cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Interaksi Online
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Interaksi Online adalah jurnal yang memuat karya ilmiah mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Undip. Interaksi Online menerima artikel-artikel yang berfokus pada topik yang ada dalam ranah kajian Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial
Arjuna Subject : -
Articles 38 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 3: Agustus 2013" : 38 Documents clear
Hubungan antara Tingkat Pendidikan dan Tingkat Pemahaman Pesan Kampanye Sosial Light On dengan Perilaku Menyalakan Lampu Utama Sepeda Motor Anggi Pramesthi Kusumarasri; Tandiyo Pradekso; Nurist Surayya Ulfa
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.388 KB)

Abstract

SUMMARY PENELITIANHubungan antara Tingkat Pendidikan dan Tingkat PemahamanPesan Kampanye Sosial Light On dengan Perilaku MenyalakanLampu Utama Sepeda MotorBAB IPENDAHULUAN1.1 LATAR BELAKANGMasalah sosial yang akhir-akhir ini banyak diberitakan media salahsatunya adalah kecelakaan lalu lintas. Kecelakaan lalu lintas memakan korbantidak sedikit. Masalah ini memang merupakan masalah keselamatan berkendara dijalan. Namun menjadi masalah social kala menjadi sorotan dan perhatianmasyarakat. Polri sebagai salah satu lembaga pemerintahan yang bertugasmenangani langsung masalah lalu lintas tidak tinggal diam.Banyak upaya yang dilakukan oleh Polri dalam mengubah perilakumasyarakat agar lebih sadar tentang keselamatan berkendara. Bentuk kampanyePolri untuk menekan angka kecelakaan salah satunya yaitu kampanye sosial LightOn. Kampanye sosial Light On merupakan imbauan pada masyarakat penggunakendaraan sepeda bermotor untuk menyalakan lampu motornya pada siang danmalam hari. Asumsi dari menyalakan lampu sepeda motor pada siang dan malamhari tersebut adalah, sepeda motor akan lebih mudah terlihat oleh pengemudisepeda motor dan pengemudi kendaraan bermotor lainnya. Dengan demikian,pengemudi kendaraan bermotor lainnya akan lebih waspada dan berhati-hatisecara psikologis dalam berkendara (Lukas Adi Prasetya, 2009).Kewajiban menyalakan lampu tersebut sesuai dengan UU No 22/2009pasal 107, “Pengemudi kendaraan bermotor wajib menyalakan lampu utamakendaraan bermotor yang digunakan di jalan pada malam hari dan pada kondisitertentu (1), Pengemudi sepeda motor selain mematuhi ketentuan sebagaimanadimakusd pada ayat (1) wajib menyalakan lampu utama pada siang hari(2)”.Sejak disahkannya UU No 22/2009 pada 22 Juni 2009, kampanye sosialLight On disosialisasikan dan mulai diterapkan pada masyarakat. Namun, selamapertengahan tahun 2009 hingga akhir tahun 2010, Polri hanya memberikanimbauan pada masyarakat pengendara sepeda motor untuk menyalakan lampupada siang hari. Hingga akhirnya pada Januari 2011 mulai ada penindakan olehPolri dengan mengenakan sanksi pada pengendara yang tidak menyalakan lampumotor di siang hari.Meskipun telah intens dalam memberikan imbauan menyalakan lampumotor pada siang hari, masih banyak pelanggaran yang terjadi. Menurut datapelanggaran Light On tahun 2011 yang dipeoleh dari Ditlantas Polda JawaTengah, Polresta Surakarta menyajikan data dengan pelanggaran tertinggi yaitu3.105 kasus.Berbanding terbalik dengan kondisi di Kota Solo, Kabupaten Magelangmenyajikan data pelanggaran dengan kasus paling rendah. Pelanggaran diKabupaten Magelang pada tahun 2011 berjumlah 10 kasus. Selisih angka antaraKota Solo dan Kabupaten Magelang cukup tinggi. Dengan cara sosialisasi yangsama, namun hasil dari kampanye sosial Light On berbeda di setiap kota. Bedakota tentunya berbeda pula kondisi demografinya.1.2 PERUMUSAN MASALAHMenurut data pelanggaran Light On tahun 2011 yang dipeoleh dariDitlantas Polda Jawa Tengah, Polresta Surakarta menyajikan data denganpelanggaran tertinggi yaitu 3.105 kasus. Jumlah pelanggaran tersebut termasukangka yang tinggi mengingat sosialisasi yang dilakukan oleh Polri selama satusetengah tahun sudah sangat intens. Berbeda dengan Kota Surakarta, KabupatenMagelang memegang peringkat terendah terhadap jumlah pelanggaran Light Ondengan jumlah hanya 10 pelanggaran.Kondisi di tiap wilayah kota dan kabupaten di Jawa Tengah tentu saja berbedadari berbagai aspek. Salah satu perbedaan dari tiap daerah dapat diihat darikondisi demografisnya. Perbedaan tingkat pendidikan dan tingkat pemahamanpesan kampanye sosial Light On juga yang mungkin membuat masyarakatberbeda perilaku mengenai kepedulian keselamatan berkendara.Berdasarkan perumusan masalah tersebut, maka timbullah pertanyaansebagai berikut, “apakah terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dan tingkatpemahaman pesan kampanye social Light On dengan perilaku menyalakan lampusepeda motor?”BAB IIANALISIS HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENDIDIKAN DANPEMAHAMAN PESAN KAMPANYE SOSIAL LIGHT ON DENGANPERILAKU MENYALAKAN LAMPU SEPEDA MOTOR2.1 Landasan TeoriKecelakaan di jalan saat kita berkendara merupakan hal yang akhir-akhirini semakin sering terjadi. Banyak upaya yang telah dilakukan oleh Polri untukmenanggulangi angka kecelakaan yang terus meningkat setiap tahunnya. Upayayang pernah dilakukan oleh Polri salah satunya adalah menggalakkan Light On,yaitu imbauan bagi pengendara menyalakan lampu motornya pada siang danmalam hari. Agar segala sesuatu tentang Light On ini diketahu oleh masyarakat,maka perlu diadakan sosialisasi melalui penyampaian pesan dan informasi.Kegiatan yang paling tepat dalam hal ini yaitu dengan diadakannya kampanyekomunikasi.Rogers dan Storey mendefinisikan kampanye sebagai serangkaiantindakan komunukasi yang terencana dengan tujuan menciptakan efek tertentupada sejumlah besar khalayak yang dilakukan secara berkelanjutan pada kurunwaktu tertentu. Merujuk pada definisi ini, maka setiap aktivitas kampanyekomunikasi setidaknya harus mengandung empat hal yakni (1) tindakankampanye yang ditujukan untuk menciptakan efek atau dampak tertentu (2)jumlah khalayak sasaran yang besar (3) biasanya dipusatkan dalam kurun waktutertentu dan (4) melalui serangkaian tindakan komunikasi yang terorganisasi(Venus, 2009:7).Kampanye pada hakikatnya adalah tindakan komunikasi yang bersifat goaloriented (Venus, 2009:25). Semua kegiatan kampanye pasti ada tujuan yang ingindicapai oleh penyelenggara kampanye. Dalam menjalankan kampanye agar tujuandapat dicapai, tentu tidak bisa dilakukan tanpa perhitungan atau perencanaan.Pelaksana kampanye harus menyusun manajemen kampanye secara sistematis danefektif. Manajemen kampanye adalah proses pengelolaan kegiatan kampanyesecara efektif dan efisien dengan memanfaatkan seluruh sumber daya yang adaguna mencapai tujuan yang telah ditetapkan.Apapun latar belakang kampanye, suatu gagasan pada akhirnya akandiwujudkan dalam bentuk yang bisa disampaikan kepada khalayak. Pesan-pesaninilah yang akan dipersepsi, ditanggapi, diterima atau ditolak oleh khalayak.Pesan-pesan kampanye dirancang secara sistematis agar dapat memunculkanrespon tertentu dalam pikiran khalayak. Agar respon tersebut muncul, mkaprasyarat yang harus dipenuhi adalah adanya kesamaan pengertian danpemahaman tentang symbol-simbol yang digunakan antara pelaku dan penerima(Venus, 2009:70)Kampanye sosial sebenarnya adalah kegiatan persuasi terhadap targetsasaran agar menimbulkan efek dari segi sikap dan perilaku. Namun perlu diingatbahwa membuat seseorang untuk bertindak adalah lebih sulit daripada mendorongmereka untuk berpikir tentang suatu hal. Setiap kegiatan kampanye memerlukanstrategi komunikasi yang merupakan perencanaan dan manajemen untukmencapai tujuan tertentu dalam praktik operasionalnya (Ruslan, 2007:38). Dalamkampanye sosial Light On ini tentu dibutuhkan strategi komunikasi yang baikuntuk menyampaikan pesan guna mencapai tujuannya, yaitu agar masyarakat maumenyalakan lampu sepeda motor.Pesan atau informasi yang berasal dari kampanye sosial Light Ondisampaikan kepada masyarakat sebagai sasaran yang dituju oleh programkampanye tersebut. Kampanye ini memakai media untuk menyampaikan pesanatau informasi tersebut. Mempertimbangkan bagaimana cara menyampaikan isipesan kampanye termasuk ke dalam manajemen kampanye. Penggunaan mediapada proses berlangsungnya kampanye sosial tidak akan pernah lepas sebagai alatuntuk menyampaikan pesan. Fungsi media massa adalah menyampaikan informasitentang keadaan disekitarnya kepada masyarakat. Fungsi menyampaikaninformasi ini diartikan bahwa media massa adalah penyebar informasi bagipembaca, pendengar atau pemirsa. Proses penyebaran informasi ini disebutdengan komunikasi massa.Mass communicatin is the process whereby media organizations produceand transmit messages to large publics and the process by which thosemessagse are sought, used, and influenced by audiences. Mediaorganizations distribute messages that affect and reflect the cultures ofsociet, and they provide information simultaneously to largeheterogeneous audiences, making media part of society’s institutionalforces (Littlejohn, 2004:273).Komunikasi massa adalah proses di mana media memproduksi danmengirim pesan-pesan kepada khalayak luas dan proses yang mana pesan tersebutdicari, digunakan, dan dipengaruhi oleh audiens. Media mendistribusikan pesanpesanyang mempengaruhi dan mencerminkan budaya masyarakat, dan pesanpesantersebut menyediakan informasi secara berkelanjutan pada audiens yangluas, membuat media bagian dari perangkat institusi masyarakat.Iklan-iklan layanan masyarakat mengenai Light On yang dikeluarkan olehPolri merupakan komunikasi massa melalui surat kabar, majalah, radio, televisi,leaflet, poster, spanduk, MMT, billboards, dan lain-lain. Dikategorikan sebagaikomunikasi massa (nonpersonal) karena perusahaan sponsor (penyelenggarakampanye) tersebut secara simultan berkomunikasi dengan penerima pesan yangberanekaragam, bukan kepada individu tertentu atau personal atau kelompok kecil(Shimp, 2003:5). Demikian pula dengan publisitas, hampir sama dengan iklannamun penyelenggara kampanye tidak mengeluarkan biaya untuk waktu danruang beriklan. Publisitas biasanya dilakukan dalam bentuk berita atau komentareditorial mengenai produk atau jasa dari perusahaan. Bentuk-bentuk ini dimuatdalam media cetak atau televisi secara gratis karena perwakilan mediamenganggap informasi tersebut penting dan layak ditampilkan kepada khalayakmereka (Shimp, 2003: 6). Misalnya sosialisasi Light On diberitakan dalam mediacetak,media menginformasikan kepada khalayak bahwa menyalakan lampusepeda motor pada siang dan malam hari penting untuk mengurangi angkakecelakaan. Data dari Polri mengenai turunnya angka kecelakaan yang diberitakandi media juga merupakan publisitas kampanye sosial Light On karena dianggapinformasi ini penting bagi masyarakat.Selain iklan dan publisitas, kampanye sosial Light On juga menggunakanambient media untuk melengkapi sarana penyampaian pesan kampanye. ambientmedia yang menyerupai bat untuk bermain tenis meja. Di kedua sisi bet tersebutterdapat tulisan “Nyalakan Lampu Sepeda Motor Anda”. Bat tersebut dipegangoleh polisi lalu lintas dan ditunjukkan pada pengendara sepeda motor. Penggunaanambient media ini saat patroli polisi lalu lintas pada pagi dan sore hari.Produk yang ditawarkan dalam kampanye Light On adalah perubahanperilaku pengendara sepeda motor. Tujuan utama dari kampanye ini adalahterwujudnya perubahan perilaku masyarakat, yang awalnya hanya menyalakanlampu sepeda motor pada malam hari, diharapkan menyalakan lampu sepedamotor pada siang hari juga guna mengurangi angka kecelakaan. Oleh karena itudalam menyelenggarakan kampanye, pesan-pesan kampanye harus diautrsedemikian rupa agar lebih efektif untuk diterima dan mempengaruhi targetsasaran. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Stuyek (1990) bahwa, penggunaansesuatu yang jelas dan bahasa yang sederhana dalam membuat pesan akanmembuat pesan tersebut lebih mudah dimengerti (Venus, 2009:81).Pemahaman pesan pada kampanye sosial Light On akan mempengaruhiperilaku khalayak sasarannya. Pada tahap afektif, muncul sikap seseorangterhadap apa yang sudah diketahui dan dipahami. Muncul sikap positif ataunegative, percaya atau tidak percaya dalam menanggapi manfaat menyalakanlampu sepeda motor ini. Hingga sampai pada tahap seseorang akan berperilaku(behavior) sesuai dengan apa yang dirasakan dan disadarinya, yaitu menyalakanlampu sepeda motor pada siang dan malam hari.Khalayak atau target sasaran kampanye yang terterpa kegiatan komunikasipemasaran merupakan sasaran dari penyampaian pesan dan diharapkanberperilaku seperti kegiatan yang sedang dikampanyekan. Khalayak adalahindividu-individu yang berpikir, memiliki perasaan, mengevaluasi, menentukan,beraksi dan bereaksi atas sesuatu (Venus, 2009:116). Karena alasan ini makapesan-pesan kampanye akan dipersepsi secara berbeda oleh setiap individu danakhirnya menghasilkan efek yang beragam pula. Para pelaku kampanyemenyadari bahwa khalayak sasaran mereka tidaklah homogen. Mereka memilikikeragaman dari segi demografis maupun psikografis. Keragamaan inilah yangmemunculkan perbedaan keinginan, kebutuhan, dan cara mereka meresponlingkungan. Dengan demikian masing-masing kelompok khalayak memerlukanpendekatan yang berbeda, mulai desain pesan, cara menyampaikannya hinggasiapa komunikator yang cocok menyampaikan pesan tersebut. Pernyataan tersebutsesuai dengan bauran komunikasi yaitu who says what in which channel to whomwith what effect. Ini artinya segmentasi perlu dilakukan dalam menentukankhalayak sasaran kampanye (Venus, 2009:124). Target sasaran yang sudahditentukan oleh penyelenggara kampanye diharapkan mendapat pengetahuan yangcukup tentang kampanye melalui media, sehingga pesan secara efektif dapatmempengaruhi audiens sampai ke tahap yang diinginkan. Menurut McQuail(1972), salah satu fungsi media bagi individu yaitu sebagai identitas pribadi untukmenemukan model perilaku (McQuail, 2005:72). Jadi, segmentasi khalayaksasaran atau audience dilakukan agar kampanye tepat sasaraan. Setelah pesanyang diberikan tepat sasaran, khalayak sasaran bisa paham mengenai isi pesankampanye. Lalu audience mempunyai pilihan, setuju untuk mengadopsi perilakudari isi pesan tersebut atau tidak.Masyarakat sendiri menanggapi pesan kampanye berbeda satu denganyang lainnya. Respon khalayak terhadap pesan kampanye dipengaruhi oleh prosespenerimaan dan pengolahan pesan atau informasi yang dilakukan khalayak(Venus, 2009:78). Maka dari itu pesan harus memiliki kemampuan tertentu yangdapat mendorong khalayak untuk memberikan respon positif sesuai harapanpelaku kampanye. Menurut Venus (2009), ada beberapa aspek yang perlumendapat perhatian dalam membaut pesan, yaitu :a. Penekanan terhadap apa yang akan dipersepsi orangb. Bagaimana pesan tersebut dapat menarik perhatian khalayakc. Serta bagaimana informasi dalam pesan itu disimpan dan diingat olehpenerimanya.Selain itu, masyarakat juga menerima pesan dengan selektif. Orang akanmelihat apa yang ia lihat, mendengar apa yang ingin ia dengar. Maka, setiap orangakan menginterpretasikan pesan sesuai dengan latar belakang dan pengalamanyang dimilikinya. Garnett (1992) menyatakan bahwa persepsi selektif ditentukanoleh latar belakang keluarga, karakteristik kepribadian fisik, tingkat pendidikan,perbedaan budaya, dan factor lainnya (Venus, 2009:80). Tingkat pendidikanmerupakan salah satu faktor penting dalam mengasah kemampuan danketrampilan. Proses pendidikan diharapkan dapat menciptakan manusia terdidikyang mempunyai pola tingkah laku yang sesuai dengan tujuan pendidikan.Olehkarena itu proses pendidikan dilakukan dalam suatu system. Pendidikanformal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri ataspendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.Pendidikan memberikan kontribusi besar dalam berinteraksi denganlingkungan, ketrampilan dan pengetahuan yang diperoleh melalui bangku sekolahmembantu memperlancar daya tangkap seseorang dalam berkomunikasi.Pendidikan masyarakat mempengaruhi persepsinya dan kemampuan konsepsinyamengenai pesan yang diterima. Pada gilirannya akan berpengaruh pula terhadappengaturan pikiran dan perasaan ketika melaksanakan tanggapan ataumenyampaikan umpan balik kepada komunikator. Kemampuan yang dimiliki tiapindividu yang nantinya akan terlihat bagaimana ia berperilaku. Seluruh perilakumanusia adalah hasil belajar, artinya perubahan perilaku organisme sebagaipengaruh lingkungan (Rakhmat, 2007:21).Sesuai dengan aliran Behaviorisme, seluruh perilaku manusia selaininsting merupakan hasil belajar (Syam, 2011:75). Oleh para ilmuan Behaviorismealiran ini lebih dikenal dengan Teori Belajar, Behaviorisme hanya inginmengetahui bagaimana perilaku manusia dikendalikan oleh faktor-faktorlingkungan (Rakhmat, 2007:21). Salah satunya adalah media, sebagai salurankomunikasi massa yang menjadi perangkat institusi masyarakat. Media jugamerupakan salah satu media pembelajaran bagi manusia. Dalam kampanye sosialLight On, manusia belajar memahami pesan kampanye melalui media disekitarnya. Hasil belajar itu tidak semuanya sama. Semakin tinggi tingkatpendidikan seseorang, maka kualitas belajarnya juga semakin bagus. Semakinbanyak pula pengalaman yang diperoleh dari lingkungan belajarnya dan akanberpengaruh pada perilaku mereka. Demikian pula dalam kegiatan kampanyesosial Light On, para pengendara sepeda motor tidak serta merta menyalakanlampu sepeda motor. Namun merupakan hasil interaksi audiensnya denganlingkungan, yaitu melihat media yang berisi tentang imbauan menyalakan lampusepeda motor pada siang dan malam hari, serta pengetahuan manusia yangmerupakan hasil dari belajar dan pendidikan dalam memahami pesan tersebut.Dalam pertumbuhannya, manusia bukan saja mengalami perkembangandalam segi jasmaniahnya, tetapi juga rohaniahnya. Dan perkembangan inimembentuk jiwanya, sifat tabiat dan tingkahlakunya (Effendy, 1993:53). Lalumuncul berbagai sikap terhadap pesan atau rangsangan yang mereka terimaberupa sikap yang merupakan kecenderungan untuk berperilaku dengan cara-caratertentu. Dengan kata lain, perilaku manusia adalah produk dari dorongandoronganlingkungan.Menurut De Fleur and Ball-Rokeach (1982) “Since individuals were notseen as socially active, psychological and biological factors became moreimportant than social ones in explaining the behavior of people in masssociety. For example, characteristics such as instincts and psychologicaldrives become crucial when describing audience members,” (Windahl,Signitzer with Olson, 2009:196)Menurut McQuail dalam bukunya Teori Komunikasi Massa, apa yangdiungkapkan oleh DeFleur tersebut relevan bila dikaitkan dengan kerumitan pesanmedia umumnya dan bila dibandingkan dengan jenis rangsangan yang digunakandalam hampir seluruh percobaan psikologi. Kedua, semakin jelas bahwa reaksi ituberbeda-beda secara sistematis sesuai dengan kategori sosial penerima, yangantara lain berdasarkan usia, pekerjaan, gaya hidup, jenis kelamin, agama, dansebagainya (2005:235).Manusia satu sama lain tentu tumbuh dan berkembang di lingkungan yangberbeda-beda. Dari lingkungan yang berbeda inilah akan terbentuk sikap, nilainilai,serta kepercayaan individu yang mendasari kepribadian mereka, kemudianakan mempengaruhi cara mereka memandang dan menghadapi sesuatu, sehinggapersepsi mereka pun berbeda. Begitu juga dalam kampanye sosial Light On dalamrangka mengurangi angka kecelakaan, pesan yang disampaikan melalui mediamassa menimbulkan rangsangan berupa persepsi dan respon berbeda pada tiapindividu.Menurut DeFleur (1970), “Individuals differences theory argued that,because of people vary greatly in their psychological makeup and becausethey have different perceptions of things, media influence differs fromperson to person. More specifically, media messages contain particularstimulus attributes that have differential interaction with personalitycharacteristics of members of the audience” (Baran & Davis, 2006:149).Teori tersebut menegaskan bahwa, setiap orang akan menanggapi isi media massaberdasarkan dengan kepercayaan serta nilai-nilai sosial mereka. atas dasar bahwatiap individu tidak sama perhatiannya, kepentingannya, kepercayaan maupunnilai-nilainya, maka dengan sendirinya selektivitas mereka terhadap komunikasimassa juga berbeda. Dalam hal ini adalah proses pemahaman pesan darikampanye sosial Light On, yang selanjutnya akan berpengaruh terhadap tingkahlaku (behavioral) khalayak sasarannya.BAB IIIPENUTUPBerbagai cara telah diupayakan oleh Polri untuk terus mengurangi angkakecelakaan. Banyak program dan terobosan yang digalakkan oleh Polri agar angkakecelakaan tidak semakin bertambah. Namun masyarakat seringkali tidakmengindahkan bahkan menganggap sepele program-program dari Polri tersebut.Polri pun terus mengupayakan cara yang lebih efektif dan diharapkan masyarakatmau menerimanya. Melalui program Light On inilah Polri berupaya mengurangiangka kecelakaan, terutama kecelakaan sepeda motor.Jarak pandang manusia terhadap benda sangat terbatas, terlebih jika bendatersebut bergerak dalam kecepatan tinggi. Sepeda motor bila dilihat dari kacaspion kendaraan lain akan terlihat kecil dan kadang tidak terlihat jelas. Apalagijika pengendaranya mengendarai dengan kecepatan tinggi. Hal inilah yang seringmenyebabkan terjadinya kecelakaan sepeda motor, tidak terlihat oleh pengendarakendaraan lainnya. Jika lampu utama sepeda motor tersebut selalu menyala akanmembantu penglihatan pengemudi kendaraan bermotor lainnya karena cahayamudah tertangkap oleh indera penglihatan manusia. Dengan demikian diharapkandapat menurunkan angka kecelakaan.3.1 SIMPULAN1. Penelitian pada kabupaten Magelang menunjukkan bahwa terdapathubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan perilakumenyalakan lampu utama sepeda motor. Nilai korelasi antara tingkatpendidikan dengan perilaku menyalakan lampu utama sepeda motorsebesar 0,328. Sedangkan pada Kota Surakarta tidak ada hubungan yangsignifikan antara tingkat pendidikan dengan perilaku menyalakan lampuutama sepeda motor, dan nilai korelasinya hanya sebesar -0,093.2. Penelitian pada kabupaten Magelang menunjukkan bahwa terdapathubungan yang signifikan antara tingkat pemahaman pesan kampanyesosial Light On) dengan perilaku menyalakan lampu utama sepeda motordengan nilai korelasi sebesar 0,301. Begitu pula pada Kota Surakarta,terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pemahaman pesankampanye sosial Light On dengan perilaku menyalakan lampu utamasepeda motor dengan nilai korelasi sebesar 0,414.3. Masyarakat Kabupaten Magelang nampak lebih banyak yang menyalakanlampu utama sepeda motor pada siang dan malam hari jika dibandingkandengan masyarakat Kota Surakarta.3.2 SARAN1. Saran bagi Polri selaku penyelenggara kampanye hendaknya melakukanpendekatan lebih pada masyarakat di Kota Surakarta agar mereka lebihmemahami arti penting dari Light On ini. Cara kampanye danpenyampaian pesannya pun bisa lebih variatif agar bisa menarik perhatianmasyarakat. Namun sosialisasi yang dilakukan bisa dipertimbangkan darifactor lain karena tingkat pendidikan tidak memiliki hubungan denganperilaku masyarakat Kota Surakarta dalam menyalakan lampu utamasepeda motor. Sedangkan untuk Kabupaten Magelang yang masyarakatnyasudah lebih banyak yang menyalakan lampu utama sepeda motor padasiang dan malam hari tidak perlu ada sosialisasi lanjutan.2. Untuk penelitian yang akan datang disarankan tidak hanya menelitimengenai hubungan, tetapi juga pengaruh intensitas kampanye. Penellitiselanjutnya juga bisa menambahkan variable keefektifan kampanye karenakeefektifitasan kampanye juga mempengaruhi pemahaman pesanmasyarakat mengenai kampanye tersebut.ABSTRAKKampanye sosial akhir-akhir ini semakin marak di kalangan masyarakat yangbertujuan untuk membawa perubahan sosial atau perilaku masyarakat ke arah yang lebihbaik. Polri pun turut serta menjadi salah satu penyelenggara kampanye sosial. Kampanyesosial dari Polri adalah kampanye yang bertujuan untuk mengurangi angka kecelakaan dijalan raya, khususnya untuk kecelakaan kendaraan kecil seperti sepeda motor. Namuntidak semua masyarakat berperilaku seperti apa yang diharapkan dalam kampanye ini,yaitu menyalakan lampu utama sepeda motor. Factor yang mempengaruhi perilakumasyarakat antara lain tingkat pendidikan dan tingkat pemahaman pesan kampanye sosialLight On.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tingkatpendidikan dan tingkat pemahaman pesan kampanye sosial Light On dengan perilakumenyalakan lampu sepeda motor. Teori yang digunakan adalah teori Behaviorisme danIndividuals differences theory. Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian iniadalah tipe explanatory dengan pendekatan metode penelitian kuantitatif. Populasipenelitian ini adalah pengendara sepeda motor di Kabupaten Magelang dan KotaSurakarta. Teknik pengambilan sampel menggunakan Non-Random Sampling dengansampel masing-masing kota sebanyak 50 responden.Hasil penelitian pada Kabupaten Magelang menunjukkan bahwa terdapathubungan antara tingkat pendidikan dan perilaku menyalakan lampu sepeda motordengan nilai korelasi sebesar 0,328, dan terdapat hubungan antara tingkat pemahamanpesan kampanye sosial Light On dengan perilaku menyalakan lampu utama sepeda motordengan nilai korelasi sebesar 0,301. Sedangkan hasil penelitian di Kota Surakartamenunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan tingkat pendidikan dan perilakumenyalakan lampu sepeda motor dengan nilai korelasi hanya -0,093. Namun terdapathubungan antara tingkat pemahaman pesan kampanye sosial Light On dengan perilakumenyalakan lampu utama sepeda motor dengan nilai korelasi sebesar 0,414.Melihat hasil penelitian di dua kota yang berbeda dan hasil yang berbeda pula,dapat dilihat bahwa masyarakat Kabupaten Magelang nampak lebih patuh dan tertibdalam menyalakan lampu utama sepeda motor pada siang dan malam hari jikadibandingkan dengan masyarakat Kota Surakarta.Saran bagi Polri selaku penyelenggara kampanye hendaknya melakukanpendekatan kepada masyarakat Kota Surakarta yang tidak berdasarkan tingkat pendidikankarena tingkat pendidikan tidak memiliki hubungan dengan perilaku menyalakan lampuutama sepeda motor. Bagi penelitian selanjutnya disarankan tidak hanya menelitimengenai hubungan, tetapi juga pengaruh intensitas kampanye. Penelliti selanjutnya jugabisa menambahkan variable keefektifan kampanye karena keefektifitasan kampanye jugamempengaruhi pemahaman pesan masyarakat mengenai kampanye tersebut.Kata Kunci : Tingkat Pendidikan; Tingkat Pemahaman Pesan Kampanye Sosial LightOn; Perilaku Menyalakan Lampu Sepeda MotorABSTRACTNowadays, social campaign becomes more popular in the society which has apurpose to bring the social changing or the public's behavior to be better. The IndonesianNational Police Department joins and becomes one of the organizers of social campaigns.The social campaign of the police department is a campaign that aims to reduce thenumber of accidents on the highway, especially for small vehicle accidents, likemotorcycle. However, not all people behave as what is expected in this campaign, whichis turning the motorcycle's main lamp on. The factors that influence people's behavior arethe level of education and the message comprehension level of Light On social campaign.The purpose of this study is to recognize the relationship between the levels ofeducation and comprehension of the Light On social campaign message and the behaviorof turning the motorcycle's main lamp on. The theory that is used is the theory ofbehaviorism and the individuals differences theory. This type of research used in thisstudy is the explanatory type with quantitative research method approach. The populationof this research were the bikers in Magelang regency and Surakarta city. The samplingtechnique was non-random sampling with the sample of 50 respondents in each town.The results showed that, in Magelang regency, there was a relationship betweenthe education level and the behavior of turning the motorcycle's main lamp on with thecorrelation value of 0.328, and also a relationship between the message comprehensionlevel of Light On social campaign and the behavior of turning the motorcycle's main lampon with a correlation value of 0.301. On the other hand, the results of the research inSurakarta showed that there was no correlation between the education level and thebehavior of turning the motorcycle's main lamp on with only -0.093 correlation value.However, there was no relationship between the message comprehension level of LightOn social campaign and the behavior of turning the motorcycle's main lamp on with thecorrelation value of 0.414.Considering these results in two different cities with different results, it could beconcluded that the people of Magelang regency seemed to be more dutiful and orderly inturning on the motorcycle's main lamp on on day and night compared to Surakarta'speople.The suggestion for the Indonesian National Police Department as the organizer ofthis campaign is to have a non educational-base approach, because the education level hasno relation with the behavior of turning the motorcycle's main lamp on. To the nextresearch, it is suggested that it is not only researching about the relationship, but alsoabout the campaign's intensity influence. The next researcher can also add the campaigneffectiveness variable, because the campaign effectiveness also influences the people'smessage comprehension about that campaign.Key words: education level; comprehension level of the light on social campaignmessage; behavior of turning on the motorcycle's lampDAFTAR PUSTAKAAhmadi, Abu. 2006. Pengantar Ilmu Kependidikan. Jakarta : Rieneka CiptaMunib, Ahmad. 2001. Ilmu Kependidikan. Semarang : UPT MKK UNNESBaran, Stanley J & Dennis K. Davis. 2006. Mass Communication Theory, 4th Edition.USA : Thomson WadsworthEffendy, Onong Uchjana. 1993. Human Relations & Public Relations. Bandung : CV.Mandar MajuGregory, Anne. 2001. Perencanaan dan Manajemen Kampanye Public Relations. Jakarta :ErlanggaGunawan, Ary H. 2000. Sosiologi Pendidikan. Jakarta : Rineka CiptaKriyantono, Rachmat. 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta : KencanaLittlejhon, Stephen.W & Foss, Karen.A. 2004. Theories of Human Communication; EightEdition. Canada : Thomson WadsworthMcQuail, Denis. 2005. Teori Komunikasi Massa, Edisi Kedua. Jakarta : ErlanggaNotoatmodjo, Soekidjo. 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta : RinekaCiptaPriyanto, Duwi. 2009. 5 Jam Belajar Olah Data dengan SPSS 17. Yogyakarta : ANDIRakhmat, Jalaluddin. 2007. Psikologi Komunikasi. Bandung : PT. Remaja RosdakaryaSarwono, Sarlito Wirawan. 2002. Psikologi Sosial. Jakarta: Balai PustakaSarwono, Sarlito Wirawan. 2004. Teori-teori Psikologi Sosial. Jakarta : PT. Raja GrafindoPersadaSeverin, Werner J. & Tankard, James W. 2005. Teori Komunikasi; Sejarah, Metode, danTerapan di Dalam Media Massa. Jakarta : KencanaShimp, Terence A. 2003. Periklanan Promosi, Komunikasi Pemasaran Terpadu, Jilid I Edisike 5. Jakarta : ErlanggaSingarimbun, Masri & Sofian Effendi. 1989. Metode Penelitian Survai. Jakarta : LP3ESSiswoyo, Dwi dkk. 2008. Ilmu Pendidikan. Yogyakarta : UNY PressSugiyono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif. Bandung : CV. AlfabetaSyam, M.Noor dkk. 2003. Pengantar Dasar-dasar Pendidikan. Surabaya : Usaha NasionalVenus, Antar. 2009. Manajemen Kampanye, Panduan Teoritis dan Praktis dalamMengefektifkan Kampanye Komunikasi. Bandung : Simbiosa Rekatama MediaWindahl, Sven & Benno Signitizer. 2009. Using Communication Theory, 2nd Edition, AnIntroduction to Planned Communication. London : Sage PublicationsWitherington. 1991. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Rineka CiptaPrasetya, Adi Lukas. 2009. Nyalakan Lampu Motor Siang Hari, Menekan Kecelakaan.http://www.kompas.com/lipsus052009/antasariread/2009/09/27/19553723/Nyalakan.Lampu.Motor.Siang.Hari..Menekan.Kecelakaan, diunduh pada tanggal 8Februari 2012Polres Wonogiri. 2009. Polwil Pantau Sosialisasi Light On dan Lajur Kiri.http://polreswonogiri.com/beritakepolisian/detail/34/polwil-pantau-sosialisasilight-on-dan-lajur-kiri diunduh pada tanggal 8 Februari 2012Hapsari, Esti Dwi. 2011. Pengaruh Kampanye Keselamatan berkendara (Safety Riding)Terhadap Persepsi Kedisiplinan dalam Berlalu Lintas.http://etd.eprints.ums.ac.id/15932/1/2._HALAMAN_DEPAN.pdf, diunduh padatanggal 30 Mei 2012Munawaroh, Siti. 2009. Efektivitas Komunikasi Kampanye Program Safety RidingPolantas Polda Metro Jaya untuk Meningkatkan Pengetahuan (Studi PelajarSMK Binakarya Mandiri di Kabupaten Bekasi ).http://digilib.mercubuana.ac.id/skripsi1.php?ID_Skripsi=0000014044&NIM=44205010060, diunduh pada tanggal 30 Mei 2012
Seminar dan Wokshop Jurnalistik Anak SMA “Yournalism” T.R, Amal Gamasi; Nugroho, Adi; Setyabudi, Djoko
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.112 KB)

