cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
JURNAL TEKNOLOGI KIMIA DAN INDUSTRI
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
JURNAL TEKNOLOGI KIMIA DAN INDUSTRI adalah jurnal yang diterbitkan oleh Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro untuk mempublikasikan karya ilmiah - karya ilmiah mahasiswa Program S1 Teknik Kimia Undip.
Arjuna Subject : -
Articles 44 Documents
Search results for , issue "Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013" : 44 Documents clear
PENYISIHAN AMONIAK DAN KEKERUHAN PADA SISTEM RESIRKULASI BUDIDAYA KEPITING DENGAN TEKNOLOGI MEMBRAN BIOFILTER Malida Fauzzia; Izza Rahmawati; I Nyoman Widiasa
JURNAL TEKNOLOGI KIMIA DAN INDUSTRI Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro,

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.616 KB)

Abstract

Crabs are one of the economically valuable commodities. Barriers that often occur in crab farming in ponds is limited land and water. Crab aquaculture activities can not be apart from the waste generated, which can cause water quality degradation, especially of food remains, feases and the metabolism of the crabs. Waste produced as ammonia is toxic at high concentrations and high turbidity can cause death in the crabs. Alternative technologies are used to decrease the production of crabs due to lack of availability of  land and water degradation are water recirculation system using a membrane biofilter. Membrane biofilter is used to maintain the water quality is to eliminate ammonia to levels not exceeding 0.1 ppm, and removing turbidity to <30 NTU.  Biofilter  is used to eliminate ammonia by nitrification and denitrification process using aerobic and anaerobic mikrroorganisme. Membranes which is used to reduce turbidity is ultrafiltration membranes. Flux on the membrane will determine the performance of the membrane. If  the flux decreased 85% from the initial flux, indicating the occurrence of fouling on membrane. This fouling can be overcome by washing. One of  it is the backwash. Using biofilter can reduce of ammonia from 4,41 mg/L up to 1,48 mg/L during 7 days. Turbidity can be reduced by using ultrafiltration membrane. In the Ultrafiltration membrane fouling control can be done by backwash 30 minutes 15 seconds. This is indicated by the high flux of the membrane.
PENENTUAN JENIS SOLVEN DAN PH OPTIMUM PADA ANALISIS SENYAWA DELPHINIDIN DALAM KELOPAK BUNGA ROSELA DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS Monica Setiono H.; Avriliana Dewi A.; Andri Cahyo Kumoro
JURNAL TEKNOLOGI KIMIA DAN INDUSTRI Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro,

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.093 KB)

Abstract

Rosela merupakan tanaman yang telah diketahui banyak mengandung senyawa antosianin sebagai antioksidan. Antioksidan merupakan senyawa penting dalam menjaga kesehatan tubuh karena berfungsi sebagai penangkap radikal bebas yang banyak terbentuk dalam tubuh.  Antosianin pada kelopak bunga rosela berada dalam bentuk glukosida yang salah satunya adalah senyawa delphinidin. Kandungan senyawa delphinidin yang terkandung dalam kelopak bunga rosela dapat dianalisis kadarnya menggunakan metode Spektrofotometri UV-Vis. Prinsip dasar Spektrofotometri UV-Vis adalah analisis yang didasarkan pada pengukuran serapan  sinar monokromatis oleh suatu laju larutan berwarna pada panjang gelombang spesifik dengan menggunakan monokromator prisma atau kisi difraksi dengan detektor fototube. Kelarutan dari delphinidin antara lain larut dalam akuades, metanol dan etanol pada berbagai suhu berkisar antara (298 sampai 343) K di bawah tekanan atmosfer. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis solven yang paling sesuai sebagai pelarut delphinidin dan pH yang paling optimum. Pada penelitian ini digunakan variabel tetap yaitu bunga rosela dan suhu percobaan : 30oC. Sedangkan variabel berubahnya yaitu jenis solven (akuades, metanol, dan etanol) serta pH dengan variasi pH 4; 4,5; 5; 5,5; 6. Hasil percobaan, menunjukkan bahwa metanol merupakan solven yang paling sesuai untuk melarutkan senyawa delphinidin, sedangkan pH yang paling optimum untuk analisis senyawa delphinidin dengan metode Spektrofotometri UV-Vis adalah 4,5.
PROSES PEMBUATAN BIODIESEL DARI DEDAK DAN METANOL DENGAN ESTERIFIKASI IN SITU Wulandari Dharsono; Y. Saptiana Oktari; Aprilina Purbasari
JURNAL TEKNOLOGI KIMIA DAN INDUSTRI Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro,

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.828 KB)

