cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik Mesin
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 20 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 3 (2019)" : 20 Documents clear
PENGARUH TEMPERATUR DAN WAKTU PENCELUPAN PADA PROSES HOT DIP GALVANIZING BAJA ST 41 BENTUK PLAT DAN SILINDER TERHADAP KETEBALAN PERMUKAAN HAIKAL AMIN, FIKRI; MAHENDRA SAKTI, ARYA
Jurnal Teknik Mesin Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Baja St 41 merupakan baja karbon rendah yang seringkali tidak ditunjang dengan sifat mekaniknya yaitu mudah aus dan korosif. Hal ini diperlukan perlindungan dengan cara melapisi menggunakan metode pelapisan hot dip galvanizing. Tujuan dari variasi temperatur dan waktu pencelupan pada proses hot dip galvanizing adalah untuk membandingkan hasil ketebalan lapisan dengan standar ISO 1461 : 1999, variasi temperatur yang digunakan adalah 420 °C dan 450 °C dan variasi waktu pencelupan sebesar 15, 30, dan 45 detik. Proses pencelupan ini dilakukan dengan melapisi baja St 41 dengan seng sebagai perlindungannya. Proses hot dip galvanizing adalah memanaskan seng hingga mencair kemudian celupkan baja St 41 sesuai temperatur dan waktu pencelupan yang diinginkan. Sebagai pendukung maka dilakukan uji ketebalan. Pada hasil pengujian ketebalan spesimen bentuk plat dengan temperatur 420 °C dan waktu pencelupan sebesar 15, 30, dan 45 detik sebesar 50,41 µm, 57,48 µm, dan 63,5 µm. Hasil nilai ketebalan spesimen bentuk silinder dengan temperatur 420 °C dan waktu pencelupan 15, 30, dan 45 detik sebesar 47,03 µm, 56,13 µm, dan 59,26 µm. Hasil ketebalan pada spesimen bentuk plat dengan temperatur 450 °C dan waktu pencelupan 15, 30, dan 45 detik sebesar 48 µm, 55,1 µm, dan 59,73 µm. Untuk nilai ketebalan spesimen silinder dengan temperatur 450 °C dan waktu pencelupan 15, 30, dan 45 detik sebesar 43,56 µm, 52,81 µm, dan 56,74 µm. Kesimpulan dari penelitian ini adalah semakin lama waktu pencelupan semakin tinggi nilai ketebalannya. Hasil ini sudah ada yang memenuhi batas rata-rata minimum standar ISO 1461 : 1999 yaitu sebesar 55 µm untuk bentuk plat dan 50 µm untuk bentuk silinder. Kata kunci : hot dip galvanizing, Baja St 41, temperatur pencelupan, waktu pencelupan, uji ketebalan.
PENGARUH VARIASI UKURAN WIREMESH STAINLESS STEEL PADA DIESEL PARTICULATE TRAP TERHADAP OPASITAS GAS BUANG MESIN ISUZU PANTHER TAHUN 2005 ROJIL GHUFRON, MOCHAMMAD; , WARJU
Jurnal Teknik Mesin Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada mesin diesel, besarnya emisi gas buang ditentukan dalam bentuk opasitas yang tergantung pada jumlah bahan bakar yang disemprotkan ke dalam silinder. Emisi partikel debu halus (partikulat) yang biasanya dihasilkan dari mesin diesel dengan kontribusi 50% memiliki dua dampak. Mengendap dalam sel paru-paru sehingga fungsinya terganggu dan menimbulkan flek hitam pada paru-paru. Oleh karena itu, diperlukan solusi untuk mengendalikan emisi gas buang mesin diesel konvensional. Salah satu teknologi yang bisa diterapkan adalah diesel particulate trap (DPT) yang dipasang pada saluran gas buang kendaraan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan pengaruh variasi ukuran wiremesh pada DPT terhadap opasitas gas buang mesin Isuzu Panther 2005. Jenis penelitian adalah penelitian eksperimen. Objek penelitian adalah mesin Isuzu Panther tahun 2005. Variabel bebas penelitian adalah ukuran wiremesh, yaitu ukuran 18, 20, dan 24. Variabel terikat adalah kadar opasitas gas buang. Standar pengujian opasitas gas buang mesin diesel berdasarkan SNI 19-7118.2-2005 yang berpedoman pada SAE-J1667. Hasil pengujian menunjukkan bahwa penggunaan DPT tipe wiremesh berbahan dasar stainless steel dengan variasi ukuran wiremesh stainless steel mampu mereduksi opasitas gas buang mesin Isuzu Panther tahun 2005. Penggunaan DPT dengan ukuran wiremesh 18 dapat mereduksi opasitas gas buang sebesar 78 %. DPT dengan ukuran wiremesh 20 dapat mereduksi opasitas gas buang sebesar 80 %. DPT dengan ukuran wiremesh 24 dapat mereduksi opasitas gas buang sebesar 82,2 %. Kata Kunci: Emisi gas buang, mesin diesel, opasitas, diesel particulate trap (DPT), wiremesh.