Abstract

PENDAHULUANMasyarakat Indonesia saat ini merupakan masyarakat informasi yangmenghabiskan sebagian besar waktunya dengan media komunikasi dan menggunakanteknologi informasi seperti ponsel dan komputer maupun laptop. Mereka akan mudahmelakukan pertukaran data informasi karena saat ini,mengingat konvergensi mediatidak hanya mengubah basis data dan medium yang menyalurkannya, tetapi jugasecara keseluruhan mengubah proses produksi, pengolahan, dan distribusi informasisehingga media-media seperti koran, radio, televisi, dan lain-lain akan berubahdengan bentuk-bentuk media baru yang sepenuhnya digital, seperti world wide web,dan internet.Setiap orang bisa merencanakan liputan, meliput, menuliskan hasil liputan,mengedit tulisan, memuatnya dan menyebarkan di berbagai situs internet. Artinyasemua orang sebenarnya bisa menjadi “jurnalis dadakan”, meski begitu tentu sajakualitas jurnalistik mereka masih bisa kita perdebatkan. (Haryati, 2007 : v)Kehadiran situs berita atau portal berita juga dikhawatirkan bisa menjadi ancamanseluruh media massa konvensional. Ada juga media konvensional yang telahmelakukan inovasi dan pengembangan produk ke arah konvergensi informasi demimempertahankan eksistensinya. Suara Merdeka sendiri telah melakukan inovasitersebut dengan nama suaramerdeka.com. Didirikan pada tanggal 14 September 1996oleh H. Tommy Hetami (alm). Pada awalnya website suaramerdeka.com ini hanyaberisikan berita edisi cetak yang diambil dari media cetak Harian Suara Merdeka.Sampai dengan 11 Pebruari 2000 barulah menambahkan pemberitaannya dengan edisiNews Aktual beserta kanal-kanal lainnya. News Aktual ini dimaksudkan agarSUARAMERDEKA.com tidak tertinggal dalam memberitakan sesuatu. Namun yangperlu diperhatikan adalah langkah-langkah apa yang harus dilakukan untukmelakukan inovasi pengembangan produk ke arah digital agar tetap bisa bertahan.Melihat kenyataan yang seperti itu, perlu kiranya Suara Merdeka memberikanpendidikan jurnalistik sejak dini. Kegunaannya untuk mempersiapkan para calongenerasi jurnalis muda untuk memasuki dunia jurnalis profesional mendatang di eracitizen journalism dan meminimalisir keberadaan “jurnalis dadakan” tersebut. Disamping itu juga bermanfaat bagi berkembangnya mading sekolah ke arah digitalsebagai tempat media penyaluran bakat siswa dibidang penulisan, penyaluran minatdibidang yang sama, dan melatih siswa-siswi SMA atau SMK untuk tampil berani dankritis dalam berbagai kondisi serta menjadikan mempromosikan Rubrik EkspresiSuara Remaja (salah satu rubrik di Suaramerdeka.com yang membahas tentang duniaremaja) sebagai penyaluran ide maupun hasil karya mereka.ISIKonsep komunikasi pemasaran terpadu menekankan pentingnya elemen komunikasidalam pemasaran. Komunikasi pemasaran terpadu adalah kegiatan pemasaran denganmenggunakan teknik-teknik komunikasi untuk memberikan informasi kepada orang banyakdengan harapan, agar tujuan perusahaan tercapai, yaitu terjadinya pendapatan sebagai hasilpenambahan penggunaan penggunaan jasa atau pembelian produk yang di tawarkan.(Soemagara, 2006: 4)Suara Merdeka membutuhkan suatu kegiatan promosi yang dapat menjangkau anakanakSMA untuk secara aktif menuangkan ide-ide, hasil karya mereka di Rubrik EkpresiSuara Remaja sehingga membutuhkan sebuah kegiatan komunikasi pemasaran terpadu yangtepat.Melihat anak - anak SMA sekarang ini hidup dalam kecanggihan komunikasi daninformasi seperti adanya smartphone, laptop, dan peralatan IT canggih lainnya, strategi yangtepat adalah membuat kegiatan dengan memanfaatkan antusias mereka terhadap kemajuan ITtersebut mengenai dunia jurnalistik.Event merupakan salah tool public relation yang berbeda. Secara konseptual event tidakhanya mengajak seseorang untuk menggunakan sebuah produk, namun lebih mendekatkanbrand kepada target audience secara langsung sehingga memberikan pengalaman langsungdengan suatu brand. Pengalaman langsung dan baru ini memberikan dampak untuk menarikcalon pelanggan baru atau menambah loyalitas pelanggan lama terhadap brand. Keuntunganevent adalah bisa melibatkan banyak orang, beberapa orang memiliki “sense of publicity”yang mana akan menceritakan pengalaman mereka kepada orang-orang terdekatnya baikorang tua, teman-teman, bahkan di ruang sosial media. Dengan beberapa alasan diatas timpelakasana memilih event “Yournalism” sebagai salah satu bentuk melakukan komunikasipemasaran.Kegiatan ini bertema “YOURNALISM” yang diambil dari penggalan kata“YOUNG” yang berarti muda dan “JOURNALISM” yang berarti dunia jurnalistik. Jadimakna keseluruhannya adalah saatnya dunia jurnalistik muda menunjukkan eksistensinya.Tagline yang saya ambil adalah “together make possible” yang dapat diartikan bersama-samamenjadi mungkin. Bentuk kegiatan ini adalah seminar dan workshop dengan mengumpulkanSiswa-siswi dari beberapa sekolah SMA di salah satu sekolah SMA Semarang denganpenjelasan target audien:Aspek demografisTarget Primer : siswa-siswi SMA SemarangJenis Kelamin : laki-laki dan perempuanUsia : 15 – 19 TahunSES : A – CAspek GeografisSekolah dengan perwakilan dari beberapa zona area Kota Semarang. Semarang Timurmeliputi SMA 11, SMA 15, SMA 2, SMA KES 1. Semarang Tengah meliputi SMA 1,SMA3, SMA 5, SMK 2, SMK 3, SMK 5, SMK 7, SMA LOYOLA, dan SMA SULTAN AGUNG1. Daerah zona tengah lebih banyak karena dijadikan percontohan untuk mengukur seberapaefektif kegiatan ini bagi mereka mengingat letak sekolah mereka yang berada di pusat kotaAspek PsikografisMemiliki rasa ingin tahu yang tinggi, lebih banyak melakukan kegiatan diluar ruang, aktifmencari informasi, memiliki kehidupan sosial yang luas, dan peka terhadap lingkungansekitar.Mereka diberi pelatihan jurnalistik dengan pemberian materi mengenai dunia jurnalistikseperti penulisan berita,news reporting, dan desain layout dengan nara sumber dari orangorangredaksi Suara Merdeka.Setelah mendapat pelatihan dasar jurnalistik, saya berupaya untuk memicu semangatkreatifitas mereka dengan membuat kompetisi mading dengan cara yang berbeda. Melihatperkembangan dunia teknologi informasi sekarang ini, perlu kiranya kita melakukan sebuahinovasi yang berbasis pada teknologi informasi tersebut. Salah satu cara yang ingin sayaterapkan yaitu kompetisi e-mading. E-mading adalah mading yang berbasis pada penggunaaninternet. Lomba e-mading ini berformat .pdf dengan tema Semarang dan dengan beberapakriteria antara lain tata layout, estetika, isi berita. Diharapkan dengan adanya lomba sepertiitu mampu menjaga eksistensi dunia jurnalistik di sekolah terutama mading.PENUTUPEvaluasi diperlukan untuk mengukur keberhasilan suatu kegiatan yang telahdilakukan, melihat tahap-tahap yang telah ditetapkan sebelumnya serta menelaah kekurangandari kegiatan tersebut agar kedepan dapat menjadi tolak ukur untuk kegiatan yangberkelanjutan ataupun menyelenggarakan kegiatan sejenis.Rekomendasi memiliki tujuan untuk memeberikan saran dan menyempurnakankonsep serta dapat menjadi acuan jika akan menyelenggaraka kegiatan serupa. Rekomendasijuga ditujukan kepada pihak klien sebagai saran dalam melakukan kegiatan marcomm untukmemperbesar target audien serta menambah calon potensial target audien.EvaluasiSecara umum event “Yournalism” berjalan dengan baik. Namun ada beberapa poinyang telah ditetapkan sebelumnya, belum dapat dilaksanakan sesuai rencana antara lain:1. Jumlah perwakilan murid dari tiap-tiap sekolah yang seharusnya 10 murid dengansatu pembimbing berubah menjadi 5 murid dan 1 pembimbing hal ini dikarenakan timpelaksana tidak mampu melaksanakan kegiatan secara roadshow, hanya dikumpulkandi 1 tempat sehingga agar materi yang disampaikan tetap efektif cara yang ditempuhyaitu dengan pengurangan kuota dari tiap-tiap sekolah.2. SMA Kesatrian 1 menolak untuk mengikuti kegiatan tersebut dengan alasan sudahbekerjasama dengan pihak lain dalam bidang yang sama yaitu jurnalistik3. Birokrasi SMA Loyola sulit di ajak berkerjasama. Kurangnya koordinasi antarapenjaga sekolah dengan pihak sekolah membuat surat undangan tidak sampai kepihak sekolah, hal ini dibuktikan dengan tim pelaksana yang melakukan konfirmasitentang surat undangan tersebut yang didapat jawaban belum menerima suratundangan kegiatan itu4. Tempat kegiatan yang semula memakai Aula SMA 1 Semarang pindah ke Aula SMASultan Agung 1 Semarang dengan alasan sama-sama berada di tengah kota5. Periode waktu pada awalnya terbagi dalam 5 sesi. Sesi pertama untuk registrasiulang, sesi 2 pemberian materi berita, sesi 3 penyampaian materi fun reporting, sesi 4pemberian materi desain layout, dan sesi terakhir ditutup dengan penjelasan materilomba e-mading. Namun karena adanya permintaan waktu dari sponsor untuk demoproduk, tim pelaksana berkordinasi dengan pihak ESR untuk melakukan penyusunanacara ulang. Hasilnya susunan acara terbagi menjadi 6 sesi yaitu sesi 1 untukregistrasi ulang, sesi 2 untuk materi Yamaha, sesi 3 sambutan Suaramerdeka.com, sesi4 materi berita, sesi 5 pemberian materi fun reporting, sesi 6 penyampaian materidesain layout, dan sesi terakhir penjelasan materi lomba e-mading.6. Menunjukan pertanggungjawaban anggaran melalui nota dan kwitansi 90% sesuaidengan rencana awal. Anggaran dana tersusun mulai dari pra-kegiatan hinggaterlaksananya kegiatan seperti anggaran perijinan, kebutuhan waktu acara, dananggaran hadiah e-mading. Melihat nominal anggaran dana yang begitu besar, timpelaksana melakukan penyusunan anggaran ulang, hal ini dimaksudkan agar pihaksponsor tertarik untuk menjadi sponsor. Anggaran yang dinilai tidak begitu efektiftidak dimunculkan dalam anggaran melainkan di subsidi dari anggaran lain sepertibiaya administrasi, doorprize,genset,dll.RekomendasiRekomendasi ditujukan kepada 2 pihak yaitu rekomendasi untuk acara apabila acaraini akan dilanjutkan kembali dan dan rekomendasi untuk pihak manajemen Ekpresi SuaraRemaja.Rekomendasi untuk acara “Yournalism”1. Waktu persiapan event disarankan lebih kurang 2 bulan dengan perincian 1bulan pertama untuk pembagian jobdesk, pencarian klien dan peserta, dan 1bulan terkahir untuk sounding sponsorship, produksi kebutuhan acarasehingga tim pelaksana bisa melakukan pematangan konsep, kordinasi danpembagian jobdesk secara mendetail serta sounding proposal sponsorship bisalebih lama2. Memaksimalkan surat rekomendasi dari Diknas agar sekolah menilai bahwaacara ini layak untuk diikuti sehingga mereka dengan sukarela mengijinkansiswa-siswi mereka mengikuti acara tersebut3. Pemberian mentor untuk pendampingan mereka dalam menyusun e-madingsetelah acara selesai sebagai salah satu bentuk perhatian pengelola kegiatanterhadap sekolah dan murid4. Kemasan acara lebih dipercantik seperti penggunaan backsound saat acaramenjelang usai5. Pengelola kegiatan menyediakan spanduk pesan dan kesan guna mengukurkesuksesan acaraRekomendasi untuk Ekpresi Suara Remaja1. Kegiatan seperti ini bisa dijadikan kegiatan rutin ke sekolah-sekolah diSemarang sebagai media pendidikan bagi mereka2. Materi- materi jurnalistik yang disampaikan disesuaikan dengan kondisi saatini3. Strategi roadshow ke sekolah sekolah dapat diterapkan guna menjaring danmendekatkan target audien dengan Ekpresi Suara Remaja4. Konsep yang sama dapat diterapkan di event selanjutnya dengan penyesuaiankondisi sekitar5. Acara ini bisa menjadi tempat pemberian saran untuk Ekpresi Suara Remajadari para audien, sehingga pihak Ekpresi Suara Remaja dapat berbenah kearah yang lebih baik6. Sebaiknya tetap menjalin komunikasi dengan mereka secara berkelanjutanmeski event telah usai untuk mendekatkan brand dengan TADAFTAR PUSTAKAHaryati,dkk. 2007. Jurnal Observasi: Mengamati Fenomena Citizen Journalism / Vol. 5, No1. Bandung : Simbiosa Rekatama Media.Soemanagara, Rd, 2006, Strategic Marketing Communication: Konsep Strategic danTerapan, Bandung: Alfabeta .Shimp, Terence A, 2003, Periklanan dan Promosi : Aspek Tambahan KomunikasiPemasaran Terpadu, edisi ke 5, Jakarta: Erlangga.Aaker, David, 1991, Managing Brand Equity: Capitalizing on the Value of a Brand Name.New York: Free Press.Nursito, 1999, Membina Majalah Dinding, Bandung: Adicita Karya Nusa.ABSTRAKSISeminar dan Wokshop Jurnalistik Anak SMA “Yournalism”Masyarakat Indonesia saat ini merupakan masyarakat informasi yangmenghabiskan sebagian besar waktunya dengan media komunikasi dan menggunakanteknologi informasi seperti ponsel dan komputer maupun laptop. Mereka akan mudahmelakukan pertukaran data informasi karena saat ini,mengingat konvergensi mediatidak hanya mengubah basis data dan medium yang menyalurkannya, tetapi jugasecara keseluruhan mengubah proses produksi, pengolahan, dan distribusi informasisehingga media-media seperti koran, radio, televisi, dan lain-lain akan berubahdengan bentuk-bentuk media baru yang sepenuhnya digital, seperti world wide web,dan internet.Setiap orang bisa merencanakan liputan, meliput, menuliskan hasil liputan,mengedit tulisan, memuatnya dan menyebarkan di berbagai situs internet. Artinyasemua orang sebenarnya bisa menjadi “jurnalis dadakan”, meski begitu tentu sajakualitas jurnalistik mereka masih bisa kita perdebatkan.Melihat kenyataan yang seperti itu, perlu kiranya Suara Merdeka memberikanpendidikan jurnalistik sejak dini. Kegunaannya untuk mempersiapkan para calongenerasi jurnalis muda untuk memasuki dunia jurnalis profesional mendatang di eracitizen journalism. Di samping itu juga bermanfaat bagi berkembangnya madingsekolah ke arah digital sebagai tempat media penyaluran bakat siswa dibidangpenulisan, penyaluran minat dibidang yang sama, dan melatih siswa-siswi SMA atauSMK untuk tampil berani dan kritis dalam berbagai kondisi serta menjadikan RubrikEkspresi Suara Remaja sebagai penyaluran ide maupun hasil karya mereka.Pemberian materi jurnalistik terbagi menjadi dalam 4 bagian. Bagian pertamatentang materi berita, bagian kedua materi reporting, bagian ketiga desain layout, danbagian keempat lomba e-mading sebagai salah satu cara sejauh mana merekamemahami dunia jurnalistik.Kendala yang ditemui saat kegiatan ini misalnya kurangnya kordinasi diantarasiswa dan padatnya kegiatan sekolah membuat mereka tak sanggup mengumpulkanhasil e-mading mereka. Hanya 4 sekolah dari 9 sekolah yang berhasilmengumpulkannya.Tujuan kegiatan ini adalah memberikan pengetahuan sejak dini tentang duniajurnalistik, mendidik generasi muda agar lebih kritis mengenai persoalan yang terjadidi masyarakat, meminimalisir kehadiran citizen journalism secara instan, menjadikangenerasi muda sebagai genrasi yang aktif bukan pasif secara informasi, danmenjadikan Rubrik Ekspresi Suara Remaja sebagai wadah aspirasi, ide dan hasilkarya mereka.Kata kunci: Jurnalistik, e-mading, Ekspresi Suara RemajaABSTRACTSeminar and Workshop Journalism for Senior High School “Yournalism”Indonesian society is an information society that spends most of his time withthe media communication and use of information technology such as mobile phonesand laptop computers as well. They will be easy to exchange data information fornow, considering the convergence of media is not only changing the base data anddistribute it medium, but also change the overall production process, processing, anddistribution of information to the media such as newspapers, radio, television, andother etc. will change with the new forms of media are fully digital, such as the WorldWide Web, and the Internet.Each person can plan coverage, cover, write the coverage, editing posts, loadand deploy on various Internet sites. It means that everyone can actually be a"journalist impromptu", though of course the quality of journalism so they can still bedebated.See reality as it is, we should bear in Suara Merdeka provides journalismeducation from an early age. Usefulness to prepare candidates for the generation ofyoung journalists entering the world of professional journalists in the upcoming era ofcitizen journalism. In addition, it is also beneficial for the development of schoolMading towards digital media as a distribution of talent in the field of student writing,channeling interests in the same field, and train students for high school or vocationalschool bold and critically in a variety of conditions and to make the Rubric ofEkspresi Suara Remaja become distribution of ideas and the results of their work.Provision of journalistic material is divided into into 4 sections. The first partof the news items, the second part of the material reporting, the third part of thedesign layout, and the fourth part of e-Mading race as one of the ways the extent towhich they understand the world of journalism.Obstacles encountered when these activities such as the lack of coordinationbetween students and school activities to make their denseness could not collect the e-Mading them. Only 4 schools from 9 schools who successfully collect.The purpose of this activity is to provide early knowledge about the world ofjournalism, to educate the younger generation to be more critical about the problemsthat occur in the community, minimizing the presence of citizen journalism in aninstant, making young people as active rather than passive generation of information,and make Rubric of Ekpresi Suara Remaja as container aspirations, ideas and resultsof their work.Keywords: journalism, e-mading, ekpresi Suara Remaja
Representasi Black Campaign Dalam Spanduk Kampanye Pilkada Jakarta 2012 Anugerah, Sony Kusuma; Santosa, Hedi Pudjo; Rahardjo, Turnomo
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.296 KB)

