cover
Contact Name
Nanang Setiawan
Contact Email
mozaik@uny.ac.id
Phone
+628122762804
Journal Mail Official
mozaik@uny.ac.id
Editorial Address
Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Yogyakarta, Kampus Karang Malang, Jalan Colombo No. 1, Yogyakarta, Indonesia, Kode Pos 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Mozaik: Kajian Ilmu Sejarah
ISSN : -     EISSN : 28089308     DOI : 10.21831/moz
Core Subject : Humanities, Social,
MOZAIK is an academic journal centered in the study of history. MOZAIK is welcoming contributions from young and more experienced scholars from different disciplines and approaches that focus on historical changes. MOZAIK is an academic journal to discuss various crucial issues in Indonesian history, both at local, national and international levels, covering the history of the early period of Indonesia to contemporary Indonesia. MOZAIK does it in a multidisciplinary and comparative manner.The scope of MOZAIK encompasses all historical subdisciplines, including, but not limited to, cultural, social, economic and political history, historiography, and the philosophy of history.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 16 No. 1 (2025)" : 6 Documents clear
Contradiction in Terminis: Sejarah Kepemilikan Lahan Hutan di Yogyakarta Juwono, Harto
MOZAIK Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 16 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/mozaik.v16i1.74066

Abstract

AbstrakTulisan ini membahas perkembangan kepemilikan lahan tempat hutan berdiri di wilayah Kesultanan Yogyakarta, dengan focus pada hutan di Gunung Kidul. Periode yang diambil dalam kajian ini adalah masa abad XIX dan XX, ketika pemerintah Hindia Belanda menegakkan administrasinya. Pertimbangannya adalah pada masa itu administrasi dan eksploitasi kehutanan di Yogyakarta mencapai puncaknya dan hubungan juridis formal antara kedua pihak berlangsung intensif. Persoalan yang diangkat adalah mengetahui sejauh mana hak kepemilikan atas tanah hutan berlaku, apakah oleh pemerintah kolonial atau Kesultanan Yogyakarta. Metode yang digunakan adalah metode sejarah, dengan sumber data sejauh mungkin berasal dari era sezaman. Sebagai kesimpulan dari kajian ini bisa disampaikan bahwa hak kepemilikan atas hutan oleh Kesultanan Yogyakarta masih tetap ada dan diakui secara legal formal oleh pemerintah kolonial.Kata Kunci : Hutan, Kesultanan Yogyakarta, Kepemilikan, Kolonial
Peran Kelompok Minoritas Mawali dalam Pengembangan Islam Masa Dinasti Abbasiyah Azmirrijali, Zaki
MOZAIK Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 16 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/mozaik.v16i1.76448

Abstract

Masa Dinasti Abbasiyah terkenal sebagai masa kejayaan Islam. Berbagai bidang seperti ilmu pengetahuan, politik, dan budaya mengalami kemajuan yang pesat pada masa ini. Namun, dibalik semua kejayaan tersebut, peran dari kelompok minoritas menjadi penting. Kelompok tersebut adalah kelompok Mawali. Kelompok ini adalah kumpulan dari orang-orang Islam, namun bukan keturunan Arab atau bisa juga berasal dari kalangan budak. Meskipun begitu, mereka memiliki kelebihan daripada orang-orang Arab. Metode penelitian yang digunakan untuk mengungkapkan peran dari kelompok minoritas Mawali ini adalah metode penelitian sejarah. Metode ini terdiri dari heuristic, verifikasi, interpretasi, dan penulisan (historiografi). Kesimpulan yang didapatkan adalah pada masa Abbasiyah orang-orang Mawali memiliki kedudukan yang lebih mulia daripada masa Umayyah. Kedudukan yang lebih baik ini memicu keaktifan dari orang-orang Mawali dalam mengembangkan berbagai hal seperti ilmu pengetahuan, budaya, dan politik. Peran Mawali lebih jauh lagi telah membawa Abbasiyah kepada kejayaan Islam. Namun, karena posisi yang semakin tinggi, kemudian orang-orang Mawali sendiri mulai mendirikan dinasti - dinasti kecil mereka sendiri.Kata Kunci: Mawali, Abbasiyah, Kejayaan, Islam.
Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat: Dhaup Ageng Sebagai Bentuk Pelestarian Budaya Indryani, Dytha Adelia; Martha, Nur'aeni; -, Kurniawati
MOZAIK Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 16 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/mozaik.v16i1.78906

