cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Interaksi Online
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Interaksi Online adalah jurnal yang memuat karya ilmiah mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Undip. Interaksi Online menerima artikel-artikel yang berfokus pada topik yang ada dalam ranah kajian Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial
Arjuna Subject : -
Articles 42 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 2: April 2013" : 42 Documents clear
Video Dokumenter Televisi ‘Ngesti Pandowo’ (Produser dan Editor) Astrid Henariani Prakoso; Djoko Setyabudi; Nurul Hasfi
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang Kebudayaan merupakan salah satu identitas suatu bangsa. Bangsa Indonesia sendiri memiliki banyak kebudayaan yang tersebar di setiap wilayahnya. Seiring berjalannya waktu, masuk dan tumbuh kebudayaan baru di Indonesia. Dengan masuknya kebudayaan baru ditakutkan menggeser kebudayaan tradisional yang sudah ada. Terlebih lagi budaya modern yang lebih diminati banyak orang terutama anak muda daripada budaya tradisional yang sudah ada. Kebudayaan tradisional di Kota Semarang sendiri sebenarnya masih ada, sampai sekarang masih ada tempat yang mengandung unsur budaya tradisional yang tidak kalah bersejarah dibanding wisata Lawang Sewu dan Gereja Blenduk yang menjadi ikon kota Semarang. Tepatnya, terletak di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS). Tempat ini memiliki nilai budaya tradisional yang tinggi, bukan karena bangunannya tetapi kegiatan yang dilakukan di tempat tersebut.Kegiatan yang dilaksanakan di gedung ini adalah pentas kesenian wayang orang. Kelompok kesenian wayang orang di Semarang yang ada sejak tahun 1937 tampil setiap Sabtu malam di gedung TBRS. Kelompok ini mencoba untuk menampilkan kesenian tradisional kota Semarang dengan tujuan melestarikan kesenian wayang orang di Kota Semarang, seperti yang diungkapkan Cicuk Sastro Sudirdjo selaku pemimpin dari kelompok seni wayang orang Ngesti Pandowo ini. Tidak banyak masyarakat yang menonton pentas wayang orang ini, dalam sekali pementasan Ngesti Pandowo hanya mendapat kurang lebih Rp 500.000,00 dari penjualan tiket seharga Rp 20.000,00 tiket per orang. Padahal biaya produksi dalam sekali pementasan berkisar Rp 3.500.000,00.Hal diatas menunjukan adanya keterkaitan dengan kebudayaan tradisional yang semakin tidak dikenal masyarakat. Kegelisahan yang muncul dalam hal ini adalah apakah kesenian wayang orang dapat terus ada. Bagaimana cara untuk membuat kebudayaan tradisional wayang orang ini tetap hidup, dan menumbuhkan kembali minat masyarakat agar dapat menikmati kebudayaan ini.3Dari kegelisahan mengenai masuknya kebudayaan modern yang menggeser kebudayaan tradisional inilah yang kemudian menjadi tema untuk produksi dokumenter. Mengingat bahwa masyarakat akan lebih mudah mencerna informasi yang dikemas secara audio visual, dokumentaris memutuskan untuk membuat produk jurnalistik berbentuk video dokumenter mengenai kebudayaan seni Wayang Orang Ngesti Pandowo. Kesenian tradisional wayang orang merupakan kebudayaan lokal yang masih ada hingga saat ini, tetapi tidak banyak orang menyaksikan pementasan kesenian wayang orang. Terbukti dengan sedikitnya jumlah penonton yang datang untuk menyaksikan kesenian ini.Documentaries’ Statement :Tema : Budaya tradisional (kesenian wayang orang) yang tersingkirkan1. Aspek kepedulian : Mengenai bagaimana kepedulian pemerintah terhadap kesenian tradisional, apakah pemerintah peduli sepenuhnya terhadap paguyuban dan seniman-seniman didalamnya, atau apakah kepedulian pemerintah hanya setengah-setengah? Bagaimana kepedulian para pelaku seni itu sendiri? Mereka melakukannya demi mempertahankan kesenian tradisional atau materi (uang) ?2. Aspek minat dan ketertarikan Mencari tahu kenapa anak muda sudah tidak begitu minat dan tertarik dengan kesenian / kebudayaan tradisional (lewat voxpop). Bagaimana usaha Ngesti Pandowo sebagai salah satu kesenian tradisional di kota Semarang dalam menarik minat masyarakat khususnya anak muda untuk menonton? Memaparkan minat anak muda saat ini dengan munculnya berbagai tawaran produk kebudayaan baru yang muncul dan lahir dari adaptasi budaya asing.43. Aspek prioritas : Kesenian tradisional kurang menjadi prioritas dalam kegiatan pengembangan daerah, dan yang lebih sering diutamakan destinasi wisata seperti Kota Lama, Lawang Sewu dll.4. Aspek ruang dan waktu Mengenai Ngesti Pandowo yang bernegosiasi dengan kemajuan zaman, perubahan apa saja yang mereka lakukan ketika menyesuaikan modernitas sekarang ini, misalnya efek tata cahaya; bagaimana dengan rias dan kostum? Apakah masih sesuai pakem atau sudah banyak berubah dari pakemnya?II. TujuanMelalui video dokumenter ini dokumentaris ingin menginformasikan kepada target audiens akan potensi dan arti penting seni kebudayaan wayang orang, yang dimana saat ini sudah mulai tergerus keberadaannya oleh budaya-budaya modern yang masuk di kalangan anak muda. Selain itu juga bertujuan untuk menunjukkan bahwa telah terjadi perbedaan pandangan terhadap nilai budaya tradisional antara generasi tua dan generasi muda.III. Signifikansi1. Praktis: bagi media TV lokal yang menayangkan, video dokumenter ini bisa menjadi salah satu tayangan yang mendidik masyarakat luas khususnya anak muda tentang kebudayaan.2. Akademis: karya bidang ini dibuat dalam bentuk video dokumenter, merupakan salah satu aplikasi mata kuliah konsentrasi jurnalistik dalam bidang jurnalistik televisi. Video dokumenter ini menjadi salah satu kontribusi jurnalistik dalam bentuk audio visual.3. Sosial: Nilai-nilai perjuangan hidup yang ada dalam video dokumenter diharapkan dapat memberikan motivasi bagi masyarakat, khususnya generasi5muda supaya menyadari akan pentingnya pelestarian kesenian tradisional, sebagai contohnya kesenian Wayang Orang Ngesti Pandowo.IV. Tinjauan Literatur1. Dokumenter Sebagai Produk JurnalistikKomunikasi massa dapat didefinisikan sebagai proses penggunaan sebuah medium massa untuk mengirim pesan kepada audien yang luas untuk tujuan memberi informasi, menghibur, atau membujuk. Di sinilah dokumentaris sebagai komunikator massa membutuhkan sarana agar pesan dapat tersampaikan dengan baik kepada audien yang ditarget. Sarana tersebut bukan lain adalah video dokumenter yang ditayangkan di televisi.Istilah jurnalistik erat kaitannya dengan istilah pers dan komunikasi massa. Jurnalistik adalah pengumpulan, penulisan, penafsiran, pemrosesan, dan penyebaran informasi umum, pendapat pemerhati, hiburan umum secara sistematis dan dapat dipercaya untuk diterbitkan pada surat kabar, majalah, dan disiarkan di stasiun siaran (Wolseley, 1969:3). Film atau video dokumenter termasuk salah satu produk jurnalistik, hal ini diperkuat dengan adanya bahasan mengenai film dokumenter sebagai salah satu tren film sebagai medium komunikasi massa (Vivian, 2008: 180-181). Sedangkan menurut Morrisan (2008: 211) video dokumenter merupakan sebuah produk jurnalistik berbentuk soft news yang bertujuan untuk pembelajaran dan pendidikan namun disajikan secara menarik. Televisi dipilih sebagai media untuk memutar video dokumenter karena masyarakat sangat akrab dengan televisi dan hampir semua kalangan dapat mengakses media ini.2. Gaya dan Strukur DokumenterAda banyak tipe, kategori, dan bentuk penuturan dalam dokumenter. Dalam pembuatan dokumenter ini, dokumentaris memilih menggunakan gaya perbandingan. Dalam bentuk perbandingan umumnya diketengahkan perbedaan suatu situasi atau kondisi, dari satu objek/subjek dengan yang lainnya (Ayawaila,62008: 40-43). Seperti halnya video dokumenter Ngesti Pandowo yang membandingkan budaya tradisional dan budaya modern di kalangan anak muda Semarang.Berkaitan dengan struktur penuturan film dokumenter, dokumentaris menggunakan struktur penuturan tematis dimana cerita dipecah ke dalam beberapa kelompok tema yang menempatkan sebab dan akibat digabungkan kedalam tiap sekuens. Struktur penuturan ini biasanya digunakan apabila fokus cerita adalah sebuah objek lokasi yang merupakan tempat sejumlah orang melakukan aktivitasnya. Seperti halnya Ngesti Pandowo yang merupakan tempat paguyuban seni wayang orang.V. Target AudiensPembuatan video dokumenter ini membidik khalayak usia remaja dengan kisaran umur 15-25 tahun, pria dan wanita yang berdomisili di Jawa Tengah khususnya kota Semarang serta bagi masyarakat penikmat maupun pecinta budaya tradisonal pada umumnya.VI. Format dan DurasiVideo ini akan diproduksi dengan durasi ± 23 menit, dan dikemas dalam bentuk dokumenter.VII. Mekanisme Produksi1. Pra produksi, merupakan tahapan awal dari keseluruhan rangkaian pembuatan video dokumenter ini. Beberapa hal yang harus disiapkan pada tahap pra produksi meliputi perencanaan (penentuan ide dasar, tema video dokumenter, pematangan konsep, pembuatan jadwal serta rancangan anggaran biaya), riset (riset disini antara lain riset lokasi sebagai lokasi pengambilan gambar, riset tokoh dokumenter, serta riset lain yang berkaitan dengan dokumenter), perekrutan tim (disini dokumentaris merekrut orang lain sebagai editor dan camera person tambahan), dan pengadaan alat seperti kamera, tripod, MMC, recorder, dan lain-lain.72. Produksi merupakan tahapan pelaksanaan dari apa yang telah direncanakan pada tahap pra produksi. Pada tahap ini segala perencanaan dan konsep dilaksanakan, membutuhkan waktu setidaknya kurang lebih tiga bulan karena berbagai hal yang terjadi diluar rencana pada saat produksi merupakan sesuatu yang bersifat fleksibel. Proses produksi meliputi kegiatan: pengambilan footage, wawancara dengan narasumber, dan evaluasi.3. Paska produksi atau proses editing merupakan tahap akhir dari pembuatan dokumenter. Pada saat ini dokumentaris mengolah bahan-bahan yang telah direkam menjadi gambar-gambar berhubungan (beralur cerita) untuk disajikan kepada penonton sesuai rancangan cerita yang telah dibuat pada tahap pra produksi. Pada tahap ini yang mengerjakan proses editing adalah orang luar yang dokumentaris rekrut sebagai operator aplikasi edit video di computer sesuai arahan dokumentaris sebagai editor. Tahap ini membutuhkan waktu kurang lebih tujuh minggu.4. Penayangan merupakan saat dimana karya bidang berupa video dokumenter ini akan ditayangkan pada sebuah stasiun lokal dengan durasi ± 23 menit dengan menyesuaikan format dan jadwal program sesuai persetujuan pihak instansi.VIII. Kesimpulan1. Sebagai produser, terdapat beberapa tanggungjawab dokumentaris terutama saat pra produksi, yaitu: perencanaan anggaran, perekrutan tim, pengurusan izin pengambilan gambar dan janji dengan narasumber, pengurusan izin dan lobi dengan stasiun televisi lokal, persiapan alat produksi maupun paska produksi serta pengaturan jadwal.2. Produser perlu mengurus beberapa izin sebelum mengadakan produksi, di antaranya izin untuk pengambilan gambar di Gedung Pandanaran yang membutuhkan surat pengantar dari kampus dan proposal (surat izin terlampir). Sedangkan untuk melakukan pengambilan gambar kegiatan Ngesti Pandowo di TBRS tidak memerlukan izin tertulis.83. Proses pengajuan kerjasama yang dilakukan dokumentaris sebagai produser untuk menayangkan produk ini di stasiun TV lokal juga tidak mudah. Setelah mencoba mengajukan proposal ke Kompas TV, Pro TV, dan TVKU, akhirnya didapat juga deal dengan Cakra Semarang TV yang menayangkan video dokumenter televisi ini pada hari Senin 11 Maret 2013 pukul 22.30.4. Produser melakukan beberapa perubahan dari anggaran biaya dan time schedule yang sudah dibuat sebelumnya, hal ini diakibatkan karena perkembangan alur cerita dan juga terkadang cuaca yang tidak mendukung untuk pengambilan gambar outdoor. Lamanya waktu yang dibutuhkan untuk membuat video dokumenter ini dari proses pra produksi hingga paska produksi adalah sekitar 6,5 bulan (September 2012 – pertengahan Maret 2013)5. Selain mendapat jobdesk sebagai produser, disini dokumentaris juga merangkap sebagai editor, meskipun saat proses editing, dokumentaris meminta bantuan dari pihak luar sebagai operator edit yang bekerja di bawah petunjuk yang diberikan baik oleh dokumentaris maupun sutradara. Proses editing dan mixing dilakukan di Semarang dan memakan waktu sekitar 7 minggu, berdasarkan naskah yang dibuat oleh sutradara. Dalam prosesnya dokumentaris menggunakan software Adobe Premiere Pro CS 5 yang diinstal di komputer PC dengan spek yang sudah sangat memadai untuk mengedit video.6. Dokumentaris sebagai editor bersama dengan sutradara, kameramen, dan operator edit awalnya memilih gambar mana saja yang bisa dimasukkan ke dalam video. Kemudian dilakukan pemotongan gambar sesuai naskah (editing script) yang sudah dibuat sebelumnya oleh sutradara. Setelah itu video di-mix dengan rekaman audionya, dan diberi backsound musik yang mendukung. Selain itu ditambahkan juga beberapa efek agar menjadi satu kesatuan, antara lain Audio Transitions, Video Effects, Video Transmissions. Dokumentaris juga menambahkan teks yang dikira perlu untuk memberi keterangan yang berguna bagi audiens.9DAFTAR PUSTAKABuku:Ayawaila, Gerzon R. 2008. Dokumenter dari Ide sampai Produksi. Jakarta: FFTV -IKJ PRESSEffendy, Heru. 2002. Mari Membuat Film : Panduan Menjadi Produser. Yogyakarta: PanduanHampe, Barry. 1997. Making Documentary Films and Reality Videos. New York: Owl Books.Morissan. 2008. Manajemen Media Penyiaran: Strategi Mengelola Radio dan Televisi. Jakarta: Kencana.Saroengallo, Tino. 2008. Dongeng Sebuah Produksi Film. Jakarta: PT Intisari Mediatama.Vivian, John. 2008. Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Kencana.Widagdo, M. Bayu & Gora, S. Winastwan. 2004. Bikin Film Indie Itu Mudah!. Yogyakarta: Penerbit Andi.Wolseley, Roland E. 1969. Understanding Magazines. Ames, Iowa: The Iowa University Press.E-book:Stinson, Jim . 2002. Video Digital Communication & Production. Tinley Park : The Goodheart-Willcox Company, Inc.Internet:Anonim. Ngesti Pandowo Bertahan Dalam Keterbatasan.http://pancapana.multiply.com/journal/item/17/WO.-Ngesti-Pandawa-Tempatku-Kiprah diakses pada tanggal 4 Februari 2013.10Anonim. Anak Wayang Semarang Menggiring Angin.http://www.mesias.8k.com/ngestipandowo2.htm diakses pada tanggal 4 Februari 2013.Anonim. GRIS untuk Rakyat. http://www.mesias.8k.com/gris.htm diakses pada tanggal 22 Maret 2013.Blog Wayang Orang Ngesti Pandowo. http://wongestipandowo.wordpress.com/ diakses pada tanggal 4 Februari 2013.Dian Amalia. Pengantar Ilmu Jurnalistik.http://jurnalistikuinsgd.wordpress.com/2007/04/26/pengantar-ilmu-jurnalistik/ diakses pada tanggal 12 September 2012.Facebook Page “Wayang Orang Ngesti Pandowo Semarang.http://www.facebook.com/pages/WAYANG-ORANG-NGESTI-PANDOWO-SEMARANG/107095799314973 diakses pada tanggal 4 Februari 2013.Intan Ayu. Cicuk “Sang Penunggu” Ngesti Pandawa.http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/layar/2011/11/01/872/Cicuk-Sang-Penunggu-Ngesti-Pandawa diakses pada tanggal 12 September 2012.Nurfita Kusuma Dewi. GRIS, Jejak Historikal yang Hilang. http://www.wikimu.com/news/DisplayNews.aspx?id=17056 diakses pada tanggal 22 Maret 2013.Ratri Furry P.R, M.Faris Afif. Wayang Orang Ngesti Pandowo, Ikon Budaya Kota Semarang yang Terlupakan.http://edentsonline.com/wayang-orang-ngesti-pandowo-ikon-budaya-kota-semarang-yang-terlupakan/ diakses pada tanggal 4 Februari 2013.
