cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Interaksi Online
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Interaksi Online adalah jurnal yang memuat karya ilmiah mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Undip. Interaksi Online menerima artikel-artikel yang berfokus pada topik yang ada dalam ranah kajian Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial
Arjuna Subject : -
Articles 42 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 2: April 2013" : 42 Documents clear
Memahami Komunikasi Persuasif Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) Smile Plus dalam Meyakinkan ODHA Bergabung Untuk Membangun Kepercayaan Diri Nugraheni Yunda Nuraga; Taufik Suprihatini; Hedi Pudjo Santosa
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang ODHA adalah Orang Dengan HIV/AIDS merupakan sebutan di Indonesiabagi mereka yang mengidap HIV/AIDS. Keberadaan ODHA selalu dipandangsebelah mata oleh kebanyakan orang. Di Indonesia masyarakat menganggap virusHIV/AIDS sebagai suatu aib, masyarakat lebih memilih menghindari ODHAbahkan berdampak hingga orang – orang terdekat ODHA seperti orang tua,saudara dan teman. Masyarakat menganggap demikian karena kebanyakan orangmengkaitkan virus HIV/AIDS dengan sex bebas atau penggunaan narkoba.Muncul diskriminasi antara ODHA dengan masyarakat, sehingga mengakibatkanadanya tekanan psikologis seperti takut, stres, marah dan kecewa. Dengankeadaan demikian, ODHA memilih untuk tertutup dari dunia luar.Tekanan psikologis seperti stres, mendorong ODHA dapat merubahkarakteristik kepribadian mereka. Tekanan negatif dari orang – orang disekitarODHA membentuk konsep diri yang negatif bagi ODHA. Kepribadian yangawalnya terbuka, bersikap positif, dan supel dapat berubah menjadi sebaliknya.Keadaan demikian dapat memperburuk kehidupan sosialisasi ODHA dalamrutinitas keseharian mereka.Keadaan tertutup sebenarnya menambah beban bagi ODHA, hal ini dapatmenurunkan mutu hidup mereka. Mutu hidup adalah motivasi untuk tetap survivedan dapat beradaptasi dengan keadaan. Dengan mutu hidup yang baik, makamereka akan memiliki semangat juang untuk bertahan hidup yang tinggi. ODHAmembutuhkan interaksi komunikasisekedar untuk mencurahkan isi hati ataubahkan menambah informasi mengenai penyakitnya tersebut. Sulit bagi ODHAmembuka percakapan tentang dirinya kepada orang lain. Kenyamanan,kepercayaan, dan kedekatan menjadi aspek penting bagi ODHA untuk melakukankomunikasi. Salah satu caranya adalah bergabung dengan Kelompok DukunganSebaya (KDS).Namun, ODHA utamanya mereka yang menetap di KabupatenTemanggung masih enggan untuk bergabung dengan Kelompok DukunganSebaya Smile Plus. Salah satu pengurus KDS Smile Plus (Dias. 53tahun)menyatakan, “ ODHA di Kota Temanggung kebanyakan belum memiliki tingkatkesadaran diri mengenai penyakit yang di idapnya. Ada beberapa yang takutbergabung karena faktor kecemasan, tidak percaya diri dan ada pula yang sudahtidak mau memperdulikan kesehatannya lagi”. Hingga tahun 2011 sendiri anggotaSmile Plus tergabung sebanyak 32 orang, dan bersifat dinamis. Sedangkan padaawal tahun terbentuk di tahun 2008 hingga tahun 2010, jumlah anggota hanyamencapai 24 anggota. Jumlah ini sangat miris jika dibandingkan dengan jumlahpenderita HIV/AIDS di Kota Temanggung sebanyak 192 kasus.Kurangnya pengetahuan, rasa tidak percaya diri, malu, takut untuk terbukamembuat ODHA memilih untuk tetap menutup diri dengan tidak bergabungdalam Kelompok Dukungan Sebaya ini. Dengan jumlah kasus HIV/AIDS diTemanggung tinggi dan kurangnya kesadaran diri ODHA untuk bergabungdengan Kelompok Dukungan Sebaya menjadi suatu masalah bagi pengurus SmilePlus. Mereka harus melakukan komunikasi persuasif yang tepat dan baik untukmeyakinkan bahwa melalui Kelompok Dukungan Sebaya Smile Plus membantuODHA untuk memotivasi diri mereka, memperdulikan kesehatan mereka, dantempat untuk saling berbagi.Tujuan PenelitianPenelitian ini bertujuan untuk memahami komunikasi persuasif KelompokDukungan Sebaya (KDS) Smile Plusdalam