cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Swara Bhumi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 02 (2017):" : 12 Documents clear
STRATEGI PENGEMBANGAN OBJEK WISATA GUNUNG BERUK SEBAGAI WISATA BERBASIS MASYARAKAT DI DESA KARANGPATIHAN KECAMATAN BALONG KABUPATEN PONOROGO Kusuma Wardani, Intan
Swara Bhumi Vol 5, No 02 (2017):
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Gunung Beruk di Desa Karangpatihan merupakan salah satu obyek wisata alam di Kabupaten Ponorogo.Obyek wisata Gunung Beruk dikelola oleh masyarakat desa Karangpatihan, sehingga pengembangan obyek wisata, kurang berjalan baik.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat potensi obyek wisata Gunung Beruk, sikap, dukungan dan sumber daya manusia mendukung pengembangan obyek wisata, dan strategi yang sesuai untuk pengembangan obyek wisata Gunung Beruk. Jenis penelitian ini adalah penelitian survey menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif.Populasi penelitian ini adalah masyarakat Desa Karangpatihan, di peroleh sampel sebanyak 100 orang responden diambil secara purposive sampling.Data penelitian berupa tingkat potensi, sikap, dukungan masyarakat dan sumber daya manusia dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dokumentasi serta dianalisis menggunakan teknik skoring dan analisis Strength, Weakness, Opportunity, Threat (SWOT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa obyek wisata Gunung Beruk tergolong sangat potensial untuk dikembangkan.Sikap masyarakat mendukung pengembangan obyek wisata dari pemahaman, partisipasi tergolong tinggi, dukungan masyarakat tergolong tinggi, pengetahuan masyarakat tergolong rendah, disesbabkan sumber daya manusia dibidang pariwisata tergolong sangat rendah. Berdasarkan analisis SWOT obyek wisata Gunung Beruk, sehingga model strategi yang digunakan adalah Grow and Build yaitu penambahan produk wisata baru di kawasan wisata. Strategi pengembangan objek wisata Gunung Beruk berdasarkan matriks analisis SWOT antara lain menambah kegiatan wisata baru, melakukan kegiatan promosi di sosial media, menambah sarana fasilitas, mempermudah aksesibilitas, memberi pelatihan di bidang pariwisata kepada masyarakat di Desa Karangpatihan, memberi bantuan berupa ketrampilan pada pengelola objek wisata Gunung Beruk, menyediakan transportasi umum menuju ke objek wisata Gunung Beruk, membuat proposal bantuan kepada pemerintah, meningkatkan sumber daya manusia. Kata Kunci: Pengembangan, Masyarakat, SWOT   Abstract Beruk Mountain became one of pine forests tourism in  Ponorogo subdistrict. Since two years ago the management by local villagers to develop beruk mountain is not running well. This study aims to determine the level of potential attractions, attitude, support and human resources in supporting the development of Mountain Beruk tourism, and determine the appropriate strategy in the development of Beruk Mountain tourism This study was survey research with descriptive quantitative approach. The population was people of Karangpatihan Village, 100 respondents were selected as sample using purposive sampling. The data were collected through observation, interview, documentation and analyzed using scoring techniques and analysis of Strength, Weakness, Opportunity, Threat (SWOT). The result of the research shows that Mountain Beruk tourism  is very potential to be developed. The attitude of the community in supporting the development of Mountain Beruk tourism was  the understanding, in which the participation  was high, the community support was  high, the knowledge of the community was low caused the low  human resources. Based on the Strength, Weakness ,Opportunity, Threat (SWOT) analysis, the strategy to grow and build other tourism product made Mountain Beruk tourism more attractive. The strategy for the development of Beruk Montain tourism based on Strength, Weakness, Opportunity, Threat (SWOT) matrix is ??to accommodate tourism activities, improve access road to the location of tourism, develop facilities, develop tourism potential with development based on environmental impact, cooperate with government to provide tourism skills training. Improve human resources and widen access roads. Keywords: Development, Society, SWOT     
STRATEGI PEMENUHAN KONSUMSI RUMAH TANGGA MASYARAKAT MISKIN DI DESA TRITIK KECAMATAN REJOSO KABUPATEN NGANJUK Krisdianti, Wiwin
Swara Bhumi Vol 5, No 02 (2017):
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

  Abstrak Kondisi dan aksesibilitas yang sulit merupakan faktor kemiskinan pedesaan yang terletak di tepian hutan Pegunugan Kendeng yang membuat masyarakat miskin melakukan berbagai strategi dengan memanfaatan modal atau aset penghidupan yang meliputi modal manusia, modal alam, modal sosial, modal fisik dan modal keuangan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kondisi karakteristik sosial ekonomi masyarakat miskin di Desa Tritik dan menganalisis strategi pemenuhan konsumsi rumah tangga masyarakat miskin di Desa Tritik. Jenis penelitian menggunakan paradigma kuantitatif dengan analisis deskriptif, 46 Kepala Keluarga (KK) dipilih sebagai sampel dari 228 KK menggunakan insidental sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara dan kuesioner. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata jumlah anggota rumah tangga miskin sebanyak 3 anggota. Hubungan sosial masyarakat miskin tidak pernah begadang di warung/pos ronda/persimpangan namun selalu menghadiri kegiatan hajatan, kematian, khitanan, pertemuan warga, gotong royong, tetapi ada sebagian yang tidak pernah hadir dalam kegiatan keagamaan. Status sosial masyarakat miskin masih menghormati terhadap priyayi atau pejabat desa, kiai atau ustad, orang yang lebih tua, orang kaya dan kerabat. Sebagian masyarakat miskin tidak mampu membayar biaya sekolah dan selalu membawa anggota keluarga yang sakit ke puskesmas atau layanan kesehatan desa. Rata-rata berpenghasilan pokok 868.500 rupiah per-bulan. Rata-rata pengeluaran untuk pangan 496.300 rupiah per-bulan. Pengeluaran non pangan rata-rata 460.900 rupiah per-bulan. Konsumsi beras per-hari rata-rata 0,8 kg dan mayoritas tidak meiliki lahan pertanian serta hanya membeli 1 stel pakaian dalam satu tahun. Strategi pemenuhan konsumsi lebih dominan  memanfaatkan modal alam dengan cara menggarap lahan perhutani. Strategi pemenuhan konsumsi rumah tangga masyarakat miskin dengan memanfaatkan modal sosial yaitu meminjam uang kepada saudara/tetangga/teman lebih dari 2 kali dalam satu bulan. Pemanfaatan modal fisik yaitu status kepemilikan rumah masyarakat miskin adalah rumah sendiri. Modal manusia kurang dimanfaatkan karena secara usia yang cukup tua, berpendidikan rendah, keterampilan yang terbatas. Masyarakat miskin kurang memanfaatkan modal keuangan karena tidak memiliki pendapatan tambahan dan tabungan. Kata Kunci : Strategi, Konsumsi Rumah Tangga, Kemiskinan, Modal Penghidupan   Abstract The difficult conditions and accessibility ware factor of rural poverty in forest edge of Kendeng Mountain that made people prepare various strategies to survive through utilizing capital or livelihood assets such as ;human capital, natural capital, social capital, physical capital and financial capital. The purpose of this study were to 1) know the condition of socio-economic characteristics of the poor communities in Tritik village and 2) analyze the strategy to fulfill the household consumption of poor communities in Tritik village. This type of study  used a quantitative method with descriptive analysis, 46 households were selected as sample from 228 househods using incidental sampling. Data collection techniques used interview techniques and questionnaires. Data were analyzed using descriptive analysis technique. The results showed that an average number of poor family