cover
Contact Name
Khairizzaman
Contact Email
khairizzaman@ar-raniry.ac.id
Phone
+6282214545730
Journal Mail Official
quranicun@gmail.com
Editorial Address
Prodi Magister Ilmu Al Qur'an dan Tafsir (IAT) Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Jalan Ar-Raniry No. 1 Kopelma Darussalam Banda Aceh
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
QURANICUM: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
ISSN : -     EISSN : 30480361     DOI : https://doi.org/10.22373/quranicum
Core Subject :
QURANICUM: Journal of Qur’anic and Hadith Studies is a peer-reviewed, biannual journal (June and December) published by the Master’s Program in Qur’anic and Tafsir Studies, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia. The journal publishes original research articles and critical reviews that advance the study of the Qur’an and Hadith across disciplines. Coverage includes linguistic, literary, and thematic analyses; tafsir and hadith commentaries and their exegetical traditions; methodological approaches; Qur’anic and Hadith sciences (ʿulum al-Qur’an and ʿulum al-hadith); reception and lived-religion studies (Living Qur’an and Living Hadith); translation studies of the Qur’an; and comparative or regional inquiries spanning the Middle East, the West, the Indonesian Archipelago, and beyond. Submissions grounded in law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science, and related fields are particularly welcome.
Arjuna Subject : -
Articles 31 Documents
Konsep Fitrah dalam Al-Qur’an: Perspektif Mufassir dan Relevansinya terhadap Wacana Kontemporer Al Munzir Al Munzir; Nurjanah Ismail
QURANICUM: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 2 No. 1 (2025)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Al Qur'an dan Tafsir, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/quranicum.v2i1.6055

Abstract

The changing times and the abundance of information have influenced the understanding and meaning of human identity, which in some cases normalizes disparities, such as sexual orientation, under the pretext of being part of fitrah (human nature). This phenomenon raises fundamental questions about how religion, particularly Islam, defines and limits the concept of fitrah. This study focuses on the differences in understanding fitrah in the Qur’an compared to the meanings that have developed in contemporary discourse. The aim is to examine the wording and meaning of fitrah in the Qur’an and to analyze its application in life by comparing the Qur’anic understanding with contemporary interpretations. This research employs a qualitative method with a library research approach, combining thematic analysis of Qur’anic verses containing the term fitrah, examination of classical and contemporary exegetical works, and comparative studies with the views of both Muslim and Western thinkers. The findings reveal that in the Qur’an, fitrah can be classified into three main aspects: Islamic fitrah, fitrah of monotheism (tawhid), and fitrah of worship, which are the author’s synthesis based on exegetical literature and thematic studies. In the Islamic perspective, three main approaches were identified: the positive approach (fitrah as an innate inclination toward goodness), the fatalistic approach (fitrah as an unchangeable decree), and the neutral approach (fitrah as a potential that can develop toward good or evil). Meanwhile, Western thought offers three paradigms, nativism, empiricism, and convergence, which are analyzed within their epistemological frameworks to identify points of convergence and divergence with the Islamic concept of fitrah. Based on these findings, further studies integrating Qur’anic exegesis with modern psychology are recommended to strengthen the relevance of the fitrah concept in addressing moral and identity challenges in the contemporary era. Abstrak: Perubahan zaman dan melimpahnya informasi telah memengaruhi pemahaman dan makna jati diri manusia, yang pada beberapa kasus menormalkan ketimpangan, seperti orientasi seksual, dengan dalih sebagai bagian dari fitrah. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mendasar tentang bagaimana agama, khususnya Islam, mendefinisikan dan membatasi konsep fitrah. Penelitian ini memfokuskan kajian pada perbedaan pemahaman fitrah dalam Al-Qur’an dibandingkan dengan pemaknaan yang berkembang dalam wacana kontemporer. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji lafaz dan makna fitrah dalam Al-Qur’an serta menganalisis penerapan konsep fitrah tersebut dalam kehidupan, dengan membandingkan pemahaman Al-Qur’an dan pandangan yang berkembang dalam wacana kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kajian kepustakaan (library research), menggabungkan analisis tematik terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang memuat lafaz fitrah, telaah tafsir dari mufassir klasik dan kontemporer, serta studi komparatif dengan pandangan pemikir Muslim dan Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam Al-Qur’an, fitrah dapat diklasifikasikan menjadi tiga aspek utama, yaitu: fitrah Islam, fitrah tauhid dan fitrah ibadah, yang merupakan sintesis penulis berdasarkan literatur tafsir dan kajian tematik. Dalam perspektif Islam, ditemukan tiga pendekatan utama, yaitu positif (fitrah sebagai kecenderungan bawaan menuju kebaikan), fatalis (fitrah sebagai ketentuan yang tak dapat diubah), dan netral (fitrah sebagai potensi yang dapat berkembang ke arah baik atau buruk). Sementara itu, pemikiran Barat menawarkan tiga paradigma, yakni nativisme, empirisme, dan konvergensi, yang dianalisis dalam batasan kerangka epistemologisnya untuk menemukan titik temu dan perbedaan dengan konsep fitrah dalam Islam. Berdasarkan temuan ini, disarankan adanya kajian lanjutan yang mengintegrasikan perspektif tafsir Al-Qur’an dengan pendekatan psikologi modern, guna memperkuat relevansi konsep fitrah dalam menjawab tantangan moral dan identitas di era kontemporer.
Integrasi Akal dan Wahyu dalam Penafsiran Al-Qur’an Menurut Muhammad Al-Ghazali Muhammad Syauqi; Samsul Bahri
QURANICUM: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 1 No. 2 (2024)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Al Qur'an dan Tafsir, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/quranicum.v2i1.6057