PENGARUH BENTUK BAJA PELAPISAN HOT DIP GALVANIZING TERHADAP LAJU KOROSI PADA BAJA ST 41 KHABIBULLAH, MUHAMMAD; MAHENDRA SAKTI, ARYA
Jurnal Teknik Mesin Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Baja St 41 termasuk baja karbon rendah karena memiliki kandungan karbon kurang dari 0,3%. Baja St 41 memilki keuletan dan ketangguhan yang baik, namun memilki ketahanan korosi yang kurang baik. Oleh karena itu perlu dilakukan treatment untuk memperbaiki ketahanan korosinya, salah satunya dengan cara hot dip galvanizing. Hot dip galvanizing merupakan proses pelapisan logam menggunakan logam zinc (seng) sebagai bahan pelapis untuk melindungi baja dari serangan korosi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa laju korosi pada baja St 41 yang telah dilapisi dengan cara hot dip galvanizing. Variasi yang digunakan dalam penelitian ini meliputi, waktu galvanizing 15 detik, 30 detik, dan 45 detik, waktu perendaman korosi 7 hari, 14 hari, dan 21 hari, media pengkorosif menggunakan air laut Sidoarjo dan air laut Gresik. Pengambilan data pada penelitian ini menggunakan metode kehilangan berat berdasarkan ASTM G31-72, media pengkorosif akan diuji salinitas, TDS, dan pHnya sebelum dan sesudah proses pengujian korosi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa waktu galvanizing, variasi waktu perendaman dan media pengkorosif mempengaruhi laju korosi pada baja St 41 yang telah digalvanizing. Laju korosi terbesar pada media pengkorosif air laut Gresik terjadi pada spesimen bentuk plat yang digalvanizing 15 detik dengan waktu perendaman 7 hari sebesar 0,4781 mmpy. Laju korosi terkecil pada media pengkorosif air laut Gresik terjadi pada pada spesimen bentuk selindris yang digalvanizing 45 detik dengan waktu perendaman 21 hari sebesar 0,2839 mmpy. Laju korosi terbesar pada media pengkorosif air laut Sidoarjo terjadi pada spesimen bentuk plat yang digalvanizing 15 detik dengan waktu perendaman 7 hari sebesar 0,4013 mmpy. Laju korosi terkecil pada media pengkorosif air laut Gresik terjadi pada pada spesimen bentuk selindris yang digalvanizing 45 detik dengan waktu perendaman 21 hari sebesar 0,2776 mmpy.Semakin lama waktu perendaman maka laju korosi semakin menurun. Semakin besar nilai salinitas, TDS, dan pH semakin asam pada media pengkorosif maka laju korosi semakin besar. Kata kunci: baja St 41, bentuk baja, media pengkorosif, waktu perendaman, laju korosi.