REPRESENTASI ISLAM DALAM FILM TANDA TANYA “?” Geta Ariesta Herdini; Taufik Suprihatini; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.126 KB)

Abstract

Latar Belakang Film Tanda Tanya “?” menceritakan tentang kehidupan beberapa keluargadengan konflik yang berbeda. Konflik-konflik yang ditayangkan yaitu seputarpermasalahan antar etnis dan agama. Diperankan oleh Revalina S Temat (Menuk),Reza Rahardian (Soleh), Rio Dewanto (Ping Hen / Hendra), Hengky Sulaeman (TanKat Sun), Agus Kuncoro (Surya), dan Endhita (Rika).Film Tanda Tanya “?” merupakan sebuah film yang mengangkat tentangmasalah sosial dalam kehidupan masyarakat multi agama dan etnis. Di film inidiceritakan tentang kehidupan suatu kelompok masyarakat yang didalamnya terdapatkeluarga-keluarga dengan latar belakang agama dan kepercayaan yang berbeda,mereka hidup berdampingan dalam suatu struktur masyarakat. Dalam film ini adaadegan perpindahan agama, percintaan beda agama, ada kritik keberagama-an,pembunuhan seorang pastor, ada juga upaya teroris untuk mem-bom gereja, sertapermusuhan antar ras, dan semua itu disajikan dengan gamblang tanpa ada yangditutup-tutupi.Dalam dunia perfilman Indonesia hal-hal yang menyinggung tentang SARAmerupakan hal yang tabu dan sensitif untuk dibahas dan diangkat ke dalam suatufilm. Di dalam Film Tanda Tanya ini akan lebih banyak kita jumpai adegan tentangkehidupan antar umat beragama satu dengan yang lainnya, khususnya antara umatmuslim dengan umat beragama lain. Setiap tokohnya dipastikan memiliki perananadegan dan dialog yang bersentuhan dengan Islam. Sayangnya hampir sebagian besardari adegan dan dialog tersebut mengandung kontroversi dan menuai banyak protesdari para pemuka agama Islam.Banyak yang menganggap bahwa Film ini adalah sesat karena didalamnyatidak menampilkan Islam secara asli, banyak adegan yang dilebih-lebihkan dan tidaksesuai dengan kenyataannya. Selain itu yang film ini juga mengajarkan tentangpluralitas beragama, yang mana ajaran tersebut bertentangan dengan apa yangdiyakini oleh umat Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia.Film garapan Hanung Bramantyo ini menjadi begitu kontroversial karenaselain kental dengan unsur – unsur SARA juga mengandung unsur pluralisme, yangdianggap tindakan murtad oleh beberapa kelompok penganut agama yang fanatikselain itu juga dianggap menyudutkan umat Islam dan Islam sebagai agama yangkasar, tidak mengenal toleransi, rasis dllTujuan PenelitianPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran Islam saatdikonstruksikan melalui simbol-simbol visual dan linguistik dalam film TandaTanya .Penemuan PenelitianAnalisis yang pertama adalah sintagmatik yang menganalisis level realitydan level representasi dari John Fiske. Menguraikan tentang analisa sintagmatik yangmenjelaskan tentang tanda-tanda atau makna-makna yang muncul dalam shot dan adeganyang terjalin dari berbagai aspek teknis yang merujuk pada representasi Islam dalam filmTanda Tanya “?”.Pada level realitas dapat diuraikan melalui penampilan dan lingkungan yangditampilkan dalam film. Kode sosialnya meliputi : appearance (penampilan), dress(pakaian/kostum), make-up (tata rias), environment (lingkungan), speech (gaya bicara),gesture (bahasa tubuh), expression (ekspresi).Level yang kedua adalah level representasi. Level representasi realitas sosial yangdihadirkan kembali oleh tayangan ini. Dalam penghadiran kode-kode representasi yangumum ini dibangun menggunakan camera (kamera), lighting (tata pencahayaan), editing,musik dan selanjutnya ditransmisikan kedalam bentuk cerita, konflik, karakter, dialog,setting dan lain-lainSelanjutnya dilakukan secara paradigmatic yang merujuk pada representasiIslam dalam film. untuk membedah ideologi memerlukan pemaknaan lebih mendalamterhadap penggambaran Islam dalam film ini dan keterkaitannya dengan aspek yang lebihluasDalam representasi atas Islam, penulis menggunakan dasar Teori Representasidengan pendekatan konstruksionis milik Stuart Hall (1997). Representasi adalah bagianterpenting dari proses di mana arti produksi dipertukarkan antar anggota kelompok dalamsebuah kebudayaan. Representasi menghubungkan antara konsep dalam benak kitadengan menggunakan bahasa yang memungkinkan kita untuk mengartikan benda, orangatau kejadian yang nyata, dan dunia imajinasi dari obyek, orang, benda dan kejadian yangtidak nyataAnalisis paradigmatik perlu digunakan untuk mengetahui kedalaman makna darisuatu tanda serta untuk membedah lebih lanjut kode-kode tersembunyi di balik berbagaimacam tanda dalam sebuah teks maupun gambar. Analisis paradigmatik (Chandler,2002:87-88). Perbedaan mendasar antara analisis paradigmatik dan sintagmatik adalahjika analisis sintagmatik mencoba untuk menemukan makna denotasinya, maka analisisparadigmatik berusaha untuk menemukan makna konotasi dari teksAnalisis paradigmatik adalah analisa yang berusaha mengetahui makna terdalamdari teks film dengan melihat hubungan eksternal pada suatu tanda dengan tanda lain.Bagaimana Islam dan kehidupan umat Islam dalam masyarakat serta bagaimana ideologitentang Islam ditampilkan dalam film ini. Kode-kode ideologis yang terlihat dalam filmini akan dianalisis ke dalam beberapa sub bab utama. Analisis yang pertama yaitumeliputi pesan yang terkandung dalam film Tanda Tanya “?” ini, kemudian tentangkonsep Islam yang ingin ditampilkan dalam film, Islam ditampilkan sebagai agama yangkeras, Islam sebagai agama penebar terror, Islam sebagai agama yang intoleran, Islamsebagai agama yang rasis, Islam sebagai agama yang picik, kemudian mengenai Islambeserta Aqidah dan Syariat Islamiahnya serta bagaimana pemikiran Islam tentang ajaranpluralisme agamaPada bab ini dilakukan analisis paradigmatik dengan tujuan untuk mengetahuimakna terdalam dari teks film Tanda Tanya “?”dengan melihat hubungan eksternal padasuatu tanda dengan tanda lain. Bagaimana mitos-mitos mengenai identitas Islam danbagaimana posisi ideologis sutradara film dalam menggambarkan Islam. Selain itu,analisis paradigmatik juga berfungsi untuk menunjukkan adanya realitas lain yangmungkin bersifat abstrak yang ada di balik tanda yang teridentifikasi dalam analisissintagmatik- PESAN DALAM FILM TANDA TANYAHanung sebagai sutradara ingin menyampaikan pesan moral utama yang ingindisampaikan melalui film ini yaitu tentang kerukunan antar umat beragama. Perihal lainyang ingin ditanamkan Hanung adalah mengenai ajaran pluralisme agama. Ajaranpluralisme agama adalah ajaran yang meyakini bahwa semua agama yang ada adalahsama. Banyak hal yang berhubungan dengan kehidupan beragama ditampilkan disiniseperti pelajaran tentang toleransi antar umat beragama, kerukunan antar umat beragamaserta terdapat pesan tentang bagaimana kita menghargai perbedaan dan pilihan orang laindan bukan hanya sebatas toleransi- MITOS ISLAM DALAM FILM TANDA TANYAMenurut Barthes (1977: 165), mitos adalah type of speech (tipe wicara). Mitosmerupakan sebentuk komunikasi yang mengandung sekumpulan pesan dan tidaktergantung pada pesan yang dibawa tetapi bagaimana komunikator menyampaikannya.o ISLAM DITAMPILKAN SEBAGAI AGAMA YANG KERASDalam film Tanda Tanya “?” penggambaran Islam beserta umatnyaseringkali berlebihan dan tidak sesuai dengan apa yang ada diajaran Islam.Islam sering ditampilkan sebagai agama yang keras. “Keras” di sini dapatdiartikan bahwa Islam adalah agama yang menyukai kekerasan. Dalam filmini Islam juga direpresentasikan sebagai agama yang identik dengan teroris.Islam di film ini tampilkan sebagai agama penebar terror. Hal ini tampak dariadegan dan dialog yang ada. Adegan serta dialog yang ada memperkuat kesandan mitos bahwa Islam adalah agama yang menghalalkan kekerasan. Caramedia untuk menampilkan atau menghadirkan sosok Islam yang akrab dengankekerasan, inilah yang akhirnya mengundang kontroversi dari banyak pihako ISLAM SEBAGAI AGAMA YANG RASISDalam film Tanda Tanya “?” Islam juga dugambarkan sebagai agamayang rasis. Rasis disini dapat diartikan bahwa Islam memberikan perlakuanyang berbeda terhadap orang-orang yang berasal dari ras yang berbeda. Difilm ini digambarkan bagaimana Islam tidak menghargai perbedaan ras yangada serta tidak menghargai perbedaan dan keragaman yang akhirnya memicukonflik antar umat Islam dengan umat beragama yang laino ISLAM SEBAGAI AGAMA YANG PICIKPenggambaran Islam dan umatnya dalam film ini seringkali ditampilkansebagai sosok yang picik dan pemikiran yang sempit. Pemikiran seperti itubiasanya dimiliki oleh orang-orang yang merasa dirinya paling benar,sehingga tidak mau menerima saran serta perubahan yang terjadi. Umat Islamdalam film ini digambarkan sebagai pribadi yang merasa paling benar, tidakterbuka dengan saran dan masukan yang datang kepadanya dan juga mudahterpengaruh akan suatu hal yang menurut diri mereka pribadi benar.o ISLAM BESERTA AQIDAH DAN SYARIAH ISLAMNYADalam film Tanda Tanya terdapat banyak dialog dan adegan yangbersinggungan langsung dengan aqidah dan syariah – syariah Islam. Aqidahdan syariah Islam di film ini seringkali ditampilkan melenceng dari yangseharusnyao PEMIKIRAN ISLAM TENTANG AJARAN PLURALISME AGAMADalam film Tanda Tanya banyak disinggung tentang ajaranpluralisme agama. Hal tersebut merupakan salah satu pemicu mengapafilm Tanda Tanya ini dilarang tayang dan menjadi kontroversi.Pluralisme agama adalah ajaran yang menyatakan bahwa semuaagama adalah sama. Hal ini berbeda dengan apa yang diyakini olehumat Islam, sehingga MUI memfatwakan pluralism agama bertentangandengan Islam dan muslim haram mengikuti paham itu. Namun dalamfilm Tanda Tanya ini yang dimunculkan adalah berbeda, Islam di filmini umatnya digambarkan menyetujui ajaran pluralisme danmengikutinya.Jika di lihat dari sudut pemikiran Islam tentang pluralisme, maka filmini ingin menggambarakan suatu pandangan bahwa Islam mengakui bahwasetiap ajaran agama sama yaitu menyampaikan ajaran tentang adanya berbelaskasih, tolong menolong dan solidaritas tanpa memandang batas – batas agama.Tetapi tetap tidak mengakui bahwa agama lain selain Islam adalah benar.PenutupAkan diuraikan kesimpulan yang menjawab tujuan dari penelitian yaitu tentanggambaran Islam saat dikonstruksikan melalui simbol-simbol visual dan linguistik dalamfilm Tanda Tanya “?” serta mengungkap bagaimana mitos di balik representasi inibekerja.Temuan yang pertama berdasarkan analisis paradigmatik yang dilakukan padafilm Tanda Tanya “?” adalah munculnya mitos Islam yang diangkat dalam film yaituIslam ditampilkan sebagai agama yang keras. Selain itu kesan Islam sebagai agamapenebar terror juga sangat kuat, dengan adanya adegan-adegan yang menampilkanperistiwa penusukan pastur serta peristiwa pengeboman yang mana hal tersebut identikdengan tindak terorisme yang sempat marak terjadi di Indonesia yang tidak lainpelakunya adalah para umat muslimKemudian mitos selanjutnya adalah Islam digambarkan sebagai agama yang rasisdan picik, terutama saat berhadapan dengan umat agama yang lain. Rasis dan picik difilm ini digambarkan dengan interaksi yang terjadi antara para pemeran yang beragamaIslam dengan pemeran lain yang beragama Katolik dan Konghucu, serta berasal dariketurunan TionghoaKedua, apabila dilihat dari segi kostum, riasan, dan ekpresi yang telah dianalisissecara sintagmatik, Islam dan umatnya tampil sebagai sosok yang sederhana, tidakberlebihan dan taat terhadap ajaran agamanyaTemuan terakhir adalah sang sutradara Hanung Brahmantyo dalam film TandaTanya “?” ini ingin menyampaikan pesan tentang pluralisme agama. Paham pluralismeagama ini berbeda dengan pandangan umum masyarakat terhadap klaim kebenaranmutlak agama dan khususnya pandangan umat muslim yang tidak mengakui agama lainselain agama Islam adalah benar dan menyatakan bahwa Islam adalah satu-satunyaagama yang benar. Islam dan umatnya digambarkan sebagai agama yang menyetujuipraktik paham pluralisme ini. Padahal dalam ajaran Islam jelas-jelas tidak mengakui dantidak membenarkan ajaran pluralism yang menyatakan bahwa setiap agama adalah sama.Dalam ajaran Islam telah ditegaskan bahwa tiada agama lain yang benar selain agamaIslamPenggunaan daya tarik isu-isu agama ini menjadi produk yang mampumendatangkan keuntungan. Dengan segala kontroversi dan protes yang munculmenguatkan kesan bahwa film Tanda Tanya “?” menggunakan magnet isu agama dalamfilm garapannya sebagai nilai jual utama dalam menarik minat masyarakat untukmenontonnya.Film melahirkan sebuah bentuk realitas yang sengaja dikonstruksikan untukmemberikan sebuah gambaran lewat kode-kode, konversi, mitos, ideologi – ideologikebudayaannya. Karena realitas merupakan hasil konstruksi maka realitas di sini telahmengalami penambahan maupun pengurangan karena turut campurnya faktorsubyektivitas dari pelaku representasi atau orang – orang yang terlibat dalam media itusendiriDAFTAR PUSTAKABuku:Ali, Moh. Daud. 1986. Islam Untuk Disiplin Ilmu Hukum, Sosial dan Politik. Jakarta: CVWirabuana.Anshari, Endang Saifudin. 1987. Ilmu, Filsafat, dan Agama. Surabaya: Bina Ilmu.Barthes, Roland. 1977. Elements of Semiology. Farrar, Straus and Giroux.Berg, Bruce L. 2001. Qualitative Research Methods For The Social Sciences. Singapore: Allyn& Bacon.Butler, Andrew M. 2005. Film Studies. Vermont : Trafalgar Square Publishing.Chandler, Daniel. 2002. Semiotics: The Basics. New York: Routledge.Eco, Umberto diterjemahkan oleh Inyiak Ridwan Muzir. 2009. Teori Semiotika. Bantul: KreasiWacanaEffendy, Onong Uchyana. 2009. Human Relation & Public Relation. Bandung: CV. MandarMajuErikson, Erik H. (1989). Identitas dan Siklus Hidup Manusia. Jakarta: PT. Gramedia.Fiske, John. 1987. Television Culture. London: Routledge.Fiske, John. 2004. Cultural and Communication Studies. Yogyakarta: Jalasutra.Hall, Stuart. 1997. Representation: Cultural Representatuons and Sygnifying Practices. London:Sage Publications Ltd.Junaedi, Fajar. 2007. Komunikasi Massa Pengantar Teoritis. Yogyakarta: Santusta.Liliweri, Alo. 2007. Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: LKisYogyakartaLittlejohn, Stephen. W and Karen A Foss. 2005. Theories of Human Communication EightEdition. Wadsworth Publishing Company. Canada.Mulyana, Deddy dan Solatun.2007. Metode Penelitian Komunikasi: Contoh-contoh PenelitianKualitatif Dengan Pendekatan Praktis. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.Noviani, Ratna. 2002. Jalan Tengah Memahami Iklan: Antara Realitas, Representasi danSimulasi. Yogyakarta: Pustaka Belajar.Piliang, Yasraf A. 2003. Hipersemiotika. Tafsir Cultural Studies atas Matinya Makna.Yogyakarta: Jalasutra.Webb, Jen. 2009. Understanding Representation. London: SAGE Publications Ltd.Williams, Noel. 2004. How To Get a 2:1 in Media, Communication and Cultural Studies.California: Sage Publications.Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.Sumarno, Marselli. 1996. Dasar-dasar Apresiasi Film. Jakarta: Gramedia Pustaka UtamaRitchie, Jane., and Lewis, Jane. 2003. Qualitative Research Practice: a Guide For SocialScience Students and Researchers. New Delhi: SAGE Publications.Theo Van Leeuwen and Carey Jewitt. 2001. Handbook of Visual Analysis. London: SAGEPublication.Internet :http://forum.kompas.com/movies/35504-mengkritisi-film-tanda-tanya.html. Diunduh pada 28Agustus 2012 jam 00.09 WIBhttp://agama.kompasiana.com/2010/07/05/konflik-agama-menjadikan-indonesia-menakutkan-185565.html. Diunduh pada 28 Agustus 2012 jam 01.00 WIBhttp://beritakbar.blogspot.com/2011/04/film-tanda-tanya-pelecehan-sistematis.html. Diunduhpada 3 September 2012 jam 21.58 WIBhttp://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2011/04/06/14019/menyoal-film-pluralismetanda-tanya-garapan-hanung/. Diunduh pada 3 Sepetember 2012 jam 22.30 WIBhttp://kisah-anak-kost-kikos.blogspot.com/2012/08/tanda-tanya-film-yang-mengangkatisu_31.html. Diunduh pada 3 September 2012 jam 22.35 WIBhttp://www.eramuslim.com/berita/analisa/film-tanda-tanya-pelecehan-sistematis-terhadapislam.htm#.UKXOG2fNsrc. Diunduh pada 3 September 2012 jam 22.45 WIBhttp://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/06/18/m5t1qz-islam-menentangpluralisme-agama. Diunduh pada 3 September 2012 jam 22.48 WIBhttp://www.wikipedia.com. Diunduh pada 3 September 2012 jam 23.00 WIB
Hubungan Intensitas Penggunaan Facebook Terhadap Intensitas Interaksi Face To Face Remaja dengan Orang Tua PRAJWALITA PRAJWALITA; Nurul Hasfi, S. Sos, MA
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.206 KB)

Abstract

KARYA ILMIAHPraktek Penelitian KomunikasiHubungan Intensitas Penggunaan Facebook Terhadap Intensitas Interaksi Face ToFace Remaja dengan Orang Tua.PENDAHULUANI.1 LATAR BELAKANGSocial Networking atau Jaringan Sosial merupakan konsep pengembangan yang bisadimanfaatkan didalam dunia pendidikan. Social networking diaplikasikan kedalam bentuksitus jejaring sosial. Selain berguna untuk menjalin silaturrahim juga berguna untukmenunjang didalam meningkatkan efektifitas belajar. . Social Networking merupakan salahsatu layanan yang ada pada Internet (ade gustiann,2010).Internet merupakan teknologi baru yang diciptakan untuk mempermudah orangmencari informasi dengan cepat dan akurat.Fungsi lain dari penggunaan internet adalah untuk memudahkan orang menghubungi kerabatyang berada jauh diluar pulau, diluar negeri, bahkan berbeda benua. Ada e-mail yang bisadigunakan atau chating dengan sarana yahoo messenger atau social networking yangmemudahkan anda mencari teman baru seperti friendster atau facebook.Setelah habis masa jaya friendster yang sudah dianggap tidak canggih. Maka,muncullah facebook yang diciptakan oleh seorang mahasiswa harvard yang tadinyamenciptakan facebook hanya untuk memudahkan komunikasi dengan komunitasnya. Namun,siapa sangka hal ini coba dikembangkan untuk situs pertemanan yang lebih baik darifriendster. Maka, mulailah facebook merambah dunia sebagai situs jejaring sosial yang palingdiminati.Adanya Facebook bukanlah tanpa masalah. Banyak remaja yang terpengaruhfacebook sehingga mengabaikan kualitas hubungan antar manusia. Seperti halnya lupa kapanterakhir kali bicara dengan orang yang diajak chatting di facebook secara langsung ataukapan terakhir kali makan bersama orang tua di meja makan. Bahkan sering kali ketika adawaktu bersama dengan orang tua. Remaja mengabaikannya karena sibuk dengan facebook.Sehingga, waktu berkualitas bersama keluarga tanpa sadar terabaikan akibat kencanduanfacebook.Ditahun-tahun awal beredarnya facebook di amerika banyak anak usia remaja yangmenghilang akibat kopi darat dengan teman barunya yang baru dia kenal lewat facebook. Halini juga sedang banyak terjadi di sini selain, memungkinkan banyak orang menyalahgunakanfacebook untuk tindakan kriminal (okezone.com/seputarindonesia). Orang tua juga kadangkurang awas dalam hal mengawasi apa yang menjadi akses para remaja di dunia maya.Mereka cenderung percaya dan membiarkan mereka mengakses sitis-situs tanpa ada batasandari orang tua. Bahkan, dengan santainya menempatkan komputer pribadi pada kamar anakmereka tanpa khawatir mereka terjerumus dalam pergaulan yang salah melalui internet.Mudahnya remaja mengakses internet dan kelonggaran orang tua dalam mengawasimerupakan celah dimana jarak hubungan antara orang tua dan remaja terjadi yangmengakibatkan terkadang remaja lebih percaya dan nyaman bicara atau chatting denganorang lain melalui Facebook daripada bicara dengan orang tua mereka. Sepanjang tahun 2010Komisi Nasional Perlindungan Anak sudah menerima 36 laporan terkait kasus Anak yangmenjadi korban kejahatan Facebook.Remaja juga rentan mengalami problem adiksi. Ketertarikan yang mendalam dapatberubah menjadi ketergantungan, bahkan berakselerasi dalam pola hidup yang tidakterpisahkan dari keseharian masyarakat, terutama remaja. Remaja dapat menghabiskan waktuberjam-jam untuk mengakses internet dan Facebook, baik di sekolah, di rumah maupun diluar rumah. Secara psikologis, dampak negatif kecanduan Facebook dapat dibagi atas:a. Pribadi yang antisosial, yaitu yang menunjukkan perilaku menjauh dari norma sosial.b. Dualisme kepribadianKetika berinteraksi di dunia maya, banyak orang yang tidak bersikap sebagaimanatampilannya sehari-hari. Secara kognitif, ia memperlihatkan kesan ideal self yangdiidamkannya. Misalnya dengan menunjukkan kelebihan sosial yang sebenarnya tidakdimilikinya.c. Lingkungan paranoidFacebook membuat orang menjadi merasa tidak aman (insecure). Facebook secara tidaklangsung menciptakan masyarakat yang penuh kecemasan karena Kurangnya pengetahuananak muda akan dunia dan praktek norma-norma sosial yang diharapkan dari dirinya. Secaraumum, anak muda memiliki akses terbatas dalam memandang dunia sekitar secara objektif.Komunikasi interpersonal merupakan hal yang paling mendasar dalam berinteraksidan bersosialisasi dengan orang lain. Melalui komunikasi interpersonal kita dapat mengenalorang lain secara lebih mendalam, sehingga pada akhirnya muncul saling keterbukaan diriyang jika dilakukan dengan baik secara berkesinambungan bisa meningkatkan hubunganmenuju tingkatan yang lebih akrab. Seperti hubungan remaja dengan orang tua dalam sebuahkeluarga. Saat anak masih kecil mungkin orang tua mengenal kepribadiannya. Namun, ketikaia beranjak remaja komunikasi yang lebih intense perlu dilakukan karena remaja merupakanfase yang paling harus diperhatikan oleh orang tua belum tentu anak yang beranjak remajadapat dikenal dengan baik oleh orang tuanya. Semakin sering melakukan pembicaraandengan anak yangtumbuh remaja maka diharapkan anak dapat menaruh kepercayaan padaorang tuanya begitu pula sebaliknya.Salah satu manfaat komunikasi interpersonal adalah mengatasi adanyaketidakpercayaan remaja dan orang tua dalam sebuah keluarga. Ketidakpercayaan orang tuapada anak remajanya terjadi karena kurangnya intensitas komunikasi face to face antarakeduanya. Komunikasi interpersonal saat ini banyak dimanfaatkan dalam segala aspekkehidupan tak terkecuali dalam hubungan keluarga antara remaja dan orang tuanya. Salahsatu wujud pemanfaatan komunikasi interpersonal dalam keluarga adalah adanya interaksiface to face antara remaja dan orang tua dalam keluarga.Begitu pula dengan komunikasi antara anak dan orang tua dalam penelitian ini objekutamanya adalah hubungan orangtua dan anak khususnya remaja. Dalam hal ini facebookmengambil porsi yang cukup besar karena dianggap sebagai penyebab utama berkurangnyaintensitas komunikasi antara orang tua dan remaja. Bagaimana tidak ketika situasi dirumahyang seharusnya mengutamakan quality time dalam keluarga harus tergerus dengan intensitassang remaja dengan komputer di rumah demi mengakses facebook padahal, orang tua hanyamemiliki waktu yang sedikit untuk berada di rumah karena kesibukan mereka bekerja. Hal inimenghambat proses komunikasi yang seharusnya terjadi di rumah dan pada masa remaja halini dianggap sangat penting guna mengetahui pergaulan sang remaja dalam kehidupankesehariannya.I.2 PERUMUSAN MASALAHMerebaknya kasus-kasus negatif yang berhubungan dengan penggunaan facebook inimenimbulkan kekhawatiran orang tua. Peran orang tua sangat penting untuk ikut terlibatbersama anak-anak mereka dalam penggunaan internet guna membentuk pemikiran kritis.Terlebih dalam berhubungan dengan orang-orang yang mereka jumpai saat online. Olehkarena itu, penelitian ini digunakan untuk mempertanyakan bagaimana intensitas interaksiface to face yang dilakukan oleh orang tua dan remaja mereka dalam memberikanpemahaman mengenai penggunaan situs jejaring sosial facebook.I.3 TUJUAN PEMBUATAN PENELITIANUntuk mengetahui hubungan intensitas penggunaan facebook terhadap interaksi faceto face remaja dengan orang tua.I.4 KEGUNAAN PENELITIANa). Kegunaan AkademisPenelitian ini berguna untuk menambah pengetahuan bidang ilmu komunikasi, khususnyakomunikasi massa baru dalam kajian hubungan media maya dengan komunikasi antarpribadi. Selain itu hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan atau referensi untuk penelitianselanjutnya.b). Kegunaan PraktisPenelitian ini memuat saran untuk pengguna facebook agar dapat menggunakan mediajejaring sosial dengan lebih bijak dan bagi orang tua yang mempunyai anak remaja lebihdapat meluangkan waktu untuk mengawasi remaja agar komunikasi yang terjalin antaraorang tua dan remaja tetap dekat.I.5 KERANGKA TEORITeori New Media (Digital Theory)Pada tahun 1990, Mark Poster meluncurkan buku besarnya, The Second Media Age,yang