cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI INDONESIA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 17 No. 2 (2015)" : 5 Documents clear
Keterkaitan Desa Kota : Sebuah Alternatif Pembangunan di Wilayah Pedesaan -, Maryadi
Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia Vol. 17 No. 2 (2015)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.898 KB) | DOI: 10.29122/jsti.v17i2.3428

Abstract

This article explained the development in rural area as a result of relationships between rural and urban regions. In Indonesia the realtionships particularly influenced by agricultural activities in rural areas. As we know majority of rural people in Indonesia are still work in agricultural sector meanwhile production factors provided by urban people. It is also widely recognized that there exists an economic, social and environmental interdependence between urban and rural areas and a need for balanced and mutually supportive approach to development of the two areas. The discrete consideration of rural development as completely distinct from urban development is no longer valid. A new perspective, referred to as the rural-urban linkage development approach, is increasingly becoming the accepted approach. Rural-urban linkage generally refers to the growing flow of public and private capital, people (migration and commuting) and goods (trade) between urban and rural areas.Tulisan ini mencoba untuk menjelaskan pembanguan wilayah pedesaan sebagai akibat adanya hubungan antara wilayah pedesaan dengan perkotaan. Di Indonesia hubungan itu lebih disebabkan oleh adanya kegiatan di bidang pertanian mengingat sebagian besar penduduk pedesaan masih bekerja di sektor pertanian, sementara faktor produksi yang diperlukan berada di wilayah perkotaan. Seperti diketahui pada saat ini terdapat saling ketergantungan ekonomi, sosial dan lingkungan antara daerah perkotaan dan pedesaan. Oleh karena itu diperlukan adanya pendekatan yang seimbang dan saling mendukung untuk pembangunan kedua daerah itu. Pemikiran bahwa pembangunan pedesaan berbeda dari pembangunan perkotaan sudah tidak berlalu lagi. Perspektif baru menyebutkan pembangunan pedesaan akan lebih cepat bila hubungan antara perdesaan-perkotaan semakin erat. Hal ini berkaitan dengan fakta ekonomi yang berkembang dalam bentuk pergerakan barang, orang serta modal yang terjadi antara daerah perkotaan dan perdesaan.Keywords: Inequality, development, village, town
Kajian Potensi Tanaman Pangan di Pulau Jemaja Kabupaten Kepulauan Anambas Soewandita, Hasmana
Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia Vol. 17 No. 2 (2015)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (783.31 KB) | DOI: 10.29122/jsti.v17i2.3429

