cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 1 (2017): Wisuda Periode Bulan Januari 2017" : 7 Documents clear
PENGARUH PENAMBAHAN ASAP CAIR TERHADAP TINGKAT OKSIDASI IKAN KEMBUNG (RASTRELLIGER SP) ASIN DENGAN METODE PENGERINGAN YANG BERBEDA Manurung, Hendro J; Swastawati, Fronthea; Wijayanti, Ima
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Vol 6, No 1 (2017): Wisuda Periode Bulan Januari 2017
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (355.763 KB)

Abstract

Produksi ikan kembung (rastrelliger sp) melimpah di Indonesia, ikan ini mempunyai ciri ikan yang hidupnya bergerombol. Ikan ini biasanya diolah oleh masyarakat menjadi ikan kembung asin, ikan kembung asin diduga mempunyai kandungan lemak tak jenuh yang berpotensi menyebabkan terjadinya oksidasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan asap cair dan metode pengeringan yang berbeda pada tingkat oksidasi ikan kembung asin. Materi yang digunakan adalah ikan kembung asin, asap cair, garam dan aquadest. Metode penelitian yang digunakan adalah experimental laboratory dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial. Faktor pertama adalah perlakuan konsentrasi asap cair (0% dan 3%) dan faktor kedua adalah metode pengeringan (sinar matahari dan oven) yaitu sebagai main plot. Data hasil nilai organoleptik diuji dengan Kruskal Wallis, sedangkan hasil nilai kadar air, kadar protein, kadar lemak, kadar abu, asam lemak bebas (Fatty Free Acid) dan Peroksida Value diuji menggunakan uji ANOVA. Hasil penelitian menunjukan konsentrasi dan metode pengeringan berpengaruh nyata pada nilai pv, ffa, kadar air, protein, dan abu ikan kembung asin, namun tidak berpengaruh nyata pada kadar lemak. Konsentrasi asap cair 3% dan metode pengeringan dengan sinar matahari dapat mencegah terjadinya kenaikan pv, ffa, kadar air, protein dan abu dibandingkan dengan kontrol ikan kembung asin. Penelitian ini menunjukan perlakuan terbaik didapat pada ikan kembung asin penambahan konsentrasi asap cair 3% dengan metode pengeringan sinar matahari diperoleh nilai pv 7.10 mq/kg,  ffa  0.97%, kadar air 24,20%, protein 43.48%, dan abu 16.54% dibandingkan. Kesimpulannya adalah penambahan asap cair dan metode pengeringan berbeda dapat mempengaruhi tingkat oksidasi pada ikan kembung asin.
APLIKASI KARAGENAN TERHADAP KEKUATAN GEL PADA PRODUK KAMABOKO DARI IKAN YANG BERBEDA Sitompul, Ryan; Darmanto, Y S; Romadhon, Romadhon
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Vol 6, No 1 (2017): Wisuda Periode Bulan Januari 2017
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (755.232 KB)

Abstract

Kamaboko merupakan salah satu produk diversifikasi perikanan yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Banyak metode yang dilakukan untuk meningkatkan kekuatan gel pada kamaboko, salah satunya adalah dengan penambahan Karagenan. Tujuan dari penelitian ini adalah pengaruh penambahan karagenan terhadap karakteristik dari kamaboko ikan gabus, ikan belanak, dan ikan tenggiri. Metode yang digunakan bersifat experimental laboratories dengan rancangan acak lengkap faktorial 3x2 dengan perlakuan tiga jenis ikan (Belanak, Gabus, dan Tenggiri) dan konsentrasi karagenan (0% dan 1,5%). Penelitian ini dilakukan 3 kali ulangan pada tiap perlakuan. Data yang diperoleh dianalisa menggunakan analisa ragam (ANOVA). Untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan dilakukan uji beda nyata jujur, sedangkan untuk data organoleptik menggunakan uji Kruskall-Wallis dilanjutkan dengan uji Multiple comparison. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karagenan memberikan pengaruh yang berbeda nyata (P<0,05) terhadap gell strength, derajat putih, kadar air, kadar protein, uji gigit, uji lipat dan hedonik kecuali kadar lemak. Karagenan memberikan pengaruh pada produk kamaboko. Kamaboko dari ikan tenggiri dengan penambahan karagenan 1,5% mempunyai kualitas terbaik dari ikan belanak dan ikan gabus dengan nilai gell strength 1370g.cm, derajat putih 47,33%, kadar air 68,31%, kadar lemak 3,45%, kadar protein 21,45%.
KARAKTERISTIK NASI ANALOG TEPUNG MOCAF DENGAN PENAMBAHAN TEPUNG RUMPUT LAUT Gracilaria verrucosa DAN TIGA JENIS KOLAGEN TULANG IKAN Spiraliga, Regina Religia; Darmanto, Y S; Amalia, Ulfah
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Vol 6, No 1 (2017): Wisuda Periode Bulan Januari 2017
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (564.391 KB)

