cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Interaksi Online
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Interaksi Online adalah jurnal yang memuat karya ilmiah mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Undip. Interaksi Online menerima artikel-artikel yang berfokus pada topik yang ada dalam ranah kajian Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial
Arjuna Subject : -
Articles 33 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1: Januari 2013" : 33 Documents clear
Pengaruh Kualitas Komunikasi Ibu-Penyuluh ASI dan Tingkat Pendidikan Ibu Terhadap Tingkat Pengetahuan ASI Eksklusif Ranisatuhu, Mona
Interaksi Online Vol 1, No 1: Januari 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.565 KB)

Abstract

ABSTRAKSJudul : Pengaruh Kualitas Komunikasi Ibu-Penyuluh ASI dan TingkatPendidikan Ibu Terhadap Tingkat Pengetahuan ASI EksklusifNama : Mona RanisatuhuNIM : D2C604150 Latar belakang penelitian ini didasari oleh semakin menurunnya angka pemberian ASI secara eksklusif kepada bayi, yang berdampak pada meningkatnya kasus gizi buruk yang menimpa anak Indonesia. Hal ini menandakan bahwa bentuk komunikasi yang selama ini dilakukan pemerintah untuk mensosialisasikan pemberian ASI Eksklusif, gagal atau kurang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji adanya pengaruh kualitas komunikasi Ibu-Penyuluh ASI dan tingkat pendidikan ibu terhadap tingkat pengetahuan ASI eksklusif. Teori yang digunakan untuk mendukung penelitian ini adalah “Social Marketing” dari Philips Kotler. Tipe penelitian yang dipakai adalah eksplanatori, yaitu tipe penelitian yang menjelaskan hubungan kausal antara variabel-variabel melalui pengujian hipotesis. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu hamil dan ibu menyusui yang melakukan pemerikasaan di UPT Puskesmas Srondol. Sampel penelitian ini sebanyak 50 responden, diambil dengan menggunakan teknik sampel non random. Dari penelitian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa ada hubungan antara kualitas komunikasi Ibu-Penyuluh ASI (X1) dengan tingkat pengetahuan ASI Eksklusif (Y), nilai hubungannya sebesar 0,498, dengan sig sebesar 0,000 < 0,01 dengan kata lain X1 dan Y terdapat hubungan positif yang signifikan. Pada variabel tingkat pendidikan ibu (X2) dengan tingkat pengetahuan ASI Eksklusif (Y), nilai hubungannya sebesar 0,397, dengan sig sebesar 0,003 < 0,01. Dengan kata lain antara X2 dan Y terdapat hubungan positif yang signifikan. Pada pengukuran kekuatan hubungan antara variabel kualitas komunikasi ibu-penyuluh ASI (X1) dan variabel tingkat pendidikan ibu (X2) secara bersama-sama terhadap variabel tingkat Pengetahuan ASI Eksklusif (Y), diperoleh nilai signisikansi sebesar 0,000 < 0,05 dengan koefisien korelasi 0,377. Artinya hipotesis diterima, terdapat hubungan positif yang signifikan antara kualitas komunikasi Ibu-Penyuluh ASI dan tingkat pendidikan ibu terhadap tingkat pengetahuan ASI eksklusif. Kata Kunci: Kualitas Komunikasi, Pendidikan, PengetahuanABSTRACTTitle : Influence The Quality Of Communication Between Mom With BreastMilk Counselor And Mom’s Education Level To The Level OfExclusive Breast Feeding KnowledgeName : Mona RanisatuhuNIM : D2C604150 This research aims to examine the influence of communication quality between mom with breast milk counselor and mom’s education level to the level of exclusive breast feeding knowledge. This research based on the decrease number of exclusive breast feeding in Indonesia. Using the Relationship Enhancement Method, this research explain the relations between communication quality in level of knowledge. Type of research that has been used is Explanatory Research, that aims to explain causal relationship between variables were examinated by testing the hypothesys that have been formulated. The result shows there are positive and significant relationship between communication quality between mom with breast milk counselor and mom’s education level to the level of exclusive breast feeding knowledge. But some respondents declare that they are less active in participating in counseling. According to respondent, the counselor is less friendly, they are rarely smiles and rarely give compliment to moms. Based on that result, this research recommends the counselors to be more friendly and learn about persuasive communications, moms should be more open to counselor, so they can help to solve moms problem. Keywords: Communication Quality, Educations, KnowledgePengaruh Kualitas Komunikasi Ibu-Penyuluh ASI dan TingkatPendidikan Ibu Terhadap Tingkat Pengetahuan ASI EksklusifLatar BelakangPenelitian ini dilatarbelakangi oleh semakin menurunnya angka pemberian ASI Eksklusif yang menyebabkan meningkatnya kasus gizi buruk yang menimpa anak Indonesia. Pemerintah telah mencanangkan Gerakan Nasional Peningkatan Pemberian Air Susu Ibu (PP-ASI) sejak tahun 1990 yang bertujuan untuk membudayakan perilaku menyusui secara eksklusif kepada bayi usia 0 sampai 6 bulan. Program tersebut disosialisasikan kepada masyarakat melalui kegiatan penyuluhan, dengan menempatkan seorang penyuluh ASI di setiap fasilitas kesehatan.Komunikasi yang terjalin antara masyarakat dengan petugas penyuluh asi menjadi faktor penting yang akan menentukan sukses tidaknya program PP ASI. Komunikasi Antar Pribadi merupakan konteks komunikasi yang digunakan dalam kegiatan penyuluhan ASI. Kegiatan penyuluhan selalu menekankan pada komunikasi dua arah antara petugas penyuluh asi dengan masyarakat, sehingga diharapkan informasi yang diperoleh masyarakat lebih detail, mendalam dan jelas. Keterbukaaan, empati, kepositifan, dukungan, dan kesamaan adalah faktor faktor yang harus dimiliki oleh para pelaku komunikasi untuk menumbuhkan kualitas komunikasi yang baik. Dengan kualitas komunikasi yang baik diharapkan mampu mempengaruhi pengetahuan, sikap, pendapat dan perilaku masyarakat yang menjadi sasaran program PP ASI.Meskipun program tersebut telah berjalan selama bertahun tahun namun cakupan angka pemberian ASI Eksklusif masih jauh dari target nasional sebesar 80%. Data RISKESDAS tahun 2010 menunjukkan bahwa cakupan pemberian ASI eksklusif hanya sebesar 27,2%. Masih rendahnya praktek pemberian ASI Eksklusif di Indonesia menunjukkan bahwa bentuk komunikasi yang selama ini dijalankan oleh pemerintah kurang efektif atau gagal.Ibu merupakan figur utama yang menentukan keberhasilan pemberian ASI Eksklusif. Kurangnya pengetahuan ibu akan pentingnya asi menjadi salah satu faktor penghambat terbentuknya kesadaran orang tua dalam memberikan ASI Eksklusif kepada bayinya. Tingkat pendidikan yang dimiliki oleh ibu turut berpengaruh pada kemampuannya untuk memperoleh pengetahuan, yang pada akhirnya akan mempengaruhi keputusan ibu dalam pemberian ASI.Perumusan Masalah Pertanyaan yang ingin diajukan adalah bagaimana pengaruh kualitas komunikasi Ibu dengan Penyuluh ASI dan tingkat pendidikan ibu terhadap tingkat pengetahuan ASI Eksklusif.Tujuan Penelitian Untuk mengkaji adanya pengaruh kualitas komunikasi Ibu dengan Penyuluh ASI dan tingkat pendidikan ibu terhadap tingkat pengetahuan ASI eksklusif.Kerangka TeoriTeori ttg Kualitas KomunikasiKualitas komunikasi antar pribadi diartikan sebagai faktor-faktor yang dapat menumbuhkan hubungan antar pribadi yang baik, sebab hubungan adalah jantung dari komunikasi interpersonal (Littlejohn, 