cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Aquaculture Management and Technology
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Journal of Aquaculture Management and Technology diterbitkan oleh Program studi Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Undip. JAMTech menerima artikel-artikel yang berhubungan dengan akuakultur, nutrisi pakan ikan, parasit dan penyakit ikan, produksi budidaya, dll.
Arjuna Subject : -
Articles 22 Documents
Search results for , issue "Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015" : 22 Documents clear
PENGARUH PENAMBAHAN ENZIM FITASE DALAM PAKAN BUATAN TERHADAP EFISIENSI PEMANFAATAN PAKAN DAN LAJU PERTUMBUHAN SPESIFIK IKAN KERAPU CANTANG (Epinephelus sp.) Chrisdiana, Gradhika; Rachmawati, Diana; Samidjan, Istiyanto
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.476 KB)

Abstract

Budidaya ikan kerapu perlu memperhatikan beberapa aspek, salah satu aspek eksternal yang terpenting adalah pakan. Pakan dengan nutrisi seimbang merupakan faktor yang terpenting. Pakan buatan mengandung bahan nabati, bahan tersebut memiliki kekurangan yaitu mengandung zat anti nutrisi berupa asam fitat. Enzim fitase merupakan enzim eksogenus yang dapat mengurangi kandungan asam fitat dalam pakan buatan sehingga meningkatkan penyerapan nutrien oleh tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan enzim fitase dalam pakan buatan dan mengetahui dosis enzim fitase yang optimal dalam pakan buatan terhadap pertumbuhan ikan kerapu cantang (Epinephelus sp.). Ikan uji yang digunakan adalah ikan kerapu cantang dengan bobot rata-rata 19,4±0,36 g.ekor-1 dan padat tebar 1 ekor.l-1. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini: perlakuan A (enzim fitase dosis 0 mg/kg pakan), B (enzim fitase dosis 500 mg/kg pakan), C (enzim fitase dosis 1000 mg/kg pakan), dan D (enzim fitase dosis 1500 mg/kg pakan). Data yang diamati meliputi laju pertumbuhan spesifik (SGR), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP) dan rasio efisiensi protein (PER), dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan enzim fitase dalam pakan buatan memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap EPP dan PER, berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap SGR. Dosis optimal enzim fitase sebesar 1.080 – 1.090 mg/kg pakan buatan mampu menghasilkan SGR optimal sebesar 0,519%/hari, 0,386% PER, dan EPP sebesar 25,3%. Kualitas air pada media pemeliharaan masih berada pada kisaran yang layak untuk budidaya ikan kerapu cantang. The grouper culture need to pay attention to some aspects, one of the external aspects of the most important is the feed. Feed with balanced nutrition is the most important factor. Containing artificial feed vegetable matter , having a deficiency is the material containing the substance anti-nutrient such as phytic acid. Phytase is exogenous enzymes that can reduce phytic acid content in artificial feed so increase the absorption of nutrient by the body. This research aims to determine the effect of phytase in diet on the growth cantang grouper (Ephinephelus sp.) and determine optimal dose phytase in artificial feed cantang grouper (Ephinephelus sp.). The fish samples which are used are the seed of the grouper which have average of weight 19.4±0.36 g.fish-1 and stocking density 1 fish.l-1. This research was carried out experimentally by using a completely randomized design (CRD) of 4 treatments and 3 replications. The treatments in this research were treatment A (phytase dose of 0 mg/kg of feed), B (phytase dose of 500 mg/kg of feed), C (phytase dose of 100 mg/kg of feed), and D (phytase dose of 1500 mg/kg of feed). The data observed were spesific growth rate (SGR), protein efficiency ratio (PER), efficiency of feed utilization (EPP), and water quality. The results showed that addition of phytase in artificial feed highly significantly effect (P <0.01) on the EPP, and PER, significant (P<0.05) on the SGR. Optimal dose phytase is 1,080 – 1,090 mg/kg of feed able to produce SGR to 0.519%, 0.386% in PER, and EPP to 25.3%. Water quality in the media is still in decent condition for cantang grouper. 