were three members. Refering to social relations, most of the poor have never stayed up at a stall or a patrol post or intersection, but always attended  celebration, death, circumcision, community meetings, mutual help. However, there were some who never attended religious activities. The poor social status still respected gentry or village officials, kiai or cleric, older people, the rich and relatives. Some poor people can not afford the school fees and the family members who are sick  were brought to  health centers or rural health services. On average income of poor people in  Tritik Village is 868,500 rupiah each month. Average expenditures for food was  496,300 rupiah per month. The average non-food expenditure of the poor was 460,900 rupiah per month. Rice consumption per day averagely was 0.8 kg and  most of them did not own farmland and were able to only buy 1 set of clothing in one year. The poor people more dominantly prefered to utilize  natural capital by working on the land of Perhutani to fulfill their daily consumption. Borrow money from relatives/neighbors/friends more than twice in one month for their household capital. Besides both natural capital and social capital, the other strategy is to utilize physical capital, namely the status of home ownership. However, human capital was not able to mazimize because of their old age, low education, limited skills. In addition, they caould not afford for financial capital because it has no additional income and savings. Keywords : Strategy, Household Consumption, Poverty, Capital Livelihoods
STUDI HIDROKIMIA AIR TANAH DANGKAL DI KECAMATAN WIDANG KABUPATEN TUBAN Ratna Juwita, Intan
Swara Bhumi Vol 5, No 02 (2017):
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Air merupakan salah satu komponen yang sangat penting bagi kehidupan di bumi. Air dan kesehatan merupakan dua hal yang saling berhubungan. Air tanah yang digunakan masyarakat untuk keperluan rumah tangga harus memenuhi syarat yang ditentukan agar tidak mengganggu kesehatan masyarakat. Penduduk di Kecamatan Widang banyak menggunakan air tanah dangkal untuk memenuhi kebutuhan air untuk rumah tangga. Penduduk banyak mengeluhkan bahwa air tanah yang ada di Kecamatan Widang warnanya keruh dan rasanya asin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) Karakteristik hidrokimia berdasarkan TDS (Total Dissolved Solids), kekeruhan, suhu, pH, COD (Chemical Oksigen Demand) air tanah dangkal di Kecamatan Widang Kabupaten Tuban; 2) Penyebab kondisi air tanah yang ada di Kecamatan Widang Kabupaten Tuban berasa asin; 3) Persebaran air tanah yang berasa asin dilihat dari kondisi geologi dan geomorfologi Kecamatan Widang Kabupaten Tuban.                 Penelitian ini merupakan jenis penelitian survey. Populasi penelitian ini adalah seluruh air tanah dangkal di Kecamatan Widang Kabupaten Tuban sedangkan sampel penelitiannya sebanyak 5 sampel yang di uji di laboratorium. Sampel tersebut diambil dengan menggunakan teknik Stratified Sampling dibagi berdasarkan segmen nilai daya hantar listrik pada lokasi penelitian tersebut. Data diambil melalui teknik observasi, dokumentasi, pengukuran dan uji laboratorium. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan metode analisis deskriptif komparatif dan deskriptif kuantitatif.                 Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas air tanah dangkal di Kecamatan Widang Kabupaten Tuban, tidak sesuai dengan standar kualitas air bersih menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 416/MENKES/PER/IX/1990. Penyebab kondisi air tanah berasa asin, berdasarkan perhitungan menggunakan rumus Chlorida bicarbonat ratio menurut teori Revelle menunjukkan bahwa penyebab keasinan air tanah disebabkan oleh adanya pelarutan mineral – mineral garam yang terdapat pada batuan akuifer dan adanya penyusupan air laut. Persebaran air tanah yang berasa asin tidak berkumpul atau mengelompok pada suatu wilayah melainkan tersebar pada wilayah-wilayah di Kecamatan Widang.. Kondisi Geologi dan  Geomorfologi yang ada di Kecamatan Widang Kabupaten Tuban secara keseluruhan sama yaitu untuk Geologinya yaitu Alluvium (Holosene) dan Kondisi Geomorfologinya yaitu Dataran Aluvial. Kata Kunci :  Studi, Hidrokimia, Air Tanah Dangkal