Abstract

Representasi Black Campaign Dalam Spanduk Kampanye Pilkada Jakarta2012SkripsiDisusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikanPendidikan Strata 1Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikUniversitas DiponegoroPenyusunNama : Sony Kusuma AnugerahNim : D2C008103JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2013Nama : Sony Kusuma AnugerahNIM : D2C008103Judul : Representasi Black Campaign Dalam Spanduk Kampanye Pilkada Jakarta 2012AbstrakKampanye merupakan salah satu kegiatan rutin yang dilakukan, saat menjelang suatupemilihan umum. Berbagai cara dilakukan dalam kampanye untuk menarik simpati masyarakat.Banyak cara berkampaye yang dilakukan tim sukses dari partai atau calon untuk bisamemperoleh dukungan dari masyrakat, bahkan kampanye hitam. Kampanye hitam dianggapmampu membentuk opini publik untuk menciptakan citra buruk pihak lawan politik. Sepertiyang terjadi pada Pilkada Jakarta 2012 kemarin, banyaknya temuan pelanggaran terutama dalamkaitan kampanye hitam. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan bentuk kampanye hitamyang terjadi pada Pilkada Jakarta 2012 melalui konstruksi makna pada salah satu mediaberkampanye, yaitu spanduk.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan analisissemiotika untuk menganalisis objek penelitian. Teknik analisis yang dilakukan denganmenggunakan teori semiotika Roland Barthes. Teks atau kata dalam spanduk diuraikan dalamdua tahap untuk mencari makna-makna yang terkandung didalamnya. Tahap pertamapembahasan kata melalui makna denotasi, dan tahap kedua pembahasan kata melalui maknakonotasi yang selanjutnya akan didapat mitos yang berkembang dimasyarakat.Kata-kata pada teks dalam spanduk penelitian ini, merupakan sesuatu yang ambigu.Dibutuhkan kedalaman makna yang dilanjutkan dengan mengkonstruksikan makna, sehinggaakan didapat suatu cerita atau fenomena yang terjadi didalamnya. Black campaign merupakansalah satu bentuk kegiatan propaganda politik, yang berkonotasi negatif dalam penilaian publik.Black campaign bertujuan untuk membentuk opini publik untuk citra yang buruk terhadap lawanpolitiknya.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam spanduk kampanye Pilkada Jakarta ini,Black campaign digunakan sebagai kampanye yang menyerang sisi pribadi, kebijakan-kebijakanpolitik, dan dilakukan oleh pelaku yang anonim.Kata kunci: Representasi, Black Campaign, Kampanye.Name : Sony Kusuma AnugerahNIM : D2C008103Title : Black Campaign Representation Inside The Banner Campaign From Elections ofRegional Heads Jakarta 2012AbstractThe campaign is one of the routine activities performed, the eve of a general election.Various methods are used in a campaign to draw public sympathy. Many ways to conducted asuccessful team of the party or candidate to earn the support of the community, even blackcampaign. Black campaign is considered capable of forming public opinion to create a badimage of the political opposition. As happened in Jakarta 2012 elections yesterday, the numberof findings of violations, especially in relation to black campaign. This research aims to describethe shape of a black campaign that occurred in Jakarta Election 2012 through the construction ofmeaning in one of the media campaign, the banner.This research used a qualitative approach using semiotic analysis to analyze the researchobject. Engineering analysis performed using Roland Barthes' semiotic theory. Text or words inthe banner outlined in two stages to find the meanings contained therein. The first stage of thediscussion of the meaning of words through denotation, and the second stage through thediscussion of connotations which would then be obtained myths that developed in thecommunity.The words on the banner text in this research, is something that is ambiguous. It takes adepth of meaning that continue to construct meaning, to get up a story or phenomena that occurtherein. Black campaign is one form of political propaganda activities, which is a negativeconnotation in the public assessment. Black campaign aims to shape public opinion to a badimage against his political opponents.Results of this research indicate that in the Jakarta election campaign banners, Blackcampaign is used as a campaign attacking the personal, political policies, and conducted by theanonymous perpetrator.Key Word: Representation, Black Campaign, Campaign.PENDAHULUANIndonesia telah menjadi salah satu negara yang menganut demokrasi sebagai sistempemerintahannya. Salah satu instrumen terbesar dari sistem demokrasi di Indonesia adalahadanya proses pemilu. Pada tahun 2005, Indonesia mengalami kemajuan proses demokrasikarena rakyat Indonesia mendapatkan haknya untuk memilih langsung calon pemimpin wilayahatau daerahnya melalui PILKADA, yang pada awalnya Kepala Daerah dicalonkan oleh DPRDdan dipilih atau diputuskan oleh Presiden.Kegiatan Pilkada tentu saja tidak lepas dari kegiatan berkampanye. Charles U Larson(dalam Ruslan, 2008:25-26) membagi jenis kampanye menjadi tiga jenis, yaitu kegiatan menjualproduk, gagasan perubahan sosial, dan kandidat. Kampanye kandidat merupakan kampanye yangberorientasi bagi calon untuk kepentingan kampanye politik. Hal ini tentu saja berkaitan untukmendapatkan dukungan dari pemilih atau pemegang hak suara. Namun pada kenyataannyasekarang ini banyak kegiatan kampanye yang dilakukan untuk menyerang lawan politiknya(attacking campaign).Kampanye menyerang terdapat dua jenis kampanye, yaitu black campain dan negativecampaign. Black Campaign merupakan model kampanye dengan cara membuat suatu isu ataugosip yang ditujukan kepada pihak lawan, tanpa didukung fakta atau bukti yang jelas (fitnah).Sedangkan Negative Campaign merupakan model kampanye yang lebih menonjolkan dari segikekurangan lawan politik, dan dari apa yang telah disampaikan mempunyai bukti atau fakta yangjelas.Black campaign terlihat seperti dibawah ini yang terdapat pada spanduk kampanyePilkada untuk menjatuhkan salah satu pasangan Cagub dan Cawagub Jokowi-Ahok.Gambar 1.1 Spanduk Pilkada 2012Gambar 1.2 Spanduk Pilkada 2012Pada dasarnya, black campaign merupakan kampanye yang terselubung. Pelaku blackcampaign biasanya juga tidak memperlihatkan identitas seseorang ataupun kelompok politik. Isidari black campaign pun tidak irasional dan tidak dapat dibahas secara terbuka, sehinggakebanyakan khalayak akan menerima isi kampanye ini secara “bulat”, tanpa memproses dari isikampanye hitam ini. Berdasarkan hal tersebut diatas peneliti tertarik untuk meneliti Bagaimanabentuk black campaign melalui konstruksi makna dalam spanduk kampanye Pilkada Jakarta2012?.ISIPenelitian ini menggunakan perspektif interpretif yaitu untuk mencari sebuahpemahaman bagaimana kita membentuk dunia pemaknaan melalui interaksi dan bagaimana kitaberperilaku terhadap dunia yang kita bentuk itu. (Ardianto & Q-Anees,2007:124-150Dalam penelitian ini akan dibahas mengenai makna suatu tanda dengan menggunakananalisis semiotika yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis semiotika Roland Barthes.Barthes menggunakan istilah konotasi (makna ganda) dan denotasi (makna tunggal) yangmenunjukan tingkatan-tingkatan makna. Maka denotasi adalah tingkat pertama yang bersifatobjektif yang dapat diberikan.Jadi dalam konsep Barthes, tanda konotatif tidak sekedar memiliki makna tambahan,namun juga mengandung makna kedua bagi tanda denotatif yang melandasi kebenarannya.Barthes menyebut denotasi, yaitu makna paling nyata dari tanda. Konotasi adalah istilah yangdigunakan barthes untuk menunjukkan signifikasi tahap kedua. Tanda konotatif menggambarkaninteraksi yang terjadi ketika tanda bertemu dengan perasaan atau emosi dari pembaca serta nilainilai dari kebudayaannya (Sobur, 2009:128). Signifikasi tahap kedua yang berhubungan denganisi tanda bekerja melalui mitos (myth). Mitos adalah bagaimana kebudayaan menjelaskan ataumemahami beberapa aspek tentang realitas atau gejala alam.Secara denotatif kalimat “Endonesa Tercina” (spanduk 1) merupakan kalimat penegasan,untuk cinta Indonesia namun dengan cara penyampaian yang sedikit kasar atau dengan caramenyindir. Endonesa Tercina berarti bangsa yang tecinta. Spanduk ini sebenarnya bermaksuduntuk membangkitkan kecintaan terhadap bangsa Indonesia namun dengan penyampaian yangberupa sindirianSedangkan spanduk 2 Secara denotatif kalimat “Haram...!!! Orang Kafir MenjadiPemimpin Orang Islam” mempunyai arti berupa himbauan ataupun penegasan larangan bagiyang membacanya. Kata-kata yang dipakai dalam teks ini merupakan kata-kata yang tegas,karena pada akhir kata pertama yaitu “haram” diakhiri dengan tanda seru “!”.Kalimat pada teks spanduk 2 ini merupakan kalimat dengan pesan persuasif. Pesanpersuasif adalah pesan yang berisikan bujukan, yakni mengingatkan kepada khalayak bahwatelah terdapat hukum yang mengatur orang (agama Islam) untuk memilih pemimpinnya.Sedangkan untuk makna konotasi representasi black campaign dalam spanduk EndonesaTercina! (spanduk 1) ini ditujukan kepada calon wakil Gubernur Basuki Tjahaja Purnama atauyang lebih dikenal dengan panggilan Ahok. Spanduk ini bertujuan untuk mempersuasipembacanya agar tidak memilih pasangan Jokowi – Ahok. Ahok yang merupakan orangketurunan Cina, pada dasarnya akan berpihak, menguntungkan, dan lebih mendahulukankaumnya. Latar belakang Ahok yang sebagai pengusaha, juga akan memuluskan pengusahapengusahanon-pribumi untuk mencari keuntungan di kota Jakarta.Sedangkan spanduk 2 ini bertujuan untuk mempersuasi pembacanya agar tidak memilihJokowi sebagai pemimpin (Gubernur) pada Pilkada Jakarta 2012. Spanduk ini mengatakanbahwa Jokowi merupaka sosok orang kafir, hal ini dikarenakan Jokowi merupakan anak dariperkawinan yang berbeda agama yaitu bapak dari Jokowi beragama Islam dan Ibu dari Jokowiberagama Nasrani. Perkawinan berbeda agama terutama bagi seorang muslim sangat terlarangdiajaran agama Islam.PENUTUPBlack campaign menjadi suatu cerminan politik di Indonesia pada saat ini, dimanakampanye dilakukan tidak didasari sesuai dengan undang-undang dan etika yang berlaku.Kampanye merupakan suatu kegiatan dari calon, tim sukses partai atau kelompok-kelompokyang mendukung untuk meyakinkan masyarakat agar mau memilihnya untuk menjabat, denganmenawarkan atau menjanjikan apa yang akan dilakukan dalam program kerjanya. Kampanyeyang positif tidak boleh dilakukan dengan cara menghina seseorang, ras, suku, agama, golongancalon atau peserta pemilu serta menghasut dan mengadu domba perseorangan ataupunmasyarakat.Kenyataan pada saat ini, black campaign bisa menjadi bumerang bagi pihak pengirim isukarena masyarakat akan bersimpati terhadap korban kampanye ini. Gambaran ini tercermindengan terpilihnya pasangan Jokowi-Ahok untuk menjabat sebagai Gubernur dan WakilGubernur dengan banyaknya terpaan black campaign pada diri mereka.KESIMPULANBlack campaign pada spanduk ini, digambarkan sebagai kampanye yang menyerang sisipribadi, dan cenderung tidak ada hubungannya dengan kampanye serta mengesampingkan etikaundang-undang dalam berkampanye, seperti pada pasal 78 ayat 2 dan 3.Black campaign dianggap sebagai salah satu strategi yang jitu untuk menjatuhkan pihaklawan, serta tidak membutuhkan dana yang besar sehingga black campaign sangat mudah untukdilakukan. Orientasi semata-mata hanya untuk kekuasaan, sehingga berbagai cara dilakukan agartujuannya yaitu terpilih dalam pemilu tercapai.DAFTAR PUSTAKAArdianto, Elvinaro, dan Bambang Q-Anees. 2007. Filsafat Ilmu Komunikasi. Bandung:Simbiosa Rekatama MediaBudiardjo, Miriam. 2008. Dasar-dasar Ilmu Politik. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka UtamaBudiman, Kris. 2011. Semiotika Visual – Konsep, Isu, dan Problem Ikonisitas. Yogyakarta :JalasutraEmzir. 2010. Analisis Data : Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta : PT. RajaGrafindoPersadaFiske, John. 1992. Introduction to Communiation Studies. Bandung : Citra Aditya BaktiFiske, John. 2011. Cultural and Communication Studies. Yogyakarta : JalasutraMulyana, Deddy. 2005. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: PT RemajaRosadakaryaNasution, S. 2003. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung : TarsitoRuslan, Rosady. 2008. Kiat dan Strategi Public Relations. Jakarta : PT. RajaGrafindoPersadaSobur, Alex. 2003. Analisis Teks Media : Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, AnalisisSemiotik dan Analisis Framing. Bandung : PT. Remaja RosadakaryaSobur, Alex. 2006. Semiotika Komunikasi. Bandung : PT. Remaja RosdakaryaSunardi, St. 2004. Semiotika Negativa. Yogyakarta : Penerbit Buku Baik YogyakartaVan Zoest, Aart. 1991. Fiksi dan Nonfiksi Dalam Kajian Semiotik. Jakarta : IntermasaWibowo, Indiwan Seto Wahyu. 2011. Semiotika Komunikasi-Aplikasi Praktis BagiPenelitian dan Skripsi Komunikasi. Jakarta : Mitra Wacana MediaLain-lain :Laely Wulandari, S.H., M.Hum. Makalah “Black campaign sebagai tindak pidana politik”Internet :http://megapolitan.kompas.com/read/2012/05/09/12403053/Ini.Jenis.Kampanye.yang.Menyerang.Lawan. (diakses 13 oktober 2012, 16:00)http://id.wikipedia.org/http://abisyakir.wordpress.com/2012/09/17/prediksi-jokowi-menang-di-pilkada-dki-putaran-2/ (diakses 12 februari 2013, 22:08)http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=2319 (diakses 19 februari 2013, 00:51)http://www.merdeka.com/jakarta/tata-pkl-ahok-lirik-pengusaha-pribumi.html (diakses 1 mei2013, 01:00)http://finance.detik.com/read/2013/02/27/144925/2181170/4/ahok-tak-ada-lagi-pengusahadapat-proyek-cuma-karena-kedekatan (diakses 1 mei 2013, 01:10)http://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/13/03/19/mjwfr1-ahokkeberatan-dengan-ump-perusahaan-silakan-minggir (diakses 1 mei 2013, 01:13)http://www.wartamerdeka.com/index.php?option=com_content&view=article&id=2472:waktu-ahok-bupati-belitung-timur-banyak-hajikan-guru-ngaji&catid=77:dki-jakarta&Itemid=420(diakses 1 mei 2013, 01:23)http://www.republika.co.id/berita/menuju-jakarta-1/news/12/08/08/m8g2ta-fitnah-ibujokowi-rhoma-terancam-dipidanakan (diakses 23 april 2013, 18:35)http://ahok.org/berita/news/ini-komentar-ibunda-jokowi-soal-isu-sara/ (diakses 27 april 2013,00.25)
Representasi Budaya Popular dalam Video Parodi Jokowi-Ahok di Youtube Selama Pemilukada DKI Jakarta 2012 Amalia Ayu Wulansari; Triyono Lukmantoro; Nurul Hasfi
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (772.502 KB)