1999: 253). Sebuah komunikasi yang efektif dipengaruhi oleh lima hal yaitu:1. Keterbukaan (openness), keterbukaan menunjukkan adanya sikap untuk saling terbuka di antara pelaku komunikasi dalam melangsungkan komunikasinya.2. Empati (emphaty), yaitu kemampuan seseorang untuk memproyeksikan dirinya dalam peran orang lain.3. Kepositif (positiveness), yaitu sikap positif terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain.4. Dukungan (supportiveness), yaitu sikap pelaku komunikasi yang mendukung terjadinya komunikasi tersebut. Kalau pihak yang diajak berkomunikasi sudah menolak sejak awal, maka komunikasi yang diharapkan tidak akan terjadi.5. Kesamaan (equality), yaitu adanya unsur kesamaan yang dimiliki oleh pihak-pihak yang berkomunikasi. Misalnya adanya kesamaan bahasa dan budaya akan memudahkan terjadinya komunikasi yang efektif ( Rejeki dan Anita, 1999 : 8)Teori yang menjelaskan hubungan antara Kualitas Komunikasi dengan Tingkat Pengetahuan adalah metode yang dikembangkan oleh Arnold P. Goldstein (dalam Rakhmat, 2005: 120) yang disebut sebagai “relationship enchanchment methods” (metode peningkatan hubungan). Ia merumuskan metode ini dengan tiga prinsip : Makin baik hubungan interpersonal, (1) makin terbuka pasien terhadap perasaannya, (2) makin cenderung ia meneliti perasaannya secara mendalam, dan (3) makin cenderung ia mendengar penuh perhatian dan bertindak atas nasehat yang diberikan penolongnya. Dari segi psikologi komunikasi, kita dapat menyatakan bahwa makin baik hubungan interpersonal, maka makin terbuka orang untuk mengungkapkan dirinya, makin cermat persepsinya tentang orang lain dan persepsi dirinya, sehingga makin efektif komunikasi yang berlangsung di antara komunikator. Hal inilah yang diharapkan terjadi antara seorang ibu dengan penyuluh.Teori ttg Tk. PendidikanPendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan, batin, karakter), pikiran (intelek), dan tubuh anak untuk memajukan kehidupan anak didik selaras dng dunianya (ki hajar dewantoro) (Soemanto dan Soetopo, 1982: 9 11)Tingkat pendidikan/jenjang pendidikan adalah tahap pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tingkat kerumitan bahan pengajaran dan cara menyajikan bahan pengajaran (Ihsan, 2005: 22)Teori yang menghubungkan antara Tingkat Pendidikan dengan Tingkat Pengetahuan adalah pendapat dari Liliweri yang menyatakan Kalau seseorang sekolah makin tinggi maka kita anggap mereka mengerti atau sekurang-kurangnya mudah diberikan pengertian mengenai suatu informasi. Sebaliknya kalau seseorang sekolah makin rendah maka kita anggap mereka makin susah diberikan pengertian mengenai suatu informasi (Liliweri, 2007:190-191)HipotesisAntara kualitas komunikasi antara ibu dan penyuluh asi (X1) dan tingkat pendidikan ibu (X2) memiliki hubungan positif terhadap tingkat pengetahuan ASI eksklusif (Y).Definisi Konseptual dan OperasionalKualitas Komunikasi Antara Ibu dan Penyuluh ASIKondisi saat terjadi interaksi antara ibu dan penyuluh asi secara langsung atau tatap muka dan bersifat pribadi yang dapat meningkatkan hubungan antar pribadi.Indikator : Keterbukaan (Openness)- Kesediaan untuk menciptakan komunikasi timbal balik dengan orang lain- Kesediaan untuk mengungkapkan pendapat- Mampu membuka diri dengan jujur Empati (Emphaty)- Memahami dan merasakan apa yang dialami orang lain.- Melakukan pengungkapan diri yang berkaitan dengan peristiwa dan perasaan orang lain Kepositifan (Positiveness)- Adanya suasana yang nyaman ketika berkomunikasi dengan orang lain- Adanya perilaku mendorong, menghargai keberadaan dan kepentingan orang lain Dukungan (Supportiveness)- Mempunyai kemampuan untuk menciptakan situasi yang mendukung sehingga lawan bicara dapat lebih terbuka dan jujur Kesamaan (Equality)- Adanya unsur kesamaan yang dimiliki oleh ibu dan penyuluh asi.Tingkat Pendidikan IbuJenjang pendidikan formal yang berhasil diselesaikan oleh ibu.Indikator : Perguruan Tinggi (D3, S1, S2, S3) Sekolah Menengah Atas (SMA) Sekolah Menengah Pertama (SMP) Sekolah Dasar (SD)Tingkat Pengetahuan ASI EksklusifSejauh mana pemahaman terhadap segala hal yang berkenaan dengan pemberian ASI Eksklusif.Indikator : Mampu menjelaskan tentang ASI eksklusif Mampu menjelaskan manfaat ASI eksklusif Mampu menjelaskan persiapan dan merpertahankan kegiatan menyusui Mampu menjelaskan tata cara laktasiMetodologi PenelitianTipe penelitian yang dipakai adalah eksplanatori, yaitu tipe penelitian yang menjelaskan hubungankausal antara variabel-variabel melalui pengujian hipotesis. Populasi dalam penelitian ini adalahibu hamil dan ibu menyusui yang melakukan pemerikasaan di UPT Puskesmas Srondol. Sampelpenelitian ini sebanyak 50 responden, diambil dengan menggunakan teknik sampel non random.Kuesioner dibagikan kepada responden untuk diisi. Setelah semua data terkumpul kemudiandianalisa sehingga data mempunyai makna untuk menjawab masalah yang diteliti dan bermanfaatuntuk menguji hipotesis. Teknik analisis data yang digunakan adalah Korelasi Kendall Tau ( ).Metode ini digunakan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel atau lebih. Sedangkan untukmengetahui derajat asosiasi antara variabel X1 dan X2 secara bersama sama terhadap Y, digunakanteknik analisa data Koefisien Konkordasi Rank Kendall (W), pengukuran ini dapat bermanfaatdalam mempelajari reliabilitas saling menentukan dan menguji (Siegel, 1997: 292)Hasil PenelitianKualitas KomunkasiTabel 3.17Rekapitulasi Data Variabel Kualitas KomunikasiNo.Kategori JawabanFrekuensiPersentase1.2.3.4.Sangat BaikBaikBurukSangat Buruk102911-20,058,022,0-Jumlah50100Sumber : diolah dari kuesioner no.1-10Dari tabel 3.17 diketahui bahwa kualitas komunikasi ibu-penyuluh asi adalah baik. dengan perolehan 58%. Hanya 22% saja yang menyatakan kualitas komunikasi mereka dengan penyuluh ASI burukTingkat Pendidikan IbuTabel 3.18Persebaran Persentase Responden Berdasarkan Tingkat PendidikanN= 50Kategori JawabanF%Perguruan Tinggi612,0SMA3774,0SMP612,0SD--Total50100,0Dari tabel 3.18 diketahui sebagian besar responden yaitu sebesar 74% memiliki tingkat pendidikan menengah atau SMA.Tk Pengetahuan ASIXTabel 3.24Rekapitulasi Data Variabel Tingkat PengetahuanNo.Kategori JawabanFrekuensiPersentase1.2.3.4.Sangat BaikBaikKurang BaikTidak Baik33143-66,028,06,0-Jumlah50100Dari tabel 3.24 diketahui sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang sangat baik mengenai ASI Eksklusif.Hub. antara Kualitas Kom dgn Tk. PengetahuanTabel 3.25Hubungan Antara Variabel Kualitas Komunikasi (X1)dengan Variabel Tingkat Pengetahuan (Y)Kualitas KomunikasiTingkat PengetahuanJumlahSangat BaikBaikKurang BaikTidak BaikSangatBaik990,0%1(10,0%)--10(100,0%)Baik22(75,9%)7(24,1%)--29(100,0%)Buruk2(18,2%)6(54,5%)3(27,3%)-11(100,0%)SangatBuruk----Jumlah33(66,0%)14(28,0%)3(6,0%)-50(100,0%)Sumber : diolah dari tabel indukTabel 3.25 menunjukkan bahwa responden yang memiliki kualitas komunikasi sangat baik dengan petugas penyuluh ASI memiliki tingkat pengetahuan yang sangat baik, persentasenya sebesar 90%. Responden yang memiliki kualitas komunikasi baik dengan petugas penyuluh ASI juga memiliki tingkat pengetahuan yang sangat baik, persentase sebesar 75,9%. Responden yang memiliki memiliki kualitas komunikasi buruk dengan petugas penyuluh ASI memiliki tingkat pengetahuan yang baik, persentasenya sebesar 54%. Kesimpulan dari tabel silang diatas adalah ada