cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Teknik PWK
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 2 (2013): Mei 2013" : 10 Documents clear
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HARGA LAHAN DI KAWASAN BANJARSARI KELURAHAN TEMBALANG, SEMARANG Nararya Adi Prasetya; PM. Broto Sunaryo
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 2 (2013): Mei 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (965.68 KB)

Abstract

Kota Semarang sebagai pusat pemerintahan Jawa Tengah sangat diminati dan dijadikan tujuan untuk mencari penghasilan yang lebih tinggi dari kota-kota atau kabupaten disekitarnya. Hal tersebut menyebabkan tingginya permintaan terhadap tempat tinggal dan permukiman di Kota Semarang. Harga lahan yang cukup tinggi pada pada pusat kota, tidak dapat dijangkau oleh masyarakat berpenghasilan rendah, hingga membuat masyarakat tersebut bergeser ke wilayah pinggiran kota. Berkembangnya Kota Semarang kearah selatan juga dipicu oleh pergeseran masyarakat yang tidak dapat mengakses lahan di pusat kota.Salah satu contoh kawasan suburban Semarang yang terus berkembang adalah kawasan Tembalang. Pergeseran pembangunan dari urban ke wilayah suburban, umumnya berawal dari pembangunan suatu fungsi kawasan baru, seperti kampus, industri, kantor pemerintahan, dan lain-lain. (Wunas, 2011:30). Kawasan Tembalang berkembang dari fungsi kawasan kampus yang berskala regional maupun nasional, dan juga adanya wacana dari pemerintah tentang pengembangan kota mandiri di kawasan Tembalang. Lama kelamaan wilayah pinggiran atau suburban yang sepi berubah padat ramai. Hingga terjadi anomali harga lahan di wilayah di Tembalang, yang secara khusus pada Kawasan Banjarsari. Tujuan penelitian yang dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi harga lahan di Kawasan Banjarsari, diangkat dari fenomena meroketnya harga lahan di kawasan Tembalang. Dengan pendekatan positivistik dan rasionalistik dari literature, teori serta fakta yang diperoleh dari studi empiris dengan wawancara dan kuesioner untuk mendapatkan variabel yang sesuai tentang harga lahan. Analisis R faktor digunakan untuk mengetahui faktor paling dominan, dengan menggugurkan, atau menggabungkan beberapa variabel yang mempengaruhi harga lahan di Kawasan Tembalang. Terdapat 11 variabel awal dan berkurang menjadi 10 variabel tetap. Dari 10 variabel tersebut menggabung dan terbentuk tiga faktor dominan, yaitu fasilitas, aksesibilitas, faktor supply and demand . Faktor yang memiliki kontribusi paling besar yaitu fasilitas (43,98%), dan faktor supply and demand yang paling kecil (12,82%).
PEMENUHAN KEBUTUHAN LAPANGAN OLAHRAGA DI LINGKUNGAN PERMUKIMAN KOTA SLAWI KABUPATEN TEGAL Lutfiyatul Wahdah; Diah Intan Kusumo Dewi
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 2 (2013): Mei 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1308.811 KB)