meyakinkan ODHA bergabung untukmenumbuhkan kepercayaan diri.Penemuan Penelitian1. Karakteristik KDS Smile Plus dalam komunikasi kelompokKelompok Dukungan Sebaya (KDS) Smile Plus lebih mengacu kepadakomunikasi kelompok primer. Karakteristik kelompok primer antara lain; (1).Kualitas komunikasi pada kelompok primer bersifat dalam dan meluas, artinyamenembus kepribadian kita yang paling tersembunyi, pada kelompok primer kitaungkapkan hal – hal yang bersifat pribadi. (2). Komunikasi pada kelompok primerbersifat personal, dalam kelompok primer yang penting ialah siapa dia, bukanapakah dia. Kita mengkomunikasikan seluruh pribadi kita. (3). Pada kelompokprimer, komunikasi lebih menekankan pada aspek hubungan dari pada aspek isi,komunikasi dilakukan untuk memelihara hubungan baik. (Jalaludin Rakhmat.2007; 142 – 143).Karakteristik kelompok primer sangat dekat sekali dengan karakteristikKDS Smile Plus. Kualitas komunikasi yang mendalam menembus pada hal – halpribadi, dan membangun ikatan emosional dengan anggota menjadi landasanSmile Plus untuk melakukan komunikasi dengan anggotanya. Pembimbing diSmile Plus membuat ODHA nyaman untuk menceritakan hal – hal pribadinya,sehingga anggota Smile Plus menganggap kelompok ini seperti keluarga bukansebagai kelompok profesional. Dua informan yang merupakan pembimbing diKDS Smile Plus selalu memposisikan dirinya sebagai saudara, orang tua atausahabat dengan anggotanya. Dengan anggapan seperti itu membuat anggota SmilePlus yang hampir keseluruhan adalah ODHA akan membangun ikatan emosionalyang dekat, tidak merasa KDS Smile Plus sebagai kelompok yang profesional,sehingga mereka menganggap KDS Smile Plus sebagai keluarga kedua.2. Cara KDS Smile Plus dalam membangun self disclosure ODHA (OrangDengan HIV/AIDS)Menurut Liliweri (1994:163), teori self disclosure menekankan bahwahubungan antar pribadi yang ideal adalah kalau seseorang membiarkan dirinyadan orang lain membagi pengalaman mereka sepenuhnya dengan membuka diri,karena adanya prinsip bahwa pribadi yang dimiliki ibarat kertas “tembuspandang” (transparan), sukar ditutupi sehingga orang lain pun bisa melihat.Membuat ODHA mau terbuka menceritakan segala hal yang dialaminyakepada orang lain membutuhkan cara yang berbeda dengan orang – orangbiasanya. KDS Smile Plus menggunakan beberapa cara agar ODHA nyamanuntuk terbuka dengan pembimbing di Smile Plus, diantaranyaa. Membangun ikatan emosional kekeluargaan antara KDS Smile Plus denganODHAb. Menjaga Privasi ODHAc. Mengikuti kesenangan ODHA dalam berkomunikasi3. Cara KDS Smile Plus dalam membangun kosep diri positif ODHA (OrangDengan HIV/AIDS)Membentuk konsep diri yang positif di pikiran ODHA tidak mudah,karena mereka beranggapan bahwa HIV/AIDS adalah penyakit yang tidak adaobatnya dan apabila orang lain tahu bahwa dirinya positif HIV/AIDS makaresikonya adalah akan dikucilkan. Dalam penelitian ini ada beberapa faktor yangdapat mempengaruhi berubahnya konsep diri ODHA menjadi positif, diantaranyaadalah keberadaan pembimbing Smile Plus sebagai orang lain bagi ODHA dalammelakukan pendampingan dan kelompok rujukan yang diikuti oleh ODHA.William D. Brooks (Jalaludin Rakhmat, 2007:99) mendefinisikan konsepdiri sebagai “those phsyical, social, and psychological perception of ourselvesthat we have derived from experiences and our interaction with others”. Jadikonsep diri adalah pandangan dan perasaan kita tentang diri kita. Persepsi tentangdiri ini bisa bersifat psikologi, sosial, dan fisis. Seperti yang sudah disebutkansebelumnya, konsep diri yang dimiliki ODHA dapat berubah positif dari pengaruhkeberadaan pembimbing Smile Plus sebagai orang lain bagi ODHA dalammelakukan pendampingan dan kelompok rujukan yang diikuti oleh ODHA.1. Orang Lain.Orang lain dalam hal ini adalah peran pendampingan yang dilakukan olehpembimbing KDS Smile Plus dalam membentuk konsep diri positif pada ODHA.Gabriel Marcel menjelaskan bahwa “the fact is that we can understandourselves by starting from the other, or from others, and only by starting fromthem” . Kita mengenal diri kita dengan mengenal orang lain terlebih dahulu.Bagaimana orang lain menilai diri kita, akan membentuk konsep diri kita pribadi.