cover
Contact Name
Muhammad Syafiq
Contact Email
yppijurnal@gmail.com
Phone
+6282170781263
Journal Mail Official
yppijurnal@gmail.com
Editorial Address
Jalan Tuanku Tambusai, Pekanbaru, Riau - Indonesia
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Islamic Studies Journal
ISSN : -     EISSN : 30467608     DOI : https://doi.org/10.62207
Core Subject : Religion,
Discussing Islam, Islamic culture, and Islamic civilization in the context of the contemporary world. The journal aims to promote a deeper understanding of Islam and provide space for in-depth research in Islamic studies.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 50 Documents
PSIKOLOGI ISLAM: MEMBANGUN KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN PERSPEKTIF NILAI-NILAI PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH Dedi Wijaya; Muntaha Muntaha
Islamic Studies Journal (ISLAM) Vol. 3 No. 1 (2026): Islamic Studies Journal
Publisher : Penelitian dan Pengembangan Ilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62207/z888bf18

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep kecerdasan emosional dalam perspektif Psikologi Islam dan mengintegrasikannya dengan nilai-nilai pendidikan Muhammadiyah. Kecerdasan emosional yang selama ini didominasi oleh paradigma barat, perlu direkonstruksi agar selaras dengan nilai-nilai ketauhidan dan akhlak mulia. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif interpretatif. Sumber data primer meliputi kitab tafsir, hadis, serta dokumen resmi Muhammadiyah seperti Tanfidz Muktamar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lima pilar kecerdasan emosional (kesadaran diri, pengaturan diri, motivasi, empati, dan keterampilan sosial) dapat diperkaya melalui nilai-nilai Islam dan pendidikan Muhammadiyah seperti itqan (profesionalisme), amanah, shura (musyawarah), serta tajdid. Pendidikan Muhammadiyah dengan karakter keislaman dan kemodernannya menjadi wahana efektif dalam pembentukan kecerdasan emosional yang tidak hanya cerdas secara psikologis tetapi juga berkemajuan dan berlandaskan Al-Islam. Kesimpulannya, integrasi ini melahirkan model kecerdasan emosional religius-transformatif yang relevan untuk menghadapi tantangan zaman.
TARKĪB AL-ĪJĀZ DAN AL-IṬNĀB SEBAGAI  STRATEGI RETORIS AL-QUR’AN KAJIAN ILMU MA‘ĀNĪ  TERHADAP EFEKTIVITAS PENYAMPAIAN MAKNA Misdah Misdah; Mardan Mardan; Haniah Haniah
Islamic Studies Journal (ISLAM) Vol. 3 No. 1 (2026): Islamic Studies Journal
Publisher : Penelitian dan Pengembangan Ilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62207/yw512g30

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis tarkīb al-ījāz dan al-iṭnāb sebagai strategi retoris Al-Qur’an dalam perspektif ilmu ma‘ānī serta mengungkap perannya terhadap efektivitas penyampaian makna. Kajian mengenai balāgah Al-Qur’an selama ini lebih banyak berfokus pada aspek estetika bahasa, sementara analisis mengenai fungsi komunikatif al-ījāz dan al-iṭnāb dalam membangun efektivitas pesan masih relatif terbatas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan (library research). Data primer berupa ayat-ayat Al-Qur’an yang mengandung unsur al-ījāz dan al-iṭnāb, sedangkan data sekunder diperoleh dari kitab-kitab balāgah, tafsir, buku, dan artikel ilmiah yang relevan. Analisis data dilakukan melalui metode content analysis dengan mengidentifikasi bentuk, fungsi, dan tujuan retoris kedua gaya bahasa tersebut berdasarkan perspektif ilmu ma‘ānī. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tarkīb al-ījāz berfungsi menyampaikan makna yang luas melalui ungkapan yang ringkas sehingga menghasilkan efisiensi bahasa, ketajaman makna, dan kemudahan pemahaman. Sementara itu, al-iṭnāb berfungsi memperjelas, menegaskan, dan memperkuat pesan melalui berbagai bentuk elaborasi yang menghasilkan pengaruh emosional dan persuasif yang lebih mendalam. Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa efektivitas retoris kedua gaya tersebut tidak ditentukan oleh panjang atau pendeknya ungkapan, melainkan oleh kesesuaiannya dengan konteks komunikasi (muqtadha al-ḥāl). Dengan demikian, al-ījāz dan al-iṭnāb merupakan strategi retoris yang saling melengkapi dalam mewujudkan komunikasi Al-Qur’an yang efektif, estetis, dan bermakna. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kajian balāgah fungsional dengan menegaskan hubungan antara struktur bahasa dan efektivitas penyampaian pesan dalam Al-Qur’an.
OTORITAS HADIS SEBAGAI BAYĀN TAFSIR AL-QUR'AN: ANALISIS NORMATIF DALAM PENETAPAN HUKUM POTONG TANGAN Q.S. AL-MĀ'IDAH [5]: 38 Yusup Supriadi; Muhammad Thalib; Arifin Arifin
Islamic Studies Journal (ISLAM) Vol. 3 No. 1 (2026): Islamic Studies Journal
Publisher : Penelitian dan Pengembangan Ilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62207/esv4kt95

