cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Interaksi Online
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Interaksi Online adalah jurnal yang memuat karya ilmiah mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Undip. Interaksi Online menerima artikel-artikel yang berfokus pada topik yang ada dalam ranah kajian Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial
Arjuna Subject : -
Articles 42 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 2: April 2013" : 42 Documents clear
KOMUNIKASI SENIOR DAN JUNIOR PADA KELOMPOK PELAJAR DALAM UPAYA MEMPERTAHANKAN BUDAYA TAWURAN Rizka Amalia; Sri Widowati Herieningsih; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.128 KB)

Abstract

Latar BelakangDi sekolah yang kerap terlibat aksi tawuran terdapat kelompok pelajar informal yang anggotanya terdiri dari senior dan juga junior. Senior memiliki peranan penting dalam mempertahankan keberadaan aksi tawuran pelajar. Senior melakukan komunikasi dengan juniornya untuk menyampaikan berbagai pesan yang umumnya dilaksanakan pada kegiatan- kegiatan tertentu yang telah menjadi tradisi di sekolah tersebut. Budaya tawuran pelajar seakan sengaja dibentuk dan diturunkan kakak- kakak kelas kepada siswa yang baru masuk sekolah, agar tradisi tersebut tetap terjaga. Biasanya, siswa yang baru masuk diajarkan melakukan tawuran di hari terakhir seusai Masa Orientasi Sekolah (MOS).Senior pada kelompok pelajar di setiap sekolah memiliki tradisi yang berbeda dalam melakukan komunikasi kepada juniornya. Namun cara senior dalam berkomunikasi untuk menyampaikan pesan cenderung bersifat koersif. Komunikasi koersif merupakan proses penyampaian pesan (pikiran dan perasaan) oleh seseorang atau sekelompok orang terhadap orang atau kelompok lain untuk mengubah sikap, opini, perilaku, dengan gaya yang mengandung paksaan (Effendy,1992: 83-84). Senior cenderung melakukannya disertai dengan ancaman bahkan juga menggunakan kekerasan agar pesan- pesan tersebut diterima. Banyak pesan yang disampaikan selain rasa cinta terhadap sekolah seperti diantaranya adalah penanaman identitas sosial, norma- norma yang berlaku di dalam pergaulan yang mengatur hubungan dan perilaku mereka dalam kelompok, juga stereotip terhadap sekolah- sekolah tertentu yang dianggap „rival‟ dan harus dimusuhi.Komunikasi antara senior dan junior dalam kelompok dapat dilihat seperti sebuah pertukaran antara manfaat yang diperoleh dan pengorbanan yang dikeluarkan. Hubungan antara dua pihak tersebut mirip dengan pertukaran ekonomis dimana orang merasa puas ketika mereka menerima kembalian yang sesuai dengan pengeluaran mereka (West and Turner, 2008: 217). Senior dapat tampil sebagai pihak yang memiliki kekuasaan dan kekuatan atas juniornya, menerapkan senioritas, dan dapat menurunkan nilai- nilai yang berlaku dalam kelompoknya. Namun mereka juga mengeluarkan pengorbanan yakni memperoleh perlakuan yang sama dariseniornya ketika mereka masih menjadi junior. Sedangkan junior mengeluarkan pengorbanan atau biaya berupa bersedia melakukan tawuran dan diposisikan di garis depan, mengikuti kegiatan- kegiatan yang ditetapkan oleh senior, serta mematuhi norma- norma yang berlaku. Junior juga memperoleh keuntungan atau ganjaran berupa diterima dan diakui sebagai bagian dari kelompok. Menjadi bagian dari kelompok memberikan kebanggaan bagi mereka, karena memperoleh prestige dari keanggotaannya terebut. Pelajar yang menjadi bagian kelompok tersebut umumnya menjadi populer dan lebih eksis dibandingkan dengan yang tidak bergabung dengan kelompok tersebut.Terkadang tawuran pelajar terjadi secara spontan ketika dua kelompok pelajar secara sengaja maupun tidak sengaja bertemu atau berpapasan di sebuah tempat. Namun terkadang tawuran terjadi karena dipicu oleh alasan sederhana seperti balas dendam karena ada pelajar yang diganggu oleh pelajar dari sekolah lain, keributan setelah pertandingan, atau hanya karena saling ejek. Bahkan seringkali tawuran terjadi karena sudah menjadi sebuah kebiasaan atau tradisi pada hari- hari tertentu di tempat yang menjadi titik rawan tawuran.Hampir setiap minggu terjadi tawuran di berbagai tempat, sehingga menggelisahkan masyarakat. Sarana umum seperti gedung, bus, dan sebagainya rusak berat akibat ulah oknum-oknum pelajar itu. Korban pun berjatuhan dari luka ringan, berat hingga tewas. (Yayasan penerus nilai-nilai perjuangan 1945,1998: 67). Dapat terlihat dengan jelas bahwa dampak tawuran merugikan banyak pihak, baik dari pelajar itu sendiri, sekolah, dan masyarakat pada umumnya. Tawuran menjadi sebuah permasalahan sosial yang tidak kunjung usai hingga saat ini.II. Perumusan MasalahAnggota dalam kelompok pelajar senantiasa selalu berganti setiap tahunnya, namun aksi tawuran pelajar tetap terjadi, bahkan jumlah kasus yang terjadi cenderung besar dan korban yang berjatuhan meningkat. Hal tersebut terjadi karena adanya komunikasi yang dilakukan oleh senior ke juniornya dalam mentransmisikan budaya kelompoknya termasuk tawuran dari generasi ke generasi. Senior sebagai pihak yang terlebih dahulu menjadi bagian dalam kelompok berperan dalam menyampaikan budaya kelompoknya tersebut kepada junior. Maka permasalahan dalampenelitian ini adalah bagaimana pengalaman komunikasi antara senior dan junior pada kelompok pelajar dalam upaya mempertahankan budaya tawuran?III. Tujuan PenelitianPenelitian ini bertujuan untuk memahami pengalaman komunikasi antara senior dan junior pada kelompok pelajar, khususnya dalam upaya mempertahankan budaya tawuran.IV. Signifikansi penelitian1. Signifikansi teoritisSecara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi penelitian ilmu komunikasi khususnya dalam pengembangan pemikiran teoritis menggunakan teori komunikasi koersif dan pertukaran sosial (social exchange theory).2. Signifikansi praktisSecara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran dan menjadi rujukan dalam memahami pengalaman komunikasi yang terjadi antara senior dan junior pada kelompok pelajar dalam mempertahankan budaya tawuran.3. Signifikansi SosialPenelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam kehidupan sosial. Tawuran sendiri merupakan fenomena konflik antar kelompok pelajar yang tidak kunjung usai hingga saat ini. Penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk membantu mencari alternatif solusi dalam permasalahan tersebut.V. Metoda PenelitianTipe penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologi. Data primer dikumpulkan menggunakan teknik wawancara mendalam (in-depth interview) kepada 8 informan yang terdiri atas 4 senior dan 4 junior dari 2 sekolah yang berbeda di Jakarta Selatan, sedangkan data sekunder diperoleh dari media massa dan data kepolisian. Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan teknik analisis data pada pendekatan fenomenologi Moustakas (dalam Creswell, 2007:159).VI. Kesimpulan Berdasarkan temuan penelitian di lapangan dan analisis yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa komunikasi yang dilakukan oleh senior dan junior dalam kelompok pelajar memiliki tujuan tertentu yakni sebagai upaya untuk mempertahankan budaya kelompok termasuk tawuran. Budaya dipertahankan dengan cara diturunkan dari generasi ke generasi, seniorlah yang bertugas mentransmisikan budaya tersebut kepada junior. Senior menggunakan teknik komunikasi koersif yaitu dengan ancaman, paksaan hingga kekerasan fisik saat menyampaikan pesan kepada junior.Selain itu, senior melakukan beberapa teknik komunikasi persuasif yaitu pay off idea dan fear arousing. Pay off dilakukan dengan memberikan harapan kepada junior bahwa mereka akan diterima sebagai bagian kelompok serta dapat menggantikan posisi seniornya kelak. Sedangkan fear arousing dilakukan dengan memanfaatkan ketakutan junior atas konsekuensi yang akan diterima jika tidak mematuhi hal yang disampaikan senior yaitu berupa hukuman mulai bentakan hingga kekerasan fisik.Junior tidak secara instan menerima budaya yang ditransmisikan oleh senior, melainkan diawali dengan keterpaksaan serta rasa takut terhadap senior. Namun, lambat laun junior dapat menerima budaya kelompok dan menerapkannya bukan karena tuntutan senior, namun karena telah terinternalisasi ke dalam dirinya.Dalam hubungan antara senior dan junior dalam kelompok, terdapat pertukaran sosial meliputi pengorbanan yang dikeluarkan dan imbalan yang diterima. Penerapan senioritas merupakan imbalan bagi senior dan merupakan pengorbanan dari junior. Dari hal tersebut, junior memperoleh imbalan dengan diakui sebagai bagian dari kelompok. Tidak semua junior memperoleh perlakuan yang sama dari seniornya, hanya mereka yang ditunjuk atau memang menginginkan keanggotaan dalam kelompok saja. Bagi junior yang merasa memperoleh keadilan dalam hubungannya dengan senior akan terus bertahan dalam kelompok, dan juga sebaliknya.Tawuran pelajar merupakan budaya yang diturunkan oleh senior sebagai upaya untuk melindungi sekolah luar dan dalam. Senior mengenalkan bahkan memberikan didikan kepadajuniornya mengenai tawuran. Solidaritas sesama teman, stereotip, dan ‘sense of belonging’ yang sangat kuat terhadap kelompok serta sekolahnya merupakan faktor pendorong bagi pelajar untuk tawuran. Namun, meskipun menanamkan budaya tawuran pada junior, senior menganggap bahwa saat ini tawuran tidak lagi perlu untuk dilakukan karena telah banyak menimbulkan korban. Tawuran hanya berguna untuk melindungi diri dan kesenangan masa remaja saja.VII. Bagan TeoritikVIII.IX.X.XI.Pertukaran Sosial Senior dan Junior dalam Kelompok Pelajar Cost RewardSeniorMemperoleh perlakuan yang sama saat juniorPenerapan senioritas Junior Penerapan Senioritas Diterima sebagai anggota kelompokKomunikasi Koersif (senior menggunakan paksaan dan ancaman dan kekerasan fisik)Komunikasi persuasif (Teknik pay off dan fear arousing)•kesediaan junior untuk diberikan pengaruh oleh seniorComplience•junior mulai melakukan hal-hal yang disampaikan oleh senior.Identification•pengaruh yang diberikan senior terinternalisasi pada diri juniorInternalizationTawuran sebagai Budaya Kelompok stereotipsolidaritaskonformitas normaDAFTAR PUSTAKAAdler, Ronald B dan Rodman, George. 2006. Understanding Human Communication, 9th Edition. New York: Oxford University PressAlwasilah, A Chaedar. 2000. Pokoknya Kualitatif. Jakarta: Pustaka JayaAw,Suranto. 2010. Komunikasi Sosial Budaya. Yogyakarta: Graha IlmuAzwar, Saifuddin. 1995. Sikap manusia Teori dan Pengukurannya. Edisi ke 2. Yogyakarta: pustaka pelajarBaxter, Leslie A dan Babbie, Earl. 2004. The Basics of Communication Research. The University of OtawaBeebe, Steven A dan Masterson, John T. 2003. Communicating in Small Groups: Principles dan Practices, 7th Edition. USA: Pearson Education, IncCreswell, John W. 2007. Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing Among Five Approaches. Thousand Oaks, California: SAGE PublicationsDenzim, Norman K dan Yvonna S. Lincoln. 2000. Qualitative Research, 3rd Edition. Thousand Oaks, California: Sage Publication, IncDeVito, Joseph A. 1997. Komunikasi Antar Manusia Edisi 5. Jakarta: Professional BooksEffendi, Onong Uchana. 1988. Hubungan Insani. Bandung: Remaja RosdakaryaEffendi, Onong Uchjana. 1992. Kepemimpinan dan Komunikasi. Bandung: Mandar MajuEffendi, Onong Uchana. 1992. Ilmu Komunikasi, teori, dan praktek. Bandung: Remadja KaryaEffendi, Onong Uchana. 1992. Hubungan Masyarakat. Bandung: Remadja KaryaHuraerah, Abu & Purwanto. 2006. Dinamika Kelompok: Konsep dan Aplikasi. Bandung: PT Refika AditamaHurlock, Elizabeth B. 1980. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan Edisi Kelima. Jakarta: ErlanggaKriyantono, Rachmat. 2010. Teknis Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: KencanaKuswarno, Engkus. 2009. Fenomenologi: Konsepsi, Pedoman dan Contoh Penelitiannya. Bandung: Widya Padjadjaran Liaw, Ponijan. 2005. Understanding Your Communication Style. Jakarta: PT Elex Media KomputindoLiliweri, Alo. 2002. Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya. Yogyakarta: LkiSLittlejohn, Stephen W. 1999. Teori Komunikasi: Theories of Human Communication, 6th Edition. USA: Wadsworth Publishing CompanyLittlejohn, Stephen W. 2009. Teori Komunikasi: Theories of Human Communication, 9th Edition. Jakarta: Salemba HumanikaMoleong, Lexy J. 2009. Metode Penelitian Kualitatif (Edisi Revisi). Bandung: PT Remaja RosdakaryaPratikto, Riyono. 1987. Berbagai Aspek Ilmu Komunikasi. Bandung: Remadja KaryaRahardjo, Turnomo. 2005. Menghargai Perbedaan Kultural: kompetesi Komunikasi Antarbudaya dalam Komunikasi Antaretnis. Yogyakarta: Pustaka PelajarRakhmat, Jalaluddin. 2007. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja RosdakaryaSobirin, Achmad. 2007. Budaya Organisasi. Yogyakarta: Unit Penerbit dan Percetakan sekolah tinggi ilmu manajemen YKPNSusetyo, Budi D. P. 2010. Stereotip dan Relasi Antar Kelompok. Yogyakarta: Graha IlmuSunarjo dan Sunarjo, Djoenaesih S. 1983. Komunikasi, Persuasi, dan Retorika. Yogyakarta: LibertyTubbs, Steward L & Sylvia Moss. 2005. Human Communication: Konteks-konteks komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya OffsetWest, Richard & Turner, Lynn H. 2008. Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi Buku 1. Jakarta: Salemba HumanikaWiryanto. 2004. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: GrasindoYayasan Penerus Nilai- Nilai Perjuangan 1945. 1998. Reformasi Pendidikan Mencegah Kenakalan Remaja antar Pelajar. Jakarta: Yayasan Penerus Nilai- Nilai Perjuangan 1945.Yusuf, Yusman. 1989. Dinamika Kelompok. Bandung: Armiko.Skripsi:Iffah Irsyadina. 2007. ”Komunikasi Persuasif Pendamping dalam Program Pendampingan Anak Jalanan”. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Diponegoro. SemarangRini, Yohana Susetyo. 2011. “Komunikasi Orangtua- Anak dalam Pengambilan Keputusan Pendidikan”. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Diponegoro. SemarangReferensi dari Media:1. CetakKompas, 25 September 2012. “Tawuran SMA 1 tewas 2 luka”, hal 1.Kompas, 27 September 2012. “Keberingasan Pelajar Kian Meresahkan”, hal 1.Kompas, 19 Oktober 2012. “Sekolah Ramah Anak Atasi Tawuran”, hal 34.Kompas, 19 Oktober 2012. “Dari Juara Menjadi Tersangka”, hal 34.2. TelevisiRCTI, 27 September 2012. Seputar Indonesia Pagi.RCTI, 30 September 2012. Seputar Indonesia Petang.3. InternetAfriyanti, Desi dan Ruqoyah, Siti. (2011). Jejak Bentrok SMA 6 dan SMA 70. Dalam http://metro.news.viva.co.id/news/read/248472-jejak-bentrok-sma-6-dan-sma-70 diakses pada 11 Januari 2013Amelia, Mei. (2012). 5 Pelajar Tewas dalam Tawuran Sepanjang Januari-September 2012. Dalam http://news.detik.com/read/2012/09/27/160351/2040707/10/5-pelajar-tewas-dalam-tawuran-sepanjang-januari-september-2012 diakses pada 11 Januari 2013Berindra, Susie. (2011) Tawuran: Tradisi Buruk Tak Berkesudahan. Dalam http://edukasi.kompas.com/read/2011/12/23/10210953/Tawuran.Tradisi.Buruk.Tak.Berkesudahan diakses pada 8 Mei 2012Cara Menanggulangi/ Mengatasi Tawuran Antar Siswa Pelajar SD, SMP, SMK, SMK, dll. (2011). Dalam http://organisasi.org/cara-menanggulangi-mengatasi-tawuran-antar-siswa-pelajar-sekolah-sd-smp-sma-smk-dll diakses pada 30 April 2012Daniel, Wahyu. 2011. Pelajar SMA 70 dan SMA 6 Tawuran di GOR Bulungan, Tiga Luka. Dalam http://news.detik.com/read/2011/07/15/232328/1682402/10/pelajar-sma-70-sma-6-tawuran-di-gor-bulungan-tiga-luka diakses pada 11 Januari 2013Edwin, Nala. (2012). Di Tengah Ujian Nasional, 4 Tawuran Terjadi di Jakarta. dalam http://news.detik.com/read/2012/04/18/175757/1895640/10/di-tengah-ujian-nasional-4-ta wuran-terjadi-di-jakarta diakses pada 11 Januari 2013More, Immanuel. (2011). tawuran Pelajar di Tengah Kemacetan. Dalam http://megapolitan. kompas.com/read/2012/07/18/2245554/Tawuran.Pelajar.di.Tengah.Kemacetan diakses pada 11 Januari 2013Muhaimin, Ramdhan. (2012). Awas! Tawuran Pecah antara SMA 70 vs SMA 6 di Bulungan. Dalam http://news.detik.com/read/2012/03/09/195404/1863198/10/awas-tawuran-pecah-antara-sma-70-vs-sma-6-di-bulungan diakses pada 11 Januari 2013Penyebab Terjadinya Tawuran Antar Sekolah. (2011). Dalam http://wartawarga.gunadarma. ac.id/2011/09/penyebab-terjadinya-tawuran-antar-sekolah/ diakses pada 3 Mei 2012Santosa, Bagus. (2012). Usai MOS, dua Tawuran Terjadi di Jakarta Selatan. Dalam http://jakarta. okezone.com/read/2012/07/18/500/665338/usai-mos-dua-tawuran-terjadi-jakarta-selatan diakses pada 30 April 2012Setiawan, Aris dan Ruqoyah, Siti. (2011). Tawuran SMA 70 dan SMA 6 Warisan Puluhan Tahun. Dalam http://metro.news.viva.co.id/news/read/248410-tawuran-sma-70-dan-sma-6-warisan diakses pada 11 Januari 2013Setiawan, Bambang Budi. (2011). Tawuran Antar Pelajar di Jakarta. Dalam http://www.indosiar.com/ragam/salah-satu-potret-bangsa-kita-21384.html diakses pada 3 Mei 2012SMA 70 dan SMA 87 Jakarta Terlibat Tawuran. (2012). Dalam http://www.metrotvnews. com/read/newsvideo/2012/04/25/149827/SMA-70-dan-SMA-87-Jakarta-TerlibatTawuran diakses pada 8 Mei 2012Supandi, Arofah. (2011). Ratusan Pelajar ditangkap di Blok M. Dalam http://berita.liputan6.com/read/366562/ratusan-pelajar-ditangkap-di-blok-m diakses pada 10 Mei 2012Surjaya, Abdullah M. (2012). Tawuran Pelajar, Satu Tewas Dua Kritis. Dalam http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/492125/ diakses pada 8 Mei 2012 Triyuda, Pandu. (2012). Berkas 6 Tersangka Tawuran Pancoran dilimpahkan ke Kejaksaan. Dalam http://news.detik.com/read/2012/11/09/163954/2087490/10/berkas-6-tersangka-tawuran-pancoran-dilimpahkan-ke-kejaksaan diakses pada 11 Januari 2013Wahono, Tri . (2011). Kehidupan Pelajar di Jakarta Meresahkan. Dalam http://nasional. Kompas. com/read/2011/12/21/06110685/Kehidupan.Pelajar.di.Jakarta.Meresahkan diakses pada 30 April 2012Wirakusuma, K. Yudha. (2011). 105 siswa SMKN 29 Jakarta ditangkap, 4 Bom Molotov Disita. Dalam http://news.okezone.com/read/2011/12/08/338/539868/105-siswa-smkn-29-jakart- ditangkap-4-bom-molotov-disita diakses pada 11 januari 2013
Memahami Pengalaman Negosiasi Identitas Komunitas Punk Muslim di Dalam Masyarakat Dominan Mardiansyah, Muhammad Reza; Rahardjo, Turnomo; Suprihatini, Taufik
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.126 KB)

Abstract

Latar Belakang Sejak dulu, fenomena Punk di Indonesia selalu dihadapkan dengan masalah bahwa anak-anak Punk tidak lebih dari sekadar sampah masyarakat. Gaya hidup mereka yang cenderung menyimpang seringkali dikaitkan dengan perilaku anarkis, brutal, bikin onar, mabuk-mabukan, narkoba, sex bebas dan bertindak sesuai keinginannya sendiri mengakibatkan pandangan masyarakat akan anak Punk adalah berandal yang tidak mempunyai masa depan yang jelas. Ditambah lagi dengan tindakan kriminal yang belakangan ini mulai banyak dilakukan anak Punk mulai dari penjambretan dan pencurian.Pandangan buruk terhadap komunitas Punk sudah sangat melekat dalam masyarakat, tetapi ternyata tidak semua komunitas Punk seperti yang digambarkan di atas. Di daerah Pulogadung Jakarta Timur terdapat sebuah komunitas Punk yang menggunakan agama Islam sebagi ideologi yang mereka anut yaitu komunitas Punk Muslim.Komunitas Punk Muslim adalah komunitas Punk yang berdiri sejak tahun 2007 lalu. Kata Muslim yang digunakan dalam nama komunitas Punk Muslim bukan tanpa alasan, sejak berdirinya komunitas Punk Muslim, komunitas ini berkomitmen akan membawa Islam sebagai jalur dalam segala kegiataannya.Punk Muslim hampir sama dengan komunitas Punk lainnya, mereka tetap membawa counter culture yang sama, yaitu mendobrak kebiasaan lama dan anti mainstream. Yang membedakan Punk Muslim dengan komunitas Punk lainnya hanya pada ideologinya, jika komunitas Punk lainnya lebih cenderung menggunakan ideology bebas dan anarkis, Punk Muslim menggunakan ideology islam yang lebih terarah dan teratur. Dalam penampilannya komunitas Punk Muslim juga tidak berbeda dengan komunitas Punk lainnya, mereka tetap bercelana jeans kumal, berkaos hitam lusuh dan sepatu boot malah sebagian anggota Punk Muslim masih ada yang menggunakan tattoo.Komunitas Punk Muslim didirikan karena ingin merubah stigma negatif yang menempel pada komunitas Punk pada umumnya. Ketika banyak yang menilai komunitas Punk itu hanya sampah masyarakat, komunitas Punk mencoba untuk merangkul mereka. Komunitas Punk Muslim mencoba menjelaskan kepada teman-teman Punk bahwa menjadi anak Punk itu tidak harus dengan tindakan anarkis, kriminal dan kebebasan yang tanpa aturan. Komunitas PunkMuslim tidak mencoba untuk melawan komunitas Punk lainnya, komunitas Punk Muslim hanya melawan sebuah konsep atau sistem kebebasan yang terlampau ekstrim yang menyebabkan anak-anak Punk terlihat negatif dalam masyarakat..Dalam kegiatan sehari-harinya anggota Punk Muslim selalu menggelar pengajian rutin di markas mereka untuk menambah ilmu mereka tentang agama, mereka juga tidak lupa menjalan shalat 5 waktu bahkan pada saat bulan ramadhan mereka menjalankan ibadah puasa, mengadakan shalat tarawih bareng dan juga pesantren untuk anak-anak Punk dan jalanan. Komunitas Punk Muslim ini juga menyalurkan aspirasi mereka lewat sebuah band Punk Muslim yang sudah terbentuk terlebih dahulu, sampai saat ini mereka sudah mengeluarkan dua album Punk yang memadukan aliran musik Punk dengan syair-syair religi.Komunitas Punk Muslim memang berbeda dengan komunitas Punk lainnya, mereka tidak lagi menggunakan ideologi bebas seperti komunitas – komunitas Punk lainnya, mereka menggunakan ideologi Muslim yang lebih terkonsep dan terarah. Namun, dengan masih menggunakan nama komunitas Punk mereka masih tetap saja menjadi komunitas yang termarjinalkan dalam masyarakat. Identitas mereka sebagai anak Punk lebih banyak membawa kerugian dari pada membawa keuntungan bagi mereka yang menyandangnya. Hal ini terjadi karena adanya persepsi yang salah pada masyarakat dalam memandang komunitas Punk.Munculnya stigma negatif tentang komunitas Punk juga berpengaruh pada identitas komunitas Punk Muslim. Tidak dipungkiri bahwa banyaknya perilaku anak Punk yang menyimpang seperti mabuk-mabukan, melakukan kekerasan dan tindak kejahatan membawa perubahan terhadap identitas komunitas Punk Muslim. Negoisasi identitas pun dilakukan oleh komunitas Punk Muslim ketika mereka harus berinteraksi dengan masyarakat dominan, dengan tetap mempertimbangkan budaya Punk itu sendiri dan budaya masyarakat dominan.Menurut Cupach dan Imahori, faktor dominan yang mempengaruhi identitas individu adalah budaya (cultural) dan identitas rasional (rational identities). Budaya memberikan pikiran, ide, cara pandang, sementara identitas rasional memberikan pola interaksi dan pola sosial yang membentuk bagaimana individu hendak memproyeksikan karakter dirinya berdasarkan pengalamannya dalam menjalani hubungan dengan orang lain atau dominant culture (Gudykunts, 2002: 191-192)Dalam konteks komunikasi antarbudaya, setiap melakukan komunikasi dengan orang dari budaya yang berbeda, pasti akan melakukan negosiasi identitas budaya masing-masing dalam diri individu tersebut. Orang–orang akan bernegosiasi dengan diri mereka sendiri tentang identitas budaya yang melekat pada mereka dan identitas budaya lain. Identitas didefinisikan sebagai konstruksi refleksi diri yang tampak, dibangun, dan dikomunikasikan dalam konteks interaksi budaya tertentu. Sedangkan negosiasi berarti interaksi transaksional dimana individu-individu yang berada dalam situasi antarbudaya akan memproses konsep diri orang lain dan diri mereka sendiri. Teori negosiasi identitas dipaparkan oleh Ting-Toomey memiliki asumsi, bahwa dalam teori ini menekankan konsepsi refleksi diri yang bekerja pada saat komunikasi antarbudaya berlangsung (Gudykunts, 2005:217).Agar diterima dan mendapatkan kenyamanan di lingkungan, maka komunitas Punk Muslim harus bisa menegosiasikan identitas Punk yang mereka punya kepada masyarakat dominan secara efektif. Mereka harus menegosiasikan bahwa Identitas Punk yang di punyai Punk Muslim bukan lagi seperti komunitas Punk pada umumnya yang sudah mempunyai citra buruk di dalam masyrakat. Identitas komunitas Punk Muslim tersebut akan terbentuk melalui negosiasi ketika mereka menyatakan, memodifikasi dan menentang identifikasi –identifikasi komunitas Punk pada umunya melalui sikap, perbuatan dan tindakan mereka kepada masyarakat dominan. Mereka seharusnya tidak lagi menentang budaya masyarakat dominan, tetapi seharusnya memahami, menghormati dan menghargai budaya masyarakat dominan karena Inti dari keberhasilan negoisasi adalah kedua belah pihak merasa sama-sama di pahami, dihormati, dan dihargai.II. Perumusan MasalahMelalui penelitian ini, peneliti ingin mengetahui bagaimana komunitas Punk Muslim menegosiasikan identitas mereka dalam masyarakat dominan yang masih menganggap komunitas Punk itu negatif ?.III. Tujuan Penelitian1. Memahami pengalaman negosiasi identitas yang dilakukan oleh komunitas Punk Muslim di dalam masyarakat dominan2. Mengetahui apakah masyarakat dominan masih menganggap komunitas Punk Muslim itu negatif setelah dilakukannya negosiasi identitas.IV. Signifikasi PenelitianSignifikasi TeoritisPenelitian ini secara teoritis diharapkan mampu memberikan kontribusi dalam mengkaji teori negosiasi identitas. Negosiasi identitas dalam penelitian ini akan mengkaji tentang pengalaman negosiasi identitas yang dilakukan komunitas Punk Muslim di dalam masyarakat dominan dalam konteks komunikasi budaya.Signifikasi PraktisSecara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjelaskan tentang bagaimana komunitas Punk Muslim menegosiasikan identitas mereka di dalam