cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Management of Aquatic Resources Journal (Maquares)
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 27216233     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Management of Aquatic Resources diterbitkan oleh Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Jurnal Management of Aquatic Resources menerima artikel-artikel mengenai bidang perikanan, manajemen sumberdaya perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 34 Documents
Search results for , issue "Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014" : 34 Documents clear
PENGARUH UMUR REPLANTASI MANGROVE (Rhizophora sp.) SEBAGAI HABITAT Uca sp. Rizal, Novia Firza Wijayanti; Suprapto, Djoko; Djuwito, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.81 KB)

Abstract

Sebagian besar kawasan hutan pesisir di Indonesia telah mengalami kerusakan, termasuk kawasan di sekitar pantai Desa Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Kabupaten Semarang. Kerusakan ini lebih banyak disebabkan oleh ulah manusia yang kurang bijak dalam mengelolanya. Hilang dan rusaknya kawasan mangrove pada beberapa wilayah pesisir telah mengakibatkan hilangnya fungsi mangrove baik fisik, ekologis, maupun ekonomi. Salah satu penyelesaian atas permasalahan tersebut adalah dengan melakukan gerakan penghijauan atau penanaman kembali (replantasi). Adapun aspek yang dapat ditinjau dalam mengevaluasi keberhasilan replantasi hutan mangrove ini adalah kembalinya fungsi ekologis hutan mangrove, diantaranya adalah penyedia habitat berbagai biota seperti Uca sp. Tujuan umum dari penelitian ini adalah mengetahui wilayah hasil replantasi yang mampu menyediakan habitat bagi Uca sp.Tujuan khusus yang ingin dicapai adalah mengetahui keberadaan berbagai ukuran karapas Uca sp. sebagai indikasi kesesuaian habitat dan mengetahui kepadatan Uca sp. berdasarkan wilayah tanpa mangrove dan wilayah mangrove dengan jenis mangrove Rhizophora sp. berumur tiga bulan dan satu tahun. Sampel Uca sp. dan substrat diambil dari tiga zona dengan tiga kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa zona replantasi mangrove berumur satu tahun merupakan habitat bagi Uca sp. dan terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai kepadatan Uca sp. pada zona tanpa mangrove dan zona dengan perbedaan umur replantasi mangrove. Most of the coastal forest in Indonesia have been damaged, including the area around the coastal village of Mangunharjo, District of Tugu, Semarang. This damage is mainly caused by negative human activities. The loss and destruction of mangrove areas in some coastal areas have resulted the disfunction of mangrove in physical, ecological, and economical aspects. One of the solution to this problem is a replantation of mangrove. One of the variabel indicating the success of replantation is the return of the ecological function, for example providing the habitat for many organisms such as Uca sp. The general objective of this research was to determine which area that is able to provide habitat for Uca sp. The specific objectives were to know the existence of various sizes of the carapaces as an indication of the suitable habitat and to know the density of Uca sp. between non-mangrove area and those with mangrove areas with species Rhizophora sp. the age of three months and the age of one year. Uca sp. and substrate samples were taken from three zones with three repetition. The results showed that one year old mangrove replanted area is suitable habitat for Uca sp. and the density of Uca sp. between non-mangrove area and mangrove replanted areas with different age have significant difference.
EVALUASI PROGRAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PESISIR DI DESA SARAWANDORI, KOSIWO KABUPATEN KEPULAUAN YAPEN, PROVINSI PAPUA Karubaba, Obaja; Purwanti, Frida; Suprapto, Djoko
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.456 KB)

