Claim Missing Document
Check
Articles

Pembuatan dan Karakterisasi Komposit dari Styrofoam Bekas dan Serat Ijuk Aren Purbasari, Aprilina; Darmaji, Timothius Adrian Christantyo; Sary, Cindy Nella; Kusumayanti, Heny
METANA Vol 15, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (791.957 KB) | DOI: 10.14710/metana.v15i2.25794

Abstract

Komposit merupakan gabungan dari dua atau lebih bahan yang menghasilkan efek sinergis. Komposit dapat dibuat dari polimer sebagai matriks dan serat alam sebagai bahan penguat. Pada penelitian ini komposit dibuat dari styrofoam bekas dan serat ijuk aren. Styrofoam merupakan salah satu jenis polimer yang sulit terdegradasi secara alami, sedangkan serat ijuk aren merupakan serat alam yang mudah diperoleh di Indonesia. Pembuatan komposit dilakukan dengan alat hot press pada berbagai perbandingan massa styrofoam dan serbuk ijuk aren (10:90; 20:80; 30:70; 40:60; dan 50:50). Karakterisasi komposit yang dihasilkan meliputi uji kekuatan mekanik, kerapatan, daya serap air, mikrostruktur, dan gugus fungsional. Komposit mempunyai kekuatan mekanik tertinggi sebesar 90,26 kgf/cm2 pada perbandingan massa styrofoam dan serbuk ijuk aren 30:70. Semakin tinggi kandungan styrofoam dalam komposit maka kerapatan komposit akan semakin meningkat dan daya serap air komposit semakin menurun. Komposit mempunyai struktur yang homogen dan gugus fungsional yang berasal dari styrofoam dan serat ijuk aren.Composite is a combination of two or more materials that produce a synergistic effect. Composite can be made from polymers as matrices and natural fibers as reinforcing agents. In this study, composite were synthesized from used styrofoam and sugar palm fiber. Styrofoam is one type of polymer that is difficult to degrade naturally, whereas sugar palm fiber is a natural fiber that is easily obtained in Indonesia. Composite synthesis was done using hot press equipment at various mass ratio of styrofoam to sugar palm fiber powder (10:90; 20:80; 30:70; 40:60; and 50:50). Characterization of obtained composites covered tests of mechanical strength, density, water absorption, microstructure, and functional groups. Composite had the highest mechanical strength of 90.26 kgf/cm2 at the mass ratio of styrofoam to sugar palm fiber powder of 30:70. The increase of the styrofoam content in composite caused the increase of composite density and the decrease of composite water absorption. Composite had homogeneous structure and functional groups derived from styrofoam and sugar palm fiber.  
Penentuan Proses Pretreatment untuk Pemanfaatan Limbah Kulit Singkong sebagai Bahan Baku Bioetanol melalui Hidrolisa Enzimatis menggunakan Aspergillus spp. Ariyanti, Dessy; Purbasari, Aprilina; Kusumayanti, Heny; Handayani, Noer Abyor
METANA Vol 15, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (785.67 KB) | DOI: 10.14710/metana.v15i1.22965

