tidak mampu menurunkan konsentrasi limbah fenol, namun kinerjanya meningkat tajam dengan penambahan sedikit TiO2. Nanokomposit 10% TiO2-PCC vaterite dapat mendegradasi secara sempurna larutan 10 ppm fenol dalam waktu sekitar 80 menit. Penggunaan PCC sebagai penyangga TiO2 juga memiliki nilai lebih dalam hal separasi katalis dari sistem limbah cair di akhir reaksi, karena TiO2-PCC cenderung mudah membentuk endapan sehingga proses pemisahan katalis lebih mudah dilakukan.
MICRO AND CRYSTAL STRUCTURE ANALYSIS OF NEW AUSTENITIC STEEL. Nurdin Effendi
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 12, No 1: OKTOBER 2010
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4404.233 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2010.12.1.4587

Abstract

MICRO AND CRYSTAL STRUCTURE ANALYSIS OF NEW AUSTENITIC STEEL. New austenitic stainless steel code-named A1 has been synthesized using the foundry method. The steel was prepared from the crude minerals mined in Indonesia consisting of ferro scrap, ferro chrome, ferro mangan, and ferro silicon; all of them were in the granular shape. Moreover, a small quantity of titanium was added to this austenitic steel that already has a very low carbon content. The synthesis was started by calculating each raw material quantity from the given specification data with the material balance equation, so that the austenitic composition specification matches the originally conceived specifications. After all of the crude material quantities were determined, each of the crude materials to be used in the alloying process were then weighed separately. The process was continued by inserting the crude materials into an induction foundry furnace that operates on an electromagnetic inducto-thermo system. The stirring was carried out automatically by the system. The now homogenous melting materials were then inserted into the ladle, followed by pouring into the sand casting. Some of the steels was normalized by a homogenization process at 1200 oC for 20 hours, and additional characterization was carried out afterwards. The microstructure observation shows that the material surface is relatively homogenous but with some porous holes. The X-ray diffraction pattern shows that the material had a fcc crystal structure with lattice parameter of 3.564 Å.
APLIKASI MEMBRAN NANOKOMPOSIT SEBAGAI ELEKTROLIT SEL BAHAN BAKAR HIDROGEN PADA PROTON EXCHANGE MEMBRANE FUEL CELL Mahreni Mahreni
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 12, No 1: OKTOBER 2010
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.746 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2010.12.1.4583

Abstract

APLIKASI MEMBRAN NANOKOMPOSIT SEBAGAI ELEKTROLIT SEL BAHAN BAKAR HIDROGEN PADA PROTON EXCHANGE MEMBRANE FUEL CELL. Sel bahan bakar hidrogen jenis Proton Exchange Membrane Fuel Cell (PEMFC) saat ini masih dalam pengembangan dan komersialisasi. Beberapa hambatan komersialisasi di antaranya membran Nafion sebagai elektrolit sangat sensitif terhadap kelembaban. Maka Nafion harus dimodifikasi dengan cara membuat komposit Nafion-SiO2-HPA dengan tujuan meningkatkan ketahanan elektrolit terhadap fluktuasi kelembaban selama sel digunakan. Penelitian dilakukan dengan mencampur larutan Nafion dengan tetra etoksi orto silikat (TEOS) dan bahan konduktif phosphotungstic acid (PWA) dengan memvariasi perbandingan Nafion, TEOS dan PWA. Membran dihasilkan dengan cara memanaskan campuran Nafion, TEOS dan PWA dengan memvariasi suhu penguapan, waktu dan suhu annealing sehingga didapatkan membran dengan penampakan transparan. Membran yang dihasilkan dianalisis terhadap sifat fisika, kimia dan sifat elektrokimia dengan mengaplikasikan membran sebagai elektrolit PEMFC pada berbagai kelembaban dan suhu operasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada suhu rendah 30 oC hingga 90 oC dan kelembaban tinggi (100 %RH), membran Nafion murni lebih baik dibandingkan membran komposit Nafion-SiO2-PWA, tetapi pada kelembaban rendah membran komposit lebih baik dibanding membran Nafion murni dan dapat disimpulkan bahwa membran komposit Nafion-SiO2-PWA dapat menggantikan peranan membran Nafion murni sebagai elektrolit PEMFC yang beroperasi pada kelembaban rendah (40 %RH) dan suhu di antara 30 oC hingga 90 oC.
SINTESIS DAN KARAKTERISASI SELULOSA ASETAT DARI NATA DE COCO SEBAGAI BAHAN BAKU MEMBRAN ULTRAFILTRASI Muhammad Lindu; Tita Puspitasari
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 12, No 1: OKTOBER 2010
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (476.551 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2010.12.1.4555

