JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Jurnal Teknologi Lingkungan (JTL) is a journal aims to be a peer-reviewed platform and an authoritative source of information. JTL is published twice annually and provide scientific publication for researchers, engineers, practitioners, academicians, and observers in the field related to science and environmental technology. We publish original research papers, review articles and case studies focused on Environmental Sciences, Environmental Technology as well as other related topics to Environment including sanitation, environmental biology, waste water treatment, solid waste treatment, environmental design and management, environmental impact assessment, environmental pollution control and environmental conservation.
Articles
1,211 Documents
TEKNOLOGI USAHATANI KONSERVASI TERPADU KONSEP PEMBANGUNAN BERBASIS KESERASIAN LINGKUNGAN
Sudaryono Sudaryono
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 3 No. 3 (2002): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (225.807 KB)
|
DOI: 10.29122/jtl.v3i3.256
Sebagian besar sumber daya lahan di Indonesia merupakan lahan kering yang memiliki potensi untuk usaha pertanian. Pada umumnya kawasan lahan kering tersebut memiliki topografi dari landai sampai terjal, sehingga apabila dimanfaatkan untuk usahatani sangat rentan terhadap erosi. Tingkat erosi yang tinggi merupakan masalah serius terhadap kelestarian sumberdaya lahan di Daerah Aliran Sungai (DAS) dibagian hulu, dan menimbulkan pengaruh negatif di DAS bagian hilir.Usahatani pada lahan kering menghadapi problema yang sangat kompleks,beragam dan beresiko tinggi, oleh karena itu diperlukan penelitian dengan strategi pendekatan pengelolaan secara terpadu. Penelitian dan pengembangannya melibatkan berbagai disimplin ilmu (interdisipliner). institusi (interinstitusi) dan petani sebagai pengelola utamanya.Pengembangan sistem usaha tani konservasi terpadu pada sub DAS Prambanan hulu dengan tujuan mencari solusi pengembangan teknologi alternatif serta upaya mengendalikan erosi, ternyata telah mendapat respon positif baik oleh petani binaan maupun non-binaan.
UJI AKTIVITAS PROTEOLITIK MIKROBA DARI IMBAH CANGKANG UDANG PADA PROSES PEMBUATAN CHITIN
Nida Sopiah
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 3 No. 3 (2002): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (259.175 KB)
|
DOI: 10.29122/jtl.v3i3.257
Dalam penelitian ini telah dilakukan uji aktivitas proteolitik mikroba pada proses pembuatan chitin yang menggunakan bahan baku limbah cangkang rajungan. Bakteri proteolitik yang digunakan berasal dari hasil isolasi bakteri yang terdapat pada pembusukan limbah cangkang udang. Dari hasil analisa yang dilakukan terhadap kultur cair hasil fermentasi yang mengandung serbuk cangkang rajungan diketahui bahwa koloni bakteri berasal dari limbah cangkang udang mempunyai aktivitas enzim sebesar 0,006 U(Unit/ml/menit), dengan kemampuan menurunkan kadar protein (deproteinasi) sebesar 31,90%.Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan dasar proses pembuatan chitin dari limbah cangkang rajungan secara biologis, yang dipandang sebagai proses yang lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan proses secara kimiawi.
SISTEM JARINGAN KELEMBAGAAN DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGAN PANTAI
Mardi Wibowo
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 3 No. 3 (2002): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (309.687 KB)
|
DOI: 10.29122/jtl.v3i3.258
Lingkungan pantai merupakan suatu kawasan yang spesifik, dinamik, memiliki kekayaan habitat yang beragam di darat maupun di laut. Luas lahan kawasan pantai sangat terbatas padahal pemanfaatannya semakin lama semakin meningkat sehingga sering terjadi konflik kepentingan antar sektor yang membutuhkannya. Di lain pihak belum ada dukungan data, informasi dan koordinasi antar instansi yang sistematis, efektif dan efisien dalam masalah pengelolaan lingkungan pantai. Selama ini pengumpulan, penyimpanan, pengolahan data dan informasi serta penentuan kebijakan dilakukan secara sektoral oleh berbagai instansi yang terkait dan sering tidak terjadi koordinasi dan keterpaduan program dan kebijakan. Ditambah lagi masih belum ada kepastian siapa yang berwenang dalam perencanaan dan pengelolaan lingkungan pantai (belum ada sistem atau model jaringan kelembagaan yang baik). Untuk itu dibutuhkan komitmen dan peran sertastakeholders di daerah baik di tingkat propinsi, kabupaten/kota, dan desa-desa, untuk bersama-sama aktif dalam pengelolaan sumberdaya pantai, yang kemudian dituangkan dalam peraturan perundangan yang mengatur kewenangan masing-masing. Selain itu diperlukan mekanisme koordinasi yang jelas dan tegas baik koordinasi horisontal maupun vertikal serta melibatkan peran aktif masyarakat luas dalam mekanisme pengawasan.