Abstract

This article discusses the thought of Muhammad al-Ghazali, a significant figure in the interpretation of the Qur'an, focusing on the mauḍūʿī interpretation method he developed. The research question posed is: What are the principles in the maudhui interpretation method applied by al-Ghazali, and how is it implemented in understanding Qur'anic texts? To answer this question, the study employs a qualitative method with a library research approach that includes analyzing relevant literature. The findings of the research indicate that al-Ghazali emphasizes the balance between reason (al-‘aql) and revelation (al-naql) in interpreting the Qur'an while integrating social and cultural contexts into his tafsir. Additionally, this article reveals that the maudhui interpretation method introduced by al-Ghazali serves not only as a means of understanding the Qur'an but also as a tool to bridge Islamic thought with societal realities. This research is expected to provide new insights into Muhammad al-Ghazali's contributions to the development of tafsir science and its relevance in contemporary contexts. Abstrak: Artikel ini merupakan hasil telaahan kepustakaan (library research) tentang integrasi akal dan wahyu dalam penafsiran Al-Qur’an menurut Muhammad al-Ghazali. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan metode dan pendekatan penafsiran yang relevan dengan tantangan kontemporer dalam pandangan Muhammad al-Ghazali. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan data berupa pernyataan verbal dari berbagai literatur seperti buku, artikel jurnal, dan karya tulis lainnya. Ditinjau dari segi jenisnya, telaahan dimaksud tergolong sebagai penelitian kualitatif karena berhadapan dengan data berupa pernyataan verbal dari sejumlah literatur, baik berupa buku, artikel jurnal dan karya tulis lainnya. Data yang ditemukan dianalisis dengan menggunakan teknik interpretasi dan holistik guna memperoleh jawaban dari pertanyaan di atas. Hasil penelitian menunjukkan, Muhammad al-Ghazali merupakan seorang tokoh penting dalam aktivitas pendidikan dan dakwah. Dalam rangkaian aktivitas tersebut, ia mengamati kondisi umat Islam dewasa ini membutuhkan penafsirann Al-Qur’an yang sesuai dengan perkembangan zaman. Atas dasar itu ia menawarkan metode tafsir mauḍūʿī dan memilih pendekatan penafsiran yang mengintegrasikan akal dan wahyu, yang bertujuan memberikan pemahaman yang lebih komprehensif dan aplikatif terhadap Al-Qur’an. Metode ini memadukan pemikiran rasional dengan petunjuk ilahi untuk menjawab kebutuhan umat Islam dalam menghadapi realitas modern secara efektif.
Konsep Tazkiyat Al-Nafs Perspektif Al-Qur’an (Studi Pemikiran HAMKA dalam Tafsir Al-Azhar) Muhammad Amin
QURANICUM: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 2 No. 1 (2025)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Al Qur'an dan Tafsir, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/quranicum.v2i1.6366

