cover
Contact Name
Wulandari Dianningtyas
Contact Email
jurnal.lemigas@esdm.go.id
Phone
+6282121181003
Journal Mail Official
jurna.lemigas@esdm.go.id
Editorial Address
BBPMGB LEMIGAS Jl. Ciledug Raya Kav. 109. Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan 12230
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
LEMBARAN PUBLIKASI MINYAK DAN GAS BUMI (LPMGB)
Published by LEMIGAS
Core Subject :
LPMGB aims the dissemination of information on research activities, technology engineering development and laboratory testing in the oil and gas field. Manuscripts in English are accepted from all in any institutions, college and industry oil and gas throughout the country and overseas.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "vol 41 no 1 (2007)" : 6 Documents clear
Zonasi Polen Tersier Indonesia Timur Eko Budi Lelono
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 41 No 1 (2007)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.41.1.45

Abstract

Wilayah Indonesia yang tersusun dari berbagai lempeng kerak bumi ternyata berpengaruh terhadap jenis flora yang hidup di kepulauannya sepanjang waktu geologi. Kawasan yang berasal dari Lempeng Asia, dihuni tumbuhan khas Asia, sedangkan kawasan yang terbentuk dari Lempeng Australia, ditumbuhi tanaman yang punya kekerabatan dengan tumbuhan Australia. Sebagai konsekuensinya palinomorf yang dihasilkannya pun beragam sesuai asal lempeng-lempeng tersebut. Oleh karenanya zonasi polen satu daerah dapat berbeda dengan daerah lain. Di kawasan timur Indonesia, hal ini terbukti dengan adanya perbedaan zonasi polen Tersier antara Sulawesi dan Papua. Zonasi polen Sulawesi mirip dengan zonasi polen Jawa yang dipublikasikan oleh Rahardjo, dkk (1994). Hal ini disebabkan karena Sulawesi, terutama bagian baratnya merupakan bagian dari Daratan Sunda (Sundaland), sehingga tumbuhannya adalah khas Asia. Sebaliknya Papua yang merupakan bagian dari Lempeng Australia didominasi oleh tumbuhan yang berasal dari Australia. Zonasi polen Tersier Indonesia Timur yang pernah dipublikasikan adalah untuk Sulawesi dan Papua (Lelono, dkk., 1996). Meskipun demikian zonasi tersebut masih harus disempurnakan karena perconto batuan yang digunakan dalam penelitian belum mewakili batuan sedimen yang terbentuk di kedua pulau tersebut, akibat keterbatasan waktu penelitian. Selain zonasi polen Tersier, dibutuhkan pula zonasi polen umur pra-Tersier, bahkan jika mungkin disusun biostratigrafi pra-Tersier untuk kawasan timur Indonesia karena belum ada yang melakukannya, disamping umumnya sedimen pra-Tersier menjadi target utama eksplorasi migas di kawasan timur Indonesia.
Pengembangan Simulator Pengendalian Sumur pada Pemboran Vertikal, Berarah, maupun Horizontal hadi purnomo; Edward ML Tobing
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 41 No 1 (2007)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.41.1.48

Abstract

Simulator pengendalian sumur (well control) berupa perangkat lunak untuk sumur vertikal, berarah (directional) dan horizontal telah dikembangkan berdasarkan persamaan atau korelasi yang telah dipublikasikan. Perangkat lunak ini dirancang agar mudah dioperasikan dengan tampilan pada layar serta mudah dimengerti oleh pemakai (user-friendly), dan ditulis dengan bahasa pemrograman Borland Delphi. Tujuan dari pengembangan simulator tersebut adalah untuk meningkatkan kemampuan personel pelaksana pemboran, membantu perencanaan dan untuk mengevaluasi pelaksanaan pemboran yang sedang maupun yang telah dilaksanakan. Perangkat lunak simulator pengendalian tekanan sumur tersebut telah diverifikasi dengan membandingkan hasil perhitungan perangkat lunak dengan data lapangan dan data dari literatur. Perbandingan hasil tersebut menunjukkan adanya keselarasan antara hasil perhitungan dan data acuan dengan prosentasi penyimpangan berkisar antara 1% sampai 2 %.Kata kunci: simulator pengendalian sumur, pemboran vertikal, pemboran berarah, pemboran horizontal.
Pengaruh Viskositas dan Kandungan Sulfur dalam Minyak Solar terhadap Sifat Lubrisitas Minyak Solar Indonesia Djainuddin Semar
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 41 No 1 (2007)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.41.1.55