masyarakat dominan.Signifikasi SosialDalam tataran sosial, penelitian ini diharapkan mampu memberikan gambaran pengalaman negosiasi identitas komunitas Punk Muslim di dalam masyarakat dominan sehingga diharapkan mampu menjadi pedoman untuk pembaca dan mayarakat luas khususnya kelompok minoritas yang akan menegosiasikan identitasnya dengan baik dengan kelompok budaya dominan.V. Kerangka Teoritik Co-Culture TheoryCo-culture merupakan pemikiran teoritik yang menjelaskan kesetaraan budaya (Rahardjo.2005:46). Komunikasi co-culture merujuk pada interaksi diantara para anggota kelompok underrepresented dengan kelompok dominan. Fokus dari teori co-culture adalah memberikan sebuah kerangka dimana para anggota co-culture menegosiasikan usaha-usaha untuk menyampaikan suara diam mereka dalam struktur dominan. Teori Negosiasi IdentitasDidasarkan pada cross-cultural-face-negotiation-theory nya, Toomey berargumentasi bahwa negosiasi identitas adalah prasyarat untuk komunikasi antarbudaya yang sukses. Ia menekankan bahwa “negosiasi identitas yang efektif adalah proses antar dua interaksi dalam suatu peristiwa komunikasi dan ini penting sebagai basis kompetensi komunikasi antarbudaya (Gudykunts, 2002 : 192).Pada intinya Teori negosiasi identitas ini menjelaskan bahwa negosiasi identitas terjadi secara efektif apabila kedua belah pihak merasa dipahami, dihormati dan diterima nilainya sehingga timbul rasa pengertian diantara kedua pihak yang menegosiasikan identitasnya.VI. Metode PenelitianMetode pengkajian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif yang bertujuan untuk menjelaskan fenomena dengan sedalam-dalamnya mengenai negosiasi identitas komunitas Punk Muslim di dalam budaya dominan. Pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini adalah fenomenologi yang fokus pada pemikiran pengalaman pribadi subjek yang dalam ini adalah komunitas Punk Muslim.Lokasi Penelitian berada di Jakarta, dengan subjek penelitiannya adalah anggota komunitas Punk Muslim yang yang sudah menjadi anggota minimal satu tahun karena dianggap sudah memiliki pengalaman yang banyak dan diharapkan mereka dapat memberikan informasi tentang pengalaman mereka menegosiasikan identitas mereka di dalam masyarakat dominan.Dalam penelitian ini pengumpulan data dilakukan dengan cara melakukan wawancara mendalam (indepth interview) dimana anggota narasumber (komunitas Punk Muslim) diminta menceritakan pengalaman komunikasinya dalam menegosiasikan identitasnya dalam masyarakat budaya dominan. Wawancara ini akan menggunakan interview guide (panduan wawancara) yang dapat menjadi alat bantu subjek penelitian (komunitas Punk Muslim) dalam menjawab pertanyaan dan menggunakan alat bantu seperti alat tulis dan perekam suara.VII. Kesimpulan Munculnya Punk di Indonesia selalu dihadapkan dengan stereotip masyarakat dominan yang masih memandang komunitas Punk sebagai kelompok yang identik dengan keonaran, ketidakmapanan dengan hidup di jalanan, dan sering mabuk-mabukan sehinggaupaya merazia mereka dilakukan dimana-mana dengan alasan mengganggu ketertiban umum. Stereotip yang berkembang mengenai komunitas Punk pada umumnya memengaruhi komunitas Punk Muslim dalam membangun identitasnya yang ingin merubah pandangan masyarakat terhadap komunitas Punk menjadi postif. Anggota masyarakat yang melabelkan stereotip kepada komunitas Punk Muslim dipengaruhi oleh minimnya komunikasi yang terjalin antara masyarakat dan komunitas Punk Muslim akibat adanya stereotip tersebut. Berdasarkan hasil penelitian, komunitas Punk Muslim menggunakan perspektif agama Islam sebagai ideologi mereka. Ideologi merupakan cara berpikir seseorang atau kelompok yang membentuk sekumpulan konsep bersistem berupa pemahaman maupun teori dengan tujuan tertentu. Komunitas Punk Muslim menggunakan ideologi agama Islam yang tidak hanya mengarah kepada duniawi, tetapi kepada akhirat juga. Ideologi tersebut juga digunakan oleh komunitas Punk Muslim sebagai identitas mereka yang berbeda dengan komunitas Punk pada umumnya yang banyak menggunakan ideologi D.I.Y (Do It Your Self) yang berarti mereka dapat mengerjakan segala sesuatunya sendiri tanpa bantuan orang lain. Ideologi ini muncul karena sifat mereka yang anti sosial, tidak mempercayai siapapun diluar komunitas Punk, bahkan kecenderungan ideologi ini selalu berkaitan dengan perlawanan terhadap kekuasaan atau politik, anti sosial, minoritas, anti hukum, dan segala hal yang cenderung negatif. Identitas komunitas Punk Muslim tidak mereka tunjukkan melalaui atribut-atribut khusus yang mereka gunakan. Komunitas Punk Muslim cenderung bersikap layaknya masyarakat biasa dengan cara berperilaku sopan, berpakaian bersih dan wangi walaupun masih tetap menggunakan pakaian serba hitam seperti komunitas Punk pada umumnya, dan menutupi atribut-atribut Punk yang menyeramkan seperti tatto, anting, tindikan dan rambut mowhawk. Cara tersebutlah yang mereka tunjukkan sebagai identitas mereka sebagai seorang anggota komunitas Punk Muslim. Komunitas Punk Muslim yang berupaya untuk mengubah pandangan masyarakat terhadap komunitas Punk menjadi positif, menegosiasikan identitasnya didalam masyarakat dominan dengan melakukan strategi komunikasi akomodasi. Mereka mencoba menjalin hubungan positif dengan masyarakat tetapi tetap mempertahankan identitas mereka. Hal tersebut terbukti dari keaktifan komunitas Punk Muslim melakukankegiatan-kegiatan sosial seperti Tabliq, sunatan masal, membagi santunan kepada anak yatim dan para janda di lingkungan sekitar markas, namun mereka tetap mempertahankan identitasnya sebagai komunitas Punk dengan hidup dijalanan dan tetap memainkan musik beraliran Punk walaupun liriknya bernuansa Islam. Komunitas Punk Muslim melakukan strategi tersebut agar masyarakat sekitar bisa menerima komunitas Punk Muslim sebagai komunitas yang mempunyai citra positif. Hasil dari negosiasi identitas yang dilakukan komunitas Punk Muslim didalam masyarakat dominan adalah feeling of being understood (perasaan dipahami), komunitas Punk Muslim dan anggota masyarakat dominan sekitar markas yang terus melakukan interaksi untuk terus memahami perbedaan budaya dan latar belakang budaya satu sama lain. Selanjutnya adalah Feeling of being respected (perasaan dihormati) komunitas Punk Muslim mencoba menghormati masyarakat sekitar dengan meminta izin kepada ketua RW dan RT setempat sebagai perwakilan dari masyarakat setempat bila ingin mengadakan suatu acara. Wargapun menghormatinya dengan memberikan izin dan ikut berpartisipasi dalam acara tersebut. Terakhir adalah feeling being affirmative value (perasaan diterima nilai perbedaannya) yakni menguatkan secara positif dan menerima perbedaan. Komunitas Punk Muslim yang memiliki kemampuan di bidang musik diminta masyarakat untuk mengisi acara pada kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh masyarakat sekitar. Begitu juga dengan komunitas Punk Muslim, pada setiap kegiatan kemasyarakatan di lingkungan sekitar seperti kerja bakti, tahun baru Islam dan rapat RT, komunitas Punk Muslim selalu menghadiri acara tersebut karena masyarakat sekitar sudah dapat menerima komunitas Punk Muslim sebagai waga sekitar. Berdasarkan hasil negosiasi identitas komunitas Punk Muslim didalam masyarakat dominan. Masyarakat sudah tidak lagi menganggap komunitas Punk Muslim itu sebagai komunitas yang memiliki citra negatif tetapi sudah sebagai komunitas yang mempunyai citra positif di mata masyarakat. Hal itu di tunjukkan dengan kedatangan masyarakat atau partisipasi masyarakat pada saat komunitas Punk Muslim mengadakan acara atau dengan melihat antusias warga yang mengundang komunitas Punk Muslim dalam acara mereka.Gambar 4.1Bagan Pengalaman Negosiasi Identitas Komunitas Punk Muslim Didalam Masyarakat DominanKomunitas Punk Muslim (Subculture) Masyarakat dominan (Dominant Culture) Stereotip Terhadap Komunitas Punk Strategi Akomodasi (Kegiatan sosial dan kegiatan positif) Negosiasi Identitas Hasil Negosiasi Identitas : feeling of being understood (perasaan dipahami) feeling of being respected (perasaan dihormati) feeling being affirmative value (perasaan diterima nilai perbedaannya) Ideologi Agama Islam Keinginan Merubah Pandangan Negatif Terhadap komunitas Punk Bersikap layaknya masyarakat biasaDAFTAR PUSTAKABarnard, Malcolm. 2011. Fashion sebagai Komunikasi : Cara Mengkomunikasikan Identitas Sosial, Seksual, Kelas, dan Gender. Yogyakarta : Jalasutra.Fiske, John. 2011 diterjemahkan oleh Yosial Iriantana, MS. Dan Idi Subandy Ibrahim. Cultural and Communication Stuides. Sebuah Pengantar Paling Komprehensif. Yogyakarta: Jalasutra.Gudykunst.William B. 2002. Handbook of International and Interculutal Communication Second Edition. Thousand Oaks, California: SAGE publication.Gudykunst, William. 2005. Theorizing About Intercultural Communication. California : Thousand Oaks : SAGE Publication, Inc.Hebdige, Dick. 1979. Subculture the Meaning of Style. London & Newyork : Routledge Taylor and Francis Group.Littlejohn, Stephen W. & Karen A. Foss.2009. Teori Komunikasi Edisi 9. Jakarta: Salemba HumanikaLittlejohn, Stephen W & Karen A. Foss. 2009b. Encyclopedia of Communication Theories. California : Thousand Oaks : SAGE Publication, Inc.Martin, Judith & Thomas K. Nakayama. 2007. Intercultural Communication In Context (4th ed). NewYork : McGraw-HillMoleong, Lexy J. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT. Rosdakarya.Moustakas, Clark. 1994. Phenomenological Research Methods. California : SAGE Publication.Neuman, William Lawrence. 1997. Social Research Methods : Qualitative and Quantitative Approaches. Needhom Heights : A Valcom Company.Pearson, Judy C.,Paul E. Nelson, Scott Listworth. Lynn Harter. (2011). Human Communication (4th ed.). New York: McGraw-HillRahardjo, Turnomo. 2005. Menghargai Perbedaan Kultural. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.Sulistiyani, Hapsari. 2006. Modul Pelatihan Metode Penelitian Kualitatif. Semarang : Fisip Undip.INTERNEThttp://antarabogor.com/index.php/detail/1983/anak-Punk-resahkan-warga-depokhttp://www.facebook.com/pages/PUNK-Muslim-original page/163233493698838?fref=tshttp://punkmuslim.multiply.com/?&show_interstitial=1&u=http://allamandakathriya.blogspot.com/2012/04/komunitas-punk.html.
Stereotip Etnis Tionghoa Dalam Stand-Up Comedy pada lakon “KOPER” (Analisis Semiotika) Nur Aini; Adi Nugroho; Triyono Lukmantoro
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.113 KB)

Abstract

1ABSTRAKSIJudul Skripsi : Stereotip Etnis Tionghoa Dalam Stand-Up Comedy padalakon “KOPER” (Analisis Semiotika)Nama : Nur AiniNim : D2C308012Jurusan : Ilmu KomunikasiKaum minoritas dapat dianggap sebagai kelompok subkultur yang dapat menyebabkan pergolakan di sebuah negara. Perbedaan identitas menjadi kerap muncul sebagai awal permasalahan SARA yang salah satunya ditandai dengan adanya stereotip kelompok, terutama pada kaum minoritas. Kemunculan stand-up comedy di Indonesia yang turut meramaikan hiburan tanah air, menjadi salah satu media bagi kaum minoritas untuk lebih terbuka dalam mengkomunikasikan hal tabu seperti rasisme yang dialami oleh etnis Tionghoa. Melalui stand-up comedy hal tersebut diangkat dengan perspektif dan cara yang lebih dapat diterima.Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran kepada pembaca tentang makna yang diungkapkan dalam pertunjukan stand-up comedy lakon “Koper” pada sesi Ernest Prakasa, seorang keturunan etnis Cina-Betawi. Penulis menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis semiotika Roland Barthes untuk memaknai kode-kode secara denotatif dan konotatif, juga teknik analisis Fiske dengan menguraikan simbol-simbol tayangan yang disajikan melalui tiga level analisis yaitu reality, representation, dan ideology.Hasil penelitian menunjukkan adanya temuan mengenai representasi etnis Tionghoa yang digambarkan melalui stand-up comedy dalam lakon “Koper”. Pertama mengenai diskriminasi sosial yang dialami, etnis Tionghoa seringkali mendapatkan perilaku yang berbeda dari masyarakat karena dianggap sebagai liyan. Kedua, adanya stereotip tentang fisikalitas Tionghoa terutama bentuk mata sipit sebagai ciri khas yang dimiliki masyarakat Tionghoa atau keturunannya, hingga sekarang masih seringkali muncul. Dan yang ketiga adalah kemampuan sosial-ekonominya yang selalu dianggap berada di tingkat menengah ke atas, di mana hal tersebut berdampak pada kecemburuan sosial masyarakat.Disetujui oleh Pembimbing 1Semarang, Maret 2013Drs. Adi Nugroho, M.SiNIP 19651017.199311.1.0012PENDAHULUANIndonesia, sebuah negara besar yang terdiri dari berbagai kepulauan, memiliki begitu banyak ragam etnis kebudayaan. Salah satunya etnis Tionghoa yang meskipun dianggap sebagai kelompok subkultur, namun secara faktual merupakan warga Indonesia. Berbagai peristiwa yang terjadi, di negara ini seolah memandang etnis tersebut dengan sebelah mata. Adanya ketimpangan sosial yang terjadi pada masa lalu antara kelompok pribumi dan Tionghoa (keturunan) membuat pribumi merasa takut dan terancam. Refleksi ketakutan yang muncul dari kalangan pribumi tersebut pada akhirnya berubah menjadi persepsi umum. Charless A. Coppel dan Rizal Sukma (dalam http: //www.yusufmaulana.com/2009/07/menakar-diaspora-etnis-tionghoa.html) mengidentifikasi lima persepsi masyarakat pribumi terhadap karakter umum etnis Tionghoa, yaitu :1. Mereka adalah bangsa (ras) yang terpisah, yakni bangsa Cina;2. Posisi mereka diuntungkan dalam struktur sosial di bawah pemerintahan kolonial Belanda;3. Struktur sosial diskriminatif selama penjajahan Belanda menempatkan mayoritas mereka lebih suka mengidentifikasi dengan bangsa Belanda, memiliki sikap arogan, memandang rendah masyarakat Indonesia asli, cenderung eksklusif, dan mempertahankan hubungan kekerabatan dengan Cina daratan;4. Merupakan kelompok yang tidak mungkin berubah dan akan selalu memperhatikan nilai-nilai kulturalnya di mana pun mereka berada;35. Merupakan kelompok yang hanya peduli kepada kepentingan mereka sendiri, khususnya kepentingan ekonomi.Pemerintahan pasca-reformasi akhirnya kembali mengakui keberadaan etnis Tionghoa. Warga etnis Tionghoa diakui sebagai Warga Negara Indonesia (WNI) sah yang dilindungi dengan UU No 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia. Etnis Tionghoa mulai menunjukkan eksistensinya pada berbagai aspek kehidupan bermasyarakat mulai dari bidang politik, sosial, budaya, tidak terkecuali dalam bidang hiburan.Dalam dunia hiburan, Indonesia kembali mengalami satu era baru dengan kemunculan stand-up comedy. Stand-up comedy adalah komedi tunggal secara monolog yang ditampilkan di atas panggung, berinteraksi secara langsung dengan audiens, dan memiliki konten atau materi humor yang lebih tajam dan kritis. Dalam bukunya, Sudarmo juga menyebutkan bahwa dengan stand-up comedy, orang-orang berbagi tawa untuk melepas kegetiran hidup (Sudarmo, 2012: 175).Sudarmo (2012: 175) juga menyebutkan bahwa dengan SUC, orang-orang berbagi tawa untuk melepas kegetiran hidup. Ia juga mendefinisikan stand-up comedy sebagai kombinasi antara teater dan lawak improvisasi. Tradisi teater mensyaratkan kesiapan naskah/skenario, latihan, dan arahan sutradara. Lawak improvisasi, meskipun sebenarnya memiliki konsep/naskah, namun tidak tertulis, atau hanya mengandalkan kesepakatan dalam brifing sutradara (Sudarmo, 2012: 182). Dalam Stand-up comedy lakon “Koper”, setiap comic menyampaikan materi mereka dengan tetap menjaga karakter kentalnya masing-masing. Pertunjukan ini menceritakan perjalanan sebuah koper yang tua dan besar yang hendak dibuang4oleh pemiliknya di sebuah terminal karena dianggap berisi kenangan tentang istrinya yang membawa sial. Koper tersebut kemudian berpindah tangan, dari orang yang satu ke orang lainnya yang tidak saling mengenal.Berkaitan dengan penelitian ini, stereotip etnis minoritas yang sudah ada sejak dulu dan secara umum dianggap negatif, digambarkan menggunakan humor yang pada penelitian ini dikemukakan dalam stand-up comedy lakon “KOPER”. Berdasarkan uraian di atas, peneliti ingin mengetahui adalah bagaimana representasi “Stereotip Etnis Tionghoa dalam Stand Up Comedy “KOPER”?”Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan representasi stereotip etnis Tionghoa dalam Stand Up Comedy pada lakon “KOPER”. Peneliti juga berharap agar penelitian ini dapat memberikan pengetahuan dan informasi kepada pembaca dalam memahami serta mengetahui studi semiotik mengenai representasi Stereotip Etnis Tionghoa dalam Stand Up Comedy “KOPER” serta dapat dijadikan bahan rujukan ataupun pertimbangan untuk kajian ilmu komunikasi dan menjadi sumber informasi bagi penelitian selanjutnya, serta menjadi masukan tersendiri di bidang Stand Up Comedy.Metodologi Penelitian1. Tipe PenelitianMenggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe penelitian deskriptif. Metode penelitian yang digunakan adalah semiotik Barthes.2. Subyek PenelitianSasaran penelitian ini adalah stand-up comedy lakon “KOPER”, dengan subjek penelitian yaitu comic Ernest Prakasa.53. Unit AnalisisItem-item dalam stand-up comedy lakon “Koper” yang terdiri atas scene-scene, monolog yang terdiri dari bit-bit dan punchline yang mempunyai relevansi dengan rumusan masalah.4. Teknik Pengumpulan DataData primer penelitian ini berupa potongan gambar scene-scene dari pertunjukan yang disiarkan di Metro TV pada tanggal 19 dan 26 Februari 2012 dengan tajuk stand-up comedy lakon “Koper”. Sedangkan data sekundernya adalah studi pustaka mengenai sosok tionghoa yang diperoleh dari artikel, buku maupun sumber dari internet.5. Teknik Analisis DataTeknik analisis data pada penelitian ini didasarkan pada konsep The Codes of Television dipaparkan oleh Fiske (1987:5) bahwa peristiwa yang akan disiarkan telah dienkode oleh kode-kode sosial. Kode-kode tersebut terdiri dari beberapa level, sebagai berikut:a. Level 1: “Reality”b. Level 2: “Representation”c. Level 3: “Ideology”6HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANSosok Tionghoa dalam stand-up comedy lakon Koper hanya diwakili oleh karakter Ernest Prakasa sebagai comic. Dalam beberapa bagian, Ernest menggambarkan sebuah keadaan yang menjadi stereotip mengenai etnis Tionghoa. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Rahardjo (2005), dikemukakan persepsi orang Jawa tentang stereotip Cina dalam komunikasi antaretnis, sebagai berikut:Tabel 4.1Persepsi tentang stereotip dalam komunikasi antaretnisNoStereotipJawa - Cina (skala 1-5)1Pelit2,482Licik2,343Curiga2,144Sombong2,445Eksklusif2,276Mementingkan diri sendiri2,397Memandang rendah2,068Malas bekerja1,929Mudah disuap2,4110Hemat3,6611Jujur3,5012Sopan3,9213Ramah3,831. Diskriminasi Sosial Etnis TionghoaMonolog menggunakan kata “rasis” terdengar menyindir (meskipun dengan bercanda), yang ditujukan kepada panitia acara yang memilihkan peran itu untuknya sebagai penjaga toilet.7Seragam PDL. Seragam adalah simbol kepatuhan, kepasrahan, dan tunduk kepada peraturan. Pakaian yang dikenakan Ernest (PDL) adalah pakaian seragam yang digunakan oleh seorang pekerja lapangan, bekerja di luar kantor dan lebih banyak menggunakan tenaga. Seperti yang dikemukakan oleh Bungin (2006: 48), bahwa pekerja kasar, buruh harian, buruh lepas, dan semacamnya yang lebih banyak menggunakan tenaga dari pada kemampuan manajerial distratakan sebagai kelas sosial bawah (lower class).Gesture tubuh yang menyindir, terlihat dari cara mengibaskan baju seragamnya sembari melihat ke arah di luar penonton serta mengucapkan kata “ck..!”. Secara keseluruhan dimaknai sebagai sindiran akan diskriminasi sosial yang dialami oleh kelompok etnis Cina di masa lalu.2. Fisikalitas Etnis TionghoaBentuk mata sipit yang apabila dilihat oleh penonton dari kejauhan seperti orang yang berbicara dengan keadaan mata terpejam.Konotasinya, kalimat-kalimat yang muncul dalam bit tentang bentuk mata sipit merupakan hal yang lucu, ketika seorang comic membuat penonton menertawakannya melalui keadaan fisik yang berbeda pada dirinya. Humor semacam ini menunjukkan sebuah pengakuan atas ketidaksempurnaan dan kelemahan diri kepada penonton. Menurut Malcolm Khusner (dalam Sathyanarayana, 2007 92), meskipun pada menertawakan diri sendiri dapat menjatuhkan, namun sesungguhnya8humor tersebut dapat meningkatkan daya tarik dan membangun empati penonton.Adapun monolog yang sengaja mengganti istilah mata sipit dengan kurang belo, ciri khas yang biasa ditemui pada keturunan India dan Timur Tengah. Dalam teori humor, Ernest menggunakan self deprecating humor dimana mencela kaumnya sendiri merupakan salah satu bagian dari pengungkapan diri dengan menambahkan, “...lha mandang dua mata aja susah..! Apa lagi sebelah..!”. Ungkapan ini memiliki konotasi bahwa orang Cina tidak pernah merendahkan orang lain.Adanya stereotip bahwa orang Cina memiliki sifat angkuh, eksklusif dan memandang rendah etnis lain sengaja ditekankan bahwa hal tersebut tidak benar adanya. Dalam catatan Taher, disebutkan faktor kultural yang memiliki kaitan yang erat dengan permasalahan ini. Meskipun pada masa Orde Baru mengeluarkan kebijakan pemerintah tentang asimilasi (pembauran), ternyata Cina yang merupakan kebudayaan yang tertua di dunia ini cukup kuat dan berpengaruh di wilayah tertentu. Sebagai konsekuensinya, masyarakat Cina menjadi cenderung bersifat chauvinistik, sering memandang rendah kebudayaan bangsa-bangsa lain (Rahardjo, 2005: 19). Namun tentu saja tidak semua dari mereka memiliki sikap yang demikian. Tidak adil apabila stereotip itu dilekatkan pada semua orang Tionghoa padahal masih ada orang Tionghoa yang sangat bersahabat.93. Kelas Sosial-Ekonomi Etnis TionghoaDalam sebuah bit, dimana Ernest menemukan sebuah koper tidak bertuan yang tergeletak begitu saja di jalan. Kemudian dengan rasa penasaran, Ernest memperlihatkan dia sedang memeriksa koper tersebut dan mencoba menentengnya sembari berjalan. Ernest bercerita bahwa ternyata orang Cina tidak semuanya kaya.Konotasinya yaitu anggapan bahwa semua orang Tionghoa di negeri ini dianggap kaya dan memiliki kemampuan ekonomi yang mencukupi. Koper tersebut diartikan sebagai simbol kekayaan yang digunakan untuk menyimpan uang. Dalam bit tersebut Ernest menyebutkan, “gaya ya, kaya business man Shanghai!”. Secara harfiah, kalimat tersebut memiliki makna bahwa comic yang merupakan keturunan Cina-Betawi ini adalah bukan seorang pengusaha kaya seperti yang distereotipkan oleh masyarakat.Stereotip ini sendiri bermula dari pemerintahan kolonial Hindia-Belanda yang membagi masyarakat waktu itu menjadi tiga golongan, yaitu 1) orang Eropa yang kedudukannya paling tinggi; 2) orang Cina, India, dan Arab sebagai golongan Timur Asing dengan kedudukan sosial menengah; dan 3) golongan pribumi yang menempati kedudukan sosial terendah (Rahardjo, 2005: 18). Keistimewaan yang diberikan kepada masyarakat keturunan Cina memiliki posisi (ekonomi) yang lebih dominan dibanding komunitas masyarakat lokal. Hal ini membuat interaksi mereka dengan pribumi menjadi berjarak.10Keberhasilan banyak orang Tionghoa di bidang ekonomi memang seringkali menimbulkan kecemburuan sosial. Hanya saja keberhasilan ini tidak terjadi pada seluruh orang Tionghoa. Masih banyak orang Tionghoa biasa yang hidup secara sederhana dengan usaha mereka dan masih berjuang untuk memenuhi kebutuhannya. Banyak orang Tionghoa yang memiliki kemapanan finansial, namun perlu ditekankan pula bahwa kemapanan tersebut adalah buah dari kerja keras mereka.Selain itu pada bit yang menyampaikan bahwa Engkong atau kakek Ernest adalah seorang warga Tionghoa asli yang merantau ke negeri ini, kemudian ditambahkan bahwa tidak semua produk Cina itu KW, diambil dari kata kualitas dengan pelafalan kwalitas, yang artinya barang tiruan.Ketika dianalisis berdasarkan makna konotasi, terdapat kalimat yang ambigu. Disebutkan di dalam penampilannya, kata asli dalam bit tersebut memiliki artinya yang lain. Stereotip yang ingin diperjelas disini adalah anggapan masyarakat yang menggeneralisasikan bahwa barang made in China (yang berupa produk tekstil/ garmen dan elektronik) bahwa barang Cina seringkali disebut sebagai barang yang memiliki image peyoratif/negatif. dikenal dengan barang tiruan, bermutu rendah, dan murah (dikutip dari republika.co.id), Hal ini seringkali dikaitkan dengan isu ekonomi kapitalis yang digencarkan di negeri tersebut, yang lebih mementingkan bisnis dan ekonomi daripada aspek yang lain, menghalalkan segala cara demi mendapatkan kekayaan yang berlimpah.11PENUTUPStereotip yang direpresentasikan dalam stand-up comedy lakon Koper berbicara mengenai diskriminasi terhadap etnis Tionghoa dengan anggapan bahwa etnis Tionghoa adalah sebuah kelompok ras yang terpisah, sehingga dibeda-bedakan dengan kelompok masyarakat pribumi. Adapun ciri fisik yang khas dan mencolok yaitu bentuk mata sipit yang menjadi bahan untuk menyudutkan mereka dalam interaksi mereka dengan kaum mayoritas pribumi, dan menyebabkan etnis Tionghoa seringkali mendapatkan serangan verbal sebagai bentuk pengungkungan eksistensi mereka.Status sosial-ekonomi etnis Tionghoa distereotipkan sebagian besar lebih baik dari para pribumi. Padahal untuk mencapai tingkat kesuksesan seperti demikian, kaum Tionghoa telah menjalani kerja keras secara turun temurun. Namun demikian kecemburuan sosial yang merebak dan terstruktur dalam masyarakat Indonesia menyebabkan labelisasi „kaya‟ dan „eksklusif‟ bagi masyarakat Tionghoa. Akibatnya, gerak kaum Tionghoa seolah terkurung dalam ranah ekonomi yang semakin mengukuhkan dominasi finansial mereka.