Abstract

The objective of this study is to analiisis biophysical particular soil fertility, water resource availability and suitability of land for the development of food crops Jemaja Island. The method used in this study is a field survey with the soil sampling with grid method. The results showed that soil fertility in some locations indicate soil fertility has a moderate to high nutrient content even though some land units there are still terkenda nutrient retention. The texture of the sand is also an obstacle to the development of several blocks of land units so the location is not feasible textured sand. Availability of surface water in the presence of several rivers and also the presence of the Weirs Dapit is support for the development of land for irrigated rice paddy. The area of study is about 700 hectares in the island Jemaja, ready to be developed into a regional agricultural area is certainly some land units still constrained by limiting faktors such as low soil pH, drainage, nutrient retention, rooting depth and soil texture. The limiting faktor is still possible to be repaired except as soil texture. Development of crop farming region is divided into several clusters each cluster region consists of several blocks or land units that reflect the grouping location. Cluster cluster region is Bukit Padi, Telaga Dungun, Pasiran, Mampok, Teluk Bayur, Risan, Padang Melang, Talipuk, Dapit, Air Jenang Air Semawang, Batu Berapit, Kelikai, Air Tengah-Gunung Kuta.Tujuan dari kajian ini adalah melakukan analiisis biofisik lahan khususnya kesuburan lahan, ketersediaan sumberdaya air dan kesesuaian lahan untuk pengembangan pertanian tanaman pangan di Pulau Jemaja. Metoda yang digunakan dalam studi ini adalah survey lapang dengan sampling tanah dengan metoda grid. Hasil kajian menunjukkan bahwa kesuburan tanah dibeberapa lokasi kajian menunjukkan kesuburan tanahnya mempunyai kandungan hara sedang hingga tinggi meskipun dibeberapa satuan lahan ada yang masih terkenda retensi hara. Tekstur pasir juga menjadi kendala pengembangan pada beberapa blok satuan lahan sehingga lokasi yang bertekstur pasir tidak layak. Ketersediaan air permukaan dengan adanya beberapa sungai dan juga adanya Bendung Dapit merupakan dukungan bagi lahan untuk pengembangan padi sawah dengan irigasi teknis. Dari luasan wilayah yang dikaji yaitu sekitar 700 Ha yang berada di pulau Jemaja, kawasan ini siap dikembangkan menjadi kawasan pertanian tentunya dibeberapa satuan lahan masih terkendala oleh faktor pembatas seperti pH tanah yang rendah, drainase, retensi hara, kedalaman perakaran dan tekstur tanah. Faktor pembatas masih memungkinkan untuk diperbaiki kecuali seperti tekstur tanah. Pengembangan kawasan pertanian tanaman pangan ini dibagi dalam beberapa klaster wilayah yang masing masing klaster terdiri dari beberapa blok atau satuan lahan yang mencerminkan pengelompokan lokasi. Klaster klaster wilayah tersebut adalah Bukit Padi, Telaga Dungun, Pasiran, Mampok, Bayur Selubung, Risan, Padang Melang, Talipuk, Dapit, Air Jenang Air Semawang, Batu Berapit Air Dalam, Kelikai, Air Tengah-Gunung Kuta.Keywords: soil fertility, irrigation, land suitability
Analisis Faktor Pembatas Lahan Untuk Pengembangan Areal Budidaya Tebu di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah Mulyono, Daru
Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia Vol. 17 No. 2 (2015)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (712.505 KB) | DOI: 10.29122/jsti.v17i2.3430

Abstract

The objectives of the research are to evaluate the suitability of land for sugarcane growth and give recommendation through land fertilization for optimal sugarcane cultivation. Furthermore, the impacts of this action are to increase the planting area of sugarcane and productivity. The research use Geographical Information System (GIS) in Brebes Regency, starting from June until October 2003. The results of the research showed that the suitable, conditionally suitable, and not suitable land for sugarcane cultivation in Brebes Regency reach to a high of 40,148 ha, 7,555 ha, and 124,071 ha respectively. Based on the soil condition with low contents of N, P and K, the dosage calculation of N, P, and K fertilizers for optimal sugarcane cultivation reach to a high of: N (ZA) = 575 kg/ha, P (SP-36) = 170 kg/ha, and K (KCl) = 600 kg/ha.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kesesuaian lahan untuk pertumbuhan tebu dan memberikan rekomendasi melalui pemupukan lahan untuk budidaya tebu yang optimal. Selain itu, dampak dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan luas tanam tebu dan produktivitasnya. Penelitian ini menggunakan Sistem Informasi Geografis (GIS) di Kabupaten Brebes, mulai dari bulan Juni sampai Oktober 2003. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanah yang cocok, cocok bersyarat, dan tidak cocok untuk budidaya tebu di Kabupaten Brebes mencapai 40.148 ha, 7.555 ha, dan 124.071 ha. Berdasarkan kondisi tanah dengan kandungan rendah N, P dan K, perhitungan dosis pupuk N, P, dan K untuk budidaya tebu secara optimal mencapai: N (ZA) = 575 kg/ha, P (SP 36) = 170 kg/ha, dan K (KCl) = 600 kg/ha.Keywords: sugarcane, cultivation, fertilizers, land, suitability
Sistem Pertahanan Kombinasi Untuk Melindungi Kota Pantai Dari Bahaya Tsunami Edyanto, CB. Herman
Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia Vol. 17 No. 2 (2015)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (489.818 KB) | DOI: 10.29122/jsti.v17i2.3426