(Jalaludin Rakhmat, 2007: 101). Maka bagaimana pendamping KDS Smile Plusmenilai ODHA, akan membentuk konsep diri ODHA seperti apa.2. Kelompok Rujukan atau (Refrence Group)Tergabung dalam sebuah kelompok sangat mempengaruhi konsep diriseseorang. Secara tidak langsung ODHA akan mengikuti aturan – aturan hinggakebiasaan sebuah kelompok yang diikuti dalam keseharian. Sama halnya denganODHA yang bergabung dengan KDS Smile Plus, mereka secara disadari atautidak perlahan mengalami perubahan, baik perilaku atau konsep diri mereka. KDSSmile Plus yang dibentuk untuk ODHA dan dari ODHA bertujuan untuk menjadiwadah bagi ODHA untuk saling bertukar informasi dan saling menguatkan diri.ODHA yang sebelumnya merasa sendiri, memiliki konsep diri negatif akanberubah menjadi lebih baik karena pengaruh kelompok ini.ODHA akan menyesuaikan keadaan yang ada di dalam KDS Smile Plus.Di dominasi dengan pendampingan dari pembimbing yang selalu memacumotivasi hidup ODHA untuk survive, dan pengaruh teman dalam kelompoktersebut, maka hal itu berpengaruh besar bagi ODHA untuk melakukan hal yangsama dengan teman – temannya yang satu kelompok dengannya.Kelompok rujukan adalah kelompok yang secara emosional mengikat dirikita, dan berpengaruh terhadap konsep diri kita. Dengan melihat kelompok ini,orang mengarahkan perilakunya dan menyesuaikan diri dengan ciri – cirikelompoknya. (Jalaludin Rakhmat, 2007: 104).Cara – cara yang digunakan oleh KDS Smile Plus dalam membentuk konsep diriyang positif di diri ODHA diantaranya adalaha. Memberikan pujian kepada ODHAb. Menggunakan testimonic. Event KDS Smile Plus (close meeting)4. Karakteristik ODHA dalam komunikasi persuasifKomunikasi persuasif menurut Nimmo (2000:128) mengungkapkanpersuasi mengubah sikap dan perilaku orang dengan menggunakan kata – katalisan dan tertulis, menanamkan opini baru dan usaha yang disadari mengubahsikap, kepercayaan, atau perilaku orang melalui transmisi pesan. Komunikasipersuasif merupakan metode untuk menyamapikan pesan – pesan darikomunikator untuk mempengaruhi komunikannya dengan pesan – pesan yangsebelumnya telah dikelola seraya menyesuaikan dengan keadaan psikologis dansosiologis serta kebudayaan dari komunikan atau dengan kata lain denganmenggunakan tehnik persuasi (Soenarjo & Djoenasih, 1993:30).Komunikasi persuasif yang dilakukan oleh KDS Smile Plus kepadaODHA diantaranya adalah untuk merubah perilaku negatif ODHA danmenguatkan diri mereka dari status positif HIV/AIDS. Mengajak ODHA untukmerubah perilaku sangat sulit, terutama bagi mereka yang sudah menjadi sebuahkebiasaan. Dalam penelitian ini, ODHA yang sulit untuk dipersuasif melakukanpendampingan adalah ODHA yang memiliki jabatan atau tokoh di lingkungannya.Mereka takut jika statusnya tersebut tersebar hingga ke telinga orang – orangdisekitarnya, sehingga mereka mengganggap bahwa dirinya sehat dan tidak perludilakukan pendampingan dari KDS Smile Plus.Dengan demikian dibutuhkan caratersendiri bagi pembimbing di KDS Smile Plus agar komunikasi persuasif iniberjalan efektif.Dalam melakukan komunikasi persuasif dalam bukunya Miller dan Williamsyang berjudul “The 5 Path To Persuasion”, menjelaskan lima tipe komunikandalam melakukan komunikasi persuasif, yang pertama adalah the charismaticdecision maker, kedua the thinker decision maker, skeptic decision maker,follower decision maker, dan yang terakhir adalah controller decision maker . Jikaditerapkan dalam karakteristik ODHA di Temanggung dapat diklasifikasikanberdasarkan tipe komunikan dalam buku Miller dan Williams ini.a. ODHA sebagai follower decision maker.Follower berdiskusi berdasarkan pada pengalamanan terdahulu yangpernah dialaminya sebelumnya. Mereka mempunyai tanggung jawab yang baik.Untuk melakukan komunikasi persuasif kepada follower yang harus dilakukanadalah sediakan banyak bukti yang menyatakan proposal atau data tersebut suksesuntuk kasus sebelumnya dan harus relevan serta kredibel. (Williams dan Miller.2005. 