Retorik: Jurnal Ilmu Humaniora
Retorik: Jurnal Ilmu Humaniora was founded in 2001 with the aim of seeking a new scientific ethos in the humanities with an interdisciplinary, political, and textual spirit. It was, and still remains, the aspiration of Retorik to foster humanities research with a scientific ethos capable of responding to the needs of the Indonesian society that continues to strive to become more democratic, just, and pluralistic in the aftermath of long authoritarian rule, under social, economic, and political conditions still characterized by inequality. In its interdisciplinary spirit, Retorik has drawn insights from an array of disciplines, most notably, political economy, language (including semiotics), and psychoanalysis, to that end. As various managerial requirements stifle the passion for academic and intellectual life, while simultaneously in the broader Indonesian society, the ideals of Reformation are frustrated by political and economic oligarchy that continues to exist with impunity, Retorik affirms the need to defend a scientific ethos at present, for the future. In light of its aims, Retorik promotes original research that makes advances in the following areas: 1. Historically-informed studies that engage with the conditions, contexts, and relations of power within which the humanities were born, and with which the humanities are entwined. 2. Dialogues with various disciplines in the humanities and social sciences, including history, sociology, psychology, and anthropology. 3. Interdisciplinary research pertaining to critical pedagogy, religious and cultural studies, art studies, and new social movements. 4. Experimentation with new forms of knowledge that foster the formation of a more democratic, just, and plural society. 5. Studies that are sensitive to the vital role of both technology and art in contemporary society and seek to understand the ways in which art, technology, and economy together contribute to the formation of contemporary cultures and societies.
Articles
6 Documents
Sebuah Tempat Bernama Alfaz: Memori Kolektif Masa Kecil Penyintas Bencana Lumpur Lapindo
Muhammad Fahmi Nurcahyo
Retorik: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 14 No. 1 (2026): Retorik 14(1)
Publisher : Graduate Program in Cultural Studies, Sanata Dharma University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24071/ret.v14i1.628
Tulisan ini secara garis besar berusaha melihat secara dalam praktik mengingat para penyintas lumpur lapindo pasca pindah dari desa asalnya. Mengambil fokus pada arek-arek Alfaz, kelompok penyintas bencana lumpur Lapindo dan ingatan masa kecil mereka tentang kampung asal—Desa Besuki Timur—yang dulu terpaksa ditinggalkan akibat terdampak bencana. Lebih jauh lagi, tulisan ini bermaksud melihat bagaimana cara mereka mengenang masa lalu dan kaitannya dengan proses hidup di masa kini. Kepingan-kepingan ingatan dikumpulkan melalui wawancara langsung terhadap enam partisipan dan kemudian dianalisis menggunakan pisau memori koleltif Halbwachs. Hasil analisis menunjukkan, meskipun menjadi bagian dari kelompok penyintas lumpur Lapindo yang lebih besar, arek-arek Alfaz memiliki kekhasan dalam praktik memori mereka. Pengalaman saat di Sanggar Alfaz menjadi memori kolektif tentang kampung halaman serta bencana yang menghancurkannya. Memori terkait Sanggar Alfaz dan Besuki Timur lebih kuat ketimbang memori tentang bencana yang terjadi. Selain itu, Sanggar Alfaz juga menjadi ruang dimana ingatan-ingatan tentang kampung Besuki Timur diwariskan dan dikonstruksikan oleh generasi terdahulu.
Tembok yang Bicara: Grafiti Demonstran di Gedung DPRD DI Yogyakarta dalam Perspektif Agonisme
Obed Bima Wicandra
Retorik: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 14 No. 1 (2026): Retorik 14(1)
Publisher : Graduate Program in Cultural Studies, Sanata Dharma University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24071/ret.v14i1.631
Artikel ini menganalisis secara kritis keberadaan grafiti yang muncul di gedung DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta saat demonstrasi menolak RUU TNI pada bulan Maret 2025. Gedung tersebut merupakan bangunan cagar budaya (telah ditetapkan melalui Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 76/Kep/2023), sehingga tindakan mencoret dindingnya kerap dilihat sebagai kriminalitas. Namun, melalui pendekatan kualitatif dengan metode semiotik, artikel ini menggali makna dari peristiwa tersebut, bahwa grafiti menjadi bentuk ekspresi politik yang mencerminkan krisis representasi dan absennya ruang dengar formal bagi rakyat. Artikel ini menggunakan perspektif Chantal Mouffe tentang demokrasi agonistik yang menempatkan konflik sebagai elemen esensial dalam demokrasi yang sehat. Dalam konteks ini, grafiti menjadi praktik politik yang menantang hegemoni narasi “kesantunan” dan “budaya lokal” yang sering digunakan untuk menindas bentuk-bentuk perlawanan alternatif. Hasil pembacaan menunjukkan bahwa tindakan mencoret dinding seharusnya tidak dibaca sebagai kriminalitas semata, melainkan ekspresi dari kehendak hadir mereka yang selama ini disingkirkan dari forum formal. Grafiti juga menjadi medium untuk membuka ruang publik yang lebih terbuka terhadap konflik, perbedaan, dan perlawanan.
