cover
Contact Name
Dafrid Cahyadi Arifin
Contact Email
dafridcahyadiarifin@unimerz.ac.id
Phone
+6281230091927
Journal Mail Official
jarwo.ibrahim@gmail.com
Editorial Address
Jl. Mappala Blok A4/3 Makassar
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
EDULEC
ISSN : -     EISSN : 28093135     DOI : https://doi.org/10.56314/edulec.v3i1.120
Core Subject :
Education (Classroom Action Research/PTK), Research and Development (R & D), Learning Model, curriculum, teaching- learning, evaluation, quality education, management, and education technology) Language (Morphology, Syntax, Phonology, Semantic, Pragmatic, Language Typology, Discourse Analysis, Translation, Linguistic Ecology, Applied Linguistic, Language Learning, Teaching English Method) Culture (Belief System, History, Art, Ethnicity, And Philosophy) and open to all methodological approaches and theoretical uses
Arjuna Subject : -
Articles 160 Documents
Gambaran Critical Thinking Skills Siswa SMA dalam Penggunaan Teknologi Digital Muhammad Hidayat Lammi; Ary Herlina Kurniati H.M; Indriani H Ismail; Habibi Sultan
JURNAL PENDIDIKAN BAHASA DAN BUDAYA Vol 6 No 1 (2026): April (EDULEC)
Publisher : CV. Eureka Murakabi Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56314/edulec.v6i1.523

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis gambaran critical thinking skills siswa SMA dalam penggunaan teknologi digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai kemampuan siswa dalam memahami, menganalisis, mengevaluasi, serta mengambil keputusan terhadap informasi yang diperoleh melalui teknologi digital. Subjek penelitian terdiri dari siswa SMA yang terlibat dalam kegiatan pembelajaran berbasis teknologi digital. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan observasi langsung terhadap aktivitas siswa dalam menggunakan teknologi digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa telah aktif memanfaatkan teknologi digital dalam proses pembelajaran, terutama dalam mencari dan mengakses informasi dari berbagai sumber. Namun demikian, kemampuan berpikir kritis siswa dalam mengevaluasi dan menganalisis informasi masih belum merata, di mana sebagian siswa masih cenderung menerima informasi tanpa melakukan verifikasi yang mendalam. Selain itu, terdapat variasi kemampuan dalam pengambilan keputusan, yang menunjukkan bahwa tidak semua siswa mampu mengolah informasi secara analitis dan reflektif. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan teknologi digital belum secara otomatis meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa, sehingga diperlukan strategi pembelajaran yang lebih terarah untuk mengintegrasikan teknologi digital dengan pengembangan kemampuan berpikir kritis.
Peran Pendidikan Orang Tua dalam Praktik Pencegahan Stunting Pada Keluarga Miskin di Kota Makassar Mariani Loise; Muhammad Syukur; Firdaus W Suhaeb
JURNAL PENDIDIKAN BAHASA DAN BUDAYA Vol 6 No 1 (2026): April (EDULEC)
Publisher : CV. Eureka Murakabi Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56314/edulec.v6i1.527

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran pendidikan orang tua dalam praktik pencegahan stunting pada keluarga miskin di Kota Makassar serta mengidentifikasi faktor sosial yang memengaruhinya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus selama tiga bulan. Subjek penelitian terdiri dari delapan informan utama, yaitu orang tua dari keluarga miskin yang memiliki anak balita, yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan orang tua berperan sebagai modal budaya yang memengaruhi pengetahuan, sikap, dan praktik pengasuhan dalam pencegahan stunting. Namun, praktik tersebut juga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, lingkungan sosial, budaya, akses layanan kesehatan, serta peran gender dalam keluarga. Keterbatasan ekonomi menjadi hambatan utama dalam pemenuhan gizi anak, sementara norma sosial dan habitus membentuk pola pengasuhan yang direproduksi secara turun-temurun. Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya intervensi multidimensional, seperti peningkatan literasi kesehatan melalui edukasi berbasis komunitas, penguatan peran posyandu, serta integrasi bantuan sosial dengan edukasi gizi dan pengasuhan. Selain itu, diperlukan kebijakan yang sensitif terhadap konteks sosial budaya dan pemberdayaan perempuan dalam keluarga. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pencegahan stunting merupakan fenomena kompleks yang memerlukan pendekatan lintas sektor, tidak hanya pada aspek kesehatan tetapi juga sosial, ekonomi, dan budaya.
Bridging Cultures through Reflection: Metacognitive Approaches of Multicultural EFL Learners Sukmawati Sukmawati; Syarifuddin Dollah
JURNAL PENDIDIKAN BAHASA DAN BUDAYA Vol 6 No 2 (2026): August (EDULEC)
Publisher : CV. Eureka Murakabi Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56314/edulec.v6i2.440