Abstract

Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan poros dari adat istiadat Yogyakarta yang memiliki kewajiban untuk selalu melestarikan tradisi yang dimiliki, salah satu tradisi yang menjadi sorotan masyarakat Indonesia maupun dunia adalah warisan budaya adiluhung yaitu ritual upacara perkawinan atau dhaup ageng. Meskipun dhaup ageng yang dilakukan Karaton Yogyakarta bersifat feodal namun hal tersebut dianggap positif karena kekonsistenan Karaton Yogyakarta untuk mempertahankan adat istiadat sejak jaman Kesultanan Mataram Islam hingga masa kini di tengah gempuran modernitas. Dhaup agen di Karaton Yogyakarta memiliki prosesi yang sarat akan makna sehingga menjadi daya tarik bagi masyarakat untuk mengikutinya. Artikel ini akan membahas tentang prosesi pada upacara ritual pernikahan (dhaup ageng) di Karaton Yogyakarta serta makna dari prosesi tersebut. Penulis menggunakan pendekatan studi sejarah kebudayaan menurut Mc Cullagh yaitu mencoba mengkaji makna dari sebuah tindakan dan objek material dengan metode deskriptif-naratif. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan makna dari setiap prosesi yang dilakukan dalam tradisi upacara pernikahan di Karaton Yogyakarta. Manfaat dari artikel ini adalah untuk menambah wawasan tentang prosesi dhaup ageng di Karaton Yogyakarta yang merupakan sebuah bentuk pelestarian budaya di era modern, selain itu diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi generasi muda agar selalu menjaga warisan tradisi yang dimiliki oleh bangsa Indonesia dan bangga untuk mengenalkannya ke dunia internasional, serta ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia juga memiliki tradisi The Royal Wedding layaknya pernikahan di Kerajaan Inggris. Kata kunci: Karaton Yogyakarta, warisan budaya adiluhung, upacara ritual pernikahan, pelestarian budaya.
Komodifikasi Ternak Tradisional di Sunda Kecil Tahun 1960-an Sampai 2017 Pradita, Dennys; Wardhana, Adi Putra Surya
MOZAIK Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 16 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/mozaik.v16i1.72401

Abstract

Sunda Kecil is an area that has potential for farming. Most farms in this region are still traditional. Along with economic development policies, investment has begun to target farms in Sunda Kecil. When this article was written, research discussing the commodification of traditional farms in Sunda Kecil did not exist because most studies only focused on farm development techniques. Therefore, this research discusses (1) the reasons why Sunda Kecil has a tradition of farms; (2) the commodification of traditional farms in Sunda Kecil; (3) the influence of capitalism on the tradition of farms in Sunda Kecil. This research was compiled by collecting data, criticizing data, interpreting data, and compiling facts in a scientific narrative. Farms in Sunda Kecil fulfill the needs of food and life, such as horses, buffaloes, cows, and pigs. This potential has not been optimized, so the government conducted several policies to promote farms in Sunda Kecil, such as providing assistance for superior seeds, health employees, and artificial insemination. Modernization affected the pattern of farms in Sunda Kecil. Capital power has entered the economic joints that have the impact of changing the community's perspective on livestock. It is turned into a means to bring profit and change traditional farming towards modern farming.
Kawasan Cagar Budaya Nasional Trowulan Dari Masa Klasik Sampai Pasca Reformasi Fatihah, Lauhil; Riyanto, Edi Dwi
MOZAIK Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 16 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/mozaik.v16i1.80560