menandai periode baru di mana teknologi interaktif dan komunikasi jaringan, khususnyadunia maya akan mengubah masyarakat. Gagasan tentang era media kedua yang sebenarnyatelah dikembangkan sejak tahun 1980-an hingga saat ini menandai perubahan yang pentingdalam teori media. Bagi seseorang, hal ini melonggarkan konsep “media” dari komunikasi“massa” hingga berbagai media yang berkisar dari jangkauan yang sangat luas hingga yangsangat pribadi. Kedua, konsep tersebut menarik perhatian kita pada bentuk-bentukpenggunaan media yang baru yang dapat berkisar dari informasi individu dan kepemilikanpengetahuan hingga interaksi. Ketiga, tesis tentang era media kedua membawa teori mediadari kesamaran yang relatif pada tahun 1960-an pada populeritas yang baru pada tahun 1990-an dan seterusnya.Kekuatan media dalam dan dari media itu sendiri kembali menjadi fokus, termasuksebuah minat baru dalam karakteristik penyebaran dan penyiaran media.Era media yang pertama digambarkan oleh :1. Sentralisasi produksi (satu menjadi banyak).2. Komunikasi satu arah.3. Kendali situasi, untuk sebagian besar.4. Reproduksi stratifikasi sosial dan perbedaan melalui media.5. Audiens massa yang terpecah, dan6. Pembentukan kesadaran sosial.Era media kedua, sebaliknya, dapat digambarkan sebagai:1. Desentralisasi2. Dua arah.3. Di luar kendali situasi.4. Demokratisasi.5. Mengangkat kesadaran individu, dan6. Orientasi individu.Mungkin ada dua pandangan yang dominan tentang perbedaan antara era mediapertama, dengan penekanannya pada penyiaran, dan era media kedua, dengan penekanannyapada jaringan. Kedua pandangan tersebut adalah pendekatan interaksi sosial (socialinteraction) dan pendekatan integrasi sosial (social integration).Pendekatan interaksi sosial membedakan media menurut seberapa dekat mediadengan model interaksi tatap muka. Bentuk media penyiaran yang lebih lama dikatakan lebihmenekankan pada penyebaran informasi yang mengurangi peluang adanya interaksi. Mediatersebut dianggap sebagai media informasional dan karenanya menjadi mediasi realitas bagikonsumen. Sebaliknya, media baru lebih interaktif dan menciptakan sebuah pemahaman barutentang komunikasi pribadi. Mungkin pendukung pandangan ini yang paling terkemukaadalah Pierre Levy yang menulis buku terkenal berjudul Cyberculture. Levy memandangWorld Wide Web sebagai sebuah lingkungan informasi yang terbuka, fleksibel dan dinamis,yang memungkinkan manusia mengembangkan orientasi pengetahuan yang baru dan jugaterlibat dalam dunia demokratis tentang pembagian kuasa yang lebih interaktif danberdasarkan pada masyarakat.Dunia maya memberikan tempat pertemuan semu yang memperluas dunia sosial,menciptakan peluang pengetahuan baru, dan menyediakan tempat untuk berbagi pandangansecara luas.Tentu saja, media baru tidak seperti interaksi tatap muka, tetapi memberikan bentukinteraksi baru yang membawa kita kembali pada hubungan pribadi dalam cara yang tidak bisadilakukan oleh media sebelumnya. Ada beberapa masalah dalam membuat perbandingan ini,dan beberapa orang yakin bahwa media yang baru lebih “termediasi” daripada yang akandiyakini oleh para pendukungnya. Media baru juga mengandung kekuasaan dan batasan,kerugian dan keuntungan, dan kebimbangan. Sebagai contoh, media baru mungkinmemberikan penggunaan yang terbuka dan fleksibel, tetapi dapat juga menyebabkanterjadinya kebingungan dan kekacauan.Media yang baru memang pilihan yang sangat luas, tetapi pilihan tidak selalu tepatketika kita membutuhkan panduan dan susunan. Perbedaan adalah salah satu nilai besardalam media baru, tetapi perbedaan juga dapat menyebabkan adanya perpecahan danpemisahan. Media baru mungkin memberikan keluwesan waktu dalam penggunaan, tetapijuga menciptakan tuntunan yang baru.Media yang lebih baru menciptakan sesuatu yang terlihat seperti interaksi, tetapi tidakmirip dengan interaksi tatap muka yang sebenarnya. Malahan, media yang lebih barumenciptakan interaksi dengan simulasi komputer. Ada tingkat interaksi yang tinggi, tetapidengan komputer, tidak dengan individu tertentu. Gagasan ini didukung oleh teori persamaanmedia (media-equation theory), yang menyatakan bahwa kita memperlakukan media sepertima Cara kedua yang membedakan media adalah integrasi sosial. Pendekatan inimenggambarkan media bukan dalam bentuk informasi, interaksi, atau penyebarannya, tetapidalam bentuk ritual, atau bagaimana manusia menggunakan media sebagai cara menciptakanmasyarakat. Media bukan hanya sebuah instrumen informasi atau cara untuk mencapaiketertarikan diri, tetapi menyatukan kita dalam beberapa bentuk masyarakat dan memberikankita rasa saling memiliki dan berinteraksi dengan media seolah-olah mereka nyata.CMC (Computer Mediated Communication)Adapun komunikasi dengan menggunakan komputer lazim disebut sebagaiKomunikasi Media Komputer (Computer-Mediated Communication). Dampak KMK kedalam dua bagian. Pertama, dampaknya bagi perkembangan bahasa dan kedua dampaknyabagi struktur komunikasi bahasa Indonesia. Berbagai istilah baru bermunculan. Istilah-istilahtersebut mayoritas berasal dari bahasa Inggris. Dampak bagi perkembangan bahasa. Makabeberapa dari kita akan merasa akrab dengan istilah, seperti unduh, unggah, tetikus, daring,dan sebagainya. Kebanyakan merasa lebih nyaman menggunakan kata download, up-load,mouse, dan on-line. Dampak bagi struktur komunikasi. Sampai awal 2000-an, Internet RelayChat masih menjadi sarana komunikasi yang relatif populer. Setelah itu, Instant Messengersemacam Yahoo! Messenger menjadi salah satu yang relatif umum. Meskipun demikian,prinsip dasarnya tetap sama. Sehingga dampaknya bagi struktur komunikasi bahasa Indonesia(termasuk juga bahasa lainnya) secara umum tetap sama. Black et al sebagaimanadiungkapkan Lewis Hassel, menyebutkan bahwa setiap jenis media yang digunakan untukberkomunikasi akan mempengaruhi struktur interaksi komunikasi. Namun, itu bukan berartibahwa komunikasi yang dilakukan tidak berlangsung dengan baik. Bahkan bila dilihat darisudut pandang wacana, rangkaian komunikasi tersebut merupakan wacana yang memilikikesatupaduan.I.6. HipotesisAdapun hipotesa dari pemaparan diatas adalah terdapatnya hubungan penggunaanfacebook terhadap intensitas interaksi face to face remaja dengan orang tua. Artinyasemakin tinggi tingkat penggunaan facebook berarti semakin berkurang tingkat intensitasinteraksi face to face antara remaja dengan orang tua.I.7. Definisi Konseptual1) Intensitas menggunakan FacebookAdalah kualitas penggunaan Facebook .2) Interaksi face to face remaja dengan orang tuaAdalah Interaksi face to face terhadap remaja dan orang tua dalam keluarga.I.8. Definisi Operasional1) Intensitas menggunakan Facebooka) Frekuensi menggunakan Facebook per hari.b) Pengetahuan tentang fitur Facebook.c) Durasi menggunakan Facebook.2) Interaksi face to face terhadap remaja dan orang tuaa) Frekuensi interaksi antara remaja dengan orang tua.b) Aktivitas yang dilakukan remaja dengan orang tua.c) Durasi interaksi antara remaja dengan orang tua.1.9.Metoda Penelitian1.9.1. Tipe PenelitianTipe yang dipakai dalam penelitian ini adalah eksplanatori, yaitu tipe penelitian yangmenjelaskan hubungan kausal antara variabel-variabel melalui pengujian hipotesis(Singarimbun dan Effendi, 1989: 5).Variabel bebas dalam penelitian ini adalah hubungan penggunaan Facebook (X) yangberpengaruh terhadap variabel terikat, yaitu Intensitas interaksi face to face terhadapremaja dengan orang tua (Y).1.9.2. Populasi dan Sampel1.9.2.1.PopulasiPopulasi adalah obyek penelitian sebagai sasaran untuk mendapatkan danmengumpulkan data. (Subagyo, 1997: 23).Berdasarkan ensiklopedi Indonesia, Edisi Khusus,1992. Remaja dapat diartikantahap pertumbuhan anak menuju dewasa sejak masa pubertas usia 11-20 tahunbagi perempuan dan 12-21 tahun bagi laki-laki. Sementara itu Facebookmembatasi pengguna jejaring sosialnya berada diatas usia 17 tahun.1.9.2.2.SampelSampel adalah sebagian anggota populasi yang diambil dengan menggunakanteknik tertentu yang disebut teknik sampling. Penelitian ini menggunakanStratified Sampling. Teknik ini digunakan oleh peneliti apabila terdapatkelompok-kelompok subjek, yang di antara kelompok satu dengan lainnya adatingkatan yang membedakan. Peneliti mengambil wakil dari unit-unit populasitersebut dengan sistem perwakilan yang berimbang (Bungin, 2006, h.114).Berdasarkan teknik ini, populasi yang digunakan adalah Siswa-Siswi SMA N 4Semarang Kelas XI. Sampel ini diambil dengan pertimbangan siswa-siswi SMA N4 Semarang kelas XI adalah anak-anak dengan rentang usia 17-18 tahun yangdianggap oleh peneliti sebagai usia yang cocok untuk penelitian ini. Karena dimasa-masa ini banyak anak mengalami proses pencarian jati diri yang seringmengalami ketidakcocokan dengan pandangan orang tua dan cenderung sukamencoba hal-hal baru yang terkadang membahayakan dirinya sendiri.Sampel yang digunakan dalam penelitian ini dihitung dengan menggunakanrumus Frank Lynch:. (1 ). . ( 1 )2 22N d z p pN z p p pn Keterangan:n = besar sampelN = besar kerangka sampelZ = nilai formal untuk tingkat kepercayaan 95%=1,96P = harga patokan tertinggi= 0,5d = sampling error = 0,1219.(0,1) (1,96) (0,5)(0,5)219.(1,96) .(0,5)(0,5)2 22n n = 67,75 dibulatkan menjadi 68Berdasarkan perhitungan di atas, besarnya sampel adalah 68 siswa.1.9.3. Teknik Pengambilan SampelMetode pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah StratifiedSampling.1.9.4. Jenis dan Sumber Data1.9.4.1.Jenis DataJenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif.1.9.4.2.Sumber Data1) Data PrimerData primer merupakan data yang diperoleh secara langsung dari masyarakat,baik yang dilakukan dalam wawancara, observasi, dan alat lainnya. (Subagyo,1997: 87).Data primer diperoleh melalui hasil kuesioner dari responden dan checklistyang dilakukan terhadap responden.2) Data SekunderData sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung dari obyekpenelitian, yaitu sumber-sumber tertulis yang terdapat dalam dokumendokumen,data statistik dan referensi lainnya yang berhubungan denganpersoalan yang diteliti (Subagyo, 1997: 88).1.9.5. Skala PengukuranMenurut Sekaran dalam Zulganef (2008: 163), skala pengukuran adalah alat ataumekanisme membedakan individu atau unit analisis berdasarkan variabel-variabeldalam penelitian.a) Variabel bebasVariabel bebas dalam penelitian ini adalah intensitas penggunaanFacebook yang diukur menggunakan skala nominal, yaitu skala yangdigunakan untuk membedakan subjek berdasarkan klasifikasi saja(Zulganef, 2008: 98). Variabel bebas ini diklasifikasikan:i. Rendahii. Kurangiii. Cukupiv. Tinggib) Variabel terikatVariabel terikat dalam penelitian ini adalah interaksi face to face remajadengan orang tua yang diukur menggunakan skala ordinal, yaitu skalayang digunakan untuk membedakan subjek berdasarkan klasifikasi saja(Zulganef, 2008: 98).Variabel terikat ini diklasifikasikan:i. Tinggiii. Tidak tinggi1.9.6. Teknik Pengumpulan DataTeknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah surveimelalui kuesioner yang diberikan kepada responden.Penelitian survei merupakan suatu penelitian kuantitatif dengan menggunakanpertanyaan terstruktur atau sistematis yang sama kepada banyak orang kemudianjawaban yang diperoleh peneliti dicatat, diolah, dan dianalisis. (Prasetyo danJannah, 2005: 141).1.9.7. Instrumen PenelitianAlat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner.Kuesioner merupakan pertanyaan-pertanyan yang telah tersusun secara kronologisdari yang umum mengarah pada khusus untuk diberikan kepada responden yangumumnya merupakan daftar pertanyaan. (Subagyo, 1997: 55).1.9.8. Teknik AnalisisAnalisa kuantitatif, merupakan analisis data yang ditujukan pada data-data berupaangka-angka. Setelah data terkumpul kemudian diklasifikasikan dalam kategorikategorimaka dihitung dengan analisa kuantitatif yang dilakukan denganmenggunakan uji statistik berupa uji korelasi (Kriyantono, 2006: 163).BAB IIPENJABARAN TENTANG FACEBOOKDANKOMUNIKASI ORANG TUA DAN REMAJAII.1. ASAL-USUL JEJARING SOSIAL FACEBOOKMichael zuchkerberg yang mengawali adanya jejaring sosial ini. Michael yang padaawal mulanya membuat jaringan sosial ini hanya untuk memudahkan hubungan komunikasilewat dunia maya antar anggota organisasi di harvard tidak pernah terpikir untukmengkomersialkan jaringan komunikasi kampusnya menjadi pesaing friendster yang telahmendunia. Berawal dari keisengan membuat blog yang menyebarkan seluruh data pribadipenghuni kampus. Michael yang dicap sebagai mahasiswa gagal di universitas harvardmemulai pemberontakannya pada pihak kawan seangkatan hingga kawan satu kampusdengan menyebarkan data-data pribadi milik mahasiswa harvard dan di publikasikan seanterokampus. Akibat perbuatannya banyak mahasiswa yang keberatan dan ada pula yang merasasangat diuntungkan karena bisa lebih kenal atau mengetahui bahwa kenalannya ada juga dijaringan maya tersebut. Kemudian atas saran dari para sahabatnya maka michael mengubahblog kampus menjadi The facebook yang merupakan awal mula dari bentuk facebook.Facebook diluncurkan pertama kali pada tanggal 4 Februari 2004 oleh MarkZuckerberg sebagai media untuk saling mengenal bagi para mahasiswa Harvard. Dalamwaktu dua minggu setelah diluncurkan, separuh dari semua mahasiswa Harvard telahmendaftar dan memiliki account di Facebook. Tak hanya itu, beberapa kampus lain di sekitarHarvard pun meminta untuk dimasukkan dalam jaringan Facebook. Dalam waktu 4 bulansemenjak diluncurkan, Facebook telah memiliki 30 kampus dalam jaringannya(http://publishedmind.blogspot.com/).Tidak ada situs jejaring sosial lain yang mampu menandingi daya tarik Facebookterhadap user. Pada tahun 2007, terdapat penambahan 200 ribu account baru perharinyaLebih dari 25 juta user aktif menggunakan Facebook setiap hari dan rata-rata penggunamenghabiskan waktu sekitar 19 menit perhari untuk melakukan berbagai aktifitas diFacebook (http://www.crunchbase.com/company/Facebook).Menurut Alexa.com (2010) yang memonitor arus internet, hampir 4 % daripengunjung harian Facebook berasal dari Indonesia, yang menjadikannya berada di tempat ke5 setelah pengunjung dari Amerika, Inggris, Perancis dan Italia (www.thejakartapost.com).Data tersebut merupakan keseluruhan pengguna Facebook yang sebagian besar masih remaja.Dari Jumlah pengguna facebook dari indonesia ternyata laki laki lebih mendominasidengan jumlah pengguna 18,7 juta. sedangkan pengguna perempuan hanya 12,9 juta.Sedangkan, berdasarkan usia, 18-24 tahun merupakan rentang usia terbesar, yakni13,1 juta pengguna (41,5 persen). Disusul rentang usia remaja 14-17 tahun sebesar 8 jutapengguna (25,4 persen), lalu rentang usia 25-34 tahun sebesar 6,8 juta pengguna (21,6persen). Sisanya, tidak lebih dari 20 persen.II. 2. KOMUNIKASI ORANG TUA DAN REMAJAKeluarga merupakan kelompok sosial pertama dalam kehidupan manusia dimana iabelajar dan menyatakan diri sebagai makhluk sosial, dalam interaksi dengan kelompoknya(Kurniadi,2001: 271).Dalam keluarga yang sesungguhnya, komunikasi merupakan sesuatu yang harus dibina,sehingga anggota keluarga merasakan ikatan yang dalam serta saling membutuhkan.Keluarga merupakan kelompok primer paling penting dalam masyarakat, yang terbentuk darihubungan laki – laki dan perempuan, perhubungan ini yang paling sedikit berlangsung lamauntuk menciptakan dan membesarkan anak – anak.Hafied Cangara ( 2002 : 62 ) menjelaskan fungsi komunikasi dalam keluarga adalahmeningkatkan hubungan insani ( Human relation ), menghindari dan mengatasi konflik –konflik pribadi dalam keluarga, mengurangi ketidakpastian sesuatu, serta berbagipengetahuan dan pengalaman dengan orang lain.Menurut Rogers (dalam Depari, 1988, 16) mengemukakan bahwa komunikasi antarpribadi adalah komunikasi yang terjadi dari mulut ke mulut yang terjadi dalam interaksi tatapmuka antara beberapa pribadi. Fokus pandangan berpikir Rogers (dalam Depari, 1988 : 18)apabila dihubungkan dengan penelitian ini berupa komunikasi antara orang tua denganremaja. Saluran dari mulut ke mulut meliputi komunikasi verbal (bahasa lisan) dan nonverbal (isyarat) sewaktu orang tua memberi nasehat atau memberi informasi dan sebaliknyamenerima tanggapan dari remaja.Bagaimana orang tua harus bertindak dalam menyikapi tuntutan kemandirian seorang remaja,berikut ini terdapat beberapa saran :Komunikasi. Berkomunikasi dengan anak merupakan suatu cara yang paling efektif untukmenghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Tentu saja komunikasi diisi harus bersifat duaarah, artinya kedua belah pihak harus mau saling mendengarkan pandangan satu dengan yanglain. Dengan melakukan komunikasi orang tua dapat mengetahui pandangan-pandangan dankerangka berpikir anaknya, dan sebaliknya anak-anak juga dapat mengetahui apa yangdiinginkan oleh orangtuanya.Tanggung jawab bertanggung jawab terhadap segala tindakan yang diperbuatmerupakan kunci untuk menuju kemandirian. Dengan berani bertanggung jawab (betapapunsakitnya) remaja akan belajar untuk tidak mengulangi hal-hal yang memberikan dampakdampaknegatif (tidak menyenangkan) bagi dirinya.Konsistensi orang tua menerapkan disiplin dan menanamkan nilai-nilai kepada remaja dansejak masa kanak-kanak di dalam keluarga dan menjadi panutan bagi remaja untuk dapatmengembangkan kemandirian dan berpikir secara dewasa. Orang tua yang konsisten akanmemudahkan remaja dalam membuat rencana hidupnya sendiri dan dapat memilih berbagaialternatif karena segala sssesuatu sudah dapat diramalkan olehnya.Sarwono (1998) mengatakan bahwa keluarga merupakan lingkungan primer padasetiap individu. Sebelum seorang anak mengenal lingkungan yang luas ia terlebih dahulumengenal lingkungan keluarganya, karena itu sebelum seorang anak mengenal norma-normadan nilai-nilai yang berlaku dalam keluarganya untuk dijadikannya bagian darikepribadiannya. Orang tua berperan penting dalam emosi remaja, baik yang memberi efekpositif maupun negatif. Hal ini menunjukkan bahwa orang tua masih merupakan lingkunganyang sangat penting bagi remaja (“Remaja”,2004).Menurut Naland (1998) ada beberapa sikap yang harus dimiliki orang tua terhadapanaknya pada saat memasuki usia remaja :1. Orang tua perlu lebih fleksibel dalam bertindak dan berbicara.2. Kemandirian anak diajarkan secara bertahap dengan mempertimbangkan danmelindungi mereka dari resiko yang mungkin terjadi karena cara berpikir yang belummatang. Kebebasan yang diberikan terlalu dini akan memudahkan remaja terperangkap dalampergaulan buruk, obat-obatan terlarang, aktifitas seksual yang tidak bertanggung jawab, danlain-lain.3. Remaja perlu diberi kesempatan melakukan eksplorasi positif yang memungkinkanmereka mendapat pengalaman dan teman yang baru, mempelajari berbagai keterampilanyang sulit dan memperoleh pengalaman yang memberikan tantangan agar mereka dapatberkembang dalam berbagai aspek kepribadiannya.4. Sikap orang tua yang tepat adalah sikap yang authoritative, yaitu dapat bersikaphangat, menerima, memberikan aturan dan norma serta nilai-nilai secara jelas dan bijaksana.Menyediakan waktu untuk mendengar, menjelaskan, berunding dan bisa memberikandukungan pada pendapat anak yang benar.BAB IIITEMUAN PENELITIAN HUBUNGAN PENGGUNAAN FACEBOOKTERHADAP INTERAKSI FACE TO FACE REMAJA DENGAN ORANG TUABab ini menguraikan mengenai temuan penelitian di lapangan mengenai hubunganpenggunaan facebook (X) terhadap interaksi face to face remaja dengan orang tua (Y).Berdasarkan kusioner yang telah dibagikan kepada pelajar SMA Negeri di Semarang, makaakan diuraikan hasil jawaban dari kuesioner tersebut dalam bentuk tabel beserta penjelasandan analisisnya.3.1. Intensitas Penggunaan Facebook3.1.1. Frekuensi Penggunaan FacebookTabel 3.1.1Presentase Penggunaan FacebookJumlah Update Status Frekuensi PersentaseLebih dari 10 kali 2 2,95 %Antara 7-10 kali 44 64,70 %Antara 1-2 kali 22 32,35 %Sesekali / tidak pernah 0 0 %Total 68 100 %3.1.2. Pengetahuan Tentang Fitur FacebookTabel 3.1.2Frekuensi Pengetahuan Tentang Fitur FacebookFitur Facebook Frekuensi PresentaseUpdate Status 66 16,5 %Update Foto / video 65 16,25 %Chattimg 66 16,5 %Message 65 16,25 %Update Berita / Notifikasi 62 15,5 %Belanja 41 10,25 %Instagram 35 8,75 %3.1.3. Durasi Membuka FacebookTabel 3.1.3Presentase Durasi Membuka FacebookDurasi Frekuensi Presentasi24 Jam Non stop 54 79,41 %Setiap Jam 11 16,17 %lebih dari 2 jam 1 1,48 %Hanya 1 jam 2 2,94 %Total 68 100 %3.2. Interaksi Face To Face Remaja Dengan Orang Tua.3.2.1. Frekuensi Interaksi Face To Face Remaja Dengan Orang Tua.3.2.1.A. Frekuensi bertemu dengan Orang tuaTabel 3.2.1.AFrekuensi bertemu dengan Orang TuaWaktu bertemu Frekuensi PresentaseAda 6 8.82 %Jarang ada 1 1,47 %Tidak tentu waktunya 59 86,76 %Tidak ada 2 2.95%Total 68 100 %3.2.1.B. Berdasarkan pengetahuan orang tua tentang facebook remajanya.Tabel 3.2.1.B.Frekuensi orang tua tahu tentang facebook remajanyaPengetahuan orang tua Frekuensi PresentaseTahu 65 95,58 %Tidak tahu 1 1,47 %Pura-pura tidak tahu 0 0 %Tidak mengerti 2 2,95 %Total 68 100 %3.2.2. Frekuensi aktivitas ketika berinteraksi dengan Orang Tua.Tabel 3.2.2.Frekuensi aktivitas ketika berinteraksi dengan Orang Tua.Aktivitas F. 1x seminggu Presentase F. 2x seminggu PresentaseMakanbersama22 22,22 % 42 25,76 %Pergi bersama 37 54,41 % 29 17,79 %Berbicara /ngobrol24 35,29 % 47 28,83 %Nonton TVbersama16 11,92 % 45 27,62 %Total 99 100 % 163 100 %3.2.3. Durasi lamanya bertemu dengan Orang Tua.Tabel 3.2.3.Frekuensi Durasi lamanya bertemu dengan Orang TuaLamanya waktu Frekuensi PresentaseBerjam-jam 2 2,95 %Lebih dari 2 jam 22 32,35 %2 jam saja 43 63,23 %Kurang dari 2 jam 1 1,47 %Total 68 100 %3.2.4. Tingkat kedekatan dengan Orang Tua.Tabel 3.2.4.Tingkat Kedekatan dengan Orang tuaTingkat kedekatan Frekuensi PresentaseSahabat 11 16,18 %Teman 8 11,76 %Hanya orang tua 46 67,64 %Orang yang ditakuti 3 4,42 %Total 68 100 %3.3. Hubungan silang antara penggunaan Facebook terhadap interaksi face to faceremaja dengan Orang tua.Tabel 3.3Tabel Silang Penggunaan Facebook terhadap interaksi Face To Face Remaja denganOrang tuaPenggunaan facebook Interaksi remaja dengan orangtuanyaTotalTidak dekat DekatTinggi 19(59,38%)13(40,62%)32(100%)Cukup 8(30,43%)9(69,57%)17(100%)Kurang 2(42,86%)7(57,14%)9(100%)Rendah 0(0%)10(100%)10(100%)Total 29(43,29%)39(56,71%)68(100%)BAB IVPENUTUPBerikut merupakan rangkuman kesimpulan dan saran dari peneliti terhadappenelitian Hubungan penggunaan Facebook terhadap Intensitas Interaksi Face to faceantara orang tua dan remaja:4.1. KesimpulanBerdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa hipotesis penelitian ini terbukti,yaitu adanya hubungan antara penggunaan facebook terhadap interaksi face to faceremaja dengan orang tua. Hasil penelitian yang dilakukan terhadap 68 respondenditemukan hasil ketika penggunaan facebook tinggi. Maka, remaja akan memilkikecenderungan interaksi dengan orang tua pada tataran rendah. Sebaliknya, ketikapenggunaan facebook rendah. Maka, remaja memiliki kecenderungan interaksidengan orang tua pada tataran yang tinggi. Hal ini terlihat pada tabel silang yangmenunjukkan adanya tingkat penggunaan facebook yang tinggi sebanyak 59,38 %maka tingkat kedekatan dengan orang tua hanya 40,62 %. Sementara ketika tingkatpenggunaan facebook berkisar antara 30,43 % - 0 % maka tingkat kedekatan denganorang tua berkisar antara 69,57 % - 100 %. Selain faktor penggunaan facebook yangtinggi ada pula faktor yang turut mempengaruhi tingkat kedekatan antara orang tuadan remaja. Yaitu, faktor dimana aktivitas antara remaja dengan orang tua merupakanhal yang tidak bisa dihindarkan untuk meningkatkan keakraban antara remaja denganorang tua.4.2.SaranSehubungan dengan temuan penelitian yang diperoleh, maka peneliti mengajukanbeberapa saran dengan harapan dapat bermanfaat bagi pihak terkait berikut ini: Dalam menggunakan Facebook hendaknya remaja dalam pengawasan orang tua.Sehingga, kedekatan orang tua dan remaja dapat terus terjadi baik dalam komunikasioffline maupun online. Bagi orang tua baiknya mengikuti perkembangan teknologi guna mengawasiperkembangan pengetahuan teknologi remaja yang sangat dekat denganperkembangan teknologi khususnya internet. Orang tua hendaknya memiliki pengetahuan yang cukup tentang fasilitas facebooksehingga dapat mengontrol penggunaannya serta memberikan penjelasan yang cukuptentang diperbolehkan atau tidaknya san remaja memiliki account Facebook.