Abstract

This study aims to examine how EFL students from diverse cultural backgrounds manage their learning processes through metacognitive awareness and self-reflection in a multicultural academic setting. The importance of cross-cultural communicative competence in English language acquisition is increasing, rendering students' ability to regulate their cognition, learning strategies, and emotional responses crucial for achieving academic success. This study employed a phenomenological approach with eleven students from the English Language Education Study Program at Universitas Megarezky. Data were collected using semi-structured interviews and later analyzed using thematic analysis technique. The findings found four principal themes: Self-awareness, Strategic regulation, Cultural adaptation, and Competence transformation These findings emphasize the importance of integrating metacognitive and reflection-based learning practices into the EFL curriculum to enhance students' intercultural competence, emotional resilience, and learning independence. This research provides theoretical contributions to the study of metacognitive learning and cross-cultural communication, as well as practical implications for educators designing globally responsive English language learning.
Students' Perception Toward English Song As A Learning Media Of Listening Comprehension Delvia; Hasnani; Sujarwo
JURNAL PENDIDIKAN BAHASA DAN BUDAYA Vol 6 No 2 (2026): August (EDULEC)
Publisher : CV. Eureka Murakabi Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56314/edulec.v6i2.474

Abstract

his study aims to explore students’ perceptions toward English songs as a learning media of listening comprehension. The research employed a descriptive qualitative method involving second-semester megarezky eEuniversity students. Data were collected through questionnaires and interviews focusing on cognitive, affective, and conative aspects of perception. The findings revealed that students had positive perceptions of English songs as a learning medium. Cognitively, students found that English songs helped them improve vocabulary, pronunciation, and listening comprehension. Affectively, students felt more motivated, relaxed, and interested during the learning process. Conatively, students showed willingness to use English songs as an alternative learning media both inside and outside the classroom. In conclusion, English songs are perceived as an effective and engaging medium for enhancing students’ listening comprehension and learning motivation.
Pola Pengasuhan Anak pada Keluarga Pekerja Sektor Pariwisata di Pantai Legian Bali Ayu Indira Sangaji; Syamsu A Kamaruddin; Arlin Adam; Ahmadin
JURNAL PENDIDIKAN BAHASA DAN BUDAYA Vol 6 No 2 (2026): August (EDULEC)
Publisher : CV. Eureka Murakabi Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56314/edulec.v6i2.508

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola pengasuhan anak pada keluarga pekerja sektor pariwisata di Pantai Legian Bali, faktor-faktor yang memengaruhi pola pengasuhan, serta dampaknya terhadap perkembangan sosial dan pendidikan anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi dengan melibatkan 10 informan yang merupakan orang tua yang bekerja di sektor pariwisata di Pantai Legian Bali. Data dianalisis secara tematik melalui proses pemilahan dan pengodean data, pengelompokan informasi ke dalam tema-tema utama, interpretasi keterkaitan antartema, serta penarikan kesimpulan. Analisis penelitian menggunakan teori fungsional struktural Talcott Parsons dan konsep habitus Pierre Bourdieu untuk menjelaskan hubungan antara struktur sosial, kondisi kerja, dan praktik pengasuhan dalam keluarga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola pengasuhan anak terbagi ke dalam tiga bentuk utama, yaitu pola permisif, demokratis, dan delegatif. Pola permisif muncul sebagai bentuk adaptasi terhadap keterbatasan waktu orang tua akibat jam kerja yang panjang dan tidak menentu. Pola demokratis diterapkan oleh keluarga yang berupaya mempertahankan komunikasi dan keterlibatan orang tua meskipun memiliki mobilitas kerja tinggi, sedangkan pola delegatif ditandai dengan pengalihan sebagian tanggung jawab pengasuhan kepada kakek-nenek, kerabat, atau lembaga penitipan anak. Faktor pembentuk pola pengasuhan meliputi tuntutan ekonomi, ritme kerja sektor pariwisata, lingkungan sosial kawasan wisata, dan tingkat pendidikan orang tua. Dampaknya terlihat pada kedisiplinan, interaksi sosial, kontrol penggunaan gawai, dan keterlibatan anak dalam pendidikan formal. Kontribusi penelitian ini terletak pada pengungkapan bahwa karakteristik kerja sektor pariwisata tidak hanya memengaruhi kondisi ekonomi keluarga, tetapi juga menghasilkan strategi adaptasi pengasuhan yang berbeda dalam menghadapi keterbatasan waktu dan mobilitas kerja. Kebaruan penelitian ditunjukkan melalui identifikasi pola pengasuhan delegatif sebagai bentuk adaptasi keluarga pekerja pariwisata serta integrasi perspektif struktur sosial dan habitus untuk menjelaskan reproduksi praktik pengasuhan dalam konteks masyarakat urban wisata. Penelitian ini menegaskan bahwa dinamika sektor pariwisata turut membentuk relasi keluarga dan praktik pengasuhan yang berimplikasi terhadap perkembangan sosial dan pendidikan anak.
Cultural Variations in Physical Appearance, Paralanguage, and Olfactics During Eid al-Fitr: An Intercultural Communication Perspective Sekar Swasti Rahayu Ningtyas; Erna Iftanti
JURNAL PENDIDIKAN BAHASA DAN BUDAYA Vol 6 No 2 (2026): August (EDULEC)
Publisher : CV. Eureka Murakabi Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56314/edulec.v6i2.578

