Claim Missing Document
Check
Articles

KELIMPAHAN ECHINODERMATA PADA EKOSISTEM PADANG LAMUN DI PULAU PANGGANG, KEPULAUAN SERIBU, JAKARTA Oktavianti, Reny; Suryanti, -; Purwanti, Frida
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (645.665 KB)

Abstract

Lamun (Seagrass) merupakan tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang hidup dan tumbuh di laut dangkal. Kelompok echinodermata dapat hidup menempati berbagai macam habitat seperti zona rataan terumbu, daerah pertumbuhan algae, padang lamun, koloni karang hidup dan karang mati dan beting karang (rubbles dan boulders). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kerapatan lamun, kelimpahan Echinodermata, dan hubungan antara kerapatan lamun dengan kelimpahan Echinodermata di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, Jakarta. Metode pemetaan lamun untuk menentukan kerapatan lamun yang padat, sedang dan jarang dengan menarik line sepanjang 200 meter sejajar garis pantai dan 100 meter tegak lurus pantai dengan menggunakan kuadran transek berukuran 5 m × 5 m sedangkan kelimpahan Echinodermata dilakukan dengan metode kuadran transek berukuran 1 m × 1 m. Hasil penelitian menunjukkan kerapatan lamun di stasiun A 359 tegakan/m2, stasiun B 179 tegakan/m2, dan stasiun C 83 tegakan/m2. Kelimpahan Echinodermata pada stasiun A 10 ind/75m2, stasiun B 9 ind/75m2 dan stasiun C 21 ind/m2. Terdapatnya hubungan erat antara kerapatan lamun dengan kelimpahan Echinodermata di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, Jakarta.  Seagrass is a flowering plant (Angiospermae) that live and grow in a shallow sea. The groups of echinoderms can live to occupy various habitats such as reef zone, algae growth area, seagrass beds, live dead coral colony, coral rubbles and boulders. The purpose of this study were to determine the density of seagrass, abudance of Echinoderms in the Panggang island, Kepulauan Seribu, Jakarta. Seagrass mapping method used to determine the density of seagrass (dense, average and sparse) by appealing a line along 200 meters parallel to the shoreline and 100 meters perpendicular to the coast using 5 m x 5 m transect quadrant, whereas echinoderms abundance counted using 1 m x 1 m transect quadrant. The results showed that density of seagrass at A station is 359 stands/m2, B station is 179 stands/m2, and C station is 83 stands/m2. Abundance of echinoderms at A station is 10 ind/75m2, B station is 9 ind/75m2  and C station is 21 ind/75m2. There is a close correlation between seagrass density with echinoderms abundance in the Panggang island, Seribu islands, Jakarta.
STUDI KESESUAIAN WISATA PANTAI NGLAMBOR SEBAGAI OBJEK REKREASI PANTAI DI KABUPATEN GUNUNGKIDUL Pratesthi, Pintya Dwanita Ayu; Purwanti, Frida; Rudiyanti, Siti
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) VOLUME 5, NOMOR 4, TAHUN 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.241 KB)

Abstract

ABSTRAKEkowisata adalah kegiatan wisata alam yang memanfaatkan lingkungan, memperhatikan unsur-unsur konservasi, ekonomi, edukasi dan pemberdayaan masyarakat setempat. Salah satu pantai yang termasuk dalam ekowisata adalah Pantai Nglambor yang terletak di Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus, kabupaten Gunungkidul. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui potensi dan perkembangan wisata Pantai Nglambor dan mengetahui nilai Indeks Kesesuaian Wisata (IKW) Pantai Nglambor serta kategorinya. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari-Juli 2016. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif menggunakan IKW dengan teknik purposive sampling dan metode deskriptif dengan teknik voluntary sampling untuk kuisioner 60 responden. Potensi wisata Pantai Nglambor ada pada kondisi fisik pantai yang unik dan indah, serta jenis kegiatan atau daya tarik wisatanya yaitu berenang dan snorkeling, sedangkan perkembangan wisata Pantai Nglambor dalam satu tahun sudah menjadi tujuan utama bagi pengunjung dan nilai untuk kepuasan serta keinginan untuk kembali berkunjung dari pengunjung adalah 95.1%. Nilai IKW untuk Pantai Nglambor pada semua Stasiun saat surut (sore) dan saat pasang (pagi) adalah S1 atau Sangat Sesuai (Highly Suitable) dengan kisaran nilai sebesar 84.52% hingga 90.48% kecuali pada Stasiun I saat pasang (pagi) termasuk kategori S2 atau Sesuai (Suitable) dengan nilai sebesar 78.57%. Kata kunci: Kesesuaian Wisata; Pantai Nglambor; Gunungkidul ABSTRACT Ecotourism is nature tourism activities that utilize environment, which concern on the elements of conservation, economic, education and also empowering local communities. One of the beaches that can be an ecotourism destination is Nglambor Beach located in Purwodadi village, Tepus sub-district, Gunungkidul regency. The purpose of this study are to know the potential and development of tourism in Nglambor Beach and to determine the value of Tourism Suitability Index of Nglambor Beach and it’s categories. This study was conducted in January to July, 2016. The method used in this research were quantitative method using Tourism Suitability Index with purposive sampling technique and descriptive method by distributing questionnaires using voluntary sampling technique to 60 respondents. The potential of Nglambor Beach is in the physical condition of the unique and beautiful beach, as well as the type of tourism activities or attraction i.e swimming and snorkeling, while the development of Nglambor beach whitin a year has become a main tourism destination with the value of satisfaction and the desire to re-visit is 95.1%. Value of Tourism Suitability Index of Nglambor Beach at all stations at low tide (evening) and the high tide (morning) are S1 or Highly Suitable with a value range of 84.52% to 90.48%, except at Station I at the high tide (morning) is S2 or Suitable with a value of 78.57%. Keywords: Ecotourism Suitability; Nglambor Beach; Gunungkidul
NILAI HUE DAUN Rhizophora: HUBUNGANNYA DENGAN FAKTOR LINGKUNGAN DAN KLOROFIL DAUN DI PANTAI RINGGUNG, DESA SIDODADI, KECAMATAN PADANG CERMIN, LAMPUNG Adip, Muhammad Saiful; Hendrarto, Boedi; Purwanti, Frida
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (487.82 KB)