108).b. ODHA sebagai Skeptic decision maker.Mereka sulit menerima informasi dari orang lain. Mereka akan terusbertanya dan melawan apabila tidak sesuai dengan pikirannya, terutama padaremaja. Mereka memiliki gaya bicara seenaknya sendiri, sulit menghargai oranglain dan akan mengatakan apa yang mereka fikirankan tanpa memperdulikanorang lain. Skeptis memiliki kepribadian yang kuat, namun skeptis merupakantipe yang sulit mempercayai orang. Untuk dapat mempersuasif tipe skeptis harusmemiliki strategi yang kuat diantaranya membangun kepercayaan, kemudianmencari penengah antara skeptis dan persuator, jangan berfikir dari sudut pandangpersuator sendiri, harus ada sumber terpercaya untuk mempersuasif orang tipeskeptis. (Williams dan Miller. 2005. 77).Dalam penelitian ini juga memperlihatkan perbedaan tehnik komunikasipersuasif yang dilakukan oleh pembimbing KDS Smile Plus kepada ODHA.Dalam penelitian ini menunjukan bahwa pembimbing yang positif HIV/AIDSmelakukan komunikasi persuasif dengan mengontrol emosinya menjadi lebihsabar dan lembut. Ia berusaha untuk meredam emosi ODHA dengan halus.Sedangkan pembimbing yang negatif dari virus HIV/AIDS lebih terbuka danmudah beradaptasi/ mudah bergaul dalam melakukan komunikasi persuasifdengan ODHA. Ia tidak sungkan untuk mengingatkan ODHA dengan lebih tegasjika mereka melakukan kesalahan.Implikasi AkademisBerdasarkan lingkup teoritis, penelitian ini membahas mengenaikomunikasi persuasif Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) Smile Plus dalammeyakinkan Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) bergabung untuk membangunkepercayaan diri. Dengan teori konsep diri yang memaparkan mengenai konsepdiri positif mempengaruhi ODHA memiliki pengembangan kepercayaan lebihbaik dari pada ODHA dengan konsep diri negatif. Di dukung dengan adanya teoriself-disclosure ODHA bisa berbagi tentang privasinya kepada pembimbing diKDS Smile Plus, sehingga memudahkan dalam melakukan pendampingan.Sedangkan pada teori komunikasi persuasif menunjukan bahwapembimbing KDS Smile Plus melakukan interaksi perusasif tanpa ada paksaan.Pembimbing menghormati segala keputusan ODHA saat dilakukannyapendampingan. Pembimbing KDS Smile Plus membangun kepercayaan denganODHA dan berusaha agar adanya perubahan membangun kepercayaan diri padaODHA. Maka dalam penelitian ini tidak terbukti adanya penemuan – penemuanuntuk mengembangkan teori baru.DAFTAR PUSTAKABuku:Adler, Ronald.B dan Neil Towne. 1987. Looking Out/Looking In InterpersonalCommunication. USA: CBS Coliege Publishing.Alvin A. Goldberg Carli. E Larson. 1985. Komunikasi Kelompok Proses-ProsesDiskusi dan Penerapannya. Penerbit Universitas Indonesia (UI- Press)Beebe, Steven A, Susan J. Beebe, Mark V.Redmond. 2005. InterpersonalCommunication Relating To Others. United States of America : PersonEducation, Inc.De Vito, Joseph A. 1997. Komunikasi Antar Manusia. Jakarta: ProfessionalBooks.Guba, Egon G & Yvonna S. Lincoln. 1994. Competing Paradigms in QualitativeResearch. Dalam Norman K. Denzin & Yvonna S. Lincoln (ed).Handbook of Qualitative Research. Thousand Oaks, California : SAGEPublications.Jourard, S.M. 1971. The Transparent Self (Edisi Revisi). New York: VanNostrandLiliweri, Alo. 1994. Komunikasi Antar Pribadi. Bandung : PT Citra Aditya Bakti.Littlejohn, Stephen W. 1996. Theories of Human Communication (6th edition).USA : WadsworthLittlejohn, Stephen W. 1999. Theories of Human Communication (6th edition).USA : Wadsworth.Littlejohn, Stephen W. 2008. Theories of Humn Communication (8th edition).USA: Wadsworth.Miller, Robert B & Williamms, Garry A. 2005. Acclaim For The 5 Paths ToPersuasion. New York : Warner Book GroupMoleong, Lexy J. 2005. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : PT RemajaRosdakarya.Moleong, Lexy J. 2008. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : PT RemajaRosdakarya.Moustakas, Clark. 1994. Phenomenological Research Methods. London : SagePublications, Inc.Nimmo, Dan. 2000. Komunikasi Politik Komunikator, Pesan dan Media. RemajaRosdakarya: Bandung.Onong Uchayana MA, Effendi. 1998. Hubungan Insani. PT. Remaja Rosdakarya,Bandung.Onong Uchayana MA, Effendi. 1999. Hubungan Insani. PT. Remaja Rosdakarya,Bandung.Pawito. 2007. Penelitian Komunikasi Kualitatif. Yogyakarta: LkiS.Rakhmat, Jalaluddin. 1989. Psikologi Komunikasi, Edisi Revisi. Bandung. RemajaRosdakarya.Rakhmat, Jalaluddin. 2007. Psikologi Komunikasi, Edisi Revisi. Bandung. RemajaRosdakarya.Soenarjo & Djoenasih.S. 1993. Komunikasi Persuasif dan Retorika. Yogyakarta:Liberty.
PENGARUH DAYA TARIK IKLAN SENSODYNE TERHADAP MINAT PEMBELIAN PRODUK PASTA GIGI SENSODYNE Avianto Aryo Wicaksono; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKSINama : Avianto Aryo W.NIM : D2C006014Judul : PENGARUH DAYA TARIK IKLAN SENSODYNE TERHADAP MINATPEMBELIAN PRODUK PASTA GIGI SENSODYNEPenelitian ini dilatarbelakangi dari rasa ingin tahu penulis terhadap sejauhmana dayatarik iklan iklan pasta gigi sensodyne yang ditayangkan di televisi mampu mempengaruhiminat pembelian konsumen terhadap produk pasta gigi sensodyne. Mengingat, masihrendahnya kesadaran masyarakat terhadap persoalan gigi sensitif dan munculnya kompetitoryang juga bersaing dalam pasar gigi sensitif.Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang tinggal di Kota Semarang,berusia 20 tahun keatas, dan pernah melihat tayangan iklan Sensodyne. Tipe yang dipakaidalam penelitian ini adalah eksplanatori, yaitu tipe penelitian yang menjelaskan hubungankausal antara variabel-variabel melalui pengujian hipotesis.Tekhnik pengambilan sampleyang digunakan adalah teknik accidental sampling, dengan jumlah sample sebesar 40responden. Penelitian menggunakan metode wawancara dengan instrument penelitian berupakuesioner untuk pengambilan data.Berdasarkan hasil penelitian dari jumlah sample yang telah ditentukan, didapatkanbahwa daya tarik iklan Sensodyne di televisi tidak memiliki dampak atau pengaruh terhadapminat pembelian produk pasta gigi Sensodyne. Hal tersebut terlihat ketika daya tarik iklansangat menarik, tidak ada responden yang berminat membeli pasta gigi Sensodyne. Ketikadaya tarik iklan menarik, pengelompokan responden terbanyak pada minat pembeliankonsumen yang rendah (52,63%). Ketika daya tarik iklan cukup menarik, pengelompokanresponden terbanyak ada pada minat pembelian konsumen sangat rendah (68,75%). Ketikadaya tarik iklan tidak menarik, pengelompokan responden terbanyak ada pada minatpembelian yang juga sangat rendah (100%).Berdasarkan hasil penelitian, Sensodyne sebaiknya lebih melakukan pengembanganstrategi kreatif dalam periklanan, kemudian perlu juga ada pengembangan dari sisi strategimedia untuk meningkatkan awareness khalayak untuk memperkuat positioning Sensodyne,dan mengadakan event yang mengedukasi masyarakat tentang segala hal terkait penanganangigi sensitif.ABSTRACTNama : Avianto Aryo W.NIM : D2C006014Judul : INFLUENCE ATTRACTIONS SENSODYNE TOOTHPASTE AD AGAINSTINTERESTS PURCHASE PRODUCT SENSODYNE TOOTHPASTEThe research is motivated out of curiosity how far the author of the ad appealSensodyne toothpaste ad that aired on television can influence consumer buying interest onSensodyne toothpaste products. Whereas, the low public awareness of the problem ofsensitive teeth and the emergence of competitors who also compete in sensitive teeth.The population in this study is that people who live in the city of Semarang, aged 20years and over, and never saw Sensodyne advertising impressions. The type used in this studyis explanatory, that is the type of research that explains the causal relationship between thevariables through testing hipotesis.Teknik sampling used was accidental sampling technique,with a sample size of 40 respondents. Study using interviews with a research instrument inthe form of a questionnaire for data collection.Based on the findings of a predetermined number of samples, it was found that theappeal of Sensodyne