Abstract

Kawasan Cagar Budaya Nasional Trowulan merupakan kawasan konservasi Cagar Budaya yang berada di dua Kabupaten, yaitu Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Jombang yang saat ini menjadi kawasan konservasi Cagar Budaya yang dilindungi oleh Pemerintah Indonesia. Selama ini masyarakat luas mengenal kawasan tersebut sebagai kawasan bekas Ibu Kota Kerajaan Majapahit, padahal tinggalan arkeologi yang terdapat di kawasan tersebut menunjukkan bahwa peradaban yang pernah menghuni kawasan tersebut tidak hanya merupakan tinggalan dari masa Majapahit, namun juga terdapat peradaban lain yang lebih tua usianya. Perkembangan Kawasan Cagar Budaya Nasional Trowulan pasca Majapahit juga memiliki dinamika yang cukup dramatis, namun kawasan tersebut tetap mempertahankan identitasnya sebagai kawasan yang menyimpan sisi historis yang sangat menarik untuk dikaji. Penelitian ini akan membahas mengenai bagaimana perkembangan Kawasan Cagar Budaya Nasional Trowulan dari aspek historis mulai masa klasik hingga pasca reformasi. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode penelitian sejarah yang melalui empat tahap penelitian, yaitu heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Kawasan Cagar Budaya Nasional Trowulan telah dihuni oleh berbagai peradaban manusia sejak abad ke-10 masehi sampai pasca reformasi yang memiliki andil dalam membentuk kebudayaan yang ada di kawasan tersebut.Kata kunci: Kawasan Cagar Budaya Nasional, Trowulan, Majapahit
Suara Dari Pengasingan: Eksil Indonesia di Belanda Sebagai Penjaga Ingatan Kolektif dan Harapan Demokrasi (1988-2006) Safitri, Ilmiawati; Setiawan, Nanang
MOZAIK Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 16 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/mozaik.v16i1.85674

Abstract

Tulisan ini membahas peran kaum eksil Indonesia di Belanda dalam mendukung proses demokratisasi Indonesia dan usaha mempertahankan rasa nasionalisme mereka di Belanda dalam kurun waktu 1988-2020. Para eksil tidak hanya hadir menjadi saksi sejarah, tetapi juga berperan aktif dalam membangun narasai akternatif tentang Indonesia dari luar negeri. Melalui media cetak, forum diskusi, jaringan solidaritas internasional serta kanal digital pada era pascareformasi. Para eksil mempertahankan wacana kritis terhadap kekuasaan, melestarikan dokumentasi sejarah dan memberikan kontribusi pemikiran terhadap arah masa depan Indonesia. Metode penelitian ini adalah metode sejarah, melalui heuristik penelusuran arsip, dokumen organisasi diaspora, film dokumenter, wawancara lisan dan literatur pustaka pendukung lainnya. Dilanjut dengan verifikasi, interpretasi dan historiografi.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun identitas kaum eksil Indonesia telah menjadi warga negara asing, demokrasi menjadi alat perjuangan mereka dalam melawan kekuasaan yang dianggap tidak adil terhadap rakyat. Kaum eksil Indonesia di Belanda berperan penting dalam menjaga identitas nasional sekaligus mendorong demokrasi di Indoesia dengan menjadikan nasionalisme sebagau kendaraan untuk perubahan politik yang lebih inklusif dan demokratis. Penelitian ini berupaya menyoroti bagaimana kaum eksil memaknai pengasingan sebagai ruang perjuangan, bukan sekadar keterpisahan fisik sehingga banyak orang memaknainya sebagai nasionalisme jarak jauh. Kata Kunci: Eksil, Belanda, Indonesia, Demokrasi

Page 1 of 1 | Total Record : 6