Abstract

Program Pemberdayaan Masyarakat pesisir di desa Sarawandori dapat membantu meningkatkan pendapatan nelayan. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat pesisir di desa Sarawandori Kosiwo Kabupaten Kepulauan Yapen Papua. Metode penelitian bersifat deskriptif  dimana pengambilan sampel dilakukan secara purposive berdasarkan pertimbangan jenis kegiatan. Data dikumpulkan dengan cara observasi lapangan, wawancara terhadap 50 masyarakat nelayan dari 18 KK yang menerima bantuan dan mengikuti program pemberdayaan masyarakat pesisir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 5 kegiatan program pemberdayaan masyarakat pesisir di desa Sarawandori yaitu: Pengembangan kapasitas aparat kampung, Pelatihan budidaya rumput laut dan ikan (Keramba), Metode Penangkapan ikan, Pemasaran hasil perikanan, Metode bantuan sarana budidaya ikan yang sudah berjalan dari tahun 2007 sampai sekarang. Pelaksanaan program yang prioritas di desa Sarawandori yaitu pemanfaatan sumber laut untuk meningkatkan kehidupan masyarakat nelayan. Prosedur atau mekanisme penyaluran bantuan berjalan sesuai dengan ketentuan. Community Empowerment Program at the coastal village of Sarawandori can help to increase the income of fishermen. The purpose of this study were to identify and to evaluate the implementation of the program in the coastal village of Sarawandori Kosiwo Yapen Islands District of Papua. The research method is descriptive in which sampling was done purposively based on the consideration of the type of activity. Data were collected by field observations, interviews to the 50 fishers communities from 18 family leaders who receive aid and get the empowerment program. The research showed that there are 5 activities of the program in the Sarawandori villages namely: Capacity building of the officials village, training on culture of seaweed and fish (Cage), Fishing Methods, Fishery marketing and aids for aquaculture facilities. The program has been running from 2007 to the present. Implementation of the priority programs at Sarawandori village is marine resources utilization to improve the life of fishers communities. Procedure and mechanism of aid delivery is running well in accordance to the regulation.
KELIMPAHAN BULU BABI (SEA URCHIN) PADA EKOSISTEM KARANG DAN LAMUN DI PERAIRAN PANTAI SUNDAK, YOGYAKARTA Firmandana, Tony Cahya; Suryanti, -; Ruswahyuni, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (627.706 KB)

Abstract

Perairan pantai Sundak memiliki beberapa biota echinodermata salah satunya bulu babi. Bulu babi tersebar di ekosistem padang lamun dan karang, keberadaan bulu babi pada suatu ekosistem tidak bisa lepas dari pengaruh faktor fisika kimia pada lingkungan tersebut, walaupun tidak berpengaruh secara langsung. Karakteristik yang berbeda pada kedua ekosistem akan mempengaruhi populasi pada ekosistem tersebut. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui kondisi ekosistem karang dan lamun di perairan pantai Sundak, untuk mengetahui kelimpahan bulu babi (sea urchin) di ekosistem karang dan lamun pantai Sundak, dan untuk mengetahui perbedaan kelimpahan bulu babi pada ekosistem karang dan padang lamun pantai Sundak. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei yang bersifat deskriptif. Metode sampling yang digunakan pada kegiatan penelitian ini yaitu penentuan lokasi sampling, pengambilan data penutupan karang, pengambilan data kelimpahan bulu babi. Pengukuran parameter kimia dan fisika berupa arus, suhu, salinitas, pH, kedalaman, kecerahan, dan bahan organik. Analisis data meliputi penutupan karang, kerapatan lamun, kelimpahan bulu babi, indeks keanekaragaman, dan indeks keseragaman. Penutupan substrat dasar pada lingkungan ekosistem karang di pantai Sundak didominasi oleh karang mati dengan presentase sebesar 62,2%, pecahan karang 24,25%, dan pasir 13,5%. Sedangkan kerapatan lamun di pantai Sundak sebesar 68 ind/m2. Kelimpahan bulu babi di pantai Sundak pada ekosistem karang dan lamun dengan jenis Stomopneustus sp., jenis Echinometra sp. A, jenis Echinometra sp. B, dan jenis Echinometra sp. C pada ekosistem karang dengan kelimpahan sebesar 329 ind/50m2 dan jenis Stomopneustus sp. dan jenis Echinometra sp. A. Pada ekosistem lamun dengan kelimpahan sebesar 34 ind/50m2. Terdapat perbedaan kelimpahan jumlah bulu babi pada ekosistem karang dan ekosistem padang lamun. Sundak coastal waters have some biota one of them is urchins echinoderms. Sea urchins spread over the seagrass beds and coral ecosystems, the existence of sea urchins in an ecosystem can not be separated from the influence of environmental factors on the chemical physics, although has no direct influence. The different characteristics in the two ecosystems will affect the population in the ecosystem. This study was conducted to determine the condition of coral and seagrass ecosystems in Sundak coastal waters, to determine the abundance of sea urchins on coral and seagrass ecosystems in Sundak Beach, and to determine the relationship of the abundance of sea urchins between the characteristic of habitats on coral and seagrass in Sundak beach. The method used is descriptive survey method. The sampling method used in this research is determining the location of sampling, coral cover data retrieval, data retrieval abundance of sea urchins. Measurement of chemical and physical parameters such as flow, temperature, salinity, pH, depth, brightness, and organic matter. Data analysis was includes coral cover, the density of seagrass, the abundance of sea urchin, diversity index, and uniformity index. Closure of bottom substrate on coral ecosystems in the coastal environment in Sundak beach dominated by dead coral with a percentage of 62.2%, 24.25% rubble, and 13.5% sand. While the density of seagrass on the Sundak beach ind/m2 68. Abundance of sea urchins on the Sundak beach in the reef and seagrass environments with type Stomopneustus sp., Kind Echinometra sp. A type of Echinometra sp. B, and type of Echinometra sp. C on coral ecosystems with an abundance of 329 ind/50m2 and the type of Stomopneustus sp. and types of Echinometra sp. A. on seagrass ecosystems with an abundance of 34 ind/50m2. There are differences in the abundance of sea urchins amount on coral and seagrass ecosystems.
ANALISA STATUS PENCEMARAN DENGAN INDEKS SAPROBITAS DI SUNGAI KLAMPISAN KAWASAN INDUSTRI CANDI, SEMARANG Ersa, Stela Monic Maya; Suryanto, Agung; Suryanti, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (923.163 KB)

Abstract

Sungai Klampisan merupakan sungai yang mendapat aliran limbah dari PT. Marimas dan industri lain serta aliran dari rumah tangga dengan pencemaran cair yang berpengaruh terhadap perubahan warna air menjadi coklat secara kasat mata. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keadaan kualitas air dengan parameter fisika dan kimia yang meliputi : suhu, kedalaman, kecerahan, oksigen terlarut, pH, BOD dan COD, mengetahui kelimpahan plankton, indeks keanekaragaman, indeks keseragaman, indeks dominasi dan mengetahui status pencemaran berdasarkan Saprobitas Indeks (SI) dan Tropik Saprobik Indeks (TSI) di Sungai Klampisan Kawasan Industri Semarang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara sistematik sampling. Penelitian ini mencari nilai Kelimpahan Jenis, Indeks Keanekaragaman, Indeks Keseragaman, Indeks Dominasi, Saprobik Indeks dan Tropik Saprobik Indeks serta uji regresi untuk hubungan antara kualitas air dengan plankton. Pengambilan sampel air dilakukan 2 minggu sekali pada bulan Januari dan Februari 2014. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunitas plankton yang berada di Sungai Klampisan terdapat 14 genus. Jenis plankton yang banyak ditemukan adalah Nitzschia sp. Berdasarkan nilai kelimpahan plankton berkisar antara 1.093 – 2.357 ind/L, sedangkan nilai Saprobik Indeks (SI) berkisar antara 0,2 – 0,272 dan Tropik Saprobik Indeks (TSI) berkisar antara 0 – 0,875. Sehingga berdasarkan nilai SI dan TSI Sungai Klampisan tergolong dalam kategori α-Mesosaprobik (pencemaran sedang sampai berat). Klampisan River is a river that gets waste streams from PT. Marimas. River Klampisan have pollution problems caused by waste from PT. Marimas, another companies and household activities that go into waters that affect the water color changes to brown by naked eyes. The purpose of this study was to determine the state of water quality by physical and chemical parameters which include: temperature, depth, brightness, dissolved oxygen, pH, BOD and COD, knowing plankton abundance, diversity index, uniformity index, dominance index and know the status of pollution by Saprobitas index (SI) and Tropical saprobic index (TSI) in Klampisan River Industrial Area, Semarang. The method used in this research is descriptive method. Sampling technique was used in systematic sampling with the assumption that the state of the river waters will be represented. This research measuring water quality and looking for value type of Abundance, Diversity Index, Uniformity Index, Dominance Index, Saprobic Index and Tropical Saprobic Index and regression test for the relationship between the quality of water with plankton. Water sampling is taken in once of 2 weeks in January and February 2014. The results showed that the there are 14 genus of plankton community located in the Klampisan River. Type of plankton that are found are Nitzschia sp. Based on plankton abundance values ranged between 1093-2357 ind / L, while the value of saprobic index (SI) ranging from 0.2 to 0.272 and Tropical saprobic index (TSI) ranged from 0 - 0.875. So based on the value of SI and TSI Klampisan River belong to the category of α-Mesosaprobik (medium to  high pollution).
ASPEK BIOLOGI IKAN MENDO (Acentrogobius sp) DI WADUK MALAHAYU KABUPATEN BREBES Soekiswo, Yasintia Aryanov; Widyorini, Niniek; Solichin, Anhar
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (505.609 KB)