FAKTOR – FAKTOR PENYEBAB PERBEDAAN WANITA NIKAH USIA DINI DI DESA JEDONG DAN DESA KUNJOROWESI KECAMATAN NGORO KABUPATEN MOJOKERTO NADIA, CHINDY
Swara Bhumi Vol 5, No 02 (2017):
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PENGARUH BAHAN BAKU, TENAGA KERJA DAN PEMASARAN TERHADAP EKSISTENSI INDUSTRI SONGKOK DI KECAMATAN GRESIK KABUPATEN GRESIK Zulaichah, Ummu
Swara Bhumi Vol 5, No 02 (2017):
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Gresik merupakan kota pesisir yang terletak di sebelah utara Provinsi Jawa Timur yang dikenal dengan masyarakatnya yang kental akan agama Islam. Letak geografis yang strategis, dapat mendukung keberadaan industri songkok di Kabupaten Gresik. Keberadaan industri songkok di Kabupaten Gresik tersebar di beberapa kecamatan yang berpusat di Kecamatan Gresik. Fenomena ini menyebabkan banyak permasalahan fundamental bermunculan seperti yang dinyatakan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Gresik bahwa industri songkok kecil dan rumah tangga, banyak yang gulung tikar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adakah pengaruh bahan baku, tenaga kerja dan pemasaran terhadap eksistensi industri songkok. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian survey yang dilaksanakan pada 51 pengrajin songkok di Kecamatan Gresik, Kabupaten Gresik. Alat instrumen yang digunakan adalah angket. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode statistik kuantitatif melalui teknik analisis regresi linier berganda dan pengujian hipotesis menggunakan uji-t untuk mengetahui pengaruh secara parsial dan uji-F untuk mengetahui pengaruh secara simultan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persamaan regresi linier dalam penelitian ini adalah Y= 0,904+0,466X1+0,382X2+0,301X3. Bahan baku, tenaga kerja dan pemasaran secara positif dan signifikan berpengaruh secara simultan terhadap eksistensi industri songkok yang memiliki nilai F hitung>F tabel (7,051>3,187). Variabel bahan baku berpengaruh terhadap eksistensi industri songkok yang memiliki nilai t hitung> t tabel (3,168>2,010). Variabel tenaga kerja berpengaruh terhadap eksistensi industri songkok yang memiliki nilai t hitung> t tabel (2,724>2,010). Variabel pemasaran berpengaruh terhadap eksistensi industri songkok yang memiliki nilai t hitung> t tabel (2,032>2,010). Kata Kunci : Bahan Baku, Tenaga Kerja, Pemasaran, Eksistensi, Industri Songkok
KAJIAN AGLOMERASI INDUSTRI LOGAM DI DESA NGINGAS KECAMATAN WARU KABUPATEN SIDOARJO SULIS ANDRE A, MOH
Swara Bhumi Vol 5, No 02 (2017):
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Desa Ngingas Kecamatan Waru Kabupaten Sidoarjo merupakan suatu sentra industri yang memproduksi berbagai jenis logam. Lokasi berdirinya industri logam yang ada di Desa Ngingas ini bersifat mengelompok (aglomerasi). Adanya aglomerasi industri logam ini menimbulkan berbagai permasalahan. Salah satunya adalah persaingan yang tidak sehat, meskipun demikian dalam perkembangan industri logam ini, pengrajin sampai sekarang tetap mempertahankan produksinya guna membangun kualitas industri logam di Desa Ngingas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya pasar, biaya transportasi, dan increasing return dari perusahaan terkait dengan aglomerasi industri logam di Desa Ngingas Kecamatan Waru Kabupaten Sidoarjo. Jenis penelitian ini adalah penelitian survei. Sampel yang digunakan adalah sebanyak 54 pengrajin dari total populasi sebanyak 115 pengrajin. Teknik pengambilan data menggunakan wawancara dengan kuesioner dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pemasaran yang paling banyak digunakan oleh para pengrajin adalah lewat pengepul. Omset produk terbanyak adalah peralatan pertanian dan komponen kompor gas yang mencapai >6.000 unit/bulan. Desa Ngingas pemasarannya sudah luas baik dalam lingkup lokal, regional, nasional, bahkan internasional. Lokalisasi industri yang berdekatan membawa keuntungan yang dapat menekan biaya transportasi. Bahan baku didapatkan dari luar daerah Sidoarjo seperti Surabaya, Pasuruan, Malang, Tulungagung, Ponorogo, Semarang, dan Yogyakarta. Biaya transportasi dari lokasi bahan baku ke lokasi industri sebesar ± Rp 140.000,00. Biaya transportasi pemasaran ditanggung oleh konsumen. Asal modal dari tabungan sendiri dengan jumlah modal awal yang digunakan paling banyak antara Rp 16.000.000,00 - Rp 20.000.000,00. Jumlah pendapatan bersih dalam industri ini adalah paling banyak antara Rp 6.000.000,00-Rp 8.000.000,00. Jumlah ini sudah bersih dari gaji tenaga kerja, biaya transportasi, biaya bahan baku dan lain-lain. Pendapatan bersih sebesar itu membuat para pengrajin mampu dan menekan hutang secara besar dan melakukan perputaran modal dengan baik. Kata Kunci : Aglomerasi, Industri Logam
ANALISIS POLA USAHA TAMBAK GARAM TERHADAP PENDAPATAN PETANI GARAM DI KECAMATAN PAKAL KOTA SURABAYA ESTIMEWA, MAWA
Swara Bhumi Vol 5, No 02 (2017):
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak  Kecamatan Pakal merupakan salah satu dari 31 Kecamatan dan menjadi salah satu penyumbang produksi garam terbesar setelah Kecamatan Benowo. Kecamatan Pakal memiliki potensi untuk membuka usaha pembuatan garam dan memberi kesempatan bekerja sebagai petani garam. Sebagian besar petani berasal dari Madura dan bukan berasal dari penduduk setampat, karena mereka tidak tertarik untuk bekerja di area tambak garam. Penelitian ini didasarkan pada pola budidaya garam yang berbeda namun bertujuan untuk mengetahui apakah pola usaha petani garam berpengaruh terhadap pendapatan petani. Penelitian ini menggunakan metode survei, 37 sampel yang dipilih berasal dari 112 populasi dengan menggunakan teknik samling random sampling. Data dikumpulkan dengan cara wawancara secara terstruktur dan dokumentasi di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani garam didominasi oleh penduduk non lokal dengan sistem usaha bagi hasil. Teknik pengolahan lahan yang diterapkan di Kecamatan Pakal, didominasi oleh penerapan teknik secara tradisional. Diperoleh dari hasil analisis model persamaan regresi, bahwa biaya sewa lahan dan perlengkapan lahan memiliki pengaruh positif terhadap pendapatan petani garam. Terdapat proporsi pengaruh yang kuat terhadap pendapatan hingga mencapai prosentase sebesar 98,3%.   Kata kunci: petani garam, pendapatan, pola usaha tambak garam
KAJIAN ALIH PEKERJAAN MASYARAKAT DESA DARI PETANI MENJADI BURUH INDUSTRI SEMEN INDONESIA DI KABUPATEN TUBAN JAWA TIMUR HUSNAH, WATIUL
Swara Bhumi Vol 5, No 02 (2017):
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberadaan industri Semen Indonesia di Kabupaten Tuban Jawa Timur telah mengubah keadaan sosial, ekonomi dan budaya masyarakat melalui perubahan kepemilikan lahan. Penelitian yang dilakukan memiliki tujuan untuk mengetahui karakteristik sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat setelah adanya perubahan kepemilikan lahan yang dialami masyarakat serta bagaimana orientasi masyarakat terhadap lahan yang ditinggalkan. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode penelitian kuantitatif deskriptif.  