Abstract

Artikel ini mengkaji fungsi hadis sebagai bayān Al-Qur’an dalam penetapan hukum potong tangan dengan fokus pada QS. al-Mā’idah [5]: 38. Penelitian ini berangkat dari persoalan munculnya pendekatan Qur’an-sentris yang memahami ayat tersebut secara literal tanpa melibatkan hadis sebagai penjelas normatif, sehingga melahirkan kesimpulan hukum yang kaku atau bahkan menafikan hudūd secara keseluruhan. Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan peran hadis dalam memberikan batasan, perincian, dan konteks terhadap perintah Al-Qur’an terkait pencurian. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research) dan pendekatan normatif teoritis berbasis ulumul hadis dan ushul fiqih. Data primer berupa ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis sahih dalam kitab-kitab hadis mu‘tabar, sedangkan data sekunder meliputi kitab tafsir, syarah hadis, karya usul fikih, serta artikel jurnal ilmiah kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hadis berfungsi sebagai bayān tafṣīlī, taqyīd, dan takhṣīṣ dengan menetapkan niṣāb pencurian, syarat-syarat penerapan hukuman, serta prinsip pencegahan penerapan hudūd dalam kondisi syubhat. Temuan ini menunjukkan bahwa pengabaian fungsi hadis sebagai bayān Al-Qur’an berimplikasi pada distorsi pemahaman normatif terhadap hukum potong tangan, baik dalam bentuk penerapan yang tidak proporsional maupun penolakan terhadap legitimasi hudūd itu sendiri. Oleh karena itu, hadis memiliki otoritas epistemologis yang tidak terpisahkan dari Al-Qur’an dalam konstruksi hukum Islam. Dengan demikian, integrasi Al-Qur’an dan hadis merupakan prasyarat utama dalam memahami dan menerapkan hukum potong tangan secara adil, proporsional, dan metodologis.
PENDIDIKAN BERBASIS MASYARAKAT DALAM PERSPEKTIF AL-QURAN DAN HADITS TARBAWI Dika Kurnia Dikrillah; Rahendra Maya
Islamic Studies Journal (ISLAM) Vol. 3 No. 1 (2026): Islamic Studies Journal
Publisher : Penelitian dan Pengembangan Ilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62207/wpnnnx58

Abstract

Pendidikan berbasis masyarakat bukan sekadar konsep modern dalam ilmu Pendidikan, namun sesungguhnya merupakan warisan epistemologis Islam yang telah dipraktekkan sejak masa Rasulullah SAW. Kajian ini bertujuan untuk menggali landasan konseptual pendidikan berbasis masyarakat melalui telaah mendalam terhadap ayat-ayat Al-Quran dan hadits-hadits tarbawi yang relevan. Dengan menggunakan pendekatan kajian literatur normatif-analitik, penelitian ini mengkaji prinsip-prinsip qur'ani dan nabawi yang melandasi keterlibatan masyarakat dalam pendidikan, menganalisis model-model pendidikan masyarakat dalam sejarah Islam awal, serta merumuskan implikasinya bagi pengembangan pendidikan Islam kontemporer. Hasil kajian menunjukkan bahwa Al-Quran dan Hadits tidak hanya mengandung dorongan normatif untuk belajar dan mengajar, tetapi secara konkret meletakkan masyarakat sebagai subjek, medium, sekaligus tujuan pendidikan. Konsep-konsep seperti amar ma'ruf nahi munkar, ta'awun, ukhuwah islamiyah, dan tanggung jawab kolektif (fardhu kifayah) menjadi fondasi teologis yang kokoh bagi pendidikan berbasis masyarakat dalam Islam. Kajian ini menyimpulkan bahwa revitalisasi pendidikan berbasis masyarakat dalam bingkai Islam adalah keniscayaan yang memiliki akar normatif sangat kuat dan relevansi praktis yang sangat tinggi untuk menjawab tantangan pendidikan di era kontemporer.
DARI IDEOLOGI IMPERIALISME KE TEOLOGI MILENARIANISME (MELACAK FAKTOR DI BALIK KEMUNCULAN ALIRAN AHMADIYAH DI KOTA PADANG) Salman Assahary
Islamic Studies Journal (ISLAM) Vol. 3 No. 2 (2026): Islamic Studies Journal (ISLAM)
Publisher : Penelitian dan Pengembangan Ilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62207/918j3c42