Abstract

SINTESIS DAN KARAKTERISASI SELULOSA ASETAT DARI NATA DE COCO SEBAGAI BAHAN BAKU MEMBRAN ULTRAFILTRASI. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh bahan baku membran berupa selulosa asetat yang berasal dari Nata de Coco. Nata De Coco (selulosa mikrobial) dengan ketebalan 3 mm hingga 5 mm diperoleh dengan cara fermentasi limbah air kelapa selama 6 hari. Selulosa mikrobial (CA-1) direndam dalam 2% NaOH selama 24 jam kemudian dicuci dengan aquadest. Perendaman dilanjutkan menggunakan 2% asam asetat selama 24 jam. Selulosa mikrobial (CA-2) diperlakukan sama dengan CA-1 tetapi menggunakan 4% NaOH dan asam asetat. Selulosa asetat diperoleh melalui proses asetilasi dan hidrolisis selulosa mikrobial selama 20 jam. Selulosa asetat yang dihasilkan didominasi selulosa triasetat dengan kadar asetil sebesar 45,20% untuk CA-1 dan 44,21% untuk CA-2. Analisis spektrum FT-IR menunjukkan adanya serapan khas gugus C=O karbonil pada bilangan gelombang 1755,2 cm-1 (CA-1) dan 1752,25 cm-1 (CA-2) serta gugus C-O asetil pada bilangan gelombang 1232 cm-1 himgga 1240 cm-1. Hal ini menunjukkan proses sintesis selulosa mikrobial menjadi selulosa asetat terjadi dengan sempurna. Membran selulosa asetat diperoleh dengan cara melarutkan serbuk selulosa asetat menggunakan pelarut diklorometan, dilanjutkan dengan proses presipitasi imersi. Morfologi membran diuji dengan SEM dan hasilnya menunjukkan bahwa membran CA-1 mempunyai struktur pori lebih besar dari pada membran CA-2. Ukuran pori membran CA-1 adalah antara 0,009 m hingga 0,06 μm, sedangkan membran CA-2 adalah antara 0,008 μm hingga 0,04 μm. Kedua membran yang dihasilkan dengan ketebalan masing-masing 0,015 mm tersebut termasuk membran ultrafiltrasi dengan karakteristik yang baik sebagai membran ultrafiltrasi.
PEMBUATAN KARBON AKTIF DARI TEMPURUNG KELAPA SAWIT DENGAN METODE AKTIVASI KIMIA Singgih Hartanto; Ratnawati Ratnawati
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 12, No 1: OKTOBER 2010
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2986.559 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2010.12.1.4588