Abstract

Ketergantungan terhadap bahan bakar fosil ini menjadi masalah besar yang sangat mendesak untuk segera diselesaikan. Salah satu langkah solusi yang bisa dilakukan adalah memanfatkan bioetanol lignoselulosa dari limbah kulit singkong sebagai alternatif pengganti. Permasalahan utama yang menghambat penggunaan kulit singkong sebagai bahan baku utama pembuatan bioetanol adalah belum adanya proses pretreatment dan hidrolisa yang terbukti efektif secara teknis maupun ekonomis untuk mengkonversi lignoselulosa yang terkandung dalam kulit singkong menjadi bentuk gula sederhana. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui efektifitas proses pretreatment dan hidrolisa untuk mengkonversi lignoselulosa yang terkandung dalam kulit singkong menjadi bentuk gula sederhana. Metode pretreatment asam (H2SO4) dan organosolv (Etanol + CH3COONa) terbukti dapat meningkatkan yield gula tereduksi hingga 50% dibandingkan dengan proses hidrolisa tanpa pretreatment. Yield hingga 78% dapat diperoleh pada proses pretreatment asam suhu 30oC, waktu 30 menit yang dilanjutkan dengan hidrolisa enzimatik dengan Aspergillus niger selama 48 jam. Peningkatan yield pada proses pretreatment organosolv (optimum 74% pada suhu 30oC, waktu 90 menit) masih dapat dilakukan dengan meningkatkan waktu operasi dan meningkatkan suhu operasi. Namun peningkatan suhu maupun penambahan waktu operasi berpengaruh terhadap analisa teknis dan ekonomis dari proses. Secara teknis, pretreatment organosolv lebih mudah dilakukan terutama pada proses dengan kondisi operasi atmosferik dibandingkan dengan pretreatment asam karena sifat bahan kimia yang digunakan dan penanganannya. Secara ekonomis, pretreatment asam lebih baik untuk diaplikasikan dibandingkan pretreatment organosolv, hal ini dikarenakan yield yang dihasilkan lebih tinggi pada kondisi proses atmosferik. Lignocellulose material derived from cassava peel can be utilized as raw material for bioethanol production. The utilization of this material can be part of solution in order to maintain Indonesia’s energy security which still majority covered by the fossil fuel. The main problem of lignocellulose conversion into bioethanol is their crystalline structures those make them really difficult to be converted into monomeric sugar prior fermentation to produce ethanol. The objective of this research is to find out the effectiveness of pre-treatment process prior enzymatic hydrolysis of lignocellulose contained on cassava peel. The result shows pre-treatment methods both acid (H2SO4) and organosolv (Etanol + CH3COONa) proved to be effective in order to increase the yield of total reducing sugar (TRS) until 50% after enzymatic hydrolysis compared to the sample without pre-treatment. Highest yield 78% can be achieved by applying acid pre-treatment under temperature 30oC and 30 minutes of process prior enzymatic hydrolysis by Aspergillus niger under temperature 35oC for 48 hours. Further optimization in organosolv pre-treatment can be conducted by increasing the temperature and prolong the process into certain extent. It should be noted that the above action could influence the feasibility of the organosolv pre-treatment technically and economically. From technical point of view, organosolv pre-treatment can be more feasible compared to acid pre-treatment (under atmospheric condition) as the reagents are easy to handle in terms of safety consideration. However, from economic side acid pre-treatment is more preferable as higher yield of the process and lower volume of chemical can be used in order to achieve the same amount of product. 
Thermal and Ash Characterization of Indonesian Bamboo and Its Potential for Solid Fuel and Waste Valorization Purbasari, Aprilina; Samadhi, Tjokorde Walmiki; Bindar, Yazid
International Journal of Renewable Energy Development Vol 5, No 2 (2016): July 2016
Publisher : Center of Biomass & Renewable Energy, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijred.5.2.95-100

Abstract

Bamboo has been widely used in Indonesia for construction, handicrafts, furniture and other uses. However, the use of bamboo as a biomass for renewable energy source has not been extensively explored. This paper describes the thermal and ash characterization of three bamboo species found in Indonesia, i.e. Gigantochloa apus, Gigantochloa levis and Gigantochloa atroviolacea. Characterization of bamboo properties as a solid fuel includes proximate and ultimate analyses, calorific value measurement and thermogravimetric analysis. Ash characterization includes oxide composition analysis and phase analysis by X-Ray diffraction. The selected bamboo species have calorific value comparable with wood with low nitrogen and sulphur contents, indicating that they can be used as renewable energy sources. Bamboo ash contains high silicon so that bamboo ash has potential to be used further as building materials or engineering purposes. Ash composition analysis also indicates high alkali that can cause ash sintering and slag formation in combustion process. This implies that the combustion of bamboo requires the use of additives to reduce the risk of ash sintering and slag formation. Article History: Received May 15, 2016; Received in revised form July 2nd, 2016; Accepted July 14th, 2016; Available online How to Cite This Article: Purbasari, A., Samadhi, T.W. & Bindar, Y. (2016) Thermal and Ash Characterization of Indonesian Bamboo and its Potential for Solid Fuel and Waste Valorization. Int. Journal of Renewable Energy Development, 5(2), 95-100.http://dx.doi.org/10.14710/ijred.5.2.96-100 
Pengembangan produk keramik berpori dengan proses ekstrusi pada skala laboratorium Purbasari, Aprilina; Samadhi, T Walmiki; Muslim, Aristianto
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 4, No 2 (2005)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2005.4.2.6