PENGARUH TERPAAN PEMBERITAAN KEKERASAN PELAJAR TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PELAJAR Herlina Kurniawati
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.107 KB)

Abstract

PENGARUH TERPAAN PEMBERITAAN KEKERASAN PELAJAR TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PELAJARPENDAHULUANPemberitaan yang akhir – akhir ini banyak diberitakan oleh media adalah mengenai kekerasan pelajar di sekolah. Pemberitaan media mengenai kekerasan pelajar sendiri tidak lepas dari meningkatnya jumlah kekerasan di lingkungan dan kejadiannya tidak hanya pada saat masa orientasi, melainkan sepanjang tahun dengan berbagai modus, intensitas, dan pelaku. Data yang dirilis KPAI (Komisi perlindungan Anak Indonesia) menunjukkan bahwa 1.2026 responden, 87,6 persen anak mengaku pernah mengalami kekerasan di lingkungan sekolah. Dari persentase itu, 29,9 persen kekerasan dilakukan guru, 42,1 persen oleh teman sekelas, dan 28,0 persen oleh teman lain kelas. Kasus yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia, berupa kekerasan kepada adik kelas dan tawuran pelajar antarsekolah mendapat perhatian dari masyarakat luas tidak terkecuali oleh pelajar itu sendiri. Baik pelaku maupun sasaran kekerasan oleh pelajar sama – sama dalam posisi sebagai korban. Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak) mencatat jumlah kasus tawuran antarpelajar pada semester pertama tahun 2012 meningkat dibandingkan dengan kurun yang sama tahun lalu. Ketua Umum Komnas Anak Arist Merdeka Sirait menyatakan sepanjang enam bulan pertama tahun 2012 lembaganya mencatat ada 139 kasus tawuran pelajar, lebih banyak dibanding periode sama tahun lalu yang jumlahnya 128 kasus. Menurut data yang diperoleh dari layanan pengaduan masyarakat Komnas Anak tersebut, dari 139 kasus tawuran yang kebanyakan berupa kekerasan antarpelajar tingkat sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas itu 12 diantaranya menyebabkan kematian. Secara keseluruhan layanan pengaduan masyarakat Komnas Anak menerima 686 pengaduan kasus kekerasan terhadap anak di lingkungan sekolah.Media massa dengan gaya pemberitaan yang berbeda antara media satu dengan yang lain saling berlomba dalam memberitakan peristiwa kekerasan pelajar untuk menarik perhatian masyarakat tidak terkecuali bagi pelajar itu sendiri. Pemberitaan kekerasan pelajaryang diberikan oleh media massa menimbulkan efek yang berbeda pada masing – masing khalayak yang mengkonsumsinya. Hampir sepanjang waktu mereka diberi informasi mengenai tindak kekerasan yang dilakukan oleh pelajar mulai dari pemukulan, pengerusakkan, perkelahian antar pelajar yang terkadang berakhir dengan pembunuhan.Pemberitaan berita kriminal mempunyai tipologi yang berbeda – beda, ada yang menampilkan langsung korban dan pelaku ada yang tidak, bahkan ada media yang memberitakan proses terjadinya kriminal secara terperinci dengan pola investigasi dimana hal ini bertujuan untuk menarik perhatian dari khalayak (Kuswandi, 2008:50). Berita kekerasan pelajar termasuk dalam kategori berita kriminal, maka berita – berita kekerasan pelajar yang ada di media massa mengikuti penyajian berita kriminal pada umumnya. Berita kekerasan tersebut diberitakan oleh media dengan pola yang dapat menyebabkan rasa simpati terhadap korban, bahkan bisa berwujud perasaan ngeri akibat efek dramatisasi sehingga menjadi hal yang wajar jika para pelajar tersebut merasakan kengerian ketika mereka mengkonsumsi berita kekerasan pelajar tersebut.Penelitian ini termasuk dalam tipe eksplanatif, dimana penelitian ini merupakan penelitian dengan menghubungkan atau mencari sebab akibat antara dua atau lebih variabel yang diteliti. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah terpaan pemberitaan kekerasan pelajar (X) yang berpengaruh terhadap variabel terikat, yaitu tingkat kecemasan pelajar (Y). teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Kultivasi / Cultivation Theory, Teori Penguatan / Reinforcement Theory, Teori Ketergantungan / Depedency Theory.PEMBAHASANPada penelitian ini hasil yang diperoleh setelah melakukan penelitian di lapangan melalui 76 responden yang berprofesi sebagai pelajar SMA, menunjukkan bahwa berapapun tingkat terpaan pemberitaan mengenai kekerasan pelajar tingkat kecemasan yang mereka rasakantermasuk dalam kategori tinggi. Terpaan pemberitaan kekerasan pelajar merupakan faktor yang menimbulkan kecemasan bagi pelajar namun bukan menjadi faktor satu – satunya yang menjadikan pelajar tersebut menjadi cemas. Faktor – faktor yang mempengaruhi khalayak dalam menerima efek media ini meliputi organisasi personal psikologis individu seperti potensi biologis, sikap, nilai, kepercayaan, serta pengalaman, kelompok sosial dimana individu menjadi anggota, dan hubungan interpersonal pada proses penerimaan, pengelolaan, dan penyampaian informasi (Rakhmat, 2004:204). Sedangkan kecemasan yang timbul di diri pelajar terhadap kasus kekerasan pelajar yang banyak terjadi di kalangan pelajar saat ini dapat terjadi karena beberapa faktor, yaitu : faktor pribadi, faktor lingkungan keluarga, faktor lingkungan kelompok sebaya, faktor lingkungan sekolahTerpaan pemberitaan kekerasan pelajar yang tidak memiliki pengaruh terhadap tingkat kecemasan pelajar membuat hasil penelitian tidak sesuai dengan Teori Ketergantungan (Depedency Theory). Pada teori ini dijelaskan bahwa semakin orang menggunakan media untuk memenuhi kebutuhannya, maka semakin penting peran media dalam hidup orang tersebut, sehingga semakin besar pengaruh yang dimiliki media. Namun dalam perkembangannya, khalayak semakin kritis dalam menerima berbagai informasi yang diberikan oleh media. Mereka membutuhkan media dalam mencari berbagai informasi mengenai apa yang terjadi di sekitar mereka namun dalam menerima pesan di media informasi tersebut akan disaring, dipikirkan, dan dan dipertimbangkan apakah mereka mau menerima pesan dari media massa tersebut atau tidak. Walaupun peristiwanya sama namum pelajar akan menanggapi secara berbeda – beda, sesuai keadaan diri mereka masing – masing. Secara psikologis pelajar mempersepsi stimuli sesuai dengan karakteristik personalnya atau dapat dikatakan bahwa pesan diberi makna berlainan oleh orang yang berbeda. Seperti dijelaskan dalam Teori Pengolahan Informasi individu bekerja bagai biokomputer yang rumit, dengan kapasitas dan strategi pengelola informasi tertentu.Teori ini menggunakan analogi mekanis untuk menggambarkan dan menafsirkan bagaimana individu mengambil dan memaknai banjir informasi yang diterima indera masing – masing setiap saat setiap harinya (Baran, 2010:311). Setiap hari pelajar terekpos dengan berbagai informasi mengenai kekerasan pelajar dalam jumlah yang besar oleh media massa, mereka menyaring berbagai informasi sehingga hanya sebagian kecil saja yang mencapai pikiran sadar mereka. Hanya sebagian kecil saja dari informasi tersebut yang menarik perhatian dan diproses sehingga hanya menyimpan sedikit informasi ini dalam memori jangka panjang. Khalayak bukanlah seorang penerima ataupun penghindar informasi, namun mereka telah membangun mekanisme canggih untuk menyeleksi informasi yang tidak penting atau tidak berguna.Teori Pengolahan Informasi memiliki potensi yang besar untuk mengeksplorasi beragam konten di media. Bagaimana pelajar merangkai kemampuannya dalam merangkai kemampuan kognitif alamiah mereka untuk memahami dan menggunakan berbagai konten di media. Pelajar yang merupakan usia peralihan dimana awalnya terpesona dan ketakutan oleh pemberitaan kekerasan yang diberikan oleh media pada akhirnya membuat pembedaan yang kompleks terhadap apa yang diberitakan. Pelajar mulai mengerti bahwa pemberitaan kekerasan pelajar yang diberitakan oleh media tidak selalu seperti fakta yang ada, dengan pengemasan berita yang berlebihan mereka tidak akan langsung menerima segala informasi yang diberikan. Ketakukan dan kecemasan terhadap kekerasaa pelajar tidak langsung muncul setelah mereka mengkonsumsi pemberitaan di media.PENUTUPKesimpulanBerdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa hipotesis penelitian ini tidak terbukti, yaitu tidak ada pengaruh antara terpaan pemberitaan kekerasan pelajar terhadap tingkatkecemasan pelajar. Berapapun terpaan pemberitaan kekerasan pelajar (X), tingkat kecemasan pelajar (Y) tergolong tinggi hal ini disebabkan oleh beberapa faktor lain yang turut memengaruhi hasil penelitian mengenai pengaruh terpaan pemberitaan kekerasan pelajar terhadap tingkat kecemasan pelajar. Beberapa faktor lain tersebut antara lain seperti faktor pribadi, faktor lingkungan keluarga, faktor lingkungan kelompok sebaya, dan faktor lingkungan sekolah.Saran•Media dalam memublikasikan berita mengenai kekerasan pelajar lebih memperhatikan peraturan yang ada, agar tidak sekedar melihat sisi komersilnya saja namun juga dapat menjadi sumber informasi dan juga pembelajaran bagi masyarakat. Media massa memiliki tanggung jawab sosial bagi masyarakat untuk ikut mendidik anak bangsa.•Pihak sekolah dapat membentuk hubungan secara egaliter (setara) dan tidak ada keharusan penghormatan secara berlebihan baik antarpelajar, termasuk dengan guru agar tidak terjadi penghormatan berlebihan dari yunior kepada senior yang mengarah pada tindakan bullying yang banyak terjadi di lingkungan sekolah.•Pelajar adalah kalangan muda yang memiliki energi besar, namun kurikulum pendidikan tidak mampu menampung kekuatan tersebut. Energi pelajar yang besar itu seharusnya disalurkan oleh sekolah secara proporsional. Jika pelajar hanya dituntut secara kognitif dalam kurikulum, mereka tentu kesulitan menyalurkan kelebihan energinya dalam hal-hal lain yang positif akhirnya terjadilah kekerasan dan tawuran.•Orangtua dapat menciptakan komunikasi yang baik dengan anak agar mereka dapat menceritakan apa yang mereka rasakan dan alami ketika berada di lingkungan sekolah. Sehingga orangtua dapat memperhatikan pergaulan anak dengan kelompokteman sebayanya di lingkungan tempat anak menimba ilmu maupun tempat mereka bermain.DAFTAR PUSTAKABaran, Stanley J & Dennis K. Davis. (2010). Teori Komunikasi Massa: Dasar, Pergolakan, dan Masa Depan (Mass Communication Theory: Foundations, Ferment, and Future). Jakarta: Salemba Humanika.Effendy, Onong Uchjana. (1990). Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Hernandez, Roger E. (2005). Remaja & Media. Bandung: PT Intan Sejati.Javanovich, Harcourt Brace. (1993).Pengantar Psikologi. Jakarta: Erlangga.Kriyantono, Rachmat. (2008). Teknik Praktis Riset Komunikasi: Disertai Contoh Praktis Riset Media, Public Relations, Advertising, Komunikasi Organisasi, Komunikasi Pemasaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.Kuswandi, Wawan. 2008. Komunikasi Massa (Analisis Interaktif Budaya Massa). Jakarta: Rineka Cipta.Littlejohn, Stephen W & Karen A Foss. (2008). Theories of Human Communication. 9th Edition. Belmont: Thomson Wadsworth.McQuail, Denis. (2011). Teori Komunikasi Massa: Suatu Pengantar Edisi Kedua. Jakarta: Erlangga.Morissan. (2010). Psikologi Komunikasi. Bogor: Ghalia Indonesia.Nurudin. (2010). Kutu – Kutu Media: Seksualitas dalam Globalisasi Media. Yogyakarta: Mata Padi Presindo.Rakhmat, Jalaluddin. 2004. Psikologi Komunikasi: Edisi Revisi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Risnawita, S & M.Nur Ghufron. (2011). Teori – Teori Psikologi. Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA.Sarwoko, Bambang. (1989). Konsep Dasar: Pendidikan Luar Sekolah. Semarang: IKIP Seamarang Press.