kecenderungan terjadi hubungan antara variabel kualitas komunikasi dengan variabel tingkat pengetahuan. Ketika kualitas komunikasi buruk, tingkat pengetahuan baik. Dan ketika kualitas komunikasi meningkat menjadi baik, maka tingkat pengetahuannya meningkat menjadi sangat baik. Ini menandakan bahwa semakin baik kualitas komunikasi maka semakin baik pula tingkat pengetahuannya.Hub antara Tk. Pendidikan dng Tk. PengetahuanTabel 3.26Hubungan Antara Variabel Tingkat Pendidikan (X1)dengan Variabel Tingkat Pengetahuan (Y)Tingkat PendidikanTingkat PengetahuanJumlahSangatBaikBaikKurangBaikTidakBaikTinggi4(66,7%)2(33,3%)--6(100,0%)Menengah27(73,0%)8(21,6%)2(5,4%)-37(100,0%)Dasar2(28,6%)4(57,1%)1(14,3%)-7(100,0%)Jumlah33(66,0%)14(28,0%)3(6,0%)-50(100,0%)Sumber : diolah dari tabel indukDari tabel silang 3.26 dapat dilihat bahwa responden yang memiliki tingkat pendidikan dasar memiliki tingkat pengetahuan yang baik, persentasenya sebesar 57,1%. responden yang memiliki tingkat pendidikan menengah memiliki tingkat pengetahuan yang sangat baik, persentase sebesar 73,0%. Kesimpulan dari tabel silang adalah ada kecenderungan terjadi hubungan antara variabel tingkat pendidikan dengan variabel tingkat pengetahuan. Ketika tingkat pendidikan dasar, tingkat pengetahuan baik. Dan ketika tingkat pendidikan meningkat menjadi menengah, maka tingkat pengetahuannya meningkat menjadi sangat baik. Ini menandakan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin baik pula tingkat pengetahuannya.Uji Hipotesis dan AnalisisHipotesis IHo : Tidak terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kualitas komunikasi ibu-penyuluh ASI dengan tingkat pengetahuan ASI EksklusifHa : Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kualitas komunikasi ibu-penyuluh ASI dengan tingkat pengetahuan ASI EksklusifTabel 4.1Uji Korelasi Antara Variabel Kualitas Komunikasi Ibu-Penyuluh ASI (X1) dengan Variabel Tingkat Pengetahuan (Y)Correlations Tingkat Pengetahuan Kualitas Komunikasi Kendall's tau_b Tingkat Pengetahuan Correlation Coefficient 1.000 .498** Sig. (2-tailed) . .000 N 50 50Kualitas Komunikasi Correlation Coefficient .498** 1.000 Sig. (2-tailed) .000 . N 50 50 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).Dari tabel 4.1 dapat dilihat bahwa probabilitas kesalahan (Sig.) adalah 0,000 dimana nilai tersebut lebih kecil dari 0,01 (taraf signifikan 99%). Hal ini berarti ada signifikansi antara kualitas komunikasi ibu-penyuluh ASI dengan tingkat pengetahuan ASI Eksklusif sebesar 0,498.(Artinya baik buruknya pengetahuan ASI Eksklusif yang dimiliki oleh ibu dipengaruhi oleh kualitas komunikasi yang terjadi antara ibu dengan petugas penyuluh ASI. Semakin baik kualitas komunikasinya, maka semakin baik pula pengetahuan yang dimiliki.)Hipotesis IIHo : Tidak terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara tingkat pendidikan ibu dengan tingkat pengetahuan ASI EksklusifHa : Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara tingkat pendidikan ibu dengan tingkat pengetahuan ASI EksklusifTabel 4.2Uji Korelasi Antara Variabel Tingkat Pendidikan Ibu (X2)dengan Variabel Tingkat Pengetahuan ASI Eksklusif (Y)Correlations Tingkat Pengetahuan Tingkat Pendidikan Kendall's tau_b Tingkat Pengetahuan Correlation Coefficient 1.000 .397** Sig. (2-tailed) . .003 N 50 50 Tingkat Pendidikan Correlation Coefficient .397** 1.000 Sig. (2-tailed) .003 . N 50 50 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).Dari tabel 4.2 dapat dilihat bahwa probabilitas kesalahan (Sig.) adalah 0,003 dimana nilai tersebut lebih kecil dari 0,01 (taraf signifikan 99%). Hal ini berarti ada signifikansi antara tingkat pendidikan ibu dengan tingkat pengetahuan ASI Eksklusif sebesar 0,397.(Hasil penelitian ini sejalan dengan pendapat Liliweri, bahwa tingkat pendidikan turut pula menentukan mudah tidaknya seseorang menyerap dan memahami informasi yang diperoleh. Semakin tinggi tingkat pendidikan yang dimiliki oleh ibu maka semakin baik pula pengetahuannya.)Dari hasil kedua tabel tersebut dapat diketahui jika hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini terbukti, artinya ada hubungan yang positif dan signifikan antara Kualitas Komunikasi Ibu dengan Penyuluh ASI dan Tingkat Pendidikan Ibu dengan Tingkat Pengetahuan ASI Eksklusif.Derajad Asosiasi antara variabel kualitas komunikasi ibu-penyuluh ASI (X1) dan variabel tingkat pendidikan ibu (X2) secara bersama-sama terhadap variabel tingkat Pengetahuan ASI Eksklusif (Y)Ketentuan alat uji statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah sebagai berikut: Jika probabilitas > 0,05, maka Ho diterima dan Ha ditolak. Jika probabilitas < 0,05, maka Ho ditolak dan Ha diterima.Hipotesis untuk penelitian ini: Ho = variabel bebas tidak berasosiasi. Berarti tidak ada hubungan antara variabel kualitas komunikasi ibu-penyuluh ASI (X1) dan tingkat pendidikan ibu (X2) dengan tingkat Pengetahuan ASI Eksklusif (Y). Ha = variabel bebas berasosiasi. Berarti ada hubungan antara variabel kualitas komunikasi ibu-penyuluh ASI (X1) dan tingkat pendidikan ibu (X2) dengan tingkat Pengetahuan ASI Eksklusif (Y).Tabel 4.3Koefisien Konkordasi Rank Kendall W(a)antara Kualitas Komunikasi Ibu-Penyuluh ASI (X1) dan Tingkat Pendidikan (X2) Ibu dengan Tingkat Pengetahuan ASI Eksklusif (Y)Test Statistics N 50 Kendall's Wa .377 Chi-Square 37.672 df 2 Asymp. Sig. .000 a. Kendall's Coefficient of ConcordanceDari tabel 4.3 dapat dilihat bahwa nilai asymptotic significance adalah 0,000 atau probabilitas dibawah 0,05 ( 0,000 < 0,05). Maka Ho ditolak dan Ha diterima atau dengan kata lain ada signifikansi antara kualitas komunikasi ibu-penyuluh ASI (X1) dan tingkat pendidikan ibu (X2) dengan tingkat Pengetahuan ASI Eksklusif (Y), dengan nilai hubungannya sebesar 0,377.(Artinya bahwa dengan adanya kualitas komunikasi yang baik antara ibu dengan penyuluh ASI serta tingkat pendidikan yang memadai, mampu meningkatkan pengetahuan tentang ASI Eksklusif yang dimiliki oleh ibu.)Kesimpulan1. Terdapat hubungan antara kualitas komunikasi ibu-penyuluh ASI dengan tingkat pengetahuan ibu tentang ASI Eksklusif, dengan nilai hubungan sebesar 0,498 dan probabilitas kesalahan (Sig.) adalah 0,000, dimana nilai tersebut lebih kecil dari 0,01 (taraf signifikansi 99%).2. Terdapat hubungan antara tingkat pendidikan ibu dengan tingkat pengetahuan ASI Eksklusif, dengan nilai hubungan 0,397 dan probabilitas kesalahan (Sig.) adalah 0,000, dimana nilai tersebut lebih kecil dari 0,01 (taraf signifikansi 99%).3. Terdapat kecenderungan hubungan antara kualitas komunikasi ibu-penyuluh ASI (X1) dan tingkat pendidikan ibu (X2) dengan tingkat pengetahuan ibu tentang ASI Eksklusif (Y) dengan nilai hubungan sebesar 0, 377 dan probabilitas kesalahan (Sig.) adalah 0,000, atau probabilitas dibawah 0,05 (0,000 <0,05)Saran1. Petugas penyuluh sebagai seseorang yang berhadapan langsung dengan target penyuluhan ASI Eksklusif perlu dibekali dengan kemampuan dan keterampilan yang baik mengenai pemberian ASI Eksklusif seperti pelatihan tentang teknik komunikasi persuasif dalam penyuluhan, pengetahuan tentang perkembangan terbaru tata cara pemberian ASI yang baik dan benar, serta peningkatan kemampuan bersosialisasi dengan ibu.2. Petugas penyuluh sebaiknya memperlakukan ibu secara sopan, tidak menghakimi kondisi ibu dan bayi, apapun latar belakang yang dimiliki oleh ibu.3. Petugas penyuluh sebaiknya dapat lebih bersikap ramah dengan cara memberikan respon positif terhadap keluhan ibu dan menggunakan respon gerakan tubuh seperti memberikan senyuman kepada ibu. Hal tersebut menunjukkan bahwa petugas penyuluh memberikan perhatian kepada ibu. Sikap ini akan memberikan rasa nyaman dan percaya diri pada ibu.DAFTAR PUSTAKAArikunto, Suharsimi.1990. Manajemen Penelitian.Yogyakarta: Rineka Cipta.Effendy, Onong Uchjana.2000.Ilmu, Teori dan Filsafat.Bandung: Citra Aditya Bakti.Fisher, Aubrey. 