KARAKTERISTIK POMPA SENTRIFUGAL DENGAN BILAH BERALUR DALAM TIPE CLOSE IMPELLER PRAYOGI, DICKY; HERLAMBA SIREGAR, INDRA
Jurnal Teknik Mesin Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Performa dari pompa sentrifugal dapat dilihat dari efisiensi, head, NPSH dan kebisingan pompa. Performa pompa dipengaruhi oleh kecepatan motor, impeller dan temperature. Impeller merupakan salah satu komponen yang dapat meningkatkan performa dari pompa sentrifugal. Riblets merupakan sebuah alur dalam dari sebuah plat dimana riblets ini mampu mengurangi gaya drag dan meningkatkan gaya angkat sehingga pompa tersebut mampu mengangkat fluida yang lebih banyak dibandingkan menggunakan plat datar. Variabel bebas yang digunakan oleh penelitian ini adalah variasi alur dalam impeller, temperature dan putaran. Variasi alur dalam impeller adalah 8 sudu tanpa alur, sudu 8 alur datar dan sudu 8 alur sinusoidal. Variasi temperatur yang digunakan ialah 30 0C, 45 0C, dan 60 0C. Variasi putaran motor menggunakan 1500 rpm, 2000 rpm, dan 2500 rpm. Tipe impeller yang digunakan pada penelitian ini ialah tipe close impeller karena fluida yang digunakan adalah air bersih. Dalam penelitian yang dilakukan penambahan variasi alur dalam pada impeller mendapatkan hasil yang lebih baik pada kapasitas, head, NPSH dan efisiensi pompa. Untuk impeller sinusoidal didapatkan nilai tertinggi pada kapasitas, head, NPSH dan efisiensi yaitu 59 lpm, 14,75 m, 9,75 m dan 51,10 % yang didapatkan pada temperatur 30 oC, dan pada impeller alur lurus didapatkan kapasitas, head, NPSH dan efisiensi sebesar 58 lpm, 14,42 m, 9,75 m dan 51,16 %, sedangkan pada impeller polos memiliki kapasitas, head, NPSH dan efisiensi terendah yaitu 55 lpm, 14,39 m, 9,73 m dan 49,98 %. Kata Kunci: pompa sentifugal, impeller, riblets, NPSH dan efisiensi
UJI EKSPERIMENTAL KINERJA TURBIN REAKSI ALIRAN VORTEX TIPE SUDU BERPENAMPANG LURUS DENGAN LUAS OPTIMUM SUDU MAULANA, TUTUR; HERU ADIWIBOWO, PRIYO
Jurnal Teknik Mesin Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Saat ini energi listrik merupakan salah satu sumber energi yang sangat dibutuh bagi kehidupan manusia, baik dalam sektor rumah tangga, publik maupun industri. Salah satu bentuk energi yang dapat dimanfaatkan adalah energi potensi air, dan penggunaan turbin vortex sangat berguna untuk memaksimalkan potensi tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui daya dan efisiensi yang dihasilkan dari luas optimum sudu turbin reaksi aliran vortex tipe sudu berpenampang lurus. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen, yaitu dengan membuat turbin vortex tipe sudu berpenampang lurus yang memiliki luasan dengan tinggi 19 cm, 20 cm, 21 cm, dan lebar 27 cm yang menggunakan kapasitas air 8,069 L/s, 9,413 L/s, 10,803 L/s, dan 12,341 L/s. Variasi pembebanan yang digunakan kenaikan 5000 gram hingga putaran poros pada turbin berhenti. Pengujian akan dilakukan hingga mendapatkan hasil daya dan efisiensi pada aliran vortex. Daya tertinggi dihasilkan oleh turbin dengan tinggi sudu 19 cm yang terjadi pada kapasitas 12,341 L/s dengan pembebanan 40000 gram, memiliki daya sebesar 44,44 watt. Efisiensi tertinggi dihasilkan oleh turbin dengan tinggi 19 cm yang terjadi pada kapasitas 10,803 L/s dengan pembebanan 45000 gram, memiliki efisiensi sebesar 53,82 %. Dari hasil penelitian ini, didapatkan semakin luas permukaan turbin semakin rendah nilai daya dan efisiensi. Hal ini disebabkan oleh massa turbin yang mempengaruhi putaran poros pada turbin. Kata kunci : Turbin, Turbin Vortex, Sudu Berpenampang Lurus, Tinggi Sudu, Lebar Sudu When this electric energy is one energy source that is very necessary for human life, both in the sectors of household, public and industry. One of the forms of energy that can be harnessed is the energy potential of water, and use the turbine vortex is very useful to maximize the potential. The purpose of this study is to determine the power and efficiency resulting from the broad optimum of the turbine