Abstract

Keberadaan lapangan olahraga di lingkungan permukiman kota Slawi pada saat ini mengalami penurunan. Hal tersebut dikarenakan adanya alih fungsi lahan seperti yang terjadi di Kelurahan Pakembaran yang sebelumnya lapangan olahraga berubah fungsi menjadi rumah tinggal. Sedangkan alih fungsi lahan pada lapangan olahraga di Desa Kalisapu berubah fungsi menjadi Taman Kanak-Kanak (TK). Alih fungsi lahan ini dikarenakan lahan yang dijadikan lapangan olahraga tersebut merupakan lahan pribadi milik salah satu warga, sehingga dapat berubah fungsi sesuai dengan kebutuhan pemiliknya. Untuk itu agar kebutuhan lapangan olahraga di lingkungan permukiman Kota Slawi dapat terpenuhi, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya keterkaitan dalam persepsi masyarakat mengenai pemenuhan kebutuhan lapangan olahraga di lingkungan permukiman Kota Slawi. Untuk mencapai tujuan yang diinginkan, maka tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah analisis karakteristik sosial ekonomi masyarakat, analisis pemenuhan kebutuhan lapangan olahraga, dan analisis keterkaitan dalam persepsi masyarakat mengenai pemenuhan kebutuhan lapangan olahraga di lingkungan permukiman Kota Slawi. Adapun metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah observasi lapangan, wawancara terstruktur, penyebaran kuisioner, dan telaah dokumen. Informasi yang diperoleh dari hasil penelitian ini adalah penyediaan lapangan olahraga di lingkungan permukiman Kota Slawi tidah hanya dilihat dari peraturan normatif maupun jumlah penduduk yang terlayani, namun dilihat juga dari persepsi masyarakat sehingga dalam penyediaannya tersebut dapat disesuaikan dengan fungsi dan kebutuhan masyarakat.
PELAYANAN LINTAS BATAS DAERAH RSUD UNGARAN DI KAWASAN PERBATASAN KABUPATEN SEMARANG DAN KOTA SEMARANG Wahidiyat Indra Lesmana; Hadi Wahyono
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 2 (2013): Mei 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (771.651 KB)

Abstract

Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menjelaskan bahwa pemerintah daerah mempunyai kewenangan yang menjadi urusan wajib. Salah satu kewenangan yang menjadi urusan wajib pemerintahan daerah untuk kabupaten/kota yaitu penyediaan sarana umum. Rumah sakit sebagai salah satu sarana kesehatan bagi masyarakat umum wajib disediakan oleh masing-masing pemerintah daerah. Pelayanan umum yang diberikan pemerintah daerah harus mampu melayani seluruh wilayah baik yang berada di pusat kota maupun perbatasan. Adapun pertanyaan yang harus terjawab adalah bagaimana pelayanan RSUD Ungaran yang terletak di kawasan perbatasan dan mengapa terjadi pelayanan lintas batas daerah dalam pemanfaatannya? Metode yang dilakukan dengan wawancara terhadap narasumber kunci, observasi lapangan dan telaah dokumen. Pendekatan yang dilakukan dengan merumuskan tema-tema tertentu yang merupakan hasil dari wawancara. Hasilnya RSUD Ungaran merupakan rumah sakit lintas batas daerah yang melayani masyarakat di Kabupaten Semarang dan di luar Kabupaten Semarang, didukung oleh jenis pelayanan yang lengkap, sarana prasarana yang memadai, lokasi yang strategis dan aksesibilitas mudah.
KAJIAN KUALITAS PERMUKIMAN DENGAN CITRA QUICKBIRD DAN SIG DI KECAMATAN SERENGAN KOTA SURAKARTA Wahyu Tirto Prasetyo; Sri Rahayu
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 2 (2013): Mei 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (931.353 KB)

Abstract

Masalah permukiman di Indonesia, terutama untuk wilayah perkotaan, disebabkan karena besarnya jumlah penduduk dan perkembangan penduduk secara pesat. Sebagaimana negara -negara yang sedang berkembang. Permasalahan utama yang terjadi di kota ini adalah masalah permukiman manusia, yang pada umumnya disebabkan karena semakin meningkatnya jumlah penduduk. Salah satu wilayah yang terkena dampak tersebut adalah Kecamatan Serengan, Kota Surakarta. Perkembangan Kecamatan Serengan ini kian pesat menjadikan kawasan ini memiliki permukiman yang sangat padat dan memiliki kompleksitas masalah permukiman. Penelitian ini mengkaji tentang bagaimana kualitas permukiman di Kecamatan Serengan, Kota Surakarta, metode yang digunakan adalah skoring dan overlay berdasarkan 11 parameter kualitas permukiman, menggunakan software GIS. Dari penelitian ini dapat diketahui bahwa luas wilayah yang berkondisi baik 80,67 Ha menyebar hampir di seluruh Kelurahan yang ada di Kecamatan Serengan kecuali untuk Kelurahan Joyontakan. Kondisi sedang 100,71 Ha berada di Kelurahan Tipes, Serengan, dan Joyontakan, sedangkan yang berkondisi buruk 40,67 Ha berada disebagian Kelurahan Joyontakan.
KAJIAN MIGRASI PEKERJA SIRKULER DI KOTA SEMARANG DAN FENOMENA TRANSFER REMITAN KE DAERAH ASAL Wijoseno Wijoseno; Mohammad Muktiali
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 2 (2013): Mei 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1165.494 KB)

Abstract

Perkembangan ekonomi Kota Semarang yang bertumpu pada sektor perdagangan dan jasa serta sektor industri telah mampu menyediakan lapangan kerja dan menyerap tenaga kerja baik itu dari dalam maupun dari luar daerah sehingga menjadi daya tarik sebagai daerah tujuan migrasi. Dalam perkembangannya, migrasi sirkuler justru lebih menonjol karena aktivitas migrasi sirkuler mampu meningkatnya kesejahteraan ekonomi keluarga di daerah asal melalui transfer pendapatan ke daerah asal (remitan). Penelitian ini bertujuan membahas fenomena migrasi sirkuler di Kota Semarang dengan cakupan pembahasan penelitian meliputi karakteristik migran, pola migrasi berdasarkan dimensi keruangan dan waktu, faktor yang mempengaruhi keputusan migrasi sirkuler, faktor yang mempengaruhi besaran remitan, serta pola penggunaan remitan. Teknik analisis Binomial Logistic Regression digunakan untuk menguji hubungan faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan migrasi sirkuler, dimana variable terikatnya adalah keputusan menetap atau tidak menetap di tempat tujuan, sementara variable bebasnya adalah: umur, pendidikan, status perkawinan, penghasilan, kepemilikan asset/lahan, status pekerjaan asal, dan jarak. Hasil analisis Binomial Logistic Regression menunjukkan ada tiga variable bebas yang berpengaruh signifikan terhadap keputusan melakukan migrasi sirkuler yaitu status pernikahan, kepemilikan lahan dan penghasilan. Analisis Regresi Linier Berganda digunakan untuk menguji faktor-faktor yang mempengaruhi besaran remitan. Berdasarkan hasil analisis Regresi Linier Berganda manunjukkan ada 5 variabel yang berpengaruh signifikan terhadap besaran kiriman remitan yaitu variable status pernikahan, tingkat pendidikan, pendapatan, pengeluaran di kota dan jumlah tanggungan keluarga. Sementara variable bebas yang tidak berpengaruh signifikan adalah variable lama migrasi. Penggunaan remitan sebagian besar untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari karena mobilitas pekerja sirkuler ke kota karena tekanan kemiskinan dan ketebatasan ekonomi dalam mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka.
KESERIUSAN DAN KONSEKUENSI SIKAP PEMERINTAH DAERAH TERHADAP PELESTARIAN DI KAWASAN KOTA LAMA SEMARANG Nursiyama Linda Widyawati; Joesron Alie Syahbana
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 2 (2013): Mei 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (870.654 KB)

Abstract

Kota Lama semarang disebut juga Little Netherland karena pada zaman Kolonial Belanda kawasan ini merupakan pusat pemerintahan. Sebagai bekas pusat pemerintahan,  kawasan ini memiliki bangunan-bangunan tua peninggalan Belanda yang menjadi saksi bisu perkembangan Kota Semarang. Bangunan-bangunan tua peninggalan sejarah tersebut merupakan bangunan BCB sehingga kawasan ini dilindungi dan dilestarikan oleh pemerintah. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji Keseriusan dan Konsekuensi Sikap Pemerintah Daerah terhadap pelestarian di Kawasan Kota Lama Semarang yang telah dilakukan selama ±25 tahun.  Metode penelitian yang digunakan adalah metode delphi dengan analisis kuantitatif dan kualitatif. Cara pengumpulan data dengan survei primer dengan observasi lapangan dan survei sekunder yaitu dengan studi literatur. Hasil penelitian ini berupa tingkat keseriusan pemerintah daerah terhadap pelestarian di Kawasan kota Lama Semarang dan akibat yang harus ditanggung pemerintah dengan melakukan pelestarian Kawasan Kota Lama Semarang.
PROSES INOVASI PADA KLASTER KAMPOENG BATIK LAWEYAN KOTA SURAKARTA Ridho Maruli S; Mohammad Muktiali
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 2 (2013): Mei 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (764.409 KB)