1987. Interpersonal Communication (Pragmatic of Human Relationship). New York: Random HouseHafied, Cangara. 2002. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: PT Raja Grafindo PersadaKardjati, Sri, dkk. 1985. Aspek Kesehatan dan Gizi Anak Balita. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.Kottler, Philip, Ned Roberto and Nancy Lee. 2002. Social Marketing Improving the Quality of Life 2nd edition.USA: Sage Publication.Kriyantono, Rachmat. 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Bandung: PT Citra Aditya Bakti.Liliweri, Alo. 2007. Dasar-Dasar Komunikasi Kesehatan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Littlejohn, Stephen W. 1999. Theories of Human Communication Third Edition. New Mexico: Wadsworth Publishing Company.Narbuko, Cholid dan Abu Achmadi. 2005. Metodologi Penelitian. Jakarta: Bumi Aksara.Nasution, Zulkarimen. 2009. Komunikasi Pembangunan.Pengenalan Teori dan Penerapannya Edisi Revisi. Jakarta: Rajawali Press.Notoatmodjo, Soekidjo. 2007. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta: PT Rineka Cipta.Rakhmat, Jalaluddin. 2005. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. Remaja RosdakaryaRejeki, Ninik Sri dan F. Anita Herawati. 1999. Dasar-Dasar Komunikasi Untuk Penyuluhan. Yogyakarta: Universitas Atma Jaya Yogyakarta.Singarimbun, Masri. 1989. Metode Penelitian Survai. Jakarta: LP3ES.Siegel, Sidney. 1997. Statistik Nonparametrik untuk Ilmu-Ilmu Sosial. Jakarta: Salemba Empat.Soemirat, Soleh. 2000. Komunikasi Persuasif. Jakarta: Penerbit Universitas Terbuka.Sugiyono. 2007. Statistika untuk Penelitian. Bandung: CV Alfabeta.Suparno, Paul. 2006. Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius.Supratiknya, A. 1995. Tinjauan Psikologis Komunikasi Antarpribadi. Yogyakarta: Kanisius.Tubs, Stewart L & Moss, Sylvia. 1996. Human Communication. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.Literatur non buku :Laporan Pencapaian Pembangunan Millenium Indonesia. 2001. Jakarta: Bappenas.Pelatihan Konseling Menyusui. 2011. WHO dan UNICEFPeraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2012Petunjuk Pelaksanaan Peningkatan ASI Eksklusif Bagi Petugas Puskesmas. 1997. Jakarta: Departemen Kesehatan.Program Gizi Kota Semarang 2010. 2010. Semarang: Dinas Kesehatan Kota Semarang.Rencana Tingkat Puskesmas (RTP) Puskesmas Srondol. 2012. Semarang: Puskesmas SrondolSkripsi:Bayu, FX. 2007. Pengaruh Kualitas Komunikasi Antar Pribadi Pasangan Suami Istri Terhadap Kepuasan Perkawinan Dalam Rumah Tangga Di Perumahan Duta Bukit Mas Banyumanik Semarang. Semarang: Universitas DiponegoroNugroho, Suko D. 2010. Hubungan Antara Kualitas Komunikasi Terapetik Perawat Dengan Tingkat Kepuasan Pasien Pada Layanan Rawat Inap Di Rumah Sakit Panti Wilasa “CITARUM” Semarang. Semarang: Universitas DiponegoroArifin, Moh. Syamsul. 2007. Hubungan Intensitas Membaca Berita Narkoba Di Media Cetak Dan Kualitas Komunikasi Interpersonal Antara Orang Tua Dengan Remaja Terhadap Pemahaman Bahaya Narkoba. Semarang: Universitas DiponegoroInternet:http://health.detik.com/read/2011/12/13/120045/1789796/764/kisah-legendaris-bayi-yang-diberi-asi-dan-tidak di akses pada tanggal 15 Februari 2012 jam 5.05http://health.kompas.com/read/2012/03/17/11014083/ASI.Eksklusif.Wajib di akses pada tanggal 12 Februari 2012 jam 18.35http://www.ppid.depkes.go.id/index.php?option=com_docman&task=doc_download&gid=20&Itemid=53 di akses pada tanggal 14 Februari 2012 jam 13.51
Memahami pengalaman komunikasi remaja broken home dengan lingkungannya dalam membentuk konsep diri Fitriana, Rika
Interaksi Online Vol 1, No 1: Januari 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Remaja adalah suatu usia dimana individu tumbuh mencapai kematangan mental, emosional, sosial dan fisik, termasuk cara berpikir dan tentu saja masih bersifat labil. Hal ini semakin terlihat pada remaja dengan latar belakang broken home. Di dalam masa remaja ini terjadi pembentukan konsep diri. Pembentukan konsep diri ini adalah proses pembentukan diri remaja, suatu proses yang alamiah, yang seharusnya terjadi. Konsep diri dalam seorang remaja dipengaruhi oleh teman sebaya dimana remaja tersebut bergabung, karena sebagian besar masa remaja dihabiskan bersama teman sebaya. Disinilah akan terlihat, remaja broken home akan terjerumus ke arah negatif atau berhasil mengendalikan dirinya ke arah positif. Tujuan penelitian ini adalah memahami pengalaman komunikasi remaja broken home dengan lingkungannya dalam membentuk konsep diri. Teori yang digunakan adalah teori sikap oleh Riger, teori tingkah laku-belajar sosial oleh John W.Santrock, konsep diri oleh William D.Brooks, teori kelompok oleh Michael Burgoon. Untuk mendiskripsikan secara detail pengalaman komunikasi remaja broken home, penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Subyek dalam penelitian ini adalah remaja dengan latar belakang keluarga broken home. Berdasarkan hasil penelitian, remaja laki-laki dibawah pengawasan seorang ayah sebagai single parent menimbulkan dampak ketidakmampuan dalam mengontrol emosinya dari pengaruh-pengaruh sosial. Remaja laki-laki lebih mudah emosional dalam menyikapi masalah, sehingga mengabaikan jalur yang sesuai dengan nilai-nilai kepatuhan di dalam keluarga yang berakibat terjerumus pada pergaulan yang cenderung negatif. Hal ini dipengaruhi oleh minimnya peran orang tua untuk mengontrol, teman sebaya atau kelompok rujukan yang berperilaku negatif dan konsep diri negatif pada remaja. Sedangkan remaja perempuan dibawah pengasuhan seorang ibu sebagai single parent dapat mengontrol emosinya dari pengaruh-pengaruh sosial. Remaja perempuan mampu mengontrol sikap di jalur yang sesuai dengan nilai-nilai kepatuhan yang ada di keluarga dan pergaulan dengan teman-temannya. Hal ini dipengaruhi oleh peran orang tua yang dilakukan secara maksimal, teman sebaya atau kelompok rujukan yang berperilaku positif dan konsep diri positif pada remaja.       Kata kunci : remaja broken home, teman sebaya, konsep diri, teori sikap, fenomenologi
MEMAHAMI KOMUNIKASI ANTARPRIBADI ORANG TUA DENGAN ANAK AUTIS DALAM MEMBERIKAN PENDIDIKAN SEKSUAL PADA MASA PUBER Della Novika Ayu
Interaksi Online Vol 1, No 1: Januari 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.955 KB)

Abstract

Autisme merupakan salah satu gangguan perkembangan yang meliputi ketidakmampuan dalam membangun hubungan sosial, ketidaknormalan dalam berkomunikasi, dan pola perilaku yang terbatas. Dalam perkembangannya, anak autis juga melewati masa remaja dan mengalami masa pubertas yang mengakibatkan timbulnya perilaku negatif pada anak autis. Pendidikan seksual adalah salah satu hal yang paling penting diberikan pada masa puber. Namun keterbatasan anak autis dalam berkomunikasi dan menginterpretasikan makna menjadi hambatan bagi orang tua dalam memberikan pendidikan seksual. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran bagaimana proses komunikasi antarpribadi orang tua dengan anak autis dalam memberikan pendidikan seksual pada masa puber. Teori yang digunakan adalah teori Interaksionisme Simbolik (Ralph Larosaa dan Donald C. Reitzes, 1993), Teori Efektivitas Komunikasi Antar Pribadi (DeVito, 1997), dan Teori Komunikasi Asertif (Devito, 2001). Penelitian ini menggunakan tipe deskriptif dengan pendekatan metode studi kasus. Subjek dalam penelitian ini adalah satu orang terapis dan dua orang tua yang memiliki anak autis yang sedang memasuki masa puber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi antarpribadi dalam memberikan pendidikan seksual antara orang tua dan anak autis terjalin dengan baik, ditandai dengan komunikasi asertif yang dilakukan orang tua. dan gaya pengasuhan authoritative yang diterapkan orang tua kepada anak autis. Dalam hal memberikan pendidikan seksual hanya orang tua yang dituntut untuk melihat lawan bicara (anak autis) sebagai pribadi yang unik. Sebaliknya, sulit mengharapkan anak autis untuk melakukan hal yang sama. Hal ini dikarenakan anak autis berada pada area self blind dimana ia tidak mampu memahami perubahan yang terjadi pada dirinya selama masa puber. Orang tua yang memiliki inisiatif lebih dahulu untuk memberi pendidikan seksual dan mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang masa puber anak autis kepada anak akan lebih siap dalam menghadapi tingkah laku anak autis pada masa puber. Proses komunikasi antarpribadi orang tua dengan anak autis dalam memberikan pendidikan seksual tidak selalu berjalan lancar. Komunikasi antarpribadi yang efektif tidak selalu terjadi hal ini dikarenakan anak autis tidak memiliki keterbukaan, empati, sikap mendukung, sikap positif, kesetaraan, percaya diri, kedekatan (immediacy), manajemen interaksi, daya ekspresi, berorientasi kepada pihak lain yang menjadi indikator terjadinya komunikasi efektif antara orang tua dengan anak autis. Kata kunci : Autisme, Puber, Komunikasi Antar Pribadi, Komunikasi Asertif
Belajar Dari Iklan, Mengabarkan Budaya Jawa Kepada Dunia Yanuar Rizky Handini
Interaksi Online Vol 1, No 1: Januari 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketertarikan penulis untuk meneliti iklan menjadi dasar penelitian ini. Salah satu alat promosi secaramassal ini menjadi bab yang tidak habis dibahas karena efeknya sebagai media massa tidak hanyamengarahkan pembelian, tetapi juga mempunyai efek subliminal yang menggiring audience kepadaperilaku – perilaku baru yang tidak terduga sebelumnya. Salah satunya penulis bahas dalam iklan yangmenggunakan tema budaya dalam Iklan Djarum 76 Versi Jin Jawa. Penggunaan komunitas atau budayadalam iklan untuk menarik target audiens tertentu memang akan sangat efektif, apalagi memang targetaudiens dan jangkauan pemasaran dari Djarum 76 adalah Jawa Tengah, Jawa Timur dan sebagian JawaBarat. Namun tanpa disadari iklan Djarum 76 versi Jin Jawa telah menggores nilai-nilai kesukuan yangsebenarnya, dimana secara tidak langsung mencerminkan jatidiri masyarakat Jawa yang sudah mulaiberubah.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh antara tingkat kreativitas isi pesaniklan terhadap persepsi jatidiri masyarakat Jawa, untuk mengetahui pengaruh daya tarik humor dalamiklan Djarum 76 terhadap persepsi jatidiri masyarakat Jawa. Selain itu, juga mejelaskan pengaruhkeduanya yakni tingkat kreativitas isi pesan iklan dan daya tarik humor iklan terhadap persepsi jatidirimasyakat Jawa.Upaya menjawab permasalahan dan tujuan penelitian tersebut dilakukan dengan menggunakanteori belajar sosial dari Albert Bandura yang merupakan salah satu varian dari efek media massa dalamparadigma positifistik dengan tipe penelitian eksplanatori. Sampel yang diambil melalui accidentalsampling yakni masyarakat Semarang yang mendapat terpaan iklan Djarum 76 versi jin Jawa. Dengananalis data menggunakan Analisis Regresi Linear Berganda dan Korelasi Product Moment.Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh yang positif dan signifikan antara tingkatkreativitas isi pesan iklan dan daya tarik humor iklan terhadap persepsi jatidiri masyarakat Jawa sebesar35,5 %.Disarankan dengan persentase dampak yang ditimbulkan, maka para kreatif iklan harus lebihbijak dalam mengasumsi realitas yang akan ditampilkan dalam media massa. Masyarakat sebagaipenjaga identitasnya sendiri juga diharapkan lebih peduli, atau bahkan harus mampu memanfaatkankemajuan teknologi sebagai batu loncatan mempromosikan budayanya. Bahwa apa yang dihasilkankreatif iklan mampu membuat masyarakat belajar, membentuk sikap, persepsi dan akhirnya menirunya.Keywords: teori belajar sosial, kreativitas iklan, budaya Jawa
OUTCOMES DARI HUBUNGAN JANGKA PANJANG ANTARA HUMAS UNIVERSITAS DAN MEDIA DI SEMARANG Malta Nur Doa
Interaksi Online Vol 1, No 1: Januari 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.529 KB)

Abstract

Humas universitas telah melakukan evaluasi kesuksesan dan kegagalan merekaberdasarkan pada outputs seperti jumlah siaran pers yang dibuat, jumlah beritayang dimuat di media, panjang kolom yang dipublikasikan sebagai cerita. Belumpernah dilakukan sebelumnya penelitian tentang outcomes, walaupun pentinguntuk tetap mempertahankan pengukuran outputs, lebih penting untuk mengukuroutcomes dan kualitas hubungan organisasi dan publik kuncinya.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur outcomes hubungan jangkapanjang humas universitas dan media di Semarang.Upaya menjawab permasalahan dan tujuan penelitian dilakukan denganmenggunakan pendekatan komunikasi antar pribadi yang diuraikan dalam 4variabel yakni kepercayaan, komitmen, kendali bersama dan kepuasan. Metodepenelitian yang digunakan adalah metode campuran kuantitatif dan kualitatif.Penelitian kuantitatif dilakukan pada seluruh populasi media di Semarang.Penelitian kualitatif dilakukan pada enam humas universitas yakni Undip, Unnes,Unika, Unissula, Udinus dan USM.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa humas universitas negerimemperoleh persepsi media yang lebih baik daripada humas universitas swasta.Persepsi media tentang kepercayaan, komitmen, kendali bersama dan kepuasaanadalah berdasarkan perilaku humas universitas dalam melakukan kegiatan mediarelations. Perbedaan persepsi ditemukan antara persespsi humas universitas danmedia. Perbedaan ini menyangkut persepsi tentang bagaimana humas universitasmemposisikan peran dan apa yang telah mereka lakukan dalam media relationsdan bagaimana persepsi media tentang hal tersebut. Perbedaan ini menemukan adabeberapa humas universitas yang menilai mereka telah berperan dan melakukantugasnya dalam media relations dengan baik, namun media mempersepsikanburuk. Sebaliknya, ada beberapa humas universitas yang menilai mereka belumberperan dan melakukan tugasnya dalam media relations dengan baik, namunmedia mempersepsikan mereka telah melakukan dengan baikDisarankan humas universitas menggunakan pengukuran outcomes dalamevaluasi kegiatan humas mereka. Humas universitas negeri diminta untukmempertahankan kuantitatas dan kualitas persepsi media. Humas universitasswasta diminta untuk menambah jumlah publik media untuk kegiatan mediarelations dan merubah persepsi mereka tentang manajemen media relations yangideal.Key Words: hubungan masyarakat, media relations, mixed methodology,outcomes.
DIVISI PROGRAM DIRECTOR DALAM EVENT GERYMAGINATION Strategi Peningkatan Awareness Produk Gery Pasta dan Gery Meses Kukuh Asmara Sejati
Interaksi Online Vol 1, No 1: Januari 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.057 KB)

Abstract

Penyelenggaraan event merupakan suatu alat dalam komunikasi pemasaran yang mulai dilirikoleh perusahaan-perusahaan dalam melakukan promosi atau produk barang atau jasa mereka.Penyelenggaraan event dapat dilakukan oleh perusahaan itu sendiri maupun dalam bentuk kerjasamasponsorship. Penyelenggaraan event memiliki pengaruh besar karena keterlibatan target audience didalamnya. Keunggulan dari penggunaan alat komunikasi pemasaran melalui penyelenggaraan eventdapat berinteraksi langsung dengan target audience, memperkenalkan citra perusahaan denganproduknya secara langsung, menciptakan pengalaman (experience) dari event yang dilaksanakandengan melibatkan mood dan emosi target audience, dapat digunakan sebagai sarana kegiatan CSRperusahaan, konsumen yang hadir di sebuah event dapat mendorong penyebaran aktifitas Word ofMouth kepada orang yang ada di sekitarnya, serta event menjadi sarana edukasi tentang produk kemasyarakat. Event Gerymagination merupakan event yang bekerjasama dengan PT Garuda Food.Kegiatan event ini dirancang untuk mengatasi permasalahan awareness yang kurang pada produkGery Pasta dan Gery Meses. Event ini melibatkan sponsor, dimana timbal balik yang diperolehsponsor adalah meningkatkan brand awareness dan merangsang penjualan melalui direct selling.Event ini dilakukan di 10 Sekolah Dasar di wilayah Semarang yang dilaksanakan dalam waktu yangbersamaan. Target audience yang disasar adalah anak-anak dan acara yang disajikan dalam eventbertema “imajinasi”.Masa anak-anak merupakan masa dimana mereka suka berimajinasi. Imajinasi secara umum,adalah kekuatan atau proses menghasilkan citra mental dan ide. Dalam berimajinasi, diperlukanrangsangan sebagai modalnya. Kenyataan di sekitar kita adalah perangsang yang baik bagi tumbuhnyaimajinasi. Berimajinasi adalah kemampuan melihat realita dengan cara yang berbeda. Semakin hebatkemampuan melihat dengan cara berbeda dan mengaitkan berbagai hal yang dilihat, semakin geniuspula orangnya. Imajinasi membuat kenyataan jadi seperti berbicara. Imajinasi hebat dalam membuatkonsep di pikiran kita (kreatif), sekaligus membuat kita pandai dalam mengekspresikannya(komunikatif). Event Gerymagination dikemas dalam beberapa rangkaian kegiatan untuk merangsanganak-anak untuk menuangkan imajinasinya dalam acara Lomba Mewarnai dan MenggambarTerpanjang, Lomba Foto, Penampilan Ekstrakurikuler dan Games. Rangkaian acara tersebut salingberkolaborasi satu dengan lainnya sehingga pesan-pesan informative dapat tersampaikan dengan baik,memberikan pengalaman kepada anak-anak sekaligus menancapkan merk Gery Pasta dan Gery Mesesdibenak target audience. Di dalam persiapan dan pelaksanaan event, Program Director bertanggungjawab atas kelancaran dan kesuksesan event.
Kompetensi Komunikasi Keluarga Jawa Dalam Penggunaan Bahasa Jawa Sebagai Bahasa Sehari-Hari Rabiatul Adawiyah
Interaksi Online Vol 1, No 1: Januari 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berkurangnya penutur bahasa daerah, khususnya bahasa Jawa yang salah satunya dipengaruhi oleh hadirnya budaya modern dengan bahasa nasional, membuat banyak keluarga Jawa sedikit demi sedikit meninggalkan budaya dan bahasa Jawa. Esksistensi bahasa Jawa ini tentu tidak terlepas dari peran keluarga Jawa dalam menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa komunikasi keluarga sehari-hari, karena komunikasi di dalam keluarga merupakan awal dari pembentukan jati diri seseorang. Kompetensi komunikasi keluarga dalam menggunakan bahasa Jawa ini terkait dengan interaksi keluarga sehari-hari. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan etnografi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami kompetensi komunikasi keluarga Jawa dalam penggunaan bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari. Sehingga akan diperoleh pemahaman mengenai ada atau tidaknya kompetensi dalam sebuah keluarga Jawa dalam menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari. Penelitian ini menggunakan asumsi dasar Teori Kompetensi Komunikasi (Spitzberg, 2004) dan didasarkan pada paradigma interpretif serta pendekatan etnografi komunikasi yang mencoba mengungkapkan realita dengan memahami  cara hidup orang lain dalam suatu budaya melalui penggunaan bahasa komunikasi sehari-hari. Hasil penelitian ini menemukan bahwa latar belakang orang tua yang mendalami budaya dan tingkatan bahasa Jawa tidak menjadi pendorong orang tua dalam mengajarkannya kepada anak-anak. Interaksi keluarga yang terjalin dalam keluarga akan membentuk diri pada seorang anak. Anak akan melihat lingkungan yang terdekat dengannya, yaitu keluarga sebagai patokan yang akan diterapkan pada dirinya. Kompetensi komunikasi keluarga Jawa banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor, yaitu dari segi motivasi, pengetahuan dan keterampilan. Orang tua cenderung lebih termotivasi faktor dari luar, yaitu perkembangan jaman yang modern dan tidak lagi menggunakan budaya serta bahasa Jawa sehingga anak mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan menggunakan tingkatan bahasa Jawa. Lain halnya dengan orang tua yang ingin memberikan identitas sebagai orang Jawa kepada anaknya, orang tua mengajarkan tingkatan bahasa Jawa kepada anak. Hal tersebut memudahkan anak dalam berkomunikasi dengan menggunakan tingkatan bahasa Jawa dengan siapa saja. Dalam keluarga yang tidak mengajarkan serta tidak menerapkan bahasa Jawa, tidak nampak usaha-usaha tertentu dari orang tua untuk menjaga eksistensi budaya dan bahasa Jawa.   Keyword: Kompetensi komunikasi, Komunikasi keluarga Jawa, Bahasa Jawa
ANALISIS FRAMING TERHADAP PEMBERITAAN KASUS KPK VS POLRI KEDUA DALAM MAJALAH TEMPO Putri Valentine
Interaksi Online Vol 1, No 1: Januari 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui frame yang dibentuk olehMajalah Tempo mengenai kasus dugaan korupsi simulator SIM yang melibatkandua institusi negara yaitu KPK dan POLRI. Tipe penelitian ini bersifat deskriptifdengan pendekatan analisis framing yang dikembangkan oleh Zhongdang Pan &Gerald M. Kosicki. Perangkat framing berupa sintaksis, skrip, tematik, dan retorisdigunakan untuk melihat kecenderungan Majalah Tempo dalammengkonstruksikan peristiwa ini. Pamela J. Shoemaker dan Stephen D. Ressemengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan redaksi untukmenghasilkan berita ke dalam level individual, level rutinitas media (mediaruotine), level organisasi dan level ekstramedia (Sudibyo, 2001:7-12)Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar lead yang digunakanoleh Tempo merupakan lead yang merujuk pada kutipan yang mengemukakanunsur who sebagai pandangan awal dalam membentuk body berita. MajalahTempo mencoba mengarahkan khalayak untuk memandang bahwa KPK sebagailembaga anti korupsi yang dibentuk UU maka KPK berhak melakukan hal yangdirasa perlu untuk dilakukan dalam pemberantasan dugaan korupsi sekalipundilakukan oleh penegak hukum lainnnya yaitu polisi. Sehingga disimpulkanbahwa KPK perlu untuk menyelidiki agar tidak terjadi konflik kepentinganmengingat jika yang memeriksa anggota polisi adalah insitusinya dikhawatirkantidak berjalan secara fair. Salah satu bentuk sikap. Tempo terhadap peristiwa inidituangkan dalam pemberitaan dengan menggunakan elemen yang berkaitandengan substansi peristiwa dan lebih menonjolkan sisi kontroversinya. Tujuannyaadalah untuk mendapatkan fakta yang sebenarnya dari suatu persitiwa. Strategilain yang dilakukan oleh Tempo dalam pemberitaan mengarah kepada pemecahanmasalah. Apabila menemui suatu permasalahan yang belum jelas, Tempomengarahkan isu ke permasalahan yang sudah lebih jelas, misalnya yang sudahjelas bersalah dalam peristiwa ini adalah Djoko Susilo. Dalam strukturpenulisannya, Tempo masih belum berani mengkritik secara tajam, masih dalamwilayah abu-abu dalam menentukan sikap mengenai dugaan kasus korupsipengadaan simulator SIM yang melibatkan dua institusi besar negara, KPK danPOLRI.Kata kunci: konstruksi, framing, dan media massa. 
