cover
Contact Name
Hastiah, S.Kep.,Ns., M.Kes
Contact Email
cru@rsmatamakassar.co.id
Phone
+6281241117899
Journal Mail Official
cru@rsmatamakassar.co.id
Editorial Address
Jl. Lingkar Barat Tallasa City, Kel. Kapasa Kec. Tamalanrea Makassar
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Journal of Ophthalmology
Published by RS Mata Makassar
ISSN : -     EISSN : 3089204X     DOI : https://doi.org/10.63670/mata.v1i1
Core Subject :
RS Mata Makassar: Journal of Ophthalmology is a scientific journal published by RS Mata Makassar and accepts articles written in both English and Indonesian expected becoming a media conveying scientific inventions and innovations in medical or health allied fields toward practitioners and academicians. Normally published times a year in (July, December) using a peer review system for article selection. Papers dealing with results of in the form of case report, systematic review, and clinical research related to visual science for ophthalmologists, eye nurses and medical support in other fields of Ophthalmology. To submit an article, go to Online Submissions. New authors (first time in this journal) intending to submit articles for publication may contact the editor for free registration. If authors have any difficulty using the online submission system, please kindly contact the editor via this email: cru@rsmatamakassar.co.id RS Mata Makassar: Journal of Ophthalmology is regarding medical/health allied aspects which is clinical-based particularly hospital.
Arjuna Subject : -
Articles 26 Documents
Karakteristik Jenis-Jenis Glaukoma (Primary Open-Angle, Primary Closed-Angle, Congenital, dan Drug Induced) pada Pasien di RS Mata Makassar Tahun 2024 A. Muh. Khawaiz Khawarizmi Qyus Putra; Ariyanie Nurtania
RS Mata Makassar: Journal of Ophthalmology Vol. 3 No. 1 (2026): Journal of Ophthalmology
Publisher : RS Mata Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63670/mata.v3i1.45

Abstract

Pendahuluan: Glaukoma merupakan penyebab kebutaan ireversibel kedua di dunia dan memiliki karakteristik klinis yang beragam. Data epidemiologi lokal yang komprehensif masih terbatas, khususnya terkait distribusi jenis dan profil tekanan intraokular (TIO). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik jenis-jenis glaukoma serta mengidentifikasi tipe yang paling dominan pada pasien di Kota Makassar tahun 2024. Metode: Penelitian deskriptif retrospektif dengan teknik total sampling dilakukan terhadap 250 rekam medis pasien glaukoma di beberapa rumah sakit di Kota Makassar periode 1 Januari–31 Desember 2024. Data dianalisis secara univariat meliputi usia, jenis kelamin, jenis glaukoma, tekanan intraokular, dan visus. Hasil: Mayoritas pasien berjenis kelamin perempuan (56,0%) dan berusia 20–59 tahun (50,0%). Primary Open-Angle Glaucoma (POAG) merupakan tipe terbanyak (60,4%), diikuti Primary Angle-Closure Glaucoma (38,4%). Sebagian besar pasien memiliki TIO normal pada kedua mata (>60%). Gangguan penglihatan derajat sedang hingga kebutaan ditemukan pada proporsi yang tinggi. Kesimpulan: POAG merupakan jenis glaukoma paling dominan di Kota Makassar tahun 2024. Tingginya proporsi TIO normal menegaskan bahwa diagnosis glaukoma tidak dapat bergantung pada tonometri saja, sehingga diperlukan pendekatan pemeriksaan komprehensif untuk mencegah kebutaan permanen.
Hubungan Antara Kemampuan Kerja Dengan Kualitas Pelayanan Pada Tenaga Kesehatan di RS Mata Kemenkes Makassar Siti Rahmawati; Syahruddin; Meliana Handayani; Purnamanita Syawal
RS Mata Makassar: Journal of Ophthalmology Vol. 3 No. 1 (2026): Journal of Ophthalmology
Publisher : RS Mata Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63670/mata.v3i1.46