Abstract

Ekosistem mangrove merupakan ekosistem penting dalam lingkungan pesisir, dan sampai saat ini belum ada indikator yang digunakan untuk menentukan tingkat kesehatan mangrove. Hue merupakan warna yang dihasilkan oleh pigmen-pigmen yang ada pada daun, hal ini diperkirakan dapat digunakan untuk menunjukkan kesehatan mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kisaran nilai hue Rhizophora spp dan hubungan kandungan klorofil serta faktor lingkungan terhadap nilai hue. Penelitian ini menggunakan metode penelitian survei dengan pendekatan deskriptif analitis. Variabel utama yang digunakan dalam penelitian adalah nilai hue (bahan organik, salinitas air, dan salinitas tanah). Pengambilan data menggunakan metode purposive sampling untuk mengetahui karakteristik vegetasi mangrove dengan menggunakan line  sepanjang 100 m dengan pengulangan sebanyak tiga kali. Hasil dari penelitian menunjukkan tingkat dominasi tertinggi terdapat pada jenis Rhizophora stylosa (50,017%) sementara dominansi Rhizophora apiculata adalah sebesar (49,985%).  Nilai hue pada daun Rhizophora spp berkisar antara 86,9% sampai 141,35%. Nilai hue terendah 86,9% berwarna hijau muda,  sedangkan nilai tertinggi 141,35% berwarna hijau tua.  Korelasi nyata hanya terdapat pada hubungan nilai hue dengan salinitas air, sedangkan hubungan kandungan klorofil dan faktor lingkungan memiliki hubungan yang tidak nyata. Mangrove ecosystem an important ecosystem in the coastal area. There is no indicator that can be used to determine the healthiness level of mangrove. Hue is the colour that produced by leaves pigment, That assumed be affected by various environmental factors. This study were aimed to get the range of hue Rhizophore value and to know the relationship between their chlorophyll contents and environmental factors toward the hue values. This research used descriptive approaches. The main variable in this research were the hue value of the Rhizophora leaves, leaves chlorophyll content, and environmental factors (organic material, water salinity, and substrat salinity). Data was collected by purposive sampling method to identify mangrove vegetation characteristic using 100 m transect lines with three replications. The result showed that the highest dominance level was on Rhizophore stylosa (50,017%), while dominance level of Rhizophore apiculata was 49,985%. Hue value of Rhizophore leaves was in the range  of86,90 to 141,350. The lowest hue value was 86,90 with colour more like yellow to green where the highest value was 141,350 which has dark green in colour. Significant correlation only occured between hue value and water salinity, however between chlorophyll content and other environmental factors has no significant correlation.
ANALISIS KESESUAIAN LAHAN BAGI KONSERVASI MANGROVE DI DESA TIMBUL SLOKO KECAMATAN SAYUNG, DEMAK Magdalena, Estherina; Anggoro, Sutrisno; Purwanti, Frida
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.54 KB)