STUDI PENGALAMAN NEGOSIASI IDENTITAS ANTARA ANAK YANG MELAKUKAN PERPINDAHAN AGAMA KEPADA ORANG TUANYA Devinta Hasni
Interaksi Online Vol 1, No 1: Januari 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (90.8 KB)

Abstract

Memilih dan memeluk agama adalah hak asasi yang dilindungi undang-undang diIndonesia. Adanya fenomena menarik mengenai hal tersebut adalah fenomena pindah agama.Tetapi, pindah agama tetap menjadi fenomena yang mengejutkan, terutama di Indonesia.Tidak selalu terjadi pada individu yang melakukannya, bisa jadi terjadi pada keluarga, pihaklain yang bersangkutan, atau bahkan orang-orang disekitar lingkungan. Hal tersebut tentu sajamembutuhkan negosiasi identitas, dimana seseorang memiliki motivasi untuk menyampaikanharapan terhadap identitas yang yang mereka inginkan untuk dihargai oleh pihak lain.Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatanfenomenologi. Penelitian ini melibatkan pasangan orang tua dengan anak yang melakukanperpindahan keyakinan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengalaman negosiasiidentitas antara anak yang melakukan perpindahan agama kepada orang tuanya. Pendekatanteori dalam penelitian ini adalah Teori Pola Asuh Orang Tua (Le Poire, 2006) dan TeoriNegosiasi Identitas (Gudykunst, 2005). Melalui pendekatan fenomenologi dalam metodekualitatif, peneliti menggunakan indepth interview sebagai teknik pengumpulan data.Negosiasi identitas adalah proses interaksi transaksional yang berusahamenyampaikan, menegaskan, mempertahankan, mendukung atau mempertahankan citra diriyang diinginkan pihak-pihak yang terkait. Latar belakang masing-masing keluarga yangberbeda tentu saja menghasilkan pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan komunikasi yangberbeda-beda. Dalam penelitian ini didapatkan bahwa ketaatan dalam beragama serta variasipribadi dan situasional anggota keluarga merupakan faktor yang paling berpengaruh dalamproses negosiasi identitas yang dilakukan. Pola asuh dalam keluarga juga mempengaruhinegosiasi identitas. Pola asuh yang mendukung terjadinya negosiasi identitas yang kompetenadalah pola asuh permisif dan otoritatif. Negosiasi identitas antara anak yang melakukanperpindahan agama dengan orang tuanya dapat dikatakan kompeten jika mampu melakukaninteraksi dengan pengetahuan, keterampilan dan kemampuan interaksi yang baik danmelakukannya secara tepat dan efektif. Memiliki motivasi untuk terus-menerus berusahadapat dikatakan mencapai hasil yang memuaskan jika kedua belah pihak dapat salingmengerti, menghormati dan menghargai. Perasaan tersebut dapat ditunjukkan dengantindakan nyata seperti saling menghormati kegiatan agama satu sama lain dan tetap menjagahubungan yang baik dengan keluarga.Kata kunci : Agama, Pindah Agama, Negosiasi Identitas, Pola Asuh
DIVISI PROGRAM DALAM “FORCHIBY! (FORCITA FOR CHILD BEING YOUTH!)” (Strategi peningkatan Awareness Forum Cinta Anak Kota Magelang). Diva Hera Saputri Hera Saputri
Interaksi Online Vol 1, No 1: Januari 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.969 KB)

Abstract

1. PENDAHULUANAnak merupakan aset yang sangat penting, generasi penerus masa depan bangsa,penentu kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang akan menjadi pilarutama pembangunan nasional, sehingga perlu mendapat perlindungan danperhatian sungguh– sungguh dari semua elemen masyarakat.Sesuai dengan KHAdan UU 23 tahun 2002, anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun,termasuk anak yang masih dalam kandungan.Salah satu upaya pemerintah dalam mengatasi berbagai masalah sosialyang melibatkan dan membawa dampak bagi anak adalah dikeluarkannyakebijakan pemerintah mengenai kabupaten dan kota layak anak. KebijakanKabupaten/Kota layak anak bertujuan untuk mengintegrasikan sumberdayapembangunan dalam upaya pemenuhan hak-hak anak.Kota Layak Anak (KLA) adalah sistem pembangunan suatu wilayahadministrasi yang mengintegrasikan komitmen dan sumber daya pemerintah,masyarakat dan dunia usaha dalam rangka memenuhi hak anak yang terencanasecara menyeluruh dan berkelanjutan dalam kebijakan, program dan kegiatanuntuk pemenuhan hak-hak anak melalui Pengarusutamaan Hak Anak (PUHA).Demi mendukung kebijakan KLA tersebut, maka pada tanggal 8September 2010 dibentuklah Forcita (Forum Cinta Anak) sebagai salah satuwadah/organisasi memiliki misi untuk mendorong kebijakan untuk memenuhihak-hak anak, mendorong terbangunnya ruang peran anak di kota Magelang, sertamembangun pertisipasi masyarakat dalam keberpihakan pada hak-hak anak.Forcita memfokuskan diri pada berbagai penanganan permasalahan anak.Bidang-bidang kerja yang sudah tersusun antara masalah pemenuhan hak dankesehatan anak, pemenuhan hak pendidikan anak, penanganan masalah sosialanak, infrastruktur layak anak, serta advokasi dan perlindungan & konseling.Forcita merupakan organisasi yang terbilang muda di kota Magelangkarena baru berdiri selama 2 tahun. Organisasi ini masih memiliki awarenessyang rendah dan kegiatan yang dilakukan juga masih sedikit. Orang- orang yangberada di lingkungan sekitar Forcita, khusunya Magelang, belum memilikipengetahuan atau belum pernah mendengar sama sekali tentang Forum CintaAnak.2. METODE PEMILIHAN KEGIATANUntuk mengetahui kondisi dan situasi dari Forum Cinta Anak di lingkungan KotaMagelang, tim telah melakukan survey kepada 30 siswa- siswi Sekolah MenengahPertama Negeri di 5 sekolah yang berbeda, yaitu SMP N 11 Magelang, SMP N 5Magelang, SMP N 8 Magelang, SMP N 13 Magelang, dan SMP N 10 Magelang.Sampling yang digunakan adalah dengan accidental sampling dengan hasilsebagai berikut :Awareness siswa siswi sekolah menengah pertama terhadap ForcitaSiswa siswi sekolah menengah pertama memiliki awareness yang rendah terhadapForcita, karena hanya 3% dari siswa siswi tersebut yang pernah mendengartentang Forcita.Media yang paling sering diakses oleh siswa siswi sekolah menengah pertamadi Kota MagelangMedia internet merupakan media yang paling banyak diakses oleh siswa siswisekolah menengah pertama, kemudian adalah televisi.Media internet yang banyakmereka akses adalah situs jejaring sosial facebook.com. Media ini mereka aksesuntuk bisa berbagi dengan teman- teman terdekat mereka, nantinya media inilahyang akan menjadi pertimbangan untuk melakukan pendekatan dengan targetaudiences.MasalahBerdasarkan data yang telah diperoleh, diketahui bahwa sebagian besarsiswa- siswi Sekolah Menengah Pertama yang masuk dalam target sasaran Forcitabelum mengetahui keberadaan organisasi ini. Hal inilah yang kemudian akanmenggangu keberlangsungan organisasi dalam menjalankan fungsinya.TujuanUntuk meningkatkan Awareness di kalangan siswa siswi SekolahMenengah Pertama Negeri di Kota Magelang terhadap Forcita dari 3 % menjadi60%.RekomendasiBerdasarkan pada riset awal, dimana permasalahan yang dialami olehklien adalah awareness, atau belum diketahuinya keberadaan klien di kalangansiswa- siswi sekolah menengah pertama, maka perlu dibuat kegiatan yang dapatmempertemukan klien dengan target audiences yang sesuai dengan minat daritarget audinces.Event merupakan tools yang akan digunakan untuk melakukan pendekatanini, karena event dapat mempertemukan kedua belah pihak secara langsung, dandapat