Abstract

Coastal city is a city that is growing rapidly, because the infrastructure is supported by sufficient sea. The potential beauty of the sea make the sea as porches and windows coastal city. This potential drives offer promising investment for the development of economic activities in coastal areas. But what is often forgotten is that the coastal city is inseparable from the problem of disasters, especially tsunamis. Analysis on coastal protection components suggests that coastal vegetation that have adapted to the coastal environment can serve as a coastal defense system in the form of non-structural mitigation. Application of the system of protection as it has financing relatively easy and inexpensive. On the other hand, to further strengthen the protection of tsunami waves and overtopping, structural mitigation remains necessary. The combination of these two systems provide double the power to safeguard the coastal city. This study is a qualitative approach to analyze the non-structural mitigation systems and structural mitigation. A mix of these two systems were able to reduce disaster risk.Kota pantai merupakan kota yang bertumbuh dengan cepat, oleh karena didukung oleh sarana dan prasarana laut yang cukup. Potensi keindahan laut menjadikan laut sebagai serambi dan jendela kota pantai. Potensi ini yang mendorong tawaran investasi yang menjanjikan bagi pembangunan kegiatan ekonomi di kawasan pantai. Namun yang sering terlupakan adalah bahwa kota pantai tidak terlepas dari permasalahan bencana, khususnya tsunami. Analisis terhadap komponen perlindungan pantai memberikan gambaran bahwa vegetasi pantai yang telah beradaptasi dengan lingkungan pantai dapat berfungsi sebagai sistim pertahanan pantai dalam bentuk mitigasi non struktural.Penerapan sistim perlindungan seperti ini memiliki pembiayaan yang relatif mudah dan murah. Disisi lain, untuk lebih memperkuat perlindungan dari gelombang dan limpasan tsunami, mitigasi struktural tetap dibutuhkan. Kombinasi dari kedua sistem memberikan kekuatan ganda bagi upaya perlindungan kota pantai. Pendekatan studi ini bersifat kualitatif dengan menganalisis sistem mitigasi non struktural dan mitigasi structural.Perpaduan antara kedua sistem ini mampu untuk mengurangi risiko bencana.Keywords: protection, defense, coastal, coastal city, vegetation, tsunami
Model Taman Teknologi Berbasis Tanaman Energi Sebagai Instrumen Pengembangan Wilayah Gunarto, Anton
Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia Vol. 17 No. 2 (2015)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (845.376 KB) | DOI: 10.29122/jsti.v17i2.3427

Abstract

The objective of this research is to collect and analyze data for composing Agro Technology Park model based on energy crops as regional development instrument of Baron Technology Park. Data analysis method conducted by using planning framework approach or Gold (1980) supply analysis and data collecting through Focus Group Discussion. The concept of Baron Agro Technology Park is an integrated agricultural model which produce energy crop as raw material for biofuel, biodiesel and biogas. It can also be used as edu-agrotourism that provide knowledge/education on culture, post harvest, processing and utilization of energy crops. Agro Technology Park design based on energy crops agrotourism that suitable with culture technical requirement, function and aestethic value would give comfort, satisfaction and good impression from the tourists without damaging research and culture of energy crops.Tujuan penelitian adalah untuk mengumpulkan dan menganalisis data dalam rangka menyusun konsep model Taman Teknologi Agro berbasis agrowisata tanaman energi sebagai instrumen pengembangan wilayah Taman Teknologi Baron. Metode analisis data melalui pendekatan kerangka kerja perencanaan atau analisis suplai Gold (1980) dan pengumpulan data melalui diskusi kelompok terarah. Konsep Taman Teknologi Agro Baron merupakan suatu tempat mengembangkan model pertanian terpadu yang menghasilkan tanaman energi sebagai sumber bahan baku nabati penghasil biofuel, biodiesel dan biogas, sekaligus dijadikan sebagai agrowisata edukatif yang dapat memberikan pengetahuan/edukasi kepada masyarakat tentang kegiatan budidaya, pasca panen, pengolahan produk serta profil tanaman energi dan pemanfaatannya. Penataan ATP berbasis agrowisata tanaman energi yang sesuai persyaratan teknis budidaya, fungsi dan nilai estetika, akan memberikan kemudahan, kenyamanan, kepuasan dan kesan positif bagi rekreasi pengunjung, tanpa harus mengganggu riset dan budidaya juga merusak tanaman energinya.Keywords: Renewable Energy, Agro Techno Park, Energy Crops agro tourism.

Page 1 of 1 | Total Record : 5