VIDEO REPORTASE INVESTIGASI: “Mengungkap Penyalahgunaan Wi-Fi Kampus untuk Mengakses dan Mengunduh Konten Porno” Muhammad Akbar Nugroho; Nurul Hasfi; Muchammad Yulianto
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

iVIDEO REPORTASE INVESTIGASI: “MENGUNGKAP PENYALAHGUNAAN WI-FI KAMPUS UNTUK MENGAKSES DAN MENGUNDUH KONTEN PORNO”ABSTRAKInternet telah menjadi kebutuhan dan bagian dari gaya hidup masyarakat saat ini. Masyarakat semakin dimudahkan dengan adanya teknologi jaringan Wi-Fi (Wireless Fidelity). Teknologi ini dimanfaatkan oleh universitas-universitas di Semarang, sebagai fasilitas gratis yang menunjang pendidikan. Dengan akses internet lewat jaringan Wi-Fi, mahasiswa dengan mudah mencari berbagai informasi di dunia maya. Sayangnya, ada mahasiswa di beberapa kampus tersebut yang jutsru melakukan penyalahgunaan. Akses internet gratis justru dimanfaatkan untuk mengakses situs-situs bermuatan pornografi dan mengunduh video porno.Untuk membuktikan bahwa penyalahgunaan tersebut benar-benar terjadi, maka diperlukan penelusuran lebih lanjut. Penelusuran dilakukan dengan menerapkan cara-cara jurnalisme investigasi menurut Sheila Coroner. Meliputi dua bagian, dan tujuh rincian pelaksanaan kerja. Cara-cara tersebut digabungkan dengan metode pembuatan program televisi, yang terdiri dari 3 tahap; pra produksi, produksi, serta paska produksi. Hal tersebut karena karya dibuat dalam format audio-visual, dan akan ditayangkan di stasiun televisi. Selain itu, juga dilakukan negosiasi penayangan dengan stasiun-stasiun televisi lokal yang ada di Semarang, diantaranya yakni Pro TV, TV Borobudur, Cakra Semarang TV, dan TVRI Jawa Tengah. Pada akhirnya, didapatkan kesepakatan penayangan dengan pihak Cakra Semarang TV. Karya Bidang dapat ditayangkan dengan mengisi spot program yang telah ada. Dari dua pilihan program berita, yakni “Seputar Jawa Tengah” dan „Target Investigasi”, diputuskan bahwa program yang disebut terakhirlah yang dinilai lebih cocok dengan tema penyalahgunaan Wi-Fi kampus.Dan setelah keseluruhan proses kerja dilaksanakan, dapat dibuktikan bahwa memang ada mahasiswa di berbagai kampus di Semarang, yang melakukan penyalahgunaan jaringan Wi-Fi di kampusnya. Sistem otentifikasi jaringan dan filter situs porno, ternyata tidak membuat mahasiswa jera untuk mengakses situs porno. Bahkan mereka memiliki cara-cara khusus untuk dapat menembus sistem kemanan tersebut. Seluruh hasil penelusuran dirangkai dalam sebuah tayangan berita investigasi berdurasi ± 30 menit. Untuk dapat ditayangkan, pihak Cakra TV melakukan editing ulang, yakni dengan mengganti bumper dan title “Suar Investigasi”, menjadi “Target Investigasi”. Beberapa bagian video diubah urutannya, naskah narasi presenter juga disesuaikan. Bagian presenter dihilangkan, diisi dengan shoot presenter Cakra TV yang diambil secara live (siaran langsung). Karya Bidang ini tayang pada Senin, 9 Juli 2012 di Cakra Semarang TV.Kata Kunci : Wi-Fi, Pornografi, Investigasi, TelevisiiiINVESTIGATIVE REPORTING VIDEO: “REVEAL MISAPPLICATION OF WI-FI IN CAMPUS FOR ACCESS AND DOWNLOAD PORNOGRAPHY CONTENT”ABSTRACTThe Internet has become part of the needs and lifestyles of today's society. The public is increasingly facilitated by the presence of Wi-Fi (Wireless Fidelity). This technology is used by universities in Semarang, as a free facilities that support education. With Internet access via Wi-Fi network, students easily find a variety of information in cyberspace. Unfortunately, there are some misapplication on that utilization. Some student at several university have used the free internet facility for access pornography websites, and download porn videos.To prove that the abuse actually occurred, it would require a further search. Search carried out by applying methods of investigative journalism by Sheila Coroner. Includes two parts, and seven working implementation details. These methods are combined with a method of making a television program, which consists of three stages: pre-production, production, and post-production. This is because the work is created in the audio-visual format, and will be aired on television stations. In addition, there are negotiations with local television stations in Semarang, such as Pro TV, TV Borobudur, Cakra Semarang TV, and TVRI Jawa Tengah. In the end, obtained an agreement with the Cakra Semarang TV. The Project can be screened by filling the existing programs. There are two news program, "Seputar Jawa Tengah" and "Target Investigasi", that may suitable for the Project. But it was decided that “Target Investigasi” was more suitable for the theme of misapplication of Wi-Fi in campus.Indeed, after the whole process of work carried out, it can be proven that there are students at various campus in Semarang, who were doing misapplication of Wi-Fi facility. Network authentication system and filter porn sites doesn‟t make a deterrent for students to access porn sites. They even have special ways to be able to penetrate the security system. The throughout video of the project have arranged in ± 30 minutes of an investigative news program. To be ready to be aired, the TV station should have the extra editing, by replacing the bumper and the title of "Suar Investigasi", changed to "Target of Investigasi". There are also some video sequence that have be modified. The script narration for the host have been also modified. The part for the former host have been removed, filled with the shoot of TV‟s host that have been taken in live broadcast. The Project hasve been aired on Monday, July 9th, 2012 at Cakra Semarang TV.Keyword: Wi-Fi, Pornography, Investigation, TelevisioniiiVIDEO REPORTASE INVESTIGASI:“Mengungkap Penyalahgunaan Wi-Fi Kampus untuk Mengakses dan Mengunduh Konten Porno”Resume Laporan Karya BidangDisusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikanPendidikan Strata 1Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikUniversitas DiponegoroPenyusun:Nama: Muhammad Akbar NugrohoNIM: D2C007058FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2012ivBAB IPENDAHULUANTeknologi Wi-Fi telah banyak dimanfaatkan oleh perguruan tinggi di Indonesia. Dengan adanya area Wi-Fi di kampus, maka akan memudahkan mereka dalam mengakses internet pada tempat dan waktu itu juga. Apalagi bagi sebagian besar mahasiswa saat ini, laptop sudah tidak menjadi barang mahal.Fasilitas Wi-Fi gratis yang disediakan oleh kampus, idealnya digunakan untuk kepentingan pendidikan. Namun kenyataannya ditemukan fakta bahwa ada oknum-oknum mahasiswa yang tidak menggunakan fasiltas itu dengan semestinya. Berdasarkan hasil pra-riset, telah ditemukan di empat buah universitas di Semarang, dimana ada oknum mahasiswanya yang pernah mengakses dan mengunduh konten porno di area Wi-Fi kampus. Beberapa dari kampus tersebut memiliki sistem filter / keamanan yang lemah terhadap situs porno.Gambar 1.1. Seorang mahasiswa di kampus A sedang mengakses internet di area Wi-Fi kampusnyavDiberlakukannya Undang-undang no.11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan Undang-undang no.44 tahun 2008 tentang Pornografi, membuat kegiatan mengakses, mengunduh, dan mendistribusikan konten porno kegiatan tersebut telah menjadi sebuah tindak pidana. Namun, akibat kurangnya pengawasan dan kesadaran pribadi mahasiswa, hal itu tidak membuat mereka jera. Apalagi, belum ada aturan yang jelas dari kampus tentang perbuatan tersebut.Berdasarkan penemuan tersebut, maka dibuatlah Karya Bidang berupa video reportase investigasi, yang bertujuan untuk mengungkapkan fakta bahwa jaringan Wi-Fi di beberapa universitas di Semarang, telah disalahgunakan untuk mengakses dan mengunduh konten porno. Pembuatannya dilakukan dengan berlandaskan teori-teori jurnalistik, khususnya mekanisme jurnalisme investigasi menurut Sheila CoronerPara wartawan investigasi memaparkan kebenaran yang mereka temukan, melaporkan adanya kesalahan-kesalahan, dan menyentuh masyarakat untuk serius terhadap soal yang dikemukakan, mengafeksi masyarakat dengan bacaan moral yang dikumpulkannya (Santana. K, 2003; 97). Untuk menelusuri fakta, paraGambar 1.2. Sebuah situs porno yang sedang diaksesviwartawan investigasi melakukan kegiatan investigative reporting. Kegiatan nvestigative reporting merupakan kegiatan peliputan yang mencari, menemukan, dan menyampaikan fakta-fakta adanya pelanggaran, kesalahan, atau kejahatan yang merugikan kepentingan umum dan masyarakat (Santana. K, 2003; 135).Karya Bidang akan ditayangkan di salah satu program yang adadi Cakra Semarang TV, dengan mempertimbangkan segmentasi penonton. Segmentasi penonton didapatkan stelah diketahui nilai berita (news value), yang diantaranya: konsekuensi peliputan dan penayangan, diharapkan bisa mempengaruhi kebijakan beberapa universitas terkait fasilitas Wi-Fi, kedekatan dengan aspek-aspek dunia pendidikan, kemasyuran karena melibatkan institusi pendidikan tinggi ternama di Semarang, serta sifatnya yang baru (tindakan penyalahgunaan Wi-Fi dilakukan baru-baru ini).BAB IIGAMBARAN UMUMUntuk mencegah pengaksesan situs-situs bermuatan pornografi di area kampus, pihak pengelola Wi-Fi telah melakukan beberapa upaya. Dari hasil penelusuran di kampus-kampus yang terdapat di kota Semarang, kami menemukan bahwa hampir semua kampus tersebut telah menerapkan sistem otentifikasi dan filter situs porno.Sistem otentifikasi digunakan untuk membatasi pengguna hanya sebatas mahasiswa universitas bersangkutan. Setiap mahasiswa diberikan username dan password tertentu. Menurut dosen dan praktisi teknologi informasi, Dr. RidwanviiSanjaya, setiap akses internet dapat dilacak. Dengan sistem tersebut,diharapkan mahasiswa akan berpikir dua kali jika akan mencoba membuka situs-situs porno.Selain otentifikasi, juga dterapkan sistem filter. Sistem filter yang paling banyak digunakan di Indonesia adalah Nawala dari Yayasan Nawala Nusantara (http://www.nawala.org). Nawala akan membantu menepis jenis situs-situs negatif yang tidak sesuai dengan peraturan perundangan, nilai dan norma sosial, adat istiadat dan kesusilaan bangsa Indonesia seperti pornografi dan perjudian.Daftar situs-situs yang dinilai mengandung unsur-unsur tersebut terus diperbarui, sehingga akan mengurangi kemungkinan pengguna internet yang bisa mengaksesnya. Jika ada pengguna yang mencoba membuka situs-situs yang ada dalam sistem database, maka akses akan ditolak.BAB IIIPELAKSANAAN, EVALUASI DAN ANALISIS KERJA3.1 Pelaksana Kerja Tahap Produksi3.1.1 ProduserProduser adalah orang yang memegang pimpinan dalam sebuah produksi program siaran televisi, tugasnya melaporkan kepada produser eksekutif, yang bertanggung jawab pada pelaksanaan produksi. (Darwanto, 2007; 161).viii3.1.2 ReporterSesuai dengan proses kerja investigasi yang diuraikan Sheila Coroner (Santana. K, 2003; 170-177), maka reporter melakukan tugas-tugasnya sebagai berikut:1. Pencarian petunjuk awal (first lead).Reporter mencoba melakukan akses internet di area-area Wi-Fi kampus yang diinformasikan oleh narasumber.2. Investigasi pendahuluan (initial investigation).Reporter berkeliling ke lima buah kampus yang ada di kota Semarang, untuk mengetahui bagaimana para mahasiswanya memanfaatkan fasilitas Wi-Fi.3. Pembentukan hipotesis (forming an investigative hypotesis).Ada mahasiswa dari beberapa kampus di Semarang yang bisa mengakses konten porno melalui jaringan Wi-Fi kampusnya. Mereka sengaja memanfaatkan kelonggaran sistem keamanan jaringan Wi-Fi yang ada di kampusnya.4. Pencarian dan pendalaman literatur (literature search).Reporter menelusuri berita-berita terkait penyalahgunaan internet untuk akses situs porno, data-data pelanggaran, serta ada tidaknya peraturan yang mengatur pemanfaatan internet dan akses pornografi.5. Wawancara dengan pakar dan sumber ahli (interviewing experts).Wawancara dengan Adian Fathurrahman, Ketua Bidang Jaringan dan Insfrastruktur, Puskom IT Undip.ix6. Penjejakan dokumen-dokumen (finding a paper trail).Reporter mempelajari undang-undang mengenai teknologi informasi dan pornografi. Didapatkan Undang-undang no.11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, serta UU no.44/2008 tentang Pornografi.7. Wawancara dengan sumber kunci dan saksi (interviewing key informants and sources).Reporter melakukan wawancara dengan beberapa mahasiswa yang diduga pernah mengakses situs porno di area Wi-Fi kampus.8. Pengamatan langsung di lapangan (first hand observation).Reporter kembali melakukan penelusuran di kampus-kampus di kota Semarang. Pada tahap kegiatan ini, reporter berhasil menemukan seorang mahasiswa oknum pelaku yang kedapatan sedang mengakses situs porno di kampus A.9. Pengorganisasian file (organizing file).Berbagai keterangan dan data yang sudah didapatkan telah ditulis serta direkam secara audio-visual. Selain itu, juga ditentukan daftar narasumber yang akan diwawancarai.10. Wawancara lebih lanjut (more intreviews).Reporter melakukan wawancara dengan praktisi teknologi informasi, tokoh pendidikan, serta psikolog sosial di Kota Semarang.11. Analisis dan pengorganisasian data (analyzing and organizing data).Ada lima orang mahasiswa pelaku yang bersedia diwawancarai. Sebagian besar dari mereka tidak mengetahui adanya UU Pornografi dan ITE. Sedangkan pihak kampus sendiri, belum membuat aturan dengan sanksi yang jelas. Selamaxini, kampus lebih berperan dalam memberikan anjuran-anjuran, seperti melalui dosen-dosen di kelas, serta peraturan akademik.3.1.3 Penulis Naskah (Scriptwriter)Naskah dibuat dalam beberapa segmen dengan rincian garis besar tema yang akan dibahas (Darwanto, 2007; 165): 1. Segmen I: Pengenalan tema dan kasus yang dibahas, 2. Segmen II: Jembatan penghubung antara kasus dengan pihak-pihak yang berhubungan dengannya, 3. Segmen III: Rangkaian pendapat narasumber dan kesimpulan.3.2 Pelaksana Kerja Tahap Produksi3.2.1 ProduserDalam tahap produksi, produser melakukan beberapa tugas, yaitu perijinan pemakaian tempat, perijinan peminjaman alat dan tanggungjawab terhadap kru.3.2.2 ReporterDalam tahap produksi, reporter bekerja sama dengan kamerawan untuk melakukan wawancara. Wawancara dilakukan dengan lebih mempertimbangkan kepentingan pengambilan gambar.3.2.3 Pengarah ProduksiTugas-tugas yang dilakukan pengarah acara adalah: menentukan lokasi-lokasi pengambilan gambar sesuai panduan naskah, menyiapkan storyboard untuk pengambilan gambar presenter, menyiapkan dan mengarahkan prompter,ximenyiapkan baju presenter saat pengambilan gambar presenter, menjadi asisten kamerawan, mengatur tata artistik gambar, mengatur pencahayaan gambar.3.2.4 KamerawanPengambilan gambar wawancara narasumber dilakukan dengan menggunakan bantuan tripod. Tujuannya adalah menjaga stabilitas gambar, agar tidak goyang. Ada tiga hal yang diperhatikan dalam pengambilan gambar ini. Yakni latar belakang gambar, bahasa gambar, serta komposisi gambar.Sedangkan pengambilan gambar-gambar yang mendukung naskah dan narasi, lebih banyakdilakukan tanpa bantuan tripod. Yang diperhatikan dalam pengambilan gambar ini adalah bahasa gambar, bahasa kamera dan komposisi gambar. Kamerawan juga melakukan pengambilan gambar secara terselubung atau sembunyi-sembunyi (hidden camera). Pengambilan gambar tersebut dilakukan saat merekam aktifitas oknum mahasiswa di kampus A. Kamerawan merekam dari kejauhan, serta melindungi kamera dengan tas, agar tidak mencolok.3.3 Pelaksana Kerja Tahap Paska Produksi3.3.1 Editor GambarEditor gambar bertugas untuk melakukan penyuntingan dan penyusunan gambar sesuai dengan naskah editing (Darwanto, 2007; 177). Sebelumnya, editor video melakukan pemindahan data-data gambar dan suara. Data-data tersebutxiidipindahkan dari media kaset mini DV menuju hard disk komputer dan hard disk eksternal.3.3 Evaluasi KerjaEvaluasi dilakukan oleh produser eksekutif dari Cakra TV, Purnomo Awari. Terdapat beberapa hal yang menjadi catatan beliau dalam evaluasi ini. Ada beberapa masukan, seperti kurangnya tingkat kedalaman naskah investigasi, pengambilan gambar untuk dua buah wawancara yang kurang baik, serta beberapa gambar dinilai kurang pencahayaan3.4 Analisis KerjaDari keseluruhan evaluasi tersebut, dapat disimpulkan bahwa ada beberapa ketrampilan untuk membuat sebuah karya investigasi yang baik. Ketrampilan dalam merencanakan sebuah program televisi yang dikuti dengan ketrampilan membuat dan mengolah audio dan video. Ketrampilan tersebut harus diimbangi dengan pengetahuan dan wawasan yang luas, agar menghasilkan kedalaman dalam penulisan naskah investigasi.Seperti yang dikatakan Rosihan Anwar, terdapat dua tipe wartawan, yakni yang wartawan yang mahir menggunakan keahlian teknik kerja (The Common Garden Journalist), dan ada wartawan yang selalu berpikir bagaimana membuat suatu informasi yang efektif (The Thinker Journalist). (Kuswandi, 1996; 52). Oleh karena itu, untuk membuat suatu karya jurnalistik yang baik, diperlukan kemampuan berpikir mendalam, yang ditunjang pula dengan ketrampilan praktis.xiiiBAB IVPENUTUP4.1 Simpulan1. Ada mahasiswa dari kampus-kampus di Semarang yang mengakses dan mengunduh konten porno lewat jaringan Wi-Fi kampusnya.2. Ada mahasiswa yang bisa menggunakan cara-cara khusus untuk menembus sistem filter situs porno4.2 Saran4.2.1 Bagi Tim:1. Tema investigasi sebaiknya diangkat dari suatu kontroversi yang dikuatkan oleh pendapat narasumber-narasumber berpengaruh.2. Standar ukuran video untuk tayangan di Cakra Semaramg TV adalah gambar dengan format .avi dengan dimensi 720x576, serta kualitas suara stereo.4.2.2 Bagi Perguruan Tinggi:Bagi perguruan tinggi, perlu menerapkan sistem otentifikasi dan filter yang merata di setiap titik akses. Perlu juga untuk mulai menerapkan aturan yang tegas bagi tindakan penyalahgunaan jaringan Wi-Fi.4.2.3 Bagi Mahasiswa:Disarankan kepada mahasiswa agar memanfaatkan Wi-Fi gratis di kampus untuk kepentingan-kepentingan seperti akses jurnal ilmiah, berita, informasi dan referensi. Porsi pemanfaatan untuk hal-hal tersebut sebaiknya lebih besar dibandingkan untuk akses situs-situs hiburan.xivDAFTAR PUSTAKABuku:Darwanto. (2007). Televisi sebagai Media Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Belajar.Gaines, William.C. (2007). Laporan Investigasi untuk Media Cetak dan Siaran. Jakarta: ISAI.Ishwara, Luwi. (2007). Catatan-catatan Jurnalisme Dasar (3th ed.). Jakarta: Penerbit Buku Kompas.Kovach, Bill., dan Rosenstiel, Tom. (2006). Sembilan Elemen Jurnalisme. Jakarta: Yayasan Pantau.Kusumaningrat, Hikmat., dan Kusumaningrat, Purnama. (2005). Jurnalistik: Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya.Kuswandi, Wawan. (1996). Komunikasi Massa: Sebuah Analisis Media Televisi. Jakarta: Rineka Cipta.Muda, Deddy Iskandar. (2003). Jurnalistik Televisi. Bandung: Remaja Rosdakarya.Santana.K, Septiawan. (2003). Jurnalisme Investigatif. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.Santana.K, Septiawan. (2005). Jurnalisme Kontemporer. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.Subroto, Darwanto. S. (1994). Produksi Acara Televisi. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.Wahyudi, J.B. (1994). Dasar-dasar Manajemen Penyiaran. Jakarta: Gramedia.Wibowo, Fred. (1997). Dasar-dasar Produksi Program Televisi. Jakarta: Grasindo.Vivian, John. (2008). Teori Komunikasi Massa (8th ed.). Jakarta: Kencana.xvE-book:De Burgh, Hugo. (2008). Investigative Journalism (2nd ed.). New York: Routledge.Hill, David.T and Sen, Krishna. (2005). Internet in Indonesia New Democracy. New York: Routledge.Internet:Diakses pada 20 November 2011, pukul 22.00-22.15 WIB:http://anggara.org/2008/03/26/uu-informasi-dan-transaksi-eletronik-uu-ite-adalah-ancaman-serius-bagi-bloger-indonesia/http://anggara.files.wordpress.com/2008/03/uu-ite.pdfhttp://blanov.blogspot.com/2009/03/pengenalan-Wi-Fi.htmlhttp://ebookbrowse.com/makalah-seminar-keamanan-Wi-Fi-uny-josua-m-sinambela-pdf-d27203760http://www.4shared.com/document/U4tIsU0F/konfigurasi-jaringan-hotspot.htmlDiakses pada 22 November 2011, pukul 13.11-13.45 WIB:http://www.batan.go.id/prod_hukum/extern/uu-ite-11-2008.pdfhttp://www.lipi.go.id/intra/informasi/1250035982.pdfhttp://id.wikipedia.org/wiki/Undang-undang_Informasi_dan_Transaksi_Elektronikhttp://www.republika.co.id/berita/nasional/hukum/11/11/17/luszsf-uu-ite-digunakan-untuk-kepentingan-orang-berduithttp://www.bloggerceria.com/2009/06/cara-pasang-Wi-Fi-router-murah.htmlhttp://blog.fastncheap.com/cara-mudah-mencari-driver-komputer-dan-laptop/22 nov 11http://elesmana23.blogspot.com/2011/06/jumlah-pc-notebook-dan-netbook-di.htmlDiakses pada 27 November 2011, pukul 12.50-13.15 WIB:http://tekno.kompas.com/read/2010/07/30/1338421/Prospek.Pasar.Laptop.Semakin.Topxvihttp://rinismanca.blogspot.com/2008/04/penyalahgunaan-internet-di-kalangan.htmlhttp://niasbarat.wordpress.com/2008/04/08/bahaya-penyalahgunaan-media-internet-dan-upaya-penanganannya/Diakses pada 1 Januari 2012, pukul 19.00-20.00 WIB:http://budiawan-hutasoit.blogspot.com/2011/01/ini-dia-statistik-situs-porno-di.htmlhttp://www.poskota.co.id/berita-terkini/2010/04/23/ratusan-situs-porno-muncul-tiap-harihttp://www.lintasberita.com/Dunia/Berita-Dunia/fakta-menyedihkan-ternyata-indonesia-pengakses-situs-porno-terbesar-dunia-dampak-perkembangan-teknologi-informasihttp://www.catatanteknisi.com/2011/11/pengertian-definisi-jaringan-wifi.htmlhttp://www.catatanteknisi.com/2011/11/wireless-access-point.htmlhttp://www.inherent-dikti.nethttp://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2008/04/10/8420/Pengguna- Terbanyak-Kata-Kunci-Porno-di-InternetDiakses pada 10 Januari 2012, pukul 19.00-21.00http://habibimustafa.wordpress.com/2010/02/18/mengenal-wi-fi-wireless-fidelity/http://www.inherent-dikti.nethttp://www.goenawanb.com/it/pengertian-bandwidth/18oktober2011http://www.agungsulistyo.wordpress.com/2007/06/06/apakah-malware-itu/http://www.isi-dps.ac.id/berita/televisi-sebagai-konstruksi-realita-bagian-iiDiakses pada 17 Juli 2012, pukul 07.00 WIBhttp://asiaaudiovisualexc09adibganteng.wordpress.com/investigative-reporting-peran-media-dalam-membongkar-kejahatan/
MEMAHAMI PROSES KOMUNIKASI PERSUASIF PENJUAL UNTUK MEMBENTUK KEPERCAYAAN PEMBELI PADA TRANSAKSI JUAL BELI ONLINE MELALUI FORUM JUAL BELI KASKUS Setyo Adhi Nugroho; Djoko Setyabudi; Nurist Surraya ulfa