INTENSITAS PENGGUNAAN INTERNET TERHADAP PERUBAHAN KEBIASAAN AKTIVITAS SEHARI-HARI PADA MAHASISWA REGULER SATU ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS DIPONEGORO MIZWAR AGUSTIFAR; Taufik Suprihatini
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dewasa ini perkembangan teknologi informasi dan komunikasi tergolong sangat pesatbaik di negara-negara maju maupun negara yang sedang berkembang seperti di Indonesia.Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi tersebut sangat berpengaruh terhadapsegala aspek kehidupan, baik itu terhadap aspek budaya, aspek sosial, pendidikan sampaikepada aspek ekonomi. Sampai kemudian lahir media baru sebagai media massa modern.Media ini di awali dengan munculnya computer, telepon seluler dan juga handphone yangberbasis pada sebuah jaringan. Khusus untuk komputer, alat yang satu ini diciptakan bukanhanya sekedar sebagai pengganti alat tulis tradisional.Kemunculan teknologi komputer sendiri sesungguhnya bersifat netral. Pengaruh positifatau negatif yang bisa muncul dari alat ini, banyak tergantung dari pemanfaatannya. Bilamenggunakan komputer secara sembarangan, maksudnya tanpa ada control yang jelaspengaruhnya bisa jadi negatif. Sebaliknya, komputer akan memberikan pengaruh positif biladigunakan dengan bijaksana, yaitu membantu pengembangan intelektual danmotorik.Kehadiran internet telah memberikan perubahan secara revolusioner terhadap carahidup dan aktivitas manusia sehari-hari. Internet hadir sebagai media yang mengintegrasikansegala media komunikasi dan informasi konvensional yang telah ada. Melalui internet, setiaporang dapat mengakses dunia global untuk memperoleh berbagai informasi yang merekabutuhkan dalam segala hal yang menunjang kebutuhan hidupnya.Dampak positif dari internet yaitu:1. setiap pengguna internet dapat berkomunikasidengan pengguna lainnya dari seluruh dunia. 2. Media pertukaran data, dengan menggunakanemail, newsgroup, ftp dan www (world wide web – jaringan situs-situs web) para penggunainternet di seluruh dunia dapat saling bertukar informasi dengan cepat dan murah. 3. Mediauntuk mencari informasi atau data, perkembangan internet yang pesat, menjadikan wwwsebagai salah satu sumber informasi yang penting dan akurat. 4. Kemudahan memperolehinformasi yang ada di internet sehingga manusia tahu apa saja yang terjadi. 5. Bisa digunakansebagai lahan informasi untuk bidang pendidikan, kebudayaan, dan lain-lain 6. Kemudahanbertransaksi dan berbisnis dalam bidang perdagangan sehingga tidak perlu pergi menuju ketempat penawaran/penjualan.Sedangkan dampak negatifnya yaitu:salah satunya adalah pornografi. Anggapan yangmengatakan bahwa internet identik dengan pornografi, untuk batas-batas tertentu memangtidak salah. Dengan kemampuan penyampaian informasi yang dimiliki internet, pornografipun merajalela.Untuk mengantisipasi hal ini, para produsen melengkapi program merekadengan kemampuan untuk memilih jenis home-page yang dapat diakses. Di internet terdapatgambar-gambar pornografi dan kekerasan yang bisa mengakibatkan dorongan kepadaseseorang untuk bertindak kriminal. Karena dari segi bisnis dan isi pada dunia internet yangtidak terbatas, maka para pemilik situs menggunakan segala macam cara agar dapat menjualsitus mereka. Salah satunya dengan menampilkan hal-hal yang bersifat tabu. Selainpornografi, dampak negatif lainnya yaitu internet dijadikan sebuah media baru dalammelakukan berbagai macam tindak kejahatan, seperti misalnya: penipuan, carding, perjudian.Menurut data di sebuah situs internet, pengguna internet di Indonesia ternyata sebagianbesar cenderung berusia muda. Hasil penelitian yahoo dan Taylor Nelson Sofres (TNS)Indonesia, menunjukkan bahwa pengakses internet terbesar di Indonesia adalah mereka yangberusia antara 15-19 tahun. Dari 2.000 responden yang mengikuti survey ini, didapatsebanyak 64 persen adalah anak muda,” menurut Sures Subramanian (Deputy ManagerDirector TNS) dalam acara pemaparan hasil yang dilakukan Yahoo dan TNS, di Jakarta(20/3) (Jumat, 20 Maret 2009 | http:m.kompas.com). Dari berbagai data-data di atas, mungkinbisa kita tarik garis besar bahwa pada dewasa ini internet mempunyai dampak yang sangatbesar terhadap segala aspek kehidupan, Selain itu, internet juga sangat berpengaruh terhadapperkembangan, pola pikir, gaya hidup bahkan perubahan kebiasaan aktivitas sehari-sehariseseorang, khususnya pada remaja.Tingginya terpaan perkembangan teknologi dan informasi yang diwakili oleh mediamassa dalam hal ini khususnya komputer dan jaringan internet membuat masyarakat lebihmemiliki ruang untuk memperoleh berbagai macam fasilitas dari perkembangan teknologidan informasi tersebut. Dengan fasilitasi internet seperti itu, tentunya akan sangatmemudahkan mereka untuk dapat mengakses dunia global guna memperoleh berbagaiinformasi yang mereka butuhkan dalam segala hal yang menunjang kebutuhan hidupnya.Ini juga berarti bahwa banyaknya fasilitas tersebut, menjadikan agar masyarakatmendapat informasi yang lebih luas dan mempunyai banyak pilihan yang sesuai dengan dayatarik dan fasilitas-fasilitas yang telah tersedia untuk mengakses dan memperoleh berbagaimacam informasi yang menunjang kebutuhan hidupnya. Di balik itu semua, bisa jugamenimbulkan masalah ketika perkembangan teknologi dan informasi tersebut tidakdiimbangi dengan kesiapan dari sumber daya manusia nya dalam menerima sebuah kemajuandari teknologi, sehingga sikap salah persepsi dalam menggunakan fasilitas tersebut, menjadibumerang bagi sumber daya manusia itu sendiri. Hal ini dapat dilihat dari perubahanperubahanyang terjadi pada para pengguna teknologi tersebut, dalam hal ini para remaja. Diantara para remaja itu ada yang mempunyai tingkat kecenderungan yang lebih tinggi untukmeniru bahkan mengubah kebiasaan aktivitasnya, demi memenuhi kebutuhan akan sebuahgaya hidup. Secara langsung atau tidak langsung, usaha untuk memenuhi kebutuhan akansebuah gaya hidup tersebut berpengaruh pada kebiasaan aktivitas.Gejala seperti itu, yakni perubahan kebiasaan aktivitas sehari-hari juga bisa terjadi bagipara mahasiswa. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk mempelajari penggunaan internetbagi mahasiswa, dalam hal ini khususnya pada Mahasiswa Reguler Satu Ilmu KomunikasiFakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro. Dengan adanya kondisi sepertigambaran di atas, maka masalah yang akan penulis pelajari (teliti) ialah: ”Adakah hubunganantara intensitas penggunaan internet terhadap perubahan kebiasaan aktivitas sehari-hari bagiMahasiswa Reguler Satu Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UniversitasDiponegoro?”.BATANG TUBUHTeknologi komunikasi mengalami peningkatan di bidang penelitian komunikasi tingkattinggi yang penting di dalam masyarakat. Dengan peningkatan teknologi komunikasi,mengakibatkan publik dan swasta berputar-putar di sekitar isu-isu kebijakan hasil penelitianyang dilakukan terhadap teknologi baru, terhadap kompetisi internasional dan konflikperdagangan teknologi tingkat tinggi. Transisi dari masyarakat industri ke masyarakatinformasi, dan berkembangnya kekhawatiran terhadap kesenjangan sosial ekonomi dangender, termasuk masalah pengangguran, dan masalah-masalah sosial lainnya dapat terjadioleh dampak dari teknologi komunikasi yang baru tersebut.Masing-masing dari karakteristik utama dari teknologi komunikasi yang barumempunyai implikasi untuk melakukan penelitian komunikasi, implikasi tersebut meliputi:1. Interaktivitas dari media baru dimungkinkan oleh computer yang menyediakan data barudan memungkinkan penggunaan data yang berbeda-pengumpulan dan analisis metodologidaripada di masa lalu. Elemen komputer dalam sistem komunikasi baru, dapatmempertahankan secara lengkap, kata-kata untuk mencatat semua pesan-pesan komunikasidalam memori. Catatan ini tersedia untuk analisis oleh para sarjana komunikasi, yang di masalalu jarang memiliki akses ke tambang emas seperti data tentang interaksi manusia.2. Individual, sifat de-massified media baru membuat hampir tidak mungkin seseorang untukmenyelidiki suatu sistem komunikasi baru dengan menggunakan efek-efek linear paradigmamasa lalu yang diikuti dalam banyak penelitian tentang komunikasi media massa, yangrelatif standar (paling tidak sampai-sampai pesan yang sama yang tersedia bagi setiap orangdi antara para penonton). Dengan media baru, isi pesan sudah menjadi sebuah variabel,mengapa? Karena masing-masing individu dapat menerima informasi yang berbeda darisistem komunikasi interaktif(http://www.infibeam.com/Books/info/Everett-M-Rogers/Communication-Technology-The-New-Media-in-Society/0029271207.html).Media baru (internet) berdampak pada banyak hal, khususnya untuk para individuindividupenggunanya. Dampak yang paling terasa dimulai dengan perubahan kebiasaanaktivitas sehari-hari, gaya hidup, pola pikir dan cara pandang dan tentu masih banyak lagiperubahan-perubahan yang lain. Untuk meneliti dan mengamati perubahan-perubahantersebut, seperti contohnya perubahan kebiasaan aktivitas sehari-hari terhadap masing-masingindividu diperlukan teori-teori yang mendukung seperti teori atribusi. Teori atribusi bermulapada gagasan bahwa setiap individu mencoba untuk memahami perilaku mereka sendiri danorang lain dengan mengamati bagaimana sesungguhnya setiap individu berperilaku (Stephenw. Littlejohn & Karena A. Foss, 2009 : 101)”.Pengaruh teknologi (internet) terhadap perilaku manusia sudah sering dibicarakanorang. Revolusi teknologi sering disusul dengan revolusi dalam perilaku sosial. Alvin Toflermelukiskan tiga gelombang peradaban manusia yang terjadi sebagai akibat perubahanteknologi. Lingkungan teknologis (technosphere) yang meliputi sistem energi, sistemproduksi dan sistem distribusi, membentuk serangkaian perilaku sosial yang sesuaidengannya (sociosphere). Bersamaan dengan itu tumbuhlah pola-pola penyebaran informasi(infosphere) yang mempengaruhi suasana kejiwaan (psychosphere) setiap anggotamasyarakat. Dalam ilmu komunikasi, Marshall Mcluhan (1964) menunjukkan bahwa bentukteknologi komunikasi lebih penting daripada isi media komunikasi. Misalnya, kelahiranmesin cetak mengubah masyarakat tribal menjadi masyarakat yang berpikir logis danindividualis (Jalaluddin Rakhmat, 2008 : 46).Pada bab I dijelaskan bahwa hipotesis dalam penelitian ini menyatakan terdapathubungan antara Intensitas pengunaan internet (X) terhadap perubahan kebiasaan aktivitassehari-hari pada Mahasiswa Reguler Satu Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Diponegoro(Y). Sehingga dapat diuraikan yaitu semakin tinggi intensitas penggunaan internet makaakan semakin tinggi tingkat perubahan kebiasaan aktivitas sehari-hari pada mahasiswatersebut.Berdasarkan hasil dari penelitian ini yang ditunjukkan melalui tabulasi silang di atas, makadapat disimpulkan bahwa ada kecenderungan semakin tinggi intensitas penggunaan internet(X) maka akan semakin tinggi tingkat perubahan kebiasaan aktivitas sehari-hari padamahasiswa tersebut (Y). Hal ini ditunjukkan pada tabel Tabel III.19 yang menggambarkantitik–titik pertemuan antara variabel (X) dengan variabel (Y) yang ditunjukkan dengan nilaitertinggi 100% untuk kategori sangat intensif pada variabel (X) dan kategori tinggi untukvariabel (Y), 44,74% untuk kategori cukup intensif pada variabel (X) dan kategori rendahuntuk variabel (Y), 66,67% untuk kategori kurang intensif pada variabel (X) dan masukkategori rendah pada variabel (Y), 100% dari kategori tidak intensif pada variabel (X) dankategori sangat rendah pada variabel (Y). sehingga membentuk garis dari kiri atas menujukanan bawah.Angka-angka tertinggi tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi intensitaspenggunaan internet, semakin tinggi pula tingkat perubahan kebiasaan aktivitas sehari-haripada Mahasiswa Reguler Satu Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Diponegoro. Selain itujuga diperlihatkan bahwa dengan kurangnya intensitas penggunaan internet maka tingkatperubahan kebiasaan aktivitas sehari-hari juga semakin rendah. Perubahan dapat menjaditinggi dengan semakin tingginya intensitas penggunaan internet. Karena jelas dengantingginya intensitas penggunaan internet oleh seseorang atau dalam hal ini responden, makainformasi yang akan didapat serta manajemen waktu, tentu akan bertambah tinggi dansemakin tidak teratur. Ini diakibatkan oleh beragamnya informasi yang terdapat di internetserta perhatian akan hal-hal atau kebiasaan aktivitas sehari-hari yang biasa dilakukan bukantidak mungkin akan berantakan dan tidak teratur.PENUTUPDari hasil yang telah didapat dapat disimpulkan bahwa intensitas penggunaaninternet terhadap perubahan kebiasaan aktivitas sehari-hari pada responden tergolong tinggi.Hal ini terjadi karena para responden tidak akan terlepas dari internet, mereka mempunyaikebutuhan untuk mengakses internet guna memenuhi kebutuhan mereka akan informasi, baikitu informasi yang berkaitan dengan kuliah mereka atau informasi lain yang akan menunjangpengetahuan sekaligus memperluas jaringan mereka.DAFTAR PUSTAKA………… , 1996. Majalah Info Komputer, Edisi Khusus masalah Internet.………… , 2009. INTERNET: Pengertian, Sejarah, dan Fasilitas-Fasilitasnya.http://www.scrib.com/ . (diakses tanggal 2 juli 2009).………… , 2009. Pemanfaatan Internet Sebagai Sumber Belajar Oleh MahasiswaProgram Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran Fakultas Ilmu SosialUniversitas Negeri Yogyakarta. http://www.scrib.com/ . (diakses tanggal 2 juli2009).Achmad, Arief, MSP MPd. 2004. Pemanfaatan Internet sebagai SumberPembelajaran IPS. http://www.pendidikannetwork.com/ . (diakses tanggal 2 juli2009).Ena,O.T., 2007. Membuat Media Pembelajaran Interaktif dengan Piranti LunakPresentasi. Yogyakarta : ILCIC, Universitas Sanata Dharma.Hardjito. 2009. Internet untuk Pembelajaran.http://www.pustekkom.go.id/teknodik/t10/10-3.htm . (diakses tanggal 2 juli 2009).Iswahyudi, Catur. 2009. Pemanfaatan Internet sebagai Sumber Belajar.http://catur.dosen.akprind.ac.id/2009/01/30/pemanfaatan-internet-sebagai-sumberbelajar/. (diakses tanggal 2 juli 2009).Sannai, Anata.(2008).Pengertian Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).http://duniatik.blogspot.com/2008/02/pengertian-teknologi-informasi-dan.html .(diakses tanggal 2 juli 2009).Whandi. 2009. Pengertian Belajar. http://whandi.net/cetak.php?id=41 . (diaksestanggal 2 juli 2009).