ad on television have no impact or effect on the interest in the purchaseSensodyne toothpaste products. It is seen as very attractive advertising appeal, no respondentswere interested in buying Sensodyne toothpaste. When the appeal of attractiveadvertisements, grouping respondents on most consumer purchases of low interest (52.63%).When the advertising appeal is quite interesting, most respondents groupings exist in verylow interest consumer purchases (68.75%). When the appeal of advertising is not interesting,most existing clustering respondents on purchases interest is also very low (100%).Based on research results, we recommend Sensodyne more to develop a creativestrategy in advertising, then there should also be the development of the media strategy toraise public awareness to strengthen the positioning of Sensodyne, and hold events to educatethe public on all matters related to the handling of sensitive teeth.Nam : Avianto Aryo W.Nim : D2C006014Dosen Pembimbing : Dr. Turnomo RahardjoBAB IPENDAHULUANLatar Belakangperiklanan dirancang untuk mempromosikan atau mengkomunikasikan suatu pesan,baik pesan mengenai suatu produk, kegunaan, maupun informasi penting lainnya, dariperusahaan atau produsen kepada khalayak. Melalui pesan iklan ini diharapkan akan adarespon dari khalayak. Untuk mengoptimalkan penyampaian respon yang diharapkankhalayak, Pesan iklan harus dibuat sekreatif mungkin dalam mengkomunikasikan produkyang ditawarkan agar khalayak dapat mengerti, berminat, dan membeli produk yangditawarkan produsen. Oleh karena itulah diperlukan daya tarik iklan untuk calon konsumen.Daya tarik iklan sangat penting karena akan meningkatkan keberhasilan komunikasi dengankhalayak.Sensodyne dalam beriklan selalu konsisten menggunakan daya tarik pesan iklan yangmelibatkan kesaksian endorser. Dalam iklannya saat ini Sensodyne melibatkan endorserseorang yang dianggap ahli dalam persoalan gigi, yaitu drg.Ariandes Veddytarro yangmemberi kesaksian atau testimoni mengenai penyebab gigi sensitif dan bagaimana caramengatasinya dibarengi dengan visual untuk mendukung penjelasannya. Dengan daya tarikini diharapkan attention khalayak akan tergugah dengan keseluruhan iklan tersebut dan dapatmenimbulkan minat yang akhirnya dapat menggunakan produk pasta gigi sensodyne.Iklan merupakan salah satu bentuk promosi dalam komunikasi pemasaran, dimanamembutuhkan media untuk mengkomunikasikan produk yang akan diiklankann. Saat inibanyak perusahaan yang mengiklankan produknya melalui berbagai media, baik cetakmaupun elektronik. Salah satunya adalah melalui media televisi. Media ini dipilih karenaselain media ini sering digunakan di Indonesia, juga dalam waktu relatif singkat pesan dapatsampai khalayaknya dalam jumlah besarRumusan MasalahSensodyne bukanlah brand satu-satunya dalam pasar gigi sensitif. Terdapatkompetitor lain yang ikut dalam persaingan psata gigi sensitif, yaitu Pepsodent SensitiveExpert. Pasta gigi ini juga cukup gencar melakukan periklanan di televisi dengan berbagaidaya tarik pesannya sendiri. Dalam hal ini Sensodyne mencoba untuk tetap konsisten sejaktahun 2006 menggunakan daya tarik pesan dengan strategi gaya pesan bukti kesaksian(Testimonial Evidence) dimana sensodyne mengandalkan seorang ahli dalam menjelaskanpersoalan gigi dan menawarkan solusinya dengan menggunakan pasta gigi Sensodyne.Ditambah juga dari hasil studi GlaxoSmithKline yang menunjukkan bahwa tingkatkesadaran masyarakat terhadap masalah gigi sensitif masih tergolong rendah dimana 52%pasien dengan gigi sensitif tidak berkonsultasi ke dokter gigi dan 75% pasien gigi sensitiftersebut belum pernah menggunakan pasta gigi khusus untuk gigi sensitif atau hanyamenggunakannya secara tidak teratur.Seperti diketahui televisi merupakan salah satu bentuk dari media massa, dimanamedia ini memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh media lainnya, yaitu bersifataudiovisual. Oleh karena itulah peneliti tertarik untuk mengetahui apakah apakah daya tarikpesan iklan pasta gigi