Abstract

Work ability of health workers is one of the factors that plays an important role in improving service quality in hospitals. Work ability includes knowledge, skills, and experience in performing health services. This study aimed to determine the relationship between work ability of health workers and service quality at the Eye Hospital of the Ministry of Health Makassar. This research used a quantitative method with a cross-sectional design. Data were collected using questionnaires, while data analysis was conducted using the Spearman correlation test. The results showed that there was a significant relationship between work ability of health workers and service quality (r = 0,663; p < 0,001). The correlation was positive with a strong level of strength, indicating that better work ability of health workers tends to be associated with higher service quality. Therefore, improving work ability through training and competency development is necessary as an effort to enhance service quality in hospitals.
Hubungan Panjang Aksial Bola Mata Dengan Derajat Miopia di Rumah Sakit Mata Makassar Tahun 2023-2024 Achmad Giffary; Andi Sengngeng Relle; Nursapriani
RS Mata Makassar: Journal of Ophthalmology Vol. 3 No. 1 (2026): Journal of Ophthalmology
Publisher : RS Mata Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63670/mata.v3i1.47

Abstract

Background: Myopia is a refractive error where light falls in front of the retina, one of which is caused by an increase in axial length of the eyeball. Every 1 mm increase in axial length can increase refraction by 2.00 to 3.00 diopters. Objective: This study aims to determine the relationship between axial length of the eyeball and the degree of myopia based on age and gender in patients at Makassar Eye Hospital in 2023-2024. Methods: This study used an analytic observational design with a prospective cohort approach. The sample consisted of 203 patients (406 eyes) with myopia who met the inclusion and exclusion criteria, selected by purposive sampling. Secondary data was obtained from medical records of Biometric A- scan examination results. Data analysis was performed univariately and bivariately using T- sample test. Results: There was a significant relationship between axial length of the eyeball and age, gender, and degree of myopia (p<0.05). The mean axial length in mild myopia was 24.12 mm, moderate myopia 25.02 mm, and high myopia 27.06 mm. Males had a greater axial length (25.29 mm) compared to females (24.81 mm). Conclusion: Axial length of the eyeball plays an important role in determining the degree of myopia. Axial length measurement can be an important indicator for early detection and management of myopia, especially in high-risk groups.
Kelainan Refraksi dan Biometri Okular pada Pasien di Rumah Sakit Mata Makassar Tahun 2026 Umul Khairunisa; Soraya Arifin; Hasnawati; Muhammad Fadly Hidayat
RS Mata Makassar: Journal of Ophthalmology Vol. 3 No. 1 (2026): Journal of Ophthalmology
Publisher : RS Mata Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63670/mata.v3i1.48

Abstract

Kelainan refraksi merupakan salah satu penyebab utama gangguan penglihatan yang dapat memengaruhi kualitas hidup seseorang.Kelainan refraksi meliputi myopia, hypermetropia, astiigmatisme yang maisng-masing meiliki karakteristik biometri ocular yang berbeda. Parameter biometri ocular seperti axial legth(AL), Anterior Chamber depth (ACD), lens thinkness (AL),dan keratometry berperan penting dalam menentukkan status refraksi mata Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik parameter biometri ocular pada berbagai jenis kelainan refraksi di Rumah Sakit Mata Makassar. Penelitian ini menggunakan desain observasional deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian terdiri atas 100 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan dipilih menggunakan Teknik accidental sampling. Data diperoleh dari rekam medis dan hasil pemeriksaan biometri menggunakan IOL Master. Hasil penelitian menunjukkan bahwa myopia merupakan kelainan refraksi yang paling banyak ditemukan, yaitu sebanyak 91%,diikuti hypermetropia sebesar 6%, dan astigmatisme 3%. Kelompok myopia memiliki AL tertinggi dengan rerata 25,63 + 1,21 mm serta ACD yang lebih dalam dibandingkan kelompok lainnya. Kelompok hypermetropia menunjukkan nilai AL lebih pendek dengan rerata 22,34 + 0,35 mm dan LT yang lebih tebal. Sementara itu, kelompok astigmatisme menunjukkan perbedaan nilai keratometry yang lebih besar dibandingkan kelompok myopia dan hypermetropia. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa setiap jenis kelainan refraksi memiliki karakteristik biometri ocular yang berebeda. Miopa berkaitan dengan pemanjangan axial legth, hypermetropia berkaitan dengan axial legth yang lebih pendek dan lens thickness yang lebih tebal, sedengkan astigmatisme lebih berkaitan dengan perubahan kelengkungan kornea yang tercermin dari nilai keratometry.
PENGARUH DISIPLIN KERJA TERHADAP KINERJA PEGAWAI DI RUMAH SAKIT MATA KEMENKES MAKASSAR Nuraeni Saputri Kahar; A. Ulfiana Fitri; Yulita Sirinti Pongtamning; Purnamanita Syawal
RS Mata Makassar: Journal of Ophthalmology Vol. 3 No. 1 (2026): Journal of Ophthalmology
Publisher : RS Mata Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63670/mata.v3i1.49