PENGARUH PENAMBAHAN ENZIM FITASE PADA PAKAN BUATAN TERHADAP EFISIENSI PEMANFAATAN PAKAN, PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN IKAN NILA MERAH SALIN (Oreochromis niloticus) Pratama, Alyosha Putra; Rachmawati, Diana; Samidjan, Istiyanto
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (498.786 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengkaji pengaruh penambahan enzim fitase dan menentukan dosis terbaik enzim fitase dalam pakan buatan terhadap efisiensi pemanfaatan pakan, pertumbuhan dan kelulushidupan  ikan nila merah salin (Oreochromis niloticus). Ikan uji yang digunakan adalah ikan nila merah salin (O. niloticus) sebanyak 120 ekor dengan bobot rata-rata 3,49±0,28 g/ekor. Ikan uji dipelihara selama 42 hari dengan padat penebaran 1ekor/L. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah penambahan enzim fitase pada pakan uji dengan dosis yang berbeda, yaitu A (0 mg/kg pakan), B (400 mg/kg pakan), C (50 mg/kg pakan) dan D (600 mg/kg pakan). Pakan uji yang digunakan berupa pelet dengan diameter berukuran 1-2 mm, mengandung kandungan protein 25% dan dilakukan penambahan enzim fitase pada setiap perlakuan. Pengumpulan data berupa laju pertumbuhan spesifik (SGR), rasio efisiensi protein (PER) efisiensi pemanfaatan pakan (EPP) dan parameter kualitas air. Data yang terkumpul setelah itu dilakukan analisa ragam (ANOVA). Apabila dalam analisa ragam menunjukkan pengaruh nyata (p<0,05) maka dilanjutkan dengan uji wilayah Duncan untuk mengetahui perbedaan nilai tengah antar perlakuan. Data kualitas air dianalisa secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan enzim fitase dalam pakan buatan berpengaruh nyata (p<0,05) dan berpengaruh sangat nyata (p<0,01) terhadap laju pertumbuhan dan efisiensi pemanfaatan pakan terhadap nila merah (O. niloticus) dalam media bersalinitas. Dosis terbaik enzim fitase terhadap SGR, PER dan EPP terdapat pada perlakuan C (500 mg/kg pakan) masing-masing sebesar 1,96% /hari, 1,76% dan 43,01%. Kualitas air pada media pemeliharaan terdapat pada kisaran yang layak untuk budidaya ikan nila merah (O. niltocus) dalam media bersalinitas. This research was aimed to know the effect of phytase enzyme addition and determine the best dosage of phytase enzym in artificial feed for feed utilization efficiency, growth and survival rate of saline red tilapia (Oreochromis niloticus.The fish used was red tilapia (O. niloticus) amount 120 fishes with average weight 3,49±0,28 g/fish. The fish were cultured in 42 days with stock density 1 fish/L. This reasearch were using experimental method with complete randomized design with 4 treatments and 3 replication. The treatment is adding phytase enzyme in the test feed with different dosage, are: A (0 mg/ kg feed), B (400 mg/kg feed), C (500 mg/kg feed) and D (600 mg/kg feed).. The form of feed test is pellet with diameter size 1-2 mm, containing protein 25% and adding phytase enzyme to each treatments. The data obtained are spesific growth rate (SGR), protein efficiency ratio (PER) feed utilizatione efficiency (EPP) and water quality. The collected data anylized by variance analysis (ANOVA). If the variance analysis shown the significant effect (p<0,05 and very significant effect (p<0,01). If the data is significantly effect, then continue with Duncan test to know the difference of mid-value for each treatments. Water quality is anlyzed descriptically. The result shown that the addition of phytase enzyme in artificial feed gives a significantly effect for spesific growth rate, protein efficiency ratio and feed utilization efficiency of red tilapia (O. niloticus) in salinity media. The best dosage of phytase enzyme for SGR, PER and EPP is treatment C (500 mg/kg feed) which 1,96%/day, 1,76% and 43,01% for each. The water quality in culture media was feasible for saline  red tilapia (O.niloticus) culture.
PENGARUH PERENDAMAN PUPUK ORGANIK CAIR DENGAN DOSIS YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN RUMPUT LAUT (Caulerpa lentillifera) Ely Sufriyanti Ginting; Sri Rejeki; Titik Susilowati
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (311.412 KB)