Abstract

Kandungan sulfur dalam minyak solar memberikan pengaruh negatif pada emisi gas buang dan memberikan pengaruh positif pada pelumasan injeksi mesin diesel. Studi ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh kandungan sulfur dan viskositas terhadap sifat lubrisitas minyak solar. Hasil-hasil analisis kandungan sulfur, viskositas menunjukkan bahwa perubahan kandungan sulfur dan viskositas mempunyai korelasi terhadap sifat lubrisitas minyak solar. Sifat lubrisitas tidak berhubungan langsung terhadap kandungan sulfur tetapi beberapa komponen organik sulfur dalam minyak solar dapat mencegah keausan pada permukaan logamyang bergesakan. Komponen sulfur yang memberikan perlindungan terhadap permukaan logam tersebut adalah polycyclic aromatic yang mengikat oksigen, sulfur dan nitrogen. Studi ini memakai 17 sampel yang diambil dari Depot dan SPBU Pertamina di 17 propinsi di Indonesia. Hasil-hasil dari studi ini diuraikan secara lengkap pada tulisan ini
Kajian Minyak Lumas Mesin Bensin 4T untuk Sepeda Motor subiyanto subiyanto
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 41 No 1 (2007)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.41.1.56

Abstract

Minyak lumas mesin bensin 4T untuk sepeda motor berbeda dengan minyak lumas motor bensin untuk kendaraan. Perbedaan tersebut terjadi oleh karena sistem rangkaian penggerak dari mesin sampai roda berbeda. Namun yang paling jelas perbedaan tersebut terletak pada susunan kopling yang berbeda. Kopling untuk kendaraan atau mobil adalah kopling kering, sedangkan kopling sepeda motor adalah jenis kopling basah. Selain menggunakan kopling basah ada juga sepeda motor yang menggunakan sistem kopling kering, dan minyak lumas yang digunakan, sama dengan untuk minyak lumas mesin 4T untuk mobil. JASO pada tahun 2006 telah mengeluarkam Metode uji, dan telah mengeluarkan spesifikasi atau batasan karakteristik friksi untuk minyak lumas mesin 4T yang menggunakan sistem kopling basah. Karakteristik tersebut adalah Dynamic Friction Index (DFI), Static Friction Index (SFI) dan Stop Time Index (STI). Spesifikasi tersebut berbeda-beda untuk untuk masing-masing tingkat mutu JASO seperti JASO MA, MA1, MA2 atau MB. Jadi selain lulus uji mutu unjuk kerja API minyak lumas motor bensin 4T untuk speda motor buatan Jepang, juga harus lulus uji mutu JASO. Kelima percontoh minyak lumas motor bensin 4T untuk sepeda motor yang diambil dari pasaran semua memenuhi spesifikasi masing-masing.
Kontribusi Pembangkitan Energi Listrik terhadap Efek Rumah Kaca Nuraini Nuaraini; Erwansyah Lubis
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 41 No 1 (2007)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.41.1.189

Abstract

Kegiatan pembangunan telah berhasil meningkatkan kesejahteraan manusia, namun juga menyebabkan terjadinya kecenderungan perubahan planet yang radikal, akibat terjadinya efek rumah kaca (ERK), penipisan lapisan ozon dan hujan asam, yang keseluruhannya dapat mengancam kelestarian kehidupan spesies-spesies, termasuk umat manusia di dalamnya. Pembangkitan energi listrik dan transportasi merupakan kontribusi utama emisi gas rumah kaca (GRK), mencapai 1/3 emisi global. Sesuai kesepakatan Protokol Kyoto pada tahun 1997, tiap negara secara sendiri-sendiri atau bersama-sama sepakat mereduksi konsentrasi GRK sebesar 5,2 % di bawah tingkat emisi tahun 1990. Pengurangan emisi GRK dapat dilakukan melalui implementasi teknologi pembangkitan yang mengandung karbon rendah, seperti pemanfaatan gas alam, tenaga air, tenaga surya, tenaga angin dan tenaga nuklir. Keragaman pembangkitan energi yang arif disesuaikan dengan kapasitas lingkungan hidup merupakan faktor kunci untuk kesinambungan suplai listrik dan melestarikan pembangunan berkelanjutan. Hasil studi IAEA menunjukkan bahwa bahan bakar fosil mempunyai faktor emisi GRK tertinggi. Batu-bara mempunyai faktor emisi 2 kali lebih tinggi dari gas alam. Faktor emisi tenaga angin dan biomas berada di antara tenaga surya dan tenaga nuklir. Dalam seluruh daur pembangkitan listrik, tenaga nuklir mengemisikan 25 g CO2 per kWh dibandingkan bahan bakar fosil yang mengemisikan 250 – 1250 g CO2 per kWh.
Pengaruh Light Cycle Oil sebagai Komponen Minyak Solar Kilang Cilacap terhadap Kinerja Mesin Emi Yuliarita
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 41 No 1 (2007)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.41.1.190

