cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik Mesin
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 17 Documents
Search results for , issue "JTM : Volume 01 Nomor 03 Tahun 2013" : 17 Documents clear
EKSPERIMENTAL KARAKTERISTIK PRESSURE DROP PADA SAMBUNGAN T (TEE) UNTUK POSISI FRONTAL DENGAN VARIASI KEMIRINGAN UNTUK SISTEM PERPIPAAN Anshori, Latif; Adiwibowo, Priyo Heru
Jurnal Teknik Mesin JTM : Volume 01 Nomor 03 Tahun 2013
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sistem perpipaan merupakan bagian yang selalu ada dalam industri masa kini, misalnya industri gas,pengilangan minyak, industri air minum, Dalam perencanaan suatu sistem perpipaan, sulit dihindari adanya suatusambungan, salah satunya sambungan T (tee). Adanya sambungan T (tee) dalam suatu saluran akan menyebabkanterjadinya kehilangan energi dan penurunan tekanan pada aliran. Besar kecilnya kehilangan energi dan penurunantekanan yang terjadi pada aliran yang melalui sambungan T (tee) tersebut dipengaruhi oleh posisi sambungan T (tee)yang dipasang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pressure drop pada sambungan tee untuk posisifrontal dengan variasi sudut kemiringan 15?, 30?, 45?, 60?, 75?. Penelitian dalam ini dilaksanakan di laboratoriummekanika fluida Jurusan Pendidikan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya. Metode penelitianyang digunakan adalah adalah secara eksperimen, yaitu suatu metode yang mengusahakan timbulnya variabel-variabeldan selanjutnya dikontrol untuk dilihat pengaruhnya. Eksperimen dilakukan terhadap fluida air yang dialirkan melaluipipa PVC (Polivinil clorida) berdiameter 1 inchi dengan sambungan T (tee) yang dipasang secara frontal denganvariasi kemiringan, kemudian dilakukan beberapa kali pengukuran tekanan pada sebelum dan sesudah sambungan T(tee) menggunakan manometer segaris pada sistem perpipaan. Kondisi demikian kemudian diuji pengaruhnya terhadappressure drop pada aliran tersebut dengan variasi debit air. Dari hasil penelitian ini dapat di simpulkan bahwa semakintinggi perbedaan elevasi maka akan semakin besar pressure drop yang dihasilkan. Untuk sambungan T (tee) keluaranke bawah, pressure drop terbesar terjadi pada sudut kemiringan 75? sedangkan pressure drop terkecil pada sudutkemiringan 15?. Tetapi untuk peningkatan pressure drop pada sudut 15? cenderung lebih signifikan daripadapeningkatan pressure drop pada sudut 30?, 45?, 60?, dan 75?. Sedangkan pressure drop pada sambungan T sudut 15?keluaran ke atas lebih besar daripada keluaran ke bawah, hal ini membuktikan jika aliran menurun, gravitasi membantualiran sehingga pressure drop kecil.