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PENDAHULUAN Berbagai transaksi jual beli yang dahulu hanya bisa dilakukan secara tatapmuka, kini sangat mudah dan dapat dilakukan melalui media internet(http://id.wikipedia.org/wiki/Internet). Cara jual beli yang konvensionalsebenarnya masih digunakan, tetapi banyak juga orang yang menawarkan barangdan / atau jasa melalui online shopping. Akhir-akhir ini penjual, selainmempunyai toko untuk melakukan aktivitas jual beli secara konvensional, jugamenggunakan akses internet sebagai wadah untuk menawarkan dagangan mereka.Transaksi melalui online shopping di Indonesia diawali dari Forum JualBeli Kaskus (FJB Kaskus), yang kemudian secara bergantian mulai bermunculanforum-forum sejenis yang juga menyediakan layanan forum jual beli. Socialnetwork atau situs jejaring sosial seperti facebook dan multiply juga mulaimenjadi media belanja online selain TokoBagus, Rakuten, dan Berniaga.com.Melalui forum-forum, situs jejaring sosial, situs jual beli, dan media belanja inilahbanyak sekali transaksi jual beli yang dilakukan masyarakat melalui aksesinternet.Kaskus merupakan situs komunitas yang pertama dan bahkan yangterbesar di Indonesia, dimana situs tersebut yang pertama menyediakan forumkhusus untuk melakukan transaksi jual beli secara online. Berdasarkan data, lebihdari 60 persen total trafic pengunjung Kaskus yang per bulannya mencapai 40 jutaorang lebih, berasal dari FJB. Sementara total transaksi diprediksi mencapaimiliaran rupiah setiap bulannya(http://techno.okezone.com/read/2011/03/03/55/431121/online-shopping-mulaimarak-di-indonesia). Karena hal inilah, banyak masyarakat Indonesia yangmengakses dan memanfaatkan FJB Kaskus untuk mencari barang atau pun jasayang diinginkan.Melalui FJB Kaskus, calon pembeli dapat mencari barang yang diinginkandengan cara mengetikkan “key word” berupa barang atau jasa yang diinginkanpada kolom “search”, dan akan muncul beberapa thread yang berisi mengenaibarang atau jasa yang ingin dicari atau dibeli tersebut. Pada thread jual beli yangdibuat oleh TS (thread starter), berisikan informasi-informasi mengenai barangatau jasa yang di jual tersebut, dan informasi mengenai penjual yang diperlukan.Calon pembeli juga dapat mengetahui reputasi TS, selaku penjual, dengan melihatdi kolom profil milik TS. Selain spesifikasi barang yang akan dijual dan reputasidari TS, calon pembeli juga dapat melihat beberapa testimonial dari pembelipembeliyang pernah melakukan transaksi dengan TS.Dengan lebih dulu melihat informasi-informasi mengenai barang yangdijual dan profil dari beberapa TS, calon pembeli kemudian akan mengontak TSyang menurutnya dapat dipercaya untuk segera memesan barang yang diinginkan,karena beberapa Kaskuser bisa saja menjual barang yang sama atau sejenis.Setelah mengontak penjual, biasanya calon pembeli akan melakukan tawarmenawarharga sampai kedua belah pihak menyetujui berapa harga yang harusdibayar untuk barang yang diinginkan tersebut. Baru lah setelah kedua belahpihak saling setuju masalah harga, calon pembeli akan melakukan transaksi.Untuk pembayaran pada transaksi jual beli melalui FJB Kaskus yaitupembeli dapat melakukan proses pembayaran dengan cara melakukan transfersejumlah uang ke rekening yang sebelumnya terdapat dalam thread yang dibuatTS, dengan menggunakan sistem COD (Cash on Delivery), atau denganmelibatkan penyedia jasa rekber.Dalam hal pembayaran ini, sebagian besar pembeli melakukan transaksidengan cara mentransfer uang ke rekening penjual terlebih dahulu, baru kemudianbarang akan dikirim ke pembeli. Cara ini memang cara yang paling banyakdigunakan dalam melakukan transaksi jual beli secara online karena cara inidianggap sebagai cara yang paling mudah, apalagi bagi penjual dan pembeli yangberdomisili di kota atau daerah yang berbeda atau berjauhan. Sebenarnya cara inisangatlah rawan akan tindak penipuan. Kebanyakan penipuan yang terjadidikarenakan penjual yang tidak mengirim barang yang diminta oleh pembeli,padahal pembeli sudah mentransfer sejumlah uang kepada penjual. Walaupundemikian, jumlah transaksi jual beli yang terjadi melalui FJB Kaskus tetaplahbanyak. Tingkat kepercayaan Kaskuser terhadap Kaskus dan Kaskuser lain jugamasih tinggi. Kepercayaan tersebut tidak terjadi secara begitu saja, melainkanmelalui persuasi dari penjual kepada pembeli, dan persuasi tersebut dilakukansecara bertahap.PEMBAHASANPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengalaman penjual dalammelakukan komunikasi persuasi kepada pembeli sehingga pembeli bersedia untukmelakukan perilaku pembelian melalui FJB Kaskus. Penelitian ini dilakukandengan menggunakan pendekatan fenomenologi dengan mengaitkan antarapengalaman-pengalaman penjual dengan teori persuasi untuk menjelaskanmengenai upaya-upaya yang dilakukan penjual dalam menawarkan danmempromosikan barang dagangannya melalui FJB Kaskus, serta upaya-upayayang dilakukan penjual untuk menumbuhkan kepercayaan (trust) dari pembeli,sehingga pembeli bersedia melakukan pembelian. Peneliti juga mencobamenjelaskan mengenai upaya-upaya yang dilakukan pembeli dalam mencaribarang hingga membeli barang yang diinginkan melalui FJB Kaskus.Penelitian ini membahas mengenai ecommrece, yaitu transaksi jual beliyang dilakukan secara online. Beberapa kalangan akademisi pun sepakatmendefinisikan ecommerce sebagai salah satu cara memperbaiki kinerja danmekanisme pertukaran barang, jasa, informasi, dan pengetahuan denganmemanfaatkan teknologi berbasis jaringan peralatan digital (Indrajit, 2001: 11).Dari beberapa definisi yang dijelaskan dan dipergunakan oleh berbagaikalangan, terdapat kesamaan dari masing-masing definisi, dimana ecommercememiliki karakteristik sebagai berikut: Terjadinya transaksi antara dua belah pihak; Adanya pertukaran barang, jasa, atau informasi; dan Internet merupakan medium utama dalam proses atau mekanismeperdagangan tersebut.Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa transaksi jual beli onlinemelalui FJB Kaskus merupakan bentuk dari kegiatan ecommerce, karenadilakukan oleh dua pihak, terdapat pertukaran barang dan jasa, dan interaksi yangdilakukan menggunakan internet sebagai medium utama.Untuk menjelaskan mengenai upaya-upaya yang dilakukan penjual dalammenawarkan dan mempromosikan barang dagangannya melalui FJB Kaskus,digunakan konsep berdasarkan hasil penelitian sebelumnya yaitu intergrity yangmembahas mengenai cara-cara yang biasa dilakukan penjual dalam menjualbarang dagangannya (Rofiq, 2007: 33), familiarity yang berkaitan dengankeakraban yang terjadi setelah penjual dan pembeli melakukan interaksi (Lu dkk,2009: 349), perceived similarity yang membahas mengenai kesamaan persepsiantara penjual dan pembeli dalam melakukan transaksi jual beli secara onlinemelalui FJB Kaskus (Lu dkk, 2009: 350), dan structural assurance yang berkaitandengan jaminan-jaminan yang diberikan kepada pembeli (Kauffman, Robert J.,Patrick Y. K. Chau, Terry R. Payne, J. Christopher Westland, 2012: 346-360).Untuk menumbuhkan kepercayaan (trust) dari pembeli sehingga pembelibersedia melakukan pembelian, maka akan dikaitkan dengan karakteristikkomunikasi persuasif yang dilakukan oleh penjual. Karakteristik dari komunikasipersuasif yaitu terdapat interaksi antara penjual dan pembeli, adanya perilakuyang tidak memaksa dari penjual, dan adanya usaha-usaha untuk merubahperilaku (Adler, 2006: 428-430).Interaksi dilakukan karena apabila tidak ada interaksi, maka tidak akanterjadi suatu komunikasi antara penjual dan pembeli, dan jika tidak adakomunikasi, maka tidak akan terjadi suatu transaksi jual beli. Komunikasipersuasi yang dilakukan juga tidak memaksakan kehendak, namun lebih kepadameyakinkan orang lain, dalam hal ini yaitu pembeli, supaya pembeli bersediamelakukan suatu perilaku pembelian. Dan tujuan akhir dari komunikasi persuasiyaitu berusaha untuk melakukan perubahan perilaku.Perubahan perilaku ini tidak dapat terjadi secara langsung, melainkanmemerlukan adanya suatu proses. Komunikasi persuasif digunakan oleh penjualdalam FJB Kaskus untuk mengubah kepercayaan konsumen dan berusahamenimbulkan perubahan perilaku untuk melakukan jual beli online. Kepercayaanmerupakan komponen afektif yang menjadi salah satu unsur di dalam sikap yangmasuk ke dalam tahapan perubahan sikap pembelian konsumen.Kepercayaan tersebut akan muncul pada konsumen FJB Kaskus saatmelakukan penelusuran-penelusuran yang berkaitan dengan kemasan yang dibuat,serta janji-janji yang diberikan penjual, seperti thread yang dibuat, reply, quote,PM, VM, bahkan YM sekalipun. Setelah timbulnya kepercayaan ini, maka akandiikuti dengan komponen behavioral yakni perilaku terhadap sesuatu. Maka padatahap ini timbul tindakan untuk membeli atau tidak membeli.Masyarakat secara umum sudah sangat terbiasa melakukan kegiatanbelanja secara konvensional, dengan mendatangi penjual, melihat barang ataujasa, dan melakukan pembayaran secara langsung menggunakan uang tunai.Namun belanja secara online tentunya melawan kebiasaan yang telah ada padamasyarakat secara umum. Berikut adalah cara-cara yang dapat digunakan dalamrangka mengubah perilaku konsumen melalui perubahan komponen kognitif(Yusriana, 2011: 16-17):1. Mengubah keyakinanStrategi ini meliputi mengubah keyakinan satu atau beberapa daripenampilan atau kemasan produk.2. Mengganti hal-hal pentingBanyak konsumen yang berpikir bahwa tidak semua unsur-unsur produkitu penting. Maka dari itu perubahan dapat dilakukan melalui menonjolkanhal-hal yang dianggap tidak penting.3. Menambah keyakinanPada FJB Kaskus, keyakinan akan produk ditambah melalui memberikanfakta-fakta kemudahan dalam berbelanja selain itu menjadikan belanjaonline sebagai gaya hidup baru.4. Mengubah idealPada FJB Kaskus, idealisme membeli secara tatap muka tentu menjadiberkurang, dan perlahan digantikan model baru walaupun masih adabeberapa yang melakukannya dengan cara COD.Melalui tahap perubahan-perubahan kognitif tersebut, maka komponenafektif dan behavioral dapat berubah dengan sendirinya. Maka dalam penelitianini digunakan teori komunikasi persuasif dengan mengkombinasikan tiga konsepdasar perasaan awal individu atas sebuah produk dan metode perubahan kognitifuntuk mengubah afektif. Ketiga teori tersebut diharapkan mampu menjelaskanupaya seperti apa yang digunakan untuk membangun kepercayaan pembeli di FJBKaskus.Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitiandeskriptif kualitatif, dengan menggunakan paradigma interpretif, melaluipendekatan fenomenologi. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksuduntuk mengemukakan gambaran atau pemahaman (understanding) mengenaibagaimana dan mengapa suatu gejala atau realitas komunikasi terjadi (Pawito,2007: 35).Penelitian ini menggunakan paradigma interpretif karena seperti yangdijelaskan Rahardjo (Modul Tim Fisip Undip, 2006: 8) bahwa paradigmainterpretif membantu dalam menginterpretasikan alasan-alasan yang dilakukanoleh para pelaku dalam melakukan tindakan-tindakan sosial.Karena peneliti ingin melihat pengalaman yang dialami oleh penjual danpembeli dalam berinteraksi melalui FJB Kaskus, maka penelitian inimenggunakan pendekatan fenomenologi. Hal ini berdasarkan penjelasanLittlejohn (2002), bahwa fenomenologi sebagai suatu gerakan dalam berpikir dandapat diartikan sebagai upaya studi tentang pengetahuan yang timbul karena rasakesadaran ingin mengetahui. Objek pengetahuan berupa gejala atau kejadiankejadianyang dipahami melalui pengalaman secara sadar (councious experience).Fenomenologi menganggap pengalaman yang aktual sebagai data tentang realitasyang dipelajari (Pawito, 2007: 54).Subjek dari penelitian ini adalah individu (kaskuser) yang memilikipengalaman dalam kegiatan transaksi jual beli melalui Forum Jual Beli Kaskus.Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknikwawancara secara mendalam (in-depth interview). Teknik ini digunakan untukmemperoleh data yang diperlukan untuk penelitian ini, yang dilakukan kepadasetiap informan dengan menggunakan teknik wawancara terbuka dan tidakberstruktur. Hal terpenting dalam pengambilan data dari informan adalahmenjelaskan makna pengalaman hidup (life experience) dari sejumlah orang itu(Mulyana dan Solatun, 2007: 97).PENUTUPTujuan dari penelitian ini yaitu berkaitan dengan upaya mencari tahutentang bagaimana kepercayaan dari pembeli pada transaksi jual beli onlinemelalui FJB Kaskus terbentuk melalui komunikasi persuasi dari penjual.Penelitian ini mencoba untuk menjelaskan bagaimana proses terbentuknyakepercayaan pembeli.Hasilnya, ditemukan bahwa penjual menyampaikan pesan denganmembuat, memperkenalkan, dan mempromosikan barang dagangannya denganmembuat thread yang berisi berbagai macam informasi mengenai barang, lokasipenjual, nomor telepon penjual, testimonial, dan cara-cara yang dapat dipakaiuntuk pembayaran.Di lain pihak, pembeli berusaha mencari barang yang diinginkan melaluikolom pencarian yang tersedia pada situs Kaskus. Kemudian yang dilakukanpembeli adalah menghubungi penjual yang dipilihnya untuk menanyakan hal-halyang berkaitan dengan barang yang diinginkannya. Setelah itu, penjual akan mulaimelakukan persuasi kepada calon pembeli. Persuasi yang dilakukan penjual sesuaidengan karakteristik komunikasi persuasi, yaitu adanya interaksi, tidak memaksa,serta merubah perilaku.Kemudian setelah adanya interaksi antara penjual dan pembeli, terdapatkesepakatan mengenai pembayaran yang akan dilakukan oleh pembeli, apakahmenggunakan sistem transfer, COD, atau dapat melibatkan penyedia jasa rekber.Dan akhirnya, penjual dan pembeli akan melakukan transaksi jual beli.DAFTAR PUSTAKAAdler, Ronald. B and George Rodman. 2006. Understanding HumanCommunication Ninth Edition. New York: Oxford University Press.Indrajit, R. E., 2001. E-Commerce: Kiat dan Strategi Bisnis di Dunia Maya.Jakarta: PT Elex Media Komputindo.Kauffman, Robert J., Patrick Y. K. Chau, Terry R. Payne, J. ChristopherWestland. 2012. Electronic Commerce and Applications. Amsterdam:Elsevier Science Publisher B.V.Rofiq, Ainur. 2007. Pengaruh Dimensi Kepercayaan (Trust) Terhadap PartisipasiPelanggan E-Commerce. Tesis. Malang.Mulyana, Deddy, dan Solatun. 2007. Metode Penelitian Komunikasi: ContohcontohPenelitian Kualitatif Dengan Pendekatan Praktis. Bandung: PT.Remaja Rosdakarya.Pawito, Ph.D. 2007. Penelitian Komunikasi Kualitatif. Yogyakarta: LKiS.Rahardjo, Turnomo dkk. 2006. Modul Pelatihan Metodologi Peneitian Kualitatif.Tim Fisip Undip.Yusriana, Amida. 2011. Upaya Pembentukan Trust pada Konsumen di OnlineShop Facebook. Skripsi. Undip.http://id.wikipedia.org/wiki/Internet. Diakses 24 maret 2011 / 22:03.http://techno.okezone.com/read/2011/03/03/55/431121/online-shopping-mulaimarak-di-indonesia. Diakses 25 maret 2011 / 00:24.
HUBUNGAN TERPAAN IKLAN PROVIDER DI TELEVISI DAN INTERAKSI TEMAN SEBAYA DENGAN PERILAKU IMITASI BAHASA IKLAN OLEH REMAJA Miftakhul Noor Alfiana; Sri Widowati Herieningsih; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.105 KB)

Abstract

Latar BelakangIklan dibuat agar konsumen kenal, ingat, dan percaya terhadap suatu produk sehinggamemiliki perasaan ingin seperti yang ditampilkan dalam iklan. Kemampuan persuasif iklanuntuk mempengaruhi persepsi khalayak, tercapai bila iklan tersebut mampu membangkitkanrasa suka terhadap produk yang ditawarkan. Walaupun demikian, daya tarik iklan di televisibelum tentu ditandai terjadinya transaksi pembelian produk yang ditawarkan, karena masihbanyak faktor yang diduga mempengaruhi persepsi akibat menonton iklan tersebut, diantaranyafaktor interaksi dengan teman sebaya. Dalam iklan terdapat bahasa-bahasa yang terkadangdianggap lucu, unik, ataupun khas sehingga kerap dibicarakan oleh remaja yang terkenaterpaan iklan. Oleh karena itu, jika remaja berinteraksi dengan teman sebayanya, dan dalaminteraksi tersebut membicarakan tentang iklan provider tertentu dan juga bahasa yangterkandung di dalam iklan, maka muncullah keinginan untuk meniru apa yang ada di iklan danapa yang diucapkan temannya yang menirukan bahasa iklan.Banyak pengiklan memandang televisi sebagai media yang paling efektif untukmenyampaikan pesan-pesan komersialnya. Salah satu keunggulannya adalah mampumenjangkau khalayak secara luas. Perkembangan kreativitas dalam iklan yang sangat pesatmenyebabkan munculnya banyak persaingan untuk membuat iklan yang lebih kreatif danefektif yang bisa diterima dan dipahami oleh khalayak, termasuk iklan provider. Iklan providerdalam perkembangannya senantiasa berisi kalimat-kalimat kreatif atau jargon tertentu namuntak jarang jargon atau kalimat iklan sebuah produk menjadi tren dan kerap dipakai dalampercakapan sehari-hari. Kata-kata dalam iklan akhirnya berdampak mempengaruhi targetaudiencenya. Kata-kata tersebut awalnya tidak komersil, namun akhirnya menjadi satu bagiandari komunikasi anak muda setelah beberapa oknum masyarakat mulai terpengaruh, lalumereka pun menggunakan kata-kata tersebut untuk berinteraksi dengan sesamanya.Pilihan bahasa sebagai peristiwa sosial tidak hanya dipengaruhi oleh faktor-faktorlinguistik, tetapi juga oleh faktor-faktor di luarnya. Pilihan bahasa erat terkait dengan situasisosial masyarakat pemakainya. Perbedaan usia, tingkat pendidikan, dan status sosial seseorangdapat mempengaruhi pilihan bahasanya ketika berbicara dengan orang lain. Demikian pulasituasi yang melatarbelakangi sebuah pembicaraan dapat mempengaruhi bagaimana sebuahbahasa akan dipergunakan. Pengaruh faktor-faktor sosial maupun situasional terhadap pilihanbahasa ini menimbulkan adanya variasi-variasi pilihan bahasa.Penggunaan bahasa dalam komunikasi bersifat berubah-ubah, tidak tetap, dan manasuka.Maraknya penggunaan bahasa iklan sebagai bahasa sehari-hari dalam konteks komunikasipopuler bisa dipahami sebagai ekspresi kaum remaja yang bersifat pragmatis untukmenciptakan situasi pergaulan yang lebih cair dan akrab. Banyak sekali kalimat iklan yangmenjadi populer dan sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya saja kata-kata„Galau‟ pada iklan IM3 versi anti galau, „Lo-Gue-End‟ pada iklan IM3 versi lo gue end, „LikeThis Yoo‟ pada iklan XL versi like this, “Aku Tak Punya Pulsa” pada iklan Kartu As versidrama gak punya pulsa, “Kim Aku Galau Tanpamu” pada iklan IM3 versi anti galau , “Janganditawar” pada iklan Axis versi kanjeng mami, “Hemat beb” pada iklan Axis versi pacarkelewat hemat (pelit), yang menjadi sangat populer semenjak kemunculannya di iklan. Katakatatersebut ditirukan oleh remaja dan terbawa dalam kehidupan sehari-hari yang akhirnyamenjadi suatu alat untuk berinteraksi dengn sesamanya. Bahkan sebagian dari remaja tersebutmengaku menggunakan kata-kata dalam iklan itu untuk menghibur teman karena kata-katatersebut dianggap lucu, juga agar mereka dianggap keren oleh teman–temannya(Sumber:http://galih-seonega.blogspot.com/2012/04/komentar-mereka-remaja menirukaniklan.html diakses pada 20 Mei 2012).Terpaan media televisi dalam hal ini iklan provider di televisi secara tidak langsungmempengaruhi remaja untuk menirukan konten dalam iklan, termasuk bahasa,kalimat,ataupunjingle iklan. Di sisi lain, teman sebaya mereka juga menggunakan bahasa iklan dalampergaulannya sehari-hari. Disinilah penulis melihat permasalahan adanya hubungan antaraterpaan iklan provider di televisi dan interaksi teman sebaya dengan perilaku remaja menirubahasa iklan.II. Perumusan MasalahIklan bertujuan untuk memperkenalkan suatu produk, atau membangkitkan kesadaran akanmerek (brand awareness), membujuk khalayak untuk membeli produk yang ditawarkan danmemberikan informasi (Sudiana, 1986:6). Iklan berfungsi untuk menyampaikan informasitentang suatu produk kepada masyarakat, namun yang terjadi bukan hanya iklan tersebut yangdapat mempengaruhi masyarakat untuk melakukan pembelian, tetapi bahasa dalam iklan jugaikut merasuk ke dalam benak masyarakat terutama kaum remaja yang menggunakannya untukberkomunikasi dengan sesamanya. Remaja merupakan suatu kelompok yang sedang mencari jatidiri, dan berada di dalam masa transisi dimana sangat mudah terpengaruh dengan lingkungansekitarnya. Salah satu yang mempengaruhi pola perilaku dari remaja ini adalah teman-temansebayanya. Melalui interaksi dengan teman sebayanya, mereka dengan mudah meniru bahasayang dimunculkan lewat sebuah iklan. Remaja sering melakukan kegiatan bersama-sama dalamkelompok teman sebaya, menghabiskan waktu bersama-sama sehingga kecenderungan untukmeniru apa yang dilakukan teman-temannya lebih besar, dalam hal ini adalah kecenderunganuntuk meniru bahasa iklan. Disinilah menarik untuk dikaji, bagaimanakah hubungan terpaaniklan provider dan interaksi teman sebaya dengan perilaku remaja mengimitasi bahasa iklandalam pergaulannya sehari-hari.III. Tujuan PenelitianPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan terpaan iklan dan interaksi temansebaya dengan perilaku imitasi bahasa iklan oleh remaja.IV. Signifikansi Penelitian1. Signifikansi TeoritisSecara teoritis, diharapkan penelitian ini dapat memberikan sumbangsih bagi disiplinilmu komunikasi yaitu mengenai perilaku imitasi remaja yang dipengaruhi oleh terpaan iklandi televisi dan interaksi dengan teman sebaya. Teori Efek Media Massa dan Teori Imitasidapat digunakan untuk menunjukkan adanya keterkaitan terpaan iklan di televisi denganperilaku menirukan bahasa iklan yang dilakukan oleh remaja. Teori Kelompok Rujukan(Peer Group) digunakan untuk menunjukan bahwa perilaku individu didasarkan pada sikapdan persepsi kelompok untuk melakukan atau tidak melakukan perilaku yang bersangkutan.Dalam hal ini kelompok rujukan tersebut adalah teman sebaya. Penelitian ini diharapkandapat membuka jalan dan memberikan konstribusi bagi penelitian – penelitian lanjutandengan bidang kajian yang sejenis.2. Signifikansi PraktisSecara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menunjukkan bahwa perilaku imitasibahasa iklan berhubungan dengan terpaan iklan dan interaksi teman sebaya.3. Signifikansi SosialSecara sosial, penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi masyarakatterutama para remaja agar bisa memahami dan menyaring bahwa tidak semua yang munculdi televisi patut ditiru.V. Hipotesis1. Ada hubungan antara terpaan iklan provider di televisi dengan perilaku imitasi bahasaiklan yang dilakukan oleh remaja. Artinya, semakin tinggi intensitas terpaan iklan makasemakin tinggi pula perilaku imitasi bahasa iklan yang dilakukan oleh remaja.2. Ada hubungan antara interaksi teman sebaya dengan perilaku imitasi bahasa iklan yangdilakukan oleh remaja. Artinya,semakin sering remaja berinteraksi dengan temansebayanya maka semakin tinggi perilaku imitasi bahasa iklan yang dilakukan olehremaja.3. Ada hubungan antara terpaan iklan provider dan interaksi teman sebaya dengan perilakuimitasi bahasa iklan. Artinya semakin tinggi terpaan iklan dan semakin tinggi interaksidengan teman sebaya maka semakin tinggi pula perilaku imitasi bahasa iklan yangdilakukan oleh remaja.Terpaan Iklan Providerdi TelevisiInteraksi Teman SebayaPerilaku ImitasiBahasa IklanVI. Tipe PenelitianTipe penelitian yang digunakan adalah eksplanatori yang bertujuan untuk mengetahui adanyahubungan antara terpaan iklan provider di televisi dan interaksi teman sebaya dengan perilakuimitasi bahasa iklan oleh remaja.VII. PopulasiPopulasi pada penelitian ini adalah remaja berusia 13-18 tahun yang bertempat tinggal di KotaSemarang yang berjumlah 101.495 (Sumber: Data Bappeda Kota Semarang tahun 2010). Berikutrincian data tersebut:Tabel 1.1 Banyaknya Penduduk Menurut Kelompok Usia 13-18 tahundi Kota Semarang Tahun 2010Kecamatan JumlahPenduduk Usia13-18 tahunMijen 5.988Gunungpati 5.676Banyumanik 8.046Gajah Mungkur 6.341Smg. Selatan 5.754Candisari 5.399Tembalang 7.293Pedurungan 7.161Genuk 5.900Gayamsari 4.562Smg. Timur 7.299Smg. Utara 6.203Smg. Tengah 7.175Smg. Barat 6.975Tugu 5.536Ngaliyan 6.890Total 102.248(Sumber: Bappeda Kota Semarang tahun 2010)VIII. SampelSampel dalam penelitian ini adalah remaja yang tinggal di Kecamatan Banyumanikdan terkena terpaan iklan provider di televisi. Diambil Kecamatan Banyumanik karena diwilayah tersebut terdapat paling banyak remaja berusia 13-18 tahun dibandingkankecamatan lainnya.IX. Teknik Pengambilan SampelTeknik pengambilan sampel yang digunakan adalah probability sampling dengan multistagerandom sampling, yakni teknik yang menarik kluster tempat individu berada. Pengambilansampel pada kluster yang lebih kecil yaitu Kecamatan Banyumanik. Kecamatan Banyumanikmerupakan populasi pertama, terdapat beberapa kelurahan yaitu Pudakpayung, Gedawang,Jabungan, Padangsari, Banyumanik, Srondol Wetan, Pedalangan, Sumurboto, Srondol Kulon,Tinjomoyo, Ngesrep. Lalu diambil satu kelurahan secara acak yaitu Kelurahan Sumurboto.Kelurahan Sumurboto memiliki 774 remaja (367 remaja putri dan 407 remaja putra) berusia13-18 tahun. Sehingga total sampel dihitung dengan rumus berikut:n = __ N___1+N.e²= ____774____1+774(0.1)²= 88,5  dibulatkan 89 orangKeterangan:n = Ukuran sampelN = Ukuran populasiE = Kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan sampel yang dapat ditolerir,ditentukan sebesar 10%.Kelurahan Sumurboto memiliki 5 RW, kemudian diacak lagi diambil RW IV dimanadi dalam RW IV terdapat 11 RT. Lalu masing-masing akan diambil 8 sampel dari 10 RT dan9 sampel dari 1 RT sehingga berjumlah 89 sampel.X. Kesimpulan1. Terpaan iklan provider di televisi ternyata berhubungan terhadap perilaku imitasi bahasaiklan oleh remaja. Hal ini dibuktikan dengan perhitungan melalui uji statistik dimanadiperoleh hasil koefisien korelasi sebesar 0,313 dan probabilitas kesalahan (sig) sebesar0,000. Hal ini menunjukkan bahwa terpaan iklan provider yang tinggi menjadikanperilaku imitasi bahasa iklan juga tinggi.2. Interaksi dengan teman sebaya berhubungan dengan perilaku imitasi bahasa iklan olehremaja. Hal ini dibuktikan dengan perhitungan melalui uji statistik dimana diperolehhasil koefisien korelasi sebesar 0,319 dan probabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,000.Hal ini menunjukkan bahwa tingginya interaksi teman sebaya menjadikan perilakuimitasi bahasa iklan tinggi, begitu pula sebaliknya.3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara terpaan iklan provider ditelevisi (X1) dan interaksi teman sebaya (X2) dengan perilaku imitasi bahasa iklan (Y)yang dibuktikan dengan hasil koefisien konkordansi sebesar sebesar 0,77 dan nilaisignifikansi penelitian sebesar 0,000. Hasil ini menunjukkan ada hubungan yangsignifikan antara terpaan iklan dan interaksi dengan teman sebaya dengan perilakuimitasi bahasa iklan oleh remaja.DAFTAR PUSTAKAAl-Ghifari, Abu. 2003. Remaja Korban Mode. Bandung:Mujahid Pers.Deddy, Mulyana. 2001. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar.Bandung:Remaja Rosdakarya.Gerungan,Dr.W.A. 1996. Psikologi Sosial.Bandung:PT.Eresco.Hidayati, Arini. 1998. Televisi dan Perkembangan Sosial Anak. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Ibrahim, Idi Subandy . 2007.Budaya Populer Sebagai Komunikasi. Yogyakarta: Jalasutra.Liliweri, Alo .1992. Dasar–Dasar Komunikasi Periklanan. Bandung: Citra Aditya Bakti.Liliweri, Alo. 2002. Makna Budaya Dalam Komunikasi Antarbudaya.Yogyakarta: LKiS PelangiAksara.McQuail.1996. Teori Komunikasi Massa:Suatu pengantar. Jakarta:Erlangga.Nurudin.2007.Pengantar Komunikasi Massa.Jakarta:PT.Grafindo Persada.Onong,Uchyana Effendi.1993.Ilmu,Teori,dan Filsafat Komunikasi.Bandung:Citra Aditya Bakti.Rakhmat, Jalaluddin. 2007. Psikologi Komunikasi . Bandung:Remaja Rosdakarya.Rohim, Syaiful. 2009. Teori Komunikasi: Ragam dan Aplikasi. Jakarta: Rineka Cipta.Santoso, Singgih. 2005. Buku Latihan SPSS Statistik Non-Parametrik. Jakarta: Elex MediaKomputindo.Sudiana, Dendi.1986.Komunikasi Periklanan Cetak. Bandung : Remadja Karya.Susanti H., Esthi.1993. Anak Saya Jenius : Kumpulan Masalah Orang Tua dan Anak. Jakarta :Rasindo.WA.,Gerungan. 2004. Psikologi Sosial. Bandung:Rofika Aditama.Wirawan, Sarlito. 1992. Psikologi Lingkungan. Jakarta : Rasindo.Skripsi :Ade Azwida. (2007). Pemakaian Bahasa Gaul Pada Iklan Produk Komersial Televisi. Skripsi.Universitas Sumatera Utara.Nurul Fatimah. (2010). Hubungan Terpaan Iklan Produk Rokok di Televisi dan TingkatKonformitas Kelompok Sebaya terhadap Kecenderungan Perilaku Merokok. Skripsi. UniversitasDiponegoro.Sumber Internet :http://galih-seonega.blogspot.com/2012/04/komentar-mereka-remaja-menirukan-iklan.htmlartikel oleh Galik Laksono. Diakses pada 20 Mei 2012.http://synersid.blogspot.com/2012/04/tren-remaja-menirukan-iklan.html artikel oleh SMPN 3Tulungagung. Diakses pada 20 April 2012.http://alkitab.sabda.org/resource.php?topic=903&res=jpz diakses pada 20 April 2012.Sumber Koran atau Majalah :Cakram edisi September 2005. Bahasa Iklan dan Pengaruhnya, artikel oleh Sjahrial Djalil.Kompas edisi Kamis 20 Agustus 2009. Diperlukan Strategi Agar Dapat Merebut Hati KonsumenMelalui Iklan , artikel oleh Rosdianah Dewi.