Abstract

Kemunculan Ahmadiyah sebagai salah satu gerakan keagamaan modern tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial-politik India pada akhir abad ke-19. Gerakan ini lahir pada masa kolonialisme Inggris ketika umat Islam India menghadapi tekanan politik, kemunduran pendidikan, konflik antar agama, penetrasi misionaris Kristen, serta kebangkitan gerakan revivalisme Hindu. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor historis, ideologis, dan teologis yang melatarbelakangi kemunculan Ahmadiyah serta proses masuk dan berkembangnya gerakan tersebut di Kota Padang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan sejarah sosial dan studi keagamaan. Data diperoleh melalui studi kepustakaan, dokumentasi, observasi, dan wawancara dengan tokoh masyarakat, tokoh agama, serta pihak-pihak yang memiliki pengetahuan mengenai perkembangan Ahmadiyah di Kota Padang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ahmadiyah muncul dalam situasi kolonial yang kompleks. Tuduhan mengenai keterkaitannya dengan kepentingan imperialisme perlu dikaji secara kritis melalui relasi antara politik kolonial, gerakan pembaruan Islam, dan strategi dakwah yang dikembangkan oleh pendirinya. Pada saat yang sama, konsep Al-Masih dan Al-Mahdi yang dikembangkan oleh Mirza Ghulam Ahmad memperlihatkan karakter teologi milenarianisme, yaitu keyakinan mengenai hadirnya figur pembaharu atau penyelamat pada masa krisis. Di Kota Padang, kemunculan Ahmadiyah dipengaruhi oleh jaringan pendidikan, mobilitas ulama, penyebaran literatur, serta dinamika penerimaan masyarakat terhadap gerakan keagamaan baru. Artikel ini menegaskan bahwa Ahmadiyah perlu dikaji secara historis, kritis, dan proporsional agar pembahasannya tidak berhenti pada penilaian teologis semata.
HADIST DAN ISU GENDER: MENGKAJI HADIST PERSPEKTIF GENDER DALAM KEPEMIMPINAN ISLAM Wandi Wandi; Muhammad Yahya
Islamic Studies Journal (ISLAM) Vol. 3 No. 2 (2026): Islamic Studies Journal (ISLAM)
Publisher : Penelitian dan Pengembangan Ilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62207/27a83f59