Abstract

The application of porous ceramics as filter or membrane has increased currently and has created an opportunity to utilize inorganic waste materials such as fly ash as raw materials. The development of porous ceramic product using fly ash by extrusion process is a relevant and innovative study, especially in indonesia. This research is aimed at producing porous ceramic sample using alumina as basic raw material by extrusion process,  and to study the effect of clay, fly ash, and water composition in raw material mixture on physical properties of porous ceramic product. The produced porous ceramic samples have firing shrinkages of 1,2-3,7%, apparent porosities of 46,2-51,7%, and modulus ofrupture of 3,2-6,2MPa. Clay component gives the largest effect on apparent porosity and fly ash component gives the largest effect on firing shrinkage and modulus of rupture. The samples of porous ceramic product have relatively narrow pore size distribution, with pore diameters in the range of 10-20m. The product is therefore suitable for ceramic filter material. Keywords: Extrusion, Filter, Porous Ceramics Abstrak  Penggunaan keramik berpori sebagai filter atau membran semakin meningkat dewasa ini dan terdapat peluang untuk memanfaatkan limbah anorganik seperti abu terbang sebagai bahan baku keramik. Pengembangan produk keramik berpori dengan memanfaatkan limbah abu terbang berdasarkan proses ekstrusi berpeluang menjadi kajian yang relevan dan inovatif. khususnya di Indonesia. Penelitian ini bertujuan membuat sampel produk kerwnik berpori berbahan dasar alumina dengan metode ekstrusi serta mempelajari pengaruh komposisi lempung, abu terbang, dan air dalam campuran bahan baku terhadap sifat-sifat fisik sampe! produk keramik berpori yang dihasi!kan. Pengujian menunjukkan bahwa sampe! produk keramik berpori memi!iki susut bakar 1,2- 3,7%, porositas semu 46,2-51,7%, dan kuat lentur 3,2-6,2 MPa. Komponen lempung memberikan pengaruh paling besar terhadap porositas semu dan komponen abu terbang memberikan pengaruh paling besar terhadap susut bakar dan kuat lentur. Sampel produk keramik yang dihasilkan memiliki ukuran pori yang re!atif seragam dengan rentang diameter pori sekitar 10-20 m, sehingga sesuai untuk digunakan sebagai material filter. Kata Kunci: Ekstrusi, Filter, Keramik Berpori
SIFAT MEKANIS DAN FISIS BIOPLASTIK DARI LIMBAH KULIT PISANG: PENGARUH JENIS DAN KONSENTRASI PEMLASTIS Aprilina Purbasari; Anissa Ardanti Wulandari; Fikri Mudzakir Marasabessy
Jurnal Kimia dan Kemasan Vol. 42 No. 2 Oktober 2020
Publisher : Balai Besar Kimia dan Kemasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24817/jkk.v42i2.5872