Abstract

Kondisi lahan mangrove di Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak mengalami kerusakan mangrove karena erosi pantai sehingga menyebabkan kerusakan areal tambak dan infrastruktur lainnya. Agar kerusakan hutan mangrove tidak berlanjut, diperlukan upaya konservasi di daerah tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kerapatan dan keragaman mangrove, mengidentifikasi pemahaman responden tentang konservasi mangrove, serta menganalisis kesesuaian lahan mangrove bagi kegiatan konservasi di Desa Timbul Sloko. Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2014 - Februari 2015 di Desa Timbul Sloko Kecamatan Sayung, Demak. Pengambilan sampel dilakukan pada tiga stasiun, setiap stasiun terdiri dari tiga titik sampling,variabel yang diukur adalah kerapatan, keanekaragaman, pasang surut, arus, salinitas, pH dan substrat. Analisis kesesuaian dilakukan dengan pembuatan matriks kesesuaian kemudian pembobotan dan perhitungan skor berdasarkan tingkat pengaruh dari setiap variabel terhadap daerah yang potensial untuk dijadikan kawasan konservasi mangrove. Uji validitas dan  reliabilitas menggunakan aplikasi SPSS untuk mengetahui nilai modus kuesioner pada setiap responden. Hasil Kerapatan mangrove di desa tersebut seluruh stasiun berkisar antara 0,06 – 0,45 ind/m2, keanekaragaman (H’) tergolong sedang. Sebagian besar  responden (52,9% - 87,4%) memahami tentang konservasi mangrove. Hasil analisa kesesuaian lahan konservasi mangrove pada stasiun 1 dan 3 berada pada kelas sangat sesuai dan pada stasiun 2 berada pada kelas sesuai. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah lahan pada Desa Timbul Sloko Kecamatan Sayung, Demak dapat dijadikan daerah konservasi karena variabel pada daerah tersebut mendukung pertumbuhan mangrove. Conditions of mangrove swamp the Sayung Subdistrict, Demak Regency have been suffering coastal erosion that cause a damage of ponds area and other infrastructures. To prevent the further demage of mangrove forest is needed a conservation efforts in the area. This study aimed to know the density and diversity of mangrove ecosystems, to identify respondents knowledge about conservation of mangroves, and to analyze land suitability of mangrove for conservation activities. This study was conducted from November 2014 - February 2015 at the Timbul Sloko village. Data is collected at three stations, each station consists of three point sampling. The measured variables used in this study were density, diversity, tides, currents, salinity, pH and substrate. Analysis of suitability was conducted by making a suitability weight matrix and the score calculating based on the influence level from each variables that potential to be a mangrove conservation area. Validity and reliability tests done using SPSS to know mode value of questionnaires from each respondent. The results showed  mangroves density on the all station  ranged from 6 - 45 ind /100m2, diversity (H') is moderate. Mostly respondents understand about mangrove conservation (52.9% - 87.4%). The results of the land suitability for analysis of mangrove conservation in stations 1 and 3 are at a very appropriate class and at appropriate class at station 2. The study concludes that land on the Timbul Sloko village, Sayung subdistrict, Demak can be used as a conservation area because variables in the area support the growth of mangrove.
KELIMPAHAN DAN POLA PERSEBARAN SAND DOLLAR BERDASARKAN LOKASI KEGIATAN YANG BERBEDA DI PERAIRAN PULAU PRAMUKA KEPULAUAN SERIBU Masruroh, Nurul Hidayati; Suryanti, -; Purwanti, Frida
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (552.974 KB)