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hadis tentang kepemimpinan perempuan dalam perspektif gender, khususnya hadis yang menyatakan bahwa "Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada seorang perempuan" (HR. al-Bukhari). Kajian ini dilatarbelakangi oleh adanya perbedaan pandangan di kalangan ulama mengenai kedudukan perempuan dalam kepemimpinan politik. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Sumber data primer berasal dari hadis-hadis yang berkaitan dengan kepemimpinan perempuan, khususnya yang terdapat dalam Sahih al-Bukhari, sedangkan sumber data sekunder diperoleh dari berbagai buku, jurnal, dan karya ilmiah yang relevan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi, sementara analisis data menggunakan pendekatan hadis tematik (maudhu'i) dan historis-kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hadis tentang kepemimpinan perempuan berstatus sahih dari segi sanad karena diriwayatkan oleh perawi yang terpercaya dan memiliki sanad yang bersambung. Namun, dari segi matan, hadis tersebut memiliki keterkaitan dengan kondisi sosial-politik Kerajaan Persia pada masa pengangkatan putri Kisra sebagai pemimpin. Oleh karena itu, sebagian ulama memandang hadis tersebut bersifat kontekstual dan tidak dapat dijadikan dasar larangan mutlak bagi perempuan untuk menduduki jabatan publik. Dalam perspektif gender, kepemimpinan dalam Islam lebih menekankan pada aspek kompetensi, amanah, keadilan, dan kemampuan seseorang daripada jenis kelaminnya. Dengan demikian, perempuan memiliki peluang yang sama untuk menjadi pemimpin selama memenuhi syarat-syarat kepemimpinan yang dibutuhkan. Kajian ini menunjukkan bahwa pemahaman hadis secara kontekstual dapat memberikan perspektif yang lebih komprehensif terhadap isu gender dan kepemimpinan dalam Islam.
TRANSFORMASI METODOLOGI TAKHRIJ HADITS: DARI PENDEKATAN MANUAL MENUJU ERA DIGITAL Muh. Hasan; Muhammad Yahya; Eerwin Hafid
Islamic Studies Journal (ISLAM) Vol. 3 No. 2 (2026): Islamic Studies Journal (ISLAM)
Publisher : Penelitian dan Pengembangan Ilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62207/ywzc9g47

Abstract

Takhrij Hadits sebagai bagian dari ilmu hadits merupakan produk ulama terdahulu adalah juga bagian dari khazanah intelektual dan keilmuan yang patut dilestarikan dan dikembangkan. Mereka (para ulama terdahulu) telah melakukan “ijtihad intelektual” dalam tradisi ilmu hadits sehingga takhrij hadits sebagai bagian kecil dari ilmu tersebut ada dihadapan kita. Akhir-akhir ini telah banyak kajian ilmu agama islam yang mendapat “sentuhan-sentuhan tangan teknologi” termasuk takhrij hadits. Para punggawa ilmu hadits generasi sekarang, bekerja sama dengan para saintis telah menciptakan dan mengembangkan metode takhrij hadits digital. Perangkat CD hadits dapat diakses oleh siapa saja yang ingin melakukan penelusuran dan penelitian hadits, Dengan metode takhrij hadits digital akan lebih mempermudah lagi penelusuran dan pelacakan hadits Nabi SAW.
MASYARAKAT ISLAMI DALAM AL-QUR’AN DAN IMPLEMENTASI PEMBENTUKANNYA OLEH HASMI Saparno Saparno; Rahendra Maya
Islamic Studies Journal (ISLAM) Vol. 3 No. 2 (2026): Islamic Studies Journal (ISLAM)
Publisher : Penelitian dan Pengembangan Ilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62207/8828t198

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis konsep masyarakat Islami dalam Al-Qur'an serta mengkaji implementasi pembentukannya oleh Himpunan Ahlussunnah untuk Masyarakat Islami (HASMI). Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan tafsir maudhu'i (tematik) dan studi kasus. Data dikumpulkan melalui studi kepustakaan terhadap Al-Qur'an, hadis, kitab-kitab tafsir, dokumen primer HASMI, serta wawancara mendalam dengan Kepala Bidang Kaderisasi, Kepala Bidang Struktural, dan Kepala Bidang Teknologi Informasi HASMI. Analisis data dilakukan menggunakan content analysis melalui reduksi data, penyajian data, interpretasi, dan sintesis dengan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Islami menurut Al-Qur'an dibangun di atas tujuh karakteristik utama, yaitu tauhid, ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, penegakan syariat, ukhuwah Islamiyah, amar ma'ruf nahi munkar, keadilan, dan kepedulian sosial. Implementasi pembentukan masyarakat Islami oleh HASMI diwujudkan melalui pembinaan tauhid, pendidikan dan kaderisasi, dakwah media, penguatan struktur organisasi, pelayanan sosial, serta pengembangan dakwah digital. Penelitian ini menemukan bahwa strategi dakwah merupakan unsur integratif yang menghubungkan seluruh implementasi tersebut. HASMI mengembangkan model pembentukan masyarakat Islami melalui transformasi individu dan masyarakat secara bertahap (at-tadarruj) melalui dakwah, pendidikan, kaderisasi, dan pemanfaatan teknologi informasi, bukan melalui pendekatan politik kekuasaan maupun kekerasan. Temuan ini melahirkan model da'wah-based social transformation, yaitu model pembentukan masyarakat Islami yang mengintegrasikan konsep normatif Al-Qur'an dengan implementasi kelembagaan melalui dakwah yang damai, edukatif, dan berkelanjutan.
TRANSFORMASI SOSIAL DAN RELASI BUDAYA DALAM PERKEMBANGAN TEORI TAFSIR DI INDONESIA Utsmani Abdul Bari
Islamic Studies Journal (ISLAM) Vol. 3 No. 2 (2026): Islamic Studies Journal (ISLAM)
Publisher : Penelitian dan Pengembangan Ilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62207/6azjmq21