Abstract

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan produksi rumput laut pada tahun 2015 sebesar 10,3 juta ton. Salah satu jenis rumput yang sangat potensial untuk dikembangkan yaitu Caulerpa lentillifera. Rumput laut ini banyak digemari masyarakat dalam negeri maupun luar negeri karena memiliki nilai ekonomis yang sangat penting yaitu sebagai bahan makanan segar dan bahan untuk obat-obatan. Namun produksi C. lentillifera sendiri belum dapat tercukupi karena bersifat musiman dan masih banyak mengandalkan hasil dari alam. Oleh karena itu perlu adanya upaya untuk meningkatkan produksi C. lentillifera dengan  cara budidaya. Salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan  C. lentillifera dalam budidaya adalah ketersediaan nutrien yang biasanya dapat diperoleh dari pemberian pupuk. Berdasarkan hal tersebut, maka dilakukan penelitian pengaruh perendaman pupuk organik cair dengan dosis yang berbeda dan dosis yang terbaik terhadap pertumbuhan C. lentillifera. Peneltian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL) terdiri dari 4 perlakuan dan 5 kali ulangan. Adapun perlakuan tersebut yaitu perlakuan A (0 mL), B (1,5 mL), C (2,5 mL) dan D (3,5 mL) dengan lama perendaman 6 jam. Data yang didapatkan selama penelitian yaitu laju pertumbuhan spesifik (SGR) dan kualitas air. Data dianalis dengan Anova dan dilakukan uji lanjut Duncan. Hasil penelitian menunjukkan perendaman pupuk organik cair dengan dosis yang berbeda berpengaruh sangat nyata terhadap laju pertumbuhan spesifik C. lentillifera. Perlakuan D (perendaman dosis 3,5 mL) memberikan hasil terbaik dari semua perlakuan dengan laju pertumbuhan spesifik sebesar 3.29±0.06%/hari. Ministry of Maritime Affairs and Fisheries (KKP) targets 10,3 million tons seaweed production in 2015. One of potential seaweed to be developed is Caulerpa lentillifera. This type of seaweed is preferred by many people in Indonesia and the world because it has high economic value as fresh produce and for medicine. However, production is still insufficient because it is seasonal variety and its production still depends on natural harvest. Therefore, it is needed to increase C. lentillifera production by cultivation. One factor that affects C. lentillifera growth in the cultivation is the availability of nutrient. Therefore, a study on difficult dosage of liquid fertilizer throught immertion method is needed. The aim of this research was to determine the effect of different dosage of liquid fertilizer on the growth of C. lentillifera and to find out the proper dosage which can produce the best growth of C. lentillifera. This study was done experimentally with Completely Randomised Design. There were 4 treatments: A (0 mL), B (1,5 mL), C (2,5 mL) and D (3,5 mL) with time of immersion of 6 hours. Each treatment was replicated 5 times. The data collected were specific growth rate (SGR) and water quality parameter. Data was analyzed using collected were Anova and followed by Duncan’s test. The result shows that different dosage of liquid organic fertilizer showed highly significantly effected the specific growth rate (SGR). Treatment D (dose of 3,5 mL) gives the best result compared with another treatments, with specific growth rate of 3.29±0.06%/day.
PENGARUH KOMBINASI PAKAN ALAMI SEL FITOPLANKTON DAN BAHAN ORGANIK (BEKATUL, AMPAS TAHU, TEPUNG IKAN) YANG DIFERMENTASI TERHADAP PERFORMA PERTUMBUHAN Oithona sp. Afifah, Farida Nur; Suminto, -; Chilmawati, Diana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (555.115 KB)

Abstract

Oithona sp. merupakan salah satu jenis copepoda yang memungkinkan untuk dikembangkan sebagai substitusi pakan pengganti Artemia. Oithona sp. juga mempunyai  kandungan nutrisi yang lebih baik dari Artemia. Penelitian ini telah dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kombinasi pakan alami sel fitoplankton dan bahan organik (bekatul, ampas tahu, tepung ikan) yang difermentasi terhadap performa pertumbuhan Oithona sp., selain itu juga untuk mengetahui dosis kombinasi pakan alami sel fitoplankton dan bahan organik (bekatul, ampas tahu, tepung ikan) yang difermentasi yang memberikan performa pertumbuhan Oithona sp. terbaik.Metode yang digunakan selama penelitian Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5  perlakuan 3 kali ulangan. Kultur Oithona sp. dilakukan di botol kaca dengan volume 10 mL dan kepadatan awal Oithona sp. 1 ind/mL. Pemeliharaan dilakukan selama 21 hari. Perlakuan dalam penelitian ini yaitu A (100% fitoplankton : 0% fermentasi), B (75% fitoplankton : 25% fermentasi), C (50% fitoplankton : 50% fermentasi), D (25% fitoplankton : 75% fermentasi), E (0% fitoplankton: 100% fermentasi). Pakan Alami sel fitoplankton yang digunakan yaitu Chaetoceros calcitrans dan Isochrysis galbana, sedangkan bahan organik yang digunakan yaitu bekatul ampas tahu dan tepung ikan dengan perbandingan 35%: 35%: 30%.Hasil penelitian menunjukkan pemberian kombinasi pakan alami sel fitoplankton dan bahan organik yang difermentasi berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap performa pertumbuhan Oithona sp. Pemberian  fitoplankton 50% dan fermentasi 50% merupakan dosis terbaik dalam penelitian ini. Kepadatan puncak Oithona sp. dengan pemberian fitoplankton 50% dan fermentasi 50% mencapai 14,333 ± 0,115 ind/ml, sedangkan kepadatan naupli dengan pemberian fitoplankton 50% dan fermentasi 50% mencapai 6,930 ± 0,360 ind/ml, kepadatan copepodit 7,470 ± 0,321 ind/ml, kepadatan dewasa 8,970 ± 0,500 ind/ml. Oithona sp. is one of copepods that possibly can be developed as substitution food replacement for Artemia. This study was done with the aims to determined the effect of combination of live food organisms of fitoplankton cells and fermented organic matters on the growth performances of Oithona sp., moreover to determine the dosage of fitoplankton cells and fermented organic matters that gives the good growth  performances of Oithona sp.The method experiment used in this research. There was designed by completely randomized design (CRD) with five treatments and three replicates respectively. Those treatments were A (100% phytoplankton: 0% fermentation), B (75% phytoplankton: 25% fermentation), C (50% phytoplankton: 50% fermentation), D (25% of phytoplankton: 75% fermentation), E (0% phytoplankton: 100% fermentation). The culture was conducted in glass bottle with 10 ml in volume and the initial density of 1 ind/ml. Maintenance was caried out for 21 days. Chaetoceros calcitrans and Isochrysis galbana used as live food in this research. Rice bran, tofu waste and fish meal used as organic matters with a ratio 35% : 35% : 30%. The results showed combination of live food organism of fitoplankton cells and fermented organic matters were significantly effected (P<0.05) on the growth performances of Oithona sp. The treatment of phytoplankton 50% and 50% fermented organic matters was the best dosage that gives the good growth performances of Oithona sp. The highest density reached 14.333 ± 0.115 ind / ml, whereas naupli density, copepodit density, and adult density reached 6.930 ± 0.360 ind / ml, 7.470 ± 0.321 ind / ml, 8.970 ± 0.500 ind / ml respectively.
PENGARUH LAMA WAKTU PERENDAMAN RECOMBINANT GROWTH HORMONE (rGH) TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN LARVA NILA SALIN (Oreochromis niloticus) Perwito, Bambang; Hastuti, Sri; Yuniarti, Tristiana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368.412 KB)