blade reaction flow vortex type of the blade cross-section is straight. This research uses experimental methods, namely by making the turbine vortex type blade section straight that has an area with a height of 19 cm, 20 cm, 21 cm, and a width of 27 cm using a water capacity of 8,069 L/s, 9,413 L/s, 10,803 L/s, and 12,341 L/s. Load variation that is used the increase of 5000 grams to a round shaft on the turbine stops. Testing will be done to get the power and efficiency of the vortex flow. The highest power generated by the turbine with high blade of 19 cm, which occurs on the capacity of 12,341 L/s with a loading 40000 grams, has a power of 44,44 watts. The highest efficiency is produced by the turbine with a height of 19 cm which occurs on the capacity of the 10,803 L/s with a loading 45000 grams, has an efficiency of 53,82 %. From the results of this study, the surface area of the turbine the lower the value of power and efficiency. This is caused by the turbine mass that affects the shaft rotation of the turbine. Keywords:Turbine, Vortex Turbine, Straight-Sided Blades, Blades Height, Blades Width
ANALISA KINERJA MESIN DAN EMISI GAS BUANG SEPEDA MOTOR BERBAHAN BAKAR CAMPURAN BIOETANOL DARI AMPAS TEBU DAN PREMIUM IBNU SHOLEQ, ZABIL; WAYAN SUSILA, I
Jurnal Teknik Mesin Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jumlah kendaraan bermotor yang semakin meningkat mengakibatkan penggunaan bensin semakin banyak. Sejalan dengan itu polusi akibat asap kendaraan bermotor juga meningkat. Hal ini dapat menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan dan kesehatan, selain itu ketersedian minyak bumi sebagai bahan baku pembuatan bensin sangat terbatas di alam. Banyak penelitian dilakukan untuk mencari bahan bakar alternatif yang terbarukan. Salah satunya ialah penggunaan bioetanol sebagai bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan. Bioetanol diperlukan untuk mengurangi dampak negatif dari minyak bumi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja mesin dan emisi gas buang mesin sepeda motor berbahan bakar campuran premium dengan bioetanol dari ampas tebu. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui campuran terbaik premium dengan bioetanol, sehingga dapat dibandingkan dengan kinerja mesin dan emisi gas buang yang berbahan bakar premium murni. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen deskriptif kuantitatif, dimana sepeda motor Honda Supra X 125 tahun 2009 diuji menggunakan campuran premium dengan bioetanol (E0, E5, E10, E15, E20). Pengujian kinerja mesin berpedoman pada standar SAE J1349. Hasil pengujian kinerja mesin terbaik akan di uji emisi gas buang berdasarkan SNI 19-7118.3-2005. Pengujian emisi gas buang mesin yang dilakukan untuk mengetahui kandungan gas O2, CO, CO2, dan HC dari campuran bahan bakar terbaik. Hasil, penelitian ini menunjukan bahwa penggunaan biopremium ampas tebu lebih baik daripada premium murni E0 dilihat dari kinerja mesin maupun emisi gas buang. Kinerja mesin terbaik diperoleh dari bahan bakar E15 ( premium 85% dan bioetanol 15%) dari ampas tebu. Hal ini ditunjukkan oleh perolehan daya efektif terbaik sebesar 7,909 PS pada putaran mesin 7000 rpm, torsi terbaik sebesar 9,120 Nm pada putaran mesin 5500 rpm, konsumsi bahan bakar spesifik terendah sebesar 0,051 kg/PS.jam pada putaran mesin 5500 rpm. Pada pengujian emisi gas buang penggunaan bahan bakar E15 ( premium 85% dan bioetanol 15%) dari ampas tebu dapat mengurangi emisi gas HC, CO, dan O2, dengan gas HC terendah 85 ppm pada 8000 rpm, sedangkan gas CO terendah 2,30% pada 8000 rpm dan gas O2 terendah 3,33% pada 9000 rpm. Serta meningkatkan emisi gas CO2, dengan CO2 tertinggi 11% pada 9000 rpm. Emisi gas HC dan CO yang dihasilkan biopremium ampas tebu masih di bawah ambang batas standar emisi gas buang berdasarkan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 05 tahun 2006. Kata kunci: mesin sepeda motor, kinerja mesin, emisi gas buang mesin, bioetanol, ampas tebu.