Abstract

Waduk Malahayu memiliki luas 620 Ha, terletak di Kabupaten Brebes. Waduk yang memiliki jenis ikan dari ikan domestik dan introduksi, berpotensi untuk dimanfaatkan salah satunya dibidang perikanan seperti kegiatan penangkapan dan budidaya ikan. Ikan Mendo adalah salah satu ikan domestik yang masih jarang di kenal masyarakat luas, ikan yang memiliki potensi sebagai salah satu komuditas penangkapan. Belum banyak informasi tentang ikan Mendo dan menurunnya populasi di alam menjadi permasalahan untuk populasinya, oleh karena itu perlu dilakukan penelitian dan pengelolaan lebih lanjut. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui aspek biologi (aspek pertumbuhan dan aspek reproduksi) dan melihat perkembangan produksinya. Penelitian dilakukan pada bulan Juni hingga bulan Juli 2014. Metode yang digunakan yaitu metode simple random sampling. Dalam penelitian ini diperlukan data primer dan sekunder. Data primer merupakan 10% dari total tangkapan, sedangkan data sekunder meliputi data produksi ikan Mendo tahun 2006 sampai 2011. Hasil penelitian yang telah dilakukan pada ikan Mendo sebanyak 822 ekor, pertumbuhan ikan Mendo bersifat allometrik negatif dengan nilai b sebesar 2,202. Faktor kondisi yang diperoleh sebesar 1,088 yang tergolong dalam ikan yang pipih atau tidak gemuk. Ukuran ikan Mendo yang tertangkap sudah layak untuk ditangkap, karena Lc50% > ½ L∞ dan ikan sudah pernah melakukan pemijahan, karena Lm50% < Lc50%. Tingkat kematangan gonad ikan Mendo menurut Holden dan Raitt (1974) didominasi oleh TKG III dan IV yaitu fase matang. IKG tertinggi pada ikan Mendo selama penelitian yaitu 22,50%. Fekunditas tertinggi sebesar 8250 butir dengan panjang tubuh 28 mm dan berat tubuh 0,7 gram. Pada perkembangan produksi ikan Mendo terjadi penurunan pada tahun 2009 hingga sekarang. Malahayu Reservoir has an area of 620 Ha, which located in Brebes Town. The reservoir which has a kind of fish from domestic and introduction of fish, one of which has the potential to be used as fishing activities in the field of fisheries and fish cultivation. Mendo fish is one of the domestic fish were still rare in the general public know, which have potential as one of the commodities arrest. There has not been much information about the Mendo fish and the declining populations in the world became problems for the population, therefore it is necessary to more conduect research and management. The purpose of this research is to know the biological aspects (aspect of growth and reproduction aspect) and see the development of production. This research has been done in Juni to July 2014. The metode used is simple random sampling method. This research needed primary and secondary data. Primary data is 10% from all catches, while secondary data includes data production of Mendo fish in 2006 to 2011. The result of this research which has been done with 822 Mendo fishes, the growth of Mendo fish has the quality negative allometric of the b value is 2,202. The condition factor of obtained is 1,088 classified to the flat or not fat. The size of Mendo fish which caught was suitable, because Lc50%> ½ L∞.The gonad maturity level of Mendo fish based on Holden & Raitt (1974) is domination by TKG IV, it is mature fase. The highest IKG of Mendo fish during the research is 22,50%. The highest fecundity is 8250 eggs with the lenght of the body is 28mm and the weight is 0,7 gram. In the development of production Mendo fish, there was a decrease in 2009 until now.
ANALISIS ASPEK BIOLOGI IKAN KUNIRAN (Upeneus spp) BERDASARKAN JARAK OPERASI PENANGKAPAN ALAT TANGKAP CANTRANG DI PERAIRAN KABUPATEN PEMALANG Iswara, Kartika Widya; Saputra, Suradi Wijaya; Solichin, Anhar
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (668.301 KB)

Abstract

Ikan Kuniran termasuk ikan demersal dari famili Mullidae yang umumnya ditemukan di laut tropis dan subtropis dan biasanya di daerah sekitar terumbu karang dan sering tertangkap dengan cantrang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aspek biologi ikan Kuniran; produksi ikan Kuniran berdasarkan jarak operasi penangkapan serta upaya pengelolaan sumberdaya ikan Kuniran di Perairan Pemalang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret - April 2014. Metode dalam penelitian ini adalah metode survei. Pengambilan sampel menggunakan metode penarikan contoh acak sederhana. Dalam penelitian ini diperlukan data primer dan sekunder. Data primer merupakan 10% dari total hasil tangkapan per tabur yang digunakan untuk mengetahui aspek biologi ikan Kuniran sedangkan data sekunder meliputi data produksi ikan Kuniran selama 6 tahun terakhir (2008-2013). Hasil penelitian pada ikan Kuniran untuk seluruh zona struktur ukuran tangkapan berada pada ukuran   77 mm - 172 mm, ukuran rata-rata tertangkap (Lc50%) 117mm. Sifat pertumbuhan zona I yaitu allometrik positif sedangkan  zona II dan III bersifat allometrik negatif dengan nilai Kn pada semua zona berkisar 1,004 - 1,11. Tingkat kematangan gonad ikan Kuniran jantan pada setiap zona didominasi oleh TKG I dan II, nilai korelasi TKG dengan IKG sebesar 0,75 dan TKG ikan Kuniran betina setiap zona didominasi oleh TKG III dan IV, nilai korelasi TKG dengan IKG sebesar 0,90. Ikan Kuniran pertama kali matang gonad (Lm50%) berukuran 124,65 mm dan fekunditas berkisar antara 19.850-92.713 butir. Nilai CPUE  terbesar pada zona II 0,630 kg/tabur. Upaya pengelolaan Ikan Kuniran di Perairan Kabupaten Pemalang dilakukan dengan cara memperbesar mesh size, mengatur daerah penangkapan dan musim penangkapan. Goatfish is one of demersal fish of the family Mullidae are commonly found in tropical and subtropical marine and usually in the area around coral reefs and that is often caught using danish seine. The research was intended to recognize the biological aspects of the goatfish, the production of goatfish based on the fishing interval and the management of the goatfish resource in Pemalang Waters. The research was done in March-April 2014 using survey method. Sample was taken using simple random sampling method. The data used in the research were both primary and secondary data. The primary data was 10% of the total fish caught in every period of fishing to recognize the biological aspect of the goatfish while the secondary data was the production data of goatfish in recent 6 years (2008-2013). The result of the research can be seen as follows: The size of goatfish in the fishing zone ranges from 77 mm - 172 mm, and the average of caught fish is (Lc50%) 117mm. Zone I has positive allometric development while zone II and III has negative allometric value with Kn value of all zones range from 1,004 -1,11. The gonad maturity level for male goatfish was dominated by TKG I and II, the correlation calue between TKG and IKG was 0,75 while the gonad maturity level for female goatfish was dominated by TKG III and IV, the correlation value between TKG and IKG was 0,90. The goatfish experienced first gonad maturity (Lm50%) had the size of 124,65 mm and fecundity ranges between 19.850-92.713 items. The biggest CPUE was in zone II with the value 0,630/spreading. The management of goatfish in Pemalang waters has been done by increasing the mesh size, arragement of fishing ground and management of fishing season. 
KEMAMPUAN APU-APU (Pistia sp.) SEBAGAI BIOREMEDIATOR LIMBAH PABRIK PENGOLAHAN HASIL PERIKANAN (SKALA LABORATORIUM) Ni’ma, Nazla; Widyorini, Niniek; Ruswahyuni, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (670.503 KB)

Abstract

Limbah cair industri perikanan dapat bersumber dari air pencucian, air pembersihan peralatan, lelehan es dari ruang produksi dan lain sebagainya. Limbah cair ini mengandung bahan-bahan organik dan berpotensi untuk menimbulkan efek negatif bagi lingkungan. Bioremediasi merupakan pengembangan dari bidang bioteknologi lingkungan dengan memanfaatkan proses biologi dalam mengendalikan pencemaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan Pistia sp dan bakteri terhadap penurunan kandungan bahan organik limbah pengolahan hasil perikanan. Metode yang digunakan adalah eksperimen skala laboratorium dengan menggunakan wadah percobaan berupa akuarium bervolume 10 l yang diisi dengan limbah dengan konsentrasi 12,5% sebanyak 10 l. Variabel utama penelitian adalah kandungan bahan organik pada media percobaan yang didukung dengan berat basah tanaman, total bakteri serta kualitas air (suhu, cahaya, BOD, COD, DO dan pH,). Rancangan percobaan adalah RAL (Rancangan Acak Lengkap) dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan berupa penutupan Pistia sp. dengan konsentrasi 25%, 50%, 75% dan 100%. Data bahan organik dan total bakteri dianalisis dengan analisis Regresi dan Korelasi dengan taraf signifikan 95%. Hasil penelitian menunjukan adanya hubungan antara luas penutupan Pistia sp. dan bakteri terhadap penurunan kandungan bahan organik dengan penutupan yang baik adalah 25%, 50% dan 75%. Wastewater in fishery industry occurs because of washing water, equipment cleaning, melted ice from production room, and so on. Wastewater consists of organic materials, which potentially cause negative effect toward the environment. Bioremediation is the development of environmental biotechnology by utilizing biological process in controlling pollution. The purpose of the research is to find correlation between Pistia sp, and bacteria as bioremediator, and the reduction of organic materials from fishery waste. The method used in this research was laboratory scale experiments using a container which form a 10 l aquarium filled with 10 l of wastewater with 12,5% of concentration. The independent variable of the study was the content of organic material in the experiment media and the support variable were the wet weight of plants, total bacteria as well as the water quality (temperature, light, BOD, COD, DO, pH, and total bacteria). The design of experiment used in this research was Completely Randomized Design consist of 4 treatments and 3 times of repetition. The treatments were a closure of Pistia sp. with a concentration of 25%, 50%, 75%, and 100%. Data of organic material and total bacteri was analyzed using Regression and Correlation analysis with a significant level of 95%. The result showed a correlation between the closure and bacteria to reduction of organic material content, which the good closure was at 25%, 50% and 75%.
DISTRIBUSI FITOPLANKTON BERDASARKAN WAKTU DAN KEDALAMAN YANG BERBEDA DI PERAIRAN PULAU MENJANGAN KECIL KARIMUNJAWA Siregar, Legina Lourenta; Hutabarat, Sahala; Muskananfola, Max Rudolf
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (480.151 KB)

Abstract

Fitoplankton merupakan organisme laut yang bebas melayang dan hanyut dalam laut yang memegang peranan penting sebagai produsen primer. Distribusi plankton di perairan bervariasi dipengaruhi kedalaman, hal ini dipengaruhi oleh jumlah cahaya yang diterima fitoplankton untuk kegiatan fotosintesis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi dan kelimpahan fitoplankton berdasarkan waktu dan kedalaman yang berbeda. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan menggunakan pendekatan studi kasus. Hasil menunjukkan bahwa ada 20 genera fitoplanktondan ditemukan Nitzschia sp. pada setiap pengambilan sampel. Kelimpahan fitoplankton berdasarkan waktu diperoleh korelasi 0,715 bersifat positif dan 0,470 bersifat negatif, sedangkan kelimpahan fitoplankton berdasarkan kedalaman diperoleh korelasi sebesar 0,928 bersifat negatif dan 0,898 bersifat negatif. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perairan pulau Menjangan Kecil memiliki komunitas sedang dan tidak ada spesies yang mendominasi. Kelimpahan fitoplankton akan mengalami peningkatan pada saat siang hari dan menurun pada waktu sore hari, sedangkan kelimpahan fitoplankton akan mengalami penurunan pada setiap kedalaman. Phytoplankton is marine organism that drifts and floats freely in the sea having an important role as primary producers. Distributions of plankton in the water vary influenced by the depth; it is influenced by the amount of light received by Phytoplankton for photosynthesis. This study aimed to determine the composition and the abundance of phytoplankton based on different time and depths. Descriptive method was used by doing a case study approach in this study. The results consist of 20 genera of phytoplankton and Nitzschia sp. was found in each sampling. Phytoplankton abundances based on time obtained positive correlation of 0.715 and 0.470 were negative, while the abundance of phytoplankton based on the depth obtained negative correlation of 0.928 and 0.898 were negative. Based on the results of this study, it is concluded that The Menjangan Kecil Island waters has moderate communities and no species dominated. Phytoplankton abundance increased during the day and decreases in the afternoon, while the abundance of phytoplankton decrease at each depth. 
PENGARUH SUHU DAN SALINITAS TERHADAP PENETASAN KISTA Artemia salina SKALA LABORATORIUM Bahari, Muhammad Cholid; Suprapto, Djoko; Hutabarat, Sahala
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (472.022 KB)

Abstract

Artemia memiliki nutrisi yang sangat tinggi dan sesuai dengan kebutuhan gizi untuk larva ikan dan crustacea untuk dapat tumbuh lebih cepat. Nilai nutrisinya didapatkan dari kandungan protein Artemia yang mencapai 60% pada Artemia dewasa. Suhu dan salinitas merupakan salah satu faktor fisik yang paling penting dalam kehidupan laut dan organisme air. terdapat hubungan yang kompleks antara dua faktor, dimana suhu dapat memodifikasi efek salinitas, sehingga mengubah batas toleransi salinitas dari suatu organisme. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jumlah Hatching percentage serta Hatching effisiency pada tetasan kista Artemia pada suhu dan salinitas media yang berbeda. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2014 di laboratorium Pengelolaan Sumberdaya Ikan dan Lingkungan Jurusan Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Suhu yang digunakan dalam penelitian ini adalah 28 0C dan 32 0C, sedangkan salinitas yang digunakan adalah 15‰, 20‰, 25‰, 30‰ dan 35‰. Selama penelitian dilakukuan pengambilan sampel pada 15 jam pertama dan 3 jam berikutnya hingga 36 jam, serta dilakukan perhitungan Hatching percentage serta Hatching effisiency. Hasil penelitian didapatkan kombinasi suhu dan salinitas terbaik untuk media penetasan adalah dengan menggunakan suhu 280C dan salinitas 35‰ dengan hasil Hatching percentage, Hatching effisiency sebanyak 229.166 naupli 76,73%. Berdasarkan Uji Anova dua arah, rata-rata penetasan kista Artemia berbeda dan dipengaruhi oleh suhu dan salinitas. Artemia has a very high nutrition and appropriate to be the food of fish larval and crustaceans to grow quick. The nutrition value obtained from the content of a protein Artemia to reach 60% in adult Artemia. Temperature and salinity are the most important physical factors in marine life and organism.There is a complex relationship between the two factors, where the temperature can modify the effect of salinity, thus changing the salinity tolerance limits of an organism, while salinity can modify the effects of the temperature. The purpose of this study were to determine Hatching Percentage and Hatching Effisiency of Artemia cysts at different temperature and salinity levels. This study was conducted in May 2014 in the laboratory of Fisheries Resources Management and Environment, Faculty of Fisheries and Marine Sciences Diponegoro University. The temperature used in this study were 280C and 320C, while the salinity used were 15 ‰, 20 ‰, 25 ‰, 30 ‰, and 35 ‰. During the study, sample were taken in the first steps in 15 hour in continued after at 3 hours and 36 hours consequently, the hatching percentage and hachting efficiency was calculated. The results showed the best combination of temperature and salinity for hatching was 280C temperature and salinity of 35‰ with results of 76.73% and the Hatching efficiency as naupli 229,166. Based on two-way ANOVA test, the Artemia cysts average hatching differ significantly and influenced by temperature and salinity
PENGGUNAAN PROBIOTIK DALAM PROSES PELAPUKAN ECENG GONDOK (EICHHORNIA SP.) PADA TERBENTUKNYA BAHAN ORGANIK, NITRAT DAN FOSFAT (SKALA LABORATORIUM) Noegraha, Lia Pangesty; Nitisupardjo, Mustofa; Soedarsono, Prijadi
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (443.857 KB)