Abstract

Nonverbal communication is an essential part of human interaction because it conveys meaning beyond spoken language. However, the interpretation of nonverbal messages is closely influenced by cultural values, traditions, and social norms. This study aims to analyze the cultural variations of three aspects of nonverbal communication, physical appearance and dress, paralanguage, and olfactics, during the Eid al-Fitr celebration in East Java from an intercultural communication perspective. This research employed a qualitative approach using the library research method. Data were collected from books, scholarly jour nals, and other academic sources related to nonverbal communication, intercultural communication, and Indonesian cultural practices. The findings indicate that nonverbal communication during Eid al-Fitr reflects local cultural traditions in East Java. These variations can be observed through clothing choices, tone of voice during greetings and family interactions, the use of perfume, the aroma of traditional Eid foods, and cultural practices that are still maintained by some families, such as using incense to honor deceased relatives. These differences demonstrate that nonverbal communication is closely connected to local cultural values and traditions. Therefore, understanding cultural variations in nonverbal communication can help minimize misunderstandings and promote more effective intercultural communication.
Upaya Meningkatan Hasil Belajar Keterampilan Servis Backhand Dalam Permainan Bulutangkis Melalui Metode Pembelajaran Distributed Practice pada Siswa Kelas XI (2) SMA Negeri 19 Makassar Yogi Arianto; Wahyu Munandar; Abdul Rahman Sutte
JURNAL PENDIDIKAN BAHASA DAN BUDAYA Vol 6 No 2 (2026): August (EDULEC)
Publisher : CV. Eureka Murakabi Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56314/edulec.v6i2.585

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya hasil belajar servis backhand bulutangkis pada siswa kelas XI(2) SMA Negeri 19 Makassar. Dari 35 siswa, hanya 10 siswa (28,57%) yang mencapai KKM 75 dengan nilai rata-rata kelas 68,5. Rendahnya hasil belajar disebabkan oleh kesulitan koordinasi gerak, ketidaktepatan pukulan, serta metode konvensional (massed practice) yang membuat siswa cepat lelah dan kurang fokus. Penelitian ini bertujuan meningkatkan hasil belajar servis backhand melalui penerapan metode distributed practice. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis dan McTaggart dilaksanakan dalam dua siklus (perencanaan, pelaksanaan, observasi, refleksi). Subjek penelitian 35 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan tes praktik (short service test), observasi terstruktur, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan statistik deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan: nilai rata-rata Data Awal 68,5 (ketuntasan 28,57%), siklus I meningkat menjadi 75,3 (ketuntasan 51,43%). Setelah perbaikan tindakan pada siklus II (rasio latihan:istirahat 1:1,5, umpan balik individual), nilai rata-rata mencapai 86,29 (peningkatan 10,9 poin dari siklus I) dengan ketuntasan klasikal 94,28% (33 siswa tuntas), melampaui indikator keberhasilan 80%. Kesimpulannya, penerapan metode pembelajaran distributed practice efektif meningkatkan hasil belajar keterampilan servis backhand bulutangkis pada siswa kelas XI(2) SMA Negeri 19 Makassar. Hipotesis tindakan dinyatakan diterima.
English Language Needs for Workplace Communication in Makassar's Health and Tourism Sectors: An ESP Needs Analysis Nadya Nurhidayah N
JURNAL PENDIDIKAN BAHASA DAN BUDAYA Vol 6 No 2 (2026): August (EDULEC)
Publisher : CV. Eureka Murakabi Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56314/edulec.v6i2.591