Abstract

Ikan nila merupakan salah satu jenis ikan bernilai ekonomis tinggi dan banyak dikonsumsi masyarakat. Sehubungan dengan hal tersebut, perlu dilakukan rekayasa budidaya untuk memenuhi kebutuhan dan permintaan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama waktu perendaman rGH dan mengetahui lama waktu perendaman rGH yang optimal digunakan untuk memacu pertumbuhan dan kelulushidupan larva nila salin. Penelitian ini dilaksanakan di Balai Besar Pengembangan dan Budidaya Air Payau Jepara, Jawa Tengah, pada bulan Oktober – Desember 2014. Ikan uji yang digunakan adalah larva ikan nila salin yang telah habis kuning telur. Pemeliharaan dilakukan selama 35 hari. Penelitian ini menggunakan 4 perlakuan dan 3 ulangan yaitu A direndam rGH 2,5 mg/L selama 0 menit (kontrol), B direndam rGH 2,5 mg/L selama 30 menit, C direndam rGH 2,5 mg/L selama 60 menit, D direndam rGH 2,5 mg/L selama 90 menit. Variabel yang diukur meliputi laju pertumbuhan spesifik, pertumbuhan panjang mutlak, total konsumsi pakan, kelulushidupan, dan kualitas air. Nilai laju pertumbuhan spesifik adalah A 11,45±0,19%/hari; B 14,09±0,49%/hari; C 13,36±0,20%/hari; dan D 12,51±0,23%/hari. Nilai pertumbuhan panjang mutlak adalah A 3,37±0,14cm; B 4,02±0,13cm; C 3,75±0,22cm; dan D 3,72±0,28cm. Nilai total konsumsi pakan adalah A 13,88±1,60g; B 17,83±4,79g; C 17,27±1,66g; dan D 16,96±2,39g. Nilai kelulushidupan adalah A 67,78±1,92%; B 83,33±3,33%; C 77,78±1,92%; dan D 72,22±1,92%. Dengan demikian, lama waktu perendaman rGH berpengaruh nyata terhadap laju pertumbuhan spesifik, pertumbuhan panjang mutlak dan kelulushidupan larva nila salin namun tidak berpengaruh nyata terhadap total konsumsi pakan larva nila salin. Lama waktu perendaman optimum untuk meninngkatkan pertumbuhan dan kelulushidupan larva nila salin adalah berkisar antara 46,5 – 55,3 menit. Tilapia is one of fish species with high economic value, and consumed by many people. Based on that statement, should the holding of manipulation culture to fulfill nedds and society request. This study aimed to determine the effect of time immersion RGH and determine the optimal length of time immersion to stimulate the growth and survival of larvae saline tilapia. This research was conducted at the Center for Development and Brackish Water Aquaculture Jepara, Central Java, in October-December 2014. The test fish used is saline tilapia larvae that have depleted egg yolk. Maintenance is carried out for 35 days. This study uses 4 treatments and 3 replications namely A immersion RGH 2.5 mg / L for 0 minutes (control), B immersion RGH 2.5 mg / L for 30 minutes, C immersion RGH 2.5 mg / L for 60 minutes, D immersion RGH 2.5 mg / L for 90 minutes. Variables measured include the specific growth rate, the growth of absolute length, total feed consumption, survival, and water quality. The value of the specific growth rate is A 11.45 ± 0.19%/day; B 14.09 ± 0.49%/day; C 13.36 ± 0.20%/day; and D 12.51 ± 0.23%/day. Value growth in the absolute length is A 3.37 ± 0.14cm; B 4.02 ± 0.13cm; C 3.75 ± 0.22cm; and D 3.72 ± 0.28cm. The total value of feed consumption is A 13.88 ± 1.60g; B 17.83 ± 4.79g; C 17.27 ± 1.66g; and D 16.96 ± 2.39g. Value survival is A 67.78 ± 1.92%; B 83.33 ± 3.33%; C 77.78 ± 1.92%; and D 72.22 ± 1.92%. Thus, time immersion RGH significantly affect the specific growth rate, the growth and survival of larvae absolute length indigo copy but did not significantly affect total feed intake of saline tilapia larvae. Optimum time immersion at enhancing the growth and survival of larvae saline tilapia is ranged from 46.5 to 55.3 minutes.
PERFORMA PRODUKSI IKAN LELE (Clarias gariepinus) YANG DIPELIHARA DALAM SISTEM BUDIDAYA BERBEDA Primaningtyas, Aisya Widya; Hastuti, Sri; Subandiyono, -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (605.172 KB)