Hasil penelitian menunjukkan masyarakat yang beralih pekerjaan dari petani menjadi buruh industri yang ada di Ring I, Ring II, dan Ring III tersebut telah mengalami perubahan sosial sebagai akibat dari perubahan kepemilikan lahan yang memunculkan kebudayaan konsumtif sebagai kebudayaan baru terutama di Ring II. Budaya konsumtif masyarakat akan berdampak pada kemiskinan yang tinggi saat industri yang menjadi mata pencaharian utama saat ini sudah tidak beroperasi, sedangkan perilaku konsumtif tersebut telah melekat pada diri masyarakat. Masyarakat tersebut menjual hewan ternak dan bekerja di industri Semen Indonesia untuk mencukupi kekurangan akan kebutuhan. Orientasi masyarakat terhadap lahan yang ditinggalkan secara sosial dan budaya lahan masih mendukung berbagai kegiatan sosial budaya yang menjadi karakteristik masyarakat petani desa, akan tetapi secara ekonomi lahan pertanian kurang mendukung dalam menyumbang pendapatan keluarga. Ketidakpuasan masyarakat terhadap hasil pertanian terjadi karena keadaan sosial yang telah mengalami perubahan sehingga mempengaruhi perekonomian keluarga yang memunculkan kebudayaan baru masyarakat sehingga kebutuhan masyarakat meningkat, sedangkan pendapatan dari pertanian tetap. Terjadinya ketimpangan antara kenyataan yang dihadapi dengan kepercayaannya terhadap pertanian yang mampu menjaga budaya dan juga kerukunan masyarakat dapat menjadikan perubahan sikap masyarakat terhadap pertanian. Perubahan sikap yang terjadi tersebut didorong dengan adanya suatu pilihan yang dianggap menguntungkan yaitu peluang kerja di industri Semen Indonesia, akhirnya masyarakat akan lebih  mudah merubah sikap perilaku untuk beralih pekerjaan Azwar (2000 : 46).   Kata Kunci: sosisl, ekonomi, budaya, orientasi, lahan pertanian
FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB EKSISTENSI PEDAGANG PASAR PAHING KOTA BLITAR PASCA RELOKASI (STUDI KASUS TENTANG PEDAGANG PASAR PAHING KOTA BLITAR) CAHYANI, CHRISTINA
Swara Bhumi Vol 5, No 02 (2017):
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kebijakan relokasi Pasar Pahing dari Kelurahan Pakunden ke Kelurahan Tanjungsari pada tahun 2011 diharapkan dapat membantu masyarakat sekitar dalam pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari, namun banyak pedagang yang meninggalkan kios mereka beberapa bulan setelah relokasi karena sepinya pembeli. Kenyataannya di Pasar Pahing masih terdapat beberapa pedagang yang tetap bertahan dan menjaga eksistensinya sebagai pedagang di Pasar Pahing. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk mengetahui faktor -faktor penyebab eksistensi pedagang pasar pahing kota blitar pasca relokasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan faktor-faktor penyebab eksistensi pedagang pasar pahing Kota Blitar pasca relokasi. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode studi kasus. Subyek dalam penelitian adalah pedagang yang masih tetap bertahan di Pasar Pahing. Teknik pengambilan data dilakukan dengan observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan, sedangkan untuk keabsahan data menggunakan uji kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas dan konfirmabilitas. Hasil dari penelitian ini disimpulkan bahwa faktor-faktor penyebab eksistensi pedagang Pasar Pahing Kota Blitar pasca relokasi adalah faktor sosial pedagang, faktor ekonomi pedagang dan faktor jarak tempat tinggal pedagang. Faktor sosial pedagang meliputi keinginan pedagang untuk meramaikan kembali Pasar Pahing dan keahlian dalam berdagang yang menjadi modal proses adaptasi pedagang pasca relokasi di lingkungan pasar yang baru. Faktor ekonomi pedagang yang menjadi penyebab eksistensi pedagang Pasar Pahing antara lain tidak adanya modal yang dimiliki pedagang untuk membeli atau menyewa tempat lain, tarif retribusi pasar yang murah, serta kondisi pasar yang sepi tidak mempengaruhi pendapatan beberapa pedagang Pasar Pahing. Faktor lain yang menjadi penyebab eksistensi pedagang Pasar Pahing adalah jarak tempat tinggal pedagang yang dekat dengan Pasar Pahing dikarenakan sebagian besar pedagang merupakan warga sekitar pasar.   