Hubungan Terpaan Pemberitaan Korupsi di Televisi dan Pernyataan Presiden SBY di Televisi dengan Tingkat Kepercayaan Masyarakat pada Pemerintah LISTIANTO HINDRA PRAMONO; Sri Widowati Herieningsih; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (147.938 KB)

Abstract

PENDAHULUAN Dewasa ini pers Indonesia mengalami perubahan yang luar biasa dalam mengekspresikan kebebasan. Fenomena itu ditandai dengan munculnya media baru baik cetak maupun elektronik dengan berbagai kemasan dan segmen. Keberanian pers dalam mengkritik penguasa juga menjadi ciri baru pers Indonesia. Hal ini juga terlihat akhir-akhir ini ketika pers berani mengungkapkan kasus-kasus korupsi maupun skandal-skandal yang diduga melibatkan beberapa pejabat publik, menteri, anggota dewan sampai ketua partai, baik yang dilakukan sendiri maupun secara “berjamaah”, dari tingkat paling atas sampai ke tingkat paling bawah.Melalui peran media, kini kasus-kasus tersebut dapat diketahui oleh masyarakat luas. Media sekarang berani membongkar kompleksitas kasus korupsi dengan mencoba mengungkap keganjilan-keganjilan yang terjadi melalui liputan, tayangan, dan investigasi sendiri secara mendalam, sehingga pemberitaan yang disajikan terkadang kritis terhadap pemerintah. Dengan gencarnya pemberitaan tentang kasus-kasus korupsi di televisi yang semakin hari semakin marak, kredibilitas pemerintahan SBY benar-benar diuji. Hal tersebut sebenarnya bisa mengindikasikan seberapa seriuskah pemerintahan SBY jilid II ini dalam memberantas kasus-kasus korupsi. Selain itu, yang menarik dari kebebasan pers yang selama ini dinikmati, adalah tak luputnya sang kepala negara menjadi isu dan pemberitaan yang panas, seperti pernyataan-pernyataan SBY yang dimuat di media. Melalui media, pernyataan-pernyataan SBY ketika menyampaikan pidato di depan umum, terkadang di tanggapi beragam oleh media (dalam hal ini media televisi yang paling gencar).Menurut data yang dikutip dari detiknews.com (27/6/2011), riset Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pada 2011, kepuasan publik atas kinerja Presiden SBY terus merosot. Menurut lembaga survey tersebut salah satu penyebabnya adalah sikap reaktif SBY jika sedang diserang isu di mana SBY menyampaikan kegelisahannya dengan curhat di depan publik. Selama ini, suka atau tidak suka, media televisi sebagai “opinion leader” telah membentuk interpretasi berdasarkan pandangannya bahwa pernyataan-pernyataan SBY tersebut merupakan “cuhat/curahan hati sang presiden”. Media menjustifikasi SBY sebagai “tukang curhat”, “lamban”, “kurang gesit”, “terlalu reaktif”, dan berbagai sebutan yang dapat melemahkan citra SBY.Namun, di Istana Negara pada Senin (8/10) malam, melalui pidatonya Presiden SBY menunjukkan keberanian dan ketegasan dalam bersikap. SBY yang kerap dianggap absen ketika terjadi konflik, kali ini hadir di saat kekisruhan antara KPK dan Polri semakin memanas. Pangkal persoalannya adalah ketika pemberitaan kasus korupsi simulator SIM ditubuh POLRI mulai melebar dan menjadi isu panas serta memunculkan istilah “Cicak vs Buaya Jilid II” dalam berbagai pemberitaan hingga menyulut pertikaian antara KPK dan POLRI.Sontak peristiwa tersebut juga diliput berbagai media termasuk televisi, bahkan berbagai stasiun televisi seperti Metro TV, TV One, TVRI menayangkan pidato tersebut secara penuh dan langsung. Pernyataan Presiden SBY tersebut memang ditunggu-tunggu. Banyak kalangan yang meminta agar konflik yang melanda dua institusi penegak hukum tersebut harus segera diakhiri dan presiden menepati janjinya untuk buka suara dalam menyelesaikan konflik ini. Dalam pidatonya tersebut Presiden SBY menyampaikan Lima Keputusan (solusi) Presiden soal konflik Polri dan KPK. Setelah pidato tersebut banyak kalangan dan masyarakat yang mengapresiasi/memuji substansi pidato tersebut, mereka menilai pidato tersebut cukup tegas. Hal ini tentunya dapat mempengaruhi dan menimbulkan opini publik serta persepsi yang berbeda-beda dari para audiensnya.Penelitian ini hanya untuk menguji hipotesis di mana diasumsikan sementara bahwa terdapat hubungan antara terpaan pemberitaan korupsi di televisi dan terpaan pernyataan Presiden SBY di televisi dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah. Namun tidak untuk mengetahui efektivitas atau pengaruh dari ketiga variabel di atas. Pembatasan penelitian kali ini hanya dilakukan terhadap masyarakat yang pernah terterpa pemberitaan korupsi di televisi, serta pernah menerima terpaan pernyataan Presiden SBY di televisi (dalam hal ini tentang pernyataan presiden SBY dalam menengahi konflik KPK-POLRI pada tanggal 8 Oktober 2012), serta yang telah berusia 18 tahun ke atas. Diharapkan pada pembahasan kita dapat mengetahui hubungan antara terpaan pemberitaan korupsi di televisi dan pernyataan Presiden SBY di televisi dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah.PEMBAHASANTerdapat beberapa teori yang mendasari dari terbentuknya hipotesis di atas, yaitu:McQuail (1987: 263) menyatakan bahwa efek yang ditimbulkan oleh berita sendiri adalah kebanyakan efek yang ditimbulkannya berupa tambahan pengetahuan tentang informasi faktual berjangka waktu pendek; barangkali juga pembentukan cara pandang terhadap gambarandunia dan masyarakat yang berjangka waktu panjang, serta kerangka berfikir untuk menafsirkan makna pelbagai peristiwa. Berita memiliki kecenderungan yang normatif dan dirancang atau didayagunakan untuk membentuk dan menunjang nilai-nilai dan pandangan tertentuMenurut teori hierarki efek (Liliweri, 1991:39) secara umum terdapat tiga efek dari komunikasi massa, yaitu: (a) efek kognitif, pesan komunikasi massa mengakibatkan khalayak berubah dalam hal pengetahuan, pandangan, dan pendapat terhadap sesuatu yang diperolehnya; (b) efek afektif, di mana pesan komunikasi massa mengakibatkan berubahnya perasaan tertentu dari khalayak. Orang dapat menjadi lebih marah dan berkurang rasa tidak senangnya terhadap sesuatu akibat membaca surat kabar, mendengarkan radio, atau menonton televisi; (c) efek konatif, akibat pesan komunikasi massa mengakibatkan orang mengambil keputusan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.Sedangkan terpaan sendiri, menurut pendapat Shore (Kriyantono, 2006: 204-205), lebih dari sekedar mengakses media. terpaan tidak hanya menyangkut apakah seseorang secara fisik cukup dekat dengan kehadiran media massa, akan tetapi apakah seseorang itu benar-benar terbuka terhadap pesan-pesan media massa tersebut. Terpaan merupakan kegiatan mendengar, melihat, dan membaca pesan-pesan media massa ataupun mempunyai pengalaman dan perhatian terhadap pesan tersebut yang dapat terjadi pada tingkat individu maupun kelompok.Menurut Baldoni (Kaban, 2009:51) keberhasilan seorang pemimpin, termasuk presiden, sesungguhnya sangat ditentukan oleh kepiawaiannya berkomunikasi, karena melalui komunikasi, pemimpin membangun trust (kepercayaan) kepada rakyat atau pengikutnya. Pernyataan-pernyataan Presiden SBY yang dikutip oleh media tersebut adalah bagian dari naskah/teks pidatonya sebagai kepala negara, di mana pidato sendiri dapat digolongkan sebagai sebuah retorika politik. Heryanto dan Zarkasy dalam bukunya Public Relations Politik (2012:118) mendefinisikan retorika politik sebagai seni berbicara pada khalayak politik dalam upaya mempengaruhi khalayak tersebut agar sesuai dengan apa yang diinginkan oleh komunikator politik.Secara konseptual, ketiga variabel pada penelitan ini memiliki definisi sebagai berikut:1. Terpaan pemberitaan korupsi di televisiKemampuan seseorang untuk menceritakan/menjelaskan kembali pemberitaan tentang korupsi di televisi tersebut setelah mereka melakukan kegiatan mendengar, melihat, dan membaca pesan-pesan pemberitaan tentang korupsi di televisi.2. Terpaan pernyataan Presiden SBY di televisiKhalayak, dalam hal ini masyarakat, menonton televisi kemudian terkena terpaan pernyataan Presiden SBY sehingga mereka mampu untuk menceritakan/menjelaskan kembali pesan-pesan yang terkandung dalam terpaan pernyataan tersebut.3. Tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintahAdalah penilaian masyarakat terhadap kemampuan pemerintahan SBY dalam menerapkan dan menjalankan sejumlah program aksi prioritas yang merupakan rumusan dan penjabaran yang lebih operasional dari Visi dan Misi pemerintah 2009-2014.Dalam penelitian ini, terdapat beberapa indikator yang digunakan untuk mencari tahu varibel terpaan pemberitaan korupsi di televisi, pernyataan Presiden SBY di televisi, dan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah.1. Terpaan pemberitaan korupsi di televisiMerupakan kemampuan khalayak menjelaskan kembali pemberitaan tentang korupsi di televisi. Variabel ini diukur dengan melihat seberapa jauh pemahaman/pengetahuan responden/khalayak terhadap kasus-kasus korupsi yang diberitakan di televisi.Tolok ukur:a. pemahaman/pengetahuan responden/khalayak terhadap pemberitaan tentang kasus-kasus korupsi :- Korupsi Al Qur’an- Korupsi Sport Centre Hambalang- Korupsi Simulator SIM- Korupsi Suap Bupati Buol- Korupsi Wisma Atlet di Palembangb. siapa pelaku dan siapa saja yang terlibat2. Terpaan pernyataan Presiden SBY di televisiTerpaan pernyataan Presiden SBY di televisi diukur dengan indikator:Pengetahuan responden/khalayak mengenai pemberitaan tentang pernyataan pernyataan SBY. Tolok ukurnya adalah khalayak/masyarakat mengetahui dan bisa menerangkan kembali isi pesan pernyataan Presiden SBY di televisi, pada pernyataan SBY tentang konflik KPK-POLRI.3. Tingkat Kepercayaan Masyarakat pada PemeritahVariabel ini diukur dengan indikator:Kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintahan SBY Jilid II dalam menerapkan dan menjalankan :a. Program Aksi Perbaikan dan Pelaksanaan Tata Kelola Pemerintahan yang BaikTolok ukurnya:1) Kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintahan SBY Jilid II dalam melakukan pengawasan kinerja dan dampak reformasi, termasuk pemberantasan korupsi dan penerapan disiplin dan hukuman yang tegas bagi pelanggaran sumpah jabatan, aturan, disiplin, dan etika kerja birokrasi. (Misalnya: Pemerintah dalam hal ini Presiden SBY berani menegur bahkan mencopot pejabat yang melanggar sumpah jabatan /termasuk terlibat korupsi).2) Kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintahan SBY Jilid II dalam meningkatkan transparansi dan akuntabilitas layanan pemerintahan dengan perumusan standar pelayanan minimum yang diketahui masyarakat beserta pemantauan pelaksanaannya oleh masyarakat (misalnya: perekrutan pegawai/tender sampai pengangkatan pejabat struktural dalam sebuah lembaga/ departemen/pemerintah daerah dilaksanakan secara transparan dan akuntabel sehingga dapat dipantau masyrakat luas).b. Program aksi Penegakan HukumTolok ukurnya:1) Kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintahan SBY Jilid II dalam memperbaiki law enforcement (misal: memperbaiki mutu dan integritas aparat penegak hukum baik di Kepolisian, Kejaksaan maupun Pengadilan)2) Kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintahan SBY Jilid II dalam meninjau ulang dan memperbaiki peraturan yang menyangkut penegakan hukum termasuk pengaturan hak-hak polisi, peraturan-peraturan pelaporan, dan aturan pelayanan dari aparat penegak hukum. (misal: membuat aturan main/peraturan perundang-undangan yang tegas termasuk terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh oknum penegak hukum serta memberi jaminan kepastian hukum dan keadilan bagi semua)3) Kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintahan SBY Jilid II dalam melakukan pencegahan dan penindakan korupsi secara konsisten dan tanpa tebang pilih.Tipe penelitian yang digunakan adalah penelitian eksplanatori, yaitu penelitian yang bertujuan untuk menguji hipotesis mengenai hubungan kausal antar variabel yang diteliti, yaitu hubungan antara terpaan pemberitaan korupsi di televisi (X1) dan terpaan pernyataan presiden SBY di televisi (X2) dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah (Y). Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang pernah melihat pemberitaan korupsi di televisi, serta pernah menerima terpaan pernyataan Presiden SBY di televisi. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 40 orang, dengan teknik sampling yang digunakan adalah nonprobability sampling (metode tak acak) dengan proses sampling purposif. Sampling purposif adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kriteria yang telah dirumuskan terlebih dahulu oleh peneliti. Teknik ini mencakup orang-orang yang diseleksi atas dasar kriteria-kriteria tertentu yang dibuat peneliti berdasarkan tujuan penelitian.Digunakan analisis yang bersifat kuantitatif untuk menguji hubungan antara terpaan pemberitaan korupsi di televisi dan terpaan pernyataan presiden SBY di televisi (variable X) dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah (variabel Y). Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kuantitatif dengan uji statistik yang menggunakan analisis koefisien korelasi dan konkordansi Rank Kendall dengan menggunakan perhitungan dengan program SPSS (Statistical Product and Service Solution).Hasil dari penelitian ini, menyatakan bahwa terpaan pemberitaan korupsi di televisi ternyata tidak berhubungan terhadap tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah. Hal ini dibuktikan berdasarkan perhitungan melalui uji statistik di mana diperoleh probabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,805 dan koefisien korelasi sebesar -0,037. Oleh karena sig sebesar 0,805 > 0,05; maka kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa menolak hipotesis alternatif (Ha) dan menerima hipotesis nol (Ho). Pernyataan presiden SBY di televisi ternyata berhubungan terhadap tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah. Hal ini berdasarkan data uji hipotesis, diperoleh probabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,050 dan koefisien korelasi sebesar -0,294. Oleh karena sig sebesar 0,050 = 0,05 (tidak lebih besar dari 0,05); maka kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa menerima hipotesis alternatif (Ha) dan menolak hipotesis nol (Ho). Sedangkan apabila ketiganya dikaitkan dengan uji Konkordansi Kendall ternyata hasil penelitianmenunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara terpaan pemberitaan korupsi di televisi dan pernyataan presiden SBY di televisi dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah,Jadi artinya bahwa ketika terpaan pemberitaan korupsi di televisi tinggi dan terpaan pernyataan presiden SBY di televisi (dalam hal ini pernyataan Presiden SBY dalam pidatonya tentang konflik KPK-POLRI) tinggi maka tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah cenderung rendah.Berdasarkan uji statistik didapati bahwa ternyata tidak terdapat hubungan antara terpaan pemberitaan korupsi di televisi dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah, hal ini bisa dijelaskan dengan menggunakan teori perbedaan-perbedaan individu mengenai pengaruh komunikasi massa (the individual differences theory of mass communication effect), di mana menurut teori ini bahwa tiap individu tidak sama perhatiannya, kepentingannya, kepercayaannya maupun nilai-nilainya, maka dengan sendirinya selektivitas mereka terhadap komunikasi massa juga berbeda (Liliweri, 1991:106). Bahkan menurut De Fleur (Liliweri, 1991:105) menambahkan bahwa setiap individu memilki kepribadian masing-masing yang akan mempengaruhi juga perilaku mereka dalam menanggapi sesuatu.Setelah dilakukan pencarian dan pengolahan data, diperoleh hasil bahwa terdapat kecenderungan hubungan negatif antara terpaan pernyataan presiden SBY di televisi dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah. Hasil tersebut cukup beralasan karena meskipun dalam kenyataannya banyak kalangan yang menilai pidato SBY kali ini cukup baik (karena dari poin-poin yang disampaikan SBY yang berpihak pada keinginan publik dan media), namun timing/waktu SBY yang tidak cepat (terkesan terlambat) dalam memberikan pernyataan dalam menengahi konflik KPK-POLRI, membuat persepsi masyarakat terhadap kinerja pemerintah menjadi negatif. Seperti yang dingkapkan Priyatno Harsasto, Pengajar Universitas Diponegoro, Semarang dalam tanggapannya mengenai konflik KPK-Polri terkait kasus simulator SIM ini, bahwa menurutnya keterlambatan dalam mengambil keputusan, hanya akan menimbulkan kesan bahwa Presiden kurang berpihak pada upaya pemberantasan korupsi. (http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/10/09/mbluo0-pernyataan-presiden-dinilai-terlambat).Artinya ada penanganan manajemen krisis yang lamban oleh pemerintah. Kekisruhan hukum dan politik dalam kasus KPK-POLRI “jilid II” dengan mempertontonkan dramaturgi sosok penguasa dan penegak hukum yang saling antagonistik di ruang publik melalui media inijustru semakin memberikan banyak pengetahuan masyarakat akan apa yang sebenarnya terjadi pada kasus tersebut. Pemberitan tersebut menjadi isu panas, dan selalu menempati menu pemberitaan utama media dalam waktu yang cukup lama (frekuensi penayangan/pembahasan yang sering). Dengan berlarut-larutnya konflik pada akhirnya justru semakin meneguhkan kesan kekurangseriusan pemerintah dalam menangani kasus korupsi.Hal tersebut sesungguhnya juga tak bisa dilepaskan dari citra/image negatif SBY yang selama ini melekat pada dirinya. Melalui media, SBY memang sering digambarkan sebagai seorang presiden yang “peragu”, “tukang curhat”, “lamban”, “kurang gesit”, “terlalu reaktif”, “mementingkan pencitraan” dan berbagai sebutan minor lainnya. Hal ini sebenarnya menyiratkan bahwa komunikasi politik yang dilakukan SBY melalui pidato/pernyataannya di media mengalami apa yang disebut oleh Liliweri (1991:27) sebagai hambatan prasangka. Menurut Rose (Liliweri, 1991:27) prasangka merupakan suatu sikap dari seseorang yang mencurigai orang lain dengan membanding-bandingkannya dengan diri sendiri atau orang lain yang lain yang mengarah kepada suatu perasaan yang negatif. Kalau saja hal ini terjadi maka setiap pesan yang disampaikan oleh seseorang, ataupun komunikator dalam komunikasi tidak dipercayai karena penerima telah mempunyai sikap apriori terlebih dahulu.Melalui hasil pencarian dan pengolahan data dalam penelitian ini ternyata membuktikan bahwa terdapat hubungan antara terpaan pemberitaan korupsi di televisi dan pernyataan presiden SBY di televisi dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah, namun begitu arah hubungan pada variabel terpaaan pernyataan presiden SBY dan tingkat kepercayaan memiliki arah kecenderungan hubungan negatif. Kedua variabel tersebut merupakan faktor yang mendorong rendahnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan SBY kali ini, yaitu dalam menjalankan visi misi seperti yang diusungnya dalam memenangkan Pemilu 2009, di antaranya mewujudkan good governance melalui perbaikan dan pelaksanaan tata kelola pemerintahan yang baik serta penegakan hukum. Rakhmat (2001:130) menyatakan bahwa ada tiga faktor utama yang dapat menumbuhkan sikap percaya atau mengembangkan komunikasi yang didasarkan pada sikap saling percaya, yaitu: menerima, empati dan kejujuran.Masyarakat menilai bahwa pemerintahan SBY tidak memiliki ketiga hal tersebut, melalui gencarnya pemberitaan tentang korupsi menandakan bahwa tidak adanya kejujuran dalam penyelenggaraan pemerintahan, serta keseriusan dalam memberantas praktek-praktek korupsi. Selain itu pidato/pernyataan-pernyataan SBY selama ini (yaitu pernyataan SBY tentang konflikKPK-POLRI) yang merupakan bentuk empati terhadap keinginan masyarakat di mana pernyataan SBY dalam pidato ini sesungguhnya merupakan bentuk komitmen pemerintahan SBY Jilid II ini dalam upaya pemberantasan korupsi, karena poin-poin dalam pidato tersebut sesungguhnya mencerminkan keberpihakan SBY pada keinginan masyarakat, namun ternyata juga tak diterima dengan baik oleh masyarakat.PENUTUP1. Terpaan pemberitaan korupsi di televisi ternyata tidak berhubungan terhadap tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah.2. Terdapat hubungan negatif antara pernyataan Presiden SBY di televisi dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah.3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ternyata terdapat hubungan negatif antara terpaan pemberitaan korupsi di televisi dan pernyataan presiden SBY di televisi dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah, Jadi artinya bahwa ketika terpaan pemberitaan korupsi di televisi tinggi dan terpaan pernyataan presiden SBY di televisi (dalam hal ini pernyataan Presiden SBY dalam pidatonya tentang konflik KPK-POLRI) tinggi maka tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah cenderung rendah.SARAN1. Media massa dapat berperan penting dalam membongkar korupsi, dalam keadaan seperti ini media diharapkan dapat menjadi fasilitas penyampaian informasi serta menegakkan transparansi. Karena jika kurang adanya transparansi, hal ini akan menyebabkan buruknya kinerja aparat pemerintah dan penyebab maraknya praktek korupsi, kolusi dan nepotisme. Untuk itu media massa dalam hal ini televisi diharapkan mampu memberikan informasi yang objektif, faktual dan tanpa bertendensi, maka check and rechek, akurasi, keberimbangan dan independensi harus selalu dilakukan semua perusahaan media massa (televisi) di Indonesia dalam sebuah produksi pemberitaan termasuk menyangkut sebuah opini dan perspektif atas suatu kasus. Selain itu dengan semakin banyak publikasi dan pemberitaan tersebut nantinya diharapkan akan memberikan beban bagi pemerintah untuk membuktikan itikadnya.2. Bagi presiden SBY disarankan untuk perlu memperbaiki citra/kredibilitasnya, yaitu dengan lebih membuktikan keseriusanya pada masyarakat dalam melaksanakan visi misi pemerintahannya yang dulu diusungnya dalam memenangkan Pemilu 2009, di antaranyamewujudkan good governance melalui perbaikan dan pelaksanaan tata kelola pemerintahan yang baik serta penegakan hukum. Perlu juga dicatat bahwa bebagai strategi komunikasi politik dalam rangka untuk meningkatkan citra akan sia-sia jika tidak disertai dengan kinerja nyata dari pemerintah. Dalam kaitannya dengan kegiatan komunikasi politik terutama berkaitan dengan pidato di depan umum/media, yang perlu diperhatikan adalah bahwa tindakan retorika tidak hanya cukup berbekal argumen yang meyakinkan belaka melainkan juga harus mampu menampilkan sosok komunikator sebagai komunikator yang kredibel dan terpercaya.3. Pemerintah dalam hal ini presiden SBY harus cepat dalam mengambil keputusan, termasuk dalam memberikan pernyataan melalui pidato dengan tujuan memberikan penjelasan kepada publik sekaligus sebagai instruksi bagi penanganan kasus tersebut. Hal ini didasarkan pada kasus korupsi Simulator SIM yang berujung pada konflik KPK-POLRI serta kaitannya dengan pidato/pernyataan SBY terkait konflik tersebut, ini membuktikan bahwa krisis yang berlarut-larut justru akan menjadi bahan konsumsi/sorotan publik melalui media massa, sehingga akan berpengaruh terhadap kredibilitas pemerintah di mata masyarakat, untuk itu perlu adanya manajemen krisis yang tepat dan cepat dari pemerintah dalam hal ini presiden selaku pimpinan.DAFTAR PUSTAKAArifin, Anwar. 