Memahami Strategi Komunikasi Pesan Akademi Berbagi di Twitter Retno Palupi; Yanuar Luqman; Nurul Hasfi
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar BelakangAkademi Berbagi merupakan salah satu gerakan sosial yang ada di Indonesia.Keberadaannya sejak Juni 2010 telah berhasil menyedot perhatian masyarakatmelalui twitter. Tidak hanya masyarakat biasa yang ingin terus belajar, tetapi jugaorang-orang yang telah ahli dan memiliki cukup ilmu. Akademi Berbagimenyelenggarakan kelas – kelas pendek kepada semua orang secara gratis.Mereka datang dan belajar tanpa perlu membayar dan gurunya pun secarasukarela membagikan ilmunya. Ilmu – ilmu yang dipelajari bersama di kelas dapatberasal dari berbagai macam disiplin ilmu, terutama ilmu aplikatif, seperti iklan,creative writing, fotografi, budaya, kesehatan dan lain-lain. Dengan tagline“Berbagi Bikin Happy”, Akademi Berbagi menyebarkan virus berbagai ke seluruhpelosok negeri.Berawal dari keinginan inisiatornya, Ainun Chomsun, untuk belajarcopywriting dengan Subiakto (CEO Hotline Advertising) pada Juli 2010, sebuahkelas kecil berisi 30 orang telah dimulai pada saat itu. Dilanjutkan dengan kelaskecil berikutnya, tentang jurnalistik bersama Budiono Darsono (CEO Detikcom),hingga saat ini Akademi Berbagi telah menyelenggarakan banyak kelas kecil di 35kota di Indonesia, termasuk Singapura. Jika dibayangkan, hal tersebut tidak akanbisa terjadi tanpa twitter. Bagaimana tidak? Gerakan sosial ini bermula danberkembang melalui twitter. Kemampuan twitter menyebarkan berita atauinformasi secara cepat dan luas menjadi modal dan alasan utama pemilihan mediaini.Akademi berbagi menjadikan twitter sebagai media utama dalampenyebarannya. Dalam kurun waktu dua tahun, tidak heran jika penyebaraannyabegitu cepat hingga mencapai 35 kota di Indonesia, termasuk Singapura. Dari kotabesar seperti Jakarta hingga kota kecil seperti Madiun bahkan Batu andBondowoso, semua mulai terjangkit virus berbagi yang disebarkan AkademiBerbagi. Kelas-kelas pendek diadakan seara rutin di seluruh kota sehinggamemungkinkan orang untuk dapat belajar gratis secara rutin.Seperti halnya Akademi Berbagi, dewasa ini, dalam prakteknya twitterkemudian digunakan sebagai media utama untuk menyebarkan segala macaminformasi dan pesan. Jaringannya yang sangat luas, real time, tidak terbatas dancepat menjadikan orang lebih “membaca” twitter daripada media-media lain.Terlebih lagi, suara satu orang di twitter dapat lebih berpengaruh daripada suarasebuah media massa tradisional dan sebuah brand. Setiap user di twitter memilikikemampuan untuk mem-boost-up sebuah berita.Dapat diakses secara mobile juga menjadikan orang semakin tidak bisalepas dari aktivitas twitter. Dalam sekali mengakses twitter, orang bisamendapatkan berbagai macam informasi melalui timeline yang secara aktif terusmeng-update berbagai macam informasi dengan sangat cepat. Adanya trendingtopic yang bisa diakses berdasarkan worldwide, negara, maupun kota jugamenjadikan orang dapat mengetahui topik apa yang sedang dibicarakan orangorangdalam cakupan wilayah tersebut dan memungkinkan orang untuk masuk kedalam topik tersebut dengan bebas dan gratis.II. Perumusan MasalahKemampuan twitter untuk menyebarkan sebuah isu atau berita secara cepat, luas,dan tanpa batas menjadikannya dijadikan pilihan utama oleh pihak-pihak tertentuuntuk menyebarluaskan sebuah informasi atau pesan kepada khalayak luas.Begitupun dengan Akademi Berbagi. Gerakan sosial ini menggunakan twittersebagai media utama dalam komunikasinya dengan khalayak. Semakin lama,gerakan sosial ini semakin luas walaupun baru dua tahun lebih berdiri.Hingga pada tanggal 29 Desember 2012, followers Akademi Berbagi ditwitter mencapai angka 30.271. (https://twitter.com/akademiberbagi yang diaksespada 29 Desember 2012 pukul 23.16). Berdasarkan angka tersebut, dapatdisimpulkan bahwa gerakan sosial ini benar-benar memaksimalkan twitter sebagaimedia utama untuk persebarannya. Dan semakin lama, semakin banyak orangyang terkena terpaan untuk mengikuti gerakan ini baik secara aktif denganmengikuti kegiatan offline-nya maupun secara pasif dengan mem-follow akuntwitter Akademi Berbagi.Berdasarkan fenomena tersebut, maka yang akan dikaji dalam penelitianini adalalah bagaimana strategi komunikasi pesan yang digunakan AkademiBerbagi di twitter sehingga menjadikannya dapat tersebar hingga begitu cepat danluas, bahkan ke kota kecil dan negara tetangga sekalipun.III. Tujuan PenelitianTujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami strategi komunikasi pesan yangdigunakan oleh Akademi Berbagi.IV. Kerangka TeoriDi ranah media baru, terdapat beberapa situs social media yang kontennyadiciptakan dan didistribusikan melalui interaksi sosial. Sosial media bisaditerjemahkan menjadi komunikasi dari banyak orang ke banyak orang sejakpenggunanya juga merupakan sumber konten informasi. (Straubhaar, LaRose,Davenport: 2012: 20).Pada tahun 1990, Mark Poster meluncurkan buku besarnya, The SecondMedia Age, di mana ada dua pandangan tentang perbedaan antara era mediapertama dengan era media kedua dengan penekanannya pada jaringan, yaitu:pendekatan interaksi sosial (sosial interaction), membedakan media menurutseberapa dekat media dengan interaksi tatap muka, yang mana di twitter, orangorangbertemu secara maya, real time serta non stop untuk berbagai keperluan,termasuk di dalamnya saling berbagi pengetahuan, ilmu dan pandangan sertamemperluas dunia jaringan orang per orangan, dan pendekatan integrasi sosial(social integration), menggambarkan media bukan hanya sebuah instrumentinformasi atau cara untuk mencapai ketertarikan diri, tetapi menyatukan kitadalam beberapa bentuk masyarakat dan member kita rasa saling memiliki.Munculnya berbagai sosial movement adalah bukti dari sosial integration di eramedia kedua.Strategi adalah keseluruhan keputusan kondisional tentang tindakan yangakan dijalankan guna mencapai tujuan. Jadi, dalam merumuskan strategikomunikasi juga terutama memperhitungkan kondisi dan situasi khalayak. (Arifin,1984: 10). Di dalam penyusunan strategi komunikasi, terdapat 5 tahap yang harusdiperhatikan menurut Joep Cornelissen dalam bukunya CorporateCommunications, yaitu: strategic analysis yang meliputi demografi, ekonomi,sosial, teknologi, ekologi dan politis; analisis pasar dan kompetitor; strategicintent yang berfungsi untuk menetapkan arah yang ditempuh berupa wujud dalambentuk sasaran dan aksi tindakan yang akan diambil untuk mencapai sasaran;strategic action yang terdiri dari menspesifikasikan peran komunikasi danmenegaskan sasaran specific (spesifik), measurable (dapat diukur), actionable(dapat dilaksanakan secara nyata, realistic (realistis) dan targeted (dapatditargetkan), merencanakan teknik-teknik komunikasi, menentukan tatananorganisasi; serta tracking dan evaluasi.Strategi komunikasi tidak hanya digunakan oleh brand yang berorientasiprofit dan menggunakan segala bentuk saluran komunikasi. Akan tetapi,organisasi non profit seperti Akademi berbagi yang notabene lahir danberkembang melalui twitter, pun turut serta menggunakan strategi dalampengomunikasikan pesannya. Janel M. Radtke dalam bukunya StrategicCommunication for Nonprofit Organization (1998) menjelaskan ada 7 Langkahdalam menciptakan strategi komunikasi untuk organisasi non profit, yaitu:memajukan misi, mengidentifikasi dan menentukan target audiens, menargetkandan menciptakan pesan, praktis strategi memilih alat yang tepat, membangunrencana, membuat eksekusi, membuat rencana terjadi, mengevaluasi apa yangterjadi.V. Metodologi PenelitianTipe penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Subyek penelitian iniadalah strategi komunikasi pesan Akademi Berbagi di twitter. Data primerdiperoleh dari dua orang, yaitu founder Akademi Berbagi sebagai orang yangmerencanakan strategi komunikasi pesan Akademi Berbagi sejak awal berdiri danadmin twitter Akademi Berbagi sebagai eksekutornya di twitter. Data sekunderdiperoleh dari dua ahli komunikasi digital dan audiens Akademi Berbagi. Masingmasinginforman dipilih melalui goodness criteria. Data diperoleh melaluiwawancara mendalam kepada kelima informan.VI. Kesimpulan1. Dalam penyampaian pesan dan penyebarannya, Akademi Berbagimenggunakan beberapa strategi komunikasi pesan di twitter, yaitu:a. Membuat sebuah cerita (Story Of I), berupa cerita dari perorangan relawanyang kemudian dipublikasikan melalui berbagai online media.b. Membuat narasi yang kuat (Story Of Us), merupakan cerita bersama tentangAkademi Berbagi yang kemudian juga dipublikasikan melalui berbagai onlinemedia.c. Menggunakan endorser, biasanya adalah mereka yang menjadi opinion leaderdalam bidang tertentu.d. Mengikuti kegiatan-kegiatan pada momentum tertentu agar Akademi Berbagisemakin dikenal.e. Branding Akademi Berbagi di twitter dengan mengusung tentang pendidikansebagai benang merahnyaf. Membuat konten pesan yang singkat dan sederhana agar mudah dipahami olehaudience terutama mereka yan masih belum mengenal Akademi Berbagi.2. Selain beberapa strategi komunikasi pesan di atas, ada dua faktor yang jugaberperan penting dalam penyebaran Akademi Berbagi, yaitu jaringankomunikasi pribadi dari masing – masing relawan dan word of mouth (WOM)yang berasal dari pengalaman nyata orang – orang yang pernah terlibat aktifmengikuti Akademi Berbagi.DAFTAR PUSTAKABukuAnwar, Arifin. 1984. Strategi Komunikasi. Bandung: CV ArmicoAssael, Henry. 1998. Customer Behavior and Marketing Action, 6th Edition.Boston: Wadsworth Inc.Cornelissen, Joep 2004. Corporate Communication. London: Sage PublicationLtdDrucker, Peter Ferdinand. 1992. Managing The Non-Profit Organization.Massachusetts: Butterworth-Heinemann PublishingFisher. Aubrey B,. 1986. Teori-Teori Komunikasi (Perspektif Mekanistis,Psikologis, Interaksional dan Pragmatis). Bandung: CV Penerbit RemajaKaryaGuba, Egon G,. 1990. The Paradigm Dialog. Michigan: Sage PublicationHasan, Ali S.E., M.M., 2010. Marketing dari Mulut ke Mulut Word of MouthMarketing . Yogyakarta: Media Presindo.Idrus, Muhammad. 2009. Metode Penelitian Ilmu Sosial: Pendekatan Kualitatifdan Kuantitatif. Yogyakarta: Penerbit ErlanggaKotler, Philip. 2002. Manajemen Pemasaran. Jakarta: ErlanggaLittlejohn, Stephen W, dan Foss, Karen A,. 2009. Teori Komunikasi: Theory OfHuman Communication (9th Edition). Jakarta: Penerbit Salemba HumanikaMoleong, Lexy J,. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: P.T. RemajaRosdakaryaMcQuail, Dennis. 2011. Teori Komunikasi Massa (6th Edition). Jakarta: PenerbitSalemba HumanikaNurrudin. 2007. Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta: P.T. Raja GrafindoPersadaRadtke, Janel M., 2008. Strategic Communication for Non Profit Organizations.Wiley Non Profit SeriesRogers, Everest M. dan D. Lawrence Kincaid. 1980. Communication Network.London: Collier Macmillan PublisherSchramm Wilbur. 1995. The Process Effect Of Mass Communication. UniversityOf Illinois Press UrbanaSmith, Andy. 2011. The power of storytelling: What Non Profits Can Teach ThePrivate Sector About Social Media. London: McKinsey & CompanyStaubhaar, Joseph, Robert LaRose and Lucinda Davenport. 2012. Media Now:Understanding Media, Culture, and Technology (7th edition). MA:Wadsworth Cengage LearningSunarto, Kamanto. 2002. Pengantar Sosiologi Edisi Revisi. Depok: LembagaPenerbit Fakultas Ekonomi Universitas IndonesiaSutisna. 2001. Perilaku Konsumen & Komunikasi Pemasaran. Bandung: PT.Remaja Rosda Karya.WebsiteAnonim. 2012. Microblogging Definition. http://www.hudsonhorizons.com/Our-Company/Internet-Glossary/Microblogging.htm. Diakses pada 15 Mei2012 pukul 2025Bill Moyer. 2010. The Eight Stages of Successful Social Movements.http://paceebene.org/nonviolent-change-101/building-nonviolentworld/methods/eight-stages-successful-social-movements yang diakses pada 18Februari 2013 pukul 09.01Dan Schawbel. 2009. Personal Branding 101. http://mashable.com/2009/02/05/personalbranding-101/ yang diakses pada 22 Februari 2013 pukul 02.10Julian, Leonita. 2012. Personal Branding Emang Perlu.http://leonisecret.com/personal-branding-emang-perlu/ yang diakses pada21 Febriaru 2013 pukul 17.18McGee, Nathan. 2008. http://socialmediatoday.com/index.php?q=SMC/45510 yangdiakses pada 18 Februari 2013 pukul 08.55Novosti, Ria. 2010. Website Group. Twitter: The World In 140 Character.http://en.rian.ru/infographics/20120523/173579422.html. Diakses pada 13Mei 2012Proud, Indonesia. 2012. http://www.youtube.com/watch?v=iYfN8rGZGrs yang diaksespada 1 Januari 2013 pukul 22.34We Are Social Singapore. 2011. We Are Socials Guide To Social Digital Mobile InIndonesia. http://www.slideshare.net/wearesocialsg/we-are-socials-guide-tosocial-digital-mobile-in-indonesia-nov-2011-10407653 yang diakses pada 21Februari 2013 pukul 22.21http://akademiberbagi.org/ yang diakses pada 31 Desember 2012 pukul 22.07http://en.wikipedia.org/wiki/Models_of_communication yang diakses pada 13Mei 2012 pukul 21.06http://id.linkedin.com/pub/ainun-chomsun/27/305/3b8 yang diakses pada 16Januari 2013 pukul 16.11http://id.linkedin.com/in/bangwin yang diakses pada 16 Januari 2013 pukul 16.14http://id.linkedin.com/pub/karmin-winarta/52/25/b59 yang diakses pada 16Januari 2013 pukul 16.20http://id.linkedin.com/in/nukman yang diakses pada 16 Januari 2013 pukul 16.31https://mail.google.com/mail/u/0/#inbox/13c0342cc694cf01 yang diakses pada 2Januari 2013 pukul 09.02http://salingsilang.com/baca/niat-tulus-ida_baik-dan-proses-berbelit-dari-airasiaid.Diakses pada 15 Mei 2012 pukul 20.03http://salingsilang.com/baca/air-asia-airasiaid-sudah-tanggapi-keluahanida_baik_. Diakses pada 15 Mei 2012 pukul 20.05http://thejakartaglobe.com/lifeandtimes/a-virtually-inspiring-idea/453394 yang diaksespada 2 Januari pukul 08.41http://tv.detik.com/readvideo/2012/10/28/142832/121028006/120726017/121028606/akademi-berbagi-penyebar-virus-berbagi-dan-belajar yang diakses pada 2 Januari2013 pukul 08.22https://twitter.com/akademiberbagi yang diakses pada 1 Januari 2013 pukul 23.16JurnalGreenhalgh, Trisha, Glenn Robert, Paul Bate, Olympia Kyriakidon, FraserMacFarlane Richard Peacock. 2004. How To Spread Good Ideas – ReportFor The National Co-ordinating Center For NHS Service Delivery andOrganization R&D (CN CCSDO). University Of LondonGeser, Hans. 2011. Has Tweeting Become Inevitable: Twitter’s Strategis Role InThe World Of Digital Communication.http://socio.ch/intcom/t_hgeser26.pdf yang diakses pada 21 Februari pukul10. 51Shenton, Andrew K., 2004. Strategies for ensuring trustworthiness in qualitativeresearch projects. Division of Information and Communication Studies,School of Informatics, Lipman Building, Northumbria University,Newcastle.http://www.angelfire.com/theforce/shu_cohort_viii/images/Trustworthypaper.pdf yang diakses pada 17 Desember 2012 pukul 23.11Lain-LainAdi S. Nugroho. 2012. Digitalk, dalam Akademi Berbagi JakartaAinun Chomsun. 2012. Membangun Brand di Social Media, dalam SeminarCaraka Creative FestivalPutri, Dibyareswari U,. 2012. Skripsi: Peran Media Dalam Membentuk GerakanSosial (Studi Kasus pada Individu yang Terlibat dalam Indonesia Unite diTwitter). Universitas Indonesia
MANAJEMEN KONFLIK ANTARPRIBADI PASANGAN SUAMI ISTRI BEDA AGAMA Agustin, Asteria; Rahardjo, Turnomo; Suprihatini, Taufik
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.875 KB)

Abstract

PENDAHULUAN Fenomena peningkatan antar agama saat ini sedang marak terjadi diIndonesia, baik itu di kalangan masyarakat biasa maupun di kalangan artisibukota. Hal ini mendapat perhatian dari masyarakat karena menyangkut agamayang sangat sensitif. Sebagian masyarakat menentang perkawinan ini namun tidaksedikit pula yang menyetujuinya.Menurut Laswell (1987:51) perkawinan bukanlah hal yang mudahdilakukan pasangan beda agama dengan tetap menganut agamanya masingmasing.Perkawinan beda agama adalah penyatuan dua pola pikir dan cara hidupyang berbeda, dan perbedaan agama dengan pasangan dalam perkawinan banyakmenimbulkan permasalahan.Dalam perkawinan beda agama, adaptasi sangat perlu dilakukan. Karenapada saat pria dan wanita yang berbeda agama menikah, tentunya masing-masingmembawa nilai budaya, sikap, gaya penyesuaian dan keyakinan ke dalamperkawinan tersebut. Apalagi di dalam suatu perkawinan di mana kedua belahpihak yang memiliki agama berbeda rentan akan tingkat sensitifitas konflik yangcukup tinggi. Oleh karena itu pasangan suami istri dituntut untuk dapatmenyesuaikan diri dengan nilai-nilai yang dimiliki oleh pasangannya yangkemungkinan besar dipengaruhi oleh agama yang dianutnya. Ditambah denganritual keagamaan yang dijalankan berbeda dengan ritual keagamaan yangdijalankan oleh pasangannya.Oleh karena itu dibutuhkan manajemen konflik yang tepat dan efektif bagipasangan beda agama guna meminimalisir konflik yang yang terjadi menyangkutperbedaan agama.Sidney Jourard dalam Teori Self Disclosure menawarkan konsepketerbukaan diri. Konsep ini memiliki arti bahwa di dalam hubunganinterpersonal yang ideal menghendaki naggota-anggota yang terlibat untukmengenal diri orang lain sepenuhnya dan membiarkan dirinya terbuka untukdikenal orang lain sepenuhnya (Littlejohn,1999:260). Penelitian ini jugamenggunakan Teori Adaptasi Antarbudaya (theory intercultural adaption) yangmengungkapkan bagaimana individu beradaptasi dalam berkomunikasi denganindividu yang berbeda budayanya. Teori ini berpendapat bahwa proses adaptasiadalah suatu cara untuk memenuhi suatu tujuan. Terakhir, RelationalMaintenances Theories juga digunakan dalam penelitian perkawinan antar agama.Teori ini menjelaskan bagaimana individu melakukan pemeliharaan hubunganyang mengacu pada sekelompok perilaku, tindakan dan yang individu gunakanuntuk mempertahankan tingkat relasi (kedekatan individu) yang diinginkan dandefinisi dari hubungan itu. Oleh karena itu, manajemen konflik ini menarik untukdipelajari bagaimana upaya-upaya dan pengelolaan konflik yang dilakukanpasangan beda agama yang hingga saat ini dapat mempertahankan keutuhanperkawinannya dengan tetap menganut agamanya masing-masing.PEMBAHASANPenelitian ini menguraikan tentang pengalaman pasangan suami istri bedaagama dan bagaimana pengelolaan konflik yang mereka lakukan dengan tetapmenganut agamanya masing-masing untuk mempertahankan keutuhanperkawinan. Berangkat dari asumsi bahwa sebagian pasangan beda agamacenderung mengalami konflik yang mendalam bahkan bisa menyebabkanperceraian. Ini dikarenakan adanya perbedaan yang sangat jelas diantarakeduanya, dimana adanya perbedaan pandangan, perbedaan keyakinan, perbedaannilai-nilai agama hingga hak pengasuhan anak.Oleh karena itu adanya pengelolaan konflik yang tepat dan efektif sangatdibutuhkan bagi pasangan beda agama guna meminimalisir konflik yang terjadimenyangkut perbedaan agama, dan ada beberapa strategi manajemen konflik yangdisesuaikan dengan situasi terjadinya konflik, yaitu : kompetisi (menguasai),penghindaran (menarik diri), kompromi (berunding), kolaborasi (menghadapi)dan akomodasi (melunak).Dalam menyelesaikan konflik yang menyangkut perbedaan agama, sebagianbesar informan mengkomunikasikan dengn cara saling membicarakan atauberkolaborasi dan berunding kepada pasangan guna menyelesaikan konflik,mereka bekerja sama dan mencari pemecahan yang memuaskan. Masing-masingpihak bersedia membuka diri sehingga menghindarkan dari perasaan tertekan danmasalah yang dipendam. Tetapi masih ada pula informan yang menyelesaikandengan cara menarik diri atau penghindaran. Mereka lebih memilih untukmengalah dan tidak ingin membicarakannya karena takut hal ini akanmenyinggung salah satu pihak. Penyelesaian dengan cara seperti ini tidak akanmemuaskan kedua belah pihak, karena pasangan tersebut tidak mendapatkan hasilseperti yang diharapkan.Penelitian ini melibatkan tiga pasang responden yang berbeda agamadengan usia perkawinan di atas sepuluh tahun. Lewat penelitian inimenggambarkan bagaimana pasangan dengan kondisi demikian berinteraksi,karena tidaklah mudah menikah dengan pasangan yang berbeda agamanya.Dengan wawancara mendalam, peneliti mengumpulkan informasi tentangpengalaman dan hambatan yang mereka alami setelah menikah dan pengelolaankonflik yang mereka lakukan guna mempertahankan keutuhan perkawinan.Pembahasan tentang penemuan-penemuan di atas menghasilkan tentangbeberapa hal yang dapat disimpulkan dari penelitian yang telah dilaksanakan :1) Ketiga informan melakukan interaksi dengan beradaptasi dan salingmenyesuaikan perbedaan-perbedaan yang dimiliki pasangannya, sepertiperbedaan pandangan, perbedaan keyakinan dan tentu saja adat sertakebiasaan yang berbeda. Para informan bukan lagi membangun hubunganyang lebih intim tetapi tujuannya guna mempertahankan dan memeliharahubungan untuk meminimalisir konflik yang muncul karena masalahkonflik yang dihadapi pasangan beda agama cenderung lebih tinggi. Parainforman menjadikan perbedaan yang ada sebagai bentuk keragaman danproses pembelajaran, bukan sebagai jurang yang dapat memisahkanhubungan yang telah mereka bina.2) Adanya sikap keterbukaan, empati dan sikap saling mendukung sangatdibutuhkan pasangan suami istri beda agama. Dengan adanya keterbukaanpara informan dapat mengkomunikasikan apa yang ada dalam pikiranmereka karena dua agama yang berbeda pastinya memiliki pandangan dankeyakinan yang berbeda pula. Namun, masih ada informan yang tidak mausaling terbuka kepada pasangannya, mereka kurang mampu untuk bisamengungkapkan diri, terutama yang menyangkut masalah agama. Merekajarang membicarakan masalah ini. Hal ini disebabkan masing-masingpihak takut jika ucapan-ucapan yang mereka katakan dapat menyinggungsalah satu pihak yang akhirnya berbuntut pada konflik. Berbeda dengandua informan lainnya (informan I dan informan III) dimana mereka selalubersedia menyediakan waktu untuk membicarakan hal-hal yang berkaitandengan perbedaan agama secara terbuka. Hal ini dilakukan untukmengetahui apa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh masing-masingpihak, dan bagaimana solusi terbaik bagi keduanya. Empati dan sikapmendukung ditunjukkan oleh ketiga informan di mana mereka salingbertoleransi kepada pasangannya. Misalnya dengan memberikankebebasan menjalankan ibadah agamanya dengan jalan berusahamenghormati jika pasangan sedang beribadah, ikut mengantar ke tempatibadah sampai dengan menyesuaikan acara keluarga dengan waktuberibadah. Atau di saat suami atau istri sedang berpuasa, mereka bersediamembangunkan dan ikut menemani sahur. Disini terlihat bahwa ketigainforman memiliki posisi yang setara dalam hal kebebasan beribadah.Adanya posisi yang setara antara suami dan istri beda agama inidiharapkan akan menciptakan suatu komunikasi yang efektif.3) Hambatan komunikasi yang terjadi pada ketiga informan, bukan faktoryang terlalu mempengaruhi dalam kehidupan perkawinan mereka. Hal inidikarenakan sejak awal informan telah mengetahui resiko yang terjadi jikamenikah beda agama. Hambatan muncul saat akan menikah di mana parainforman ingin tata cara agamanya lah yang dipakai dalam prosesperkawinan dan juga muncul di awal perkawinan dimana para informanmasih saling mempengaruhi untuk masuk agamanya.4) Komitmen-komitmen yang dibuat ketiga informan memberikan kontribusidalam membangun iklim komunikasi yang positif karena dengan adanyakomitmen tersebut mereka dapat meminimalisir konflik yang muncul padaperkawinan mereka. Seperti saat pemutusan agama anak, antara suamimaupun istri tidak ingin berebutan untuk mengasuh anak dalam halpemilihan agama. Pada informan I, anak-anak mengikuti agama suamidikarenakan sejak awal, sang anak bersekolah di sekolahan berbasisKatolik. Sang istri pun tidak mempermasalahkan bahwa kenyatannyakedua anaknya mengikuti agama suami. Sedangkan pada informan IIsepakat jika nantinya sang anak ikut agama istri, dikarenakan suami seringdinas keluar kota yang berarti dirinya akan jarang berada di rumah. Lainlagi dengan informan III, dari awal suami sepakat menyerahkan hak asuhanak kepada istrinya.5) Konflik yang masih sering terjadi dalam rumah tangga informan berasaldari faktor internal yang melibatkan pasangan informan sendiri. Konfliktersebut menyangkut masalah ‘perbedaan agama’ di antara keduanyadimana mereka memiliki keinginan dan harapan yang berbeda diantarasuami istri, yang akhirnya hal itu berujung pada konflik.6) Dalam penyelesaian konflik yang menyangkut perbedaan agama, sebagianbesar informan mengkomunikasikan dengan cara saling membicarakan(berkolaborasi) dan berunding kepada pasangan guna menyelesaikanmasalah, mereka bekerja sama dan mencari pemecahan yang memuaskan.Masing-masing pihak bersedia membuka diri sehingga menghindarkandari perasaan tertekan dan masalah yang dipendam. Tetapi masih adainforman yang menyelesaikan dengan cara penghindaran. Mereka lebihmemilih untuk mengalah dan tidak ingin membicarakannya karena takuthal ini akan menyinggung salah satu pihak. Namun, penyelesaian dengancara seperti ini tidak akan bisa memuaskan kedua belah pihak, karenainforman tidak mendapatkan hasil seperti yang diharapkan.7) Ketiga informan memandang perkawinan mereka sebagai suatu hal yangpositif. Adanya pro dan kontra dari masyarakat bukan sesuatu hal yangperlu dikhawatirkan. Namun informan melarang jika nantinya anak-anakmereka juga melakukan perkawinan beda agama seperti orangtuanya.PENUTUPDalam penelitian ini, pasangan beda agama seharusnya bisa saling terbukakepada pasangannya. Apa yang diinginkan dan dibutuhkan masing-masing pihakbisa saling diungkapkan dengan menggunakan kata-kata yang tidak menyinggungperasaan pasangan. Jika pasangan suami istri beda agama saling memahami danmenerima perbedaan yang mereka miliki, perbedaan tidak akan menjadisandungan bagi keduanya.Dalam mengelola konflik, khususnya konflik yang disebabkan olehperbedaan agama, diusahakan masing-masing pihak tidak saling menghindar,karena suatu saat masalah tersebut dapat muncul kembali dan permasalahannyaakan menjadi semakin besar. Sebaiknya konflik dihadapi dengan terbuka dengansaling mengungkapkan dan mendengarkan keinginan pasangan guna mencapaikesepakatan bersama, sehingga konflik menyangkut agama tidak menjadiancaman bagi kelangsungan rumah tangga mereka, melainkan berguna untuklebih meningkatkan kualitas hubungan suami istri beda agama.