Abstract

Optimalisasi kualitas media budidaya ikan lele (Clarias gariepinus) perlu dipertahankan melalui penerapan berbagai sistem budidaya agar performa produksinya meningkat.  Penerapan sistem budidaya tersebut, selain dengan penggantian air dapat diwujudkan dengan penerapan sistem sirkulasi dan resirkulasi.  Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji berbagai sistem budidaya pada proses produksi ikan lele (C. gariepinus).  Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 3 ulangan.  Perlakuan tersebut adalah: perlakuan A, B, C, yaitu ikan lele yang masing-masing dipelihara dalam wadah dengan menerapkan sistem penggantian air, sirkulasi, dan resirkulasi.  Ikan uji dengan bobot awal 1,79±1,19 g  dipelihara dalam akuarium berkapasitas 50 l dengan kepadatan 1 ekor/liter selama 70 hari.  Ikan diberi pakan dua kali sehari, yaitu pada pagi dan sore hari, dengan menerapkan metode at satiation.  Pengukuran kualitas media pemeliharaan yang meliputi kandungan oksigen terlarut (DO), suhu, pH, dan turbidity dilakukan setiap sore hari sebelum ikan diberi pakan.  Total Amonia Nitrogen (TAN) diukur dua kali, pada pertengahan dan akhir penelitian.  Berdasarkan pada uji ANOVA menunjukkan adanya pengaruh yang nyata (p<0,05) dari perlakuan terhadap nilai, tingkat konsumsi pakan (TKP), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), protein efficiency ratio (PER), laju pertumbuhan relatif (RGR), dan produksi biomassa, namun tidak berpengaruh nyata (p>0,05) terhadap nilai kelulushidupan (SR).  Perlakuan C memiliki nilai EPP, PER, RGR dan produksi biomassa tertinggi (p<0,05), yaitu masing-masing sebesar 173,31±39,15%; 5,42±1,22; 78,22±16,03%/hari; dan 2.560,71±364,50 g.  Secara umum, kandungan DO, suhu, pH, turbidity, dan NH3 selama pemeliharaan berada pada kisaran kadar layak untuk kehidupan ikan lele.  Berdasarkan pada nilai performa biologis serta kualitas media pemeliharaan, disimpulkan bahwa dengan menerapkan sistem resirkulasi dapat meningkatkan performa produksi ikan lele (C. gariepinus).   Optimization of media qualities in catfish culture (Clarias gariepinus) required to be maintained through the application of various aquaculture systems, so that the production performance could be optimized.  Besided by water exchange, the implementation of aquaculture systems could be applied either through the circulation or recirculation managements.  This study aimed to assess various aquaculture systems on the production process of catfish (C. gariepinus).  The experimental design used was a completely randomized design with 3 treatments and 3 replicates.  Those treatments were treatment A, B, and C, that were trial fishes rared in a container with water exchange, circulation, and recirculation aquaculture systems, respectively.  Trial fish with the initial body weights of 1,79±1,19 g was reared for 70 days in 50 l-aquaria with the density of 1 fish/l.  The fish was fed twice a day in the morning and afternoon by applying at satiation method.  Dissolved oxygen (DO), temperature, pH, and turbidity were measured in every afternoon before feeding.  Ammonia (NH3) was measured twice in the middle and in the end of the experiment.  Based on the ANOVA analyzed, it showed that the treatments affected significantly (p<0,05) on the value of Food Consumption (FC), Food Conversion Efficiency (FCE), Protein Efficiency Ratio (PER), Relative Growth Rate (RGR), and the biomass production, but didn’t affected significantly (p>0,05) on the value of SR.  Treatment C resulted on the highest value (p<0,05) of FCE, PER, RGR, and biomass production.  In general, the values of DO, temperature, pH, turbidity, and ammonia during the experiment were suitable for the catfish’s life.  Based on the values of biological performances and rearing media waterqualities, those could be concluded that application of aquaculture recirculation system was enable to improve the production performance of the catfish (C. gariepinus).
PENGARUH PERENDAMAN BERBAGAI DOSIS EKSTRAK DAUN JERUJU TERHADAP KELULUSHIDUPAN Scylla serrata YANG DIINFEKSI Vibrio harveyi Ardiantami, Agatya Sara; Sarjito, -; Prayitno, Slamet Budi
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.337 KB)

Abstract

Kepiting bakau (Scylla serrata) menjadi salah satu komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Akan tetapi, tingkat permintaan tidak berbanding lurus dengan tingkat produksi. Salah satu kendala yang dihadapi adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Salah satu penyakit bakterial yang sering menginfeksi kepiting bakau adalah vibriosis. Upaya pengobatan yang dilakukan masih menggunakan bahan kimia seperti antibiotic, padahal penggunaan antibiotik dapat menimbulkan dampak negatif, yaitu resistensi bakteri patogen dan residu yang dapat mencemari lingkungan. Alternatif pengobatan selain menggunakan antibiotik, yaitu menggunakan bahan alami yang bersifat antibakterial, seperti tumbuhan jeruju (A. ilicifolius). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perendaman ekstrak daun jeruju terhadap kelulushidupan, pertumbuhan dan gejala klinis kepiting bakau yang diinfeksi V. harveyi. Kepiting bakau yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 48 ekor dengan rata-rata bobot tubuh, yaitu 41.81+0.56 gram. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Semua kepiting disuntik dengan bakteri V. harveyi dengan tingkat kepadatan 106 CFU/ml dan direndam dengan ekstrak daun jeruju dengan dosis 0 ppm (perlakuan A), 400 ppm (perlakuan B), 600 ppm (perlakuan C) dan 800 ppm (perlakuan D). Hasil penelitian menunjukkan bahwa gejala klinis yang terlihat pada kepiting bakau, yaitu gerakan pasif, kaki-kaki merenggang, kaki renang berwarna merah, melanosis pada karapas (menghitam dan bercak coklat). Persentase kelulushidupan pada perlakuan B, C dan D mencapai 100%, sedangkan perlakuan A, yaitu 83.33%. Kualitas air pada media pemeliharaan menunjukkan masih didalam kisaran yang layak untuk kehidupan kepiting bakau. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perendaman ekstrak daun jeruju menunjukkan hasil tidak berpengaruh nyata terhadap kelulushidupan kepiting bakau. Mud crab (Scylla serrata) became one of fishery commodity which have a high-economic value. But, the demand rate not propotional with production level. One of an obstacle that be faced was disease that caused by bacterial. One of a bacterial disease that often infection mud crab was vibriosis. Medical eforts an usual conducted still using chemical matter like an antibiotic, in fact, the using of antibiotic can appear negative impacts were pathogen bacterial become resistent and residue can be soiled to environment. Medical alternative besides using antibiotic was using a natural matter which have an antibacterial characteristic was jeruju plant (A. ilicifolius). This research was aimed to know the effect of jeruju leaf extract immersion to survival rate, growth and clinical signs on mud crab that infected by V. harveyi. Mud crab that using in this research amount 48 crab with body weight average was 41.81+0.56 gram. This research was using completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 3 replications. All crabs injected by V. harveyi with density 106 CFU/ml and immersed with jeruju leaf extract with dose 0 ppm (treatment A), 400 ppm (treatment B), 600 ppm (treatment C) and 800 ppm (treatment D). The results showed that the Clinical signs on mud crab were passive motion, distantly-spaced leg, red-colour on swim leg, melanosys on carapace (blackened and brown spot). Percentage of SR on treatments B, C, D reaches 100%, but treatment A was 83.33%. Water quality on maintaince media showed that still in feasible range for mud crab life. Based on the results of this research was concluded that the submersion with jeruju leaf extract showed not significant effect on survival rate of mud crab.
PENGARUH PEMBERIAN PUPUK ORGANIK CAIR DENGAN LAMA PERENDAMAN YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN RUMPUT LAUT (Caulerpa lentillifera) Dewi Nurfebriani Nurfebriani; Sri Rejeki; Lestari Lakhsmi Widowati
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (402.7 KB)