2011. Komunikasi Politik: Filsafat-Paradigma-Teori-Tujuan-Strategi dan Komunikasi Politik Indonesia. Yogyakarta: Graha IlmuFahmi, A. Alatas. 1997. Bersama Televisi Merenda Wajah Bangsa. Jakarta: YPKMDHamad, Ibnu. 2004. Konstruksi Realitas Politik dalam Media Massa. Jakarta: GranitHeryanto, Gun Gun dan Irwa Zarkasy. 2012. Public Relations Politik. Bogor: Ghalia IndonesiaKartono, Kartini. 1996. Pengantar Metodologi Riset Sosial. Bandung : Mandar MajuKriyantono, Rachmat. 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta : KencanaLiliweri, Alo.1991. Memahami Peran Komunikasi dalam Masyarakat. Bandung: Citra Aditya BaktiLuwarso,Lukas dkk. 2004. Media dan Pemilu 2004. Jakarta: SEAPAMcQuail, Denis.1987. Teori Komunikasi Massa. Jakarta : ErlanggaMuhtadi, Asep Saeful. 2008. Komunikasi Politik Indonesia: Dinamika Islam Politik Pasca-Orde Baru. Bandung: Remaja RosdakaryaMulyana, Deddy. 2008. Komunikasi Massa : Kontroversi, Teori dan Aplikasi. Bandung : Widya PadjajaranNugroho D, Riant. 2004. Komunikasi Pemerintahan. Jakarta: Elex Media KomputindoNurudin. 2003. Komunikasi Massa. Malang : CespurRakhmat, Jalaluddin. 2001. Psikologi Komunikasi. Bandung : Remaja RosdakaryaSamsuri. 2004. Media dan Transparansi. Jakarta: SEAPASeverin, Werner J. dan James W. Tankard Jr. 2005. Teori Komunikasi: Sejarah, Metode dan Terapan di dalam Media Massa. Jakarta: KencanaSingarimbun, Masri dan Sofian Effendi. 1995. Metode Penelitian Survai. Jakarta : LP3SSudibyo, Agus. 2004. Ekonomi Politik Media Penyiaran. Yogyakarta : LKISSuparmo, Ludwig. 2011. Crisis Management dan Public Relations. Jakarta: IndeksSuwardi, Harsono dan Sasa Djuarsa Sandjaja dan Setio Budi (eds). 2002. Politik, Demokrasi dan Manajemen Komunikasi. Yogyakarta: Galang PressWest, Richard dan Lynn H. Turner. 2008. Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi Edisi 3 Buku 2. Jakarta : Salemba HumanikaWinarni. 2003. Komunikasi Massa: Suatu Pengantar. Malang: UMM PressWiryanto. 2004. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta : GrasindoLain-LainKaban, Ramon, “Komunikasi Politik Presiden RI: Dari Soekarno sampai Susilo Bambang Yudhoyono (Perspektif Karakteristik Tokoh)”. Observasi, vol. 7, No.2, tahun 2009, hal. 60Kompas, Minggu 24 Januari 2010. Berita Menggeser Sinetron.http://bisnis-jabar.com/index.php/berita/kpk-vs-polri-pidato-sby-banjir-pujian-maupun-sindiranhttp://jambi.tribunnews.com/m/index.php/2012/10/04/koruptor-makan-uang-negara-rp-122-triliun-satu-semesterhttp://m.antaranews.comberita-fokushttp://mediacenter.kpu.go.id/images/mediacenter/VISI_/VISI_MISI_SBY-Boediono__ FINAL__ke_KPU_25_Mei_2009__A4_.pdfhttp://metrotvnews.com/read/newsvideo/2011/07/22/132616/Nazaruddin-Muncul-di-Metro-TVhttp://nasional.kompas.com/read/2012/10/06/2020573/Abraham.Berharap.Presiden.Selesaikan.Konflik.KPK-Polrihttp://nasional.kompas.com/read/2009/07/23/18004364/SBY-Boediono.Menang.60.80. Persenhttp://news.detik.com/read/2011/06/27/113024/1669317/10/sby-diminta-stop-curhat-dan-politik-pencitraanhttp://news.detik.com/read/2012/10/09/065802/2057818/10/sby-pantas-menuai-pujian?nd771108bcjhttp://news.detik.com/read/2012/10/09/060346/2057812/10/icw-pidato-sby-sudah-tegas-pelaksanaannya-harus-dikawal-bersama?nd771108bcjhttp://news.okezone.com/read/2011/06/14/339/468071/pemberantasan-korupsi-di indonesia-peringkat-2-dari-bawahhttp://politik.kompasiana.com /2011/01/25/paradoks-komunikasi-sby/http://pustakawan.pnri.go.id/uploads/media/5/APLIKASIFILSAFATDALAMILMUKOMUNIKASI.dochttp://www.antaranews.com/berita/1295860097/pakar-media-berlebihan-soal-pernyataan-presidenhttp://www.bisnis-kti.com/index.php/2012/10/kpk-vs-polri-pidato-sby-dinilai-terlalu-berhati-hati/http://www.indonesiafinancetoday.com/read/13548/Berita-Nazaruddin-Dorong-Pertum buhan-Pemirsa-TV-di-Juli-Agustushttp://www.kpi.go.id/component/content/article/14-dalam-negeri-umum/30399-partai-demokrat-adukan-tv-one-dan-metro -tv-ke-kpihttp://www.metrotvnews.comreadnewsprograms2012061512932121Kegalauan-Yudhoyono-.htmhttp//www.metrotvnews.com/readnews/2012031885449SBY-Ada-Gerakan-Aneh-untukJatuhkan-Pemerintah1http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/10/09/mbluo0-pernyataan-presiden-dinilai-terlambathttp://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/11/09/12/lrevtp-perkara-korupsi-di-indonesia-mencapai-1018-kasushttp://www.tempo.co/read/news/2009/07/22/078188554/SBY-Pidato-Saya-Dipelintir-dan-Diputarbalikanhttp://www.youtube.com/watch?v=qikfqfktb-8http://video.tvonenews.tv/arsip/view/62583/2012/10/07/ketua_kpk_berharap_presiden_turun_tangan_dalam_konflik_kpk _dan_ polri.tvOnehttp://video.tvonenews.tv/arsip/view/62639/2012/10/08/pidato_presiden_ri_terkait_kisruh_polri_dan_kpk.tvOne
RESEPSI KHALAYAK TENTANG TAYANGAN STAND UP COMEDY YANG MENGANDUNG UNSUR DISKRIMINASI Titis Ponco Setiyoko; Dr. Sunarto; Taufik Suprihatini
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKKarakteristik masyarakat Indonesia yang plural menyebabkan timbulnya berbagaimacam stereotype pada setiap kultur budaya yang ada. Tindakan-tindakandiskriminatif sampai saat ini pun masih hadir dalam berbagai bentuk, salah satunyaditayangkan dalam bentuk hiburan stand up comedy dengan comic sebagaipenyampai pesan.Penelitian ini merupakan sebuah bentuk studi untuk melihat bagaimanaaudience membangun makna apa yang dikonstruksikan oleh media, melalui risetkhalayak melalui 6 informan dengan rentang usia 17-24 tahun dan berasal dariberbagai kota.Sebagai sebuah hiburan yang ditayangkan di media televisi yang merupakansalah satu sarana komunikasi, yang dinikmati oleh masyaraat dengan kultur yangbervariasi, oleh karena itu comic harus memahami komunikasi antar budaya dankomunikasi interpersonal dengan baik, karena stand up comedy adalah komedi yangdiadopsi dari luar dengan aliran bebas dan terbuka maka dituntut adanya tanggungjawab sosial dari media, hamper esmua informan menyatakan bahwa terdapat unsurunsurdiskriminasi yang disampaikan oleh comic dalam tayangan stand up comedymeskipun telah melalui tahap sensor dan editing, hal ini dapat dikonstruksikan bahwasegala hal mungkin dilakukan untuk menghibur penonton.Akhirnya dapat dismpulkan bahwa Sebagian besar informan berada pada posisidominant dimana penonton menerima makna-makna yang disodorkan oleh tayangan,Unsur diskriminasi yang disampaikan dalam tayangan stand up comedy bertujuanagar audience lebih open mindedness dalam menyikapi realita kehidupan denganidentitas kultural yang berbeda, Stand up Comedy merupakan humor intelektualkarena pesan yang disampaikan memerlukan daya tangkap dan pemikiran tertentuuntuk dicerna.Untuk itu disarankan Untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapatmenggunakan pendekatan etnografi dengan lebih melihat pada latar belakang suku,agama, dan ras informan dengan harapan diperoleh resepsi khalayak yang lebihbervariatif, untuk media hendaknya menganut teori sosial responsibility (tanggungjawab sosial), dan hendaknya masyarakat lebih bersikap terbuka terhadap realitaskultur yang ada dengan menilai objektif pesan yang disampaikan dan lebihberorientasi pada isi pesan, disertai dengan mencari informasi dari berbagai sumber.Kata Kunci: Stand Up Comedy,DiskriminasiABSTRACIndonesian’s plural characteristics cause many kinds of stereotypes on every existingcultures. Acts of discrimination still present in many forms, one of it which isbroadcast in the form of stand-up comedy entertainment with the comic as amessenger.This research is a form of study to see how audiences construct meaning from what isconstructed by the media, using audience research through 6 informants with an agerange of 17-24 years and come from various cities.As an entertainment which aired on television as one of the communication means,which is enjoyed by people with varying cultures, therefore comic should understandintercultural communication and interpersonal communications well, because standupcomedy is a comedy adopted from foreign culture with free and open mindedbackground so it is required a social responsibility from the media, almost everyinformants stated that there are elements of discrimination in the impressionsconveyed by stand up comedy comic though it has been through the stages ofcensorship and editing, it can be constructed that everything possible to entertain theaudience.Finally it can be concluded that most of the informants are in a dominant positionwhich the audience accept the meanings offered by shows, Elements ofdiscrimination presented in stand up comedy shows, aims to make the audience moreopen-mindedness in addressing the realities of life with a distinct cultural identity,Stand up Comedy is an intellectual humor because the message requires a certainperception and thought to digest.It is recommended for future studies to use an ethnographic approach by focusing onethnic background, religion, and informant race in the hope to obtained a more variedaudience reception, the media should embrace the theory of social responsibility, andthe public should be more open to the reality of the existing culture to assessobjectively the message and more oriented to message content, along with seekinginformation from various sources.Key words: Stand Up Comedy, DiscriminationPendahuluanPermasalahan penelitianDiskriminasi terhadap kaum minoritas merupakan salah satu fenomena sosial yangtidak terpisahkan dari Negara Indonesia. Karakteristik masyarakat Indonesia yangplural menyebabkan timbulnya berbagai macam stereotype pada setiap kultur budayayang ada. Tindakan-tindakan diskriminatif sampai saat ini pun masih hadir dalamberbagai bentuk dan telah merambah ke berbagai bidang kehidupan bangsa dandianggap sebagai hal yang biasa dan wajar serta tidak menganggap bahwa haltersebut merupakan suatu bentuk diskriminasi. Seperti halnya yang terjadi padamereka yang memeluk agama Kristen. Diskriminasi terhadap agama Kristen diIndonesia telah terjadi sangat lama dan tidak terlihat adanya penyelesaiaan dari pihakpemerintah, terlihat dari tidak adanya buku-buku pelajaran dalam sekolah-sekolahumum yang mengupas sejarah kedatangan dan perkembangannya di Indonesia.Kebanyakan buku-buku pelajaran yang ada hanyalah seputar agama Hindu, Budha,dan Islam dan perkembanganya di Indonesia. Ataupun kasus Gereja Yasmin yangterjadi di daerah Bogor yang sampai saat ini masih menimbulkan konflik antarberbagai pihak. Pelarangan pendirian gereja di wilayah tersebut menuai konflik yangberkepanjangan antar umat Kristen dan Islam disana. BerdasarkanTEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Indonesia enggan menyelesaikan kasuspelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang berkaitan dengan kebebasan beragamawalaupun sudah diperingatkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). KomisionerHAM PBB pada April 2011 menyampaikan surat diplomasi kepada KementerianLuar Negeri. Dalam surat itu pemerintah didesak agar segera menyelesaikan kasuskekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah dan penyerangan terhadap GKI TamanYasmin.(http://www.tempo.co/read/news/2012/02/05/063381842/GKI-Yasmin-Pemerintah-Tak-Mempan-Disorot-PBB, tanggal akses 27 februari 2012, Ananda W.Teresia)Berdasarkan Wahid Institute dalam www.bennisetiawan.blogspot.com,tercatat di tahun 2011 telah terjadi 92 kasus pelanggaran kebebasan beragama danberkeyakinan. Jumlah itu meningkat 18 persen dari tahun sebelumnya, 62 kasus.Pelarangan dan pembatasan aktivitas keagamaan atau kegiatan ibadah tercatat 49kasus. Disusul tindakan intimidasi dan ancaman kekerasan oleh aparat negara (20kasus), pembiaran kekerasan (11 kasus), kekerasan dan pemaksaan keyakinan sertapenyegelan dan pelarangan rumah ibadah (masing-masing 9 kasus). Pelanggaran lainadalah kriminalisasi atau viktimisasi keyakinan (4 kasus).(http://bennisetiawan.blogspot.com/2012/01/berperang-atas-nama-agama.html,tanggal akses 9 maret 2012, Benni Setiawan)Praktik diskriminasi yang telah banyak terjadi di masyarakat justru dihadirkankembali oleh media dengan representasi media. Dimana masalah-masalah tersebutselalu dihadirkan dalam tayangan-tayangan berjenis hiburan, sehingga khalayak yangmenonton lupa akan realitas yang sebenarnya. Inilah bentuk kekerasan simbolik yangdihadirkan oleh media pada khalayak. Belum lama ini Metro TV, menampilkansebuah acara baru dengan kategori hiburan, yaitu tayangan standup comedy show.Tayangan ini merupakan tayangan komedi yang bersifat lepas atau bebas. Bebasberarti, para komedian yang tampil dalam standup comedy bebas untuk membawakanmaterinya tanpa ada batasan, Tergantung dari point of view yang dimiliki olehseorang comic (sebutan untuk komedian standup comedy) terhadap suatu masalah.Bisa masalah sehari-hari, fenomena sosial, “uneg-uneg” maupun keresahan danketegangan yang dimiliki oleh seorang comic, bahkan sampai isu-isu yang sensitifbaik itu agama, suku, ras, dll.Bila dilihat kembali, humor-humor yang mengarah pada diskriminasi dansarkasme telah ada dalam keseharian masyarakat Indonesia baik dalam komunikasipersonal ataupun kelompok namun yang terjadi sekarang ini jelas sekali bertentanganperaturan dan perundangundangan yang ada karena pengungkapan kata yangseharusnya tidak layak didengar justru disiarkan oleh media dengan skala nasional.Dengan tingkat pendidikan masyarakat Indonesia yang masih rendah, dan kurangkritisnya khalayak terhadap isi pesan di media menjadikan khalayak kita hanyamemakan pesan secara buta tanpa mengetahui arti dan makna yang sesungguhnyadari sebuah pesan di media.Tujuan penelitianAdapun yang menjadi tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahuibagaimana resepsi khalayak terhadap tayangan standup comedy yang di dalamnyamengandung unsur–unsur diskriminasiMetodologi PenelitianPenelitian ini menggunakan metode analisis resepsi. Metode ini digunakan untukmelihat bagaimana informan memaknai tayangan stand up comedy yangmengandung usur diskriminasi. Riset khalayak menurut Stuart Hall (1973: 123)membagi khalayak dalam 3 kategori pemaknaan yaitu: dominant, negotiated, danoppositional. Dalam kode dominan, penonton menerima makna-makna yangditawarkan oleh tayangan. Dalam kode negosiasi, penonton tidak sepenuhnyamenerima makna-makna yang ditawarkan tapi mereka melakukan negosiasi danadaptasi sesuai nilai-nilai yang dianutnya, sementara kode oposisi, penonton tidakmenerima makna yang diajukan dan menolaknya”.Teori Stuart Hall juga digunakan sebagai analisis data dalam penelitian iniHasil penelitianImplikasi teoritisPemaknaan khalayak dalam tayangan stand up comedy yang mengandung unsurdiskriminasi terbagi menjadi dua kategori yaitu negotiated dan dominant.Dalam kategori negosiasi (negotiated) informan berada pada posisi mengakui danmenyetujui preffered reading yang ditawarkan oleh media yaitu bahwa stand upcomedy adalah humor yang cerdas dan unsur diskriminasi yang ada di dalamnyaadalah hal yang wajar, tetapi khalayak juga menolak preffered reading tersebutartinya sebaiknya unsur diskriminasi tidak dimasukkan dalam humor apapunalasannya, dan dengan penyampaian yang halus sekalipun karena pola pikir danpemaknaan yang muncul setiap orang berbeda-beda. Ketika pesan diterima olehkhalayak dan pesan tersebut dirasakan kurang tepat, maka ia akan membuat negosiasidalam pemaknaannya. Sehingga pada posisi ini khalayak berada di tengah-tengahyaitu mengakui dan juga menolak preffered reading yang ditawarkan oleh acara standup comedy tersebut.Pada posisi ini semua diskriminasi ditampilkan secara wajar di media yaitudiskriminasi agama, ras, suku, tingkat ekonomi, dan kondisi fisik, karena hanyabertujuan untuk memeriahkan suasana tanpa adanya maksud untuk menyakitisiapapun bahkan membuka cakrawala pemirsa bahwa negara ini terdiri darimasyarakat yang beragam dengan latar belakang yang berbeda-beda, namun karenapola pikir masing-masing pribadi berbeda-beda maka ditakutkan akan menimbulkankonflik untuk ke depannya karena diskriminasi ditujukan untuk golongan minoritasseperti Nasrani, Thionghoa, Batak, Bias Gender (Waria), dan lain-lainSebagian khalayak menyatakan bahwa meskipun stand up comedy adalah sebuahhumor yang cerdas namun adanya unsur diskriminasi yang terdapat didalamnyaadalah hal yang wajar. Meskipun hal ini tidak seiring dengan tingkat pendewasaanmasyarakat sehingga untuk beberapa hal dapat memicu konflik. Diskriminasi dalamsebuah acara humor adalah bumbu yang membuat suatu acara menjadi lebih menarik,dan selama ini diskriminasi dalam humor merupakan hal yang sangat umum danberlangsung sejak puluhan tahun yang lalu.Sebagian besar khalayak mengakui adanya pemaknaan dominant dan iamenerima teks yang ditawarkan media yaitu bahwa stand up comedy adalah komedicerdas dan mengandung unsur diskriminasi yang meliputi perbedaan prinsip,penyampaian, pola pikir, pemaknaan, dan lain-lain. Sehingga pada posisi ini khalayakberada di posisi mengakui preffered reading yang ditawarkan oleh acara stand upcomedy. Dalam hal ini diskriminasi pada humor adalah hal yang wajar meskipununtuk beberapa hal dirasa kurang tepat khususnya untuk humor yang cerdassebaiknya tidak menyakiti pihak lain.Diskriminasi sendiri muncul karena adanya unsur latar belakang sejarah,perkembangan sosio kultural dan situasional, faktor kepribadian, dan perbedaankeyakinan, kepercayaan, dan agama. Unsur-unsur tersebut terlihat dari latar belakangcomic yang beragam sehingga dalam setiap penyampaian materi humor mereka jugamemiliki pola pikir, respon, dan penyampaian yang berbeda. Diskriminasi dalamhumor dapat diterima oleh khalayak dengan syarat diskriminasi tersebut ditujukanuntuk membuat suasana menjadi meriah, disampaikan dengan bahasa yang baik,berdasar pada latar belakang si comic, tetap mempertahankan sisi humor yang munculsehingga memperkecil terjadinya konflik, perlu adanya proses sensor sehingga halhalyang sangat sensitif dapat diminimalisir seperti humor yang mengandungdiskriminasi agama karena hal ini bersifat sangat pribadi.Komunikasi antar budaya akan terjalin setelah adanya komunikasi antarpribadi antara comic dan audience¸dalam hal ini pesan yang ingin disampaikan olehseorang comic melalui tema komedi dibawakan akan menjadi efektif jika adakomunikasi interpersonal yang baik, dalam stand up comedy komunikasiinterpersonal yang terjalin adalah comic menyampaikan aspek kepribadiannyamelalui pengalaman hidup dan cerita kehidupannya yang dibawakan dalam bentukkomedi dengan harapan audience juga mempunyai pemikiran yang sama dengan apayang dia sampaikan sehingga pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik(Rakhmat, 2005: 122)Dalam studi komunikasi antar budaya, ketidaktulusan dalam menjalininteraksi dicerminkan oleh sebuah konsep yang dikenal dengan mindlessness, yaituorang yang sangat percaya pada kerangka referensi yang sudah dikenal, kategorikategoriyang sangat rutin dan cara-cara melakukan sesuatu yang sudah lazim (Ting-Toomey, dalam Mulyana, 2008: 11). Artinya ketika melakukan kontak antar budayadengan orang lain (stranger), individu yang berbeda dalam keadaan mindlessmenjalankan aktivitas komunikasinya seperti automatic pilot yang tidak dilandasidengan kesadaran dalam berpikir (conscious thinking).Individu tersebut lebih berada pada tahapan reaktif daripada proaktif. olehkarena itu untuk mencapai keadaan mindfull dalam komunikasi antarbudaya, makaseseorang perlu menyadari bahwa ada perbedaan-perbedaan dan kesamaan-kesamaandalam diri masing-masing anggota kelompok budaya, pihak-pihak yangberkomunikasi merupakan individu-individu yang unik. Dalam deskripsi yang lebihkonkrit, Langer mengatakan bahwa mindfulness terjadi ketika seseorang 1) memberiperhatian pada situasi dan konteks; 2) terbuka terhadap informasi baru; 3) menyadariadanya lebih dari satu perspektif (Mulyana, 2008:12)PenutupBerdasarkan hasil dari penelitian dapat diketahui bahwa sebagian besar informan berada pada posisidominant hegemonic position. Adanya unsur diskriminasi yang dimunculkan dalam stand upcomedy tidak merubah pemaknaan informan terhadap sebuah humor stand up comedy. Unsurdiskriminasi yang disampaikan dalam tayangan stand up comedy bertujuan agar audiens lebih openminded dalam menyikapi realita kehidupan dengan identitas kultural mereka, melalui sebuah humorjenis verbal seperti stand up comedy unsur diskriminasi berfungsi dalam menciptakan keadaan yangmindfullnesSaranUntuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat menggunakan pendekatan yangberbeda dengan lebih melihat pada latar belakang informan dengan harapan diperolehresepsi khalayak yang lebih bervariatif. Agar tidak menimbulkan persepsi yangnegatif di masyarakat, maka media hendaknya menganut teori sosial responsibility(tanggung jawab sosial), seiring dengan perkembangan media massa maka menuntutpara pelakunya untuk memiliki suatu tanggung jawab sosial. Para pemilik danpengelola pers menentukan siapa-siapa, fakta yang bagaimana, versi fakta yangseperti apa yang dapat disiarkan kepada masyarakat dengan menghindari topik yagrasis, gender, atau humor yang audience akan berkeberatan mendengarkannya.Hendaknya masyarakat lebih bersikap terbuka terhadap realitas kultur yang adadengan menilai objektif pesan yang disampaikan dan lebih berorientasi pada isipesan, disertai dengan mencari informasi dari berbagai sumber.DAFTAR PUSTAKABukuAbdullah, Irwan. (2001). Seks, Gender dan Reproduksi Kekuasaan, Tarawang Press,YogyakartaAbdullah, Irwan. (2007). Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan.Yogyakarta:Pustaka PelajarBarker, Chris. (2008). Cultural Studies, Teori & Praktik. Yogyakarta:Kreasi WacanaBlake, Marc. (2005). How to be a Comedy Writer. Great Britain: SummersdalePublishers LtdDarminto, M. Sudarmo. (2004). Anatomi Lelucon Indonesia. Jakarta: ParhumiDenzin, Norman dan Yvonna S. Lincoln. (2009). Handbook of Qualitative Research.Yogyakarta: Pustaka PelajarFakih, Mansour. (2002). Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi, PustakaPelajar, YogyakartaHelitzer, Mel, dan Mark Shatz. (2005). Comedy Writing Secret. (2nd edition). Writer'sDigest Books,Hall, Stuart. (1973). ‘The Television Discourse : Encoding and Decoding’, dalamCulture, Media, Language ed Stuart hall, Dorothy Hobson, Andrew Lowe andPaul Willis. London : Hutchinson, 1980Haryatmoko, (2007), Etika Komunikasi, Yogyakarta : Penerbit KanisiusJ. Lexy, Moleong, (2004) Metodologi Penelitian Kualitatif. (edisi 4). Bandung:Remaja RosdakaryaLefcourt, H.M, (2005), Humor, dalam Handbook of Positif Psychology by Snyder &Lopez, New York: Oxford University PressLittlejohn, S.W, (1996), Thories of Human Communication (fifth edition), WadsworthPublishing Company, Belmont, CaliforniaLeggat, Alexander, (2002). The Cambridge Companion To Shakespearean Comedy.United Kingdom: Cambridge University PressMcQuail, Dennis. (2002). Teori Komunikasi Massa. Diterjemahkan oleh Agus Darmadan Aminudin Ram, Erlangga, JakartaMindess, (1991), The Antioch Humor Test. New York: Avon BooksMulyana, Deddy, (2008), Komunikasi Humoris. Simbosia rekatama Media, BandungRahardjo, Turnomo, (2005), Menghargai Perbedan Kultural, Yogyakarta: PustakaPelajarRakhmat, Jalaluddin. (2005). Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. RemajaRosdakarya.Rayner, Philip, Peter Wall, and Stephen Kruger. (2004). Media Studies: The EssentialResource. London and New York: RoutledgeRogers, Everett, M. (1986). Communion Technology, London: The Free Press, CollierMacmillan PbliRuben, Brent, D, dan Lea P Stewart, (1996). Communication and Human Behavior,Allan & bacon A. Viacom Company, USA. Edisi IVRudy, May,Teuku. (2005). Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Internasional.Bandung: PT Refika AditamaSarlito,(1996), Pengantar Umum Psikologi, Jakarta: Bulan BintangSarwono, Sarlito Wirawan, (1999). Psikologi Sosial Individu dan Teori-Teori,Jakarta: Balai Pustaka.Setaiti. Eni.(2005). Ragam Jurnalistik baru dalam Pemberitaan. Jogyakarta : CVAndi Offset.Sudibyo, (2004). Ekonomi Politik Dunia Penyiaran. Yogyakarta: LKISSuhadi,M. Agus, (1989). Humor itu Serius. Jakarta: PT Pustaka Karya GrafikatamaSullivan, Tim O’ et all. (1994). Key Concept in Communication and Cultural Studies.second edition. London and New york: RoutledgeSuranto, (2010), Komunikasi Sosial Budaya. Yogyakarta. Graha IlmuSuyanto, Bagong. (2006). Metodologi Penelitian sosial, Jakarta, KencanaWiryanto. (2006). Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Grasindo.Wibowo, Fred. (1997). Dasar-Dasar Produksi Program Televisi. Jakarta, GramediaWidiasarana IndonesiaWest, Richard. (2008). Pengantar Teori Komunikasi: Teori dan Aplikasi. Jakarta:Salemba HumanikaMakalah dan JurnalAudrieth, Anthony L. (1998). The Art of Using Humor in Public Speaking, Psicologyof HumorAyuningtyas, Retno. (2010). Analisis Resepsi Pemirsa tentang Diskriminasi Genderdalam Tayangan Bukan Empat Mata, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,Universitas DiponegoroEnggaringtyas, Arum. (2011). Stereotip dan diskriminasi gender terhadap wartawanperempuan di Harian Surya. Universitas Kristen PetraFatt, James. (1998). Why do we laugh?, Communication World. Vol.15 No. 9Hidayat, Dedy, N. (1999). Paradigma dan Perkembangan Penelitian Komunikasi,"Jurnal Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia. No. 3 (April, 1999), hal. 34-35Martin, Rod A. (2003). Sense of Humor. In S. J. Lopez and C. R. Snyder. (Eds.).Possitive Psycological Assessment: University Of Western Ontario LondonMunandar. (1996). Humor: Makna Pendidikan dan Penyembuhan. Suatu TinjauanPsikologis. Makalah. (Dalam Seminar Humor Nasional). SemarangNasir. (2004). Perubahan Struktur Media Massa Indonesia dari Orde Baru ke OrdeReformasi, Kajian Media Politik-Ekonomi. DisertasiPurnama, Indah Dwi. (2009). Film Nagabonar Karya Asrul Sani dan FilmNagabonar Jilid 2 Karya Musfar Yasin: Analisis Resepsi. Fakultas Sastra,Universitas Sumatera Utara,Puspitasari, Aprilia. (2010). Resepsi Khalayak atas Sosok Idola dalam TayanganTelevisi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas DiponegoroSaraswati. (1999). Hubungan Sense of Humor dengan Penyesuaian Diri. Yogyakarta:Universitas Islam IndonesiaSutedjo, Hadiwasito. (1996). Penyusunan Pesan, Makalah Pendidikan Creative danAccount , PPPI Jawa Tengah, 3-4 Mei 1996Tripuspitarini, Hana. (2010). Naturalisasi Kekerasan dalam Komedi Opera Van Java,Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Diponegoro.InternetAritonang, Philemon. (2012). Kompasiana: Stand Up Comedy Berbau Sara. Dalam,http://sosbud.kompasiana.com/2011/09/23/stand-up-comedy-di-metro-tvberbau-sara/. Diunduh pada 14 maret 22.11 WIBArinjaya, I Dw Gd Erick Krisna. (2013). Tips Humor yang Cerdas. Dalam,http://blogdoodey.blogspot.com/2011/04/tips-humor-yang-cerdas.html.Diunduh pada 7 Maret pukul 19.50 WIBHang, yeni. (2012). Diskriminasi Pendidikan Untuk Tionghoa. Dalam,http://yinnihuaren.blogspot.com/2011/10/diskriminasi-pendidikan-untuktionghoa.html. Diunduh pada 9 maret pukul 21.38 WIBJinggaberseri: Stand Up Comedy Indonesia. (2012). Dalam,http://www.squidoo.com/Stand-Up-Comedy-Indonesia-Jinggaberseri.Diunduh pada 2 Juli pukul 22.20 WIBKoran Jakarta. (2012). Stand Up Comedy. Dalam,http://m.koranjakarta.com/?id=75503&mode_beritadetail=1. Diunduh pada27 februari 20.48 WIBLynch, Owen. H. (2002). Humorous Communication: Finding a Place for Humor inCommunication Research. international communication. vol 12, p. 423-44.Dalam,http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.14682885.2002.tb00277.x/abstractManuputty, Cavin R., dan Basfin Siregar. (2013). Lintang Atiku: Sejarah PerjalananStand Up Comedy Indonesia. Dalam,http://www.lintangatiku.com/2013/01/sejarah-perjalanan-stand-upcomedy-indonesia.html. Diunduh pada 3 Januari pukul 23.21 WIBSetiawan, Beny. (2012). Berperang atas Nama Agama. Dalam,http://bennisetiawan.blogspot.com/2012/01/berperang-atas-namaagama.html. diunduh pada 9 maret pukul 21.45 WIBSiahaan, Samuel hasiholan. (2012). Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia. BukuTamu, dalamhttp://www.pgi.or.id/index.php?option=com_rsmonials&Itemid=28. Diunduhpada 11 maret pukul 20.28 WIBSetyawan, Dharma. (2012). Komunitas Hijau: Khotbah Stand Up Comedy. Dalamhttp://www.dharmasetyawan.com/2011/11/media-sosial-dan-kotbah-standup-comedy.html. tanggal akses 14 maret pukul 22.18 WIBSido, Fandy. (2012). Kompasiana: Tayangan Humor Indoensia Sarkatis. Dalam,http://hiburan.kompasiana.com/humor/2011/08/05/tayangan-humorindonesia-sarkastis-385608.html. Diunduh pada 14 maret pukul 22.23 WIBTeresia, Ananda W. (2012). Tempo: GKI Yasmin: Pmerintah Tak Peduli. Dalam,http://www.tempo.co/read/news/2012/02/05/063381842/GKI-Yasmin-Pemerintah-Tak-Mempan-Disorot-PBB. Diunduh pada 27 februari pukul 20.30WIBUndang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2002. (2012). Dalam,http://www.kemenkumham.go.id/attachments/article/170/uu39_1999.pdf.Diunduh pada tanggal 27 Februari 21.00 WIBWirodorono, Sunardian. (2012). Jurnal Sunardian: Stand Up Comedy Indonesia.Dalam, http://sunardian.blogspot.com/2012/03/stand-up-comedy-indonesiayah.html. Diunduh pada 14 maret 2012 pukul 22.14 WIBZuhri, Syaripudin. (2013). Humor Itu Mencerdaskan Bukan Merendahkan. Dalamhttp://hiburan.kompasiana.com/humor/2012/10/23/humor-itumencerdaskan-bukan-merendahkan-503542.html. Diunduh pada 27 Februari2013. 21.10 WIBZulfikar, Ahmad (2012). Gudang Materi: Stand Up Comedy di Indonesia dan Dunia.Dalam, http://www.gudangmateri.com/2012/01/stand-up-comedy-diindonesia-dan-dunia.html. Diunduh pada tanggal 14 maret 22.20 WIBFerfei. (2012). Stand Up Comedy: Canda Tawa Berdiri Sampai Mati. Dalam,http://light.mindtalk.com/StandUpComedy/post/4e9ea719f7b73028df00039f. Diunduh pada 14 Juli 2012 pukul 13.23WIB
HUBUNGAN TERPAAN PEMBERITAAN DI MEDIA MASSA MENGENAI KASUS TERORISME YANG TERJADI DI KOTA SURAKARTA DENGAN CITRA WALIKOTA SURAKARTA JOKO WIDODO MUCHAMAD MACHBUB LUTFI; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTEXPOSURE RELATIONS OF MASS MEDIA NEWS ABOUT TERRORISM CASES THAT OCCURRED IN THE CITY SURAKARTA WITH THE IMAGE OF MAYOR SURAKARTA JOKO WIDODOExposure of mass media news about a case that is being discussed has a strong effect to the people who consume mass media. News exposure has being provided to the public on a continuous basis can lead to a certain effect. According to Steven M.Chaffe effects of mass media can be seen from the changes that happen to the mass communication as public are affected. The effect is divided into three, they are: cognitive effect, affective effects and behavioral effects.The case has being discussed is the case of terrorism that occurred in the city of Surakarta where the first took place on August 17, 2012 in the early days, there has been a shooting and throwing grenade towards a police post in charge of securing passengers by unknown persons. Terrorist incidents that occurred in the city of Surakarta as reported in the mass media has been able to form a picture of the community about the image of the government that led by Joko Widodo. Because the mass media proclaim these events simultaneously causing people interested to follow and monitor the progress of the case.This study aimed to investigate the association between exposure of mass media news about terrorism cases that occurred in the city of Surakarta with the image of Surakarta Mayor Joko Widodo. Researchers used explanative type of research which research that explains the causal relations between the variables through hypothesis testing using correlational method.Results obtained after conducting the study did not find an association between exposure of mass media news about terrorism cases that occurred in the city of Surakarta with the image of Surakarta Mayor Joko Widodo.Keywords: News exposure, media effects, and Joko Widodo image.PENDAHULUAN Informasi adalah salah satu kebutuhan masyarakat yang paling dasar, dengan informasi masyarakat dapat membangun pengetahuan dan pandangan tentang suatu kejadian atau peristiwa. Kebutuhan akan informasi menuntut masyarakat untuk mengkonsumsi media massa, hal ini disebabkan media massa adalah alat-alat dalam komunikasi yang dapat menyebarkan pesan secara serempak, cepat kepada masyarakat yang luas dan heterogen. Kelebihan media massa dibanding dengan jenis komunikasi lain yaitu media massa dapat mengatasi hambatan ruang dan waktu. Bahkan media massa mampu menyebarkan pesan hampir seketika pada waktu yang tak terbatas (Nurudin, 2007: 9).Kehadiran media massa dalam kehidupan masyarakat membuat informasi dari berbagai tempat didunia dapat dikonsumsi tanpa ada hambatan ruang dan waktu. Karena pentingnya media massa sebagai sebuah alat untuk menyampaikan informasi dalam kehidupan masyarakat membuat media massa menjadi kebutuhan masyarakat yang tidak dapat terpisahkan. Seiring dengan berjalannya waktu perkembangan teknologi membuat berbagai macam bentuk dan jenis media massa yang dapat dipilih oleh masyarakat mulai dari media massa cetak, elektronik dan digital.Informasi yang disampaikan oleh media massa yang menjelaskan tentang suatu kejadian atau peristiwa disebut dengan berita. Berita dalam konteks komunikasi massa yang berkembang saat ini akan selalu muncul dalam benak dan pikiran masyarakat, namun berita yang disusun dalam benak dan pikiran masyarakat bukan merupakan peristiwa yang sebenarnya. Berita merupakan usaha rekonstruksi kerangka peristiwa yang terjadi. Berita dalam konteks komunikasi massa, lebih merupakan inti yang disesuaikan dengan kerangkaacuan yang dipertimbangkan agar peristiwa itu memiliki makna bagi para pembacanya. Berita dalam kapasitanya sebagai pembentuk dan dinamisator pengolahan interpretasi atas peristiwa manusia, menjadi hal yang sangat penting dalam proses pembentukan konstruksi sosial. Berita pada titik tertentu sangat mempengaruhi masyarakat dalam merumuskan pandangannya tentang sesuatu kejadian.Salah satu informasi atau berita yang tetap masih ditayangkan dan masih menarik minat masyarakat untuk mengikutinya adalah kasus terorisme yang terjadi di Kota Surakarta yang pertama kali terjadi pada tanggal 17 agustus 2012 pada dini hari dimana telah terjadi penembakan kearah pos polisi yang bertugas mengamankan arus mudik oleh orang tak dikenal dan melukai dua orang anggota polisi di bagian kaki dan pinggang. Kejadian bermula saat dua orang bersepeda motor yang berboncengan dari arah selatan menuju jalan Yos Sudarso mendekati Pos Pengamanan Idul Fitri di daerah Gemblegan, kemudian mereka menembak sekitar lima kali ke arah Pos yang baru dibangun tersebut. Pelaku yang ada di belakang menggunakan senjata api jenis FN Kaliber 9 milimeter dan sambil mengendarai sepeda motornya, pelaku melepaskan serentetan tembakan ke arah Pospam dan melukai pinggang sebelah kiri anggota jaga di Pospam, Bripka Endro Margiyanto dan Brigadir Kukuh Budiyanto terkena ibu jari kaki kiri. Keduanya langsung dilarikan ke Rumah Sakit Kustati Surakarta.Dua hari setelah kasus penembakan oleh orang tak dikenal yang terjadi pada pospam Gemblegan Surakarta telah terjadi kasus lain di Pos Pengaman Lebaran dikawasan Gladak Kota Surakarta pada dini hari terjadi pelemparan granat oleh orang tak dikenal, namun tak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.Peristiwa terorisme yang terjadi di Kota Surakarta tersebut langsung ramai diberitakan oleh media cetak, elektronik maupun digital. Padahal sebelumnya Kota Surakarta disorot oleh media karena keberhasilan Joko Widodo sebagai Walikota Surakarta yang masuk nominasi25 Wali Kota Terbaik Dunia versi City Mayors Foundation. Oleh media dalam pemberitaannya, peristiwa terorisme yang terjadi di Kota Surakarta yang semakin berani dalam memilih korban membuat masyarakat semakin resah dan media menghubungkan peristiwa terorisme yang terjadi dengan kemampuan Joko Widodo sebagai Walikota Surakarta untuk menjaga keamanan daerah yang dipimpinnya. Pemberitaan tersebut dapat membuat masyarakat yang menerima informasi dari media massa mulai memunculkan pandangan negatif terhadap citra Joko Widodo sebagai Walikota Surakarta.Melalui pemberitaan peristiwa terorisme yang terjadi di Surakarta yang gencar diberitakan oleh media, maka penting untuk dilihat adakah hubungan antara terpaan pemberitaan di media massa mengenai kasus terorisme yang terjadi di Kota Surakarta dengan citra Walikota Surakarta Joko Widodo?.II. PEMBAHASANPemberitaan mengenai kasus terorisme yang terjadi di Kota Surakarta telah menyebar ke masyarakat luas melalui pemberitaan yang dilakukan oleh media massa. Informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat mengenai peristiwa tersebut telah disajikan secara lengkap oleh media massa. Pemberitaan yang dilakukan oleh media massa mengenai kasus terosime yang terjadi di Kota Surakarta telah mempersuasi masyarakat mengenai realitas yang terjadi berdasarkan sudut pandang media tersebut.Adanya pemberitaan yang terdapat dalam media massa akan memunculkan suatu kondisi yang disebut dengan disebut dengan terpaan media. Menurut Rosengren ( Rakhmat, 2007:66 ) terpaan media diartikan sebagai penggunaan media terdiri dari jumlah waktu yang digunakan dalam berbagai media, jenis isi media, media yang dikonsumsi atau dengan media secara keseluruhan. Dalam hal ini, terpaan merupakan suatu kondisi dimana masyarakatditerpa oleh edisi media dan bagaimana isi media menerpa masyarakat. Karena media massa melaporkan pemberitaan tentang dunia nyata secara selektif, maka sudah tentu media massa mempunyai pengaruh yang berbeda – beda terhadap masyarakat.Menurut Steven M. Chaffee (Rakhmat, 2007: 219) efek media massa dapat dilihat dari perubahan yang terjadi pada diri masyarakat komunikasi massa. Adapun efek-efek tersebut dibagi menjadi tiga yaitu:1. Efek KognitifTerjadi apabila terdapat perubahan pada apa yang diketahui, difahami, atau dipersepsi masyarakat. Efek ini berkaitan dengan transmisi pengetahuan, ketrampilan, kepercayaan, atau informasi.2. Efek AfektifTimbul apabila terdapat perubahan pada apa yang dirasakan, disenangi, atau dibenci masyarakat. Perubahan pada segi afektif ditunjukkan dengan perubahan perasaan, emosi, sikap ataupun nilai.3. Efek BehavioralMerujuk pada perilaku nyata yang dapat diamati; yang meliputi pola-pola tindakan, kegiatan, atau kebiasaan berperilaku.Terpaan pemberitaan yang dilakukan oleh media massa kepada masyarakat akan memberikan gambaran atau informasi kasus terorisme yang terjadi di Kota Surakarta terhadap citra Walikota Surakarta Joko Widodo dalam menjaga keamanan daerah yang dipimpinnya . Setiap perkembangan yang terjadi dalam upaya pengusutan kasus tersebut akan dapat diawasi oleh masyarakat karena media massa akan memberikan informasi tersebutdengan mudah. Karena masyarakat menerima informasi yang diberikan oleh media massa maka masyarakat akan menerima efek dari media massa berupa efek kognitif yaitu bertambahnya pengetahuan mengenai perkembangan kasus tersebut. Semakin bertambahnya pengetahuan masyarakat terhadap kasus terorisme yang terjadi di Kota Surakarta membuat masyarakat memiliki penilaian mengenai citra Joko Widodo sebagai Walikota Surakarta dalam menjaga keamanan daerahnya, yang selanjutnya akan mempengaruhi citra Joko Widodo sebagai Walikota Surakarta yang sebelumnya telah terbentuk.Citra (image) diyakini sebagai realitas yang tampak sebagai gambaran yang mempunyai makna. Menurut Roberts (Rakhmat. 2007: 224) citra menunjukkan keseluruhan informasi tentang dunia ini yang telah diolah, diorganisasikan, dan disimpan oleh individu. Citra terbentuk berdasarkan informasi yang kita terima. Media massa bekerja untuk menyampaikan informasi, bagi masyarakat informasi tersebut dapat membentuk, mempertahankan, atau mendefinisikan citra. Media massa datang untuk menyampaikan informasi tentang lingkungan sosial dan politik.Cumulative Effects Theory dari Elisabeth Noelle-Neuman menyimpulkan bahwa media tidak punya efek langsung yang kuat tetapi efek itu akan terus menguat seiring dengan berjalannya waktu. Cumulative Effects Theory menyatakan bahwa tidak ada yang bisa menghindari media karena sudah menyebar kemana-mana. Pesan yang berlebihan ini terus dibawa sampai ke rumah. Tidak ada iklan yang muncul hanya sekali. Bahkan dalam berita pun ada redundansi dimana semua media mengarahkan perhatiannya kepada kejadian yang sama. (Vivian. 2008 : 472)Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah tipe eksplanatif (penjelasan), yaitu suatu tipe penelitian yang menjelaskan hubungan kausal antara variabel-variabel melalui pengujian hipotesis dengan menggunakan metode korelasional (Singarimbun, 1992 : 5). Tipe penelitian ini digunakan untuk menguji hipotesis danmenjelaskan hubungan antar variable, yaitu terpaan pemberitaan di media massa mengenai kasus terorisme yang terjadi di Kota Surakarta (variable X) dengan citra Walikota Surakarta Joko Widodo (variable Y)Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat Kota Surakarta dengan jumlah penduduk 536.498 jiwa (Surakarta Dalam Angka 2010) yang tersebar dalam 5 Kecamatan dan 51 Kelurahan. Alasan pemilihan populasi penelitian ini didasarkan pada tempat kejadian tindakan terorisme yang terjadi di Kota Surakarta. Populasi sasaran penelitian adalah individu yang terterpa pemberitaan di media massa, khususnya pemberitaan mengenai kasus terorisme yang terjadi di Kota Surakarta. Karena peneliti tidak memiliki kerangka sampling (sampling frame), dalam menentukan populasi sampling digunakan multistage random sampling untuk menentukan wilayah sampling terlebih dahulu. Setelah mendapatkan wilayah sampling yaitu berada di Kelurahan Karangasem dengan jumlah penduduk sebanyak 2.081 rumah tangga, setelah itu barulah menggunakan teknik pengambilan sampel dengan random sampling didapatkan sample sebanyak 92 orang dari 2081 rumah tangga.Instrumen dalam penelitian ini menggunakan kuesioner, kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang dia ketahui. (Arikunto, 2006 : 151)Hasil yang didapatkan setelah melakukan penelitian dengan menggunakan teori, instrumen dan tekhnik yang telah disebutkan diatas adalah bahwa tidak ada kecenderungan hubungan antara terpaan pemberitaan kasus terorisme yang terjadi di Kota Surakarta dengan citra Walikota Surakarta Joko Widodo. Sebab, mayoritas responden yang terkena terpaan rendah, cukup dan tinggi memberi penilaian yang sama, yaitu baik untuk citra Walikota Surakarta Joko Widodo. Hal ini menunjukkan citra Walikota Surakarta Joko Widodo tidak dipengaruhi oleh pemberitaan kasus terorisme yang terjadi di Kota Surakarta. Dengandemikian, hipotesis hubungan yang sebelumnya dibentuk tidak terbukti dan hampir tidak ada hubungan antara kedua variabel penelitian ini.III. PENUTUPInformasi merupakan salah satu kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat di seluruh dunia dan media massa adalah sumber informasi yang menjadi rujukan ketika masyarakat ingin mengetahui berbagai kejadian dan peristiwa yang sedang terjadi di seluruh dunia, kebutuhan dasar masyarakat akan informasi membuat peran media massa sebagai sumber informasi menjadi sesuatu yang tidak dapat tergantikan. Ketergantungan masyarakat akan media massa membuat pengaruh media massa terhadap cara merumuskan pandangan akan suatu kejadian serta proses pencitraan terhadap lembaga atau seseorang menjadi sangat kuat.Pemberitaan adalah salah satu bentuk informasi yang menjelaskan suatu peritiwa atau kejadian yang disampaikan oleh media massa. Salah satu pemberitaan yang menjadi isu utama dan menjadi perhatian di masyarakat adalah kejadian terorisme yang terjadi di daerah Surakarta, dimana media massa secara serempak memberitakan kejadian tersebut dan dalam berita yang disampaikan cenderung berisi pemberitaan yang negatif. Isi pemberitaan yang disampaikan media massa mengenai kasus terorisme yang terjadi di daerah Surakarta disangkut pautkan dengan kinerja Walikota Surakarta saat itu yaitu Joko Widodo.Terpaan pemberitaan yang bersifat negatif dari media massa mengenai kasus terorisme yang terjadi di Kota Surakarta memaksa masyarakat untuk merubah penilaiannya terhadap citra Joko Widodo sebagai Walikota Surakarta. Namun hasil dari penelitian tidak menemukan adanya hubungan antara terpaan pemberitaan kasus terorisme yang terjadi di Kota Surakarta dengan citra Walikota Surakarta Joko Widodo.DAFTAR PUSTAKABUKU :Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT Asdi Mahasatya.Littlejohn, Stephen W. dan Fros, Karen A. 2009. Teori Komunikasi, Edisi9. Jakarta: Salemba Humanika.McQuail, Dennis. 1996. Teori Komunikasi Massa suatu pengantar. Jakarta : Penerbit Erlangga.Nurudin. 2007. Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta: Raja Grafindo Persada.Rakhmat, Jalaluddin. 2007. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Rakhmat, Jalaluddin. 2007. Metode Penelitian Komunikasi: Dilengkapi Contoh Analisis Statistik. Bandung: PT Remaja rosdakarya.Singarimbun, M. dan Sofian Effendi. 1992. Metode Penelitian Survai. Jakarta : Pustaka LP3ES.Vivian, John. 2008. Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Kencana.SURAT KABAR :“Penyerangan Pos Polisi Diselidiki”. Suara Merdeka. No.186, 21 Agustus 2012, hal 1.INTERNET :http://sosialbudaya.tvonenews.tv/berita/view/60407/2012/08/19/jokowi_imbau_warga_solo_tetap_berlebaran_dengan_tenang.tvOne diakses pada tanggal 12 September 2012 pukul 22.13http://hukum.tvonenews.tv/berita/view/60346/2012/08/17/dua_orang_anggota_polisi_menjadi_korban_penembakan_orang_tak_dikenal.tvOne diakses pada tanggal 12 September 2012 pukul 22.57http://regional.kompas.com/read/2012/08/31/15484985/Penembakan.Polisi.di.Solo.Teror.Terorganisasi diakses pada tanggal 27 November 2102 pukul 11.12http://biografi.rumus.web.id/biografi-jokowi-joko-widodo/ diakses pada tanggal 21 November 2012 pukul 13.43