Abstract

Kandungan asam lemak bebas (Free Fatty Acid (FFA)) yang tinggi menyebabkan minyak dedak padi dapat dikonversi menjadi Fatty Acid Methyl Ester (biodiesel) dengan esterifikasi. Tujuan dari penelitian ini adalah memanfaatkan dedak sebagai bahan baku pembuatan biodiesel dengan proses esterifikasi in situ serta mempelajari pengaruh jumlah solvent (metanol) dan waktu operasi dalam pembuatannya. Kandungan asam lemak bebas dalam dedak padi dapat meningkat cepat karena adanya enzim lipase aktif dalam dedak padi setelah proses penggilingan. Metode yang digunakan untuk pembuatan biodiesel pada penelitian ini adalah proses esterifikasi in situ. Di dalam proses ini, dedak dicampur dengan metanol dan katalis asam (H2SO4) di mana metanol berfungsi sebagai solvent sekaligus reaktan. Pada proses ini asam lemak bebas dapat terekstrak dari dedak dan selanjutnya bereaksi dengan metanol membentuk metyl ester (biodiesel). Variabel tetap yang digunakan adalah berat dedak 50 gram, kecepatan pengadukan dengan skala 4, jumlah katalis H2SO4 1% volume. Variabel berubahnya pada proses esterifikasi in situ adalah jumlah methanol  150, 200, 250 ml dan waktu reaksi 1;2;3;4 jam. Proses esterifikasi in situ dedak padi mampu menghasilkan biodiesel,dengan waktu operasi optimum adalah 60 menit dan penambahan jumlah methanol sebesar 200 ml menghasilkan konversi paling tinggi
PEMANFAATAN TEPUNG UMBI GADUNG (DIOSCOREA HISPIDA DENNST) DAN TEPUNG MOCAF (MODIFIED CASSAVA FLOUR) SEBAGAI BAHANSUBSTITUSIDALAM PEMBUATAN MIE BASAH, MIE KERING, DAN MIE INSTAN Vinsensia Iva Rosmeri; Bella Nina Monica; Catarina Sri Budiyati
JURNAL TEKNOLOGI KIMIA DAN INDUSTRI Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro,

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1207.169 KB)

Abstract

Flour from gadung tubers (Dioscorea hispida Dennst) and modified cassava flour or MOCAF are types of non-wheat flour that have high carbohydrate content that could potentially be used to make noodles. However, due to low protein content and therudimentary physicochemical properties, it needs to be done mixing with wheat flour to get noodles with goodquality. This study aimed to obtain an optimum comparison between wheat flour and gadung flour/mocaf in making noodles. The results showed the best quality wet noodle derived from a combination of 40% gadung flour and 60% wheat flour while the best wet noodles from mocaf - wheat flour derived from combination of 20% mocaf and 80% wheat flour. Best instant noodles obtained from a combination of 40% gadung flour and 60% wheat flour, while best instant noodles from mocaf - wheat flour from a combination of 20% mocaf and 80% wheat flour. For dry noodles, the best results obtained with a ratio of 20% gadung flour and 80% wheat flour, while from mocaf - wheat flour is obtained from a combination of 20% mocaf and 80% flour wheat flour.
PROSES KULTIVASI Spirulina platensis MENGGUNAKAN POME (Palm Oil Mill Effluent) SEBAGAI MEDIA KULTUR DALAM RACEWAY OPEN POND BIOREACTOR Elisa Mutiah; Erlinda Khoirunisa; A Abdullah
JURNAL TEKNOLOGI KIMIA DAN INDUSTRI Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro,

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.089 KB)

Abstract

Penelitian dilakukan dengan mengkultivasi Spirulina platensis pada media POME menggunakan raceway open pond bioreactor selama 5 hari. Penelitian dengan variabel konsentrasi POME (pengenceran 3×, 4×, 5×) dan kepadatan umpan Spirulina platensis (0.443 g/L; 0.618 g/L; 0.952 g/L) ini, bertujuan untuk mempelajari pengaruh variabel tersebut terhadap pertumbuhan Spirulina platensis dan mengetahui perpaduan yang paling baik untuk kedua variabel yang dipelajari. Respon yang diambil adalah biomassa kering dari Spirulina platensis. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa untuk konsentrasi POME dengan pengenceran 5× memberikan biomassa kering Spirulina platensis paling baik yaitu mencapai 0.7592 g/L. Sedangkan pada kepadatan umpan Spirulina platensis yang memberikan biomassa kering paling baik mencapai 0.9932 g/L adalah kepadatan umpan 0.443 g/L. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa untuk mendapatkan biomassa paling baik dari Spirulina platensis, digunakan konsentrasi POME dengan pengenceran 5× menggunakan umpan Spirulina platensis pada kepadatan 0.443 g/L. Dari penelitian ini, diharapkan dilakukan penelitian lanjutan untuk waktu kultivasi yang lebih lama sehingga dapat menjadi kontribusi bagi upaya budidaya Spirulina plantesis untuk dimanfaatkan dalam bahan makanan, pakan, kecantikan, dan kesehatan.
STUDI EKSPERIMENTAL ALAT PENGERINGAN GABAH SISTEM RESIRKULASI KONTINYU TIPE KONVEYOR PNEUMATIK Listiyana Riska; Rahim Arlanta S; Siswo Sumardiono
JURNAL TEKNOLOGI KIMIA DAN INDUSTRI Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro,