Abstract

Nasi analog dengan penambahan tepung rumput laut untuk memperkaya serat telah benyak dilakukan dan mendapatkan hasil yang baik. Nasi analog rumput laut masih memiliki kekurangan, yaitu rendahnya kandungan protein sehingga belum mampu melebihi protein beras sosoh. Nasi analog formulasi tepung mocaf dengan penambahan tepung rumput laut dan kolagen tulang ikan diharapkan dapat menghasilkan nasi kaya serat, tinggi protein, dan rendah IG. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui: pengaruh penambahan kolagen terhadap komposisi proksimat nasi analog formulasi tepung mocaf dan rumput laut, nilai Indeks Glikemik (IG) dan Beban Glikemik (BG) dari nasi analog kolagen terbaik, dan jenis kolagen tulang ikan terbaik berdasarkan hasil uji. Materi penelitian adalah tepung mocaf, tepung tepung rumput laut Gracilaria verrucosa, dan Kolagen tulang ikan Nila, Bandeng, dan Hiu, dengan desain percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Data nonparametrik dianalisis dengan Kruskal-Wallis, sedangkan data parametrik dianalisis menggunakan ANOVA dan uji lanjut BNJ. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nasi analog rumput laut dengan penambahan kolagen tulang ikan Bandeng 5% (GKB) memiliki nilai hedonik terbaik (2,653 ≤ μ ≤ 3,047); kadar abu tertinggi (1,535 ± 0,189 %); kadar protein tertinggi (1,792±0,044 %); kadar lemak terendah (1,043 ± 0,019 %); dan kadar serat pangan tertinggi (5,356 ± 0,111 %), dengan IG 53,564 ± 21,495 yang termasuk kategori rendah dan memiliki beban glikemik (BG) 13,927 yang termasuk kategori sedang.
PERBANDINGAN PENAMBAHAN IKAN TERI (Stolephorus sp.) DAN RUMPUT LAUT Caulerpa racemosa TERHADAP KADAR KALSIUM, SERAT KASAR, DAN KESUKAAN KERUPUK IKAN Rizki, Dinda; Sumardianto, Sumardianto; Wijayanti, Ima
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Vol 6, No 1 (2017): Wisuda Periode Bulan Januari 2017
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (480.054 KB)

Abstract

Besarnya potensi pada ikan teri dan rumput laut memberikan peluang yang besar untuk terus berkembangnya industri pangan di Indonesia. Kerupuk adalah makanan ringan dengan bahan baku tepung tapioka, dimana kandungan karbohidrat pada kerupuk lebih tinggi dibandingkan dengan unsur kimia lainnya. Fortifikasi ikan teri dan rumput laut diharapkan memberikan kandungan gizi yang lebih baik pada kerupuk, karena secara umum kadar kalsium dan serat kasarnya rendah. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui formulasi terbaik pada pembuatan kerupuk serta mengetahui pengaruh perbandingan ikan teri dan rumput laut terhadap karakteristik kimia dan fisik kerupuk. Materi penelitian adalah rumput laut Caulerpa racemosa, ikan teri, tepung tapioka, dan bumbu. Metode penelitian yang digunakan yaitu experimental laboratories menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Data nonparametrik dianalisis dengan Kruskal-Wallis dan uji lanjut Mann-Whitney.Data parametrik dianalisis menggunakan ANOVA dan uji lanjut Tukey HSD.Hasil penelitian menunjukkan bahwa uji hedonik terbaik pada  penambahan ikan teri 15% dan bubur rumput laut 10% (5,597< μ <6,437) atau disukai panelis. Hasil penelitian menunjukkan kadar kalsium 0,153-0,437%; kadar serat kasar 4,620-6,948%; kadar air 10,579-12,072%; kadar abu 1,245-1,870%; kadar protein 4,085-5,594%; kadar lemak 0,225-1,212%; kadar karbohidrat 74,486-77,938%; kemekaran kerupuk 153,43-290,14%.
EFEKTIVITAS SERBUK Sargassum polycystum SEBAGAI ANTIBAKTERI PADA IKAN LELE (Clarias sp.) SELAMA PENYIMPANAN DINGIN Barodah, Luk Luul; Sumardianto, Sumardianto; Susanto, Eko
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Vol 6, No 1 (2017): Wisuda Periode Bulan Januari 2017
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.258 KB)