Abstract

Artikel ini membahas transformasi sosial dan relasi budaya dalam perkembangan teori tafsir di Indonesia. Kajian ini berangkat dari asumsi bahwa tafsir al-Qur’an tidak pernah lahir dalam ruang yang netral, melainkan selalu dipengaruhi oleh dinamika sosial, budaya, politik, dan intelektual masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research) melalui pendekatan historis, sosiologis, dan budaya. Data dianalisis secara deskriptif-analitis untuk melihat hubungan antara perubahan sosial dan perkembangan teori tafsir di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan tafsir di Indonesia mengalami transformasi dari corak tradisional yang berorientasi pada transmisi keilmuan Timur Tengah menuju tafsir kontekstual yang responsif terhadap problem sosial masyarakat Indonesia. Relasi budaya lokal juga memberikan pengaruh besar terhadap karakter tafsir Nusantara, seperti penggunaan bahasa daerah, pendekatan sufistik, dan corak moderat dalam penafsiran. Selain itu, modernisasi, globalisasi, dan perkembangan media digital turut memengaruhi perubahan metodologi dan otoritas tafsir di Indonesia. Transformasi sosial tersebut melahirkan berbagai pendekatan baru seperti tafsir sosial, hermeneutika, tafsir maqāṣidī, dan tafsir berbasis kearifan lokal. Dengan demikian, perkembangan teori tafsir di Indonesia menunjukkan adanya hubungan dialektis antara teks al-Qur’an, perubahan sosial, dan relasi budaya masyarakat Muslim Nusantara.
INOVASI ADMINISTRASI PENDIDIKAN ISLAM DALAM MENGHADAPI TANTANGAN REVOLUSI INDUSTRI 5.0 Darimus Darimus
Islamic Studies Journal (ISLAM) Vol. 3 No. 2 (2026): Islamic Studies Journal (ISLAM)
Publisher : Penelitian dan Pengembangan Ilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62207/dkr1bh55

Abstract

Kehadiran Revolusi Industri 5.0 membawa perubahan mendasar pada cara lembaga pendidikan mengelola tata kelola, sistem informasi, dan pengambilan keputusannya, termasuk pada lembaga pendidikan Islam seperti madrasah dan pesantren. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana inovasi teknologi yang lahir dari era Industri 5.0 mengubah praktik administrasi pendidikan Islam, sekaligus mengidentifikasi tantangan dan strategi yang relevan bagi lembaga pendidikan Islam di Indonesia. Kajian ini disusun dengan pendekatan narrative review, menelusuri literatur akademik terbitan lima sampai sepuluh tahun terakhir yang membahas digitalisasi, kecerdasan buatan, dan sistem informasi manajemen pendidikan Islam. Hasil kajian menunjukkan bahwa inovasi administrasi pendidikan Islam telah bergerak dari sekadar digitalisasi arsip menuju penggunaan sistem informasi manajemen terintegrasi seperti Education Management Information System, serta mulai merambah pemanfaatan kecerdasan buatan untuk mendukung pengambilan keputusan, pengelolaan sumber daya manusia, dan supervisi kepala madrasah. Di sisi lain, keterbatasan infrastruktur, kesenjangan literasi digital, dan kekhawatiran terhadap pergeseran nilai keislaman masih menjadi kendala yang signifikan. Artikel ini menyimpulkan bahwa keberhasilan inovasi administrasi pendidikan Islam di era Industri 5.0 sangat bergantung pada kemampuan lembaga untuk memadukan efisiensi teknologi dengan penjagaan nilai-nilai keislaman, melalui kepemimpinan yang adaptif dan kebijakan yang berpihak pada pemerataan akses.