PENGARUH PENGGUNAAN DIESEL PARTICULATE TRAP (DPT) BERBAHAN KUNINGAN DAN STAINLESS STEEL TERHADAP PERFORMA MESIN ISUZU PANTHER TAHUN 1997 Pramitasari, Retno Eka; Marsudi, Marsudi
Jurnal Teknik Mesin JTM : Volume 01 Nomor 03 Tahun 2013
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Inovasi teknologi otomotif berkembang begitu pesat. Salah satu teknologi untuk mengendalikan emisi gas buang pada motor diesel adalah Diesel Particulate Trap (DPT). DPT adalah teknologi yang digunakan untuk mengurangi ketebalan asap/opasitas kendaraan mesin diesel. DPT diletakkan pada saluran gas buang tepatnya sebelum muffler. Pembuatan DPT dengan menggunakan logam katalis diketahui sangat efektif untuk mereduksi tingkat ketebalan asap/partikulat pada mesin diesel. Begitu pula dengan stainless steel yang berfungsi sebagai baja tahan karat. Namun, penelitian tentang pengaruh penggunaan DPT terhadap performa mesin belum banyak dilakukan pada mobil khususnya di UNESA. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan diesel particulate trap berbahan dasar kuningan dan stainless steel terhadap performa mesin Izusu Panther tahun 1997.Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen. Obyek dalam penelitian ini adalah mobil Izusu Panther tahun 1997. Penelitian ini menggunakan metode pengujian perubahan rpm pada beban penuh (Full Open Throtlle Valve) yang berpedoman pada standar pengujian performa mesin berdasarkan SAE J1349 dan standar pengujian tingkat kebisingan berdasarkan S II 0415-81. Bahan DPT yang digunakan adalah kuningan yang dibentuk dengan desain wire mesh particulate trap. Teknik analisis data adalah metode deskriptif yaitu mendeskripsikan data numerik yang diperoleh, kemudian dijelaskan dalam bentuk kalimat sederhana yang mudah dipahami. Hasil pengujian menunjukkan bahwa, penggunaan Diesel Particulate Trap berbahan kuningan dan stainless steel dapat meningkatkan performa mesin dan menurunkan tingkat kebisingan mesin Izusu Panther tahun perakitan 1997. Peningkatan torsi tertinggi sebesar 16, 96 % terjadi pada putaran 1100 rpm dengan menggunakan wiremesh 14. Peningkatan daya efektif tertinggi yang dihasilkan mesin sebesar 18,02 % pada putaran 1100 rpm, dengan menggunakan wiremesh 16. Penurunan konsumsi bahan bakar spesifik tertinggi yang dihasilkan mesin sebesar 14,54 % pada putaran 1500 rpm, dengan menggunakan wiremesh 14. dihasilkan peningkatan tekanan spesifik rata-rata tertinggi yang dihasilkan mesin sebesar 18,02 % pada putaran 1100 rpm, dengan menggunakan wiremesh 16. Penurunan tingkat kebisingan tertinggi yang dihasilkan mesin sebesar 10 % pada putaran 1500 rpm, dengan menggunakan wiremesh 14. Jika dibandingkan dengan knalpot standar.
PENGARUH PENGGUNAAN DIESEL PARTICULATE TRAP BERBAHAN TEMBAGA DAN GLASSWOOL TERHADAP OPASITAS MESIN ISUZU PANTHER 2000 Samudra, Agung; Muhaji, Muhaji
Jurnal Teknik Mesin JTM : Volume 01 Nomor 03 Tahun 2013
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pertumbuhan kendaraan bermotor di Indonesia yang terus meningkat telah menyebabkan persoalan serius dalam hal peningkatan pencemaran udara. Salah satu jenis kendaraan bermotor yang membawa dampak besar terhadap pencemaran udara di Indonesia adalah kendaraan bermesin diesel. Selain populasinya besar, kendaraan bermesin diesel juga mengeluarkan jelaga yang dapat mengganggu kesehatan dan merusak lingkungan. Jelaga merupakan partikulat dengan ukuran sekitar 10 µm dengan 80,5% unsur pembentuknya adalah karbon. Jelaga berbahaya bagi kesehatan. Jelaga dapat mengendap dalam sel paru-paru dan menimbulkan flek hitam sehingga fungsi paru-paru terganggu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat reduksi opasitas (kepekatan asap/jelaga) gas buang mesin Isuzu Panther tahun 2000 dengan penggunaan diesel particulate trap (DPT) berbahan tembaga dan glasswool. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen. Obyek penelitian adalah mesin Isuzu Panther tahun 2000. Metode pengujiannya yaitu diakselerasi tanpa beban (free running acceleration). Standar pengujian emisi gas buang mesin diesel berdasarkan SAE-J1667. Analisis data menggunakan metode deskriptif. Peralatan dan instrumen penelitian yang digunakan adalah mesin Isuzu Panther tahun 2000, smoke opacymeter, dan exhaust gas analyzer. Hasil dari penelitian ini adalah dengan penggunaan diesel particulate trap (DPT) berbahan tembaga dan glasswool dengan desain metallic honeycomb dapat menurunkan kepekatan asap/opasitas mesin Isuzu Panther tahun 2000. Hal ini ditunjukkan dengan menurunnya opasitas gas buang buang pada mesin mesin Isuzu Panther tahun 2000 dengan menggunakan DPT pada knalpot eksperimen I, II, dan III. Dengan menggunakan knalpot eksperimen I, opasitas gas buang turun sebesar 3,5% dari knalpot standar yang mempunyai nilai opasitas 92,4%. Pada knalpot eksperimen II, didapatkan hasil reduksi opasitas secara maksimal. Opasitas turun sebesar 5,3% dari knalpot standar. Sedangkan pada knalpot eksperimen III, opasitas berhasil direduksi sebesar 4,9% dari knalpot standar.
PENGEMBANGAN MEDIA TRAINER SISTEM PENGISIAN MENGGUNAKAN IC MODIFIKASI Yusup, Muhammad; Ansori, Aris
Jurnal Teknik Mesin JTM : Volume 01 Nomor 03 Tahun 2013
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Didalam era modern ini banyak kemajuan teknologi, tentunya dalam dunia pendidikan juga harus mengikuti kemajuan teknologi tersebut untuk mengimbangi proses pembelajaran. Seiring dengan berkembangnya zaman berkembang pula ilmu pengetahuan, tentunya memberikan dampak pada berbagai sektor. Misalnya berpengaruh pada perkembangan dunia otomotif sebagai contoh pada sistem pengisian di mobil ? mobil baru yang sudah tidak lagi menggunakan konvensional tetapi sudah menggunakan  sistem pengsian IC regulator yang tidak perlu melakukan penyetelan. Maka dirancangnya trainer sistem pengisian yang menggunakan IC regulator dengan rancangan IC modifikasi sebagai media pembelajaran dan untuk mengatasi problem kerusakan IC pada alternator yang tidak dapat diperbaiki. Jenis penelitian yang diguanakan adalah penelitian eksperimen. Penelitian yang dilakakukan dengan membandingkan data IC Regulator standart dengan IC Regulator modifikasi .Data yang diperoleh dari hasil eksperimen diamsukan kedalam tabel dan ditampilkan dalan bentuk grafik yang kemudian akan dianalisa dan ditarik kesimpulan, sehingga dapat diketahui presentase perubahan arus yang masuk dari D+ ke DF. Dari hasil pengujian IC Regulator modifikasi masih kurang sempurna hasilnya di bawah standart dengan hasil pengujian tanpa beban IC Regulator rpm rendah 1400, I=5, V=12 rpm menengah 3400, I=5, V=13,5 rpm tinggi 5400, I=4, V=14 untuk modifikasi rpm rendah 1400, I=2, V=12 rpm menengah 3400, I=1, V=12 rpm tinggi 5400, I=2, V=12,5. Pengujian menggunakan beban IC Regulator standart rpm rendah 1400, I=6, V=12 rpm menengah 3400, I=10, V=13,5 rpm tinggi 5400 I= 8,5, V=12,5 untuk modifikasi rpm rendah 1400, I=3, V=11 rpm menengah 3400, I=6, V=11,5 rpm tinggi 5400, I=5, V=12,5.