Abstract

Sand dollar termasuk dalam kelas Echinoidea dari filum Echinodermata yang memiliki bentuk tubuh irregular yaitu bentuk tubuh bilateral dan pipih atau oval tanpa lengan, duri-duri menutup tubuh. Habitatnya di dasar perairan yang berpasir atau daerah berlumpur. Pulau Pramuka merupakan salah satu pulau  yang mempunyai daerah rataan pasir yang luas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui komposisi jenis, kelimpahan dan pola sebaran sand dollar yang terdapat pada lokasi kegiatan yang berbeda di perairan Pulau Pramuka Kepulauan Seribu. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei - Juni 2014 di Pulau Pramuka Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu. Metode penelitian yang digunakan adalah observasi lapangan yang bersifat deskriptif, pengambilan data dilakukan pada 3 stasiun, yakni stasiun 1 (lokasi pemukiman), stasiun 2 (lokasi alami), stasiun 3 (lokasi pariwisata). Tekhnik pengambilan sampel dilakukan pada setiap stasiun dengan menggunakan line transek 50 meter dengan jarak antar tali 10 meter, pada tiap line transek dilakukan pengamatan dan pengambilan sand dollar menggunakan kuadran 1 x 1 meter. Hasil penelitian menunjukkan di pulau Pramuka terdapat 11 corak jenis sand dollar, dengan kelimpahan pada stasiun 1 sebanyak 537 individu, sedangkan  pada stasiun 2 sebanyak 601 individu, dan stasiun 3 sebanyak 195 individu. Kelimpahan relatifnya terbesar yang didapatkan di pulau Pramuka pada jenis Laganum depresum dan L.depresum tonganense sedangkan kelimpahan relatif  terkecil adalah L. fudsiyama africanum, L. retins, L. decagonale rectum, L. central dan L. decagonale. Pola sebarannya sebagian besar termasuk mengelompok (clumped). Sand dollar belong to class of Echinoidea from phylum Echinodermata that have an irregular body shape bilateral and flat or oval without arms,  covered by spines. Sand dollar habitat is in the sandy or muddy areas.  Pramuka island is one island that has a large area of sand flat. The purpose of this study were to determine species composition, abundance and distribution patterns of sand dollars found in the location with different activities in the Pramuka Island waters Kepulauan Seribu. This study was conducted in May-June 2014 at the Pramuka Island Kepulauan Seribu National Marine Park. The research method used a descriptive field observations, data collected at 3 station, in which stations 1 (Residential location), stations 2 (Natural location), stations 3 (tourism location).The sampling method is done by pulling the line transect 50 meters long at each station with distance of each rope 10 meter.  On each 1 meter the sand dollar was observed and collected using 1 x 1 m quadrant. The results showed that Pramuka Island has 11 types of sand dollar. With abundance at station 1 is 537 individual, station 2 is 601 individual, and station 3 is 195 individual. The Largest relative abundance found in the Pramuka Island are Laganum depresum and L. depresum tonganense whereas the smallest relative abundance are L. fudsiyama africanum, L. retins, L. decagonale rectum, L. central and L. decagonale. Sand dollars distribution patterns mostly clumped.
ANALISA FUNGSI EKOSISTEM AREA PERLINDUNGAN LAUT (APL) DI TAMAN NASIONAL KEPULAUAN SERIBU Febrianti, Mutia Ismi; Purwanti, Frida; Hartoko, Agus
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.403 KB)

Abstract

Area Perlindungan Laut (APL) adalah suatu area yang terdiri dari berbagai habitat, keberadaannya dilindungi dan dikelola dengan sistem zonasi. Taman Nasional Kepulauan Seribu (TNKpS) dalam wilayahnya memiliki beberapa titik APL yang tersebar di Kelurahan Pulau Harapan, Pulau Kelapa, Pulau Panggang, Pulau Tidung dan sisanya dikelola oleh masyarakat Pulau Pari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi biofisik dan keanekaragaman hayati APL, tingkat pemahaman, persepsi dan partisipasi masyarakat terhadap APL dan fungsi ekosistem APL. Metode penelitian adalah deskriptif yang bersifat studi kasus dengan observasi lapangan di dua wilayah APL, yaitu APL Kelurahan Pulau Panggang dan Pulau Harapan. Pengambilan data berupa aspek ekologi dan aspek sosial. Hasil penelitian menunjukkan kondisi APL Kelurahan Pulau Panggang dan Pulau Harapan dalam tingkat oligosaprobik dan keanekaragaman biota APL Kelurahan Pulau Panggang lebih tinggi dibandingkan dengan Pulau Harapan. APL Kelurahan Pulau Panggang memiliki 18 genera terumbu karang dan 8 genera ikan karang sedangkan APL Kelurahan Pulau Harapan memiliki 5 genera terumbu karang dan 6 genera ikan karang. Tingkat pemahaman masyarakat 61% tidak paham akan fungsi dibentuknya APL, 53% masyarakat menyatakan bahwa wilayah konservasi penting keberadaannya dan 58% masyarakat tidak pernah berpartisipasi dalam pengelolaan APL. Fungsi ekosistem APL sudah berjalan dengan baik, sesuai dengan tujuan dibentuknya APL. Marine Protected Area (MPA) was defined as an area consisting of varieties habitats, where its existence should be protected and managed within zoning systems. In the Kepulauan Seribu National park (TNKpS) area have some APL points spread at the Harapan island, Kelapa island, Panggang island, Tidung island and the rest managed by The Pari island community. The research aimed to know the state of biophysical and biodiversity of MPA, the level of understanding, perception and public participation toward MPA and functions of the MPA ecosystem. The research method was descriptive by case study through a field observation in two MPA region, namely MPA Panggang island and Harapan island. Data collecting in the form of ecological and social aspects. The result showed that condition of MPA in the Panggang island and Harapan island were the level of oligosaprobic and the diversity of biota, at the MPA Panggang island was higher than Harapan island. MPA Panggang island have 18 genera of coral reefs and 8 genera of coral fishes while MPA Harapan island have 5 genera of coral reefs and 6 genera of coral fishes. The Level of public understanding was 61% do not understand function of the MPA establishment, 53% of the people said that the conservation area were important and 58% people never be participated in the management of MPA.The function of the MPA ecosystem has been running well in accordance with the purpose of MPA establisment.
PENGETAHUAN, PERSEPSI DAN PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM KONSERVASI DI KAWASAN CAGAR ALAM PULAU SEMPU KABUPATEN MALANG Rahajeng, Marina Alin; Hendrarto, Boedi; Purwanti, Frida
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (621.181 KB)