Abstract

Representation of Popular Culture in Jokowi-Ahok's Video Parodyson Youtube During Pemilukada DKI Jakarta 2012AbstractPemilukada DKI Jakarta 2012 was marked by the rise of videos that related toGovernor and Vice Governor candidates of DKI Jakarta 2012 on internet mediaYoutube, such as videos which is purposely made for campaign, or videos withSARA (etnic, religion, race and inter-group) issue, that attack one of the pair'scabdidates. The interesting point is videos made by partisipants and volunteerswho support one of the pair's candidates.This research wanted to see how popular culture's representation inJokowi-Ahok's videos on Youtube during Pemilukada DKI Jakarta 2012, usingdefinition consept of popular culture by Storey, namely popular culture as a formof resistance from the oppressed or the minorities to the ruler or the majority.Codes of televition by Fiske was used as a method to analyze three videos as thesource of research data, by waching and reading those videos.The result showed that popular culture being represented in the threevideos of Jokowi-Ahok through songs, music, and videos that parodied K-pop andBritish boyband One Direction, which is became an attraction for the public.Those videos more likely used the fame that has been owned by the songs, music,and videos that being parodied in Jokowi-Ahok's vidoes and turn popular cultureinto a medium and tool for community to express their opinion and politicalaspirations.Keywords: Representation, popular culture, Youtube, Codes of televisionviiiRepresentasi Budaya Popular Dalam Video Parodi Jokowi-Ahokdi Youtube Selama Pemilukada DKI Jakarta 2012AbstraksiPemilukada DKI Jakarta 2012 diwarnai dengan munculnya video-video terkaitcalon Gubernur dan calon Wakil Gubernur DKI Jakarta di media internetYoutube, seperti video yang memang dibuat untuk kepentingan kampanye, atauvideo yang berbau isu-isu SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan) yangmenyerang salah satu pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur. Yangmenarik perhatian adalah video yang dibuat oleh partisipan dan relawan yangmendukung salah satu pasangan calon.Penelitian ini ingin melihat bagaimana representasi budaya popular dalamvideo Jokowi-Ahok di Youtube selama Pemilukada DKI Jakarta 2012,menggunakan konsep definisi budaya popular dari Storey, yaitu budaya popularsebagai suatu bentuk perlawanan kaum minoritas atau tertindas kepada kaummayoritas atau penguasa. Codes of television dari Fiske digunakan sebagaimetode untuk mengurai tiga video yang menjadi sumber data penelitian, denganmengamati dan membaca tiga video Jokowi-Ahok tersebut.Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya popular direpresentasikandalam tiga video Jokowi-Ahok melalui penggunaan lagu, musik dan video yangmemarodikan K-pop dan boyband Inggris One Direction, yang menjadi suatudaya tarik bagi masyarakat. Video-video tersebut seperti menggunakan ketenaranyang telah dimiliki oleh lagu, musik, dan video yang diparodikan dalam videoJokowi-Ahok dan mengubah budaya popular menjadi suatu media dan alat bagimasyarakat dalam menyampaikan aspirasi dan pendapat terkait politik.Keywords: Representasi, Budaya popular, Youtube, Codes of televisionixLatar BelakangSejak Orde Baru, peran musik dan lagu pada pemilihan umum hanya sebatassebagai “penggembira”, tidak kurang tidak lebih. Musik atau lagu digunakansebagai penarik massa pada kampanye-kampanye yang dilakukan tiga partai saatitu. Dengan mengundang penyanyi pop dan penyanyi dangdut ternama, baikkaliber nasional atau lokal, sudah menjadi jaminan akan mendatangkan banyakmassa.Pada akhir tahun 2012, digelar pemilukada yang dapat dikatakanmengundang perhatian hampir seluruh masyarakat Indonesia yaitu PemilukadaDKI Jakarta untuk Gubernur dan Wakil Gubernur yang berakhir pada bulanOktober 2012 dengan terpilihnya Joko Widodo sebagai Gubernur DKI Jakartadidampingi Basuki Tjahaja Purnama sebagai Wakil Gubernur DKI Jakartaperiode 2012-2017. Selama masa kampanye Pemilukada DKI Jakarta, banyak halhalbaru dalam pelaksanaannya, seperti penggunaan media internet Youtubedengan video-videonya dan isu-isu yang menyebar terkait para kandidat, termasukGubernur DKI Jakarta saat itu, Fauzi Bowo yang mencalonkan diri kembali untukperiode kedua sebagai Gubernur DKI Jakarta melawan Jokowi-Ahok.Rumusan MasalahPemilukada DKI Jakarta 2012 adalah salah satu bukti perkembangan budayapopular sebagai alat baru dalam politik Indonesia, dengan penggunaan musik,xlagu, dan video yang sedang trend saat ini, serta penggunakan media internet,salah satunya adalah website video terbesar Youtube.Berdasarkan perkembangan budaya popular di Indonesia, munculpertanyaan mengenai bagaimana representasi budaya popular digunakan sebagaisalah satu media dan alat dalam berpolitik, melalui video parodi Jokowi-Ahok diYoutube selama masa kampanye Pemilukada DKI Jakarta 2012?TujuanUntuk mendeskripsikan representasi budaya popular digunakan sebagai salah satumedia dan alat dalam berpolitik, melalui video parodi Jokowi-Ahok di Youtubeselama masa kampanye Pemilukada DKI Jakarta 2012.Kerangka PemikiranPenelitian ini menggunakan definisi representasi dengan pendekatan kontruktivis,yaitu representasi adalah suatu kerja menggunakan obyek dan efek, makna tidaktergantung kualitas material dari tanda, melainkan dari fungsi simbol tandatersebut. Konsep definisi budaya popular dari Storey juga digunakan untukmenjelaskan budaya popular, yaitu budaya popular merupakan bentuk perlawananantara grup minoritas atau subordinate dan kekuatan dari grup dominan.xiMetodologiPenelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif, dengan menggunakananalisis semiotik. Tiga video Jokowi-Ahok diuraikan menggunakan metode codesof television Fiske, dengan analisis sintagmatik, yaitu level realitas dan levelrepresentasi, serta analisis paradigmatik dengan level ideologi.Hasil PenelitianPada level realitas dan level representasi, terlihat tiga video Jokowi-Ahokmenggambarkan warga Jakarta dengan pengaruh budaya popular, seperti terlihatpada kostum yang bergaya K-pop, video yang memarodikan video klip KoreaSelatan Gangnam Style dan penggunaan lagu K-pop Bigbang dan boyband InggrisOne Diretion.Level ideologi menunjukkan bagaimana budaya popular digunakansebagai media dan alat dalam menyampaikan aspisari, pendapat, atau kritik yangberkaitan dengan politik.Kesimpulan1. Bentuk budaya popular direpresentasikan dalam dua video, yaitu video 1:Jokowi Basuki (Gangnam Style n Big Bang) Parody, di mana dalam videotersebut, digunakan lagu K-pop Bigbang ‘Fantastic Baby’ dengan videoxiiyang memarodikan video klip rapper Korea, PSY, ‘Gangnam Style’. Videokedua yang merepresentasikan budaya popular adalah video 3: JOKOWIDAN BASUKI – what makes you beautiful by one direction [PARODY].Video ini menggunakan lagu dari boyband Inggris yang sedang naik daun,One Direction ‘what makes you beautiful’.2. Dalam video 2: Jokowi dan Foke – TAKOTAK MISKUMIS byCAMEOProject feat. Yosi Project Pop, Yosi mengunakan lagu dan video,serta Youtube sebagai media untuk menyoroti masalah isu SARA yangmuncul pada Pemilukada DKI Jakarta. Budaya popular digunakan Yosisebagai media untuk menyampaikan aspirasi, pendapat, dan protes tentangisu SARA yang mewarnai pemilukada tersebut.Saran1. Implikasi TeoritisPenelitian ini berusaha untuk memberi gagasan pemikiran dan kontribusidalam ragam penelitian mengenai representasi budaya popular sesuaidengan salah satu konsep definisi Storey, yaitu budaya popular digunakansebagai suatu bentuk perlawanan kaum tertindas atau lemah, dalam hal iniadalah masyarakat umum, terhadap kaum penguasa yaitu pemerintah danpolitikus.xiii2. Implikasi PraktisDiharapkan penelitian ini dapat membuka pemahaman bagi masyarakat,lembaga pemerintah, partai politik, dan politikus agar dapat menggunakanbudaya popular dan media internet secara lebih baik sebagai salah satusarana dalam mengemukakan aspirasi, pendapat, dan pemikiran terkait isuisupolitik.3. Implikasi SosialWarga masyarakat agar lebih aktif dalam dunia politik melaluipenyampaian pendapat dan aspirasi, yang sekarang dapat dilakukandengan mudah melalui media internet. Dengan lebih banyak masyarakatyang melakukan penilaian dan pengawasan terhadap jalannyapemerintahan, pemerintah, partai politik, dan politikus juga akanmendengar, mengerti, dan memahami keinginan dan aspirasi wargamasyarakat.xivDAFTAR PUSTAKABerger, Arthur. A. (2010). The Objects of Affection Semiotics and Consumer Culture. NewYork: Palgrave MacmillanCartoni, Lorenzo and Tardini, Stefano. (2006). Internet. New York: RoutledgeCogan, Bryan and Kelso, Tony. (2009). Encyclopedia of Politics, The Media and PopularCulture. Santa Barbara, California: Greenwood PressFiske, John. (2006). Understanding Popular Culture. In a Harold E. Hinds, Jr (Ed.), PopularCulture Theory and Methodology. A Basic Introduction ( pg. 118). Wisconsin:The University of Wisconsin PressFiske, John. (1987). Television Culture. New York: RoutledgeFiske, John and Hartley, John. (2003). The Signs of Television. In Fiske, John & Hartley,John (eds). Reading Television (pp. 23-40). London & New York: RoutledgeFlores, Juan. (2000). Pueblo Pueblo: Popular Culture in Time. In Raiford Guins & OmayraZ. Cruz (eds). Popular Culture: A Reader (pg. 72-81). London: Sage PublicationsGreen, Lelia. (2010). The Internet. An Introduction to New Media. Oxford, New York:BergHall, Stuart. (1997). Representations: Cultural Representations and Signifiying Practises.London: Sage PublicationsxvHediger, Vinzenz. (2009). YouTube and the Aesthetics of Political Accountability. InSnickars, Pelle and Vonderau, Patrick (eds). The Youtube Reader (pg.252-263).Stockholm, Swedia: MediehistorisktHermes, Joke. (2005). Re-reading Popular Culture. Blackwell Publishing LtdJensen, Klaus Bruhn. (2011). New Media, Old Methods – Internet Methodologies and theOnline/Offline Divide. In Consalvo, Mia and Ess, Charles (eds). The Handbook ofInternet Studies (pg. 43-56). UK: Wiley-Blackwell PublishingJunaedi, Fajar. (2009). Menelanjangi Film Indonesia. Yogyakarta: Lingkar MediaKorean Culture and Information Service. (2011). The Korean Wave: A New Pop CulturePhenomenon. Republik Korea Selatan: Korean Culture and Information Service,Ministry of Culture, Sports and TourismMacdonald, Dwight. (1957). A Theory of mass Culture. In Raiford Guins & Omayra Z. Cruz(eds). Popular Culture: A Reader (pg. 39-46). London: Sage PublicationsPease, Allan. (1981). Body Language. London: Sheldon PressShidu, Gretchen Luchsinger dan Meena, Ryth. (2007). Electoral Financing to AdvanceWomen’s Political Participation: A Guide for UNDP Support. New York: UnitedNation Development ProgrammeSnickars, Pelle and Vonderau, Patrick. (2009). Introduction. In Snickars, Pelle andVonderau, Patrick (eds). The Youtube Reader (pg. 9-19). Stockholm, Swedia:MediehistorisktStorey, John. (2003). Inventing Popular Culture. From Folklore to Globalization. USA, UK,Australia, German: Blackwell Publishing LtdxviStorey, John. (2009). Cultural Theory and Popular Culture: An Introduction. UK: LongmanPublishing GroupStromer-Galley, Jennifer and Wichowski, Alexis. Political Discussion Online. In Consalvo,Mia & Ess, Charles (eds). The Handbook of Internet Studies (pg. 168-181). UK:Wiley-Blackwell PublishingSuhandinata , Justian . (2010). WNI Tionghoa dalam Stabilitas Ekonomi dan Politik diIndonesia. Jakarta : Gramedia Pustaka UtamaVivian, John. (2008). Teori Komunikasi Massa, Edisi Kedelapan. Jakarta: KencanaWeaver, John A. (2005). Popular Culture Primer. New York: Peter Lang Publishing LtdWebb, Jen. (2009). Understanding Representations. London and California: SagePublicationsWillcox, David. R. (2005). Propaganda, The Press, and Conflict. The Gulf war and Cosovo.New York: RoutlegdeWilliams, Raymond. (1976). ’Culture and Masses’. In Raiford Guins & Omayra Z. Cruz(eds). Popular Culture: A Reader (pp. 25-32). London: Sage PublicationsJURNALCathey, Paul Eben. (2009). Understanding Propaganda: Noam Chomsky and TheInstitutional of Analysis of PowerxviiHepple, Bob. (2010). The New Single Equality Act in Britain. The Equal Rights Review, vol.Five:11-24Kim, Eun Mee dan Ryoo, Ji won. (2007). South Korean Culture Goes Global:K-Pop and the Korean Wave. Korean Social Science Journal, XXXIV No.1:117-152Nilges, Thorsten. (2005). Gender Inequality in Politics. Human Rights: A GenderPerspective. Mozaik 2005/1:5-7Situmorang, James R. (2012). Pemanfaatan Internet Sebagai New Media Dalam BidangPolitik, Bisnis, Pendidikan Dan Sosial Budaya. Jurnal Administrasi Bisnis, Vol.8,No.1: hal. 73–87, (ISSN:0216–1249) Center for Business Studies. FISIP – UnparSUMBER INTERNETAnarchy. oxforddictionaries.com. Diakses Juni 27, 2013, darihttp://oxforddictionaries.com/definition/english/anarchyArthur, Hendra Nick. Pilkada Sulsel- Ribuan pendukung IA joged dangdut di KPU.(2012, September 14). Bisnis-KTI.COM. Diakses Desember 14, 2012, darihttp://www.bisnis-kti.com/index.php/2012/09/pilkada-sulsel-ribuan-pendukungia-joget-dangdut-di-kpu/Asril, Sabrina. Beredar, Video Foke Sindir Jokowi di Pengungsian. (2012, Agustus 9).KOMPAS.COM. Diakses Desember 12, 2012, darihttp://megapolitan.kompas.com/read/2012/08/09/07190193/Beredar.Video.Foke.Sindir.Jokowi.di.PengungsianCain, Helena. Definition of Casual Clothing. eHow.com. Diakses Juni 21, 2013, darihttp://www.ehow.com/about_6790682_definition-casual-clothing.htmlxviiiCamera shots angles and movements, lighting, cinematography and mise en sceen.Diakses Juni 15, 2013, dari http://www.skwirk.com.au/p-c_s-54_u-251_t-647_c-2411/camera-shots-angles-and-movement-lighting-cinematography-andmise-en-scene/nsw/camera-shots-angles-and-movement-lightingcinematography-and-mise-en-scene/skills-by-text-type-film/film-overviewDasar Hukum Penyelenggaraan PILKADA. (n.d). www.depdagri.go.id. DiaksesDesember 4, 2012, dari http://www.depdagri.go.id/pilkadaEtab. Plaid. (2005, Oktober 12). Urbandictionary.com. Diakses Juli 3, 2013, darihttp://www.urbandictionary.com/define.php?term=plaidFisher, Max. Gangnam Style, Dissected: The Subversive Message Within South Korea'sMusic Video Sensation. (2012, Agustus 23). theatlantic.com. Diakses pada Juli8, 2013, darihttp://www.theatlantic.com/international/archive/2012/08/gangnamstyle-dissected-the-subversive-message-within-south-koreas-music-videosensation/261462/Jokowi-Foke bertarung lewat video di Youtube. (2012, Agustus 27).METROTVNEWS.COM. Diakses Desember 12, 2012, darihttp://www.metrotvnews.com/read/news/2012/08/27/103613/Jokowi-Foke-Bertarung-Lewat-Video-Klip-diKurniawan, Wahyu. Pilkada DKI: Dinilai ceramah SARA, Rhoma Irama terancampidana. (2012, Agustus 1). SOLOPOS.COM. Diakses Desember 10, 2012, darihttp://www.solopos.com/2012/08/01/pilkada-dki-dinilai-ceramah-sara-rhomairama-terancam-pidana-206442Kurniawan, Ranu Ario. Masih Sedikit, Politisi yang Gunakan Social Media. (2013, Mei 11).Timlo.net. Diakses Mei 23, 2013, darihttp://www.timlo.net/baca/70812/masih-sedikit-politisi-yang-gunakan-sosialmedia/Lizza, Ryan. The Youtube Election. (2006, Agaustus 20). NewYorkTimes.com. DiaksesNovember, 27 2012. darihttp://www.nytimes.com/2006/08/20/weekinreview/20lizza.html?pagewanted=all&_r=0xixMashable. Orang suka komentar pedas politik di social media. (2012, November 6).Diakses Mei 18, 2013, darihttp://ictwatch.com/internetsehat/2012/11/06/orang-suka-komentar-pedaspolitik-di-social-media/Masykur, Ahwalian. Beredar video parodi musik Jokowi sindir Foke. (2012, Agustus 29).KETITIK.net. Diakses Desember 12, 2012, darihttp://www.ketitik.net/2012/08/29/4611/beredar-video-parodi-musik-jokowisindir-foke/Mecca, Zaskia. Video Koboy China Pimpin Jakarta. (2012, Agustus 24). Diakses Maret 23,2013, dari http://milanistaindonesia.blogspot.com/2012/08/video-koboychina-pimpin-jakarta-video.htmlMiharjo, Anton. Pertempuran Pilkada Bali di Youtube. (2013, Mei 14). Kompasiana.com.Diakses Mei 23, 2013, darihttp://politik.kompasiana.com/2013/05/14/pertempuran-pilkada-bali-diyoutube-555884.htmlNahyudi. Dunia maya ramai dengan kampanye Foke dan Jokowi. (2012, Agustus 29).LIPUTAN6.COM. Diakses Desember 12, 2012, darihttp://news.liputan6.com/read/433129/dunia-maya-ramai-dengan-kampanyefoke-dan-jokowiNouval, Alvin. Jejaring Sosial, Media Baru Unutk Berpolitik. (2013, April 26). Merdeka.Com. Diakses Mei 18, 2013, dari http://www.merdeka.com/teknologi/jejaringsosial-media-baru-untuk-berpolitik.htmlParody. oxforddictionaries.com. Diakses Juni 27, 2013, darihttp://oxforddictionaries.com/definition/english/parodyRosyid, Ikhsan. Goyang Ngebor, Goyang Gergaji dan Dangdut Koplo Pantura Jatim VsJanji Politik dalam Kampanye Parpol. (2011, Oktober 25). Diakses April 10,2013, dari http://ikhsan_history-fib.web.unair.ac.id/artikel_detail-36006-Mind%20and%20Think%20-Goyang%20Ngebor,%20Goyang%20Gergaji,%20dan%20Dangdut%20Koplo%20Pantura%20Jatim%20vs%20Janji%20Politik%20dalam%20Kampanye%20Parpol.htmlRustandi, Dudi. Kekuatan media jejaring sosial. (2013, April 28). Kompasiana. com.Diakses Mei 18, 2013, darihttp://media.kompasiana.com/buku/2013/04/28/kekuatan-media-jejaringsosial-550924.htmlxxRp. 15 Trilyun dan Pandangan Negarawan Inul. (2004, Maret 4). Diakses April 10, 2013,dari http://pemilu2004.goblogmedia.com/rp-15-trilyun-dan-pandangannegarawan-inul.htmlSAYKOJI Buat Lagu Bertema Kampanye Damai Pemilu 2009. (2009, Februari 23).ekampanyedamaipemiluindonesia2009.blogspot.com. Diakses Mei 12, 2013,darihttp://ekampanyedamaipemiluindonesia2009.blogspot.com/2009/02/saykojibuat-lagu-bertema-kampanye.htmlSchwab, Nikki. In Obama-McCain Race, Youtube Becaome a Serious Battleground forPresidential Politics. (2008, November 7). U.S NEWS.com. Diakses November27, 2013, dari http://www.usnews.com/news/campaign-2008/articles/2008/11/07/in-obama-mccain-race-youtube-became-a-seriousbattleground-for-presidential-politicsSteinhauser, Paul. The Youtube-ification of Politics: Candidates losing control. (2007, July18). CNN.com. Diakses November, 27 2012. dari http://articles.cnn.com/2007-07-18/politics/youtube.effect_1_youtube-video-video-sharing-web-sitemoments?_s=PM:POLITICSSwastika, I Putu Agus. Internet, Social Media dan Pilkada. (2013, April 9). Primakara.com.Diakses Mei 23, 2013, dari http://www.primakara.com/?content=detailberita&kode=19Tren Fashion ala Gangnam Style. (2012, September 27). Vemale.com. Diakses Juni 15,2013, dari http://www.vemale.com/fashion/tips-and-tricks/15562-tren-fashionala-gangnam-style.htmlVirdhani, Marieska Harya. Makna baju kotak-kotak bagi pasangan Jokowi-Ahok. (2012,Maret 29). Okezone.com. Diakses Juli 3, 2013, darihttp://jakarta.okezone.com/read/2012/03/29/505/602087/makna-baju-kotakkotak-bagi-pasangan-jokowi-ahokxxiVena, Jocelyn. (2012, Maret 14). The Wanted Vs. One Direction: A Boy Band CheatSheet. MTV News breaks down the differences between the two groupsresponsible for 2012's British Invasion. MTV.com. Diakses pada Juli 10, 2012,dari http://www.mtv.com/news/articles/1681029/the-wanted-onedirection-boy-bands.jhtmlWijaya, M Akbar. Jejaring sosial mudahkan politikus serap aspirasi rakyat. (2013, April15). Republika.co.id. Diakses Mei 18, 2013, darihttp://www.republika.co.id/berita/nasional/politik/13/04/15/mlave8-jejaringsosial-mudahkan-politikus-serap-aspirasi-rakyat
PENGELOLAAN KONFLIK YANG BERSUMBER PADA PRASANGKA SOSIAL (KASUS SUAMI LEBIH MUDA-ISTERI LEBIH TUA) ROBBIANTO ROBBIANTO; Sri Budi Lestari; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.323 KB)