PERENCANAAN PENGEMBANGAN KAWASAN PESISIR
Achmad Djunaedi
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 3 No. 3 (2002): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (173.021 KB)
|
DOI: 10.29122/jtl.v3i3.259
Wilayah pantai/pesisir mempunyai karakter yang spesifik dibandingkan dengan kawasan yang lain. Wilayah ini merupakan agregasi dari berbagai komponen ekologi dan fisik yang saling terkait dan saling berinteraksi. Pembangunan dengan memanfaatkan sumberdaya pantai tanpa memperhatikan prinsip-prinsip ekologis akan dapat merusak fungsi ekosistem pantai.Pengembangan wilayah pada kawasan pesisir sebagaimana pengembangan wilayah pada kawasan lainnya, mempunyai tujuan utama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kegiatan ini dilakukan melalui perencanaan pengembangan dalam suatu proses yang didalamnya terdapat berbagai pendekatan yang harus diperhatikan.Dewasa ini pembangunan pada kawasan pantai berkembang sangat pesat dan ditunjukkan dengan adanya multi kegiatan, misalnya usaha tambak, nelayan, pengusaha industri, hotel dan rekreasi wisata, dan usaha-usaha. Dengan semakin meningkat dan kompleksitas kegiatan didalamnya maka perlu dilakukan perencanaan pengembangan kawasan pantai/pesisir.Pengelolaan wilayah pantai secara terpadu (Intergrated Coastal ZoneManagement) merupakan kunci bagi pembangunan melalui pemecahan problem dan konflik di wilayah pantai yang sangat pelik dan kompleks.
TEKNOLOGI PEMANFAATAN LAHAN MARGINAL KAWASAN PESISIR
Sunarto Gunadi
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 3 No. 3 (2002): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (209.07 KB)
|
DOI: 10.29122/jtl.v3i3.260
Lahan pesisir sesuai dengan ciri-cirinya adalah sebagai tanah pasiran, dimana dapat dikategorikan tanah regosal seperti yang terdapat di sepanjang pantai selatan berupa bukit – bukit pasir terbentuk dari pasir pantai berasal dari abu vulkanik.Disamping sistem tanah lahan kawasan pesisir yang mempunyai sifat marginal, sistem atmosfernya, juga mempunyai ciri kecepatan angin yang cukup tinggi sehingga dapat dimanfaatkan tenaganya untuk menaikkan air sumur melalui kincir angin.Usaha budidaya pertanian pada awalnya selalu memperhitungkan kesesuaian lahan agar proses produksi dapat berjalan dengan baik. Artinya secara potensi alam, proses interaksi hubungan komponen dalam ekosistem pertanian dapat berlanjut tanpa input bantuan material dari manusia. Namun makin hari lahan yang sesuai potensinya makin berkurang dan jarang. Hal ini mendorong manusia dalam usaha proses produksi biomasa pertanian memilih lahan alternatif yang mempunyai keterbatasan-keterbatasan, sehingga diperlukan input teknologi.Peluang pemanfaatan teknologi di lahan kawasan pesisir diantaranya berupa teknologi perbaikan sifat fisik, kimiawi dan organisme tanah agar interaksi tanah – air – tanaman dapat terwujud dengan baik. Wujud teknologi lain adalah interaksi antara tanaman dan atmosfir, karena di lahan kawasan pantai perlu mendapatkan perhatian adalah tersedianya cukup energi matahari, angin dan energi biomas.
PENGEMBANGAN DAN PEMBERLANJUTAN TEKNOLOGI PEMANTAUAN LINGKUNGAN PERAIRAN LAUT (SEAWATCH INDONESIA)
wahyu purwanta
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 3 No. 3 (2002): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (142.433 KB)
|
DOI: 10.29122/jtl.v3i3.261
Sebagai sebuah infrastruktur yang bernilai investasi tidak sedikit, upaya menjaga kesinambungan sistem Seawatch sangatlah penting.Secara umum permasalahan yang muncul dalam pengoperasian dan pengembangan sistem ini dapat dikategorikan sebagai masalah teknis dan non-teknis. Secara teknis masalah yang terjadi pada sistem buoy sebagian besar disebabkan oleh faktor ketidak-akraban lingkungan laut bagi sistem elektronik. Sementara pada aspek teknis pada pusat kendali lebih kepada aspek keandalan (reliability) sistem dan masalah penyebaran termasuk pengaturan aksesnya. Adapun faktor non-teknis utama adalah aspekyang berkaitan dengan ekonomi dalam arti apakah nilai tambah yang dihasilkan sistem Seawatch sebanding dengan biaya pengadaan, pengembangan, dan operasionalnya. Dalam menjaga kesinambungan ke depan suatu upaya bagaimana menekan biaya operasional dan meningkatkan manfaat dan kemanfaatan data dan atau informasi yang dihasilkan menjadi penting. Peningkatan kemampuan pada aspek teknik-praktis-operasional dan peningkatan pemahaman (meaning atau know-how) pada sistem pemantauan diperlukan agar diperoleh pilihan-pilihan pengukuran dan koleksi data yang lebih ekonomis. Sementara penyebaran data dan informasi yang ada perlu segera dilakukan dalam kaitan memberi manfaat dalam jangka panjang khususnya dalam pembangkitan arti pentingnya data dan informasi kelautan.
TEKNOLOGI PENGELOLAAN LIMBAH INDUSTRI KELAPA SAWIT
Henry Loekito
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 3 No. 3 (2002): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (438.756 KB)
|
DOI: 10.29122/jtl.v3i3.262
Dalam kegiatan operasional di Pabrik Kelapa Sawit, disamping akan dihasilkan produk utama (Main Product) berupa CPO dan PKO, juga akan dihasilkan produk sampingan (By-Product), baik berupa limbah padat maupun limbah cair dan juga polutan ke udara bebas. Berdasarkan jenis dan komposisi limbah di atas diketahui bahwa limbah cair memiliki kontribusi yang besar, yaitu antara 55% sampai 67% dari total TBS yang diolah. Limbah Pabrik Kelapa Sawit memiliki potensi nutrisi yang tinggi sebagai sumber nutrisi bagi pertumbuhan tanaman. Aplikasi Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit (LC PKS), Janjang Kosong, Kompos dan Abu Janjangmampu berperan sebagai pengganti pupuk konvensional (pupuk anorganik) yang murah dan dengan kandungan unsur hara (nutrisi) yang cuku memadai untuk menggantikan sumber nutrisi yang dibutuhkan tanaman. Pemilihan bentuk dan metode aplikasi limbah harus dengan memperhatikan tyopografi, jenis tanah, jarak areal aplikasi dari PKS, biaya serta faktor lingkungan.
IDENTIFIKASI KUALITAS GAS SO2 DI DAERAH INDUSTRI PENGECORAN LOGAM CEPER
Wiharja Wiharja
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 3 No. 3 (2002): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (255.214 KB)
|
DOI: 10.29122/jtl.v3i3.263
Di Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten telah lama berkembang industripengecoran logam. Untuk mengantisipasi pengeruh aktifitas industri tersebutterhadap kualitas udara disekitarnya, khususnya konsentrasi SO2 maka penelitian ini dilakukan. Penelitian ini mengungkapkan bahwa konsentrasi gas SO2 udara ambient di wilayah pengecoran logam masih jauh dibawah nilai ambang batas yang diperlukan, sehingga keberadaannya tidak menimbulkan pengaruh negatif terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat disekitarnya.
TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR SADAH
wahyu widayat
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 3 No. 3 (2002): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1258.643 KB)
|
DOI: 10.29122/jtl.v3i3.264
Air merupakan merupakan kebutuhan yang sangat vital bagi kehidupan. Jika kebutuhanakan air belum terpenuhi baik secara kuantitas maupun kualitas, maka akan menimbulkan dampak yang besar terhadapkerawanan kesehatan maupun sosial. Kualitas air meliputi persyaratan fisik, kimia dan bakteriologis yang merupakan suatu kesatuan, sehingga apabila ada satu parameter yang tidak memenuhi syarat, maka air tersebut tidak layak untuk digunakan. Salah satu parameter kimia dalam persyaratan kualitas air adalah jumlah kandungan unsur Ca2+ dan Mg2+ dalam air yang keberadaannya biasa disebut kesadahan air. Kesadahan dalam air sangat tidak dikehendaki baik untuk penggunaan rumah tangga maupun untuk penggunaan industri. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, salah satu alternatif adalah mengolah air tanah atau air sumur setempat sehingga didapatkan air siap minum yang dengan kualitas yang memenuhi persyaratan.
ANALISIS VEGETASI HUTAN DI DESA SALUA DAN KADUWAA TAMAN NASIONAL LORE LINDU, SULAWESI TENGAH
Muhammad Mansur
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 4 No. 1 (2003): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (511.445 KB)
|
DOI: 10.29122/jtl.v4i1.265
Guna mengetahui struktur dan komposisi vegetasi hutan di Taman NasionalLore Lindu Sulawesi Tengah telah di laksanakan pada bulan Mei 2002. Studi dilakukan di 2 lokasi yakni desa Salua (0,5 ha pada 550-640 m dpl.),kabupaten Donggala, and desa Kaduwaa (0,5 ha pada 1100-1150 m dpl),kabupaten Poso. Penelitian dengan “Quadrate-methode” ini mengungkapkan bahwa vegetasi hutan di Salua memiliki jumlah pohon, spesies, jenis dan famili lebih besar daripada di Kaduwaa; namun demikian kepadatan di Salua lebih rendah daripada di Kaduwaa. Vegetasi tersebut di Salua didominasi oleh Palaquium obtusifolium, Toona sureni, Pterospermum celebicum, dan Canarium hirsutum; sedangkan di Kaduwaa oleh Santiria laevigata, Ficus sp., Cryptocarya tomentosa, Semecarpus longifolia, dan Syzygium operculata. Selanjutnya penelitian ini mengungkapkan bahwa komposisi vegetasi pohon di Salua dan Kaduwaa adalah berbeda, tetapi memiliki struktur yang relative sama. Dan akhirnya diungkapkan bahwa komunitas tumbuhan di dua lokasi penelitian adalah berbeda (Indeks kesamaan Sorensen 19).