PERENCANAAN BAHAN BAKU DI PT PAKINDO JAYA PERKASA UNTUK MENGANTISIPASI PERMINTAAN TAHUN 2013 Fakhruddin, Arief; Wiwi, Umar
Jurnal Teknik Mesin JTM : Volume 01 Nomor 03 Tahun 2013
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PT.Pakindo Jaya Perkasaadalah sebuah peusahaan yang bergerak dalam bidang tepung terigu dimana dalam operasionalnya memerlukan perencanaan dan pengendalian bahan baku untuk proses produksinya. Masalah optimalisasi pemesanan bahan baku merupakan hal penting dalam suatu perusahaan, sehingga masalah ini terus dipelajari dan dikembangkan. Perusahaan ini belum mempunyai suatu perencanaan bahan baku sehingga dikuatirkan akan terjadi pertambahan biaya karena adanya penimbunan atau justru berhentinya produksi karena habisnya bahan baku. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan jumlah pesanan yang ekonomis,persediaan yang ekonomis, cadangan penyangga (safety stock) yang kesemuanya dihitung menggunakan metode economicorder quantity. Hasil dari penelitian ini adalah Jumlah pemesanan ekonomis (EOQ) adalah sebesar 31844,6 ton,Kuantitas persediaan pengaman (safety stock)  bahan baku bila menggunakan metode EOQ adalah 253,5 ton, Batas atau titik pemesanan bahan baku bila menggunakan metode EOQ12557,1ton.
PENGARUH KEBISINGAN TERHADAP PRODUKTIVITAS PEMBUATAN SPARE PART MOTOR PADA UD. SINAR ABADI WARU SIDOARJO Fuad Windra Khoirul Anam, Mohammad; Riandadari, Dyah
Jurnal Teknik Mesin JTM : Volume 01 Nomor 03 Tahun 2013
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebisingan pada suatu tempat kerja merupakan faktor yang mengakibatkan perubahan-perubahan output (hasil kerja). Keberadaan seseorang disaat melakukan aktivitas pada ruangan tertentu akan dipengaruhi oleh tingkat kebisingan pada ruangan tersebut. Penelitian ini dilakukan di UD. Sinar Abadi Waru Sidoarjo. Data yang diperoleh melalui penelitian ini dikumpulkan dan dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Dimana dengan pengambilan data yaitu dengan cara mengukur tingkat kebisingan dan output (hasil kerja) pada industri atau perusahaan. Data yang diambil menggunakan alat 4 in 1 Environment (Sound Level Meter (SLM), dikumpulkan untuk mendapatkan hasil apakah ada hubungan tingkat kebisingan terhadap produktivitas pembuatan spare part. Hasil dari penelitian ini adalah Tingkat kebisingan pada penelitian ini sangat berpengaruh. Hal ini dapat dilihat pada pagi hari kebisingan terendah terjadi pada hari Selasa yaitu 84,6 dan 84,2 dB dengan produktivitas kerja karyawan yang memakai pelindung telinga 483 dan karyawan yang tidak memakai pelindung telinga 402 buah setelan rantai. Kebisingan terendah yang terjadi pada tempat industri pada siang hari adalah hari Selasa yaitu 89,2 dan 90,1 dB dengan produktivitas kerja karyawan yang memakai pelindung telinga 454 dan karyawan yang tidak memakai pelindung telinga 391 buah setelan rantai. Kebisingan terendah yang terjadi pada tempat industri pada sore hari adalah hari Selasa yaitu 92,8 dan 91,0 dB dengan produktivitas kerja karyawan yang memakai pelindung telinga 450 dan karyawan yang tidak memakai pelindung telinga 399 buah setelan rantai.
PENGARUH ARUS PENGELASAN DAN JENIS ELEKTRODA TERHADAP KEKUATAN TARIK PADA STEEL 42 Kusumaning Gutama, Handito; Wulandari, Diah
Jurnal Teknik Mesin JTM : Volume 01 Nomor 03 Tahun 2013
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perbedaan Arus pada suatu pengelasan merupakan faktor yang dapat mengakibatkan perubahan (hasil kerja). Pengelasan dengan arus yang lebih kecil dapat merubah tingkat hasil uji tarik pada suatu pengeleasan dan akan mempengaruhi hasil tingkat uji tarik pada pengelasan tersebut. Data yang diperoleh melalui penelitian ini dikumpulkan dan dianalisis secara deskriptif kuantitatif dengan metode spss. Dimana dengan pengambilan data yaitu dengan cara mengukur tingkat kekuatan tarik (hasil kerja) pada Steel 42 dengan Elektroda E6010 dan E6013. Kekuatan tarik terendah yang terjadi pada uji tarik terdapat pada arus terkecil yaitu 90 ampere. Tingkat perbedaan arus pada penelitian ini sangat berpengaruh. Hal ini dapat dilihat pada arus 90 ampere terendah terjadi pada penelitian ini yaitu 38,88 kg/mm², 31,26 kg/mm², 31,95 kg/mm² dengan E6010 dan 24,56 kg/mm², 28,14 kg/mm², 29,03 kg/mm² dengan E6013 Hal ini sesuai dengan asumsi awal bahwa arus rendah dapat mengurangi tingkat kekuatan uji tarik yang diperoleh kekuatan uji yang lebih kecil karena dari pengerjaan pengelasan diperoleh data bahwa arus rendah dapat mempengaruhi kekuatan tarik pada pengelasan E6010 dan E6013 terhadap Steel 42.
PENGARUH JENIS PAHAT, KECEPATAN SPINDEL, DAN KEDALAMAN PEMAKANAN TERHADAP TINGKAT KEKASARAN DAN KEKERASAN PERMUKAAN BAJA ST. 42 PADA PROSES BUBUT KONVENSIONAL Lesmono, Indra; Yunus, Yunus
Jurnal Teknik Mesin JTM : Volume 01 Nomor 03 Tahun 2013
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses pengerjaan logam adalah salah satu hal terpenting dalam pembuatan komponen mesin, terutama proses pengerjaan logam dengan mesin bubut. Sehingga diperlukan inovasi yang terus menerus untuk meningkatkan kualitas hasil produksi. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan, misalnya dengan pemilihan jenis pahat, kedalaman pemakanan, dan kecepatan spindel yang tepat. Dari penggunaan beberapa cara tersebut muncul permasalahan bagaimana pengaruh perbedaan jenis pahat, kecepatan spindel dan kedalaman pemakanan terhadap tingkat kekasaran dan kekerasan permukaan benda kerja pada proses bubut konvensional. Penelitian yang dilakukan ini adalah penelitian eksperimen. Dalam penelitian ini benda kerja yang digunakan sebanyak 27 buah yang mendapatkan perlakuan berbeda dalam proses pengerjaannya, yaitu dengan variasi jenis pahat, kecepatan spindel dan kedalaman pemakanan. Kemudian dari ke 27 benda kerja tersebut masing ? masing benda kerja ditentukan 3 titik untuk dilakukan uji kekasaran dan 3 titik untuk dilakukan uji kekerasan. Dari hasil pengujian yang diperoleh kemudian dilakukan analisis tabel. Hasilnya kekasaran permukaan baja terbaik atau terendah adalah 3,28 ?m yang diperoleh dari jenis pahat (Bohler), kecepatan spindel tertinggi (750 rpm), dan kedalaman pemakanan terendah (0,4 mm). Sedangkan kekerasan permukaan baja terbaik atau tertinggi adalah 51,5 Kg/mm2 yang diperoleh dari jenis pahat (Jck), kecepatan spindel terendah (300 rpm), dan kedalaman pemakanan paling tinggi (0,8 mm).