Abstract

Pada penelitian ini, limbah kulit pisang dimanfaatkan sebagai bahan baku bioplastik dengan variasi jenis dan konsentrasi pemlastis. Penelitian ini terdiri dari 3 tahap, yaitu tahap awal pembuatan tepung kulit pisang, dilanjutkan dengan tahap pembuatan bioplastik, dan tahap akhir karakterisasi sifat mekanis dan fisis bioplastik yang dihasilkan. Pada pembuatan bioplastik, pemlastis yang digunakan adalah gliserol dan sorbitol dengan konsentrasi masing-masing 30%; 40%; 50%; 60%; dan 70%. Karakterisasi sifat mekanis dan fisis bioplastik meliputi: kuat tarik, perpanjangan putus, ketebalan, permeasi uap air, biodegradabilitas, dan mikrostruktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi pemlastis baik gliserol maupun sorbitol dapat menurunkan kuat tarik serta meningkatkan perpanjangan putus, ketebalan, permeasi uap air, dan biodegradabilitas pada bioplastik yang dihasilkan. Berdasarkan uji mikrostruktur, bioplastik dengan pemlastis gliserol dan pemlastis sorbitol memiliki struktur yang relatif sama. Kondisi optimum pembuatan bioplastik dari tepung kulit pisang baik dengan pemlastis gliserol maupun sorbitol adalah pada konsentrasi pemlastis 40% dengan kuat tarik masing-masing 8,07 MPa dan 8,32 MPa; perpanjangan putus 27,22% dan 23,78%; ketebalan 0,1 mm dan 0,2 mm; permeasi uap air 0,00024 g/m2.s.kPa dan 0,00025 g/m2.s.kPa; dan kehilangan massa pada uji degradabilitas selama 4 minggu sebesar 25,45% dan 21,73%. 
SIFAT MEKANIS DAN FISIS BIOPLASTIK DARI LIMBAH KULIT PISANG: PENGARUH JENIS DAN KONSENTRASI PEMLASTIS Aprilina Purbasari; Anissa Ardanti Wulandari; Fikri Mudzakir Marasabessy
Jurnal Kimia dan Kemasan Vol. 42 No. 2 Oktober 2020
Publisher : Balai Besar Kimia dan Kemasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24817/jkk.v42i2.5872

Abstract

Pada penelitian ini, limbah kulit pisang dimanfaatkan sebagai bahan baku bioplastik dengan variasi jenis dan konsentrasi pemlastis. Penelitian ini terdiri dari 3 tahap, yaitu tahap awal pembuatan tepung kulit pisang, dilanjutkan dengan tahap pembuatan bioplastik, dan tahap akhir karakterisasi sifat mekanis dan fisis bioplastik yang dihasilkan. Pada pembuatan bioplastik, pemlastis yang digunakan adalah gliserol dan sorbitol dengan konsentrasi masing-masing 30%; 40%; 50%; 60%; dan 70%. Karakterisasi sifat mekanis dan fisis bioplastik meliputi: kuat tarik, perpanjangan putus, ketebalan, permeasi uap air, biodegradabilitas, dan mikrostruktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi pemlastis baik gliserol maupun sorbitol dapat menurunkan kuat tarik serta meningkatkan perpanjangan putus, ketebalan, permeasi uap air, dan biodegradabilitas pada bioplastik yang dihasilkan. Berdasarkan uji mikrostruktur, bioplastik dengan pemlastis gliserol dan pemlastis sorbitol memiliki struktur yang relatif sama. Kondisi optimum pembuatan bioplastik dari tepung kulit pisang baik dengan pemlastis gliserol maupun sorbitol adalah pada konsentrasi pemlastis 40% dengan kuat tarik masing-masing 8,07 MPa dan 8,32 MPa; perpanjangan putus 27,22% dan 23,78%; ketebalan 0,1 mm dan 0,2 mm; permeasi uap air 0,00024 g/m2.s.kPa dan 0,00025 g/m2.s.kPa; dan kehilangan massa pada uji degradabilitas selama 4 minggu sebesar 25,45% dan 21,73%. 
Elektroplating Tembaga pada Baja Menggunakan Elektrolit Asam Lemah Purwanto Purwanto; Sri Rukiyawati; Aprilina Purbasari
Reaktor Volume 3 No.1 Desember 1999
Publisher : Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3132.302 KB) | DOI: 10.14710/reaktor.3.1.22-25

Abstract

Elektroplanting tembaga pada besi baja  telah dilakukan dengan menggunakan larutan elektrolit tak beracun asam asetat sebagai pengganti larutan beracun sianida. Variable proses yang dipelajari yaitu perbandingan konsentrasi asam asetat terhadap tembaga sulfat (X1), suhu elektrolit (X2), kerapatan arus katoda (X3), kerapatan arus anoda (X4),  dan jarak anoda-katoda (X5). Percobaan menunjukkan bahwa pemakaian asam asetat  sebagai elektrolit asam lemah menghasilkan endapan yang cemerlangdengan efisiensi arus cukup tinggi berkisar 95%. Variable yang mempunyai efek positif berturut-turut yaitu perbandingan konsentrasi, kerapatan arus katoda, dan kerapatan arus anoda. Sedangkan efek negatif berasal dari pengaruh jarak anoda-katoda dan suhu elektrolit. Pengaruh variabel proses terhadap logam berat yang melapisi katoda (Yd) dan efisiensi arus (η) didekati dengan persamaan linier, dengan kesalahan pendekatan relatif sebesar 20%. Kondisi terbaik ditunjukkan oleh efisiensi arus sebesar 94,5% dan hasil plating yang sangat cemerlang pada X1 = 50 (gr/l) / 100 (gr/l), X2 = 50 0C, X3 = 300 Ampere/m2, X4 = 200 Ampere/m2, dan X5 = 3 cm.
STUDI AWAL DETERPENISASI MINYAK NILAM DENGAN TEKNOLOGI REDISTILASI VAKUM Silviana Silviana; Aprilina Purbasari
Reaktor Volume 10, Nomor 2, Desember 2006
Publisher : Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.65 KB) | DOI: 10.14710/reaktor.10.2.71-74