Abstract

Ikan lele merupakan ikan air tawar yang diminati oleh masyarakat. Ikan lele mengandung nutrisi tinggi dan merupakan ikan yang berlendir, dan lendir merupakan salah satu media pertumbuhan yang baik untuk bakteri. Serbuk S. polycystum merupakan rumput laut coklat yang mengandung senyawa bioaktif yang berfungsi sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan senyawa bioaktif yang ada pada serbuk S. polycystum dan kemampuan serbuk S. polycystum sebagai antibakteri pada ikan lele (Clarias sp.). Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebuk S. polycystum dan ikan lele (Clarias sp.). Metode penelitian yang digunakan adalah experimental laboratories dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan 2 faktor yaitu konsentrasi serbuk S. polycystum (0%, 3%, 6% dan 9%) dan lama penyimpanan (hari ke-0, hari ke-4, hari ke-8, dan hari ke-12). Rendemen serbuk S. polycystum sebesar 51,3 %, kandungan fenol 0,23 %, flavonoid 0,10 %, tanin 0,66 % dan saponin 0,64 %. Rendemen serbuk S. polycystum yang ditambahkan pada ikan  lele yang disimpan pada suhu dingin menunjukkan bahwa perbedaan penambahan konsentrasi sebuk S. polycystum dan lama penyimpanan memberikan pengaruh nyata terhadap nilai TPC, nilai TVBN, nilai pH serta nilai organoleptik (p < 0,05). Konsentrasi terbaik pada penelitian ini adalah 6% dengan nilai TPC pada hari ke- 12 yaitu 1,3 x 105 CFU/g, nilai TVBN 20,63 mgN/100g, nilai pH sebesar 6,96 dan nilai organoleptik ikan lele konsentrasi 6% masih layak konsumsi.
KARAKTERISTIK DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EDIBLE FILM DARI REFINED KARAGINAN DENGAN PENAMBAHAN MINYAK ATSIRI Nuansa, Muhammad Fadly; Agustini, Tri Winarni; Susanto, Eko
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Vol 6, No 1 (2017): Wisuda Periode Bulan Januari 2017
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (550.878 KB)

Abstract

Edible film merupakan bahan pengemas alternatif dan dapat digunakan sebagai pengganti bahan pengemas sintetis. Edible film dapat membawa zat aditif untuk meningkatkan kualitas bahan pengemas. Salah satu zat aditif yang dapat dibawa oleh edible film adalah antioksidan yang didapatkan dari minyak atsiri. Edible film pada penelitian ini dibuat menggunakan refined kappa karaginan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penggunaan refined kappa karaginan sebagai edible film dengan penambahan konsentrasi minyak atsiri yang berbeda terhadap karakteristik fisik dan aktivitas antioksidan. Penelitian ini menggunakan desain percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan perbedaan konsentrasi minyak atsiri yaitu 0%, 0,1%, 0,5%, dan 1% (b/v) dengan 3 kali pengulangan. Parameter pengujian adalah uji kuat tarik, persen pemanjangan, laju transmisi uap air, total fenol dan aktivitas antioksidan. Data parametrik dilakukan analisis menggunakan ANOVA dan uji lanjut BNJ. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan minyak atsiri berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap; uji kuat tarik, persen pemanjangan, laju transmisi uap air, total fenol, dan aktivitas antioksidan. Perlakuan minyak atsiri daun sirih hijau (P. Bettle Linn.) 1% menunjukkan hasil yang terbaik pada uji: kuat tarik, laju transmisi uap air, total fenol, aktivitas antioksidan dengan nilai 71,27±1,70 kgf/cm2, 1,46±0,00 g/m2/h, 2441,51±4,48 ppm, 15,12±0,06 %.
PENGARUH PERBANDINGAN PENAMBAHAN TEPUNG TULANG IKAN NILA (Oreochromis niloticus) DAN BUBUR RUMPUT LAUT Ulva lactuca TERHADAP KARAKTERISTIK KERUPUK Novania, Anita; Sumardianto, Sumardianto; Wijayanti, Ima
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Vol 6, No 1 (2017): Wisuda Periode Bulan Januari 2017
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (506.56 KB)

Abstract

Tulang ikan mengandung kalsium. Konsumsi kalsium masyarakat Indonesia masih kurang dari kebutuhan kalsium yang dianjurkan. Serat juga merupakan komponen penting pada diet manusia. Salah satu sumber serat adalah selada laut. Pemanfaatan kedua bahan pangan tersebut dapat ditambahkan pada kerupuk, sehingga dapat meningkatkan nutrisi dalam produk tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik kimia, fisik dan sensori kerupuk dengan penambahan tepung tulang ikan nila dan bubur rumput laut Ulva lactuca. Materi penelitian adalah tepung tulang ikan nila dan bubur rumput laut U. lactuca, dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), terdiri dari 5 perlakuan perbandingan konsentrasi tepung tulang ikan nila dan bubur rumput laut yaitu 0%:0% (K); 5%:20% (F1); 10%:15% (F2); 15%:10% (F3); 20%:5% (F4) dengan pengulangan 3 kali. Data parametrik dianalisis menggunakan ANOVA. Data nonparametrik dianalisis dengan Kruskal-Wallis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerupuk dengan penambahan tepung tulang ikan nila dan bubur rumput laut berpengaruh terhadap kadar kalsium, proksimat, volume pengembangan dan hedonik. Pada kerupuk F4 memiliki kandungan kalsium tertinggi (3,69 ± 0,11), kadar air terendah (11,43 ± 0,06), kadar abu terbesar (15,99 ± 0,09), kadar protein tertinggi (8,27 ± 0,10). Serat kasar tertinggi pada F1 (4,45 ± 0,03). Nilai hedonik warna dan rasa tertinggi pada F2 yaitu warna (4,23±1,04) dan rasa (4,33±0,88).

Page 1 of 1 | Total Record : 7