sensodyne di televisi mempengaruhi minat konsumen dalam membeliproduk pasta gigi sensodyne.Tujuan PenelitianPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana daya tarik pesan iklan pasta gigiSensodyne mempengaruhi minat pembelian Produk Pasta Gigi Sensodyne.Kerangka TeoriTeori penghubung dalam penelitian ini menggunakan teori Model AIDA (Attention,Interest, Desire, Action)(Kotler, 2002: 633).Komunikasi persuasif didahului dengan upaya menarik perhatian khalayak(Attention). Apabila perhatian khalayak berhasil didapatkan, maka upaya selanjutnya adalahmenumbuhkan ketertarikan (Interest) terhadap produk yang dikenalkan melalui periklanan,sehingga timbul rasa ingin tahu secara lebih rinci dalam diri konsumen untuk mengikutipesan-pesan yang disampaikan. Tahap selanjutnya akan menimbulkan hasrat (Desire) untukmenggerakan keinginan atau minat beli khalayak untuk memiliki atau menikmati produk.Dan pada akhirnya konsumen segera dapat melakukan suatu tindakan pembelian terhadapusaha pemasaran yang dilakukan (Action).HipotesisBerdasarkan uraian daiatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa semakin menarik dayatarik iklan pasta gigi sensodyne di televisi maka semakin tinggi pula minat beli konsumenterhadap pasta gigi sensodyneMetodologi Penelitian- Tipe Penelitian : Explanatory research, penelitian yang berusaha menjelaskanhubungan sebab akibat (kausal) antara variabel penelitian melalui pengujian hipotesisyang telah dirumuskan sebelumnya. Dalam penelitian ini variabel yang diteliti adalahantara Daya tarik iklan pasta gigi sesodyne di televisi (X) dengan minat pembelianproduk pasta gigi sensodyne (Y).- Populasi sasaran : Masyarakat yang ada di Kota Semarang, berusia 20 tahun keatas,pernah melihat tayangan iklan Sensodyne.- Teknik sample: accidental sampling.- Sample: 40 sample.- Analisis Data: Tabulasi silangHasil PenelitianPENGARUH DAYA TARIK IKLAN PRODUK PASTA GIGI SENSODYNETERHADAP MINAT PEMBELIAN PRODUK PASTA GIGI SENSODYNE-Tabulasi Silang-Hubungan Daya Tarik Iklan Produk Pasta Gigi Sensodyne dengan Minat PembelianProduk Pasta Gigi SensodyneDaya TarikIklan (X)Minat Pembelian (Y)TOTALSangatTinggiTinggi RendahSangatRendahSangatMenarik0 0 0 0 0Menarik 01(5,26%)10(52,63%)8(42,10%)19(100%)CukupMenarik0 05(31,25)11(68,75%)16(100%)TidakMenarik0 0 05(100%)5(100%)TOTA L 40Analisa Tabulasi SilangDari hasil tabel tabulasi silang di atas diketahui bahwa tidak terdapat penagruh antara dayatarik iklan pasta gigi sensodyne terhadap minat pembelian produk pasta gigi sensodyne. Halini menunjukan bahwwa penelitian yang dilakukan ini tidak terbukti atau negatif.Hal tersebut terlihat pada tabulasi silang dimana pada baris kedua, ketika daya tarikiklan menarik, pengelompokan responden terbanyak pada minat pembelian konsumen yangrendah, dengan perincian persentase sebesar 52,63%. Kemudian pada baris ketiga, ketikadaua tarik iklan cukup menarik, pengelompokan responden terbanyak ada pada minatpembelian konsumen sangat rendah, yaitu sebesar 68,75%. Pada baris keempat, ketika dayatarik iklan tidak menarik, pengelompokan responden terbanyak ada pada minat pembelianyang juga sangat rendah, yaitu sebesar 100%. Secara keseluruhan tabulasi silang tersebutmenggambarkan bahwa seberapapun daya tarik iklan pasta gigi sensodyne, minat pembelianproduk pasta gigi sensodyne tetap berada pada tingkat yang sangat rendah. Sehingga dapatdisimpulkan daya tarik iklan tidak mempengaruhi minat pembelian produk pasta ggisensodyne.Dalam penelitian ini terlihat bahwa daya tarik iklan tidak berbanding lurus denganminta pembembelian yang masih sangat rendah bagi konsumen. Hal ini bisa disebabkan jugamateri iklan yang kurang variatif dan kreatif. Dari awal peluncurannya sampai saat ini,produsen tetap mempertahankan gaya iklan kesaksian, tanpa adanya perubahan ataupenambahan materi iklan dan juga intensitas penayangan iklan yang masih minim, terbuktidari sebagian besar responden masih jarang melihat tayangan iklan sensodyne di mediatelevisi.PenutupBerdasarkan dari