Eksistensi Graffiti sebagai Media Ekspresi Subkultur Anak Muda Triliana Kurniasari; Taufik Suprihatini; Triyono Lukmantoro
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (92.248 KB)

Abstract

PENDAHULUAN Menuangkan pesan ke dalam bentuk visual masih sering menjadi pilihan karena bentuk visual memiliki beberapa kelebihan, seperti bisa dinikmati lebih lama, pesan yang disampaikan dapat dipahami dengan lebih jelas, dan dapat terdokumentasikan dengan baik. Sementara di sisi lain, komunikasi visual juga bisa menjadi representasi sosial budaya suatu masyarakat yang dijalankan dan menjadi kebiasaan yang berlangsung lama dalam masyarakat itu. Di sini masyarakat dalam suatu cara tertentu memilih untuk berkomunikasi visual yang justru menunjukkan kelebihannya dibandingkan dengan budaya lainnya, termasuk lewat kemunculan budaya komunikasi visual dalam karya seni rupa jalanan atau street art.Graffiti, sebagai salah satu bentuk street art, mengandung pesan tertentu yang ingin disampaikan oleh para pembuatnya. Pesan bisa muncul secara tersembunyi atau eksplisit. Graffiti dipelopori oleh anak-anak muda yang “gatal” ingin menuangkan ide-ide kreatifnya untuk menunjukkan eksistensi dan ekspresi diri walaupun menggunakan cara-cara yang kerap dianggap melanggar aturan atau norma. Graffiti yang ada di Indonesia kemudian kental dihubungkan dengan kota Yogyakarta, karena bisa dikatakan hampir tiap tembok jalanan di sana tak luput dari sentuhan dan perhatian seniman lukis jalanan.Pada awalnya, menurut Majalah HAI No. 36/XXX/4-10 September 2006 (Wicandra, 2006: 52), graffiti menjadi sekadar coretan dinding yang berafiliasi dengan kelompok atau geng tertentu. Kemudian graffiti menemukan gaya baru yang mengarah pada artistic graffiti sehingga muncul seni mural yang banyak menyajikan kritik sosial. Di sini tembok jalanan menjadi tempat atau medium alternatif bagi seniman guna mengekspresikan segala hal yang mereka rasa dan pikirkan. Selain itu, cara ini juga dapat digunakan sebagai wujud pemenuhan kebutuhan akan eksistensi diri maupun komunitas. Dengan menggunakan nama jalanan (street name) dan ideologinya masing-masing, setiap writer (pembuat graffiti) menumpahkan ekspresinya melalui penampakan warna, objek, dan kata-kata dalam graffiti.Setiap kota ternyata memiliki ceritanya sendiri tentang keberadaan budaya visual graffiti, termasuk di Kota Semarang yang terlihat dari mulai banyaknyasudut kota yang dihiasi oleh graffiti. Walaupun aktivitas graffitinya tidak seramai di Yogyakarta, Kota Semarang pernah dihiasi graffiti mural yang menjadi perbincangan banyak orang yang bertema “Cicak vs Buaya”. Mural ini dibuat oleh 12 PM (one two pm), salah satu komunitas street art di kota Semarang, di Jalan Hayam Wuruk, Pleburan, Semarang, dan merupakan hasil kerjasama antara komunitas street art 12 PM dengan LSM Antikorupsi KP2KKN Jateng. Pesan dalam mural ini begitu mengena karena menggambarkan tentang kondisi politik di Indonesia saat itu yang sarat dengan kisruh politik antara Polri (digambarkan sebagai Buaya) dan KPK (sebagai Cicak).Daya kritis dalam graffiti menunjukkan seni memang tak bisa dipisahkan dengan realitas kehidupan sosial di masyarakat. Seni juga tidak bisa berdiam jika ada ketimpangan dalam kehidupan. Dengan bahasa dan style yang berkarakter, seni mampu berbicara dengan bahasa sendiri. Para seniman akan terus berekspresi meskipun wahana atau wadah mereka banyak yang hilang akibat ditelan perubahan zaman. Tembok jalanan menjadi tempat atau medium alternatif bagi seniman guna mengekspresikan segala hal yang mereka rasa dan pikirkan. Selain itu, cara ini juga dapat digunakan sebagai wujud pemenuhan kebutuhan akan eksistensi diri maupun komunitas. Demi sebuah eksistensi dan mempertahankan identitas agar tetap diakui, kelompok seniman street art tak kehabisan akal guna menuangkan uneg-uneg, mereka berkreasi bukan lagi di atas kanvas namun di tembok-tembok jalan (Andrianto, 2009).Kemunculan komunitas graffiti sendiri sesungguhnya merupakan salah satu bentuk subkultur anak muda di tengah masyarakat. Apa yang membuat subkultur anak muda sangat “terlihat” adalah adanya sifat khas dan perilaku anak muda yang suka mencari perhatian, melakukan pendobrakan, gemar pamer, dan tentu saja, berbeda. Beberapa cara yang dilakukan anak muda untuk mengkomunikasikan eksistensi dirinya muncul salah satunya lewat kebiasaan yang melanggar aturan atau norma. Dalam hal ini, graffiti yang muncul kerap dianggap sebagai salah satu masalah yang ditimbulkan anak muda ketika mereka tidak berhasil mendapatkan akses komunikasi yang diharapkan. Praktik graffiti kerap dijuluki sebagai vandalisme karena bentuknya yang dianggap merusak,mengotori, dan memperkumuh tembok kota. Karena itu, kerap muncul undang-undang yang melarang keberadaan graffiti di tengah masyarakat.Perkembangan komunitas graffiti menjadi suatu subkultur anak muda, dengan adanya sifat khas dan perilaku yang suka mencari perhatian, melakukan pendobrakan, gemar pamer, dan tentu saja, berbeda. Berdasarkan hal tersebut penelitian ini merumuskan permasalahan tentang eksistensi graffiti sebagai media komunikasi dan ekspresi subkultur anak muda.PEMBAHASANPenelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus, di mana peneliti hanya memiliki sedikit peluang untuk mengontrol peristiwa yang akan diselidiki dan bilamana fokus penelitian terletak pada fenomena kontemporer (masa kini) dalam konteks kehidupan nyata (Yin, 2002: 1). Menggunakan tiga orang informan yang terdiri dari para writer, studi kasus dipilih agar dapat memahami dan menjawab keingintahuan peneliti terhadap fenomena graffiti yang tengah berlangsung secara spesifik di Kota Semarang dengan batasan penelitian yang dibahas yakni eksistensi subkultur dan ekspresi yang dibawa oleh subkultur melalui graffiti. Selain itu, penelitian dilakukan karena terdapat keunikan pada penggunaan graffiti sebagai media komunikasi subkultur yang menyajikan berbagai elemen visual mulai dari penampakan garis, objek, warna, kata-kata, hingga penempatannya di jalanan yang mampu menarik perhatian khalayak.Graffiti sebagai bentuk komunikasi visual, sesuai dengan pendapat Chaffee (1993: 3) bahwa komunikasi mempunyai banyak muka, informasi bisa ditransmisikan melalui berbagai bentuk. Di sini komunikasi terbentuk melalui visualisasi graffiti berupa objek, kata-kata, dan pewarnaan sebagai media berekspresi anak muda. Adanya penampakan objek biasanya mewakili pesan yang ingin disampaikan, sementara kata-kata yang tersaji bisa menjadi sarana yang memudahkan penerimaan pesan oleh khalayak. Sedangkan penggunaan warna, bagi informan pria, secara psikologis menunjukkan ekspresi maskulinitas dengan kecenderungan warna gelap. Hal ini berbeda dengan informan wanita yang cenderung menunjukkan ekspresi keceriaan, kesetiaan, atau dedikasi pada orang lain. Tidak hanya itu, mereka yang merasa sebagai pemalu dan tidak percaya diri,bisa menyuarakan ekspresinya lewat graffiti karena di sini mereka tidak harus berbicara.Berdasarkan pengamatan, dominasi graffiti yang muncul di Semarang cenderung menyampaikan pesan visual dan tidak banyak graffiti yang membawa pesan sosial terkait dengan kondisi masyarakat di sekitarnya. Pesan visual tersebut biasanya dibuat dengan maksud memperindah suatu lokasi atau untuk menunjukkan eksistensi diri pada komunitas dan masyarakat. Dalam hal ini, berbagai elemen dalam graffiti bisa menghasilkan bentuk estetika tersendiri dalam berkomunikasi sehingga mampu membangun hubungan antara pembuat dengan khalayaknya. Hal ini karena adanya tiga elemen estetika visual seperti yang diutarakan Dake (2005: 7) tentang objek (yaitu graffiti), pembuat (yaitu writer), dan khalayak. Ketiga elemen tersebut saling mempengaruhi satu sama lain yang pada akhirnya saling membentuk umpan dan timbal balik atas penampakan graffiti.Sementara itu, keberadaan graffiti merupakan suatu bentuk subkultur di tengah masyarakat. Hebdige (Hasan, 2011: 220-221) berpandangan bahwa subkultur adalah subversi bagi apa yang dianggap normal. Subkultur bisa saja dianggap sebagai hal yang negatif karena watak kritisnya terhadap standar masyarakat yang dominan. Subkultur dibawa secara bersama-sama oleh kumpulan individu yang merasa diabaikan oleh standar masyarakat dan menyebabkan mereka mengembangkan perasaan kememadaian terhadap identitasnya sendiri.Mengikuti cara Gelder (Hasan, 2011: 221-222) yang mengusulkan enam kunci cara mendefinisikan subkultur, terlihat ada persamaan dan perbedaan bila masing-masing kunci tersebut diperbandingkan dengan hasil pengamatan di lapangan sebagai berikut:a. Melalui hubungan negatif mereka terhadap kerja (misalnya bersifat parasit, malas-malasan suka bermain di waktu luang).Berkaitan dengan hal ini, kenyataannya setiap writer tetap melakoni pekerjaan lain dalam rangka mempertahankan posisinya secara ekonomi dan politik agar tetap diakui keberadaannya oleh masyarakat. Umumnya mereka ini sangat aktif mengembangkan seni atau mengakrabi dunia anak muda. Dunia yang digeluti tidak jauh dari dunia kreatif, seperti menjadi desainer grafis. Jadi bisadikatakan hubungan negatif yang diutarakan Gelder tidak tampak pada subkultur graffiti yang muncul di Semarang.b. Melalui hubungan mereka yang ambivalen atau negatif terhadap kelas (jika subkultur bukanlah „kesadaran kelas‟ dan tidak konformitas terhadap definisi kelas secara tradisional).Secara umum, graffiti di Semarang tidak dijadikan sebagai sebuah gerakan yang merujuk pada kelas tertentu termasuk kelas atau kelompok akar rumput. Lebih tepatnya, para pelaku yang muncul justru mengandalkan graffiti hanya sebagai sumber ketenaran kelompok dan individu. Graffiti yang tersaji kebanyakan melambangkan nama kelompok dan belum banyak jenis graffiti mural yang menyikapi keadaan sekitar dengan kritis. Ini menandakan bahwa graffiti di Semarang masih berupaya pada usaha mencari “jati diri” street art yang ingin dikembangkan oleh subkultur.c. Melalui asosiasi mereka terhadap teritori atau wilayah (misalnya di jalanan, di klab, kelompok tertentu) daripada pada kepemilikan dan kekayaan.Sebagai salah satu bentuk street art, graffiti sudah tentu beredar di jalanan. Setiap kelompok (crew) umumnya mempunyai penanda markasnya masing-masing. Di sini ada kebiasaan untuk mencantumkan tanda tangan di setiap sudut jalanan yang pernah disinggahi, tidak peduli apakah itu ditimpakan di tembok, baliho, bahkan rambu lalu lintas. Selain itu, ada aturan yang dianut setiap writer untuk saling meminta ijin sebelum menimpa gambar writer lain. Aturan lainnya yang berlaku adalah tidak menggambar di daerah terlarang seperti rumah sakit, sekolah, dan tempat ibadah.d. Melalui perpindahan mereka keluar rumah dan ke dalam bentuk-bentuk kepemilikan non-domestik (kelompok sosial daripada keluarga).Berbeda dengan pendapat Gelder ini, pergerakan subkultur graffiti di Semarang tetap mendapat dukungan domestik yakni dari keluarga. Kenyataannya setiap individu tidak melepaskan dirinya dari pergaulan dalam kelompok sosial termasuk dengan subkultur lain berkembang di sekitarnya. Artinya tidak ada perpindahan para pelakunya ke luar rumah, melainkan secara seimbang mereka bergerak di antara kutub domestik dan non-domestik.e. Melalui ikatan mereka yang unik terhadap gaya yang berlebihan dan kadang keterlaluan.Mengamati pergerakan writer di Semarang, ternyata tidak terdapat gaya berlebihan yang muncul melainkan terdapat pembedaan gaya yang khas terhadap komunitas atau subkultur lain. Kekhasan yang muncul hanyalah penggunaan identitas crew yang melekat pada pakaian yang didesain dan didistribusikan komunitas graffiti secara independen (distro). Hal ini dikarenakan setiap writer umumnya juga bergerak di bidang desain grafis sehingga bisa mengambil keuntungan untuk mengenalkan crew-nya melalui distro tersebut.f. Melalui penolakan mereka terhadap kedangkalan (banalitas) dari kehidupan yang umum yang merupakan korban masifikasi dan tren.Salah satu bentuk penolakan dalam subkultur graffiti misalnya adalah penggunaan ideologi indie atau DIY (Do It Yourself) seperti yang dianut kelompok musik underground, komunitas BMX, skateboard, dan subkultur lainnya. Ideologi indie berlaku pada pemakaian identitas pada merek distro yang dikenakan setiap individu dan biasanya setiap writer akan melekatkan karakter graffitinya ke dalam merek distronya. Penolakan lainnya berupa perlawanan atau perebutan ruang publik dengan tembok-tembok komersial. Ketika wajah perkotaan dipenuhi oleh pesan komersial, saat itulah writer menggunakan graffiti sebagai ajang perlawanan lewat pembuatan tagging secara masif dan diam-diam dalam satu spot komersial.Karakteristik utama dari semua subkultur adalah bahwa anggota subkultur terpisah atau terlepas di berbagai tingkat yang dianggap sebagai budaya dominan. Pembagian tersebut bisa berupa isolasi total atau terbatas pada aspek-aspek kehidupan seperti pekerjaan, sekolah, kesenangan, pernikahan, pertemanan, agama, atau tempat tinggal. Sebagai tambahan, pemisahan tersebut bisa terjadi dengan sukarela, karena lokasi geografis, atau kebebasan (Ferrante, 2011: 61). Hal inilah yang terjadi pada subkultur graffiti yang memisahkan diri dari masyarakat dengan membentuk identitasnya sendiri berdasarkan kesepakatan dan aturan yang dianut di dalam kelompoknya. Dalam pembentukan identitas tersebut, subkulturgraffiti juga membawa ekspresi perlawanan yang mengiringi pergerakannya di tengah masyarakat.Sementara itu, kultur perlawanan yang terbentuk dalam subkultur graffiti Semarang berupa “perang” public space, di mana para writer bertarung memperebutkan ruang publik dengan pemerintah dan para pengiklan. Ruang publik adalah tempat berinteraksi yang mempertemukan semua unsur masyarakat ke dalam sebuah situasi yang luas. Karenanya tidak jarang ruang publik dimanfaatkan berbagai pihak untuk kepentingan menyampaikan pesan. Salah satunya oleh pemerintah dalam mensosialisasikan kebijakan kepada masyarakat melalui baliho, spanduk, dan sebagainya. Pihak lainnya yakni para pemilik modal atau pengiklan yang mampu menyewa tembok untuk kepentingan komersial. Di sini, kultur perlawanan oleh subkultur graffiti mewujud dalam bentuk vandalisme. Vandalisme memang tidak bisa dipisahkan dari budaya graffiti dan lebih sering muncul lewat timpa-menimpa gambar graffiti.Berdasar pengamatan, iklan komersial ternyata cukup mendominasi wajah ruang publik. Setiap tempat di sudut kota tidak ada yang tidak tersentuh iklan, sebut saja di jembatan penyeberangan, di persimpangan jalan, di sekitar lampu merah, di tembok rumah, di mana pun bisa ditemui iklan komersial. Bahkan penempatan iklan komersial tidak jarang menyalahi aturan, seperti dengan menempelkan sederet poster iklan yang sama pada satu tembok. Kemampuan iklan komersial melahap ruang publik dikarenakan kemampuan pemilik modal untuk membayar waktu dan tempat beriklan. Karenanya bila dilihat secara kasat mata, iklan komersial begitu merajai beragam medium yang tersaji di jalanan. Pada posisi inilah graffiti menjadi pesaing iklan-iklan komersial. Writer sejatinya termasuk salah satu pihak yang bersaing mendapatkan perhatian khalayak di ruang publik. Karena adanya persaingan tersebut, tidak jarang tanda tangan atau tagging ditimpakan pada iklan-iklan komersial di tembok kota.Perlawanan ini menciptakan subkultur graffiti yang memadukan tiga bentuk protes seperti yang disebutkan Yinger (Hasan, 2011: 222), yaitu 1) penentangan terhadap nilai dominan berupa tindakan masyarakat yang patuh pada pemerintah dan budaya konsumerisme karena adanya iklan komersial, 2) penentangan terhadap struktur kekuasaan yang terlihat melalui larangan mencorat-coret tembok atau kemampuan pemilik modal dalam membeli tembok, dan 3) penentangan terhadap pola-pola komunikasi yang terperangkap dalam nilai-nilai dominan itu yakni berupa paksaan mematuhi peraturan pemerintah serta bujukan dan rayuan terhadap terbentuknya masyarakat konsumen.Adanya ekspresi perlawanan memang tidak pernah lepas dari graffiti, di mana dengan perlawanan tersebut graffiti bisa mendapatkan posisinya saat ini di masyarakat. Posisi tersebut di satu sisi masih lekat dengan penolakan yang menganggapnya sebagai perusakan terhadap fasilitas publik, sedangkan di sisi lain ia diterima karena efektivitasnya dalam mengkritisi keadaan sosial masyarakat.PENUTUPFenomena graffiti yang muncul di beberapa kota belakangan ini menjadikan dinamika perkotaan yang semakin beragam menarik untuk dipelajari. Tidak terkecuali di Kota Semarang di mana kemunculannya mendapat penilaian yang berbeda-beda dari masyarakat. Bagi sebagian kalangan, graffiti dianggap hanya sebagai coretan tembok belaka yang tidak mempunyai makna. Namun bagi sebagian yang lainnya, graffiti dianggap sebagai karya seni yang menyatukan elemen garis, bentuk, dan warna di medium tembok jalanan. Selain itu, graffiti juga dianggap bisa menyampaikan pesan tentang eksistensi pembuatnya.Eksistensi gerakan graffiti di Semarang masih berupaya mencari jati diri dengan cara bergerilya dari satu tembok ke tembok lainnya, masif, dan militan. Ada kecenderungan graffiti menjadi semacam tren di kalangan anak muda yang muncul dengan ideologi “ikut-ikutan”. Hal ini terlihat dari kemunculan banyak seniman (writer) baru yang menggunakan graffiti hanya sebagai ajang pemenuh kepuasan pribadi dan eksistensi diri, yakni dengan membuat pesan visual seperti dalam piece, tagging, dan throw-up yang dibuat sebebas-bebasnya, tanpa mengandung pesan sosial tertentu seperti yang ada pada jenis mural dan stensil. Meskipun demikian, seniman yang lebih senior biasanya telah menemukan originalitas karya dengan membuat graffiti yang berisi pesan sosial.Gerakan graffiti di Semarang membawa ekspresi perlawanan yang berupa perebutan ruang publik antara para seniman dengan para pemilik modal. Perlawanan terlihat dari kecenderungan writer untuk menimpa gambar secarasembunyi-sembunyi dan tanpa ijin di spot-spot yang dipenuhi dengan pesan periklanan atau komersial. Hal ini terkait dengan kenyataan banyaknya tembok kota yang menjadi spot komersial sehingga sarana untuk menumpahkan ekspresi semakin berkurang. Karena bentuk perlawanan tersebut, graffiti di Semarang masih lekat dengan stempel vandalisme. Masyarakat cenderung menilai graffiti sebagai tindakan yang tidak bertanggung jawab dan mengotori keindahan lingkungan.Menggunakan metode studi kasus, penelitian ini memberikan gambaran bagaimana komunitas graffiti membentuk subkultur yang terus bertahan di tengah masyarakat dan menggunakan graffiti sebagai media ekspresi dan komunikasi. Dalam hal ini, studi kasus dipilih untuk menjawab keingintahuan peneliti berkaitan dengan kemunculan fenomena graffiti secara spesifik di suatu wilayah, yaitu di Semarang, dengan batasan penelitian yang dibahas yakni eksistensi subkultur dan ekspresi yang dibawa oleh subkultur melalui graffiti. Hal ini terkait dengan pemanfaatan graffiti untuk menyampaikan pesan kepada khalayak. Penempatannya di jalanan menjadi daya tarik tersendiri, di mana mulai dari proses pembuatan hingga hasil akhir selalu menarik perhatian khalayak yang lalu lalang di jalanan.Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi perkembangan komunikasi visual di kalangan anak muda, khususnya graffiti yang disajikan sebagai bentuk ekspresi diri namun kerap dianggap vandalisme oleh masyarakat. Peneliti berusaha memberikan penyadaran kepada masyarakat bahwa graffiti selayaknya dihargai sebagai media komunikasi dan ekspresi anak muda yang menyajikan berbagai pesan mulai dari eksistensi individu hingga pesan sosial. Oleh karena itu, peneliti memberikan rekomendasi agar writer mampu menyajikan graffiti yang bisa dipertanggungjawabkan, artinya memiliki konsep yang jelas dan mengandung pesan sosial sekaligus pesan visual sehingga bisa menimbulkan timbal balik yang lebih banyak dari khalayak. Dengan demikian fungsi sosial dan visual graffiti sama-sama bisa terpenuhi, yakni di satu sisi pesan pesan sosial mampu membangkitkan pemahaman bahwa graffiti bisa ditujukan sebagai media mengkritisi keadaan di lingkungan masyarakat. Sementara di sisi lain, secara visual graffiti dapat dimanfaatkan untuk memperindah lokasi.DAFTAR PUSTAKAChaffee, Lyman G. 1993. Political Protest and Street art: Popular Tools for Democratization in Hispanic Countries. Westport: Greenwood Publishing Group, Inc.Dake, Dennis. 2005. “Aesthetic Theory” (dalam Handbook of Visual Communication: Theory, Methods, and Media, Ken Smith dkk, New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates, Inc., hal. 3-22).Ferrante, Joan. 2011. Seeing Sociology: An Introduction. California: Wadsworth Cengage Learning.Hasan, Sandi Suwardi. 2011. Pengantar Cultural Studies. Yogyakarta: Ar Ruz Media.Yin, Robert K. 2002. Studi Kasus: Desain dan Metode. Jakarta: Raja Grafindo Persada.Sumber internet:Andrianto, Andi. 2009. “Graffiti, Simbol Perlawanan Kota” (http://www.suara merdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction=beritacetak.detailberitacetak&id_beritacetak=58125; diakses 25/03/2012 22:16:13)Wicandra, Obed Bima. 2006. “Graffiti di Indonesia: Sebuah Politik Identitas Ataukah Tren? Kajian Politik Identitas pada Bomber di Surabaya” dalam Jurnal Nirmana Vol. 8, No. 2, Juli 2006, hal. 51-57. (http://fportfolio. petra.ac.id/user_files/02-032/POLITIK%20IDENTITAS%20GRAFFITI. PDF; diakses 24/03/2012 21:31:26)