Abstract

PEMBUATAN KARBON AKTIF DARI TEMPURUNG KELAPA SAWIT DENGAN METODE AKTIVASI KIMIA. Berlimpahnya tempurung kelapa sawit sebagai hasil samping dari industri minyak sawit mendorong keinginan untuk meningkatkan nilai ekonomi bahan tersebut yang selama ini hanya digunakan sebagai bahan bakar. Salah satu upaya yang dilakukan adalah pemrosesan tempurung kelapa sawit menjadi karbon aktif. Bahan karbon aktif ini banyak digunakan dalam industri khususnya di bidang perminyakan, pengolahan air, industri gas, makanan dan minuman, obat-obatan dan industri kimia. Penelitian ini bertujuan untuk membuat karbon aktif dari tempurung kelapa melalui proses karbonisasi dan aktivasi secara kimia. Proses karbonisasi dilakukan pada suhu 300 oC, 450 oC dan 500 oC dengan waktu 1 jam, 1,5 jam, 2,0 jam, 2,5 jam dan 3 jam. Sedangkan proses aktivasi dilakukan dengan menggunakan aktivator NaOH, NaCl, dan HCl dengan konsentrasi 2 % dan aktivasi selama 1 jam, 2 jam dan 4 jam pada 500 oC. Proses karbonisasi menunjukkan hasil terbaik pada suhu 500 oC dan waktu 3 jam dengan kadar air 18 %, rendemen 23 %, zat yang mudah menguap 3 % dan kadar karbon terikat 61 %. Aktivasi dengan NaOH selama 4 jam menunjukkan hasil terbaik dengan kadar air arang aktif 3,6 % dan daya serap I2 851,8797 mg/g. Hasil Scanning Electron Microscope (SEM) menunjukkan bahwa sebelum aktivasi pori yang terbentuk masih tertutup oleh pengotor-pengotor dan setelah aktivasi pori tersebut lebih terbuka sehingga luas permukaan adsorpsi menjadi lebih besar.
SINTESIS DAN KARAKTERISASI ELEKTROLIT PADAT BERBASIS GELAS LITHIUM (AgI)0,33(LiI)0,33(LiPO3)0,34 Makhsun Makhsun; Evvy Kartini
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 12, No 1: OKTOBER 2010
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (582.238 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2010.12.1.4584

Abstract

SINTESIS DAN KARAKTERISASI ELEKTROLIT PADAT BERBASIS GELAS LITHIUM (AgI)0,33(LiI)0,33(LiPO3)0,34. Telah dilakukan sintesis dan karakterisasi elektrolit padat berbasis gelas lithium (AgI)0,33(LiI)0,33(LiPO3)0,34. Sintesis dilakukan menggunakan metode melt quenching dengan cara mencampurkan bahan LiPO3 dengan AgI dan LiI dengan komposisi tertentu. Karakterisasi difraksi sinar-X menunjukkan bahwa substrat gelas LiPO3 bersifat amorf, sedangkan pada bahan (AgI)0,33(LiI)0,33(LiPO3)0,34 (LIXY 33,33) terdapat presipitat yang diduga dari AgI yang tidak larut. Karakterisasi sifat termal menggunakan DSC memperlihatkan bahwa suhu transisi fasa (Tf) untuk AgI adalah 150 oC, suhu transisi fasa tersebut juga terlihat pada LIXY 33,33. Karakterisasi morfologi dengan SEM memperlihatkan permukaan yang mulus tanpa adanya butiran-butiran pada komponen LiPO3, sementara pada komponen LIXY 33,33 terlihat adanya bentuk butiran yang menyerupai AgI. Konduktivitas yang diperoleh pada komponen LIXY 33,33 adalah 2,35 x 10-6 S/cm lebih tinggi dari LiPO3 yaitu 1,24 x 10-7 S/cm
SINTESIS DAN KARAKTERISASI POLIMER KOMPOSIT POLIPROPILEN MENGGUNAKAN FILLERTEPUNGTAPIOKAUNTUK BAHAN KEMASAN Deswita Deswita; Aloma Karo Karo; Grace Tj. Sulungbudi; Sudirman Sudirman
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 12, No 1: OKTOBER 2010
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (736.861 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2010.12.1.4556

Abstract

SINTESIS DAN KARAKTERISASI POLIMER KOMPOSIT POLIPROPILEN MENGGUNAKAN FILLERTEPUNGTAPIOKAUNTUK BAHAN KEMASAN. Telah dilakukan pembuatan polimer komposit yang biodegradable sebagai bahan pengemas dengan cara menambahkan filler tepung tapioka, ke dalam polimer sintesis menggunakan metode blending. Polimer sintesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah polipropilen melt flow 10 (PP10) dan polipropilen melt flow 35 (PP35). Variasi komposisi tapioka yang digunakan adalah 50 %berat, 55 %berat, 60 %berat, 65 %berat,70 %berat dan 75 %berat. Selanjutnya dilakukan karakterisasi meliputi uji mekanik, uji termal, uji strukturmikro dan uji biodegradabilitas. Hasil dari uji mekanik menunjukkan bahwa dengan penambahan filler tepung tapioka terjadi penurunan sifat mekanik. Uji termal menunjukkan bahwa tidak terjadi perubahan titik leleh dari termoplastik awalnya. Untuk uji strukturmikro memperlihatkan bahwa antara termoplastik dengan filler untuk konsentrasi dibawah 50%berat, komposit polimer ini tercampur secara homogen, sedangkan untuk konsentrasi lebih besar terjadi penggumpalan dan tidak merata. Hasil uji biodegradabilitas menunjukkan bahwa PP10-Tapioka dan PP35-Tapioka dapat digunakan sebagai bahan kemasan karena polimer komposit ini dapat terdegradasi di dalam tanah.