hasil temuan penelitian diatas maka dapat diambil kesimpulan sebagaiberikut:1. Hasil penelitian menunjukan bahwa daya tarik iklan pasta gigi sensodyne tidakmemberikan dampak atau pengaruh pada minat pembelian konsumen terhadap produkpasta gigi sensodyne.2. Strategi komunikasi atau strategi kreatif dalam bentuk periklanan yang dilakukanprodusen sensodyne belum mencapai hasil yang maksimal. Hal ini terlihat dari hasilpenelitian, yaitu walaupun iklan sensodyne masuk dalam kategori menarik namun minatpembelian konsumen terhadap produk sensodyne masih sangat rendah.SaranSetelah melakukan analisis dan kesimpulan, peneliti mengajukan beberapa saran kepadapihak-pihak yang terkait, antara lain:1. Berdasarkan dari tabulasi silang, daya tarik iklan belum mampu menggugah minatPembelian konsumen. Oleh karena itu sebaiknya sensodyne lebih melakukanpengembangan strategi kreatif dalam periklanan, seperti mungkin menambahkanendorser lainnya berupa kesaksian dari masyarakat yang telah menggunkan sensodyneatau mencoba menambahkan unsur musik dalam iklannya.2. Selain melakukan pengembangan strategi kreatif, sebaiknya juga ada pengembangandalam strategi media. Jadi sensodyne tidak hanya difokuskan melakukan kegiatanberiklan pada media televisi, melainkan juga pada media massa lainnya, seperti mediacetak atau media online. Hal ini dilakukan untuk terus menigkatkan awareness khalayakuntuk memperkuat positioning sensodyne dibanding kompetitornya agar ketikamasyarakat bersinggungan dengan persoalan gigi sensitif, akan ada peluang lebih besarkhalayak akan segera memilih sensodyne sebagai pemecah masalah persoalan mereka.3. Selain melakukan kegiatan promosi melalui periklanan, ada baiknya sensodyne jugamelakukan kegiatan-kegiatan yang langsung bersinggungan dengan khalayak, sepertimengadakan event atau acara-acara yang isinya mengedukasi masyarakat tentang segalahal terkait persoalan gigi sensitif dan juga cara menanganinya.DAFTAR PUSTAKADAFTAR BUKU Suyanto, M. (2007). Markting Strategi Top Brand Indonesia. Yogyakarta:CV. Andi Offset Suhandang, Kustadi. (2010). Periklanan Manajemen, Kiat dan Strategi.Bandung: Nuansa Morissan. (2010). Periklanan Komunikasi Pemasaran Terpadu Jakarta:Prenada Media Group Rakhmat, Jalaludin. (2009). Psikologi Komunikasi. Bandung:PT Remaja Rosdakarya Shimp, A Terence. (2003). Periklanan Promosi Aspek Tambahan KomunikasiPemasaran terpadu. Jakarta: Erlangga Widyatama, Rendra. (2009). Pengantar Periklanan. Yogyakarta:Pustaka Book Publisher Kasali, Rhenald. (1995). Manajemen Periklanan Konsep dan Aplikasinya diIndonesia. Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti Peter, J. Paul and Jerry C. Olson. (1999). Consumer Behavior: PerilakuKonsumen dan Strategi Pemasaran. Jakarta: Erlangga. Engel, James F., Roger D. Blackwell, Paul W. Miniard. (2000). PerilakuKonsumen. Jakarta: Binarupa Aksara Kottler, Philip. (2002). Marketing Manajemen. Jilid-1, Edisi Milenium. Jakarta:PT. Prenhallindo Kottler, Philip. (2002). Marketing Manajemen. Jilid-2, Edisi Milenium. Jakarta:PT. Prenhallindo Bungin, Burhan. (2005). Metodologi penelitian kuantitatif kopmunikasi, ekonomi,dan kebijakan publik, serta ilmu-ilmu lainnya. Jakarta: Prenada MediaINTERNET: http://www.antaranews.com/view/?i=1236663288&c=PRW&s= (Diunduh padatanggal 4 Oktober 2012 pukul 14.00) http://www.108csr.com/home/news.php?id=12574 (Diunduh pada tanggal 5oktober 2012 pukul 16.00) .http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/397493/44/ (Diunduhpada tanggal 5 oktober pukul 19.00) http://sensodyne.co.id/gigi_sensitive.html (Diunduh pada tanggal 14 Desember2012 pukul 15.00 WIB) -http://www.conectique.com/get_updated/article.php?article_id=4437 (Diunduhpada tanggal 14 Desember pukul 17.00) http://www.beritasurabaya.net/index_sub.php?category=9&id=7672&tags=Kesadaran--Merawat-Gigi-Sensitif-Masih-Rendah (Diunduh pada tanggal 15 Desemberpukul 09.00) file:///D:/LowKer%20Lowongan%20GlaxoSmithKline%20Indonesia%20Januari%202012.htm (Diunduh pada tanggal 15 Desember pukul 13.00)