Abstract

Pelaku usaha di Klaster Kampoeng Batik Laweyan menerapkan inovasi sebagai solusi dari permasalahan yang ada. Inovasi-inovasi ini diterapkan pada rantai nilai produksi (pada input, proses, output dan pemasaran). Sumber inovasi berasal dari pelaku usaha dalam klaster, permintaan pasar atau konsumen, dan pihak akedemisi. Pelopor utama pada klaster ini adalah Alpha Fabela, Bambang Slamento dan Saud Efendi. Motivasi utama mereka melakukan inovasi untuk meneruskan industri batik yang sudah menjadi warisan budaya turun temurun sedangkan motivasi utama pengikut melakukan inovasi adalah keuntungan ekonomi. Proses adopsi inovasi-inovasi ini mengalami beberapa tahapan, yaitu: kesadaran, ketertarikan, percobaan, evaluasi dan pengangkatan. Sedangkan difusi inovasi terjadi melalui saluran komunikasi FPKBL dan interaksi sosial pelaku usaha. Inovasi-inovasi ini berhasil meningkatkan daya saing produk batik Laweyan, terlihat dari wilayah pemasarannya yang tidak hanya di dalam negeri tetapi sampai ke luar negeri.
KAJIAN EKSISTENSI PASAR TRADISIONAL KOTA SURAKARTA Maritfa Nika Andriani; Mohammad Mukti Ali
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 2 (2013): Mei 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (791.417 KB)

Abstract

Surakarta city covers five districts inhabited by about 588,110 people and as a center of growth by population more than 500 thousand people in the hinterland region so that be the target of the modern market as it has tremendous market share. The development of modern markets was increasing in Surakarta both located in the city center and located in rural areas and the border with the surrounding area. It makes traditional markets become marginalized. In fact, hundreds to thousands of lives traders rely on traditional markets. Traditional markets are spearheading of community economy so that it needs to get serious attention in order to remain in existence or even can increase their existence so as to support the welfare of trader. Therefore, it appears research question “How does the existence of the traditional market town of Surakarta?” The research objects are Legi market and Mojosongo market of Surakarta city. While the limits of the existence that referred to in this study is the existence of traditional market that have an survive element which recognized by others as the sustainability activities of the traditional market itself that experiencing growth, stagnation, or even decline depends on the ability to actualize its potential. The purpose of this study was to determine the existence condition of Legi Markets and Mojosongo Market, what it is experiencing growth, stagnation or decline? What the attempt can be done to maintain the existence of both the traditional markets? In assessing the existence of the traditional market of Surakarta city are analyzed three targets included: analysis of traditional markets existences, determine the condition of traditional markets existences based on the characteristics of market, traders and visitors perceptions of market to traditional market existences. After knowing the condition of their existence then next analysis is what the attempt can be done to maintain the existence of traditional markets through two analyzes include analysis of government policies related to traditional markets and analysis of social capital as an effort of traders to maintain the existence of the traditional market. Research approach with mixed method is a method that combines quantitative methods and qualitative methods by using qualitative methods is more dominant than quantitative methods. The techniques of primary data collection were performed by field observations, questionnaires to traders and visitors of the market, and interview the parties involved. Secondary data was obtained from a literature review and survey the agencies. From the stages of the analysis carried out can be concluded that the existence of Mojosongo market is in a stagnation existence condition, while the existence of Legi market is in decline existence conditions. The efforts to maintain the existence of both the traditional markets are with regulatory policy and development of market infrastructure as well as maintain the social capital consists of norms, beliefs, and bargaining as an effort of traders to maintain the existence of traditional markets. One of the recommendations given is to provide and improve facilities and infrastructure of markets both located in the market and in the market Legi Mojosongo so that visitors feel comfortable when shopping and are reluctant to switch to other markets which the market infrastructure is better than that found in both the traditional markets, and in order to maintain the social capital consists of the norms, beliefs, and bargaining where social capital can maintain a relationship of buyers trust and increase loyalty buyers to keep coming back to shop at traditional markets.
UPAYA PELESTARIAN KAMPUNG KAUMAN SEMARANG SEBAGAI KAWASAN WISATA BUDAYA Kartika Yuliana K; Rina Kurniati
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 2 (2013): Mei 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1372.396 KB)