Page 1 of 2 | Total Record : 14


Filter by Year

2010 2010


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 1: OCTOBER 2022 Vol 23, No 2: APRIL 2022 Vol 23, No 1: OCTOBER 2021 Vol 22, No 2: APRIL 2021 Vol 22, No 1: OCTOBER 2020 Vol 21, No 4: JULY 2020 Vol 21, No 3: APRIL 2020 Vol 21, No 2: JANUARY 2020 Vol 21, No 1: OCTOBER 2019 Vol 20, No 4: JULY 2019 Vol 20, No 3: APRIL 2019 Vol 20, No 2: JANUARY 2019 Vol 20, No 1: OCTOBER 2018 Vol 19, No 4: JULI 2018 Vol 19, No 3: APRIL 2018 Vol 19, No 2: JANUARI 2018 Vol 19, No 1: OKTOBER 2017 Vol 18, No 4: JULI 2017 Vol 18, No 3: APRIL 2017 Vol 18, No 2: JANUARI 2017 Vol 18, No 1: OKTOBER 2016 Vol 17, No 4: JULI 2016 Vol 17, No 3: APRIL 2016 Vol 17, No 2: JANUARI 2016 Vol 17, No 1: OKTOBER 2015 Vol 16, No 4: JULI 2015 Vol 16, No 3: APRIL 2015 Vol 16, No 2: JANUARI 2015 Vol 16, No 1: OKTOBER 2014 Vol 15, No 4: JULI 2014 Vol 15, No 3: APRIL 2014 Vol 15, No 2: JANUARI 2014 Vol 15, No 1: OKTOBER 2013 Vol 14, No 4: JULI 2013 Vol 14, No 3: APRIL 2013 Vol 14, No 2: JANUARI 2013 Vol 14, No 1: OKTOBER 2012 Vol 13, No 3: JUNI 2012 Vol 13, No 2: FEBRUARI 2012 VOL 13, NO 1: OKTOBER 2011 Vol 12, No 3: JUNI 2011 Vol 12, No 2: FEBRUARI 2011 Vol 12, No 1: OKTOBER 2010 Vol 11, No 2: FEBRUARI 2010 Vol 11, No 1: OKTOBER 2009 Vol 10, No 1: OKTOBER 2008 Vol 9, No 3: JUNI 2008 Vol 9, No 2: FEBRUARI 2008 Vol 9, No 1: OKTOBER 2007 Vol 8, No 3: JUNI 2007 Vol 8, No 2: FEBRUARI 2007 EDISI KHUSUS: OKTOBER 2007 Vol 8, No 1: OKTOBER 2006 Vol 7, No 3: JUNI 2006 Vol 7, No 2: FEBRUARI 2006 EDISI KHUSUS: OKTOBER 2006 Vol 7, No 1: OKTOBER 2005 Vol 6, No 3: JUNI 2005 Vol 6, No 2: FEBRUARI 2005 Vol 6, No 1: OKTOBER 2004 Vol 5, No 3: JUNI 2004 Vol 5, No 2: FEBRUARI 2004 Vol 5, No 1: OKTOBER 2003 Vol 4, No 3: JUNI 2003 Vol 4, No 2: FEBRUARI 2003 Vol 4, No 1: OKTOBER 2002 Vol 3, No 3: JUNI 2002 Vol 3, No 2: FEBRUARI 2002 Vol 3, No 1: OKTOBER 2001 Vol 2, No 3: JUNI 2001 Vol 2, No 2: FEBRUARI 2001 Vol 2, No 1: OKTOBER 2000 Vol 1, No 3: JUNI 2000 Vol 1, No 2: FEBRUARI 2000 Vol 13, No 4: Edisi Khusus Material untuk Kesehatan More Issue