PERANCANGAN MESIN PEMECAH TELUR OTOMATIS MENGGUNAKAN METODE REVERSE ENGINEERING BERBASIS MEDIA ONLINE ALI MASUM, AHMAD; PRIJO BUDIJONO, AGUNG
Jurnal Teknik Mesin Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia memiliki aneka ragam produk olahan berbahan baku telur seperti roti, bolen, dan lapis. Bahan baku yang digunakan pembuatan produk makanan tersebut salah satunya adalah telur. Mayoritas industri makanan yang berbahan baku telur di Indonesia masih menggunakan alat tradisional untuk memecahkan telur, misalnya menggunakan sendok, pisau atau alat sejenisnya, sehingga dibutuhkan waktu dan tenaga yang lebih banyak untuk kepentingan tersebut. Industri makanan berbahan baku telur rata-rata membutuhkan telur sebanyak 40 hingga 70 kg/hari, maka diperlukan alat yang mampu memecahkan telur dengan cepat. Namun mesin pemecah telur yang sudah ada harganya relatif mahal dan sulit dalam melakukan perawatan dan perbaikan, sehingga diperlukan penelitian tentang perancangan mesin pemecah telur untuk memenuhi kebutuhan industri domestik. Penelitian ini membahas tentang cara menduplikasi mekanisme mesin pecah telur RZ-1 Ovo Tech menggunakan metode reverse engineering. Tahapan yang dilakukan dalam reverse engineering pertama adalah tahap pencarian informasi dari berbagai macam sumber yaitu lieratur buku, jurnal dan inernet yang berkaitan dengan kegiatan penelitian. Selanjutnya mengidentifkasi mesin meliputi mekanisme gerak mesin, komponen dan fungsinya dari media online. Analisa gerakan pemecahan telur untuk membentuk model baru. Dilanjutkan dengan perancangan dan pemodelan mesin pemecah telur dengan bantuan software Autodesk Inventor 2015 student version. Dibagian paling akhir dilakukan analisa desain berupa interference check dan motion study pada unit mekanisme pemecah telur. Hasil penelitian menunjukkan mekanisme gerak mesin pemecah telur terdiri dari 2 gerakan yaitu mengetuk telur dan membelah telur. Gerakan mekanisme pemecah telur ini dibentuk model baru untuk menghasilkan 2 gerakan tersebut. Model mekanisme ketuk terdiri dari komponen profil pengetuk, poros pengetuk, dan alur pengetuk, sedangkan model mekanisme belah tediri dari komponen alur pembelah. Hasil akir dari perancangan model mekanisme pemecah telur adalah gambar detail spesifkasi setiap komponen unit mekanisme pemecah telur Kata kunci: mesin pemecah telur, reverse engineering.