melibatkan banyak orang sekaligus, serta nantinya siswa- siswi akanmendapatkan pengalaman secara langsung mengikuti kegiatan yangdiselenggarkan Forcita.Oleh karena itu, dibuatlah event “Forchiby! (Forcita for Child BeingYouth!)” yang mengajak mereka untuk mengisi hari libur mereka, denganbermain bersama di alam terbuka, dan tetap mengingatkan mereka untuk menjagalingkungan sekitar mereka. Selain itu bersamaan dengan event ini akandiselenggarakan facebook photo contest yang akan digunakan sebagai mediauntuk bertukar informasi kepada target audiences.3. PEMBAHASANDalam mencapai tujuan yang diharapkan, maka dibuatlah serangkaian kegiatanIMC dengan kegiatan utamanya adalah event Forchiby! Dan juga media relations.Berikut ini adalah kegiatan yang telah dilaksanakan :1. Sosialisasi Berlangsungnya Acara. Sosialisasi dilaksanakan di 5 SMP di Kota Magelang. Sosialisasi adalah kerja sama dengan pihak sekolah untuk memberikanwaktu masuk ke kelas dan membagikan flyer serta menempelkan posterpada majalah dinding. Memulai pendaftaran dan pengambilan tiket “Forchiby! (Forcita for Childbeing youth)!” yang dititipkan pada guru konseling sekolah tersebut.2. Facebook Photocontest Merupakan lomba foto dengan tema “Me and My Best Friends”. Foto berupa kebiasaan mereka dengan sahabat mereka. Foto kemudian di upload pada “dinding” facebook Forcita. Pemenang adalah yang mendapatkan tanda “like” terbanyak. Tiga foto dengan “like” terbanyak akan mendapatkan hadiah dari panitia. Pengumuman pemenang adalah saat event “For Chiby! (Forcita for Childbeing youth)!”3. “For Chiby! (Forcita for Child being youth)! Forest Walk” Dilaksanakan di bukit Tidar Kota Magelang. Peserta berjalan menyusuri hutan sepanjang rute yang di tentukan, yaitudari bawah hingga puncak bukit Tidar. Selama perjalanan peserta diajak untuk membersihkan sampah yangberserakan dan sesekali beristirahat serta bermain games. Di puncak bukit tidar peserta beristirahat sembari diberikan informasimengenai apa itu forcita, dan untuk apa forcita. Dibagikan hadiah undian untuk peserta yang beruntung.Tempat dan WaktuAdapun sekolah yang dipilih adalah 5 sekolah negeri di Kota Magelang, yaitu :1. Sekolah Menengah Pertama Negeri 5 Kota Magelang2. Sekolah Menengah Pertama Negeri 8 Kota Magelang3. Sekolah Menengah Pertama Negeri 11 Kota Magelang4. Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Kota MagelangTempat yang akan dipilih sebagai lokasi pelaksanaan event adalah PuncakBukit Tidar. Berikut detail tempat dan waktu pelaksanaan event:1. Nama Acara : “Forchiby! (Forcita for Child being youth)!”2. Tempat : Bukit Tidar Kota Magelang3. Hari / Tanggal : Minggu, 25 November 20124. Waktu : 07.00- 12.00 WIB4. HASILDari proses perencanaan hingga pelaksanaan dapat dikatakan bahwa eventForchiby! (Forcita for Child Being Youth!)dapat dikatakan berjalan dengan baiksesuai dengan rencana kegiatan sebelumnya. Hal ini dapat terlihat dari : Acara tetap berlangsung sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Acara berjalan sesuai dengan rundown yang telah ditentukan sebelumnya. Koordinasi yang baik antara program dan Forcita, sehingga klien bersediamembiayai kegiatan. Pembiayaan tidak membengkak, bahkan dapat diminimalisir dengan baik. Terjalinnya komunikasi yang baik dengan pihak media, sehingga terdapatmedia yang datang untuk meliput kegiatan yang dilaksanakan. Perijinan ke sekolah dan instansi dapat diterima dengan baik dan disetujuioleh sebagian besar instansi. Tambahan personel untuk tim dapat terpenuhi dengan baik.Namun terdapat pula beberapa hambatan atau kendala yang dilalui olehpenulis selama melaksanakan kegiatan ini, sehingga tidak sesuai dengan encanaawal, yaitu : Perijinan ke SMP N 13 Kota Magelang yang tidak dapat ditindaklanjutikarena surat dan proposal yang diberikan kepada bagian tata usaha hilangsebelum sampai kepada kepala sekolah. Pihak SMP N 13 juga kemudiandipertimbangkan untuk digantikan sekolah lain, yaitu SMP N 3 KotaMagelang karena sering berselisih dengan SMP N 11 yang juga menjaditarget dari acara. Perijinan ke SMP 10 Kota Magelang tidak dapat diteruskan karena kepalasekolah yang pada awalnya mengijinkan, tiba- itba meminta suratpertanggungjawaban atas nama Forcita yang ditandatangani oleh ketuaForcita diatas materai 6000 pada H-2 yang tidak dapat diberikan oleh tim.Oleh karena waktu yang mendesak, maka penulis memutuskan untukmengganti SMP 10 dengan SMP N 11 yang mengirimkan 2 kontingenuntuk mengikuti kegiatan Forest Walk yang kemudian disanggupi olehpihak sekolah.5. KESIMPULANTerpenuhinya target peserta dan durasi.Target awal peserta untuk kegiatan adalah 200 peserta untuk kegiatanselama 6 jam akumulasi.Pada pelaksanaanya, pada awal roadshow peserta yangmengikuti kegiatan ini sudah cukup besar. Berikut adalah jumlah total peserta:No. Nama Sekolah Jumlah Peserta1. SMP N 3 Magelang 412. SMP N 5 Magelang 463. SMP N 8 Magelang 384. SMP N 11 Magelang 120Total 245sertaUntuk durasi kegiatan, dihitung dari durasi keseluruhan acara yang telahdilaksanakan. Berikut adalah tabel durasi pelaksanaan kegiatan :No. Nama Kegiatan Waktu Durasi1. Roadshow SMP N 3 Kota Magelang 09.00- 10.00 WIB 60’2. Roadshow SMP N 5 Kota Magelang 09.00- 09.30 WIB 30’3. Roadshow SMP N 8 Kota Magelang 15.30- 16.00 WIB 30’4. Roadshow SMP N 11 Kota Magelang 14.00- 15.00 WIB 60’5. Forest Walk 07.30- 11.30 WIB 240’Total 420’ (7 Jam)Peserta yang mengikuti kegiatan ini terbilang melebihi dari yangditargetkan oleh tim. Hal ini dikarenakan banyaknya peserta tambahan yang ikutbergabung dengan teman mereka dikarenakan ingin mengikuti kegiatan ini.Awalnya, setiap sekolah diberikan batasan untuk mengirimkan 40 peserta saja,akan tetapi karena pihak sekolah meminta untuk menambahkan beberapa personil.Peserta mengikuti kegiatan ini dengan antusiasme yang tinggi. Dari awalacara hingga akhir acara, peserta selalu aktif dan bersemangat dalam mengikutitiap arahan dari tim, terutama untuk sesi outbond games. Dalam sesi ini, pesertameminta tambahan waktu untuk menambah satu permainan ice breakinglagi.Games yang awalnya hanya diberikan durasi selama 50 menit ini, bertambahmenjadi 75 menit.Selain peserta, pihak guru juga ikut mendukung kegiatan ini. Padaawalnya, tiap sekolah akan mewakilkan 2 orang guru untuk menemani siswasiswinyaselama kegiatan. Pada pelaksanaannya, guru yang mengikuti kegiatan inilebih dari yang ditargetkan.SMP N 11 Kota Magelang mengirmkan 14 orangguru, sedangkan untuk sekolah yang lain sebanyak 5 orang guru masing- masingsekolah. Permainan ice breaking yang diperuntukkan untuk siswa- siswi ternyatajuga diikuti oleh guru dengan aktif, sehingga suasana menjadi lebih meriah.Terpenuhinya Tujuan KegiatanTujuan dari pelaksanaan awal kegiatan ini adalah untuk meningkatkanawareness akan keberadaan Forum Cinta Anak (Forcita) di kalangan siswa- siswidari 3% menjadi 60%. Berdasakan pada survey yang dilaksanakan 3 hari setelahevent, didapatkan hasil dari 30 siswa yang di survey, 23 siswa mengetahuikeberadaan Forcita, atau sebesar 77%. Survey ini dilaksanakan dengan metodeyang sama pada saat riset awal sebelum kegiatan, yaitu secara accidental denganmenyebarkan kuesioner kepada anak- anak yang menjadi sample

Page 1 of 4 | Total Record : 33