Abstract

Minyak nilam merupakan komoditi ekspor penting dari Indonesia. Persyaratan kandungan patchouli alcohol (PA) dalam minyak nilam berdasarkan SNI minimal 31%. Minyak nilam hasil distilasi UKM seringkali kadar PA-nya kurang dari 31% sehingga perlu dicari cara untuk meningkatkan kadar PA dalam minyak nilam. Salah satu cara adalah dengan redistilasi vakum atau distilasi fraksionasi produk UKM sebagai upaya penghilangan terpen dalam minyak nilam (deterpenisasi). Kondisi vakum akan dapat menurunkan temperatur operasi sehingga kemungkinan terjadinya destruksi oleh panas dapat dihindarkan. Alat redistilasi vakum yang digunakan berkapasitas 500 ml untuk memisahkan komponen terpen yang memiliki titik didih rendah dan komponen PA yang memiliki titik didih tinggi. Penelitian dilakukan dengan variabel berubah temperatur, tekanan, dan waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa temperatur, waktu, serta interaksi temperatur dan waktu merupakan variabel paling berpengaruh pada proses redistilasi vakum dengan kenaikan kadar PA mencapai 23,06 - 28,97% dari kadar awal sebesar 17,95%. Adapun model regresi  yang diperoleh adalah Kadar PA =  24,80 + 0,93A + 1,33C + 0,97AC dengan A adalah temperatur dan C adalah waktu redistilasi vakum. 
AKUMULASI LISTRIK STATIS PADA GELAS PLASTIK PRODUKSI MESIN INJECTION MOLDING: PENGARUH KELEMBABAN UDARA, TEMPERATUR, DAN BAHAN ADITIF Ratnawati Ratnawati; Aprilina Purbasari; Yustina Linasari
Reaktor Volume 14, No. 4, OKTOBER 2013
Publisher : Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (534.207 KB) | DOI: 10.14710/reaktor.14.4.305-313

Abstract

Akumulasi listrik statis pada gelas polipropilena hasil produksi mesin injection molding dapat menyebabkan gelas memiliki gaya elektrostatik dan tidak dapat turun secara gravitasi. Masalah ini menghambat aplikasi gelas pada mesin pengisian air minum dalam kemasan (AMDK). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kelembaban udara, temperatur, dan penambahan bahan aditif TiO2 terhadap potensial listrik permukaan gelas polipropilena. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensial listrik permukaan dipengaruhi oleh kelembaban udara ruang produksi, temperatur, dan penambahan TiO2. Potensial listrik permukaan semakin kecil dengan naiknya kelembaban udara. Setelah kelembaban mencapai 68% potensial listrik permukaan cenderung konstan. Ditinjau dari beda potensial (DV) antara permukaan dua gelas, kelembaban optimum adalah 67-68%, yang ditandai dengan beda potensial yang paling rendah. Beda potensial ≤ 5,2 kV menyebabkan gelas cepat turun, beda potensial 5,2 kV < DV ≤ 6,7 kV menyebabkan gelas turun dengan lambat, dan DV ≥ 6,7 kV menyebabkan gelas sangat lambat turun atau menempel. Potensial listrik turun dengan naiknya temperatur. Potensial listrik statis permukaan hanya sedikit turun akibat penambahan 0,75% berat TiO2. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa penggunaan gelas dengan potensial listrik permukaan rendah dapat menaikkan kecepatan mesin pengisian AMDK menjadi 220-250 rpm dan 140-160 rpm, masing-masing untuk mesin pengisian gelas 180 ml dan 225 ml.
PENGAMBILAN AIR DARI SISTEM ISOPROPIL ALKOHOL – AIR DENGAN DISTILASI ADSORPTIF MENGGUNAKAN ZEOLIT ALAM DAN SILIKA GEL Silviana Silviana; Aprilina Purbasari
Reaktor Volume 12, Nomor 1, Juni 2008
Publisher : Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (157.523 KB) | DOI: 10.14710/reaktor.12.1.29-32