PERBANDINGAN KARAKTERISTIK POMPA HIDRAM SUSUNAN TUNGGAL DAN GANDA DENGAN JUMLAH DAN TINGGI PIPA OUTLET PRIAMBODO, RIZKY; HERLAMBA SIREGAR, INDRA
Jurnal Teknik Mesin Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Air merupakan salah satu faktor kebutuhan yang sangat penting dan juga diperlukan dalam kehidupan manusia. Kebutuhan air yang sangat banyak juga sangat diperlukan dan dapat menimbulkan permasalahan baru, khususnya bagi masyarakat daerah dataran tinggi yang sulit mendapatkan sumber air atau dengan sumber air yang lebih rendah, sehingga untuk mendapatkannya dibutuhkan usaha yang lebih berat karena harus diangkat melalui jalan yang menurun dan menanjak. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Teknik analisa data dalam penelitian ini menggunakan analisis data statistika deskriptif kuantitatif yaitu menggambarkan hasil penelitian secara grafis dalam tabel dan grafik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh jarak tabung udara dengan katup hantar terhadap kinerja pompa hidram. Pompa hidram yang digunakan dalam penelitian ini berdiameter 5 inch, dengan sudut kemiringan 45º panjang inlet 6 m dan diameter pipa discharge 0,5 inch, menggunakan volume tabung udara 0,0056 m3, variasi susunan pompa tunggal dan ganda dengan jumlah outlet 1, 2, dan 3 serta tinggi outlet 4 m, 5 m, 6 m, dan 7 m . Hasil penelitian ini diperoleh bahwa pada perancangan pompa hidram susunan tunggal dan ganda didapatkan hasil yang paling optimal adalah pada pompa hidram susunan tunggal dengan jumlah pipa outlet 1 pada ketinggian pipa outlet 4 m, volume tabung udara 0,0056 m3. Dengan kapasitas discharge 0,00047 m3/s, dan efisiensi pompa hidram 51,20% sedangkan efisiensi terendah yaitu pada pompa hidram susunan ganda dengan jumlah pipa outlet 3 pada ketinggian pipa outlet 7 m dengan nilai efisiensi sebesar 7,12% dan kapasitas discharge 0,00007 m3/s. Kata Kunci : Pompa Hidram Tunggal, Ganda, Efisiensi.
UJI EKSPERIMEN MODEL TURBIN ANGIN SWIRLING SAVONIUS DENGAN DEFLEKTOR DIAM MENGGUNAKAN TEROWONGAN ANGIN ZULIANTO, MOH.; HERLAMBA SIREGAR, INDRA
Jurnal Teknik Mesin Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia sudah dikenal sebagai negara yang kaya akan sumber daya energi fosil dan energi baru terbarukan, Selama ini energi fosil yang bersifat unrenewable masih sangat di butuhkan bagi kehidupan masyarakat Indonesia sedangkan energi yang bersifat renewable (terbarukan) relatif belum banyak dimanfaatkan. Salah satu sumber daya EBT yang potensial untuk dikembangkan adalah angin, di Indonesia rata-rata kecepatan angin berkisar antara 3m/s-6m/s. turbin angin savonius sumbu vertikal adalah Salah satu alat yang dapat digunakan sebagai energi terbarukan dengan memanfaatkan angin berkecepatan rendah, namun masih mempunyai kelemahan efisiensi yang rendah di bandingkan turbin lainya. Penelitian dilakukan dengan menguji model turbin angin tipe- Swirling Savonius dengan penambahan deflektor diam, adapun variasi bebas penelitian ini adalah jumlah bilah deflektor yaitu 4, 8, 12, 16 sudu dengan sudut 45º, Pengujian ini dilakuakan pada kondisi angin buatan. Uji eksperimen ini untuk menggetahui efisiensi penambahan Deflektor terhadap kinerja turbin angin Swirling Savonius 1 tingkat 2 blade. Hasil penelitian memaparkan bahwa jumlah sudu 12 adalah jumlah sudu yang menghasilkan kinerja yang terbaik dengan daya sebesar 2,724 Watt dan nilai efisiensi sebesar 24,960% pada kecepatan angin 6 m/s. Kata kunci: Energi angin, sumbu vertikal, turbin angin Swirling Savonius, Deflektor. Indonesia has been known as a country that is rich in fossil energy resources and new renewable energy. So far, unrenewable fossil energy is still very much needed for the life of the Indonesian people while renewable energy is relatively underutilized. One potential EBT resource to be developed is wind, in Indonesia, the average wind speed ranges from 3m / s-6m / s. Savonius vertical axis wind turbine is one of the tools that can be used as renewable energy by utilizing low-speed wind but still has a low-efficiency disadvantage compared to other turbines. The research was conducted by testing the Savonius Swirling-type wind turbine model with the addition of a silent deflector, while the free variation of this study was the number of deflector blades which were 4, 8, 12, 16 blades with an angle of 45º, this test was carried out under artificial wind conditions. This experimental test is to find out the efficiency of adding Deflector to the performance of a level 2 blade Swirling Savonius wind turbine. The results of the study explained that the number of blades 12 is the number of blades that produce the best performance with a power of 2.724 Watts and an efficiency value of 24.960% at a wind speed of 6 m / s. Keywords: Wind energy, vertical axis, Swirling Savonius wind turbine, Deflector.