Abstract

Rumah sakit merupakan institusi pelayanan kesehatan yang dituntut mampu memberikan pelayanan berkualitas melalui dukungan sumber daya manusia yang profesional. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kualitas pelayanan adalah disiplin kerja pegawai. Rendahnya tingkat disiplin, seperti keterlambatan hadir dan pulang sebelum waktu yang ditentukan, dapat menurunkan produktivitas kerja serta berdampak terhadap kualitas pelayanan kepada pasien. Berdasarkan data absensi di Rumah Sakit Mata Kemenkes Makassar masih ditemukan pegawai yang datang terlambat dan pulang lebih awal sehingga diperlukan penelitian mengenai pengaruh disiplin kerja terhadap kinerja pegawai,Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh disiplin kerja terhadap kinerja pegawai di Rumah Sakit Mata Kemenkes Makassar Tahun 2025,Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross sectional. Populasi penelitian berjumlah 148 pegawai dan seluruh populasi dijadikan sampel menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner dengan skala Guttman. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan 95% (α = 0,05),Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pegawai memiliki disiplin kerja yang baik serta kinerja yang baik. Analisis bivariat menunjukkan terdapat pengaruh yang signifikan antara disiplin kerja dengan kinerja pegawai di Rumah Sakit Mata Kemenkes Makassar (p<0,05). Pegawai yang memiliki disiplin kerja tinggi cenderung memiliki kinerja yang lebih baik dibandingkan pegawai dengan disiplin kerja rendah,Disiplin kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai. Oleh karena itu, pihak rumah sakit perlu meningkatkan penerapan disiplin kerja melalui pengawasan, evaluasi berkala, pemberian penghargaan, dan penegakan aturan sehingga kinerja pegawai dan mutu pelayanan rumah sakit dapat terus meningkat.
Analisis Sentimen Ulasan Google Maps berbasis Natural Language Processing (NLP) sebagai Gambaran Kualitas Pelayanan RS Mata Makassar Idarwati Mustafa; Muh. Ashhar Bustan; Nur Assyurthy; Munir
RS Mata Makassar: Journal of Ophthalmology Vol. 3 No. 1 (2026): Journal of Ophthalmology
Publisher : RS Mata Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63670/mata.v3i1.50

Abstract

Introduction: Google Maps reviews provide spontaneous and continuous patient feedback, but their potential for assessing specific dimensions of hospital service quality remains underused. This study aimed to evaluate service quality at RS Mata Makassar through Natural Language Processing (NLP)-based sentiment analysis and the SERVQUAL framework. Methods: This quantitative descriptive study analyzed all eligible Google Maps reviews published from January 2024 to March 2026. Data were collected through manual scraping and processed using cleaning, case folding, normalization, and stopword removal. Sentiment was classified using a rule-based approach into positive, negative, or neutral categories, while service aspects were mapped multilabel to Tangibles, Reliability, Responsiveness, Assurance, and Empathy. Results: The analysis generated 1,495 aspect–sentiment assignments: 1,416 (94.72%) positive, 44 (2.94%) neutral, and 35 (2.34%) negative. Reliability represented the most frequently discussed dimension and was predominantly associated with positive experiences, whereas Empathy demonstrated the highest proportion of positive sentiment. Nevertheless, negative feedback was disproportionately concentrated in the Responsiveness dimension, mainly concerning waiting time, queues, delays, proactive service communication as priority areas for improvement. Conclusion: Google Maps reviews have the potential to complement patient satisfaction evaluations and support continuous monitoring of hospital service quality. Reviews of RS Mata Makassar were predominantly positive, particularly in the Reliability and Empathy dimensions. However, Responsiveness emerged as the main priority for improvement because it had the highest proportion of negative sentiment and accounted for nearly half of all negative aspect–sentiment assignments.

Page 3 of 3 | Total Record : 26