Abstract

Telah dilakukan pengujian kinerja mesin di bangku uji multisilinder Isuzu C-223 menggunakan empat jenis minyak solar yaitu minyak solar murni (FR) dan minyak solar modifikasi yang dicampur LCO. Ternyata LCO sebagai komponen minyak solar eks Cilacap dapat menurunkan kinerja mesin, yaitu penambahan 2,5% volume menurunkan daya motor sebesar 3,3% dan meningkatkan konsumsi bahan bakar spesifik sebesar 2,6%. Penambahan 5% volume menurunkan daya motor sebesar 5,2% dan meningkatkan konsumsi bahan bakar spesifik sebesar 5%. Penambahn 7,5% volume menurunkan daya mesin sekitar 7,5% dan meningkatkan konsumsi bahan bakar spesifik sebesar 9,2%. Kinerja mesin berbahan bakar solar yang dicampur LCO dan bahan bakar solar murni pada konsentrasi sampai 5% dapat diasumsikan sama.

Page 1 of 1 | Total Record : 6


Filter by Year

2007 2007


Filter By Issues
All Issue Vol 60 No 2 (2026) Vol 60 No 1 (2026) Vol 59 No 3 (2025) Vol 59 No 2 (2025) Vol 59 No 1 (2025) Vol 58 No 3 (2024) Vol 58 No 2 (2024) Vol 58 No 1 (2024) Vol 57 No 3 (2023) Vol 57 No 2 (2023) Vol 57 No 1 (2023) Vol 56 No 3 (2022) Vol 56 No 2 (2022) Vol 56 No 1 (2022) Vol 55 No 3 (2021) Vol 55 No 2 (2021) Vol 55 No 1 (2021) Vol 54 No 3 (2020) Vol 54 No 2 (2020) Vol 54 No 1 (2020) Vol 53 No 3 (2019) Vol 53 No 2 (2019) Vol 53 No 1 (2019) Vol 52 No 3 (2018) Vol 52 No 2 (2018) Vol 52 No 1 (2018) Vol 51 No 3 (2017) Vol 51 No 2 (2017) Vol 51 No 1 (2017) Vol 50 No 3 (2016) Vol 50 No 2 (2016) Vol 50 No 1 (2016) Vol 49 No 3 (2015) Vol 49 No 2 (2015) Vol 49 No 1 (2015) Vol 48 No 3 (2014) Vol 48 No 2 (2014) Vol 48 No 1 (2014) Vol 47 No 3 (2013) Vol 47 No 2 (2013) Vol 47 No 1 (2013) Vol 45 No 3 (2011) Vol 45 No 2 (2011) Vol 45 No 1 (2011) Vol 44 No 3 (2010) Vol 44 No 2 (2010) Vol 44 No 1 (2010) Vol 43 No 3 (2009) Vol 43 No 2 (2009) Vol 43 No 1 (2009) Vol 42 No 3 (2008) Vol 42 No 2 (2008) Vol 42 No 1 (2008) Vol 41 No 3 (2007) Vol 41 No 2 (2007) Vol 41 No 1 (2007) Vol 40 No 3 (2006) Vol 40 No 2 (2006) Vol 40 No 1 (2006) Vol 39 No 3 (2005) Vol 39 No 2 (2005) Vol 39 No 1 (2005) Vol 38 No 3 (2004) Vol 38 No 2 (2004) Vol 38 No 1 (2004) Vol 37 No 1 (2003) Vol 36 No 3 (2002) Vol 36 No 2 (2002) Vol 36 No 1 (2002) Vol 24 No 2 (1990) Vol 24 No 1 (1990) Vol 23 No 3 (1989) Vol 23 No 1 (1989) Vol 21 No 3 (1987) Vol 21 No 2 (1987) Vol 21 No 1 (1987) Vol 20 No 3 (1986) Vol 20 No 2 (1986) Vol 20 No 1 (1986) Vol 19 No 3 (1985) Vol 19 No 2 (1985) Vol 19 No 1 (1985) Vol 18 No 3 (1984) Vol 18 No 2 (1984) Vol 18 No 1 (1984) Vol 17 No 2 (1983) Vol 15 No 1 (1981) Vol 14 No 3 (1980) Vol 14 No 2 (1980) Vol 14 No 1 (1980) More Issue