PENGARUH QUENCHING-TEMPERING TERHADAP SIFAT MEKANIK DAN STRUKTUR MIKRO HASIL LAS FRICTION PADA WELDING REPAIR REAR AXLE SHAFT MEDIUM CARBON STEEL PRATAMA SIDIQ, RISQY; HAFIZH AINUR RASYID, AKHMAD
Jurnal Teknik Mesin Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kegagalan patah, banyak dijumpai pada poros roda belakang truk. Hal ini disebabkan oleh kualitas jalan dan regulasi yang mengaturnya. Keggalan ini berimplikasi terhadap meningkatnya jumlah limbah poros roda belakang truk. Prinsip pengelolaan limbah, repair memungkinkan penggunaan kembali limbah poros roda belakang dengan perbaikan dan perlakuan pada limbah. Proses penyambungan pada limbah poros menggunakan pengelasan gesek, menyebabkan perbedaan struktur mikro dan nilai kekerasan pada logam paduan hasil pengelasan. Melihat fenomena di atas peneliti ingin mengetahui pengaruh perlakuan panas quenching ? tempering terhadap kekuatan tarik, kekerasan dan struktur mikro pada poros hasil repair, dan untuk mengetahui perbedaan nilai sifat mekanik rear axle shaft repair dengan rear axle genuine 7.5 ton. Metode penelitian ini menggunakan metode eksperimen dan teknik analisis data one way anova. Hasil penelitian menunjukkan quenching-tempering berpengaruh secara signifikan, pada kekuatan tarik, kekerasan dan struktur mikro poros hasil repair pengelasan gesek. Spesifikasi mekanik repair rear axle shaft mempunyai nilai kuat tarik melebihi spesifikasi mekanik rear axle shaft genuine 7.5 ton, tetapi nilai kekerasan dan elongasi masih dibawah rear axle shaft genuine 7.5 ton. Kata kunci: poros roda belakang, quenching-tempering, perbaikan, pengelasan gesek Abstract Failure is broken, often found on the rear axle of the truck. This is caused by the quality of the road and the regulations that it stipulates. This failure has implications for the amount of truck rear axle waste. The principle of waste management, repair allows reuse of the rear axle with repair and maintenance on waste. The connection process on shaft flow uses friction welding, causing differences in the microstructure and the value of the opposition to the welded alloy metal. Seeing the above phenomenon the researcher wants to find out how to improve quenching - tempering heat against tensile strength, hardness and microstructure on the improved shaft, and to find out the difference in mechanical properties of the rear axle repair with the original 7.5 ton rear axle. This research method uses one way ANOVA research methods and data analysis techniques. The results showed that quenching-tempering had a significant effect on the tensile strength, hardness, and microstructure of the shaft resulting in improved friction welding. Mechanical specifications for rear axle improvement have tensile strength values ??exceeding the original 7.5 tons rear axle mechanical specifications, but the point of hardness and elongation are still below the original 7.5 tons rear axle. Keywords: rear axle shaft, quenching-tempering, repair, friction welding

Page 2 of 2 | Total Record : 20