Abstract

Pulau Sempu merupakan Cagar Alam yang terletak di Desa Tambak Rejo, Kabupaten Malang. Secara umum masyarakat mengenal Pulau Sempu sebagai tempat wisata. Penelitian ini  bertujuan untuk mengetahui pengetahuan masyarakat tentang konservasi, persepsi dan partisipasi masyarakat dalam menunjang konservasi di kawasan Cagar Alam Pulau Sempu serta mengetahui hubungan antara pengetahuan konservasi, persepsi dan partisipasi masyarakat dalam konservasi. Penelitian dilakukan pada bulan Mei 2014. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan di lapangan dan kuisioner dengan diberi skor menggunakan skala Likert. Uji Rank Spearman digunakan untuk menganalisis data yang didapatkan. Total Responden yang digunakan adalah 120 responden. Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat tentang konservasi 65% rendah,  tingkat persepsi masyarakat dalam konservasi 54 % rendah sedangkan tingkat partisipasi masyarakat dalam konservasi 56% tinggi. Hasil analisis tidak terdapat korelasi positif nyata antara pengetahuan konservasi dengan persepsi (F= 0,087), terdapat korelasi positif nyata antara konservasi dengan partisipasi (F= 0,000) dan terdapat korelasi positif  nyata antara persepsi dan partisipasi (F= 0,000).  Sempu Island is a Nature Reserve located in the village of Tambak Rejo, Malang. It is known as a tourism spot. This study were conducted to determine the public knowledge on conservation, public perception and public participation in supporting  conservation of the Sempu Island Nature Reserve area and to know the relationship between  knowledge of conservation, perception and public participation in the conservation. Research was conducted in May 2014. The study used a descriptive method. Data  collected by  field observations and scored questionnaires  using a Likert Scale's. The Spearman Rank test was used to analyse the data. Total number of respondent was 120 respondents. The results of this study show that 65% of public have low level of conservation knowledge, 54% of public had a low perception of the conservation program, while 56% of public had a high participation rate on  coservation . The result of the analysis showed that there was no significant positive correlation between knowledge for conservation and the public perception (F= 0,087). The analysis also show a significant positive correlation between conservation and the participation (F= 0,000) and the significant positive correlation was found on the correlation between perception and participation (F= 0,000).
ANALISIS KESESUAIAN KEGIATAN WISATA DI KAWASAN PANTAI TANJUNG LESUNG, KABUPATEN PANDEGLANG, BANTEN Rachmanita, Tasya; Hutabarat, Sahala; Purwanti, Frida
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 6, No 1 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (644.439 KB)