Abstract

This study identifies English for Specific Purposes (ESP) needs related to workplace communication among health and tourism practitioners in Makassar, Indonesia. A sequential explanatory mixed-methods design was used to combine a quantitative needs survey with qualitative stakeholder interviews. The quantitative phase involved 100 purposively selected practitioners in international-facing health and tourism roles. A 25-item Likert-type questionnaire examined professional tasks, linguistic skills, and perceived competence. The qualitative phase involved semi-structured interviews with 10 stakeholders, five from each sector, to explain the communication difficulties underlying the survey priorities. Quantitative data were summarized using frequencies and percentages, while interview data were analyzed thematically and integrated with the survey results. Four priority task domains were identified: clinical and technical interaction (28%), front-line logistics (27%), operational safety (24%), and affective communication (21%). Clinical anamnesis, procedure explanation, safety briefings, directions, complaint handling, and culturally appropriate interpersonal communication emerged as central workplace demands. Interview accounts further indicated difficulties with rapid spoken English, unfamiliar accents and idioms, technical vocabulary, and pragmatic strategies such as hedging and softening language. The combined clinical and safety categories represented 52% of identified needs, highlighting the importance of accurate oral communication in high-stakes encounters. The findings support locally responsive, task-based ESP training built around authentic simulations, listening practice, professional phraseology, and pragmatic communication. Because the study used purposive sampling and descriptive analysis in one city, the findings should be interpreted as context-specific priorities rather than population estimates.
Beyond Literal Translation: AI-Assisted Pedagogical Translation for Developing University Student Pragmatic Competence Sulviana; Muhammad Chairil Imran
JURNAL PENDIDIKAN BAHASA DAN BUDAYA Vol 6 No 2 (2026): August (EDULEC)
Publisher : CV. Eureka Murakabi Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56314/edulec.v6i2.597

Abstract

Various AI-based applications, such as ChatGPT, DeepL, Google Translate, and Gemini, no longer function solely as translation aids but are also being utilized as learning media to support students' knowledge construction. However, most previous research has focused on evaluating linguistic accuracy, translation quality, and the acceptance of AI technology in language learning. Research specifically integrating AI into pedagogical translation approaches to develop students' pragmatic competence is still relatively limited. This study aimed to develop AI-Assisted Pedagogical Translation as a learning approach that integrated AI technology with reflective translation activities to enhance students' pragmatic competence. The study employed mixed method approach, combining a quasi-experiment with qualitative analysis. The subjects were 60 English education students enrolled in the translation and pragmatics course. Data were collected through pragmatic competence tests, translation assignments, and in-depth interviews. Quantitative analysis was conducted using descriptive statistics, paired sample t-tests, and qualitative analysis in the form of thematic analysis. The results showed that the integration of AI into pedagogical translation significantly improved students' competence to understand contextual meaning compared to conventional learning, and also encourage students to critically reflect on the translation results.
Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Teknik Smash Dalam Permainan Bola Voli Menggunakan Model Pembelajaran Discovery Learning pada Siswa Azril Akbar; Muh Ilham Budi Utama; A. Anwar Ishar
JURNAL PENDIDIKAN BAHASA DAN BUDAYA Vol 6 No 2 (2026): August (EDULEC)
Publisher : CV. Eureka Murakabi Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56314/edulec.v6i2.600

Abstract

Penelitian tindakan kelas ini bertujuan meningkatkan hasil belajar teknik smash dalam permainan bola voli melalui penerapan model Discovery Learning pada siswa kelas XI TKJ 1 SMKN 1 Bantaeng. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus, dan setiap siklus meliputi empat tahapan utama, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian berjumlah 35 siswa, terdiri atas 19 siswa laki-laki dan 16 siswa perempuan. Data hasil belajar diperoleh melalui penilaian aspek kognitif, afektif, dan psikomotor, kemudian dianalisis secara deskriptif dengan mengacu pada ketuntasan individual berdasarkan Kriteria Ketuntasan Minimal serta ketuntasan klasikal. Pada siklus I, sebanyak 24 siswa atau 68,6% telah mencapai KKM, sedangkan 11 siswa atau 31,4% belum tuntas. Setelah dilakukan refleksi dan perbaikan pembelajaran pada siklus II, jumlah siswa yang mencapai KKM meningkat menjadi 29 siswa atau 82,9%, sementara 6 siswa atau 17,1% masih belum tuntas. Dengan demikian, terjadi peningkatan ketuntasan klasikal sebesar 14,3 poin persentase atau bertambah 5 siswa dari siklus I ke siklus II. Persentase ketuntasan pada siklus II juga telah melampaui indikator keberhasilan klasikal yang ditetapkan sebesar 80%. Temuan ini menunjukkan bahwa penerapan Discovery Learning dapat membantu memperbaiki proses pembelajaran teknik smash karena siswa memperoleh kesempatan untuk lebih aktif memahami tahapan gerak, melakukan praktik, mengamati kesalahan, dan memperbaiki performa berdasarkan pengalaman belajar pada setiap siklus. Secara keseluruhan, model Discovery Learning dapat digunakan sebagai salah satu strategi pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar teknik smash pada kelas yang diteliti. Hasil penelitian ini juga menegaskan pentingnya proses refleksi berkelanjutan dalam pembelajaran PJOK untuk menyesuaikan tindakan pembelajaran dengan kebutuhan dan perkembangan siswa secara optimal.