PENGARUH JENIS PAHAT, SUDUT PAHAT DAN KEDALAMAN PEMAKANAN TERHADAP TINGKAT KEKASARAN DAN KEKERASAN PADA PROSES BUBUT RATA BAJA ST 42 Pramawata, Pandhu; Yunus, Yunus
Jurnal Teknik Mesin JTM : Volume 01 Nomor 03 Tahun 2013
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses bubut pada umumnya adalah proses mekanik yang menimbulkan suhu tinggi pada permukaan benda kerja. Semua energi yang digunakan dalam proses bubut rata diubah menjadi energi panas, dan panas ini sebagian dibawa oleh geram dan sebagian diteruskan ke lingkungan melalui mata pahat dan benda kerja. Pemilihan bahan baku juga berpengaruh pada hasil pembubutan terutama berkaitan dengan kualitas kekasaran dan kekerasan permukaan. Dalam pekerjaan bubut, peralatan utama yang digunakan untuk pekerjaan tersebut adalah pisau / pahat bubut. Untuk dapat memotong dengan baik, pisau bubut perlu adanya sudut baji, sudut bebas dan sudut tatal sesuai ketentuan, yang semua ini disebut dengan istilah geometris alat potong. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen. Obyek penelitian adalah baja ST 42. Variabel bebasnya adalah Jenis pahat (HSS Bohler, HSS Toki, dan HSS JCK), Sudut pahat (75° ,80°,85°), Kedalaman pemakanan (0.3 mm, 0.5 mm, 0.7 mm),Kecepatan spindel (750 rpm). Variabel terikatnya adalah kekasaran dan kekerasan. Variabel kontrolnya adalah mesin bubut, ketajaman pahat, jenis material, ketebalan feeding,operator. Dari pengujian Anova dan uji lanjutan Duncan variable yang berpengaruh terhadap kekasaran secara signifikan adalah jenis pahat (bohler, toki, jck), untuk sudut pahat (75°, 80°, 85°) dan kedalaman (0.3, 0.5, 0.7) tidak signifikan. Sedangkan pada uji kekerasan tidak ada yang signifikan untuk uji jenis pahat (bohler, toki, jck), sudut pahat (75°, 80°, 85°) dan kedalaman (0.3, 0.5, 0.7). Jenis pahat yang terbaik adalah bohler, karena menghasilkan kekasaran permukaan paling halus dengan nilai kekasaran paling rendah (5.78 ?m), dan kekerasan paling tinggi (49.1 Kg/mm2). Sudut pahat terbaik adalah 75°, karena menghasilkan kekasaran dengan nilai kekasaran (5.78 ?m), dan kekerasan paling tinggi (49.1 Kg/mm2). Kedalaman pemakanan terbaik adalah 0,3 mm, karena menghasilkan kekasaran paling rendah (5.78 ?m), dan kekerasan paling tinggi adalah 0,7 mm karena kekerasan paling tinggi (49.1 Kg/mm2).
EKSPERIMENTAL KARAKTERISTIK PRESSURE DROP DENGAN SAMBUNGAN T (TEE) UNTUK POSISI FRONTAL DAN SEARAH PADA POSISI VERTIKAL UNTUK SISTEM PERPIPAAN Santoso, Budi; Adiwibowo, Priyo Heru
Jurnal Teknik Mesin JTM : Volume 01 Nomor 03 Tahun 2013
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sistem perpipaan merupakan bagian yang selalu ada dalam industri masa kini, misalnya industri gas, pengilangan minyak, industri air minum, Dalam perencanaan suatu sistem perpipaan, sulit dihindari adanya suatu sambungan, salah satunya sambungan T (tee). Adanya sambungan T (tee) dalam suatu saluran akan menyebabkan terjadinya kehilangan energi dan penurunan tekanan pada aliran. Besar kecilnya kehilangan energi dan penurunan tekanan yang terjadi pada aliran yang melalui sambungan T (tee) tersebut dipengaruhi oleh posisi sambungan T (tee) yang dipasang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pressure drop pada sambungan tee untuk posisi frontal vertikal, posisi searah ke atas, dan posisi searah ke bawah. Penelitian dalam skripsi ini dilaksanakan di laboratorium mekanika