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (382.95 KB)

Abstract

Drying paddy by using conventional method is irrelevant to used nowadays. The need of grain increasing each year is one of the main factor that pushes scientist to invent new methods of drying paddy grain. The old method is unusefull since it takes up space, needed the sun as the drying media which causes a long drying time. One of the alternative of drying paddy grain is by using mechanic dryer. By using this type of dryer, the process of drying takes faster comparing to the old method and the distribution of grain is supplied continuously. The dryer which uses pneumatic conveyor can be one of the solution due to its less energy consumption, a better drying result and high drying capacity. The variable used to identify drying performance is temperature and loading weight. From the experiment, it is resulted that the best temperature for drying paddy grain is 60 C with the weight loading of 150 gram.
OPTIMALISASI EKSTRAKSI DAN UJI STABILITAS PHYCOCYANIN DARI MIKROALGA Spirulina platensis Prayudi Eko Setyawan; Yudha Satria; Bakti Jos
JURNAL TEKNOLOGI KIMIA DAN INDUSTRI Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro,

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.913 KB)

Abstract

Spirulina platensis adalah salah satu mikroalga penghasil Phycocyanin yang relatif cepat berproduksi dan mudah dalam sistem pemanenannya. Phycocyanin yang secara struktural mirip dengan β-karoten merupakan pigmen biru alami yang berharga dan banyak dimanfaatkan pada bidang kosmetik, obat-obatan dan farmasi. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah melakukan studi evaluasi produksi Phycocyanin dengan teknik ekstraksi dengan beberapa pelarut polar pada berbagai konsentrasi untuk mendapatkan hasil ekstrak yang maksimum. Metode penelitian yang diterapkan dalam penelitian ini memiliki beberapa tahap yaitu persiapan bahan, ekstraksi, studi kelarutan Phycocyanin, dan uji stabilitas Phycocyanin. Variabel berubah dalam penelitian ini adalah jenis pelarut polar Air, Asam asetat 70%, 75%, 80%, Amonium sulfat 50%, 55%, 60%. Analisa hasil kadar Phycocyanin yang terkstrak menggunakan metode spektrofotometri. Hasil pengamatan menghasilkan ekstrak zat warna biru yang memiliki intensitas warna tertinggi dengan absorbansi maksimalnya 620 nm. Pelarut asam asetat 80% merupakan pelarut yang paling efektif mengekstrak zat warna biru Phycocyanin dibandingkan air dan amonium sulfat. Ekstraksi dipengaruhi oleh pH yaitu kenaikan serapan (absorbansi) dengan meningkatnya pH dan tidak dipengaruhi oleh suhu dan lama penyimpanan zat warna.
PENGOLAHAN EFLUEN POND FAKULTATIF ANAEROBIK IPAL INDUSTRI KELAPA SAWIT SECARA FAKULTATIF ANAEROBIK-FITOREMEDIASI SEBAGAI PRE-TREATMENT MEDIA TUMBUH ALGAE Reni Krismawati; Rizky Ahdia; Danny Soetrisnanto
JURNAL TEKNOLOGI KIMIA DAN INDUSTRI Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro,

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1127.75 KB)