Abstract

Probiotik merupakan kumpulan mikroorganisme yang membantu memperlancar serapan nutria yang dibutuhkan tumbuhan. Pelapukan Eceng Gondok merupakan sumber primer bahan organik di perairan Rawa Pening yang dikhawatirkan akan berdampak pada kondisi perairan yang terlalu subur (eutrofikasi). Materi penelitian adalah probiotik akar, tangkai daun dan daun Eceng Gondok yang ditempatkan dalam aquarium dengan volume 20 liter dan ditambah probiotik 10ml. Metode penelitian adalah metode eksperimen skala laboratorium.Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata konsentrasi bahan organik tertinggi yaitu 55,23 – 60,21% pada akar, 51,14 – 54,71% pada daun dan 46,60 – 50,54% pada tangkai daun. Kadar nitrat tetinggi yaitu 1,102 – 3,238 mg/l pada daun, 0,555 – 1,969 mg/l pada tangkai daun dan 0,313 – 1,200 mg/l pada akar.  Kadar fosfat tertinggi yaitu 0,014 – 0,142 mg/l pada daun, 0,008 – 0,100 mg/l pada tangkai daun dan 0,001 – 0,067 mg/l pada akar. Berat biomassa eceng gondok menyusut setelah 4 minggu dari berat awal 200 gr menjadi masing- masing 150 gr pada akar, 70 gr pada tangkai daun dan 40 gr pada daun. Probiotics are living microorganisms that facilitate collection of nutria required by plant uptake. Weathering the water hyacinth is a primary source of organic matter in the Rawa Pening waters. That would impact on water conditions to be more fertile (eutrophication). The research material are probiotics roots, petiole and leaves of the water hyacinth that placed in aquarium with a volume of 20 liters and be added 10ml of probiotics. The research method is experimental method in laboratory-scale. The results showed that on average the highest concentration of organic matter from 55.23 - 60.21% at the root,51.14 - 54.71% at the leaves and 46.60 - 50.54% at the petiole. The nitrate content from 1.102 - 3.238 mg/l at the leaves, 0.555 - 1.969 mg/l at the petiole and 0.313 to 1.200 mg / l at the root.The phosphate content from 0.014 - 0.142 mg/l at the leaves, 0.008 - 0.100 mg/l at petiole and 0.001 - 0.067 mg/l at the root. The biomass of water hyacinth shrink after 4 weeks from initial weight of 200gr to each 150gr at the root, 70gr at the petiole and 40 grat the leaves.

Page 2 of 4 | Total Record : 34