HUBUNGAN DAYA TARIK SPONSORSHIP DUA KELINCI DAN AFILIASI KELOMPOK DENGAN MINAT BELI MUHAMMAD ABDUSSHOMAD; Tandiyo Pradekso; Sri Widowati Herieningsih
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (244.613 KB)

Abstract

ABSTRACTTITLE : RELATIONS THE ATTRACTIVENESS SPONSORSHIPDUA KELINCI TO REAL MADRID AND AFFILIATEGROUP WITH INTEREST BUYNAME : MUHAMMAD ABDUSSHOMADNIM : D2C 007 057The research was motivated by the phenomenon of competition between DuaKelinci with Garuda in the category of branded products packaging peanuts. DuaKelinci chose Real Madrid sponsorship partner to raise brand awarness and itsbrand image as a product that is close to the football world and to be able tocontinue to compete with the market leader in Indonesia packing peanuts, Garuda.The population in this study are football lovers in the city of Semarang. Becausethere is no exact number of football lovers in the city of Semarang, the authordetermines its own number of samples to be taken in this research is as much as50 samples. The sampling technique used in this study was purposive sampling.Researchers using interviews with a research instrument in the form of aquestionnaire for data collection. Based on the research, the attraction sponsorshipDua Kelinci to Real Madrid has a positive relationship with the buying interest. Itis seen from the significance value of 0.001 which indicates that the relationshipbetween variables is significant with a correlation coefficient of 0.414. Whileaffiliate groups also have a positive relationship with the buying interest, as seenfrom the significance value of 0.003 which indicates that the relationship betweenvariables is significant with a correlation coefficient of 0.403. Based on researchcompanies need to utilize other marketing programs in addition to programsponsorship Dua Kelinci to Real Madrid in order to raise interest in purchasingthe prospective consumer audience. In addition, Dua Kelinci can benefit appealbesides the attractiveness of football clubs, for example utilizing the domesticappeal of celebrity is more familiar among the people of Indonesia compared toclub football abroad.Keywords: Affiliate Group, Dua Kelinci, Packaging Peanuts, Interests Buy, RealMadrid, SponsorshipHUBUNGAN DAYA TARIK SPONSORSHIP DUA KELINCI DANAFILIASI KELOMPOK DENGAN MINAT BELISalah satu program PR adalah pemberian sponsor (sponsorship) padabeberapa kegiatan. Sponsorship atau pemberian sponsor adalah dukunganfinansial untuk suatu acara, kegiatan, subyek, lembaga, atau bahkan individu yangdianggap memang pantas untuk menerimanya. Sponsorship merupakan pemberiandukungan keuangan atau bentuk-bentuk dukungan lainnya kepada pihak penerimaagar keuangan si penerima tetap lancar dan menjadi lebih kokoh. (Jefkins:1997:170). Pemberian sponsor atau sponsorship menjadi salah satu program yangpaling banyak dipilih karena dukungan massa yang cukup kuat dalam sebuahacara ataupun kegiatan. Pensponsoran bisa jadi merupakan salah satu bentukpengiklanan ataupun menjadi bagian dari pemasaran, akan tetapi bisa jugamenjadi taktik PR. Kegiatan yang cukup banyak menerima sponsorship saat iniadalah olahraga. Hampir setiap kegiatan olahraga mendapat dukungan finansialyang cukup besar. Hal ini disebabkan semakin merakyatnya kegiatan olahragasehingga pemberian sponsor ini merupakan salah satu cara terbaik dalammenjangkau pasar konsumen secara massal. Dengan besarnya kegiatan peliputanmedia setiap kegiatan olahraga maka peliputan untuk pihak penyedia sponsor jugasemakin besar. Contoh dari kegiatan olahraga yang mendapatkan sponsorshipantara lain adalah Djarum Indonesia Open (Badminton), Djarum Indonesia SuperLeague (Sepakbola), Sampoerna Proliga (Voli), Biskuat Tiger Cup (Sepakbola),dan Pocari Sweat Futsal (Futsal).“Dua Kelinci Official Sponsor Real Madrid Presents: IndonesiaMenggiring Bola”, atau yang kemudian lebih popular disebut Dua Kelinci –Indonesia Menggiring Bola, merupakan event sponsorship awal dari Dua Kelincisebagai official launching sponsor tersebut. Tujuan program ini tentu saja sejalandengan objektif yang telah ditetapkan. Dua Kelinci ingin membentuk brandawareness serta brand image sebagai produk yang identik dengan sepakbola.Dengan menggandeng Real Madrid, diharapkan terbentuk citra di masyararakatdan diketahui secara luas bahwa Dua Kelinci adalah official sponsor klub itu.Kalau melihat data “Indonesian Consumer Profile 2008”, Kacang Garudamasih kokoh menjadi jawara, alias sebagai market leader di antara berbagaimerek kompetitornya, dengan perolehan market share sangat fantastis yaitu88,7%. Menyusul di belakangnya adalah rival abadinya, yaitu Dua Kelinci(10,1%), yang sama-sama ber-home base di Pati Jawa Tengah. Berikutnya adalahkacang merek Kaya King (0,6%), lalu merek Gajah (0,1%), Merpati (0,1%), danIyes (0,1%), serta merek-merek lainnya di bawah 0,1%. Sedangkan menurut dataTop Brand Index yang dilakukan oleh Frontier Consulting Group untuk kategorikacang bermerek (2011), Kacang Garuda menduduki peringkat pertama dengan65.6% Top Brand Index, disusul oleh Dua Kelinci 13%, Sukro 5,9 %, Katom 2,5%, Mayasi 2 %, Iyes 1,5 %, Kayaking 1,3 %, dan Gajah 1,1 %. Dalam persepektifsurvei, mind share terbentuk dari top of mind (TOM), yakni merek yang pertamakali muncul di benak konsumen saat berbicara tentang kategori tertentu.Sedangkan market share dapat diketahui dengan pendekatan last usage.Penggunaan last usage memang tidak bisa mencerminkan market share secaratepat, namun demikian ukuran yang sederhana ini mampu mengindikasikanbesarnya market share suatu produk. Sementara commitment share merupakancerminan dari keinginan konsumen untuk memilih suatu merek di masamendatang (future intention). (Marketing 02/IX/Februari 2009: 51-52) Dalamkaitannya dengan minat beli produk, daya tarik sponsorship yang dilakukan olehDua Kelinci ini bertujuan membentuk brand awareness serta brand imagesebagai produk yang identik dengan sepakbola. Dengan adanya programsponsorship itu, akan jadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat Indonesiaterutama pendukung tim Real Madrid. Efek dari program ini akan mempengaruhiminat beli produk Dua Kelinci, terlebih pendukung Real Madrid. Mereka akanberanggapan bahwa membeli produk Dua Kelinci secara tidak langsung akanmembantu keuangan klub Real Madrid. Mereka yang bukan pendukung RealMadrid juga akan bangga dengan program ini karena ada perusahaan Indonesiayang mampu menjadi sponsor resmi salah satu klub terbesar di Dunia danberujung kepada perubahan pandangan, sikap maupun perilaku terhadap DuaKelinci. Mereka yang pada awalnya apatis, bisa jadi akan berminat membeliproduk ini setelah menjadi sponsor resmi Real Madrid. Sedangkan kaitan afiliasikelompok dengan minat beli, bahwa minat beli produk dipengaruhi banyak hal.Baik dari faktor internal maupun eksternal konsumen. Dari faktor eksternal salahsatunya adalah afiliasi mereka terhadap sebuah kelompok tertentu. Perilaku darikelompok itu dapat merubah pendapat maupun perilaku dari mereka yangberafiliasi terhadapnya. Jadi, dengan Real Madrid menerima sponsor dari DuaKelinci, hal itu akan mempengaruhi minat beli produk bagi mereka yangberafiliasi dengan Real Madrid.Untuk menumbuhkan minat beli dan akhirnya melakukan keputusanpembelian pada diri konsumen tidaklah mudah. Banyak faktor yangmempengaruhinya, baik faktor internal atau dari dalam diri konsumen maupunpengaruh eksternal yaitu rangsangan yang dilakukan perusahaan. Dalam aktivitaspemasaran, komunikasi merupakan bagian yang penting dan sentral. Keberhasilanpemasaran sangat bergantung pada keberhasilan komunikasi itu sendiri didalamnya. Melalui kegiatan komunikasi pemasarannya untuk mendapatkanpelanggan baru maupun mempertahankan pelanggan lama, PT Dua Kelincimelakukan terobosan besar dengan menjadi sponsor resmi klub sepakbolaSpanyol, Real Madrid. Survey Top Brand dari tahun 2009 hingga 2011 padakategori kacang bermerek, Top Brand Index (TBI) Dua Kelinci naik turun padatiap tahunnya. Pada saat ini, TBI tahun 2011 menurun dibandingkan dengan tahun2010. Hal ini dapat dilihat pada gambar 1-1.Tabel 1.1Top Brand Index (TBI) Dua Kelinci Tahun 2009-2011Survey 2009 Survey 2010 Survey 201117,9 % 26,0 % 13,0 %Berdasarkan survey Top Brand diatas dapat dilihat bahwa TBI DuaKelinci naik turun. Jika dilihat pada tahun 2011 TBI mengalami penurunandibandingkan tahun 2010, sebelum Dua Kelinci menjadi sponsor resmi RealMadrid. TBI berdasarkan parameter, yaitu merek yang paling diingat (top ofmind), merek yang terakhir dibeli atau dikonsumsi (last used), serta merek yangakan dipilih lagi di masa mendatang (future intention). Hal tersebut menunjukkanbahwa index merek menurun di mata konsumen.Strategi komunikasi pemasaran yang dilakukan PT Dua Kelinci denganmenjadi sponsor resmi Real Madrid belum mampu membuat Top Brand merekamengalahkan market leader kacang bermerek selama ini yakni Kacang Garuda.Justru ketika mereka menjadi sponsor resmi Real Madrid, Top Brand merekamenurun drastis dibandingkan sebelum menjadi sponsor Real Madrid.Salah satu yang dapat mempengaruhi dalam menumbuhkan minat belikonsumen adalah faktor sosial seperti kelompok kecil, keluarga, peran, dan statussosial dari konsumen. Faktor-faktor ini sangat mempengaruhi tanggapankonsumen. Oleh kerena itu, pemasar harus benar-benar memperhitungkannyauntuk menyusun strategi pemasaran. Perilaku seseorang dipengaruhi banyakkelompok kecil. Afiliasi mereka dalam kelompok itu dapat mempengaruhi pilihanproduk dan merek yang akan dipilih olehnya. Dari uraian tersebut maka pokokpermasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah adakah hubungandaya tarik sponsorship Dua Kelinci ke Real Madrid dan afiliasi kelompok denganminat beli produk?Pada beberapa penelitian sebelumnya, aspek yang diteliti masih seputardaya tarik celebrity endorser atau daya tarik iklan dan kelompok acuan yangdihubungkan dengan minat beli konsumen. Dalam penelitian ini lebih membahaspada daya tarik sponsorship dan afiliasi kelompok dengan minat beli produk. Duavariabel dalam penelitian ini yakni daya tarik sponsorship dan afiliasi kelompokacuan menjadi pembeda dengan variabel-variabel dalam penelitian sebelum ini.Sedangkan variabel minat beli tergolong umum dimasukkan dalam penelitiansebelum ini. Teori yang dipakai dalam penelitian ini sama dengan penelitiansebelumnya yang berjudul Hubungan Daya Tarik Iklan Animasi dan Sikap Merekdengan Minat Beli Produk Molto Ultra yakni teori Integrasi Informasi.Perbedaannya terletak pada alasan penggunaan teori tersebut. Dalam penelitian initeori tersebut digunakan untuk mengetahui bagaimana daya tarik sponsorshipyang merupakan informasi berpotensi untuk mempengaruhi sikap seseorang dandigabungkan dengan afiliasi terhadap suatu pengaruh yang besar bagi komunikan.Sedangkan pada penelitian sebelumnya adalah informasi dari daya tarik iklan danpandangan positif terhadap suatu merek berpotensi mempengaruhi sikapseseorang.Teori yang menjelaskan keterkaitan aspek daya tarik sponsorship danminat beli adalah Teori Integrasi Informasi (Information Integration Theory).Teori ini merupakan teori tentang pengorganisasian informasi yang dikemukakanoleh Martin Feishbein. Teori ini berasumsi bahwa organisasi mengakumulasikandan mengorganisasikan informasi yang diperolehnya tentang sekelompok orang,objek, situasi atau ide-ide untuk membentuk sikap yang sesuai dengan konsepyang terbentuk dari hasil penerimaan informasi tersebut. (Littlejohn, 2002:234-240).Sedangkan teori yang berkaitan dengan afiliasi dengan minat beli adalahcognitive learning theory. Teori ini menjelaskan situasi dalam mana konsumenhendak memecahkan suatu masalah atau memenuhi kebutuhan menuntuk merekamembentu sikap (entah positif atau negatif) terhadap produk berdasarkaninformasi yang diperoleh, dipadu dengan pengetahuan dan keyakinan mereka.Pada umumnya, semakin banyak informasi yang diperoleh, semakin besarkemungkinan seseorang membentuk sikap. Namun, konsumen tidak selalumencari semua informasi yang berhubungan dengan produk. konsumen biasanyahanya memperhatikan informasi yang disukai atau dipahaminya. Konsekuensinya,para pemasar tidak perlu menjelaskan semua informasi yang terkait denganproduk, cukup memilih beberapa informasi kunci yang membedakan produknyadari produk pesaing. (Simamora. 2004:185).Dalam penelitian ini dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut: Dayatarik Sponsorship (X1) mempunyai hubungan positif dengan minat beli (Y).Artinya semakin kuat daya tarik sponsorship Dua Kelinci ke Real Madrid, makaakan semakin tinggi minat beli produk. Serta afiliasi Kelompok (X2) mempunyaihubungan positif dengan minat beli (Y). Artinya semakin kuat afiliasi, maka akansemakin tinggi minat beli produk.Karena tak ada ada jumlah pasti pecinta sepakbola di kota Semarang makapenulis menentukan sendiri jumlah sampel yang akan diambil dalam penelitian iniadalah sebanyak 50 sampel. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalampenelitian ini adalah purposive sampling. Peneliti menggunakan metodewawancara dengan instrument penelitian berupa kuesioner untuk pengambilandata. Berdasarkan hasil penelitian, daya tarik sponsorship Dua Kelinci ke RealMadrid mempunyai hubungan positif dengan minat beli. Hal tersebut terlihat darinilai signifikansinya yaitu sebesar 0,001 yang menunjukkan bahwa hubunganantar variabel sangat signifikan dengan koefisien korelasinya sebesar 0,414.Sedangkan afiliasi kelompok juga memiliki hubungan positif dengan minat beli,hal ini terlihat dari nilai signifikansinya yaitu sebesar 0,003 yang menunjukkanbahwa hubungan antar variabel sangat signifikan dengan koefisien korelasinyasebesar 0,403. Berdasarkan penelitian perusahaan harus memanfaatkan programpemasaran yang lain selain program sponsorship Dua Kelinci ke Real Madridguna memunculkan minat beli pada khalayak calon konsumen. Selain itu jugaDua Kelinci dapat memanfaatkan daya tarik selain daya tarik dari klub sepakbola,misalnya memanfaatkan daya tarik selebriti dalam negeri yang lebih familiar dikalangan masyarakat Indonesia dibandingkan dengan klub sepakbola luar negeriDAFTAR PUSTAKABukuAltsiel, Tom dan Jean Grow. 2006. Advertising Strategy: Creativity tacticsfrom the outside/in. New Delhi: Sage Publication India.As’ad, Moh, 1998. Psikologi Industri. Yogyakarta: Liberty.Assael, Henry. 1998. Consumer Behaviour and Marketing Action. 6thEdition. Boston: Wadsworth IncChaplin, JP. 2002. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta: Rajawali Press.Ferrinadewi, Erna. 2008. Merek & Psikologi Konsumen Implikasi PadaStrategi Pemasaran. Yogyakarta: Graha Ilmu.Jefkins, Frank. 1997. Periklanan. Jakarta : ErlanggaKartajaya, Hermawan. 2003. Marketing In Venus. Jakarta: PT GramediaPustakaKasali, Rhenald. 1995. Manajemen Periklanan, Konsep dan Aplikasinya diIndonesia. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.Kitchen, Philip J. 1998. Marketing Communications: Principles andPractice. London: Cengage Learning EMEAKriyantono, Rachmat. 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta:Kencana Prenada Media GroupKoswara, Endang. Teori-teori Kepribadian. Jakarta: Refika AditamaKotler, Philip. 2002. Manajemen Pemasaran. Jakarta: Prehallinda.Laksana, Fajar. 2008. Manajemen Pemasaran:Pendekatan Praktis.Yogyakarta: Graha IlmuLittlejohn, Stephen W. 2002. Theories of Human Communications. NewYork: Wadsworth.Percy, Larry dan Rossiter, J.R. 1997. Advertising Communication andPromotion Management. New York: McGraw HillPrasetijo, Dra. Ristiyanti dan MBA Prof. John J.O.I Ihalauw, Ph.D. 2004.Perilaku Konsumen. Yogyakarta: penerbit ANDISchiffman, Leon G dan Leslie Lazar Kanuk. 2004. Perilaku Konsumen.Edisi Ke-7. Jakarta: PT Indeks.Shimp, Terrence A. 2003. Periklanan Promosi Dan Aspek TambahanKomunikasi Terpadu. Edisi ke-5. Jakarta : Erlangga.Simamora, Bilson. 2000. Panduan Riset Perilaku Konsumen. Jakarta: PTGramedia Pustaka Utama.Singarimbun, Masri dan Sofian Effendi. 2011. Metode Penelitian Survai.Jakarta: Penerbit Pustaka LP3ES IndonesiaSugiyono. 2007. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, R&D.Bandung: AlfabetaSutisna, 2003. Perilaku Konsumen dan Komunikasi Pemasaran. Bandung:PT Remaja RosdakaryaTjiptono, Fandy. 2005. Brand Managemet & Strategi. Yogyakarta: ANDI.Tjiptono, Fandy dan Santoso Singgih. 2001, Riset Pemasaran: Konsepdan. Aplikasi dengan SPSS. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.WebsiteAnonim, 2009. Top Brand Index 2009. (http://www.topbrandaward.com/top-brand-survey/survey-result/top-brand-result-2009,diakses tanggal 12 Februari 2012)Anonim, 2010. Top Brand Index 2010. (http://www.topbrandaward.com/top-brand-survey/survey-result/top-brand-result-2010,diakses tanggal 12 Februari 2012)Anonim, 2011. Top Brand Index 2011. (http://www.topbrandaward.com/top-brand-survey/survey-result/top-brand-result-2011,diakses tanggal 12 Februari 2012)Bigman, Dan, 2011, Most Valuable Soccer,(http://www.forbes.com/2011/04/20/most-valuable-soccer, diaksestanggal 7 Januari 2013)Dua Kelinci, 2012, About Us, (http://www.dk-peanuts.com/in/aboutus.html, diakses tanggal 9 Desember 2012)Dua Kelinci, 2012, Dua Kelinci as Official Partner Real Madrid inIndonesia, (http://id.dk-peanuts.com/en/about-us/news/dua-kelincias-official-partner-for-real-madrid-in-indonesia.html, diaksestanggal 12 Februari 2012)