Abstract

Peningkatan permintaan pasar terhadap Crude Palm Oil (CPO) mendorong tumbuhnya industri minyak kelapa sawit. Saat ini diperkirakan jumlah limbah cair industri kelapa sawit yang dihasilkan mencapai 28,7 juta ton. Limbah ini merupakan sumber pencemaran, akan tetapi berpeluang untuk digunakan sebagai sumber nutrien bagi pertumbuhan alga. Pengolahan limbah cair minyak kelapa sawit menggunakan pond fakultatif anaerobik hanya mampu menurunkan kadar COD hingga 500-750 ppm, sementara alga mensyaratkan kualitas air yang baik dengan kandungan COD kurang dari 150 ppm. Untuk itu perlu dikembangkan metode pengolahan air limbah lanjutan dengan metode fakultatif anaerobik-fitoremediasi Tanaman Apu-apu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui besarnya penurunan COD, Nitrogen dan Phospor pada beragam waktu tinggal dan mengetahui pengaruh rasio volume lumpur anaerob terhadap penurunan COD, Nitrogen, dan Phospor. Penelitian ini terdiri dari tiga tahapan yaitu tahap persiapan bahan berupa efluen pond fakultatif anaerobic Limbah industri kelapa sawit, tahap pemrosesan, dan tahap analisis. Rancangan percobaan yaitu variasi waktu tinggal 2, 3, 4, 5, dan 6 hari dan prosentase volum lumpur anaerob dalam reaktor sebesar 35%, 50%, dan 65%. Metode fakultatif anaerobik-fitoremediasi ini mampu menurunkan kandungan COD sebesar 39.1%-59.66%, menyerap kandungan Nitrogen sebesar 17.73%-30.78%, dan menyerap kandungan Phospor 6.14%-18.46%. Apu-apu sebagai tanaman fitoremediasi memberikan hasil yangkurang maksimal karena terjadi perusakan akar oleh organisme aerob dalam air limbah.
PENGOLAHAN AIR LUMUT DENGAN KOMBINASI PROSES KOAGULASI DAN ULTRAFILTRASI A Arinaldi; F Ferdian; I Nyoman Widiasa
JURNAL TEKNOLOGI KIMIA DAN INDUSTRI Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro,

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.991 KB)

Abstract

Air berlumut adalah air yang mengandung lumut yang terlarut di dalamnya. Lumut yang terlarut dalam air dapat menyebabkan gangguan. Pada penelitian ini, digunakan proses koagulasi dan flokulasi, yang kemudian dilanjutkan dengan proses ultrafiltrasi untuk memisahkan lumut dari air berlumut. Pralakuan koagulasi-flokulasi pada umpan membran dilakukan untuk memperpanjang umur membran dan meningkatkan kinerja pemisahan membran ultrafiltrasi dalam pengolahan air berlumut ini. Koagulan yang digunakan adalah tawas dan PAC, variabel pH antara 5 – 8, dan konsentrasi koagulan antara 50 – 250 ppm. Umpan berupa air berlumut memiliki kekeruhan 75 – 100 NTU. Didapatkan hasil bahwa pH optimum untuk proses koagulasi dengan kedua jenis koagulan adalah pada pH netral (6,5 – 7,5). Konsentrasi koagulan tawas optimum adalah 100 – 200 ppm, sedangkan konsentrasi PAC optimum adalan 50 – 100 ppm. Dari penelitian ini juga dapat disimpulkan bahwa pralakuan koagulasi sebelum proses ultrafiltrasi pada pengolahan air berlumut akan mengurangi beban kerja membran ultrafiltrasi.
PEMANFAATAN LIMBAH FURNITURE ENCENG GONDOK (Eichornia crassipes) di Koen Gallery SEBAGAI BAHAN DASAR PEMBUATAN BRIKET BIOARANG Arif Fajar Utomo; Nungki Primastuti; Aprilina Purbasari
JURNAL TEKNOLOGI KIMIA DAN INDUSTRI Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro,

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (911.851 KB)

Abstract

Penelitian dilakukan dengan membuat briket dengan campuran enceng gondok (Euchornia crassipes), yang sebelumnya sudah dipirolisa menjadi arang, dengan dua jenis perekat, yaitu tepung terigu dan tepung tapioka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pembuatan briket arang dari enceng gondok, jenis perekat, ukuran ayakan, serta konsentrasi perekat yang menghasilkan brikest dengan kualitas terbaik. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa briket dengan bahan perekat tepung tapioka lebih baik daripada briket dengan bahan perekat tepung terigu. Briket dengan perekat tapioka memiliki shatter index dengan loss yang paling sedikit serta stability yang lebih baik, meskipun nilai kalornya sedikit dibawah nilai kalor briket dengan perekat terigu. Nilai kalor tertinggi yang didapatkan dari penelitian ini adalah 3748.69 kal/gr, nilai dihasilkan dari briket dengan variabel perekat 20% dan ukuran partikel 20 mesh. Briket paling kuat diperoleh dari variabel 20% perekat dengan ukuran partikel 40 mesh karena hanya kehilangan partikel sebesar 0,11%. Pengujian stability menunjukkan bahwa briket memiliki ukuran yang relatif konstan dari hari ke hari. Dari penelitian ini diharapkan dilakukan penelitian lebih lanjut tentang pemanfaatan limbah biomassa seperti Enceng gondok (Euchornia crassipes) sehingga menjadi kontribusi bagi upaya pengadaan bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan.