cover
Contact Name
Nanang Setiawan
Contact Email
mozaik@uny.ac.id
Phone
+628122762804
Journal Mail Official
mozaik@uny.ac.id
Editorial Address
Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Yogyakarta, Kampus Karang Malang, Jalan Colombo No. 1, Yogyakarta, Indonesia, Kode Pos 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Mozaik: Kajian Ilmu Sejarah
ISSN : -     EISSN : 28089308     DOI : 10.21831/moz
Core Subject : Humanities, Social,
MOZAIK is an academic journal centered in the study of history. MOZAIK is welcoming contributions from young and more experienced scholars from different disciplines and approaches that focus on historical changes. MOZAIK is an academic journal to discuss various crucial issues in Indonesian history, both at local, national and international levels, covering the history of the early period of Indonesia to contemporary Indonesia. MOZAIK does it in a multidisciplinary and comparative manner.The scope of MOZAIK encompasses all historical subdisciplines, including, but not limited to, cultural, social, economic and political history, historiography, and the philosophy of history.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1 (2007): Mozaik" : 7 Documents clear
PARADIGMA FEMINISME ISLAM: KELUARGA SEBAGAI SUATU TEAM Saefur - Rochmat
Mozaik: Kajian Ilmu Sejarah Vol 2, No 1 (2007): Mozaik
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (55.034 KB) | DOI: 10.21831/moz.v2i1.5540

Abstract

ABSTRAK Umat Islam dituntut bersifat responsif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bila mereka ingin memiliki andil dalam membangun peradaban yang humanis. Mereka tidak bisa tidak mengacuhkan konsep feminisme yang lahir dari perut peradaban Barat karena mereka berkepentingan membela kepentingan umat Islam sendiri, disamping sebagai suatu cara untuk ikut mengarahkan jalannya peradaban modern itu sendiri. Feminisme Islam merupakan suatu koreksi terhadap konsep feminisme Barat yang bersifat sekuler. Feminisme Sekuler merupakan suatu bentuk protes terhadap ajaran agama Kristen yang dinilainya bersikap diskriminatif terhadap wanita. Wanita disalahkan sebagai penyebab terusirnya Adam dan Hawa dari surga. Wanita juga inferior terhadap laki-laki karena dia diciptakan dari tulang rusuk Adam. Feminisme Sekuler merupakan suatu ideologi yang eksklusif karena hanya berpretensi memperjuangkan kepentingan wanita. Kaum feminis menilai keluarga tidak sebagai suatu team, melainkan suatu kontrak antara wanita dan laki-laki baik untuk kepentingan biologis maupun ekonomis. Masing-masing bersifat individualis sehingga rumah tangga mudah sekali berantakan. Sebaliknya Feminisme Islam dibangun di atas suatu fondasi yang memandang keluarga sebagai suatu team. Dalam kasus tragedi terusirnya Adam dan Hawa, Islam menimpakan kesalahan kepada keduanya. Hawa juga tidak diciptakan dari tulang rusuk Adam, melainkan dari “bahan baku” yang sama (min nafsin wahidatin) karena Allah mencaiptakan manusia secara berpasangan. Dengan demikian, pilar rumah tangga adalah suami dan isteri dan masing-masing bertanggung jawab atas utuhnya bangunan rumah tangga.
PERANAN PEREMPUAN DI LUAR RUMAH TANGGA DALAM PERSPEKTIF HISTORIS Dina - Dwikurniarini
Mozaik: Kajian Ilmu Sejarah Vol 2, No 1 (2007): Mozaik
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (44.503 KB) | DOI: 10.21831/moz.v2i1.4490