Abstract

ABSTRAKJUDUL : PENGELOLAAN KONFLIK YANG BERSUMBER PADAPRASANGKA SOSIAL (KASUS SUAMI LEBIH MUDA-ISTERILEBIH TUA)NAMA : ROBBIANTONIM : D2C007076Fenomena perkawinan suami lebih muda-isteri lebih tua kini tidak hanya populerdi kalangan para pesohor saja, melainkan juga terjadi di kalangan masyarakat umum.Perbedaan usia kedua pasangan itu pun bervariasi antara satu sampai lima tahun ataulebih dari lima tahun. Konsep nilai tradisional memercayai bahwa usia suami yang lebihtua dipercaya akan membawa pernikahan ke arah yang lebih baik, mengingat suamisudah sepantasnya menjadi sosok pemimpin dan pengayom dalam rumah tangga. Dengandemikian, perkawinan suami lebih muda-isteri lebih tua dianggap telah bertentangan nilaitersebut, sehingga pasangan yang menjalani perkawinan tersebut seringkali dihadapkanpada prasangka sosial yang dapat muncul dari lingkungan di sekitar mereka.Penelitian ini bertujuan untuk melihat bentuk prasangka sosial yang muncul dalamkehidupan pasangan suami lebih muda-isteri lebih tua, bagaimana situasi tersebut dapatmemengaruhi keharmonisan perkawinan mereka, dan bagaimana pengalaman komunikasipasangan tersebut dalam hal mengelola konflik yang sumbernya dari prasangka sosial itu.Teori yang digunakan adalah Relational Dialectics Theory yang dikemukakan olehBaxter dan Montgomery dan didukung konsep pengelolaan konflik K.W Thomas danR.H Kilmann (1974) yang dikenal dengan metode “The Thomas-Kilmann Conflict ModeInstrument (TKI)”. Pengalaman individu ini diungkapkan dengan metode fenomenologiyang mengutamakan pada pengalaman individu secara sadar dalam memaknai suatu hal.Peneliti menggunakan teknik wawancara mendalam terhadap tiga pasang informan yangmemiliki isterinya lebih tua lebih dari leima tahun daripada suami ,serta telah menikahselama lebih dari sepuluh tahun.Hasil dari penelitian ini menunjukkan untuk menghadapi situasi konflik yangpenuh prasangka sosial, pasangan suami lebih muda-isteri lebih tua secara umummenggunakan seringkali menggunakan metode kompetisi dimana mereka tidak terlalumemperdulikan apa kata orang, menghiraukannya, dan tetap fokus pada pendiriannyauntuk memelihara rumah tangga yang harmonis. Selain itu, tidak jarang mereka jugamelakukan metode kompromi dimana mereka berusaha untuk memberikan penjelasandan pengertian kepada orang-orang yang berprasangka. Faktor internal dari pasangansuami-isteri seperti, komitmen, kebutuhan yang saling melengkapi, dan penerimaan diriyang positif juga membantu mereka menjalani kehidupan rumah tangga yang diliputiprasangka sosial. Prasangka sosial setidaknya juga telah membawa dampak bagipasangan suami lebih muda-isteri lebih tua. Dampak negatif akibat prasangka sosialantara lain munculnya tekanan di dalam pikiran maupun batin bagi masing-masingpasangan, perubahan emosi yang terkadang dapat memicu pertengkaran di dalam rumahtangga, dan merenggangnya hubungan mereka dengan orang tua, saudara, atau teman.Sedangkan dampak positifnya, yakni dirasakan adanya penguatan hubungan di antarapasangan suami-isteri tersebut dan meningkatnya sikap supportif satu sama lain.Key words : suami lebih muda-isteri lebih tua, pengelolaan konflik, prasangka sosialABSTRACTTITLE : CONFLICT MANAGEMENT WHICH IS BASED ON SOCIALPREJUDICE (THE CASE OF YOUNGER HUSBAND-OLDERWIFE)NAME : ROBBIANTONIM : D2C007076Nowadays, the phenomenon of younger husband-older wife marriage is not onlypopular among celebrities, but also occurs in the general societies. The couple‟s age isvaried between one to five years or more than five years. The concept of traditionalvalues believe that the age of older man was believed to bring the marriage into a betterdirection, it is considered that men should become a leader and protector in the family.Thus, the younger husband-older wife marriage is considered to have conflicting values,so the couples whom undergoing that marriage are faced with the social prejudice oftenlywhich can arise from the people around them.This study aims to look at forms of social prejudice that arise in the life ofyounger husband-older wife, how that situation may affect the harmony of their marriage,and how the couple‟s experience in managing the conflict that comes from socialperjudice. The theory used is Relational Dialectics by Baxter and Montgomery andsupported by the concept of K.W Thomas and R.H Kilmann (1974) conflict managementwhich is known as “The Thomas-Kilmann Conflict Mode Instrument (TKI)”. Thisindividual experience is expressed by the phenomenological method which priotitizesindividual experience concious of understanding a thing. The researcher used in-depthinterviewing technique to three pairs of informants who have an age gap of more thanfive years older at the wife than her husband, and has been married for more than tenyears.The results of this study indicate that to deal with situations of social conflictprejudiced, The younger husband-older wife couples in general often use competitionmethod in which they are not too concerned with what people say, ignore it, and remainfocused on the establishment to maintain harmonious family. In addition, not infrequentlythey also do the compromising method in which they strive to provide an explanation andunderstanding to the prejudiced people. Internal factors of the husband and wife, like thecommitment, complementary needs, and positive self acceptance also help them to live alife filled with domestic social prejudice. The social prejudice also has impact on at leastyounger husband-older wife couple. The negative impact of the emergence of socialprejudices among others in mind as well as the pressure in the inner for each partner,emotional changes that can sometimes lead to quarrels in the household, and theirrelationship with parents, siblings, or friends become distant. While the positive impactare strengthening the relationship between husband and wife, and the increasingsupportive attitude to each other.Key words : younger husband-older wife, conflict management, social prejudicePENDAHULUANDewasa ini, perkawinan suami lebih muda dan isteri lebih tua semakinbanyak dijumpai di masyarakat. Perbedaan usia diantara mereka pun semakinbervariasi, mulai 1-2 tahun, sampai lebih dari 5-10 tahun. Ungkapan “Cintamemang buta, tak lagi memandang status, strata, apalagi usia.” layaknya tepatuntuk menggambarkan tipe perkawinan semacam ini. Hubungan percintaansemacam ini lebih dulu populer di kalangan selebritas yang kemudian seringkalimenjadi bahan perbincangan umum.Namun perkawinan antara pria lebih muda dengan wanita lebih tua inibukannya tanpa masalah, mereka seringkali dihadapkan pada prasangka sosial,yang wujudnya dapat berupa stigma negatif, gunjingan, cibiran, hinggapenolakan, terlebih lagi jika usia wanita tersebut terlampau lebih tua dari sangpria. Beberapa juga menganggap hal ini sebagai ketidaklaziman atau tabu.Berbagai stereotip secara konsisten juga diasosiasikan pada pasangan suami lebihmuda-isteri lebih tua.Terkait perbandingan usia antara pria dan wanita dalam sebuahperkawinan, sesuai dengan konsep pemikiran tradisional atau nilai yang dipegangdalam masyarakat idealnya adalah seorang pria menikah dengan wanita yanglebih muda. Usia suami yang lebih tua dipercaya akan membawa pernikahan kearah yang lebih baik, mengingat suami sudah sepantasnya menjadi sosokpemimpin, pengayom, dan pembimbing dalam rumah tangga dan keluarga. Halini juga sebenarnya tersirat dalam Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun1974 dimana perbandingan usia dalam suatu perkawinan memperlihatkan bahwausia pria lebih tua daripada wanitanya. Dalam Pasal 7 Ayat 1 disebutkan bahwaperkawinan hanya diizinkan bila pihak pria mencapai umur 19 (sembilan belas)tahun dan pihak wanita sudah mencapai usia 16 (enam belas) tahun.Dalam Teori Relational Dialektika, Baxter dan Montgomery menyatakanbahwa hubungan tidak terdiri atas bagian-bagian yang bersifat linear, melainkanterdiri atas fluktuasi yang terjadi antara keinginan-keinginan yang kontradiktif(West dan Turner, 2008: 236). Dialektis mengacu pada sebuah tekanan antarakekuatan-kekuatan yang berlawanan dalam sebuah sistem (Littlejohn, 2009: 302).Hubungan perkawinan dalam konteks suami lebih muda-istri lebih tuaberasumsi adanya dialektika yang bersifat kontekstual, yakni antara keputusanmereka untuk menikah berseberangan nilai yang dianut masyarakat yangmeyakini bahwa pernikahan biasanya terjalin antara pria yang lebih tua denganwanita yang lebih muda. Dialektika konstektual yang seperti ini, dinamakan olehRawlins (1992) sebagai dialektik antara yang nyata dan yang ideal. Keteganganantara dialektika yang nyata dan yang ideal (real and ideal dialectic) munculketika orang menerima pesan ideal mengenai seperti suatu hubungan itu, danketika melihat hubungan mereka mendiri, mereka harus menghadapi kenyataanyang berlawanan dengan yang ideal tadi.Perkawinan suami lebih muda-isteri lebih tua juga merupakan sebuahrelasi yang memuat unsur konflik di dalamnya. R.D Nye (1973) menilaiperbedaan nilai sebagai salah satu penyebab atau sumber konflik (dalam Rakhmat,2005: 129). Konflik terjadi karena adanya kontroversi. Sikap kontroversi munculkarena masing-masing pihak mempunyai sudut pandang analisis, argumen yangberbeda (Suranto, 2010: 111). Pertentangan nilai yang dianut pasangan suamilebih muda-isteri lebih tua dengan yang dianut masyarakat mengenaiperbandingan usia antara suami-istri yang ideal dalam perkawinan inilah yangmenjadi situasi konflik dalam relasi perkawinan tersebut. Konflik tidak berasaldari internal kedua belah pihak pasangan melainkan antara masing-masingpasangan dengan pihak di luar pasangan tersebut, yakni masyarakat sekitarmereka.Salah satu teori yang dapat digunakan untuk menjelaskan pengelolaankonflik dalam penelitian ini adalah Teori Analisis Transaksional dari Eric Berne(1964) yang ditulis dalam bukunya Games People Play. Analisis transaksionalsebagai pendekatan komunikasi interpersonal, bertujuan mengkaji secaramendalam proses transaksi yang berlangsung dalam proses komunikasi, yaknimengenai siapa saja yang terlibat di dalamnya dan pesan apa yang diperlukan.(Andayani, 2009: 70). Selain itu penelitian ini juga berbasis pada metodepengelolaan konflik dari K.W Thomas dan R.H Kilmann (1974) yang dikenaldengan metode “The Thomas-Kilmann Conflict Mode Instrument (TKI)” tentangpengelolaan konflik yang terdiri atas lima gaya atau cara (five conflict-handlingmodes yang dapat dijabarkan ke dalam dua dimensi yaitu kepedulian terhadap dirisendiri (assertiveness) dan kepedulian terhadap orang lain (cooperativeness).PEMBAHASANUsia merupakan salah satu pertimbangan seorang pria atau wanita dewasadalam memilih pendamping hidup. Di dalam masyarakat pada umumnya terjadiadalah seorang pria yang lebih tua menikah dengan seorang wanita yang lebihmuda darinya. Namun kini fenomena perkawinan antara pria yang lebih mudadengan wanita yang lebih tua juga semakin banyak dijumpai di masyarakatumum, tidak hanya terbatas pada kalangan para pesohor yang lebih dahulupopuler. Perbedaan usia kedua pasangan itu pun bervariasi antara satu sampailima tahun atau lebih dari lima tahun.Konsep nilai tradisional mempercayai bahwa usia suami yang lebih tuadipercaya akan membawa pernikahan ke arah yang lebih baik, mengingat suamisudah sepantasnya menjadi sosok pemimpin dan pengayom dalam rumah tangga.Dengan demikian, perkawinan suami lebih muda-isteri lebih tua dianggap telahbertentangan atau “melanggar” nilai tersebut, sehingga pasangan yang menjalaniperkawinan tersebut seringkali dihadapkan pada prasangka sosial yang dapatmuncul dari lingkungan di sekitar mereka.Penelitian ini menguraikan tentang pengalaman pasangan suami lebihmuda-isteri lebih tua dan prasangka sosial yang mereka hadapi serta bagaimanamereka mengelola situasi tersebut. Penelitian ini melibatkan tiga pasangresponden yang memiliki perbedaan usia di atas lima tahun lebih tua isteridibandingkan suami serta telah menikah selama lebih dari sepuluh tahun. Lewatpenelitian ini peneliti berupaya menggambarkan bagaimana pasangan dengankondisi demikian mengelola konflik eksternal atau dalam hal ini prasangka sosialyang mereka hadapi karena kondisi perkawinan mereka dianggap tidak ideal olehmasyarakat di sekitar mereka. Dengan wawancara mendalam, penelitimengumpulkan informasi tentang kondisi rumah tangga mereka dan metodepengelolaan konflik yang mereka lakukan.Pembahasan tentang penemuan-penemuan penelitian ini menghasilkanbeberapa hal yang dapat disimpulkan dari penelitian yang telah dilaksanakan,yakni:1) Perbedaan usia antara suami dan isteri dalam pasangan suami lebih mudaisterilebih tua tidak menjadi suatu halangan bagi mereka untuk membinahubungan rumah tangga layaknya pasangan–pasangan lain. Walaupun secarabiologis isteri memiliki usia yang jauh lebih tua dibandingkan dengan suami.Namun ketika isteri mampu untuk membuat penampilan mereka lebih muda dansegar maka pasangan pun ini secara kasat mata terlihat layaknya pasanganpasanganpada umumnya. Sifat saling melengkapi yang dimiliki pasangan ini jugamenjadi hal yang mendukung terciptanya suasana rumah tangga yang selaras danbahagia.2) Prasangka sosial yang dialami oleh pasangan suami lebih muda-isteri lebihtua dapat dibedakan menjadi beberapa kategori. Pertama, prasangka sosial inimuncul ke dalam suatu bentuk pembiacaraan negatif (anti-lokusi) mengenaipasangan tersebut. Materi pembicaraan itu pun berkisar pada perbedaan usia diantara pasangan yang terlampau jauh sehingga dianggap tidak ladzim, perbedaanfinansial yang dimiliki pasangan dimana isteri diketahui ternyata lebih mapandibandingkan suami, dan latar belakang isteri yang sebelumnya pernah gagalmenjalin hubungan rumah tangga. Pembicaraan negatif ini juga termasuk didalamnya adalah gurauan yang tidak pada konteksnya dan sifatnya merendahkanatau menyinggung perasaan. Kedua, stereotip secara konsisten diasosiasikankepada masing-masing pasangan, baik suami maupun isteri yang menjalaniperkawinan semacam ini. Salah satunya adalah suami yang lebih muda seringkalimasih dianggap gemar mencari kesenangan pribadi dan kurang dapat diandalkan.Sedangkan isteri yang lebih tua juga masih dipandang akan lebih mendominasi didalam pola komunikasi keluarga tersebut, terlebih lagi jika isteri tersebut jugalebih mapan secara finansial dibandingkan sang suami. Ketiga, prasangka sosialjuga diwujudkan dalam bentuk penolakan dan penghindaran baik secarakomunikasi atau pun tindakan terhadap pasangan suami lebih muda-isteri lebihtua ini.3) Prasangka sosial adalah pengalaman yang kurang menyenangkan bagipasangan suami lebih muda-isteri lebih tua. Dampak negatif yang dialami olehpasangan akibat prasangka sosial tersebut antara lain, munculnya tekanan secarabatin atau pikiran yang dapat membuat pasangan terkadang merasa ragu akanhubungan mereka sendiri dan hampir tenggelam oleh suara-suara dari orang yangberprasangka. Pasangan yang menjalani perkawinan semacam ini membutuhkankesabaran yang lebih untuk membiasakan diri menghadapi prasangka sosial yangmuncul dari lingkungan sekitar mereka tersebut. Melalui penerimaan diri yangpositif, pasangan tersebut dapat mengubah prasangka sosial yang semula adalahancaman bagi keharmonisan rumah tangga mereka menjadi peluang bagi merekauntuk bersikap solid atau saling mendukung (supportif) membina keluarga yangkokoh dan bebas dari pengaruh penilaian orang lain.4) Pertentangan nilai yang dianut masyarakat dan pasangan informanmengenai perbandingan usia yang ideal antara suami dan isteri dalam suatuperkawinan yang kemudian melahirkan suatu prasangka sosial adalah bentukkonflik eksternal yang terjadi pada pasangan suami lebih muda-isteri lebih tua.Sangatlah penting bagi pasangan tersebut untuk mengetahui cara pengelolaankonflik agar keharmonisan rumah tangga dapat terjaga. Secara umum carapengelolaan konflik yang lebih sering dilakukan pasangan suami-isteri adalahdengan tetap fokus pada komitmen awal menjalin hubungan rumah tangga dantidak menaruh perhatian yang besar terhadap berbagai prasangka yang hadirdalam kehidupan mereka.PENUTUPPenelitian ini dapat memberikan kontribusi bagi penelitian komunikasidalam mengkaji teori-teori yang berkaitan dengan Dialektika Relasional yangdikemukaan oleh Baxter dan Montgomery. Dalam teori tersebut hubunganpasangan suami-isteri bukan hanya dilihat dari pendekatan monologis maupundualistik yang melihat hubungan dimulai dari dekat menjadi sangat intimmelainkan bagaimana individu menangani pertentangan dalam hubungannya.Pasangan dalam kondisi demikian tidak perlu menutup diri dari pergaulansosial dan merasa malu atau rendah diri karena merasa atau dianggap berbedadibandingkan pasangan-pasangan suami-isteri pada umumnya. Pasangan suamiisteripun juga tidak perlu merasa terancam kehidupan rumah tangganya denganadanya prasangka sosial di seputar kehidupan mereka. Komitmen dari awal untukmembina rumah tangga yang harmonis kiranya harus terus dijaga agar pasangansemacam ini tidak tenggelam dalam suara-suara dan pendapat dari luar yang tidakselalu sesuai atau benar.Sebagai syarat menjadi pengayom dan pemimpin keluarga yang baik makakedewasaan pun diperlukan, salah satunya oleh masyarakat sosial hal ini dicirikandengan usia yang lebih tua. Nilai itu pun diteruskan secara turun-temurun darigenerasi ke generasi. Masyarakat seringkali tidak mau memahami kenapa ada priayang lebih muda mau menikah dengan wanita yang lebih tua. Memahamikeputusan orang lain memang tidak selalu mudah. Lebih mudah mengungkapkanketidaksetujuan dengan komentar atau ejekan. Perkawinan semacam ini pun padaakhirnya dijadikan sasaran prasangka sosial oleh masyarakat. Komentar negatifhingga penolakan seringkali ditujukan bagi pasangan tersebut. Seharusnyamasyarakat tidak mudah memberikan penilaian atau penghakiman (judgement)kepada seseorang tanpa mengetahui kebenaran atau alasan ketika seseorangmenjadi berbeda dengan apa yang biasanya terjadi dalam masyarakat itu sendiri.Masyarakat agaknya dapat lebih berempati dan lebih bijak lagi dalam menilaikarena pada hakikatnya manusia secara individu juga memiliki kemauan atauprinsip yang tidak dapat dikendalikan orang lain, termasuk dalam memilihpasangan hidup.Daftar Pustaka:Andayani, Tri Rejeki. 2009. Efektivitas Komunikasi Interpersonal. Semarang:Badan Penerbit Universitas Diponegoro Semarang.Beebe, Steven A. 2005. Interpersonal Communication Relation With Other.Boston: Pearson Education, Inc.Harsanto, Priyatno. 2006. Pendekatan Interpretif dalam Ilmu Sosial:Fenomenologi, Etnometodologi dan Simbolik Interaksionisme. Modul PelatihanPenelitian Kualitatif. Semarang: FISIP UndipKnapp, Mark L & Anita L. Vangelisti. 1992. Interpersonal Communication andHuman Relationships. Boston: Allyn and BaconKriyantono, Rachmat. 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: KencanaPrenada Media Group.Liliweri, Alo. 1991. Komunikasi Antar Pribadi. Bandung: PT Citra Aditya Bakti.Littlejohn, Stephen W dan Karen A. Foss. 2009. Teori Komunikasi. Jakarta:Salemba Humanika.Littlejohn. 1999. Theories of Human Communication. Belmont, California:Wadsworth Publishing Company.Moleong, Lexy J. Dr. 2007. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. RemajaRosdakaryaMorissan, M.A. 2010. Psikologi Komunikasi. Bogor: Ghalia IndonesiaMoustakas, Clark. 1994. Phenomenological Research Methods. California: SagePublications, IncNarwoko, J. Dwi dan Bagong Suyanto. 2007. Sosiologi Teks Pengantar danTerapan. Jakarta: Kencana Prenada.Older Women-Younger Men Relationships: The Social Phenomenon of„Cougars‟. A Research Note. Institute of Policy Studies, Working Paper, January2010.Olson, David H., dan John DeFrain. 2006. Marriages & Families: Intimacy,Diversity, and Strengths. Lindenhurst, NY: McGraw-Hill Humanities Social.Rakhmat, Jalaludin. 2005. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. RemajaRosdakarya: Bandung.Thomas, K.W., & R.H. Kilmann. 1974. Thomas-Kilmann Conflict ModeInstrument. Sterling Forest, NY: Xicom, Inc.Tubbs, Stewart L., dan Sylvia Moss. 1996. Human Communication Prinsip-Prinsip Dasar Buku Pertama, diedit dan diterjemahkan oleh Dr. Deddy Mulyana,M.A. dan Gembirasari. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.West, Ricard dan Lyn H. Turner. 2008. Pengantar Teori Komunikasi Analisis danAplikasi Edisi 3. Jakarta: Penerbit Salemba Humanika.Sumber Internet:http://id.omg.yahoo.com/news/kisah-nunung-mencari-cinta.htmlhttp://www.vemale.com/relationship/love/13801-wanita-paruh-baya-suka-melirikpria-muda.htmlhttp://life.viva.co.id/news/read/321023-ada-apa-di-balik-wanita-pencinta--daunmudahttp://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/500613htttp://www.selebrita.com/entertainment/nassar-muzdalifah-menikah.html
Penerapan Standar Program Siaran Dalam Tayangan Pesbukers Pratiwi, Rifki Nur; Rahardjo, Turnomo; Pradekso, Tandiyo
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.993 KB)