Abstract

ABSTRAK Pantai Tanjung Lesung merupakan kawasan wisata pantai yang terletak di desa Tanjung Jaya, Pandeglang. Pantai ini merupakan kawasan dalam proses pengembangan. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi potensi wisata, menganalisa karakteristik dari kegiatan wisata, menganalisa daya dukung kawasan (DDK) dan mengidentifikasi Indeks Keseuaian Wisata (IKW). Penelitian dilakukan pada bulan Juli – September 2016. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif untuk menghitung IKW dan DDK dan metode deskriptif dengan menyebar kuisioner kepada 30 responden masyarakat dan pengunjung menggunakan teknik sampling purposive sampling untuk mengetahui potensi, persepsi dan daya tarik.  Potensi Pantai Tanjung Lesung yaitu memiliki keadaan pasir putih dengan panjang pantai 50 meter. Daya tarik yang diberikan kawasan pantai adalah keindahan pemandangan pantai yang bersih dan masih alami. Vegetasi tumbuhan yang berada di kawasan pantai adalah pohon Kelapa, Gebang dan Trembesi yang digunakan untuk penghijauan lahan dan pelindung dari angin pantai. Indeks Kesesuaian Wisata  Pantai Tanjung Lesung dengan di ketiga stasiun termasuk dalam kategori S1 atau sangat sesuai dengan nilai IKW 96%. Daya Dukung Kawasan pantai Tanjung Lesung untuk kegiatan berenang memiliki daya tampung sebanyak 199 orang, kegiatan snorkeling 90 orang, dan  bananaboat 75 orang. Kegiatan wisata pantai tidak melebihi kapasitas DDK. Kesesuaian kegiatan di pantai Tanjung Lesung untuk kegiatan wisata berenang tergolong sangat sesuai dengan nilai IKW 96% untuk kegiatan snorkeling 70% dan bananaboat 72% tergolong sesuai bersyarat karena  memiliki kedalaman dan kecerahan yang tidak sesuai dengan ketentuan. Kata Kunci: Potensi Wisata, Indeks Kesesuaian Wisata, Daya Dukung Kawasan, Pantai Tanjung Lesung ABSTRACT                Tanjung Lesung beach is a coastal tourist area located in the village of Tanjung Jaya, Pandeglang, that still in development process. The aims were to identify the tourism potentials, to analyse the characteristics of the tourism activities, to analyse carrying capacity (CC) of the area  and to identify the Tourism Suitability Index (TSI). The study was conducted from  July to September 2016. The research used quantitative method to count TSI and CC and descriptive method by spreading questionnaires to 30 respondents of community and visitors using purposive sampling technique to know the potential, perception and tourism attractiveness. The potency of Tanjung Lesung is full of white sand along of 50 meters. Vegetation in the area of the beach a coconut tree,  “Gebang” and “Trembesi” used for reforestation and protection of the wind beach. The attraction of beach area is its beautiful view with clean and unspoiled water. The TSI of Tanjung Lesung Beach in three stations are in S1 category or very suitable with value of 96%. The CC of Tanjung Lesung Beach for swimming is 199 person, snorkeling is 90 person, and bananaboat is 75 person. Suitability activities in Tanjung Lesung beach for swimming activities is classified as very suitable with TSI value of 96% for snorkeling activities 70% and bananaboat 72% are classified in conditional because of depth and brightness that do not comply with the standard Keywords: Tourism Potential, Tourism Suitability Index, Carrying Capacity, Tanjung Lesung Beach 
ANALISIS HUBUNGAN KELIMPAHAN FITOPLANKTON DENGAN KANDUNGAN NITRAT DAN FOSFAT DI PERAIRAN MOROSARI, DEMAK Relationship Analysis of Phytoplankton Abundance to Nitrate and Phosphate in the Morosari Waters, Demak Nasution, Afiah; Widyorini, Niniek; Purwanti, Frida
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 8, No 2 (2019): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.484 KB) | DOI: 10.14710/marj.v8i2.24230

Abstract

ABSTRAK Morosari terletak di kecamatan Sayung, Demak dimana terdapat pemukiman penduduk, kegiatan pariwisata dan perikanan. Aktivitas ini dapat memengaruhi keberadaan organisme di perairan, khususnya fitoplankton. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan fitoplankton, kandungan nitrat dan fosfat, serta hubungan antara kelimpahan fitoplankton dengan kandungan nitrat dan fosfat di perairan Morosari. Penelitian ini mengacu pada penelitian deskriptif korelasional dengan metode pengambilan sampel acak sistematik dan analisis data dengan analisis regresi dan korelasi Pearson. Penelitian ini berlangsung selama enam bulan dengan pengambilan sampel dilakukan pada bulan Mei 2018 yang berlangsung selama tiga minggu berturut-turut. Data yang diukur meliputi parameter fisika-kimia (temperatur air, kecerahan, kedalaman, arus, pH, salinitas, DO, bahan organik, nitrat dan fosfat) serta kelimpahan fitoplankton, indeks keanekaragaman, keseragaman, dan dominansi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan fitoplankton tertinggi yaitu dari kelas Bacillariophyceae sebesar 4.362 ind/l, terendah dari kelas Dinophyceae sebesar 163 ind/l, dengan jenis tertinggi yaitu Chaetoceros sp sebesar 1.022 ind/l, dan jenis terendah yaitu Micractinium sp sebesar 7 ind/l. Kandungan nitrat di perairan Morosari berkisar antara 3,99 – 7,09 mg/l, dengan rata-rata keseluruhan sebesar 5,11 mg/l (Eutrofik). Kandungan fosfat berkisar antara 0,01 – 1,13 mg/l, dengan rata-rata keseluruhan sebesar 0,18 mg/l (Eutrofik). Hubungan kelimpahan fitoplankton dengan kandungan nitrat tergolong kategori lemah namun pasti (0,26), sedangkan dengan kandungan fosfat tergolong kuat (0,70) pada taraf kepercayaan 95%. ABSTRACT Morosari located in the sub-district of Sayung, Demak where residential areas, tourism industries and fisheries activities were existed. These activities could affecting the presence of organisms in the waters, especially phytoplankton. This research aimed to determine the abundance of phytoplankton, the content value of nitrate and phosphate, and the relationship of phytoplankton abundance to the content of nitrate and phosphate in the Morosari waters. This research  refers to correlational descriptive research with the systematic random sampling method, and the analysis of relationship carried out by regression analysis. This research has been conducted for six months with sampling started in May 2018 for three weeks consecutively. The data measured included physical-chemical parameters (temperature of water, transparency, depth, current, pH, salinity, DO, organic matter, nitrate and phosphate) as well as abundance, diversity, uniformity, and dominance index. The results showed that the highest phytoplankton abundance was from the Bacillariophyceae class (4.362 ind/l), the lowest was Dinophyceae class (163 ind/l), with the highest species was Chaetoceros sp (1.022 ind/l), and the lowest species was Micractinium sp (7 ind/l). The nitrate content in the Morosari waters ranges from 3.99 - 7.09 mg/l, with an overall average of 5.11 mg/l (Eutrophic). Phosphate content ranged from 0.01 - 1.13 mg/l, with an overall average of 0.18 mg/l (Eutrophic). The abundance of phytoplankton with nitrate content was classified as weak but definite(0.26), while phosphate content was strong (0.70) at 95% confidence level.
ANALISIS KERENTANAN PANTAI MARON DAN PANTAI TIRANG KECAMATAN TUGU, KOTA SEMARANG (Analysis of Coastal Vulnerability on the Maron Beach and Tirang Beach at Tugu Subdistrict, Semarang City) Prabowo, Danar; Muskananfola, Max Rudolf; Purwanti, Frida
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 6, No 4 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (667.183 KB)