Abstract

Kawasan bersejarah merupakan suatu kawasan yang didalamnya terdapat berbagai peninggalan masa lampau dan membentuk suatu kota, baik berupa fisik historis maupun berupa nilai dan pola hidup masyarakatnya, serta kepercayaanya. Kauman merupakan salah satu cikal bakal pertumbuhan Kota Semarang. Dahulu kampung Kauman merupakan kampung para santri, kini telah mengalami perubahan menjadi kawasan perdagangan dan jasa dan semakin lama unsur hitoris dari Kauman hilang dan tergantikan oleh unsur modern. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk merumuskan pelestarian pada Kampung Kauman Semarang sebagai kawasan wisata budaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini melalui pendekatan kualitatif yang berupa metode analisis deskriptif kualitatif untuk menggambarkan karakteristik kampung kauman dan sosial budaya masyarakat kampung Kauman yang akan dikaji lebih lanjut. Hasil dari penelitan ini yang berdasarkan dari analisis yang sudah dilakukan, diketahui bahwa kawasan Kampung Kauman beralih fungsi menjadi kawasan perdagangan dan jasa, yang dahulunya merupakan kawasan permukiman. Bangunan tradisional yang ada di permukiman sudah mulai berubah seiring dengan banyaknya pendatang yang datang dan memilih untuk membangun bangunan yang modern. Namun, ciri khas yang masih melekat pada Kauman ini adalah Masjid Besar Kauman yang menjadi pusat kegiatan keagamaan di Kauman maupun Kota Semarang. Masjid ini adalah satu-satunya bangunan yang kokoh berdiri dan merupakan peninggalan sejarah Kampung Kauman. Walaupun seperti itu, kegiatan sosial budaya di Kauman seperti dugderan masih dilakukan sampai sekarang dan kegiatan keagaman yang masih sangat kental di kampung ini. Dari analisis-analisis sebelumnya akan menghasilkan konsep keberlanjutan untuk Kampung Kauman agar tetap menjadi kampung kota bersejarah bagi Semarang dan wisata budaya untuk Semarang.
TINGKAT KEKRITISAN LAHAN DI KECAMATAN GUNUNGPATI KOTA SEMARANG Aidy Huzaini; Sri Rahayu
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 2 (2013): Mei 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1165.494 KB)