Abstract

Abstrak   Ajaran yang selama ini dikenalkan pada kita adalah bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk pria. Anggapan tersebut telah menempatkan perempuan sebagai subordinasi pria. Bahkan kebudayaan kita juga mengajarkan perempuan sebagai mahkluk nomor dua. Oleh karena kedudukannya tersebut maka dalam seluruh aspek kehidupan perempuan tidak mempunyai peranan penting. Fungsi reproduksinya menjadikan perempuan tidak punya banyak waktu untuk berperanan dalam sektor publik, karena kewajibannya mengasuh anak. Mengurus rumah tangga adalah kewajibannya yang utama. Meskipun peran itu sangat penting tetapi dalam anggapan budaya tetap menempatkannya sebagai peran sekunder, karena mencari nafkah dilakukan suami adalah penting untuk meneruskan hidup. Melekatnya stigma sebagai “konco wingking” terus membayanginya. Betulkah sejak dahulu perempuan tidak mempunyai peran dalam rumah tangga terutama dalam sektor ekonomi? Tulisan singkat ini akan melihatnya dari aspek historis keberadaan perempuan di luar rumah tangganya. Pembahasan menekankan pada keterlibatan perempuan dalam perkembangan ekonomi masa kolonial.
WANITA JEPANG DALAM PERSPEKTIF HISTORIS Mudji - Hartono
Mozaik: Kajian Ilmu Sejarah Vol 2, No 1 (2007): Mozaik
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (49.326 KB) | DOI: 10.21831/moz.v2i1.5535

Abstract

Abstrak Dalam sejarah Jepang yang panjang dapat diketahui proses perubahan tentang kedudukan dan fungsi wanita dalam kehidupan sosial dan politik. Semula wanita memiliki peranan yang sangat besar. Bentuk masyarakat pada awal perkembangan bangsa Jepang adalah berdasar matriarkal, kemudian dasar itu digantikan oleh patriarkal. Status wanita merosot tajam hingga pada derajat pelayan dalam masa feodalisme. Keadaan ini berubah lagi pada pasca Perang Dunia II seiring dengan kemajuan industri yang sangat cepat, kaum wanita senantiasa telah mendapatkan persamaan  hak dengan kaum pria sehingga berani mengabaikan adat lama. Tradisi masyarakat yang dibentuk oleh ajaran Confusianisme asal Cina dan budaya feodal Jepang menyebabkan kedudukan dan fungsi wanita menjadi sangat lemah. Kebiasaan-kebiasaan lama lambat-laun mengalami erosi akibat kemajuan pendidikan pada kaum wanita. Secara umum kondisi kaum wanita Jepang pada tahun 1970-an sudah banyak mengalami perubahan. Memang, sisa-sisa kebiasaan lama masih ada hingga kini dan masih menjadi ganjalan bagi peningkatan peranan wanita. Pembatasan-pembatasan terhadap kaum wanita belum hilang sepenuhnya, dan masih dapat dijumpai dalam kehidupan masyarakat. Tirai penyekat itu diyakini akan hilang dengan sendirinya.  Sehingga pada waktunya kaum wanita juga memiliki kedudukan yang sejajar dengan kaum pria  dalam bingkai budaya Jepang modern.
STUDI KRITIS PERANAN WANITA DALAM PERPOLITIKAN DUNIA Ita Mutiara Dewi
Mozaik: Kajian Ilmu Sejarah Vol 2, No 1 (2007): Mozaik
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (70.659 KB) | DOI: 10.21831/moz.v2i1.5536

Abstract

Abstrak Keterlibatan wanita dalam panggung politik sebenarnya bukanlah hal yang asing di dunia sejak zaman dahulu. Peranan langsung maupun tidak langsung para wanita memiliki pengaruh tersendiri. Bahkan dalam mitosnya suku Amazon di belantara Amerika terkenal dengan komponen masyarakatnya dari kepala suku, panglima dan pasukan perang sampai penduduk biasa yang semuanya terdiri dari wanita. Selama ini dalam kacamata gender dan feminisme, muncul anggapan bahwa keterlibatan wanita sebagai pemimpin negara secara langsung maupun kedudukan strategis lain secara langsung dalam pengambilan kebijakan pemerintahan berbanding lurus dengan terselesaikannya permasalahan wanita. Benarkah kenyataan berkata demikian? Bagaimana menempatkan peranan wanita dalam dunia politik sesuai dengan fitrahnya? Analisis dalam tulisan ini diharapkan akan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut
BIAS GENDER DALAM PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN BUKU REFERENSI BAHASA INGGRIS SMA KELAS II “INFORMATIONAL ENGLISH” Nur - Hidayanto
Mozaik: Kajian Ilmu Sejarah Vol 2, No 1 (2007): Mozaik
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (45.376 KB) | DOI: 10.21831/moz.v2i1.5537