Abstract

Isopropil alkohol (IPA) merupakan pelarut umum yang digunakan di industri. Secara ekonomi, dalam penggunaan pelarut perlu diupayakan proses pengambilan kembali pelarut tersebut. Kendala pengambilan kembali pelarut IPA dalam sistem IPA–air adalah sistem tersebut membentuk azeotrop. Untuk itu, penelitian ini mengkaji proses pengambilan air dalam sistem IPA–air melalui proses distilasi adsorptif menggunakan adsorben zeolit alam dan silika gel sebagai adsorbennya. Percobaan dilakukan dengan variabel tetap volume umpan sebesar 200 ml, dan variabel berubah jenis adsorben (zeolit alam dan silika gel) dan komposisi umpan IPA (70, 73, 75, 80 %-b). Proses distilasi adsoprsi dijalankan selama 30 menit sampai keluar produk, selanjutunya pengambilan produk untuk dianalisa tiap 5 menit dengan analisa gravimetri. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan adsorben silika gel lebih efektif dan selektif menyerap air daripada zeolit alam. Dan didapat kondisi optimum penggunaan silika gel komposisi umpan adalah 75% berat IPA dalam larutan hingga kemurnian IPA hingga 91,6% pada menit ke dua puluh.
Co-Authors . Suherman Afiatin Afiatin Afri Yenni Agnesia Permatasari Alice Pramashinta Anissa Ardanti Wulandari Ariestya Meta Devi Arif Fajar Utomo Aulia Beta Safira Budi Ismadi Budiyono Budiyono Darmaji, Timothius Adrian Christantyo Dessy Ariyanti Dessy Ariyanti Didi Dwi Anggoro Ekky Febri Ariani Erwan Adi Saputro Faleh Setia Budi Fikri Mudzakir Marasabessy Hafsah Fajrin Aprilianti Hamzah, Fazlena Hapsari, Farida Diyah Hargono Hargono Heny Kusumayanti Heny Kusumayanti Herry Santosa Heru Susanto Kristinah Haryani Kusmiyati Kusmiyati Laeli Kurniasari Lesdantina, Dina Lukman Atmaja Lulluil Mahsunnah Luqman Buchori M. Djaeni Machmud Lutfi H Margaretha Praba Aulia Mira Amalia Hapsari Muhammad Adi Irawan Muslim, Aristianto Nita Aryanti Nita Aryanti Noer Abyor Handayani Noer Abyor Handayani Nungki Primastuti Pratama, Pambudi Pajar Purwanto Purwanto Purwanto Purwanto Pury Diana Shintawati Raizka Kharisma Mediani Ratnawati Ratnawati Restu Kusumawardani Rini Kusumawati Samadhi, T Walmiki Saputra, Erwan Adi Sary, Cindy Nella Setia Budi Sasongko Shalahudin Nur Ayyubi Shalahudin Nur Ayyubi Silviana Silviana Silviana Silviana Siswo Sumardiono Slamet Priyanto Sri Rukiyawati Suherman , Suherman Suherman Titik Istirokhatun Tjokorde Walmiki Samadhi Tjokorde Walmiki Samadhi Tjokorde Walmiki Samadhi Tkokorde Walmiki Samadhi Tutuk Djoko Kusworo Vitus Dwi Yunianto Vitus Dwi Yunianto Budi Ismadi Wahyu Zuli Pratiwi Wei Gao Wisnu Jati N Wulandari Dharsono Y. Saptiana Oktari Yazid Bindar Yazid Bindar Yustina Linasari