cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains Materi Indonesia
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Sains Materi Indonesia (Indonesian Journal of Materials Science), diterbitkan oleh Pusat Teknologi Bahan Industri Nuklir - BATAN. Terbit pertama kali: Oktober 1999, frekuensi terbit: empat bulanan.
Arjuna Subject : -
Articles 20 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 1: OKTOBER 2005" : 20 Documents clear
MAGNET PERMANEN NANOKOMPOSIT Nd-Fe-B/α-Fe Azwar Manaf
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 7, No 1: OKTOBER 2005
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1112.926 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2005.7.1.5006

Abstract

MAGNET PERMANEN NANOKOMPOSIT Nd-Fe-B/α-Fe.Magnet nanokomposit adalahmagnet multi-fasa campuran antara fasamagnet keras dengan koersivitas yang tinggi danmagnet lunak dengan magnetisasi total yang tinggi. Kedua fasa magnetik ini memiliki ukuran fasa magnet dalam skala nanometer sehingga berlangsungnya efek antar fasa menimbulkan sifat kemagnetan yang menarik. Kekuatan magnet permanen nanokomposit Nd-Fe-B/α-Fe terletak pada fasa magnetik utama Nd2Fe14B yang memiliki anisotropy constant sangat tinggi (4,5 x 106 J.m-3) dan nano kristal α-Fe yang memiliki magnetisasi total tertinggi (2,16 T). Fenomena yang menarik dari campuran kedua jenis fasa magnetik ini dalam struktur nanokomposit adalah loop histeresis yang dihasilkan merupakan loop histeresis layaknya suatu magnet permanen meskipun di dalam material magnet terdapat fasa magnet lunak (α-Fe). Disamping itu, magnetisasi remanen dari magnet nanokomposit memiliki nilai di atas nilai teoritik fasa utama meskipun magnet bersifat isotropi. Dengan demikian implikasi dari struktur nanokomposit material magnet dari pandangan ilmiah, mengundang suatu perbaikan pemahaman terhadap perilaku magnetisasi magnet permanen selama ini. Dari sudut teknologi, diperlukan inovasi dalam proses preparasi untuk menghasilkan magnet nanokomposit. Dalam paper ini dibicarakan hasil penelitian terhadap magnet nanokomposit Nd-Fe-B/α-Fe yang dipersiapkan melalui teknologi proses rapid solidification dan mechanical alloying. Hasil tinjauan model micromagnetic terhadap magnet nanokomposit dari beberapa kelompok peneliti juga disampaikan pintas.
STUDI AWAL SIFAT OPTIS TAKLINIER LARUTAN GARAM DALAM MEDAN MAGNET LUAR Priyono Priyono; K. Sofjan Firdausi; Asep Y. Wardaya; Much. Azam; Indras Marhaendrajaya; Wahyu Setia Budi
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 7, No 1: OKTOBER 2005
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.159 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2005.7.1.5020

Abstract

STUDI AWAL SIFAT OPTIS TAKLINIER LARUTAN GARAM DALAM MEDAN MAGNET LUAR. Telah dilakukan kajian pada sifat optis taklinier dari larutan garamdalammedanmagnet luar (B). Besar medan magnet maksimum adalah sekitar 0,049 T yang dihasilkan dari kumparan kawat sebanyak 6625 lilitan dan dialiri arus listrik bolak-balik sebesar maksimum 5 A. Interaksi radiasi sinar Laser He-Ne 633 nm, 5 mW, dengan sampel dalam medan magnet digunakan untuk mengukur perubahan sudut polarisasi cahaya laser. Sedangkan perubahan indek bias terhadap B diperoleh dengan metode interferometer Michelson. Untuk variasi konsentrasi larutan NaCl, diperoleh bahwa perubahan sudut polarisasi bertambah secara linier terhadap B. Sedangkan indek bias cenderung berkurang secara linier dengan kenaikan B.
EFEK HIGH ENERGY MILLING TERHADAP KOERSIVITAS MAGNET INTRINSIK BaO.6Fe2O3 Ridwan Ridwan; Akmal Johan; Mujamilah Mujamilah; Wisnu Ari Adi
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 7, No 1: OKTOBER 2005
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.522 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2005.7.1.5011

Abstract

EFEK HIGH ENERGY MILLING TERHADAP KOERSIVITAS MAGNET INTRINSIK BaO.6Fe2O3. Studi mengenai sifat magnet serbuk bahan BaO.6Fe2O3 akibat proses penghalusan menggunakan higgh-energy milling yang diikuti oleh perlakuan annealing pada suhu 400 ºC, 600 ºC, 800 ºC, 1000 ºC dan 1100 ºC telah dilakukan. Penurunan sifatmagnet bahan setelah di milling selama 30 jam disebabkan telah terjadi deformasi kristal bahan. Proses annealing terhadap serbuk hasil milling di bawah suhu 800 ºC selama 3 jam belum dapat mengembalikan sistem fasa sepenuhnya. Setelah suhu anneal ditingkatkan hingga 1000 ºC, fasa BaO.6Fe2O3 tumbuh kembali dengan koersivitas intrinsik meningkat hingga Hci = 4,4 kOe, dibandingkan dengan koersivitas serbukmagnet sebelumproses milling Hci yang hanya 1,7 kOe. Peningkatan koersivitas intrinsik ini sangat terkait dengan ukuran partikel yang jauh lebih halus dibandingkan dengan yang tidak dimilling. Annealing pada suhu 1100ºC, menunjukkan terjadi penurunan kembali koersivitas intrinsik Hci = 3,7 kOe, ini diperkirakan akibat adanya pertumbuhan kristalit.
APLIKASI MAGNETIK KOPLING DENGAN TEGANGAN INJEKSI DC TERKONTROL MENGGUNAKAN MIKROKONTROLER AT89S51 SEBAGAI PENGATUR KECEPATAN MOTOR INDUKSI SATU FASA Mochammad Facta; Agung Warsito; Nyoto Susilo
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 7, No 1: OKTOBER 2005
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (538.853 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2005.7.1.5055

Abstract

APLIKASI MAGNETIK KOPLING DENGAN TEGANGAN INJEKSI DC TERKONTROL MENGGUNAKAN MIKROKONTROLER AT89S51 SEBAGAI PENGATUR KECEPATAN MOTOR INDUKSI SATU FASA. Motor merupakan alat yang sangat diperlukan untuk menggerakkan berbagai peralatan baik yang sifatnya ringan maupun berat, dengan kecepatan tinggi atau rendah sesuai dengan yang kita kehendaki. Banyak kontrol yang digunakan untuk mengendalikan kecepatan motor listrik. Namun biasanya menghadapi berbagai masalah diantaranya harga dari alat kontrolnya mahal, perawatannya susah, membutuhkan kondisi ruang yang dingin, selain itu untuk motor induksi hanya memiliki range kecepatan yang cukup kecil sehingga untukmendapatkan range kecepatan yang lebar perlu cara lain untuk mengontrolnya. Untuk mengatasi hal tersebut yaitu dengan kontrol kecepatan motor menggunakan magnetik kopling. Prinsip pengaturan motor ini adalah dengan kopling magnet yang diletakkan pada output poros motor. Output poros motor diberi kopel yang tidak menyambung satu dengan yang lain kemudian dikopling dengan magnet listrik yang dikendalikan menggunakan tegangan dc penyearah terkontrol (rectifier terkontrol) sehingga kecepatan output tersebut dapat dikendalikan dengan mengatur besar kecilnya kekuatan magnet. Penyearah terkontrol yang digunakan dengan kendali SCR (Silicon Controlled Rectifier) yang diatur dengan sudut picu. Pemicuan yang digunakan adalah denganmenggunakan deteksi fasa (Zero Crossing Detector) untukmeng-on-kan thyristor yaitu tegangan anoda lebih besar dari katoda, sehingga besarnya tegangan keluaran akan dapat dikontrol sesuai besarnya sudut picu dengan mikrokontroler AT89S51. Alat ini dibuat dengan sistem open loop, kecepatan output poros kopel ke motor diambil dengan sensor kecepatan (optocoupler) untuk ditampilkan dalamseven segment kecepatan (tachometer) berbasis mikrokontroler AT89S51 sebagai tampilan nilai kecepatan yang dikontrol.
ANALISIS STRUKTURMIKRO MAGNET PERMANEN SISTEM NdFeB-SmCo Taufik A. Bonaedy; Mabe Siahaan; Azwar Manaf
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 7, No 1: OKTOBER 2005
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (751.833 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2005.7.1.5016

Abstract

ANALISIS STRUKTURMIKRO MAGNET PERMANEN SISTEM NdFeB-SmCo. Telah dilakukan penelitian magnet hibrida berbasis Sm2Co17 dan Nd2Fe14B dengan komposisi 80% Sm(Co,Fe,Cu,Zr)8.5 dan 20% Nd12Fe82B6 (% berat). Proses preparasi pembentukan struktur komposit yang dimaksud adalah melalui teknik konvensional metalurgi serbuk. Proses ball mill dilakukan pada serbuk dengan variasi waktu milling 2 jam sampai dengan 22 jam. Dari serbukmaterial hibrida hasil proses milling ini dilakukan pembuatan magnet hibrida melewati proses sintering dengan suhu sintering 1100 oC, 1130 oC, dan 1160 oC. Studi identifikasi fasa terhadap sampel magnet dengan XRD menunjukkan bahwa fasa magnet utama yaitu Sm2Co17 dan Nd2Fe14B dapat dipertahankan, meskipun telah menjalani proses perlakuan panas. Namun pada sampel magnet hibrida dengan ukuran serbuk semakin halus yaitu hasil penghalusan dengan waktu relatif lama diidentifikasikan fasa oksida berupa Sm2O3, NdO2, Nd2O3. Ditemukan bahwa suhu 1160 oC merupakan suhu pemadatan optimal untuk menjadikan fasa 2/17 sebagai fasa dominan pada sampel magnet hibrida.
SINTESIS DAN KARAKTERISASI SENYAWA KOMPLEKS BESI (II) DENGAN LIGAN 3,6-DI-2-PIRIDIL-1,2,4,5-TETRAZIN (DPTZ) Dini Zakiah Fathiana; Djulia Onggo
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 7, No 1: OKTOBER 2005
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (244.361 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2005.7.1.5007

Abstract

SINTESIS DAN KARAKTERISASI SENYAWA KOMPLEKS BESI (II) DENGAN LIGAN 3,6-DI-2-PIRIDIL-1,2,4,5-TETRAZIN (DPTZ). Senyawa kompleks dari garam Besi(II) dengan ligan 3,6-di-2-piridil-1,2,4,5-tetrazin (DPTz) telah disintesis. Rumus molekul senyawa kompleks ditentukan dengan analisis kadar ion logam, pengukuran hantaran, analisis termal gravimetri, dan analisis komposisi unsur C, H, dan N. Atas dasar hasil analisis tersebut, senyawa kompleks yang diperoleh merupakan kompleks berinti tunggal dengan rumus molekul [Fe(DPTz)2(H2O)2](X)2 dengan X = BF4 -(1) dan ClO4 -(2). Kedua senyawa yang dihasilkan berwarna biru tua dengan rendemen masing-masing 51% dan 62%. Senyawa kompleks tersebut menunjukkan sifat magnet yang unik, dengan nilai momen magnet yang diperoleh sekitar 2,5 BM. Setelah dilakukan pemanasan sampai dengan 60oC ternyata kedua senyawa kompleks tersebut menunjukkan sifat paramagnetik, dengan nilai momen magnet sekitar 5 BM. Keunikan sifat magnet ini, menunjukkan adanya indikasi yang baik untuk dapat mengamati kemampuan transisi spin dari senyawa kompleks tersebut melalui penelitian yang lebih lanjut.
SISTEM ELEKTRON SPIN RESONANSI (ESR) BERBASISMAGNET PULSA Aripin Aripin
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 7, No 1: OKTOBER 2005
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.734 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2005.7.1.5021

Abstract

SISTEM ELEKTRON SPIN RESONANSI (ESR) BERBASISMAGNET PULSA. Spektroskopi elektron spin resonansi (ESR) dalam daerah gelombang milimeter sampai submilimeter menggunakan medan magnet tinggi telah membuktikan sebagai peralatan yang potensial untuk penelitian sifat-sifat magnetik dalam bidang fisika material. Pengembangan lebih lanjut dari teknik ini menemui masalah yang perlu untuk dipecahkan. Diantara beberapa masalah yang ada adalah kesulitan menyediakan sistem magnet dalam sistem ESR. Untuk mengatasi ini telah dikembangkan magnet pulsa, yang membangkitkan medan magnet tinggi dengan intensitas 35 T. Pulsa magnet dihasilkan oleh lucutan bank kapasitor dengan tenaga tersimpan 30 kJ ke dalam koil magnet. Pulsa mempunyai bentuk sinusoidal dengan durasi 2,5 ms. Kapabilitas peralatan ESR didemontrasikan dengan pengukuran spektrum ESR dari powder MnO dalam rentang suhu 77 K sampai dengan 300 K. Suhu Neel (TN) MnO ditentukan dari lebar garis spektrum ESR. Nilai TN hasil percobaan bersesuaian dengan TN yang dihasilkan dari penelitian sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa sistem ESR dapat digunakan untuk penelitian lebih lanjut dalam bidang fisika material.
MAGNETIC AND STRUCTURAL STUDIES OF FeSi MULTILAYERS IRRADIATED BY ARGON IONS Setyo Purwanto; I. Sakamoto; M. Koike; H. Tanoue; S. Honda
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 7, No 1: OKTOBER 2005
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.05 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2005.7.1.5012

Abstract

MAGNETIC AND STRUCTURAL STUDIES OF FeSi MULTILAYERS IRRADIATED BY ARGON IONS. We prepared Fe/Si multilayers (MLs) by helicon plasma sputtering to investigate the antiferromagnetic couplings (AFC) between Fe layers sandwiched by Si spacers. [Fe (2nm)/Si (1.5nm)]30 MLs showed the ferromagnetic couplings (FC). The ion irradiation by 400 keV Ar ions was performed to [Fe (2nm)/Si (1.5nm)]30 MLs using AIST 400 keV ion implanter. The magnetic and structural properties were investigated by Vibrating Sample Magnetometer (VSM) and Conversion Electron Mössbauer Spectroscopy (CEMS). The value of saturation magnetization in as-deposited [Fe (2nm)/Si (1.5nm)]30 MLs is smaller than that of bulk α-Fe (1700 emu at RT). This decrease of saturation magnetization implies an atomic mixing in the interface region. The values of saturation magnetization decrease with increasing Ar ion dose. The CEMS spectrum of [Fe (2nm)/Si (1.5nm)]30 MLs shows the doublet peaks overlapped with broad sextet peaks. The doublet peaks correspond to nonmagnetic Fe1-xSix phases formed in the interface region. On the other hand, the distribution of hyperfine fields (Hhf) was estimated from broad sextet peaks and smaller values of Hhf correspond to ferromagnetic Fe1-xSix phases. The amounts of nonmagnetic Fe1-xSix phases in CEMS spectra seem not to change with increasing Ar ion dose but the values of Hhf decrease with increasing Ar ion dose. These results indicate the peculiar atomic mixing by Ar ion irradiation in the interface region.
STUDI SIFAT MAGNETIK MATERIAL MAGNET SINTER Nd-Fe-B Erfan Handoko; Azwar Manaf
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 7, No 1: OKTOBER 2005
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.993 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2005.7.1.5017

Abstract

STUDI SIFAT MAGNETIK MATERIAL MAGNET SINTER Nd-Fe-B. Telah dilakukan studi sifat kemagnetan terhadap magnet isotrop komposisi Nd15Fe77B8 yang dibuat dengan tehnik metalurgi serbuk. Pembuatan sampel magnetik dilakukan dengan variasi waktu penggerusan yaitu 5 detik, 10 detik, 60 detik, 300 detik, dan 600 detik dalam suasana inert dan diperoleh ukuran butir rata-rata setelah proses perlakuan panas yaitu 1,55 μm, 1,48 μm, 1,14 μm, 0,93 μm, dan 0,63 μm yang diukur dengan metode intercept (Heyne). Proses pembuatan bakalan dengan diameter 10 mm dan tekanan 31,8 MPa. Bakalan tersebut disinter dan dianil dalam suasana inert dalam tabung quartz dengan suhu 1080 oC dan 600 oC selama masing-masing 1 jam. Pendinginan secara cepat dalam air (water quench) setelah sinter telah berhasil mempertahankan fasa magnetik Nd2Fe14B sebagai fasa utama berdasarkan identifikasi data difraksi sinar-X dan foto mikro. Kemungkinan adanya fasa-fasa lain seperti fasa yang kaya akan Nd (Nd-rich), fasa yang kaya akan B (NdFe4B4), dan fasa oksida Nd2O3. Fasa oksida banyak terdapat untuk sampel dengan waktu penggerusan yang cukup lama yaitu 300 detik dan 600 detik, sehingga sifat-sifat kemagnetan yang terukur sangat rendah. Pengukuran sifat kemagnetan menggunakan VSM untuk sampel yang dipelajari bahwa koersivitas dan remanen terbesar adalah 834 kA/m dan 0,62 T diperoleh untuk magnet isotrop dengan waktu penggerusan selama 60 detik.
PENGHALUSAN SERBUK DAN EFEKNYA PADA FASA DAN SIFAT MAGNETIK SISTEM MAGNET PERMANEN BERBASIS Nd2Fe14B Mujamilah Mujamilah; Evi Yulianti; Sudaryanto Sudaryanto; Grace Tj. Sulungbudi; Ridwan Ridwan
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 7, No 1: OKTOBER 2005
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.92 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2005.7.1.5008

Abstract

PENGHALUSAN SERBUK DAN EFEKNYA PADA FASA DAN SIFAT MAGNETIK SISTEM MAGNET PERMANEN BERBASIS Nd2Fe14B. Telah dilakukan proses penghalusan serbuk pada sistem paduan magnet permanen berbasis Nd2Fe14B dengan metode milling dan sonochemistry dengan variasi waktu proses 1 jam sampai dengan 6 jam. Serbuk awal, merupakan paduan hasil proses melt spinning yang diikuti proses penghalusan kasar, memiliki fasa amorf Nd2Fe14B tercampur fasa kristalin α-Fe dengan ukuran serbuk berkisar antara (60 – 325) μm. Hasil analisis data difraksi sinar-X pada serbuk hasil milling menunjukkan terjadi penumbuhan fasa kristalin Nd2Fe14B yang diikuti dengan penurunan fasa α-Fe. Sedangkan hasil pengukuran sifat magnetik menunjukkan terjadinya penurunan nilai koersivitas dengan makin lamanya proses milling. Penurunan nilai koersivitas ini dianalisis disebabkan oleh penurunan ukuran serbuk yang lebih kecil dari batas ukuran domain tunggal. Sedangkan pada proses sonochemistry, sampai batas waktu proses yang dilakukan, belum terjadi perubahan fasa maupun ukuran butir yang cukup berarti.

Page 1 of 2 | Total Record : 20


Filter by Year

2005 2005


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 1: OCTOBER 2022 Vol 23, No 2: APRIL 2022 Vol 23, No 1: OCTOBER 2021 Vol 22, No 2: APRIL 2021 Vol 22, No 1: OCTOBER 2020 Vol 21, No 4: JULY 2020 Vol 21, No 3: APRIL 2020 Vol 21, No 2: JANUARY 2020 Vol 21, No 1: OCTOBER 2019 Vol 20, No 4: JULY 2019 Vol 20, No 3: APRIL 2019 Vol 20, No 2: JANUARY 2019 Vol 20, No 1: OCTOBER 2018 Vol 19, No 4: JULI 2018 Vol 19, No 3: APRIL 2018 Vol 19, No 2: JANUARI 2018 Vol 19, No 1: OKTOBER 2017 Vol 18, No 4: JULI 2017 Vol 18, No 3: APRIL 2017 Vol 18, No 2: JANUARI 2017 Vol 18, No 1: OKTOBER 2016 Vol 17, No 4: JULI 2016 Vol 17, No 3: APRIL 2016 Vol 17, No 2: JANUARI 2016 Vol 17, No 1: OKTOBER 2015 Vol 16, No 4: JULI 2015 Vol 16, No 3: APRIL 2015 Vol 16, No 2: JANUARI 2015 Vol 16, No 1: OKTOBER 2014 Vol 15, No 4: JULI 2014 Vol 15, No 3: APRIL 2014 Vol 15, No 2: JANUARI 2014 Vol 15, No 1: OKTOBER 2013 Vol 14, No 4: JULI 2013 Vol 14, No 3: APRIL 2013 Vol 14, No 2: JANUARI 2013 Vol 14, No 1: OKTOBER 2012 Vol 13, No 3: JUNI 2012 Vol 13, No 2: FEBRUARI 2012 VOL 13, NO 1: OKTOBER 2011 Vol 12, No 3: JUNI 2011 Vol 12, No 2: FEBRUARI 2011 Vol 12, No 1: OKTOBER 2010 Vol 11, No 2: FEBRUARI 2010 Vol 11, No 1: OKTOBER 2009 Vol 10, No 1: OKTOBER 2008 Vol 9, No 3: JUNI 2008 Vol 9, No 2: FEBRUARI 2008 Vol 9, No 1: OKTOBER 2007 Vol 8, No 3: JUNI 2007 Vol 8, No 2: FEBRUARI 2007 EDISI KHUSUS: OKTOBER 2007 Vol 8, No 1: OKTOBER 2006 Vol 7, No 3: JUNI 2006 Vol 7, No 2: FEBRUARI 2006 EDISI KHUSUS: OKTOBER 2006 Vol 7, No 1: OKTOBER 2005 Vol 6, No 3: JUNI 2005 Vol 6, No 2: FEBRUARI 2005 Vol 6, No 1: OKTOBER 2004 Vol 5, No 3: JUNI 2004 Vol 5, No 2: FEBRUARI 2004 Vol 5, No 1: OKTOBER 2003 Vol 4, No 3: JUNI 2003 Vol 4, No 2: FEBRUARI 2003 Vol 4, No 1: OKTOBER 2002 Vol 3, No 3: JUNI 2002 Vol 3, No 2: FEBRUARI 2002 Vol 3, No 1: OKTOBER 2001 Vol 2, No 3: JUNI 2001 Vol 2, No 2: FEBRUARI 2001 Vol 2, No 1: OKTOBER 2000 Vol 1, No 3: JUNI 2000 Vol 1, No 2: FEBRUARI 2000 Vol 13, No 4: Edisi Khusus Material untuk Kesehatan More Issue