Abstract

Pantai Maron dan Pantai Tirang merupakan daerah wisata di wilayah pesisir Semarang. Nilai kerentanan pantai tersebut perlu diketahui agar pemanfaatannya tidak terganggu. Pantai Maron dan Pantai Tirang Kecamatan Tugu, Kota Semarang, dianalisis menggunakan metode CVI (Coastal Vulnerability Index), dilakukan pada bulan Mei sampai dengan Juni 2017. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi kondisi kerentanan Pantai Maron dan Pantai Tirang, dan mengetahui nilai indeks kerentanan ekosistem Pantai Maron dan Pantai Tirang, Kecamatan Tugu, Kota Semarang. Metode CVI (Coastal Vulnerabilty Index), dilakukan dengan cara menilai kerentanan pantai pada variabel kemiringan pantai, jarak tumbuhan dari pantai, pasang surut rata-rata, tinggi gelombang rata-rata, dan erosi/akresi pantai berdasarkan tabel indeks kerentanan pantai pada lima sel pantai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai CVI Pantai Maron antara 6,45 – 9,13 termasuk dalam kategori kerentanan pantai yang rendah (>20,5), sedangkan nilai CVI Pantai Tirang yaitu 10,21 dan 22,82 termasuk dalam kategori kerentanan rendah dan menengah (20,5 – 25,5). Kesimpulan yang dapat disampaikan adalah nilai kerentanan Pantai Maron dan Pantai Tirang, Kecamatan Tugu, Kota Semarang berdasarkan variabel fisik termasuk dalam kategori rendah dan menengah. Maron and Tirang beaches are tourism area in the coastal area of Semarang. The value of vulnerability of the coast should be known so its utilization will not be disturbed. The Maron Beach and Tirang Beach used Coastal Vulnerability Index method. The research was carried out from Mei to June, 2017. The aims of this study are to identify vurnerability conditions of Maron Beach and Tirang Beach, and to know vulnerability index value of Maron Beach and Tirang Beach, Tugu Subdistrict, Semarang City. CVI method used by scoring coastal vulnerability on variables of coastline slope, plants distance from the coast, average tidal range, average wave height, and coastline changes (accresion/erosion) based on table of coastal vulnerability index at five coastal cells. The research show that the CVI value of the Maron Beach 6,45 into 9,13 that include in the low coastal vulnerability category (<20,5), while CVI value of the Tirang Beach 10,21 and 22,82 that include in the low and middle coastal vulnerability category (20,5-25,5). Conclusion of this research is coastal vulnerability index of Maron Beach and Tirang Beach, Tugu Subdistrict, Semarang City based on physical variables belong to low and middle vulnerability.   GMT Detect languageAfrikaansAlbanianAmharicArabicArmenianAzerbaijaniBasqueBelarusianBengaliBosnianBulgarianCatalanCebuanoChichewaChinese (Simplified)Chinese (Traditional)CorsicanCroatianCzechDanishDutchEnglishEsperantoEstonianFilipinoFinnishFrenchFrisianGalicianGeorgianGermanGreekGujaratiHaitian CreoleHausaHawaiianHebrewHindiHmongHungarianIcelandicIgboIndonesianIrishItalianJapaneseJavaneseKannadaKazakhKhmerKoreanKurdishKyrgyzLaoLatinLatvianLithuanianLuxembourgishMacedonianMalagasyMalayMalayalamMalteseMaoriMarathiMongolianMyanmar (Burmese)NepaliNorwegianPashtoPersianPolishPortuguesePunjabiRomanianRussianSamoanScots