Abstract

Budidaya Caulerpa lentillifera masih terdapat kendala yaitu ketersediaaan bibit yang tidak kontinu.  Hal ini dikarenakan sifatnya yang musiman sehingga mengakibatkan tidak adanya kontuinitas produsi  C. lentillifera setiap waktu. Produksi C. lentillifera dapat ditingkatkan dengan adanya pengembangan teknologi budidaya. Teknologi budidaya yang dilakukan salah satunya dengan penambahan pupuk. Penambahan pupuk pada media pemeliharaan bertujuan untuk mencukupi nutrien yang dibutuhkan untuk rumput laut. Perlu dilakukan penelitian dengan penambahan pupuk organik cair dengan lama perendaman yang berbeda dan lama perendaman yang terbaik untuk pertumbuhan C. lentillifera  guna meningkatkan produksinya. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 5 perlakuan yaitu perlakuan A (0jam); B (2 jam); C (4 jam); D (6 jam) dan E (8 jam) dengan dosis pupuk 2,5 mL/L. Data yang didapatkan selama penelitian meliputi laju pertumbuhan spesifik dan parameter kualitas air. Data dianalisis dengan ANOVA dan dilakukan uji Duncan. Hasil menunjukkan pemberian dosis pupuk organik cair dengan lama perendaman yang berbeda berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap l6 laju pertumbuhan spesifik. Uji Duncan memperlihatkan perlakuan D dengan lama perendaman 6 jam memberikan hasil terbaik dari semua perlakuan dengan nilai laju pertumbuhan spesifik (3.27±5.12%/hari). Parameter kualitas air masih dalam kisaran yang tepat untuk pertumbuhan C. lentillifera. Discontinuity of seeds availability becomes an obstacle in Caulerpa lentillifera cultivation. C. lentillifera is a seasonal variety of seaweed, so that makes it has no continuity of production. C. lentillifera production can be increased by development cultivation technology. One of cultivation technologies can be done is by adding the fertilizer. The aim of fertilizer addition on rearing media is to add the nutrient the seaweed require. Thus, there is a need to study on the effect of immertion duration with liquid organic fertilizer. The aims of this investigation is to find out the effect of different time of liquid organic fertilizer immersion on the growth of C. lentillifera  and to find out the proper time of immersion that result in the best growth of C. lentiilifera. This study was done experimentally by applying a Completely Randomized Design with 5 treatments, namely  A (0 hour); B (2 hours); C (4 hours), D (6 hours) and E (8 hours) with fertilizer dose of 2,5mL/L. Each treatment was replicated 4 repititions. The data collected were specific growth rate and water quality parameters. Data parameters was analyzed using ANOVA  followed by Duncan’s test. The result shows that application of liquid organic fertilizer with different immersion duration  shows highly significantly  affect (P<0.01) on specific growth rate. The best growth was found in treatment D (6 hours) with specific growth rate (3.37±0.17%)/day.  The water quality parameters were still in the proper range for  C. lentillifera growth.
PENGARUH BOBOT AWAL YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN Caulerpa lentillifera YANG DIBUDIDAYAKAN DENGAN METODE Longline DI TAMBAK BANDENGAN, JEPARA Sarah Nur Iskandar; Sri Rejeki; Titik Susilowati
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.004 KB)

Abstract

Caulerpa lentillifera termasuk kedalam alga hijau. Produksi C. lentillifera masih rendah karena mengandalkan hasil dari alam sehingga dibutukan teknologi budidaya untuk menunjang kontinuitas produksi C. lentillifera. Perbedaan biomassa awal sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan rumput laut. Hal ini sangat berkaitan dengan persaingan setiap individu rumput laut dalam mendapatkan unsur hara sebagai makanannya. Keberhasilan sistem penanaman dipengaruhi oleh penggunaan bibit yang baik dan bobot yang sesuai akan meningkatkan pertumbuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan bobot awal penanaman terhadap pertumbuhan C. lentillifera yang dibudidayakan dengan metode longline dan bobot awal penanaman rumput laut yang memberikan pertumbuhan terbaik. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 7 Februari 2015 - 22 April 2015 di Tambak Bandengan, Jepara, Jawa Tengah. Tanaman uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah rumput laut dari jenis C. lentillifera yang berasal dari Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar, Sulawesi. Tanaman uji dibudidayakan dengan metode longline dan dipelihara selama 35 hari. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan yaitu perlakuan A (50 g), B (75 g), C (100 g), dan D (125 g). Variabel yang diamati adalah pertumbuhan relatif, laju pertumbuhan spesifik, dan kualitas air. Hasil analisa ragam anova menunjukkan bahwa perbedaan bobot awal berpengaruh sangat nyata (P<0.01) terhadap pertumbuhan C. lentillifera. Hasil uji wilayah ganda (Duncan) menunjukkan perlakuan A dengan bobot 50 g memberikan pertumbuhan terbaik. Kesimpulan yang diperoleh adalah pertumbuhan rumput laut C. lentillifera dengan bobot awal penanaman 50 g memberikan pertumbuhan relatif terbaik sebesar 152.00±10.95%, dan pertumbuhan spesifik terbaik yaitu sebesar 2.64±0.13%/hari dan disarankan untuk dibudidayakan. Caulerpa lentillifera is belong to green algae species. C. lentillifera production is remains low and still depend on natural harvest, in other to cultivation technology is necessary to support the sustainable production of C. lentillifera. Initial weigh of biomass greatly affect the growth of seaweed. It is strongly associated with each individual seaweed competition in getting nutrients as food. The success of the culture system is affected by using a good seed and the appropriate weights will increase the growth. The aims of this study was to determine the effect of different initial weights on the growth of seaweed C. lentillifera and to find out the initial weight that gives the best growth during culture period with Long line method. This study was conducted from February 7th to April 22th 2015. The plants test used in this study was seaweed C. lentillifera that comes from Brackish Water Aquaculture Center (BPBAP) Takalar, Sulawesi. The tested of C. lentillifera cultivated by long line method and maintained for 35 days. This study using experimental design by Completely Randomized Design with 4 treatments and 5 replications. The treatments tested were A (50 g), B (75 g), C (100 g) and D (125 g). The variables measured were relative growth, specific growth rate, and water quality. ANOVA variance analysis results indicate that the initial weight difference was highly significant (P<0.01) on the growth of C. lentillifera, the result of the double region (Duncan) showed treatment A with 50 g in weight gave the best growth. The conclusion of this study that the growth of C. lentillifera with 50 g Initial weigh of planting gives the best result in relative growth rate about 152.00±10.95% and specific growth rate about 2.64±0.13%/day and it recommended to be cultured.
PENGARUH PEMBERIAN FERMENTASI KOTORAN BURUNG PUYUH YANG BERBEDA DALAM MEDIA KULTUR TERHADAP KANDUNGAN NUTRISI DAN PRODUKSI BIOMASSA CACING SUTRA (Tubifex sp.) Cahyono, Elsyaday Widhi; Hutabarat, Johannes; Herawati, Vivi Endar
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.197 KB)