fluida Jurusan Pendidikan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya. Metode penelitian yang digunakan adalah adalah secara eksperimen, yaitu suatu metode yang mengusahakan timbulnya variabel-variabel dan selanjutnya dikontrol untuk dilihat pengaruhnya. Eksperimen dilakukan terhadap fluida air yang dialirkan melalui pipa PVC (Polivinil clorida) berdiameter  1 inchi dengan sambungan T (tee) yang dipasang pada posisi frontal vertikal, posisi searah ke atas, posisi searah ke bawah. kemudian dilakukan beberapa kali pengukuran tekanan pada aliran fluida sambungan (tee) menggunakan manometer segaris pada sistem perpipaan. Kondisi demikian kemudian diuji pengaruhnya terhadap pressure drop pada aliran tersebut dengan variasi debit air. Dari hasil penelitian ini dapat di simpulkan bahwa semakin tinggi perbedaan elevasi maka akan semakin besar pressure drop yang dihasilkan.Untuk sambungan T (tee) frontal vertikal cenderung terjadi peningkatan pressure drop dengan meningkatnya bilangan Reynolds. Terlihat dari nilai bilangan Reynolds 12836 sampai 34229. Hal ini disebabkan karena adanya gravitasi pada sambungan T (tee).Pada sambungan T (tee) frontal vertical tidak ada aliran fluida ke atas, karena tidak mampu melawan gravitasi.Pada sambungan T (tee) searah keatas terjadi peningkatan pressure drop melandai. Terlihat dari bilangan Reynolds 12836 sampai 34229. Hal ini di karenakan pengaruh gesekan pada sambungan T (tee) yang masih dominan dan tanpa adanya gravitasi. Pada sambungan T (tee) searah ke bawah pada ?P1-2 terjadi peningkatan pressure drop signifikan dibandingkan dengan grafik pressure drop ?P1-3. Terlihat dari bilangan Reynolds pada 12863 yang cenderung mningkat sampai bilangan Reynolds 29951.Pada perbandingan sambungan T (tee) searah ke atas ?P1-2 dan ke bawah ?P1-2, pada sambungan searah ke atas ?P1-2 terjadi peningkatan pressure drop melandai. Terlihat dari bilangan Reynolds 12836 sampai 34229. Hal ini di sebabkan karena pengaruh gesekan pada sambungan T (tee) yang masih dominan dan tanpa adanya gravitasi. Sedangkan pada sambungan searah ke bawah ?P1-2 terjadi peningkatan pressure drop yang signifikan. Terlihat dari bilangan Reynolds pada 12863 yang cenderung mningkat sampai bilangan Reynolds 29951. Pada perbandingan sambungan T (tee) searah ke atas ?P1-2 dan searah ke bawah ?P1-2 sebelum masuk sambungan T (tee), pada sambungan searah ke atas ?P1-2 dan sambungan searah ke bawah ?P1-2 sebelum masuk sambungan T (tee) cenderung sama terjadi peningkatan pressure drop yang signifikan dengan meningkatnya bilangan Reynolds. Hal ini di sebabkan karena adanya faktor gesekan pada sambungan T (tee). Pada perbandingan sambungan T (tee) searah ke atas ?P3-4 dan searah ke bawah ?P3-4 sesudah sambungan T (tee), pada sambungan T (tee) searah ke atas, ?P3-4 terjadi peningkatan pressure drop dengan meningkatnya bilangan Reynolds. Terlihat dari bilangan Reynolds 12836 sampai 34229. Hal ini di sebabkan karena adanya faktor gesekan yang dominan pada sambungan T (tee). Sedangkan pada sambungan T (tee) searah ke bawah ?P3-4 juga terjadi peningkatan pressure drop yang signifikan di bandingkan dengan sambungan T (tee) searah ke atas ?P3-4 sesudah sambungan T (tee). Terlihat dari bilangan Reynolds 12836 sampai 34229. Hal ini di sebabkan karena adanya faktor gesekan yang dominan pada sambungan T (tee).

Page 1 of 2 | Total Record : 17