Menyurat Takdir Pernikahan: Transendentalisasi, Institusionalisasi, dan Normalisasi
Judith Nooryani Chanutomo
Retorik: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 14 No. 1 (2026): Retorik 14(1)
Publisher : Graduate Program in Cultural Studies, Sanata Dharma University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24071/ret.v14i1.639
Pernikahan dalam banyak masyarakat, termasuk Indonesia, kerap dipandang sebagai jenjang hidup yang alami dan tak terhindarkan. Ia hadir sebagai semacam “takdir sosial” yang jarang dipertanyakan. Artikel ini memandang keniscayaan tersebut bukan sebagai fakta kodrati, melainkan sebagai efek dari operasi wacana dan relasi kuasa. Dengan menggunakan kerangka teori wacana Foucauldian dan pendekatan genealogis, penelitian ini menelusuri mekanisme diskursif yang memproduksi pernikahan sebagai sesuatu yang tampak alami, wajar, dan final. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan empat informan kelas menengah, terdiri atas dua laki-laki dan dua perempuan yang pernah menikah dan kemudian bercerai. Narasi retrospektif mereka dianalisis sebagai praktik diskursif yang memperlihatkan bagaimana norma pernikahan diinternalisasi, dinegosiasikan, dan dipertanyakan dalam pengalaman hidup. Hasil analisis menunjukkan bahwa keniscayaan pernikahan diproduksi melalui tiga strategi utama: transendentalisasi, yang menautkan pernikahan dengan kehendak ilahi; institusionalisasi, yang menempatkannya dalam jaringan hukum, keluarga, dan birokrasi sosial; serta normalisasi, yang menetapkannya sebagai satu-satunya jalur hidup yang wajar. Ketiga strategi ini diperkuat oleh prosedur eksklusi yang menstigma perceraian sebagai deviasi moral dan kegagalan personal. Dengan demikian, artikel ini menunjukkan bahwa apa yang tampak sebagai “takdir” sesungguhnya merupakan hasil dari operasi diskursif yang kompleks dalam membentuk norma, kebenaran, dan subjektivitas mengenai pernikahan.
In Defense of the House Style: AI screening, footnotes, and mengapa Retorik tidak dioptimalkan untuk akreditasi SINTA
Min Seong Kim
Retorik: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 14 No. 1 (2026): Retorik 14(1)
Publisher : Graduate Program in Cultural Studies, Sanata Dharma University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24071/ret.v14i1.640
In this editorial, I explain the choices that Retorik has made regarding citation style and the use of generative AI in articles, including its decision not to adopt threshold-based AI-detection cutoffs. I also elaborate on the mandatory inclusion of author statements, starting with volume 14, issue 1. I present the choices that pertain to the form of the journal—such as the preference for Chicago’s notes-and-bibliography citation style—as deliberate attempts to embody something of the journal’s substance, that is, its critical orientation. Although Retorik cannot afford to ignore the requirements of Indonesia’s academic-governance apparatuses, this does not entail passive acquiescence to trends that represent the very objects of cultural criticism. If, as Theodor Adorno wrote, “[w]rong life cannot be lived rightly,” it is nonetheless possible to strive to “live less wrongly.”
Hidup di Ruang Antara: Membaca Sekolah Adat Arus Kualan melalui Lensa Empire dan Multitude
Bernarda Prihartanti
Retorik: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 14 No. 1 (2026): Retorik 14(1)
Publisher : Graduate Program in Cultural Studies, Sanata Dharma University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24071/ret.v14i1.681
Penelitian ini berangkat dari kegelisahan identitas dan kegelisahan kolektif masyarakat Dayak Simpakng terhadap rapuhnya pengetahuan ekologis, spiritual, dan kultural mereka akibat ekspansi pembangunan, logika kapitalisme ekstraktif, serta dominasi pendidikan formal melalui standardisasi cara belajar. Dalam konteks tersebut, Sekolah Adat Arus Kualan (SAAK) lahir sebagai respons komunitas untuk memulihkan relasi pengetahuan dan menegosiasikan posisi mereka dalam arus kekuasaan modern. Tujuan penelitian ini ialah menelusuri pendirian SAAK, menarasikan praktik dan relasi yang membentuk kehidupan belajar di dalamnya, serta menganalisis dinamika kekuasaan dan bentuk-bentuk resistensi komunitas menggunakan kerangka teori empire dan multitude. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui observasi nonpartisipan, wawancara mendalam, serta analisis dokumen komunitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SAAK berfungsi sebagai ruang hibrid, di mana komunitas mengelola ketegangan antara pengetahuan adat dan standar pendidikan formal modern. Praktik belajar berbasis relasi ekologis, pengalaman tubuh, dan etika kebersamaan menunjukkan produksi kehidupan yang selaras dengan potensi multitude. Kesimpulannya, SAAK tidak sepenuhnya terbebas dari logika empire—yang tampak melalui keterkaitannya pada jaringan LSM/NGO, kebutuhan legitimasi dari negara, dan keterlibatan dalam skema administrasi dan pengakuan formal. SAAK juga memperlihatkan potensi multitude melalui praktik-praktik merawat pengetahuan lokal, memperkuat agensi komunitas, dan membuka kemungkinan politik alternatif bagi keberlanjutan identitas dan kosmologi masyarakat Dayak Simpakng di tengah tekanan modernitas.
Negotiating Social Criticism in the Post New Order Press: A Study of Timun Comic Strip in Kompas Newspaper
Aditia Muara Padiatra;
Faruk Tripoli;
Dian Arymami
Retorik: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 14 No. 1 (2026): Retorik 14(1)
Publisher : Graduate Program in Cultural Studies, Sanata Dharma University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24071/ret.v14i1.706
This article examines the comic strip “Timun,” published in the Kompas newspaper, as a form of social critique in post-New Order Indonesian press. It explores how the visual representations in the strip articulate subtle forms of satire on social and political conditions in contemporary Indonesia. Through a visual semiotic analysis of selected strips, the article demonstrates that Timun uses satirical and ironic situations to reflect tensions in society while simultaneously negotiating within the editorial policies of mainstream media. Rather than conveying direct political critique, the strip operates through what can be described as “visual negotiation,” where humor becomes a strategy for expressing dissent in a moderated form. These findings suggest that comic strips in mainstream newspapers function not only as entertainment but also as cultural products in which social critique can emerge in subtle and negotiated ways.