Abstract

JUDUL : Penerapan Standar Program Siaran dalam TayanganPesbukersNAMA : Rifki Nur PratiwiNIM : 14030110151007ABSTRAKSITelevisi dan penyiaran merupakan dua kata yang tidak dapat dipisahkandalam kehidupan manusia modern. Konsumsi akan kotak ajaib menjelma sebagaikebutuhan primer bagi sebagian besar masyarakat. Sayangnya, hiruk pikukperkembangan dunia pertelevisian mengalami sedikit permasalahan. Penyiarandianggap sebagai industri yang sangat menguntungkan hanya apabila mampumenuruti keinginan pasar. Market oriented menjadi sebuah isu yang krusialkarena mampu menggeser fungsi ideal media massa. Di sisi lain, KomisiPenyiaran Indonesia sebagai lembaga yang berwenang atas regulasi penyiaran diIndonesia, dianggap belum memiliki peran yang optimal dalam fungsipengawasan penyiaran. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya program siaranyang memperoleh sanksi administratif KPI, namun tidak menunjukkan perbaikandalam tayangannya, seperti tayangan Bukan Empat Mata, Silet, dan Pesbukers.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pelanggaran yang dilakukantayangan Pesbukers terhadap Standar Program Siaran, sehingga akan diketahuibagaimana penerapan SPS dalam sketsa reality tersebut. Analisis dilakukandengan metode analisis isi terhadap tayangan Pesbukers periode 1-31 Agustus2012, menggunakan sepuluh (10) kategori berdasarkan peraturan yangdikeluarkan KPI pada tahun 2012. Sebagai perbandingan, analisis juga dilakukanterhadap sanksi administratif yang dikeluarkan KPI sepanjang periode yang sama.Hasil penelitian menemukan bahwa tayangan Pesbukers melakukanbanyak pelanggaran. Dalam setiap episode ditemukan sedikitnya tiga kategoripelanggaran, yakni pelanggaran terhadap norma kesopanan dan kesusilaan,pelanggaran terhadap perlindungan orang tertentu, serta pelanggaran terhadapadegan kekerasan, ungkapan kasar, dan makian. Pelanggaran lain yang ditemukanadalah pelanggaran terhadap privasi, pelanggaran terhadap pembatasan adeganseksualitas, pelanggaran terhadap perlindungan anak, pelanggaran terhadaplingkungan pendidikan, serta pelanggaran terhadap pembatasan tayangan mistikdan supranatural.Penelitian ini juga menemukan bentuk inkonsistensi KPI dalampelaksanaan pengawasan isi siaran, ditunjukkan dari pelaksanaan sanksipemberhentian sementara tayangan Pesbukers yang baru dijalankan 6 bulansetelah sanksi dikeluarkan. Selain itu, KPI tidak konsisten dalam pemberiansanksi administratif. Selama bulan Agustus 2012 ditemukan 5 teguran terhadapprogram yang melakukan pelanggaran identik dengan Pesbukers, namun tidakditemukan satu pun teguran terhadap tayangan ini.Kata kunci: penyiaran, analisis isi, Pesbukers, KPITITLE : The Implementation of The Broadcasting Program Standardin Pesbukers ProgramNAME : Rifki Nur PratiwiNIM : 14030110151007ABSTRACTTelevision and broadcasting are inseparable words in the modern life. Theconsumption of this “magic box” become primary needs for almost human being.Unfortunately, television development has a little problem. As a form of marketindustry, broadcasting is considered to give benefit only if it can follow themarket. This issue becomes a crucial one that able to replace the ideal function ofmass media. On the other hand, the Indonesian Broadcasting Commission (KPI)as an independent institution who makes the regulation of broadcasting inIndonesia, is considered do not have optimal role in the supervision function ofbroadcasting. There are many broadcast programs that gain administrativesanctions, but never make a better improvement, such as Bukan Empat Mata,Silet, and Pesbukers.This research aims to study the violations in Pesbukers program based onBroadcasting Program Standard (SPS), and to know the application of SPS in thissketch reality. The analysis used in this research was content analysis fromAugust 1st until 31st of 2012 period, using ten (10) categories based on theregulations of KPI which issued on 2012. For comparison, this research alsoanalized the administrative sanctions which was released by KPI during the sameperiod.The final results of the research find out that there are a lot of violationsvary in Pesbukers program. In every episode, at least three forms of violationfound, they are the violation to the norms of decency and morality issue, violationto the protection of special people, and violation to the scenes of violence, coarseexpressions, and invective issues. Other forms of violation found in here areviolation to human privacy issue, violation to the control of scene of sexualityissue, violation to child protection issue, violation to environmental educationissue, and violations to the control of impressions mystical and supernatural issue.This research also found the inconcistencies role of KPI about thesupervision of the broadcasting contents. It shown by implementations of lay-offsanctions that delayed for almost 6 months after it was released. Other form of itsinconcistencies was in granting administrative sanction. During August 2012,there are 5 warnings gave to several programs that showed forms of violationsimilar to Pesbukers programs, but there are no warning against these programs.Key words: broadcasting, content analysis, Pesbukers, KPIPenerapan Standar Program Siaran Dalam Tayangan PesbukersPENDAHULUANKebutuhan akan media televisi bagi masyarakat modern merupakankebutuhan primer yang tak terelakkan. Konsumsi akan media ini berawal saatbangun tidur hingga menjelang tidur kembali. Sayangnya, besarnya kebutuhanakan media tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas isi siaran. Produsenprogram siaran lebih mementingkan rating dan pasar tanpa mempertimbangkandampak siaran mereka bagi konsumen. Mengutip pernyataan yang digunakanMorissan dalam buku Jurnalistik Televisi Mutakhir, walaupun banyak televisiswasta bermunculan di Indonesia, namun belum satu pun yang menunjukkanprofesionalismenya (Morissan, 2004:3).Data yang dihimpun oleh Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) JawaTengah menyatakan bahwa “sedikitnya 30% acara di televisi nasional dan radiomengandung unsur pornografi dan pornoaksi”. (http://tvku.tv/v2010b/index.php?page=stream&id=4883, diakses pada 27 Juni 2012 pk 22.01). Disampingpornografi, terdapat masalah lain yang muncul dalam dunia penyiaran Indonesia.Problematika tersebut antara lain: tayangan sinetron, drama dan varietyshow yang menonjolkan unsur kekerasan, umpatan kasar, kalimat tidak sopan danalur cerita tidak masuk akal; tayangan infotainment yang tidak mendidik danhanya mencari aib seseorang; liputan jurnalistik yang cenderung menguntungkankepentingan pihak tertentu, terkesan provokatif dan kurang memenuhi standaretika jurnalistik, serta tayangan yang menonjolkan sisi dunia mistis dan gaib yangtidak rasional.Untuk mengawasi isi siaran, Indonesia sudah memiliki lembaga yangmemiliki fungsi dan wewenang khusus dalam dunia penyiaran, yakni KomisiPenyiaran Indonesia (KPI). Namun, peran KPI saat ini bisa dikatakan kurangoptimal. Beberapa program siaran, meskipun mendapat berkali-kali teguranbahkan hingga dihentikan penayangannya, masih tetap ditayangkan oleh lembagapenyiaran yang bersangkutan. Sebut saja Bukan Empat Mata, infotainment Silet,dan Pesbukers.Banyaknya program penyiaran yang mendapat teguran KPI membuktikanjika kelayakan isi siaran di Indonesia sebenarnya masih relatif rendah.Permasalahan baru muncul karena meskipun teguran sudah dilayangkan, tayanganyang disediakan masih relatif sama tanpa perubahan yang cukup signifikan.Tayangan Pesbukers misalnya, dalam sebulan pertama penayangannya sudahmemperoleh teguran KPI. Tidak sampai setahun kemudian, setelah beberapa kaliteguran tertulis, KPI memutuskan untuk memberi sanksi administratif berupapenghentian sementara.Berdasarkan fakta di atas, permasalahan dalam penelitian ini merumuskantentang penerapan Standar Program Siaran dalam program acara Pesbukers.ISIPenelitian ini menggunakan metode analisis isi, untuk memperolehinformasi yang detail berkaitan dengan penerapan SPS dalam tayangan Pesbukers.Analisis dilakukan terhadap acara ini selama satu bulan penuh, yakni episode 1hingga 31 Agustus 2012. Di periode yang sama, juga dilakukan analisis terhadapteguran yang dikeluarkan oleh KPI. Keduanya kemudian digabungkan dandikaitkan untuk memperoleh deskripsi tentang peran KPI dalam pengawasan isisiaran di Indonesia.Definisi siaran sesuai Pasal 1 Undang-undang Nomor 32 Tahun 2002adalah pesan atau rangkaian pesan dalam bentuk suara, gambar, atau suara dangambar atau yang berbentuk grafis, karakter, baik yang bersifat interaktif maupuntidak, yang dapat diterima melalui perangkat penerima siaran. Sedangkan isisiaran merupakan seluruh materi program siaran yang disiarkan melalui lembagapenyiaran. Isi siaran mencakup segala bentuk siaran, baik berupa gambar, suara,maupun teks. Dalam hal ini, iklan juga tercakup dalam isi siaran.Regulasi tentang konten penyiaran sudah diatur secara rinci dalam UUtersebut, antara lain dalam pasal 36 sebagai berikut: Ayat 1: Isi siaran wajib mengandung informasi, pendidikan, hiburan, danmanfaat untuk pembentukan intelektualitas, watak, moral, kemajuan,kekuatan bangsa, menjaga persatuan dan kesatuan, serta mengamalkannilai-nilai agama dan budaya Indonesia. Ayat 4: Isi siaran wajib dijaga netralitasnya dan tidak boleh mengutamakankepentingan golongan tertentu. Ayat 5: Isi siaran dilarang: a. bersifat fitnah, menghasut, menyesatkandan/atau bohong; b. menonjolkan unsur kekerasan, cabul, perjudian,penyalahgunaan narkotika dan obat terlarang; atau c. mempertentangkansuku, agama, ras, dan antargolongan. Ayat 6: Isi siaran dilarang memperolokkan, merendahkan, melecehkan dan/ atau mengabaikan nilai-nilai agama, martabat manusia Indonesia, ataumerusak hubungan internasional.Televisi idealnya berperan sebagai ruang pemberian informasi dan sebagaimedia jalinan komunikasi antar sesama warga dan sesama komponen dalammasyarakat (Wahidin, dkk, 2006: 4). Dalam prakteknya, fungsi penyiaran taklebih dari sekedar media untuk mencari keuntungan komersial. Perkembangantelevisi lebih banyak memberikan efek negatif bagi kehidupan, terutama ketikabanyak program siaran yang melakukan pengabaian terhadap kepatutan sosial.Surbakti dalam bukunya Awas Tayangan Televisi menyebut jika saat ini banyakprogram siaran yang bermutu rendah (2008:64).Permasalahan ini bukan satu-satunya problem yang dimiliki media.Menurut Paul Johnson (Dahlan, 2008 :469), ada tujuh „dosa besar‟ apabila sebuahmedia tidak dikelola secara hati-hati, yakni: distorsi informasi, dramatisasi faktapalsu, mengganggu privacy, pembunuhan karakter, eksploitasi seks, meracunipikiran anak-anak, serta penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power).Besarnya efek yang mampu ditimbulkan media penyiaran menjadi landasanpentingnya keberadaan kontrol negara atas sistem penyiaran yang berlaku. PeranKomisi Penyiaran Indonesia (KPI) sebagai lembaga pengawas penyiaran sangatdiperlukan untuk menjamin khalayak memperoleh tayangan yang layak. KPI padahakikatnya merupakan jembatan di antara lembaga penyiaran dengan masyarakatyang memerlukan media untuk saling berkomunikasi (Wahidin dkk, 2006:4).Keberadaan KPI dan KPID merupakan fasilitator dalam menjembatani apayang disampaikan lembaga-lembaga penyiaran dengan aspirasi masyarakat.Lembaga ini memiliki peran dan kewenangan khusus dalam regulasi penyiaranyang diatur dalam Undang-undang. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2002menyatakan bahwa KPI dibentuk untuk menciptakan sistem penyiaran nasionalyang dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan dan kepentinganmasyarakat serta industri penyiaran di Indonesia.Sesuai Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia Nomor 01/P/KPI/05/2009tentang Kelembagaan KPI, tugas KPI di bidang pengawasan isi siaran mengaturbeberapa poin sebagai berikut:a) penyusunan peraturan dan keputusan KPI yang menyangkut isi penyiaran;b) pengawasan terhadap pelaksanaan dan penegakan peraturan KPImenyangkut isi penyiaran;c) pemeliharaan tatanan informasi nasional yang adil, merata, seimbang;d) menampung, meneliti dan menindaklanjuti aduan, sanggahan, kritik, danapresiasi masyarakat terhadap penyelenggaran penyiaran;Hasil analisis isi terhadap 10 (sepuluh) kategori dalam SPS selama periode1-31 Agustus 2012 menunjukkan bahwa dalam setiap episode, Pesbukersmengandung paling sedikit tiga kategori pelanggaran terhadap SPS. Yaitupelanggaran terhadap norma kesopanan dan kesusilaan, pelanggaran terhadapperlindungan orang dan masyarakat tertentu, serta pelanggaran terhadappembatasan adegan kekerasan, ungkapan kasar dan makian.Pelanggaran lain yang ditemukan yaitu pelanggaran terhadap privasi(74,07%), pelanggaran terhadap perlindungan anak (7,40%), pelanggaran terhadaplingkungan pendidikan (3,70%), pelanggaran terhadap adegan seksualitas(55,55%), serta pelanggaran terhadap pembatasan tayangan mistik dansupranatural (3,70%). Hanya terdapat dua kategori yang tidak terdapatpelanggaran, yaitu kategori penghormatan terhadap nilai SARA serta kategoripembatasan terhadap materi rokok dan NAPZA.Hasil analisis terhadap teguran sepanjang bulan Agustus 2012, menemukanjika KPI mengeluarkan 24 peringatan, dengan perincian satu imbauan, limaperingatan tertulis, 15 (lima belas) teguran tertulis, serta tiga teguran tertuliskedua. Jenis tayangan yang memperoleh sanksi terbanyak adalah iklan (37,5%)atau sebanyak sembilan iklan, diikuti tayangan Ramadan sebesar 29,17%.Program tayangan asing berada di urutan ketiga dengan jumlah teguran sebanyaktiga acara (12,5%), program jurnalistik sebesar 8,33%. Sementara acara musikyaitu inbox, tayangan talkshow Bukan Empat Mata, dan tayangan Jendela duniamasing-masing mendapat satu buah sanksi administratif.Sebagai bentuk implementasi otoritas dalam pelaksanaan pengawasanpenyiaran di Indonesia, KPI memiliki hak untuk memberikan sanksi administratifbagi tayangan yang melanggar Standar Program Siaran. Dalam kenyataannya,fungsi pengawasan KPI terhadap materi dan substansi dari isi siaran sangatterbatas. Terlihat dari wewenang maksimal KPI yang hanya sebatas sanksipemberhentian sementara untuk pelanggaran berkaitan dengan isi siaran. Artinya,jika sebuah program siaran yang dinyatakan melanggar SPS sudah melaksanakansanksi administratif yang dikeluarkan, program tersebut bebas untuk tayang lagi.Padalah, sanksi terberat berupa penghentian sementara dijatuhkan setelah melaluibeberapa tahap, seperti teguran tertulis, peringatan tertulis pertama, sertaperingatan tertulis kedua.Di sisi lain, KPI sebenarnya memiliki wewenang untuk memberikan sanksiberupa denda, pembekuan ijin siaran, hingga pencabutan ijin siaran. Namun haltersebut hanya diberikan kepada pelanggaran yang berkaitan dengan iklan niaga.Keterbatasan inilah yang menyebabkan banyaknya program siaran merasa tidaksungkan untuk melakukan pelanggaran berulang kali. Lembaga penyiaran sepertimendapat celah untuk tetap menjalankan program siaran andalan merekameskipun telah mendapatkan sanksi berulang-ulang.Kasus ini terlihat jelas dalam tayangan Pesbukers. Meskipun teguranberulang kali diberikan, tidak membuat acara ini memperbaiki konseptayangannya. Disinilah bukti adanya dominasi faktor ekonomi dalam penyiaran -menjadikan media sebagai capitalist venture (Sudibyo, 2004:7). Iklan menjadisatu-satunya target industri televisi. Observasi yang dilakukan menemukan jikaporsi iklan dalam tayangan ini terbilang sangat besar. Selama 90 menit mengudarayang terbagi dalam empat segmen, jumlah slot iklan bisa mencapai 20 hingga 25per segmen.Jumlah slot iklan di atas belum termasuk promosi dalam bentuk productplacement. Product placement adalah jenis advertising yang menggabungkansebuah produk atau brand ke dalam sebuah film atau serial televisi (Lehu,2007:1). Penempatan product placement dalam tayangan Pesbukers terbilangcukup besar. Di setiap episode, dapat ditemukan 2 hingga 4 bentuk promosi ini.Banyaknya pelanggaran yang dilakukan oleh tayangan Pesbukers ternyatabukan satu-satunya permasalahan yang ditemukan. Dalam kenyataannya,pelaksanaan sanksi administratif ternyata tidak benar-benar dipatuhi oleh programyang ditayangkan stasiun ANTV ini. Karena pemberhentian sementara bulan Juli2012 baru dijalankan oleh stasiun televisi ANTV pada bulan Januari 2013.Meskipun pelaksanaan sanksi berjarak sekitar 6 (enam) bulan daridikeluarkannya peraturan, pihak ANTV merasa hal tersebut merupakan sesuatuyang wajar. Grand Manager Corporate Communications ANTV, Zoraya Peruchabahkan mengatakan jika selama ini pihaknya selalu mematuhi peraturan KPItentang SPS. (Sumber: http://celebrity.okezone.com/read/2013/01/04/533/741594/antv-stop-tayangkan-pesbukers-mulai-besok diakses pada 3Mei 2013 pukul 11.03).Disamping pelaksanaan sanksi administratif yang molor selama 6 bulan,penelitian ini juga menemukan bentuk inkonsistensi KPI terhadap pemberiansanksi terhadap beberapa tayangan. Selama bulan Agustus 2012 ditemukanbeberapa teguran terhadap acara dengan pelanggaran yang identik denganpelanggaran Pesbukers. Namun, tidak ditemukan satu pun teguran terhadaptayangan yang diproduksi Ekomando selama periode tersebut.PENUTUPIndustri televisi dikenal sebagai industri yang mengutamakan pasar danrating. Kenyataan ini menggiring kepada pemikiran yang menganggap iklansebagai „Tuhan‟ bagi bisnis tersebut. Karena orientasinya hanya pada keuntunganekonomis, banyak tayangan yang pada akhirnya mengesampingkan nilai dannorma yang dianut dalam masyarakat.Selama ini media massa dikenal memiliki pengaruh besar dalamkehidupan bermasyarakat. Ironisnya, kepentingan pemilik modal memaksa mediauntuk mengabaikan sistem dan tatanan sosial, dan beralih kepada kepentingansegelintir pihak yang hanya berharap memperoleh untung besar. Standar ProgramSiaran yang seharusnya menjadi pedoman dalam penyelenggaraan duniapenyiaran tidak dilaksanakan secara maksimal.Berdasarkan hasil analisis isi yang dilakukan terhadap tayangan Pesbukers,terlihat bahwa penerapan SPS dalam acara ini masih rendah. Kesimpulan inidiambil karena dalam setiap episode-nya, Olga dkk minimal melakukan tiga jenispelanggaran. Pelanggaran tersebut adalah pelanggaran terhadap norma kesopanandan kesusilaan, pelanggaran terhadap perlindungan orang tertentu, sertapelanggaran terhadap adegan kekerasan, ungkapan kasar, dan makian.Berdasarkan fakta tersebut, penulis merumuskan beberapa saran gunaperbaikan dalam dunia penyiaran tanah air. Saran pertama adalah menggantisanksi pemberhentian sementara dengan denda administratif. Sanksi ini berlakubagi program siaran yang telah memperoleh lebih dari dua kali teguran dalamjangka satu tahun. Pemberian denda ini lebih kepada jalan tengah bagi programsiaran “bandel” yang tidak mungkin merelakan programnya diberhentikan secarapermanen, namun akan cukup memberikan efek jera karena pihak pemilik modaldiwajibkan mengeluarkan sejumlah materi tertentu.Disamping sanksi denda, pemerintah sebaiknya memberikan otoritaspenuh bagi KPI untuk memberhentikan secara permanen program siaran yangmemperoleh lebih dari 1.000 (seribu) aduan masyarakat. Sejauh ini programyang memperoleh banyak complain dari pemirsa hanya diberikan sanksi berupateguran dan peringatan. Padahal banyaknya keluhan yang masuk merupakanindikasi jika masyarakat tidak nyaman dengan tayangan tersebut. Dengan adanyarevisi pada poin ini, KPI akan lebih leluasa dalam menjalankan fungsinya dalamrangka menjamin khalayak memperoleh tontonan yang layak dan berkualitas.Saran terakhir adalah mendirikan LSM yang berfungsi sebagai „mediawatch’ atau pengawas penyiaran, yang mampu berperan aktif dari dua sisi.Disamping mengawasi konten penyiaran, lembaga ini juga sekaligus mengawasiKPI dalam pelaksanaan perannya. Dengan keberadaan lembaga ini, KPI akanmerasa termotivasi sehingga dapat melaksanakan peran dengan maksimal.DAFTAR PUSTAKADahlan, M. Alwi. 2008. Manusia Komunikasi, Komunikasi Manusia. Jakarta:Kompas Media NusantaraLehu, Jean-marc. 2007. Branded Entertainment Product Placement & BrandStrategy in the Entertainment Busuness . London: MPG BooksMorissan. 2004. Jurnalistik Televisi Mutakhir. Bogor: Ghalia IndonesiaSudibyo, Agus. 2004. Ekonomi Politik Media Penyiaran. Yogyakarta: LkiS.Surbakti, EB. 2008. Awas Tayangan Televisi – Tayangan Misteri dan KekerasanMengancam Anak Anda. Jakarta: Elex Media KomputindoWahidin, Samsul dkk. 2006. Filter Komunikasi Media Elektronika. Yogyakarta:Pustaka PelajarSumber Undang-undang dan Peraturan PemerintahRepublik Indonesia. 2002. Undang-undang-undang Nomor 32 Tahun 2002Tentang Penyiaran. JakartaRepublik Indonesia. 2012. Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia Nomor01/P/KPI/05/2009 Tentang Kelembagaan KPI. JakartaSumber InternetDhanang Setyana. 2012. KPID Jateng: 30% Siaran TV – Radio BermuatanPornografi. Dalam http://tvku.tv/v2010b/index.php? page=stream&id=4883 diakses pada 27 Juni 2012Edi Hidayat. 2013. ANTV Stop Tayangkan Pesbukers Mulai Besok. Dalamhttp://celebrity.okezone.com/read/2013/ 01/04/533/741594/antv-stoptayangkan-pesbukers-mulai-besok diakses pada 3 Mei 2013
Resepsi Pemirsa Tentang Diskriminasi Gender dalam Tayangan Kakek-Kakek Narsis di Trans TV Angga Widhi Saputro; Sunarto Sunarto; Sri Budi Lestari
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.048 KB)

Abstract

ABSTRAKSINama : Angga Widhi SaputroNIM : D2C007006Judul : Resepsi Pemirsa Tentang Diskriminasi Gender dalam Tayangan Kakek-KakekNarsis di Trans TVPenelitian ini dilatarbelakangi oleh banyaknya bentuk diskriminasi gender yang ada di media.Hal ini tidak terlepas dari adanya budaya patriarki yang ada di balik produksi teks danwacana yang ada dalam media. Media kerap menampilkan perempuan sebagai objek seks danlaki-laki sebagai subjeknya. Tayangan talk show bernama Kakek-Kakek Narsis diduga turutmempengaruhi dalam menampilkan perempuan yang hanya sebagai objek dari laki-lakidengan mengeksploitasi seksualitas yang dimilikinya.Penelitian ini menggunakan analisis resepsi penonton perempuan yang menyaksikantayangan Kakek-Kakek Narsis terhadap bentuk diskriminasi yang muncul, sebagai suatubentuk perlawanan terhadap kekuasaan laki-laki dimedia. Pada penelitian ini menggunakanteori pemaknaan Stuart Hall dengan model encoding-decoding untuk menganalisisresepsinya. Sedangkan teori utamanya yakni menggunakan teori Feminisme Radikal, jugadigunakan teori Standpoint sebagai pendukung. Penelitian ini menggunakan metode kualitatifdengan metode wawancara mendalam. Subyeknya adalah para perempuan yang menyaksikantayangan Kakek-Kakek Narsis berkalangan menengah keatas.Hasil penelitian menunjukan, para pemirsa meresepsi ke dalam tiga tipe pemaknaanyang diantaranya yaitu dominan, negosiasi dan oposisi. Informan yang berada dalam posisidominan, memaknai sama seperti yang ditawarkan oleh media bahwa tindakan atau tayangandalam acara Kakek-Kakek Narsis tidak menampilkan bentuk-bentuk diskriminasimenganggap bahwa adegan yang dilakukan perempuan dalam tayangan ini adalah sikapprofesionalisme dalam bekerja. Sedangkan informan yang berada pada posisi negosiasimenyatakan, pengarahan seksualitas perempuan dalam tayangan ini adalah sebagai daya tarikacara. Namun, mereka juga menyebutkan bahwa perempuan juga mengalami tindakdiskriminasi seperti colekan, pelukan, kritikan fisik, dan penindasan oleh presenter laki-laki.Sementara bagi mereka yang masuk dalam posisi oposisi menjelaskan bahwa, semua yangditayangkan dalam acara Kakek-Kakek Narsis adalah merupakan bentuk diskriminasi danpenindasan terhadap kaum perempuan. Hasil penelitian ini telah memperkuat tentangpenyebaran ideologi patriarki yang dilakukan pihak pengelola melalui media massa yaknitelevisi sebagai alat kekuasaan (laki-laki) dalam mempertahankan status quo-nya dalambudaya patrirki di Indonesia.Keywords : talk show, diskriminasi, penindasan, patriarkiABSTRACTName : Angga Widhi SaputroNIM : D2C007006Title : Audience Reception of Gender Discrimination in Program Kakek-Kakek Narsis inTrans TVThis research based on many forms of gender discrimination in the media. It is not spite ofpatriarchal culture that is behind the production of text and discourse in the media. The mediaoften show women as sex objects and men as subjects. Programs talk show called Kakek-Kakek Narsis alleged also affect in presenting women as the object of male by exploiting itssexuality. This research used analysis reception that appears, as a form of resistance to malepower in the media.On this research using the theory of the meaning of Stuart Hall encoding-decodingmodel to analyze the reception. Whereas main theory which uses the theory of RadicalFeminism, Standpoint theory is also used as a support. This research use method a qualitativein-depth interviews. The subject is the women who watch the show Kakek-Kakek Narsismiddle class and above.The results showed, the audience make reception to the three types interpretationamong the dominant, negotiation and opposition. Informants who are in a dominant position,interpret the same as that offered by the media that the actions or impressions in the showKakek-Kakek Narsis did not show other forms of discrimination, assume that women doscenes in this show is the attitude of professionalism in work. Whereas informants who are ina position negotiating states, directing female sexuality in this show is as an attraction event.However, they also said that women also experience discrimination such as pokes, hugs,physical criticism, and oppression by the male presenter. While for those who are in theposition opposition of explaining that, all of which shown on the show Kakek-Kakek Narsiswas a form of discrimination and oppression of women. The results of this research hasstrengthened deployment of a patriarchal ideology that made the manager through the mediaof television as a tool of power (men) in maintaining the status quo in patriarchy culture inIndonesia.Keywords : talk show, discrimination, suppression, patriarchyPENDAHULUANDewasa ini bentuk-bentuk diskriminasi gender marak sekali bermunculan baik dilingkungansekitar maupun dalam dunia pertelevisian entah itu dalam bentuk verbal atau non verbal.Kondisi ini cukup mencemaskan yang mana kebanyakan diskriminasi tersebut ditujukan olehkalangan perempuan. Sangat memperhatinkan memang, ditengah-tengah masyarakat yangharusnya sudah „modern‟, secara prinsip rasionalitas, demokrasi, dan humanisme yang manajika dipandang melalui teori dapat mengurangi tindak diskriminasi, justru budaya tersebutkian menjamur di kehidupan masyarakat. Sangat jelas, akhir-akhir ini berita mengenaiketidakadilan, pelecehan seksual, dan lain-lain dirasakan betul oleh kaum perempuan.Bahkan media elektronik menggunakan wanita untuk kepentingan bisnis semata denganhanya menonjolkan kemolekan tubuhnya yang dijadikan „mesin‟ dalam meraup keuntungan.Dalam dunia pekerjaan misalnya, dimana sebagian besar lowongan kerja profesiakuntan menginginkan dilakukan oleh perempuan karena dianggap lebih teliti dan ulet, dilainpihak kesempatan untuk menggunakan wewenang ternyata lebih kecil. Sebelum ditentukansebagai pegawai pun ada syarat-syarat atau perjanjian bahwa yang bersangkutan tidak bolehmenikah selama satu tahun. Karena umumnya perempuan pasca menikah akan hamil dankemudian mengambil cuti panjang dengan kontribusi sebagai pegawai yang belum maksimalmenambah kerugian bagi perusahaan.Masih ingat tentunya kasus Rumah Sakit Mitra Internasional yang memecat tigakaryawatinya karena bersikeras memakai jilbab sesuai syariat, yaitu menutup sampai dada.Hal ini mengundang tanya, adakah yang salah bila mengunakan jilbab saat bekerja? bentukbentukdiskriminasi semacam ini membatasi perempuan dalam mencari pekerjaan yang cocokdengan karakternya. Berbeda dengan kasus pemecatan di Rumah Sakit Mitra Internasional,perempuan di Aceh bahkan diwajibkan untuk selalu berkerudung. Ada sanksi tegas bilakedapatan keluar rumah tidak berkerudung. Sanksi itu bisa teguran bahkan hukum cambukbila keluar rumah dengan berpenampilan terbuka (pakaian ketat, seksi, memakai rok mini).Menurut Gubernur Aceh Irwandi, menyebutkan bahwa wajib jilbab bagi perempuan sudahmenjadi hukum positif dan bukan lagi syariat agama. Apabila ada pihak-pihak yangmengkritisi tentang kebijakan tersebut mau tidak mau sudah bersentuhan dengan agama.Sementara dalam Konstitusi, Pasal 28 I (2) UUD 1945 menyatakan bahwa, “Setiaporang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apapun dan berhakmendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu.” Hal iniberarti bahwa secara filosofis, Indonesia menjamin dan melindungi tiap warga negaranya darisikap atau tindakan diskriminatif tanpa membeda-bedakan status sosial, ras, suku, budaya,agama, maupun jenis kelamin. Karena tindakan diskriminatif yang menyebabkan penguasaandan dominasi terhadap salah satu kelompok warga tertentu merupakan sikap yang tidakberperikemanusiaan dan berperikeadilan, sebagaimana dinyatakan dalam pembukaan UUD1945, “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu,maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai denganperikemanusiaan dan perikeadilan”.Kondisi ini telah menjalur kedalam industri pertelevisian dimana banyak sejumlahprogram acara yang menayangkan adegan-adegan berbau diskriminasi. Hal ini juga bertolakbelakang dengan pengesahan konvensi mengenai penghapusan segala bentuk diskriminasiterhadap wanita UU nomor 7 tahun 1984, kemudian juga tentang Undang-Undang PenyiaranPasal 36 nomor 6 tahun 2002 yang menyatakan bahwa, “Isi siaran dilarang memperolok,melecehkan dan/atau mengabaikan nilai-nilai agama, martabat manusia indonesia, ataumerusak hubungan internasional”.Pada media elektronik sendiri keberadaan diskriminasi telah mewarnai tayanganpertelevisian di Indonesia. Kenyataan ini tampak pada program acara yang kerap kalimenggunakan perempuan sebagai objek seksualitas. Peran perempuan hanya sekedar sebagaifigura belaka, dengan menonjolkan sisi sensualitas. Terbukti dalam acara Talk Show diIndonesia yang kebanyakan memposisikan wanita sebagai bahan yang ditindas. Contoh TalkShow semacam ini adalah acara Empat Mata yang sekarang berubah menjadi Bukan EmpatMata, dalam acara yang dipandu oleh Tukul Arwana itu memperlihatkan bagaimana seorangVega yang juga host dalam acara itu selalu tampil seksi dengan pakaian ketatnya. Kemudianpelecehan terhadap sosok Susi yang juga tidak lain istri dari Tukul sendiri yang mana kerapkali sengaja atau tidak sengaja dihina dan ditertawakan.Semua adalah pernyataan tentang gender, dan didalam perundangan pun secara sahmelarang adanya bentuk diskriminasi gender, menurut aturan yang berlaku mengenaidiskriminasi terhadap perempuan yang juga telah disahkan oleh Undang-Undang no. 7 Tahun1984, yaitu disitu disebutkan “Setiap pembedaan, pengabaian, atau pembatasan yangdilakukan atas dasar jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan, yang menyebabkan,mempengaruhi atau bertujuan mengurangi ataupun meniadakan pengakuan, penikmatanatau penggunaan hak asasi manusia dan kebebasan-kebebasan pokok dibidang politik,ekonomi, sosial, budaya, sipil atau apa pun lainya kaum perempuan terlepas dari statusperkawinan mereka, atas dasar kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.”Semakin tinggi rating sebuah program acara, maka semakin banyak keuntungan iklanyang didapat. Menyadari hal itu penyelenggara televisi berlomba untuk memperolehsebanyak mungkin keuntungan dari penghasilan iklan, dengan menyajikan tontonan yangmenarik banyak publik. Namun yang disesalkan adalah para pengelola televisimengesampingkan dampak yang terjadi di masyarakat. Masyarakat yang heterogen terdiridari berbagai macam warna dan budaya, hal semacam ini yang perlu diperhatikan oleh parapengelola televisi untuk lebih mencermati program yang tidak bertentangan dengan norma,etika, hukum dan dampak negatif yang ditimbulkanya. Melihat fenomena tersebut penulisberusaha mengangkat kedalam sebuah penelitian yang mana program acara Kakek-KakekNarsis yang begitu banyak dinanti dan dinikmati orang namun disatusisi banyak jugakritikan-kritikan yang masuk mengenai tayangan tersebut. Hal ini yang ingin penulismencoba teliti dalam penelitian ini.Secara empirik banyak sekali masalah gender yang dijumpai lingkungan masyarakatdan media. Kakek-Kakek Narsis adalah bukti nyata bagaimana diskriminasi merambahkedalam suatu program acara yang disaksikan oleh khalayak luas. Hal ini sangat disayangkanmenginggat dalam Undang-Undang pun melarang adanya bentuk-bentuk diskriminasisemacam ini. Didalam lembaga penyiaran secara jelas tertulis bahwa penyiaran melarangmuatan yang memperolok, merendahkan, melecehkan, dan atau mengabaikan martabatmanusia. Disatusisi tayangan ini dikritik namun disisi lain tayangan ini begitu dinantikan. Halini terbukti pada adanya komentar media sosial Kakek-Kakek Narsis Trans TV (Facebook)bahwa kebanyakan dari mereka menanggapi dan mengikuti acara tersebut hingga requestbintang tamu kesayangaannya dituntut untuk hadir dalam memeriahkan acara tersebut.Pertanyaan lain yang timbul disini adalah sudah tahu tayangan ini mendapat kritik danteguran tetapi kenapa masih banyak yang menonton? Dan apakah penonton menerima bahwaobjektifitas seksual yang dilakukan laki-laki dalam tayangan Kakek-Kakek Narsis adalahsuatu hal yang wajar dan menghibur ataukah sebaliknya?Beranekaragamnya kebudayaan dari suatu daerah membentuk persepsi yang berbedapula mengenai pemaknaan suatu makna. Sebenarnya bagaimana proses pemaknaan yangdilakukan khalayak dengan latar belakang yang berbeda mengenai diskriminasi gender dalamtayangan Kakek-Kakek Narsis di Trans TV? Seperti apa resepsi yang ditangkap penonton?Apakah hal yang disajikan oleh laki-laki (produsen, host, crew, kamera-man) sebagaimanamakna dominan dapat diterima oleh kaum perempuan, setujukah perempuan dengan keadaanyang menggambarkan seperti itu. Makna dari sebuah teks televisi, semuanya akan kembalipada khalayak sendiri. Khalayak bebas menentukan keputusan apa yang mereka pilih setelahmenyaksikan acara tersebut.PEMBAHASANPerkembangan identitas gender sangat erat kaitanya dengan aspek biologis, sehingga hal inimerupakan bagian yang esensial dari konsep diri individu. Konsep kesetaraan gendermerupakan suatu konsep yang rumit dan mengundang kontroversi. Apa yang dimaksuddengan kesetaraan antara perempuan dengan laki-laki. Kesetaraan gender dapat juga berartiadanya kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan dalam memperoleh kesempatan sertahak-haknya sebagai manusia, agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik,hukum, ekonomi, sosial budaya, pendidikan, pertahanan dan keamanan nasional, sertakesamaan dalam menikmati hasil pembangunan. Kesetaraan gender ditandai dengan tidakadanya diskriminasi gender antara perempuan dan laki-laki dalam segala akses. Laki-laki danperempuan memiliki akses berarti memiliki peluang atau kesempatan untuk menggunakansumber daya dan memiliki kewenangan dalam mengambil keputusan.Bahasa merupakan sistem dari representasi yang diperlukan dalam seluruh prosespengkonstruksian makna. Penyebaraan pemetaan konseptual diterjemahkan dalam bahasaumum sehingga bisa menghubungkan konsep ide dengan kata dan tulisan tertentu, citra(image) suara atau visual. pemahamaan umum yang dipakai seperti kata-kata, suara atauimage yang mengandung makna atau yang disebut dengan simbol. Simbol-simbol yangmengandung makna digunakan untuk merepresentikan konsep. Hubungan antar simbol satudengan yang lainya dibawa dalam pikiran kita dan bersamaanya membuat sistem pemaknaandalam suatu kultur. Citra suara, kata-kata, image, atau objek yang berfungsi sebagai simboldan diorganisasikan bersama simbol lainya dalam sebuah sistem yang mampu membawa danmengekspresikan makna, pada intinya adalah bahasa. Bahasa tidak terbatas pada verbal (katakata,tuturan, dan tulisan), tetapi juga imajinasi visual, bahasa tubuh, dan ekspresi muka(Hall, 1997 : 8).Televisi memang memainkan peran langsung dalam penetrasi kebudayaan oleh sistemmakna dari lain tempat, tapi ia tidak menghapus konsepsi-konsepsi lokal. Proses ini lebihbaik dipahami sebagai penumpukan makna-makna lokal oleh berbagai definisi alternatif,yang membuat keduanya menjadi relatif serta menciptakan pemahaman baru akan abiguitasdan ketidakpastian. Dalam Barker (2005: 360) dijelaskan, bahwa televisi menjadi sumberbagi pembentukan identitas kultural, dan pemirsa juga menggunakan identitas dankompetensi kultural mereka untuk mendekode program dengan cara khas masing-masing.Seiring dengan mengglobalnya televisi, perannya dalam pembentukan identitas-identitas etnisdan nasional menjadi semakin pentingPenulis dalam hal ini memilih paradigma kritis untuk mendasari penelitian inidikarenakan adanya persoalan gender (feminisme) yang kental akan penindasan danketidakadilan dalam masyarakat dan kehidupan sehari-hari yang ditujukan kaum perempuanoleh kaum laki-laki. Tradisi kritis cenderung memandang komunikasi sebagai suatu “socialarrangement of power and oppression”. Artinya didalam kebanyakan realitas sosial yangada, komunikasi lebih didominasi oleh kalangan yang lebih kuat yang bermaksud hendakmenindas yang lemah sementara pihak yang lemah ingin melakukan perlawanan (Parwito,2007: 26). Dalam aliran kritis, dunia positivisme dan empirisme ilmu sosial, struktur memangtidak adil. Karena ilmu sosial yang bertindak tidak memihak, netral, objektif serta harusmempunyai jarak, merupakan suatu sikap ketidakadilan tersendiri, atau bisa dikatakanmelanggengkan ketidakadilan (status quo). Oleh karenanya, paradigma ini menolak bentukobjektivitas dan netralitas dari ilmu sosial. Paradigma mengharuskan adanya bentuksubjektifitas, keberpihakan pada nilai-nilai kepentingan politik dan ekonomi golongantertentu, terutama kaum lemah, golongan yang tertindas dan kelompok minoritas, dimanakeberpihakan ini merupakan naluri yang dimiliki oleh setiap manusia.Pada teori Stuart Hall yakni Reception Theory mengatakan bahwa makna yangdimaksudkan dan diartikan dalam sebuah pesan bisa terdapat perbedaan. Kode yangdigunakan atau yang disandi (encode) dan yang disandi balik (decode) tidak selamanyaberbentuk simetris. Derajat simetris dalam teori ini dimaksudkan sebagai derajat pemahamanserta kesalahpahaman dalam pertukaran pesan dalam proses komunikasi – tergantung padarelasi ekuivalen (simetri atau tidak) yang terbentuk diantara encoder dan decoder. Selain ituposisi encoder dan decoder, jika dipersonifikasikan menjadi pembuat pesan dan penerimapesan. Ketika khalayak menyandi balik (decoding) dalam suatu komunikasi, maka terdapatposisi hipotekal, yakni : (1) Dominant-Hegemonic Positian, (2) Negotiated Position, (3)Oppositional Position.Reception Analysis merupakan bagian khusus dari studi khalayak yang mencobamengkaji secara mendalam proses aktual dimana wacana media diasimilasikan melaluipraktek wacana dan budaya khalayaknya. David Morley pada tahun 1980 mempublikasikanStudi of the Nationawide Audience kemudian dikenal sebagai pakar analisis resepsi secaramendalam. Dalam tulisanya yang dimuat dalam Cultural Transformation : The Politics ofResistence (183, dalam Marris dan Tornham 1999: 474,475). Morley merujuk pada penelitianHall, mengemukakan tiga posisi hipotesis didalam pembaca teks (program acara) yaitu;1. Dominant (atau hegemonic) reading, pembaca sejalan dengan kode-kode program(yang didalamnya terkandung nilai-nilai, sikap, keyakinan dan asumsi) dan secarapenuh menerima makna yang disodorkan dan dikehendaki oleh sipembuat program.2. Negotiated reading, pembaca dalam batas-batas tertentu sejalan dengan kode-kodeprogram dan pada dasarnya menerima makna yang disodorkan oleh sipembuatprogram namun memodifikasikanya sedemikian rupa sehingga mencerminkan posisidan minat-minat pribadinya.3. Oppositional (counter hegemonic) reading, pembaca tidak sejalan dengan kode-kodeprogram dan menolak makna atau pembacaan yang disodorkan, dan kemudianmenentukan frame alternatif sendiri didalam menginterpretasikan pesan atau program.Kerangka Reception Theory pada penelitian ini akan digunakan peneliti untukmemahami dan melihat bagaimana khalayak memaknai pesan yang dikomunikasikan denganpendekatan mendalam. Mengacu pada teori tersebut, peneliti mencoba mendiskripsikan halhalyang terkait dengan proses pemaknaan informan terhadap pesan dalam tayangan Kakek-Kakek Narsis.Pemanfaatan teori reception analysis sebagai pendukung dalam kajian terhadapkhalayak sesungguhnya menempatkan khalayak tidak semata pasif namun dilihat sebagaiagen kultural (cultural agent) yang memiliki kuasa tersendiri dalam hal menghasilkan maknadari berbagai wacana yang ditawarkan media. Makna yang diusung media lalu bisa bersifatterbuka atau polysemic dan bahkan bisa ditanggapi secara oposisif oleh khalayak. Maknasebuah teks pada dasarnya bersifat polisemi dan terbuka sehingga memungkinkan khalayakuntuk memahami dan menginterpretasikan pesan secara berbeda. Analisis resepsi berupayamenganalisisnya dengan apa yang ada ataupun sesuatu yang tersembunyi dibalik penuturanpenuturanaudience tersebut.Dengan menggunakan analisis resepsi, selain mendapat makna atas pemahaman daninterpretasi teks media, juga mendapat penjelasan mengenai :1. Alasan mengapa terjadi perbedaan interpretasi dalam diri pembaca2. Alasan mengapa para pembaca dapat membaca teks yang sama secara berbeda3. Faktor-faktor kontekstual yang memungkinkan perbedaan pembacaan4. Cara teks-teks kebudayaan dimaknai oleh audiens, dan pengaruhnya dalam keseharianmereka.Beberapa teori dalam penelitian ini sangat relevan dalam menaggapi permasalahanyang ada dalam program acara Kakek-Kakek Narsis. Feminisme radikal berpendapat bahwa,ketidakadilan gender bersumber pada perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan itusendiri. Perbedaan biologis ini terkait dengan peran kehamilan dan keibuan yang selaludiperankan oleh perempuan. Semua ini hanya termanifestasi dalam institusi keluarga, dimanabegitu seseorang menikah dengan laki-laki, maka perbedaan biologis ini akan melahirkanperan-peran gender yang erat kaitanya dengan masalah biologis. Karenanya, para feminisradikal sering menyerang keberadaan institusi keluarga dan sistem patriarki. Keluargadianggap sebagai institusi yang melahirkan dominasi laki-laki, sehingga perempuan ditindas.Feminisme radikal memandang pornografi sebagai bentuk subordinasi, karena menganggappornografi tidak lebih dari propaganda patriarkal mengenai peran perempuan yangseharusnya sebagai pembantu, penolong, perawat, dan mainan laki-laki. Sementara laki-lakiada untuk dirinya sendiri, perempuan ada untuk laki-laki. Laki-laki subjek, perempuan objek(Tong, 2006 : 98).Feminisme radikal pada dasarnya mempunyai 3 pokok pikiran sebagai berikut :1. Bahwa perempuan mengalami penindasan, dan yang menindas adalah laki-laki.Kekuasaan laki-laki ini harus dikenali dan dimengerti, dan tidak boleh direduksimenjadi kekuasaan kapitalis, misalnya.2. Bahwa perbedaan gender yang sering disebut maskulin dan feminim sepenuhnyaadalah konstruksi sosial atau diciptakan oleh masyarakat, sebenarnya tidak atas dasarperbedaan alami perempuan dan laki-laki. Maka yang perlu adalah penghapusanperan perempuan dan laki-laki yang diciptakan oleh masyarakat di atas tadi.3. Bahwa penindasan oleh laki-laki adalah yang paling utama dari seluruh bentukpenindasan lainya, dimana hal ini menjadi suatu pola penindasan.KESIMPULANBerdasarkan analisis dan pembahasan terkait resepsi pemirsa tentang diskriminasi genderdalam tayangan Kakek-Kakek Narsis, ditemukan 3 pemaknaan yang berbeda dari informandalam memaknai teks. Khalayak yang berada dalam posisi dominan, yakni memaknai samaseperti yang ditawarkan oleh media bahwa tindakan atau tayangan dalam acara ini tidakmenampilkan bentuk-bentuk diskriminasi menganggap bahwa adegan yang dilakukanperempuan disini adalah profesionalisme dalam bekerja, jadi sebagai tuntutan pekerjaanselama itu dibayar tidak menjadi masalah. Bahkan sosok wanita seksi dalam tayangan inidigunakan sebagai penarik minat pemirsa untuk menonton serta punya daya jual yang tinggi.Khalayak yang berada dalam posisi negosiasi menganggap bahwa pengarahan seksualitasperempuan dalam tayangan ini adalah sebagai daya tarik masyarakat untuk menonton acaraini, namun mereka juga menyatakan bahwa para perempuan yakni nanny dan bintang tamujuga mengalami tindak diskriminasi. Sedangkan khalayak yang berada dalam posisi oposisimenyatakan, semua yang ditayangkan dalam acara Kakek-Kakek Narsis adalah merupakanbentuk diskriminasi dan penindasan terhadap kaum perempuan. Hasil penelitian ini telahmemperkuat tentang penyebaran ideologi patriarki yang dilakukan pihak pengelola melaluimedia massa yakni televisi sebagai alat kekuasaan (laki-laki) dalam mempertahankan statusquo-nya dalam budaya patrirki di Indonesia.Dalam menanggapi penelitian ini resepsi audience tidak pernah menjadi pihak pasifdalam membaca sebuah teks kebudayaan. Hasil penelitian menyebutkan bahwa seksualitasdiilustrasikan audience sebagai bentuk pengarahan, pengaturan dan pengekspresianperempuan sebagai bentuk hiburan dalam media. Faktor pendidikan dan budayamempengaruhi keaktifan audience dalam memproduksi makna, ketika menyaksikan sesamaperempuan yang dilecehkan seksualitasnya oleh media membuat mereka berempati, merasamenjadi bagian sesama perempuan yang dilecehkan. Feedback yang diberikan audiencedalam memaknai kontruksi media memberikan jawaban bahwa audience tidak serta mertamenerima apa yang ditontonnya, melainkan memprosesnya yang kemudian disesuaikandengan pengalaman hidup, faktor lingkungan dan pendidikan.Kepada pihak pengelola media disarankan untuk perlu memperhatikan manfaat apayang dapat diberikan kepada masyarakat dalam menayangkan sebuah program acara. Tidakhanya dapat menghibur namun mampu setidaknya memberikan manfaat baik berupa hiburanmaupun dari sisi pendidikan. Dengan begitu diharapkan dalam masa mendatang bentukbentukacara televisi semakin variatif dan berkualitas tidak monoton dan hanya sekedar ikutikutanseperti yang diperlihatkan sekarang. Karena sebenarnya untuk mencapai rating tinggiadalah dengan melihat suatu program acara dapat bertahan lama dan dicintai penontonyakarena mutu dan konsep acara yang menarik, bukan eksploitasi ataupun penindasan terhadappihak tertentu. Adanya faktor pendidikan ini maka diharapkan menjadi kesadaran penontonuntuk dapat meningkatkan kemampuan membaca teks yang baik dan dapat mengambilkeputusan untuk menyikapi tayangan bernuansa gender semacam ini secara lebih dewasa.Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dalam hal ini harus turun tangan menindak lanjutiprogram tayangan yang mengedepankan unsur gender dan diskriminasi semacam ini. Karenadalam Undang-Undang pun menyebutkan bahwa segala macam bentuk penindasan dandiskriminasi harus segera dihapuskan seperti yang terdapat pada pasal 28 (I) 2 UUD 1945.KPI harus menyiapkan sistem regulasi yang efektif dan memberikan tidakan tegas terhadaptayangan-tayangan yang tidak sesuai dan menonjolkan ketimpangan gender akibatketidakadilan yang ditujukan oleh perempuan baik dalam sikap maupun peran.Menarik atau tidaknya suatu program acara bukanlah dilihat dari artis atau bagaimanacara berpakaiannya, namun melihat secara keseluruhan inti dari konsep acara yang disajikan,bagaimana manfaat dan unsur pendidikan yang bisa diambil setelah melihat tayangan ini.Melalui tayangan Kakek-Kakek Narsis menjadikan pelajaran bagi pengelola lain agar bisamembuat acara yang lebih baik lagi dengan tidak memandang keberadaan gender dandiskriminasi di media, dan untuk masyarakat diharapkan untuk lebih cerdas lagi dalammemaknai isi teks media.DAFTAR PUSTAKAA.MacKinnon, Catharine. (1987). Feminism Unmodified. Havard University Press, USA :Ninth Printing.Agger, Ben. (2003). Teori Sosial Kritis.Yogyakarta : Kreasi Wacana.Alcoff (1989). Reposting Feminism and Education : Perspectives on Educating for SocialChange. London : Greenwood.Arief Budiman. (1982). Pembagian Kerja Secara Seksual. Jakarta : Gramedia.Barker, C. (2005). Culture Stadies Teori dan Praktik. London : Sage Publications.Berger, C.R. and S.H., Chaffe. (1983). Handbook Communication Science. Beverly Hills :Sage Publications.Basow, Susan A. (1992). Gender Stereotypes and Roles. USA : Brooks/Cole PublishingCompany.Cott, Nancy F. (1987). The Grounding of Modern Feminism. Yale University Press.New Haven.Creswell. (1998). Qualitative Inquiry and Research Design : Choosing Among FiveTradition. London : Sage Publictions.Croteau, David and William Hoynes (2007). Media/Society. Pine Forge Press, USA :Thousand Oaks.Effendy. O.U. (2003). Ilmu, Teori, dan Filsafat Komunikasi. Bandung : PT. Citra AdityaBakti.Fiske, John. (1987). Television Culture. London : Routledge.Fiske, J. (2004). Culture and Communication Studies. Yogyakarta : Routledge.Grant, A.E. & Wilkinson, J.S. (2009). Understanding Media Convergence : The State of theField. NY : Oxford University press (9).Griffin, EM. (2006). A first Look At Communication Theory, 6th Edition, New York :McGraw-Hill, inc.Grossberg, Lawrence, Carly Nelsen, dan Paula A. Treicher. (1992). Culture Stadies.New York, London : Routledge.Guba. Egon (ed.). (1990). The Paradigm Dialog. London : Sage Publications.Hall, S. (1997). Representation: Cultural Representasions and Signifying Practices. BaverleyHills : Sage Publications.Harris, Marvin. (1968). The Rise of Anthropological Theory. New York : Thomas Y.Cromwell Company.Jackson, Stevi dan Jackie Jones. (2009). Teori-Teori Feminis Kontemporer. Yogyakarta :Jalasutra.Jensen, Klaus, Bruhn & Jankowski, Nicholas W. (2003). A Handbook of QualitativeMethodologies for Mass Communication Research. London : Routledge.Junaedi, F. (2007). Komunikasi Massa (Pengantar Teoritis). Yogyakarta : Santusta.Kasiyan. (2006). Bias Gender Dalam Iklan Televisi. Media Pressindo.Kasiyan. (2008). Manipulasi dan Dehumanisasi Perempuan dalam Iklan. Yogyakarta :Ombak.Khun, Thomas. (1970). The Structure of Scientific Revolution (cetakan ke-2) Chicago :Chicago University Press.Littlejohn, Stephen W & Foss, Karen A. (2008). Theories of Human Communication, USA :The Thomson Corporation.Luhulima. (2002). Penghapusan Diskriminasi Terhadap Wanita. Bandung :Alumni.Sadli, Saparinah. (2010). Berbeda Tetapi Setara. Jakarta : Penerbit Buku Kompas.Silverstone, Roger.(1994). Television : and everday life. London, New York : Routledge.Soekarno (1963). Kawajiban Wanita dalam Perdjoangan Republik Indonesia. Jakarta :Penerbit Buku-Buku Karangan Presiden Soekarno.Spradley, J.P. (2006). Metode Etnografi (penerjemah : Elizameth, M.Z dari The EtnographicInterview) edisi II. Yogyakarta : Tiara Wacana.Sudibyo, Agus. (2004). Ekonomi Politik Media Penyiaran. Yogyakarta : Penerbit LkiSYogyakartaSunarto. (2009). Kekerasan, Televisi & Perempuan. Jakarta : Penerbit Buku Kompas.SuSan A. Basow (1992). Gender Stereotypes and Roles. Pacific Grove, California :Brooks/Cole.Storey, Jhon. (2008). Cultur Studies dan Kajian Budaya Pop. Yogyakarta : Jalasutra.Tong, Rosemerie Putnam (1998). Feminist Thought : Pengantar Paling Konferhensif KepadaArus Utama Pemikiran Feminis. Yogyakarta : Jalasutra.Mansour Fakih. (1997). Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta :PustakaPelajarMartadi. (2000). Reposisi Citra Melalui Logo. Jurnal Nirmana.McQuail, Denis. (1991). Teori Komunikasi Massa, Penerbit Erlangga, Jakarta, Edisi kedua.Moelong, Lexy J. (1991). Metodologi Penelitian Kualitatif, PT. Remaja Rosdakarya,Bandung.Morley, David (1992). Television Audience and Cultural Studies. London : Routledge.Parwito, (2007). Penelitian Komunikasi Kualitatif. Yogyakarta : LkiS.Winship, J. (1981) Woman Become an “induvidual” : Femininity and Consumption inMagazine. Birmingham ; University of Birmingham.
Evaluasi Program Corporate Social Responsibility Coke Farm untuk Pembangunan Citra Coca-Cola Amatil Indonesia Central Java Charisma Rahma Dinasih; Tandiyo Pradekso; Agus Naryoso
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.756 KB)