Abstract

Cacing sutera (Tubifex sp.) merupakan salah satu pakan alami yang cocok digunakan sebagai pakan larva ikan, baik ikan konsumsi maupun ikan hias air tawar, sehingga kegiatan budidaya cacing sutera perlu dikembangkan sebagai solusi untuk mengatasi ketergantungan cacing sutera hasil pengumpulan dari alam dan untuk menghasilkan cacing sutera yang lebih berkualitas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan kadar kotoran burung puyuh pada campuran ampas tahu dan roti afkir yang difermentasi terhadap produksi biomassa dan populasi cacing sutera (Tubifex sp.), serta dosis kadar kotoran burung puyuh terbaik terhadap kandungan nutrisi cacing sutera (Tubifex sp.). Penelitian ini menggunakan design Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan masing-masing 3 kali ulangan. Perlakuan A (Kotoran burng puyuh 0g/L), Perlakuan B (Kotoran burung puyuh 25g/L), Perlakuan C (Kotoran burung puyuh 50g/L) serta Perlakuan D (Kotoran burung puyuh 75g/L). Masing-masing perlakuan dilakukan penambahan ampas tahu 50g/L dan roti afkir 100g/L. Kotoran burung puyuh, roti afkir, dan ampas tahu dimasukkan kedalam 12 nampan plastik dengan ukuran 30x21x7 cm. Media tersebut ditebari cacing sebanyak 10 g/wadah dan dipelihara selama 50 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kadar kotoran burung puyuh yang berbeda pada campuran roti afkir dan ampas tahu berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap produksi biomassa dan populasi cacing sutera (Tubifex sp.). Pertumbuhan biomassa, populasi serta kandungan nutrisi tertinggi diperoleh pada perlakuan C yakni sebesar 269,48±1,72%, (55287,50±440,39g) dan kandungan protein sebesar 68,19±0,33%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penambahan kotoran puyuh, roti afkir, dan ampas tahu dapat meningkatkan produksi biomassa, populasi dan kandungan protein cacing sutera. Silk worms (Tubifex sp.) is one of live food which is suitable for feed fish larvae, both fish consumption and freshwater fish, so the cultivation of silk worms need to be developed as a solution to overcome the dependence of silk worms collecting from nature and to produce higher quality silk worms. The aim of this study was to determine the effect of impurity content of quail on a mixture of tofu and bread salvage fermented for biomass production and population silk worms (Tubifex sp.). As well as dosage levels of dirt quail best of the nutrient content of silk worms (Tubifex sp .). This study uses a design completely randomized design (CRD) with 4 treatments and each of the 3 replicates. Treatment A (quail manure 0g / L), treatment B (quail manure 25g / L), treatment C (quail manure 50g / L) and treatment D (quail manure 75g / L). Each treatment, the addition of tofu 50g / L and bread rejects 100g / L. Quail manure, rejects bread and tofu added 12 plastic trays with a size of 30x21x7 cm. The media is littered with worms as much as 10 g / container and maintained for 50 days. The results showed that administration of dirt levels at different quail manure, bread rejects and tofu waste highly significant (P <0.01) for the production of biomass and population silk worms (Tubifex sp.). Biomass growth, population and the highest nutrient content obtained at C treatment which amounted to 269.48 ± 1.72%, (55287.50 ± 440.39g) and the protein content of 68.19 ± 0.33%. Based on the results of this study concluded that the addition of dirt quail, rejects bread, and tofu can increase biomass production, population and protein content of silk worms.

Page 1 of 3 | Total Record : 22