HUBUNGAN TERPAAN PEMBERITAAN KASUS DUGAAN KORUPSI PENGADAAN AL QURAN PADA KEMENTERIAN AGAMA DI MEDIA MASSA DENGAN CITRA KEMENTERIAN AGAMA DI MASYARAKAT Maulana Danang Adhi Prakosa; Muchammad Bayu Widagdo
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

RELATIONSHIP BETWEEN NEWS EXPOSURE TO THE ALLEGED CORRUPTION CASE OF QUR’AN PROCUREMENT IN THE MINISTRY OF RELIGION IN MASS MEDIA WITH IMAGE OF THE MINISTRY OF RELIGION IN SOCIETYABSTRACTCorruption practices in Indonesia for a long time and has penetrated into various aspects of human life. Both newly revealed and in the investigation stage, and in the case of the deepening phase at one point towards the end. Corruption rife in government institutions not to mention dealing with religion though. As happened to the Ministry of Religion Affairs was lodged cases of alleged corruption in the procurement of the Quran 2011-2012 budget. Even the institutions that govern religious life in Indonesia, caught by the alleged corruption case and also involving scripture. News in the media that can be obtained with ease every day, we can see the development of cases of alleged corruption procurement Qur'an.This study aimed to investigate the association between exposure to reporting cases of alleged corruption in the procurement of Qur’an at the Ministry of Religious Affairs in mass media with the image of the Ministry of Religious Affairs in society. Researchers used a quantitative approach with the method of explanation (explanatory research) where the researchers explain causal relationships between variables through hypothesis testing, which describes the relationship or correlation between the reporting of cases of alleged corruption in the procurement of Qur’an at the Ministry of Religious Affairs in mass media (X) on the image of the Ministry of Religious Affairs (Y). Data obtained directly from respondents to the questionnaire and use the stuffing questions.The results of this study showed no association between exposure to news of alleged corruption cases procurement Quran with the Ministry of Religious Affairs in the image. News about cases of alleged corruption in the procurement of Qur’an at the Ministry of Religious Affairs was not a major news in the media were used as an example in this study. This resulted in a low level of exposure obtained by respondents about cases of alleged corruption in the procurement of the Ministry of Religious Affairs Quran. Seeing the reality on the ground, should we follow the mass media as a whole.Keyword: Media Exposure, Explanatory, ImagePENDAHULUAN Komunikasi pada dasarnya merupakan suatu hal yang sangat penting didalam kehidupan kita. Keseluruhan interaksi yang dilakukan oleh manusia didasari oleh komunikasi. Komunikasi dapat diartikan sebagai proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikasn melalui sebuah media. Pesan-pesan yang disampaikan oleh komunikastor pasti memiliki tujuan yang berbeda-beda. Komunikasi dikatakan berhasil apabila komunikan dapat menerima dan mengartikan pesan yang disampaikan oleh komunikator. Salah satu bentuk dari komunikasi adalah komunikasi massa, yang diartikan sebagai jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen, dan anonym melalui media cetak, atau elektronik sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat ( Rahmat, 2005 ; 189 ).Memahami komunikasi massa tidak akan terlepas dari media massa, karena objek kajian terbesar adalah pada peran dan pengaruh yang dimainkan media massa. Media massa merupakan salah satu saluran komunikasi dimana sumber komunikasi (source) menyampaikan pesan-pesan (messages) kepada penerima (receiver). Saluran ini dianggap sebagai penerus atau penyampai pesan yang berasal dari sumber informasi kepada tujuan informasi. Saluran media massa adalah semua penyampai pesan yang melibatkan mekanisme untuk mencapai audience yang luas dan tak terbatas.Media massa sebagai salah satu fungsinya sebagai pemberi informasi kepada masyarakat memiliki keterikatan yang tinggi dengan masyarakat selakukonsumen media massa. Adanya kebutuhan masyarakat akan informasi mengakibatkan ketergantungan masyarakat pada media. Termasuk kebutuhan untuk mengetahui adanya peristiwa-peristiwa baru yang terjadi akhir-akhir ini atau untuk mengetahui perkembangan terhadap sebuah peristiwa.Di pertengahan tahun 2012, mencuat pemberitaan tentang adanya dugaan kasus korupsi pengadaan Al Quran yang diberitakan oleh media massa. Sampai sekarang ini kita masih dapat melihat perkembangan mengenai kasus ini di media massa. Dugaan adanya korupsi pengadaan Al Quran ini telah menyeret nama Zulkarnaen Djabar selaku anggota Komisi VIII DPR RI dari Partai Golkar yang sekaligus sebagai anggota Badan Anggaran DPR RI yang telah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK.Kasus ini muncul di media massa di pertengahan tahun 2012. Pada 29 Juni 2012, Komisi Pemberantasan Korupsi menetapkan Zulkarnaen Djabar sebagai tersangka beserta Dendy Prasetya selaku Direktur PT. Karya Sinergy Alam Indonesia (KSAI) yang merupakan rekanan dalam pengadaan Al Quran ini. Ironisnya, keduanya adalah ayah-anak. Selain anggota Badan Anggaran DPR, Zulkarnaen tercatat sebagai anggota Komisi VIII DPR yang membidangi keagamaan. KPK menjerat Zulkarnaen, dan anaknya atas 3 kasus korupsi. Pertama, dugaan suap proyek pengadaan Al Quran tahun anggaran 2011 di Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama. Kedua, dugaan korupsi pengadaan laboratorium komputer Madrasah Tsanawiyah tahun anggaran 2011 di Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama. Ketiga, dugaan suap proyek pengadaan Al Quran tahun anggaran 2012. KPK mendugaZulkarnaen memberi imbalan atau suap kepada penyelenggara negara terkait pembahasan anggaran pengadaan Al Quran senilai Rp35 miliar itu. Modusnya adalah dengan memerintahkan dan mengarahkan pejabat di Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama untuk memenangkan PT Adhi Aksara Abadi Indonesia sebagai pemegang proyek tersebut (http://fokus.news.viva.co.id/news/read/332350-ketika-proyek-pengadaan-quran-ikut-dikorupsi).Dalam pemberitaan kasus dugaan korupsi pengadaan Al Quran, media massa menunjukkan kekuatannya dalam menciptakan gagasan melalui berita. Hal ini dapat dilihat dengan selalu adanya penyebutan kata Kementerian Agama dalam berita yang memuat kasus dugaan korupsi pengadaan Al Quran. Kementerian Agama mendapatkan sorotan yang tajam. Salah satunya di institusi pemerintah yang mengurusi mengenai keagamaan di Indonesia yaitu Kementerian Agama diduga terlibat dalam kasus dugaan korupsi pengadaan Al Quran. Dalam kasus dugaan korupsi ini yang, salah satu yang menjadi tersangka merupakan anggota Badan Anggaran DPR RI periode 2009-2014 dan sekaligus merupakan anggota Komisi VIII DPR RI yang membidangi agama yang kerap kali bersinggungan dengan pihak Kementerian Agama. Pemberitaan tentang kasus korupsi ini dapat dengan mudah dikonsumsi oleh masyarakat. Masyarakat dapat mengetahui perkembangan terkini tentang kasus ini di media massa. Pemberitaan ini memberikan pandangan pada masyarakat terhadap realitas yang telah diciptakan oleh media tentang adanyakasus dugaan korupsi yang telah menyeret nama Kementerian Agama sebagai lembaga negara yang mengurus tentang keagamaan di Indonesia.PEMBAHASANBerita yang ditampilkan, diseleksi dari sejumlah realitas. Dengan adanya pemberitaan yang terdapat dalam media massa, maka akan muncul suatu kondisi yang disebut dengan terpaan media. Terpaan (exposure) merupakan kegiatan mendengar, melihat, dan membaca pesan-pesan media massa ataupun mempunyai pengalaman dan perhatian terhadap pesan tersebut yang terjadi pada individu dan kelompok (Kriyantono, 2008:205).Menurut Steven M. Chaffee dalam melihat efek yang ditimbulkan oleh pesan media massa adalah dengan melihat jenis perubahan yang terjadi pada diri khalayak komunikasi massa, yaitu:1. Efek Kognitif, efek ini terjadi apabila komunikasi massa memberikan perubahan pada apa yang diketahui, dipahami atau pun dipersepsi oleh khalayak. Kognitif berkaitan dengan transmisi pengetahuan, keterampilan, dan informasi.2. Efek Afektif, efek ini terjadi apabila komunikasi massa memberikan perubahan pada apa yang dirasakan, disenangi ataupun dibenci oleh khalayak. Perubahan pada segi afektif ditunjukkan dengan perubahan perasaan, emosi, sikap ataupun nilai.3. Efek Behavioral, efek behavioural merujuk pada perubahan perilaku nyata yang dapat diamati. Seperti pola-pola tindakan, kegiatan, dan kebiasaan berperilaku. (Rakhmat, 2007: 219)Dari penjelasan diatas, dapat terlihat bahwa media massa memiliki efek yang sangat kuat dalam penyampaian informasi dan pemenuhan kebutuhan khalayak. Dalam hal ini terlihat bahwa pemberitaan di media massa mengenai kasus dugaan korupsi pengadaan Al Quran pada Kementerian Agama telah memberikan lebih banyak efek kognitif kepada para khalayak. Apa yang mereka peroleh dari media massa, telah memberi banyak pengetahuan baru.Jalaludin Rakhmat (2007:53) menambahkan bahwa efek media dikuatkan atas hasil ekspos pengulangan suatu berita. Pengulangan pesan yang berkali-kali di berbagai media, baik cetak maupun elektronik, dapat memperkokoh dampak media massa itu sendiri. Masyarakat akhirnya tidak mempunyai alternatif lain, sehingga mereka membentuk persepsinya berdasarkan informasi yang diterimanya melalui media massa. Dengan adanya terpaan dari media massa dapat menyebabkan masyarakat menerima beberapa informasi baru yang mungkin tidak diinginkan oleh masyarakat itu sendiri. Hal ini dapat dilihat dalam seringnya pemberitaan kasus dugaan korupsi pengadaan Al Quran Kementerian Agama diberbagai media massa yang menceritakan tentang perkembangan kasus tersebut yang menyeret nama lembaga tinggi negara yaitu Kementerian Agama. Pemberitaan tersebut dapat mempengaruhi citra Kementerian Agama yang banyak disorot dalam kasus ini.Citra (image) diyakini sebagai realitas yang tampak sebagai gambaran yang mempunyai makna. Citra adalah kesan yang timbul karena pemahaman akan suatu kenyataan. Pemahaman itu sendiri timbul karena adanya informasi (Kasali, 2003:30). Media massa bekerja untuk menyampaikan informasi, bagi khalayak,informasi tersebut dapat membentuk, mempertahankan atau mendefinisikan citra. Persepsi dihasilkan dari bagaimana masyarakat menerima dan mengolah informasi yang diterimanya. Jika informasi buruk, maka persepsi akan buruk, demikian sebaliknya. Informasi itu dapat membentuk, mempertahankan atau meredefinisikan citra (Rakhmat, 2007: 224).Cumulative Effects Theory dari Elisabeth Noelle-Neuman menyimpulkan bahwa media tidak punya efek langsung yang kuat tetapi efek itu akan terus menguat seiring dengan berjalannya waktu. Cumulative Effects Theory menyatakan bahwa tidak ada yang bisa menghindari media, karena sudah ke mana-mana, atau pesan media (Vivian, 2008: 472). Informasi tentang pemberitaan kasus korupsi pengadaan Al Quran Kementerian Agama secara perlahan-lahan terangkai dan membentuk sebuah realitas secara utuh yang dikonsumsi oleh masyarakat. Perulangan melalui berbagai macam media seperti media cetak, elektronik, dan digital yang memuat kasus dugaan korupsi pengadaan Al Quran ini juga dapat berpengaruh pada citra Kementerian Agama di masyarakat.Hubungan Terpaan Pemberitaan Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Al Quran pada Kementerian Agama di Media Massa (X) dengan citra Kementerian Agama di Masyarakat (Y)N=96 Terpaan Pemberitaan Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Al Quran pada Kementerian Agama di Media Massa (X) Citra Kementerian Agama di Masyarakat (Y) Total Tinggi Cukup Rendah Tinggi 5 (55,55%) 4 (44,44%) 0 (0%) 9 (100%) Cukup 9 (33,33%) 10 (37,03%) 8 (29,62%) 27 (100%) Rendah 8 (13,33%) 44 (73,33%) 8 (13,33%) 60 (100%)Dari tabel di atas menunjukkan bahwa dari 9 responden, 55,55% yang terkena terpaan pemberitaan kasus dugaan korupsi pengadaan Al Quran pada Kementerian Agama tinggi memberi nilai tinggi untuk citra Kementerian Agama di masyarakat. Sedangkan sisanya sebesar 44,44% memberi nilai cukup.Dapat dilihat pula sebanyak 37,03% dari 27 responden yang cukup mendapat terpaan pemberitaan kasus dugaan korupsi pengadaan Al Quran pada Kementerian Agama memberi nilai cukup untuk citra Kementerian Agama di masyarakat. Sedangkan 33,33% memberi nilai tinggi dan 29,62% yang memberi nilai rendah.Kemudian dapat dilihat pula sebanyak 73,33% dari 60 responden yang mendapat terpaan pemberitaan kasus dugaan korupsi pengadaan Al Quran pada Kementerian Agama rendah memberi nilai cukup untuk citra Kementerian Agama di masyarakat. Sedangkan yang memberi nilai tinggi dan rendah sama-sama 13,33%.Penjelasan di atas menunjukkan bahwa tidak ada kecenderungan hubungan antara terpaan pemberitaan kasus dugaan korupsi pengadaan Al Quran pada Kementerian Agama di media massa denga citra Kementerian Agama di masyarakat. Sebab, responden yang terkena terpaan rendah menilai cukup pada citra Kementerian Agama. Responden dengan terpaan cukup juga menilai cukup terhadap citra Kementerian Agama. Dan responden dengan terpaan tinggi memberikan nilai yang tinggi terhadap citra Kementerian Agama. Hal ini menunjukkan citra Kementerian Agama di masyarakat tidak dipengaruhi oleh pemberitaan kasus dugaan korupsi pengadaan Al Quran pada Kementerian Agama. Dengan demikian, hipotesis hubungan positif yang sebelumnya dibentuk tidak terbukti.PENUTUPMedia massa memiliki pengaruh dalam membentuk citra suatu lembaga, individu, ataupun fenomena yang terjadi di masyarakat. Dari pemberitaan negatif yang mendominasi media mengenai kasus dugaan korupsi pengadaan Al Quran pada Kementerian Agama dapat menimbulkan pengaruh kepada penilaian masyarakat yang mengikuti peristiwa tersebut. Citra Kementerian Agama yang dalam hal ini merupakan pemilik program pengadaan ikut terseret dalam pemberitaan kasus dugaan korupsi pengadaan Al Quran tentu dipengaruhi oleh pemberitaan di media massa. Ada juga beberapa masyarakat yang tidak mengetahui adanya campur tangan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan anggaran terhadap program pengadaan yang selama ini sudah dilakukan oleh Kementerian Agama sejak tahun 2009 ini.Hipotesis penelitian ini menyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara terpaan pemberitaan kasus dugaan korupsi pengadaan Al Quran pada Kementerian Agama di media massa dengan citra Kementerian Agama di masyarakat. Artinya semakin tinggi terpaan berita kasus dugaan korupsi pengadaan Al Quran pada Kementerian Agama maka semakin tinggi pula citra Kementerian Agama di masyarakat.Namun, hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan antara terpaan pemberitaan kasus dugaan korupsi pengadaan Al Quran dengan citra Kementerian Agama di masyarakat. Hal ini dilihat dari hasil tabulasi silang, dimana citraKementerian Agama menunjukkan nilai cukup baik dari mayoritas responden dengan terpaan rendah, cukup, dan citra tinggi untuk terpaan berita yang tinggi. Jadi disimpulkan bahwa hipotesis awal dari penelitian ini tidak terbukti.DAFTAR PUSTAKAKasali, Rhenald. 2003. Manajemen Public Relations: Konsep dan Aplikasinya di Indonesia. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.Kriyantono, Rakhmat. 2008. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.Rakhmat, Jalaluddin. 2005. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Rakhmat, Jalaluddin. 2007. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Vivian, John. 2008. Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Kencana.http://fokus.news.viva.co.id/news/read/332350-ketika-proyek-pengadaan-quran-ikut-dikorupsi diakses pada 15 September 2012.
Video Dokumenter Televisi “Ngesti Pandowo” Widyarini, Ira Yunani; Setyabudi, Djoko; Hasfi, Nurul
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

I. Latar BelakangKebudayaan merupakan salah satu identitas suatu bangsa. Bangsa Indonesiasendiri memiliki banyak kebudayaan yang tersebar di setiap wilayahnya. Seiringberjalannya waktu, masuk dan tumbuh kebudayaan baru di Indonesia. Denganmasuknya kebudayaan baru ditakutkan menggeser kebudayaan tradisional yang sudahada. Terlebih lagi budaya modern yang lebih diminati banyak orang terutama anakmuda daripada budaya tradisional yang sudah ada. Kebudayaan tradisional di KotaSemarang sendiri sebenarnya masih ada, sampai sekarang masih ada tempat yangmengandung unsur budaya tradisional yang tidak kalah bersejarah dibanding wisataLawang Sewu dan Gereja Blenduk yang menjadi ikon kota Semarang. Tepatnya,terletak di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS). Tempat ini memiliki nilai budayatradisional yang tinggi, bukan karena bangunannya tetapi kegiatan yang dilakukan ditempat tersebut.Kegiatan yang dilaksanakan di gedung ini adalah pentas kesenian wayangorang. Kelompok kesenian wayang orang di Semarang yang ada sejak tahun 1937tampil setiap Sabtu malam di gedung TBRS. Kelompok ini mencoba untukmenampilkan kesenian tradisional kota Semarang dengan tujuan melestarikankesenian wayang orang di Kota Semarang, seperti yang diungkapkan Cicuk SastroSudirdjo selaku pemimpin dari kelompok seni wayang orang Ngesti Pandowo ini.Tidak banyak masyarakat yang menonton pentas wayang orang ini, dalam sekalipementasan Ngesti Pandowo hanya mendapat kurang lebih Rp 500.000,00 daripenjualan tiket seharga Rp 20.000,00 tiket per orang. Padahal biaya produksi dalamsekali pementasan berkisar Rp 3.500.000,00.(http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/layar/2011/11/01/872/Cicuk-Sang-Penunggu-Ngesti-Pandawa)Hal diatas menunjukan adanya keterkaitan dengan kebudayaan tradisionalyang semakin tidak dikenal masyarakat. Kegelisahan yang muncul dalam hal iniadalah apakah kesenian wayang orang dapat terus ada. Bagaimana cara untukmembuat kebudayaan tradisional wayang orang ini tetap hidup, dan menumbuhkankembali minat masyarakat agar dapat menikmati kebudayaan ini.Seiring kemajuan zaman yang semakin modern dari waktu ke waktu dandiikuti dengan perkembangan teknologi yang canggih, membuat komunikasi massamenggunakan media massa ikut berubah. Dahulu kala, komunikasi massa dilakukanhanya menggunakan sebuah kertas di dalamnya berisi informasi yang ditempelkan diruang publik, namun sekarang kegiatan komunikasi massa menggunakan mediamassa muncul dalam bentuk-bentuk baru. Seperti dalam bentuk audio pada radio,audio visual pada televisi dan internet. Kegiatan jurnalistik menjadi lebih mudahkarena adanya media massa. Isi pesan-pesan yang ingin disampaikan tepat sasaranpada khalayak yang dituju.