Abstract

Sub DAS Garang hulu yang terletak di bagian atas Kota Semarang tepatnya pada Kecamatan Gunungpati pada saat ini telah mengalami gangguan, berupa alih fungsi lahan hutan menjadi lahan pertanian dan permukiman yang tidak memperhatikan syarat-syarat konservasi tanah dan air yang mana secara hidrologis merupakan daerah resapan untuk wilayah kota Semarang. Pemanfaatan lahan yang tidak memperhatikan kaidah-kaidah konservasi tanah dan air di Kecamatan Gunungpati berpotensi menyebabkan terjadinya degradasi lahan yang pada akhirnya akan menimbulkan lahan kritis. Hal ini dapat dilihat dari dampak lanjutan dari adanya lahan kritis yaitu permasalahan banjir di daerah Semarang bawah. Menururt Soedarjanto dan Syaiful (2003) lahan kritis adalah lahan/tanah yang saat ini tidak produktif karena pengelolaan dan penggunaan tanah yang tidak/kurang memperhatikan syarat-syarat konservasi tanah dan air sehingga menimbulkan erosi, kerusakan- kerusakan kimia, fisik, tata air dan lingkungannya. Berangkat dari permasalahan diatas maka dilakukan sebuah penelitian tentang perubahan tingkat kekritisan lahan di Kecamatan Gunungpati Semarang yang merupakan bagian dari Sub Das Garang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kekritisan lahan di Kecamatan Gunungpati Kota Semarang selama kurun waktu 5 tahun yaitu tahun 2006 dan 2010. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode overlay,skoring serta pembobotan. Tingkat kekritisan lahan di Kecamatan Gunungpati dibedakan menjadi 5 (lima) kategori yaitu, lahan dengan kondisi sangat kritis, kritis, agak kritis, potensial kritis dan lahan tidak kritis. Hasil analsis menjelaskan bahwa peningkatan kekritisan lahan di Kecamatan Gunungpati lebih didominasi pada perubahan lahan tidak kritis menjadi lahan potensial kritis seluas 249,94 hektar dengan wilayah terluas terdapat di Kelurahan Kalisegoro 67,14 hektar dan di Kelurahan Sumurrejo seluas 31,34 hektar. Dari perubahan-perubahan tingkat kekritisan lahan di Kecamatan Gunungpati selama kurun waktu 5 tahun yaitu dari tahun 2006-2010 diperoleh suatu fenomena dimana kerapatan tajuk/vegetasi sangat berperan besar dalam kekritisan suatu lahan pada fungsi kawasan lindung dan penyangga, sedangkan tingkat produktivitas lahan dan manajemen lahan berpengaruh besar pada kawasan budidaya. Kecamatan Gunungpati yang pada dasarnya merupakan daerah tangkapan air untuk Kota Semarang yang saat ini telah mengalami gangguan pada kondisi lahannya. Salah satu usaha yang dapat dilakukan oleh masyrakat di Kecamatan Gunungpati untuk meminimalisir peningkatan kekritisan lahan yang terjadi yaitu dengan memberdayakan lahan- lahan tidur (tegalan, tanah kosong) sesuai aturan konservasi tanah. Pemberdayaan lahan tidur ini nantinya mampu meningkatkan nilai lahan itu sendiri baik terutama dari segi produktivitas.

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2013 2013


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 3 (2024): Agustus 2024 Vol 13, No 2 (2024): Mei 2024 Vol 13, No 1 (2024): Februari 2024 Vol 12, No 4 (2023): November 2023 Vol 12, No 3 (2023): Agustus 2023 Vol 12, No 2 (2023): Mei 2023 Vol 12, No 1 (2023): Februari 2023 Vol 11, No 4 (2022): November 2022 Vol 11, No 3 (2022): Agustus 2022 Vol 11, No 2 (2022): Mei 2022 Vol 11, No 1 (2022): Februari 2022 Vol 10, No 4 (2021): November 2021 Vol 10, No 3 (2021): Agustus 2021 Vol 10, No 2 (2021): Mei 2021 Vol 10, No 1 (2021): Februari 2021 Vol 9, No 4 (2020): November 2020 Vol 9, No 3 (2020): Agustus 2020 Vol 9, No 2 (2020): Mei 2020 Vol 9, No 1 (2020): Februari 2020 Vol 8, No 4 (2019): November 2019 Vol 8, No 3 (2019): Agustus 2019 Vol 8, No 2 (2019): Mei 2019 Vol 8, No 1 (2019): Februari 2019 Vol 7, No 4 (2018): November 2018 Vol 7, No 3 (2018): Agustus 2018 Vol 7, No 2 (2018): Mei 2018 Vol 7, No 1 (2018): Februari 2018 Vol 6, No 4 (2017): November 2017 Vol 6, No 3 (2017): Agustus 2017 Vol 6, No 2 (2017): Mei 2017 Vol 6, No 1 (2017): Februari 2017 Vol 5, No 4 (2016): November 2016 Vol 5, No 3 (2016): Agustus 2016 Vol 5, No 2 (2016): Mei 2016 Vol 5, No 1 (2016): Januari 2016 Vol 4, No 4 (2015): November 2015 Vol 4, No 3 (2015): Agustus 2015 Vol 4, No 2 (2015): Mei 2015 Vol 4, No 1 (2015): Februari 2015 Vol 3, No 4 (2014): November 2014 Vol 3, No 3 (2014): Agustus 2014 Vol 3, No 2 (2014): Mei 2014 Vol 3, No 1 (2014): Februari 2014 Vol 2, No 4 (2013): November 2013 Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013 Vol 2, No 2 (2013): Mei 2013 Vol 2, No 1 (2013): Februari 2013 Vol 1, No 1 (2012): November 2012 More Issue