GaelicSerbianSesothoShonaSindhiSinhalaSlovakSlovenianSomaliSpanishSundaneseSwahiliSwedishTajikTamilTeluguThaiTurkishUkrainianUrduUzbekVietnameseWelshXhosaYiddishYorubaZulu AfrikaansAlbanianAmharicArabicArmenianAzerbaijaniBasqueBelarusianBengaliBosnianBulgarianCatalanCebuanoChichewaChinese (Simplified)Chinese (Traditional)CorsicanCroatianCzechDanishDutchEnglishEsperantoEstonianFilipinoFinnishFrenchFrisianGalicianGeorgianGermanGreekGujaratiHaitian CreoleHausaHawaiianHebrewHindiHmongHungarianIcelandicIgboIndonesianIrishItalianJapaneseJavaneseKannadaKazakhKhmerKoreanKurdishKyrgyzLaoLatinLatvianLithuanianLuxembourgishMacedonianMalagasyMalayMalayalamMalteseMaoriMarathiMongolianMyanmar (Burmese)NepaliNorwegianPashtoPersianPolishPortuguesePunjabiRomanianRussianSamoanScots GaelicSerbianSesothoShonaSindhiSinhalaSlovakSlovenianSomaliSpanishSundaneseSwahiliSwedishTajikTamilTeluguThaiTurkishUkrainianUrduUzbekVietnameseWelshXhosaYiddishYorubaZulu         Text-to-speech function is limited to 200 characters  Options : History : Feedback : DonateClose
Co-Authors - Adhian - Supriharyono Abdul Ghofar Achmad Fama Adhe Nur Afian agung Suryanto Agus Hartoko Agustina Risqiani Ainni, Chusnul Firaqie Alin Fithor Aly Handartoputra Amalia, Yusrina Amir Suharto Rumalean Angesti Lintang Pristira Apriliana, Wahyu Ika Arif Rahman Arif Widiyanto Atrasina Adlina Aurora Minerva Azis Nur Bambang Bagus Biantara, Bagus Bambang Dwiloka Bambang Sulardiono Bangun, M. Fadhillah Rasyid Beni Sabdo Nugroho Bima Tri Widyatmoko Boedi Hendrarto cahyadi, jimmy Churun A&#039;in Churun Ain Churun Ain Dedy Soedharma Desrina Desrina Deviana, Desi Avinda Diah Ayuningrum, Diah Dian Wijayanto Djoko Suprapto Donny Juliandri Prihadi Dwi Setyoningsih, Dwi Elok Faiqoh Elrin Meivian Mongi, Elrin Meivian Estherina Magdalena, Estherina Fabiola Intan Yovita, Fabiola Intan Febrianto, Sigit Febrilia, Anggita Yohana Fefi Tri Yanti, Fefi Tri Firdaus, Nur Salsabila Geertruidha Adelheid Latumeten Guliano Gema Adi Satria Hadi S Alikodra Haeruddin Haeruddin Ilhamsyah, Ahmad Jefryco, Siahaan Komah, Siti Kukuh Prakoso, Kukuh Lestari, Hima Desy Liana, Tri Budi Luthfiani, Laeli Mardani, Arif Marina Alin Rahajeng Max Rudolf Muskananfola Muhammad Fadil Muttaqin, Muhammad Fadil Muhammad Saiful Adip Mutia Ismi Febrianti Mutia Ismi Febrianti Nafisah, Nailin Nasution, Afiah Niniek Widyorini Nurbaity Istiqomah Nurul Hidayati Masruroh nurul latifah Obaja Karubaba Pintya Dwanita Ayu Pratesthi, Pintya Dwanita Ayu Prabowo, Danar Prasetia, Muhammad Nur Prawiro, Hendro Prayuda, Adam Bergas Pujiono Wahyu Purnomo Pujiono Wahyu Purnomo Putri Dellia Mukhtar, Putri Dellia Putri, Nanda Bunga Sukma Wijaya Rachmadianti, Anditya Devi Rachmanita, Tasya Rajib Jaka Dwinta Chandra Ratri Canar Perdana Reny Oktavianti Riana Purnamasari, Riana Rizky Muliani Dwi Ujianti Sahala Hutabarat Saputro, Danang Adi Septianda, Fajar Sihotang, Silvyani Putri Sipayung, Louis Allen Siti Rudiyanti Slamet Budi Prayitno Sri Rejeki Supriharyono Supriharyono Suradi Wijaya Saputra Suryanti Suryanti - Sutrisno Anggoro Sutrisno Anggoro Tarigan, Novia Putri Tiara Esha Kinanti Vera, Grecya Christa Wardhani, Pramudia Wirasatrio, Fauzima Dwi Yustiara Widya Saraswati Yusuf Kamlasi