Abstract

Evaluasi Program Corporate Social Responsibility Coke Farmuntuk Pembangunan citra Coca-Cola Amatil Indonesia CentralJavaABSTRAKEvaluasi merupakan hal yang harus dilaksanakan untuk melihat pencapaian dariprogram, salah satunya adalah untuk melihat citra yang berhasil dibangun. NamunPraktisi PR masih sering mengesampingkan pentingnya evaluasi dengan tidakmelakukannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pembangunancitra Coca-Cola Amatil Indonesia Central Java (CCAI-CJ) melalui pelaksanaankegiatan CSR Coke Farm di kalangan stakeholder eksternal yang terlibat secaralangsung. Teori yang digunakan yaitu teori CSR untuk pembangunan citra. Tipepenelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif danmenggunakan model evaluatif. Model Evaluasi yang digunakan adalah Context,Input, Process, Product (CIPP) Teknik pengumpulan data kualitatif dilakukandengan menggunakan indepth interview kepada satu informan, yakni PublicRelations (PR) dari CCAI-CJ. Teknik pengumpulan data kuantitatif dilakukanmelalui wawancara dengan instrumen penelitian kuesioner.Hasil penelitian ini menunjukkan PR CCAI-CJ belum mampu memanfaatkanprogram Coke Farm untuk pembangunan citra. Dari hasil penilaian denganmenggunakan ukuran efektivitas untuk menilai indikator di masing-masingkategori CIPP mendapatkan total nilai sebanyak 3, yang menunjukkan bahwaprogram CSR Coke Farm tidak efektif dalam membangun citra CCAI. Di dalammelaksanakan Coke Farm, PR tidak menjalankan semua tahapan yang harusdilakukan di dalam program CSR. Dengan pengelolaan Coke Farm yang kurangmaksimal, maka tidak mampu membangun citra positif CCAI-CJ melalui CokeFarm. Hal ini dibuktikan dengan hasil dari kuesioner yang menunjukkan citrasosial CCAI-CJ yang didapat melalui program Coke Farm adalah cenderungnegatif. Untuk citra ramah lingkungan CCAI-CJ juga termasuk ke dalam kategoricenderung negatif. Sikap responden terhadap CCAI-CJ memperlihatkan hasilyang banyak negatif. Citra sosial dan citra ramah lingkungan tersebut didapatkandari kumpulan penilaian responden mengenai manfaat sosial dan manfaatlingkungan dari Coke Farm. Coke Farm dianggap belum mampu memberikanmanfaat responden.Kata kunci: Evaluasi, Corporate Social Responsibility, CitraNama : Charisma Rahma DinasihNIM : D2C009106Judul : Evaluation of Corporate Social Responsibility Coke FarmProgram to development Coca-Cola Amatil Indonesia CentralJava ImageABSTRACTThe evaluation is to be undertaken to look at the achievements of the program,one of which is to see a successful image is built. But the practition PR still ruleout the importance of evaluations with it. The purpose of this research was toevaluate the development image of Coca-Cola Matil Indonesia Central Java(CCAI-CJ) through the implementation of Coke Farm CSR activities amongexternal stakeholders involved directly. The theory being used, namely the theoryof development of CSR to image building. The model of evaluation is usedContext, Input, Process, Product (CIPP). Qualitative an quantitative datacollection techniques are performed using indepth interviews to one informant,namely Public Relations (PR) of CCAI-CJ.The research shows PR CCAI-CJ hasn’t been able to take advantage of theprogram for the development of a Coke Farm image. From the results of theassessment effectiveness to assess CIPP indicator in each category receives a totalvalue of about 3 indicating that CSR Coke Farm ineffective for developmentCCAI-CJ image. In carrying out Coke Farm, PR did not run all the stages thatmust be done within the CSR program. With the management of Coke Farm thatis less than maximum, then it is not able to build a positive image of CCAI-CJthrough Coke Farm. It is proven by the results of a questionnaire that show ofsocial image obtained through the program of Coke Farm is to tend negative. Foreco-friendly image of CCAI-CJ is also included into the category tends to benegative. The attitude of respondents towards CCAI-CJ shows many negativeresults. Social image and eco-friendly image obtained from the respondent’sassessment regarding the social benefits of Coke Farm. Coke Farm consideredhasn’s been able to deliver the benefits of the respondent.Keywords: Evaluation, Corporate Social Responsibility, ImageJURNALEvaluasi Program Corporate Social Responsibility Coke Farmuntuk Pembangunan CitraCoca-Cola Amatil Indonesia Central JavaPENDAHULUANDalam implementasi CSR, PR mempunyai peran penting, baik secarainternal maupun eksternal. Dalam konteks pembentukan citra perusahaan, disemua bidang pembahasan di atas boleh dikatakan PR terlibat di dalamnya, sejakfact finding, planning, communicating, hingga evaluation. Jadi ketika kitamembicarakan CSR berarti kita juga membicarakan PR sebuah perusahaan, dimana CSR merupakan bagian dari community relations. Karena CSR padadasarnya adalah kegiatan PR, maka langkah-langkah dalam proses PR punmewarnai langkah-langkah CSR.Dapat diketahui bahwa aktivitas atau kegiatan CSR sangat berpengaruhterhadap pembentukan opini yang kemudian menjadi sebuah citra perusahaan dimata masyarakat. Pelaksanaan kegiatan CSR yang baik secara otomatis akanmendapatkan corporate image (citra perusahaan) yang baik pula. Sudah saatnyaperusahaan meningkatkan kepedulian terhadap masyarakat sekitar sebagai bentuktanggung jawab sosial perusahaan terhadap publik, sehingga perusahaan dapatmempertahankan sustainable company.Untuk membangun citra perusahaan yang baik di mata masyarakat itulahCCAI-CJ secara giat melakukan CSR. Tujuannya adalah untuk membangun opinipublik yang positif terhadap perusahaannya dengan berusaha untuk tetapmenunjukkan kepada masyarakat bahwasanya Ia juga peduli terhadap kemajuandan kesejahteraan masyarakat. salah satu program CSR CCAI-CJ yang masihberjalan sampai saat ini adalah Coke Farm.Coke Farm adalah salah satu kegiatan CSR CCAI-CJ yang dirancanguntuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani di wilayah sekitar CCAI-CJ.Program ini dipilih berdasarkan pertimbangan potensi bahwa sebagian masyarakatmungkin bisa menggantungkan kegiatan pertaniannya dengan adanya lahankosong di area Deep Well. Coke Farm bertujuan untuk memberdayakankomunitas lokal di sekitar pabrik CCAI-CJ melalui pelatihan pertanian, sekaligusturut melestarikan lingkungan dengan menanam berbagai macam pohon untukpenghijauan.Selama ini CCAI-CJ belum pernah melakukan evaluasi untuk melihatsejauh mana pencapaian program CSR Coke Farm untuk pembangunan citranya.CCAI-CJ dalam setiap bulan dan tahunnya hanya membuat laporan Coke Farmsebagai berikut:Dengan tidak adanya evaluasi terhadap pembangunan citra, maka tidakada pula hasil dari seberapa besar pengaruh CSR Coke Farm terhadap citra yangdiperoleh.Evaluasi merupakan keharusan untuk setiap program atau kegiatan yangdilaksanakan PR untuk mengetahui efektivitas dan efisiensi program (Hadi, 2011:145). Dalam hal ini evaluasi yang dilakukan adalah untuk melihat pencapaianpembangunan citra dari program CSR yang dilakukan. Berdasarkan hasil evaluasiitu bisa diketahui apakah program bisa dilanjutkan, dihentikan, atau dilanjutkandengan melakukan perbaikan dan penyempurnaan. Namun, dalam CSR perludiingat bahwa evaluasi bukan hanya dilakukan terhadap penyelenggaraan programatau kegiatannya belaka. Melainkan juga dievaluasi bagaimana sikap stakeholderyang terlibat terhadap organisasi yang berpengaruh terhadap citra. Jika dalampelaksanaannya tidak berpengaruh terhadap citra perusahaan, maka perludilakukan perbaikan untuk memodifikasi program menjadi lebih efektif sebagaialat komunikasi untuk membangun citra.Penelitian ini diharapkan dapat membantu mengevaluasi sejauhmanaprogram CSR yang telah dilaksanakan dapat berpengaruh pada persepsi positifmasyarakat yang menjadi sasaran program terhadap citra CCAI-CJ.Penelitian ini menggunakan pemikiran tentang CSR untuk pembangunancitra yang menggambarkan bagaimana terbentuknya citra melalui CSR. Darikonsep triple botton line dalam CSR yang mengacu pada bidang sosial danlingkungan akan menghasilkan citra sosial dan citra ramah lingkungan. Penelitianini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif dengan model evaluasiCIPP (context, input, process, product), yang nantinya bisa menunjukkanefektivitas program CSR Coke Farm untuk membangun citra.Penelitian ini dilakukan dengan melalui wawancara mendalam kepada PROfficer CCAI-CJ sebagai informan untuk menggali informasi mengenai prosesperencanaan hingga proses pengomunikasian CSR. Selain itu, dalam penelitian inijuga menggunakan dua jenis populasi, yakni masyarakat dan petani penggarapCoke Farm untuk mengukur bagaimana citra CCAI-CJ terbentuk di matastakeholder melalui program Coke Farm.Penelitian ini dilakukan dengan melalui wawancara mendalam kepada PROfficer CCAI-CJ sebagai informan untuk menggali informasi mengenai prosesperencanaan hingga proses pengomunikasian CSR. Selain itu, dalam penelitian inijuga menggunakan dua jenis populasi, yakni masyarakat dan petani penggarapCoke Farm untuk mengukur bagaimana citra CCAI-CJ terbentuk di matastakeholder melalui program Coke Farm.ISIDari hasil kuesioner menunjukkan bahwa citra sosial dari CCAI-CJ adalahcenderung negatif, citra ramah lingkungan juga menunjukkan hasil yangcenderung negatif. Sedangkan sikap responden terhadap CCAI-CJ adalah negatif.Dari hasil perolehan citra tersebut akan dijadikan ukuran untuk evaluasi, yangmana untuk membuktikan dari apa yang sudah PR lakukan dalam kinerjanyasebagai upaya untuk membangun citra dengan hasil yang didapatkan di lapangan.Jadi, ketika PR sudah melakukan upaya dengan melakukan tahapan-tahapandalam CSR tetapi citranya negatif, hal ini dianggap bahwa Coke Farm tidakefektif dalam membangun citra.Evaluasi yang dilakukan adalah menggunakan model CIPP, yang manadari masing-masing konsep dan tahapan dalam program CSR akandikelompokkan ke dalam context, input, process, dan product. Evaluasi yangdilakukan adalah untuk mengukur efektivitas program Coke Farm untukpembangunan citra. Sebab, kinerja PR akan mempengaruhi bagaimana citraterbentuk. Dalam Kolom CIPP, akan diberikan nilai 1 untuk kinerja PR yangsudah sesuai dengan ukuran efektivitas dan nol untuk yang tidak sesuai. Ukuranefektivitas dijadikan sebagai patokan untuk mengevaluasi program CSR CokeFarm, yang dilihat dari upaya-upaya yang dilakukan PR untuk membangun citra.Sebab, kinerja PR akan mempengaruhi jalannya proses Coke Farm mulai daritahapan perencanaan sampai dengan reporting. Jalannya proses perencanaansampai dengan reporting yang baik itulah yang akan mempengaruhi bagaimanapembangunan citra untuk CCAI-CJ. Dari ukuran efektivitas tersebut, diberikannilai satu untuk kinerja PR yang sudah sesuai dengan ukuran efektivitas, dan nilainol untuk yang tidak sesuai. Hasilnya menunjukkan bahwa Coke Farm tidakefektif untuk membangun citra CCAI-CJ dengan jumlah keseluruhan nilai yanghanya mendapatkan 3 dari 30 indikator yang dibedakan dalam context, input,process, dan product. Banyak kinerja PR yang tidak sesuai dengan ukuranefektifitas. PR belum melakukan upaya-upaya untuk mengelola CSR Coke Farmsecara maksimal demi mencapai keberhasilan dalam pembangunan citra.Berikut ini adalah hasil evaluasi yang dibedakan ke dalam context, input, process,dan product:a. Context: PR CCAI-CJ sudah menjalankan CSR sesuai dengan konseptriple botton line dan menggunakan prinsip-prinsip CSR yang meliputisustainability, accountability, dan transparency dalam program CokeFarm. PR memaknai CSR dari sisi kehumasan, tetapi pada kenyataannyaPR tidak mampu menjalankan Coke Farm sesuai dengan konsep PR yangmemiliki tujuan untuk citra, ditunjukkan dengan PR yang tidak mencobaberinovasi untuk memodifikasi program Coke Farm yang dirancang pusatuntuk disesuaikan dengan wilayah beroperasinya CCAI-CJ, PR tidakmelakukan analisis stakeholder dan adanya latar belakang yang tidakcukup kuat karena tidak berdasarkan riset. PR juga tidak dapat mengelolakegiatan-kegiatan di Coke Farm dengan baik. Dari evaluasi untuk context,mendapatkan jumlah nilai 1, yang menunjukkan bahwa konsep dantahapan yang dilakukan untuk program CSR Coke Farm tidak efektifuntuk pembangunan citra CCAI-CJ.b. Input: PR tidak melakukan tahapan perencanaan yang meliputi awarenessbuilding, CSR assessment, dan CSR manual. PR juga tidak melakukananalisis masalah dan tidak menyediakan SDM yang handal untuk CokeFarm. PR bersikap pasif dengan hanya mengikuti perencanaan dari pusattanpa mencoba untuk berinisiatif melakukan tahapan perencanaan dananalisis masalah untuk disesuaikan dengan keadaan wilayah di CCAI-CJ.Dari evaluasi untuk input mendapatkan jumlah nilai 0, menunjukkanbahwa indikator yang dilakukan dalam input untuk program CSR CokeFarm tidak efektif untuk pembangunan citra CCAI-CJ.c. Process: PR tidak mengalokasikan budget untuk Coke Farm. PR tidakmenjalankan tanggung jawabnya secara maksimal, terlihat dari tidakadanya time schedule yang dibuat untuk periode tertentu sebagai panduanuntuk melaksanakan kegiatan, PR juga tidak melakukan salah satu tahapandalam implementasi yaitu internalisasi. PR tidak dapat mengelola danmenjalin komunikasi yang baik dengan petani karena masih terdapatkonflik yang terjadi yang terjadi. PR tidak melibatkan banyak stakeholderuntuk terlibat di dalam Coke Farm secara langsung. PR sudah melakukantahapan monitoring tetapi tidak mencoba melakukan perbaikan dari hasilmonitoring yang telah didapatkan. Tahapan reporting juga sudahdilakukan, akan tetapi PR tidak melakukan evaluasi untuk melihatkeberhasilan program dalam membangun citra. Dari evaluasi untukprocess mendapatkan jumlah nilai 1, menunjukkan bahwa indikator yangdilakukan dalam process untuk program CSR Coke Farm tidak efektifuntuk pembangunan citra CCAI-CJ.d. Product: Program CSR Coke Farm tidak mampu membangun citra positifCCAI-CJ, yang dikarenakan PR tidak mendayagunakan kemampuannyadengan memanfaatkan CSR sebagai alat komunikasi untuk pembangunancitra, PR tidak dapat menyampaikan pesan tentang citra yang inginditampilkan kepada stakeholder, yang ditunjukkan dengan rendahnyapengetahuan masyarakat tentang program-program CSR yang dijalankanCCAI-CJ dan rendahnya pengetahuan tentang kegiatan-kegiatan yangterdapat di Coke Farm karenakan PR belum mampu memanfaatkansaluran-saluran komunikasi yang ada secara efektif. Selain itu, PR tidakdapat memanfaatkan output yang telah didapatkan untuk dijadikan sebagaisarana pembangunan citra melalui publisitas di media, Coke Farm tidakmendapat dukungan penuh dari masyarakat yang ditunjukkan dari sikapmasyarakat yang banyak negatif, masyarakat juga belum merasakanmanfaat sosial dan lingkungan dari Coke Farm. Pada akhirnya Coke Farmbelum mampu mencapai indikator keberhasilan yang telah ditetapkan,sehingga Coke Farm tidak dapat mempengaruhi terbentuknya citra positifperusahaan dan tidak dapat memberikan manfaat bagi CCAI-CJ untukpembangunan citranya, ditunjukkan dengan citra sosial CCAI-CJ yangcenderung negatif dan citra ramah lingkungan yang juga cenderungnegatif. Dari evaluasi untuk product mendapatkan jumlah nilai 0,menunjukkan bahwa indikator yang dilakukan dalam product untukprogram CSR Coke Farm tidak efektif untuk pembangunan citra CCAICJ.PENUTUPPR CCAI-CJ tidak pernah melakukan evaluasi untuk melihat citra yangberhasil dibangun dari program CSR Coke Farm yang telah dijalankan. Citramerupakan tujuan yang ingin dicapai oleh setiap praktisi PR. Dengan tidak adanyaevaluasi, PR CCAI-CJ tidak dapat mengetahui citra yang terbentuk di matastakeholder. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif,yang melibatkan 40 responden dan satu orang informan yang merupakan PRCCAI-CJ. Tujuan penelitian ini adalah untuk untuk mengetahui citra CCAI-CJmelalui pelaksanaan kegiatan CSR Coke Farm di kalangan stakeholder eksternal.Model CIPP adalah model dengan decision oriented evaluation, dimanapeneliti harus memberikan keputusan untuk program mengenai apakah programakan dihentikan, dilanjutkan, dan dimodifikasi. Untuk program Coke Farm ini,keputusan yang diambil adalah PR perlu melakukan modifikasi untuk programCoke Farm agar mendapatkan hasil yang efektif untuk pembangunan citra CCAICJ.Modifikasi untuk Coke Farm dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:1. PR sebaiknya menyediakan SDM yang handal untuk dibentuk dalamstruktur organisasi yang dikhususkan untuk Coke Farm agarpengelolaan dan pelaksanaan dapat terkontrol baik dengan adanyaSDM yang difokuskan untuk membantu PR dalam Coke Farm.2. PR sebaiknya menambahkan jumlah petani yang menjadi targetsasaran dari Coke Farm, karena pada saat ini jumlah yang menjaditarget sasaran masih tergolong sangat kecil. Dengan menambahkantarget sasaran akan banyak memberikan manfaat bagi masyarakatyang sebagian merupakan petani.3. PR bisa melibatkan masyarakat sekitar untuk ikut dalam beberapakegiatan yang dilakukan di Coke Farm, misalnya saja untuk kegiatanpelatihan dan penyuluhan tentang pertanian. Kegiatan tersebut bisadilakukan dengan mengajak banyak masyarakat sekitar yang bukanhanya petani penggarap Coke Farm saja. Dengan begitu masyarakatsekitar akan merasa dilibatkan dan mengurangi kecemburuan sosialyang ada.4. PR sebaiknya membuat jadwal kegiatan yang dikhususkan untukpetani untuk periode waktu tertentu, agar kegiatan yang dilakukanpetani dapat berjalan dengan jelas dan teratur sesuai dengan jadwalyang telah dibuat PR. Sebab, ketika petani tidak dijadwalkan untukdatang ke Coke Farm maka petani itu tidak akan setiap hari datanguntuk terus mengawasi tanamannya, dan PR menyatakan jika itukesalahan dari petani. Padahal itu juga merupakan kesalahan PR yangtidak membuat jadwal tetap bagi petani.5. PR bisa mengajak peserta plant visit ke lokasi Coke Farm untukmelihat langsung kegiatan yang ada di dalamnya sebagai upaya untukmengomunikasikan Coke Farm kepada publik, seperti yang telahdilakukan oleh Plant Coca-Cola di Bandung. Dengan mengajakpeserta plant visit ke lokasi Coke Farm akan menjadikan banyakorang yang mengetahui akan adanya Coke Farm.Penelitian ini mengambil kesimpulan bahwa PR CCAI-CJ tidak bisamemanfaatkan CSR Coke Farm untuk kepentingan citra. CSR dijalankan hanyauntuk memenuhi kewajiban CCAI-CJ yang mana sebagai anak perusahaan harusmematuhi kebijakan dari pusat dan mematuhi peraturan perundang-undangan daripemerintah, tanpa melakukan upaya-upaya lebih lanjut sesuai dengan konsep PRuntuk mencapai keberhasilan dalam pembangunan citra. Coke Farm yang telahdijalankan sejak tahun 2009 tidak mampu menghasilkan citra positif, dibuktikandari citra sosial CCAI-CJ yang cenderung negatif dan citra ramah lingkunganyang juga cenderung negatif. Coke Farm juga tidak mampu membuat masyarakatmempunyai sikap yang positif terhadap CCAI-CJ, yang ditunjukkan dengan sikapmasyarakat yang banyak negatif terhadap CCAI-CJ.Kesimpulan lain yang sekaligus merupakan kritik kepada PR CCAI-CJ,yakni PR CCAI-CJ tidak pernah melakukan riset untuk perencanaan programCoke Farm, semuanya hanya berdasarkan asumsi belaka. Citra yang terbentukdari program Coke Farm juga diketahui hanya berdasarkan asumsi PR belaka.Kondisi ini berbanding terbalik dengan dunia PR yang sesungguhnya, dimanapada setiap kegiatan harus diawali dengan riset untuk bisa menentukan masalahyang jelas dan spesifik. Selain itu, CSR yang seharusnya bisa dijadikan sebagaialat komunikasi untuk pembangunan citra, tidak dapat dimanfaatkan baik oleh PR.Coke Farm tampak berjalan sia-sia dengan tidak mampu menghasilkan penilaianyang positif dari stakeholder, dimana PR menjalankan program ini tidak secarasungguh-sungguh. Banyak tahapan penting yang seharusnya dilakukan namuntidak dilakukan. Pengelolaan program Coke Farm juga masih kacau, tidak adanyaSDM handal yang disediakan, banyak kegiatan yang tidak dijalankan, tidakmampu mengelola komunikasi yang baik sehingga masih sering menghasilkankonflik. Itulah beberapa contoh kecil yang sangat fatal apabila disepelekan olehseorang praktisi PR. Karena hal-hal tersebut juga akan turut mempengaruhikeberhasilan program. Keberhasilan program pada akhirnya akan berpengaruhterhadap terbentuknya citra positif perusahaan.DAFTAR PUSTAKAArafat, Wilson. (2006). Behind A Powerful Image : Menggenggam Strategi danKunci-kunci Sukses Menancapkan Image Perusahaan yang Kokoh. Yogyakarta :Penerbit Andi.Basuki, Sulistyo. (2006). Metoda Penelitian. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.Cutlip, Center, dan Broom. (2006). Effectively Public Relations. Jakarta: KencanaPrenada Media Group.Djam’an Satori Dan Aan Komariah. (2009). Metode Penelitian kualitatif.Bandung: Alfabeta.F. Rachmadi. (1996). Public Relation dalam Teori dan Praktek. Jakarta : PT.Gramedia Pustaka Utama.Mardalis. (2004). Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal. Jakarta: PT.Bumi Aksara.Moleong, J. Lexy. (2010). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT RemajaRosdakarya Offset.Mudrajat Kuncoro. (2001). Metode Kuantitatif Teori dan Aplikasi Untuk Bisnisdan Ekonomi. Yogyakarta : UPP AMP YKPN.Mutofin. 2010. Evaluasi Program. Bandung: Laksbang Presindo.Soemirat, Soleh dan Elvirano Ardianto. (2003). Dasar-Dasar Public Relation.Bandung : Remaja Rosdakarya.Susanto, A.B. (2009). Reputation-Driven Corporate Social Responsibility,Pendekatan Strategic Management dalam CSR. Jakarta: Esensi Erlangga Grup.Patton, Michael Quinn. (2006). Metode Evaluasi Kualitatif. Yogyakarta: PustakaPelajar.Ruslan, Rosady. (2006). Metode Penelitian Public Relations dan Komunikasi.Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.Ruslan, Rosady. (1998). Manajemen Public Relations dan Media Komunikasi,konsepsi dan aplikasi. Jakarta: Rajawali Pers.Tashakkori, Abbas dan Charles Teddlie. (2010). Mixed Methodology. Yogyakarta:Pustaka Pelajar.Untung, Hendrik Budi. (2008). Corporate Social Responsibility. Jakarta : SinarGrafika.Wibisono, Yusuf. (2007). Membedah Konsep dan Aplikasi CSR (Corporate SocialResponsibility). Gresik: Fascho Publishing.SkripsiIbrahim, Adi Kurnia. (2011). Strategi Public Relations PT TelekomunikasiIndonesia, Tbk. Dalam Program CSR Pembinaan Usaha Kecil. Skripsi. ProgramStudi Komunikasi Pemasaran. Jakarta: Universitas Bina Nusantara.Kumalasari, Manik Andiani. (2010). Implementasi Program Community DialoguePlatform Sebagai Upaya Membangun Goodwill Antar Stakeholder untuk RealisasiPerencanaan Program Corporate Social Responsibility Komunitas Industri diKecamatan Bergas Kabupaten Semarang. Skripsi. Program Studi IlmuKomunikasi. Semarang: Universitas Diponegoro.Majid, Paramita. (2012). “Pengaruh Penerapan Corporate Social Responsibility(CSR) Terhadap Citra Perusahaan Pada PT. Hadji Kalla Cabang Sultan Alaudin,Makassar”. Skripsi. Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial danIlmu Politik. Makassar: Universitas Hasanuddin.

Page 4 of 4 | Total Record : 38