Kata Kunci: Eksistensi, Pedagang Pasar, Relokasi, Pasar Tradisional   Abstract The relocation of Pahing Market from Pakunden to Tanjungsari Village in 2011 was expected to fulfill people’s daily needs. But, a number of traders left their kiosk because lack of buyers. In fact, there are still some traders who survive and maintain their existence as a trader in Pahing Market. Therefore, the researcher is interested to know the factors causing the existence of traders in Pahing Market after relocation. The purpose of this study is to describe the factors causing the existence of traders in Pahing Market after relocation. The type of this study used  case study method. Subjects in the study were traders who still survive in Pahing Market. Data were collected using observation, depth interview, and documentation. Data were analyzed using some stages such as; data collection, data reduction, data presentation and conclusions. the test of credibility, transferability, dependability and confirmability was used to validate the data. The results of this study concluded that the factors causing the existence of Pahing Market traders after relocation were a social factors, economic and the distance. Social factors referred to the desire of traders to re-enliven Pahing Market and trader’s trading expertise that became the capital of their adaptation process in the new market environment. Economic factors referred to the lack of capital owned by traders to buy or rent other new places, while cheap retribution,  and quiet market conditions did  not affect the income of some traders. Another factor was distance of traders residence that was close to Pahing Market because most of the traders were living around the market.   Keywords:  Existence, Market Traders, Relocation, Traditional Market
PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA PESERTADIDIK (LKPD) BERBASIS GUIDED NOTE TAKING PADA KOMPETENSI DASAR INTERAKSI MANUSIA DAN LINGKUNGAN DALAM DINAMIKA HIDROSFER UNTUK SMA KELAS X WULANDARI O, DWI
Swara Bhumi Vol 5, No 02 (2017):
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) merupakan salah satu media pembelajaran. LKPD Geografi yang digunakan di sekolah masih banyak menunjukkan ketidaksesuaian dengan kriteria LKPD sesuai kurikulum 2013, maka diperlukan alternatif pemecahan masalah dengan mengembangkan LKPD berbasis Guided Note Taking.Tujuan penelitian ini adalah untuk menyusun kelayakan LKPD yang dikembangkan, menguji efektivitas LKPD berbasis Guined Note Taking, respon peserta didik, dan aktivitas guru pada saat pembelajaran dengan LKPD berbasis Guided Note Taking. Jenis penelitian merupakan penelitian pengembangan model 4-D dengan tahapannya yaitu, pendefinisian (define), perancangan (design),  pengembangan (develop), dan penyebaran (disseminate), yang dibatasi hanya sampai pada tahap pengembangan (develop). Uji coba dilakukan pada 39 orang pesertadidik kelas X di SMA 17 Agustus 1945 Surabaya. Berdasarkan hasil telaah dan validasi oleh ahli media dan materi, diketahui bahwa LKPD berbasis Guided Note Taking dikategorikan layak berdasarkan kriteria kebahasaan sebesar 92,5%, kriteria penyajian sebesar 91,7%, kriteria kesesuaian dengan komponen Guided Note Taking sebesar 100%, dan kriteria materi/isi sebesar 75%. Respon peserta didik terhadap LKPD berbasis Guided Note Taking berdasarkan kriteria materi sebesar 97,64%, kriteria kebahasaan sebesar 98,07%, kriteria penyajian sebesar 98,16%, dan kriteria penilaian Guided Note Taking sebesar 99,35%. Hasil belajar  peserta didik setelah melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan LKPD berbasis Guided Note Taking mengalami peningkatan, yaitu dari 51,8 menjadi 83,2. Hasil penilaian aktivitas guru pada kelas eksperimen berturut-turut selama 6 pertemuan adalah 70,6%, 72,3%, 75,6%, 77,2%, 81%, dan 83%. Pada kelas kontrol, hasil penilaian aktivitas guru selama 6 pertemuan berturut-turut adalah 71,2%, 72,8%, 74,6%, 73,6%, 74,2%, dan 76,2%. Kata Kunci: LKPD, Guided Note Taking, Hasil Belajar, Respon Peserta Didik, Aktivitas Guru.

Page 1 of 2 | Total Record : 12