Abstract

Abstract Gender issues become hot phenomena today. The demand for equality in education, economy, politics, social and culture is so strong that it tries to stop gender issues rush. It occurs when women feel that there is unfairness between women and men rights. The unfairness is in the form of subordination, marginalization, inequality in responsibility and also women stereotype. The writer tries to find out the gender issues in the English Reference Book for 2nd year students of Senior High School entitled Informational English written by Bambang Kiswanto and Tony Rogers and published by Widya Utama in 2005. He investigates the use of language and also pictures which shows gender issues. Then, he compares it with theories and also facts in the real world. The writer finds that there are some gender issues in the book. They are in the form of inequality in the percentage of women and men pictures, the use of English pronouns, professions, emotion expressed in texts, famous persons, artists and also characterizations. In conclusion, the book illustrates some gender issues which often occur in the real life.
KARYA SASTRA MUTAKHIR DENGAN KAJIAN PENDEKATAN GENDER Setyawan - Pujiono
Mozaik: Kajian Ilmu Sejarah Vol 2, No 1 (2007): Mozaik
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (40.166 KB) | DOI: 10.21831/moz.v2i1.5538

Abstract

Abstract Gender is a concept used to identify the differences between men and women. It has a strong relationship with literary work, that stories are employed by authors to communicate their messages and ideas from women. The results of the creativity are strongly influenced by the socio cultural condition of the authors. Female authors try to actively cooperate in responding the development of gender issues and using the chances to express their creative ideas into their literary works. Authors mean to change the gender issues perception through their literature works to make female equal to men in socio construction community. Female literary works are used as media in motivating women to do something to express their ideas so that women figures become a part of this real world who has the right to consider and admired. Recently, female literary works are almost equal to men’s in Indonesian literary world as a figure to show that women are not weak as what our community thought in patriarchy culture. Studies in female literary works such as Ayu Utami, Dewi Dee, and Djenar Maesa Ayu have given new colors in literary world. The colors are very useful agents of a change for women specially to life equal in the socio constructions community in the future.
KARTINI: PERJUANGAN DAN PEMIKIRANNYA Sudrajat - Sudrajat
Mozaik: Kajian Ilmu Sejarah Vol 2, No 1 (2007): Mozaik
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (61.645 KB) | DOI: 10.21831/moz.v2i1.4489

Abstract

Abstract Kartini was native Indonesian woman in that have consciousness gender equality. Despite as a woman’s hero, Kartini has a perpective about the way   how to reach for Indonesian independent. All about of the Kartini perspectives was writeen on his letters that send to his friends. Later, JH Abendanon collects Kartini’s letters and published it on the title Door Duisternis Tot Licht (Out of Dark Comes Light). This article attemp to analizes the struggle and views of Kartini. The writers recite her letters in which publishes by Agnes Symmer by the title of Letters of A Javanese Princess: Raden Adjeng Kartini. By employing critic-analytical method the writers attempt to compare this book with another. The struggle of Kartini includes a gender equality, because she attemps to increase the degree of Indonesian woman by empowering themselves.  Kartini says that Indonesian woman must be out from handcuff customs. It can be reach with education in which employee the Indonesian woman.  Kartini wanted native Indonesian women have the freedom to learn and study. Kartini so has a perspective  about the way that can be reach to Indonesian independent with  nationalism, unity and social solidarity. The nationalism that Kartini’s views, includes the universal nationalism.  It means that the idea of kartini nationalism appears universal moral value: liberty, equality, solidarity, and fraternity.

Page 1 of 1 | Total Record : 7