Abstract

Tazkiyat Al-Nafs sangat penting bagi dunia saat ini, sebab masyarakat telah terperangkap dalam pola pikir rasional dan mencampakkan dimensi batin. Kondisi tersebut melahirkan gaya hidup yang materialis dan hidonis, dalam arti masyarakat hanya berfikir kehidupan duniawi semata tanpa menghiraukan kehidupan ukhrawi. Akibatnya berbagai penyimpangan, kejahatan, kekejian, dan kemungkaran terjadi disegala sektor kehidupan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui bagaimana konsep Tazkiyat al-Nafs perspektif Al-Qur’an, bagaimana pemikiran HAMKA terhadap Tazkiyat al-Nafs dalam Al-Qur’an, dan bagaimana implementasi pemikiran HAMKA terhadap Tazkiyat al-Nafs di era modern. Bentuk Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research). Metode Maudhu’i dengan analisis data diskriptif-kualitatif dan analisis isi (content analysi). Batasan dalam penelitian ini mengkaji makna, maksud dan tujuan dari lafazh tazkiyat al- nafs perspektif HAMKA dalam tafsir Al-zhar. Adapun hasil penelitian adalah: pertama konsep tazkiyat al-nafs perspektif Al-Qur’an adalah jiwa yang bersih, suci, dan terealisasinya Tauhid. Kedua, barangsiapa yang selalu mensucikan atau membersihkan dirinya dari pada kesyirikan, kerusakan akhlak, ilmu, harta, makanan, jalan yang sesat dan dari pada maksiat serta dosa lainnya melalui  tazkiyah al-nafs maka menanglah dalam kehidupan ini serta menjadi orang-orang  al-Muqarrabin.“sejauh mana tingkat kepedulian seseorang terhadap tazkiyat al-nafs dalam dirinya, maka sejauh itu pulalah tingkat keselamatannya”. Ketiga, implementasi pemikiran HAMKA terhadap Tazkiyat al-Nafs di era modern adalah untuk melahirkan sikap menahan diri, mensucikan diri, dan memanfaatkan harta untuk kepentingan produktif. Yaitu dengan konsep zuhud yang dibawakan HAMKA yang memiliki nuansa Ilahiyyah, ekonomis, sosialis, serta memiliki makna filosofis yang dalam, melalui perantara akhlak mulia yang diterapkan dalam kehidupan, dengan sebutan istilah kecerdasan spiritual dan keshalehan sosial. “Bukan tidak memiliki dunia, tetapi tidak dimilki oleh dunia”. Kata Kunci: Tazkiyat al-Nafs, Tafsir Al-Azhar, HAMKA 
Analisis Semantik Reflektif Terhadap Frasa Syaghafaha Hubban dalam Surah Yusuf M. Khalil Qardhawy
QURANICUM: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 2 No. 1 (2025)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Al Qur'an dan Tafsir, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/quranicum.v2i1.6486

Abstract

Syaghaf is an Arabic term that describes love or a very strong inclination toward something. In Surah Yusuf verse 30, the phrase syaghafaha hubban is used to depict the obsessive love of the wife of Al-Aziz for Prophet Yusuf, whose intensity could obscure rationality. Although this concept is frequently mentioned in Qur’anic exegesis, studies linking its semantic analysis with a reflection on Qur’anic ethics remain rare. A deep understanding of this phrase is essential to explore the relationship between the language of revelation, the dynamics of extreme emotions, and moral restraint in modern life. This study aims to analyze the semantic meaning of syaghafaha hubban through a reflective-ethical semantic approach, which combines syntagmatic and paradigmatic analysis with moral examination based on Qur’anic values. Data were collected through a literature review of classical and modern tafsir, as well as Qur’anic linguistic studies to trace semantic shifts in contemporary contexts. The findings indicate that syaghafaha hubban represents a form of obsessive love that can weaken self-control and drive behavior contrary to the principles of tauhid. This study enriches Qur’anic semantic scholarship by integrating linguistic analysis with ethical reflection, while filling a research gap that connects the language of revelation with modern emotional health issues. It recommends strengthening spiritual practices, internalizing tauhid values, and implementing Qur’an-based emotional education as preventive measures in managing extreme emotions, so that the moral message of Surah Yusuf verse 30 can be applied contextually in the present era. Abstrak: Syaghaf merupakan istilah bahasa Arab yang menggambarkan cinta atau kecenderungan yang sangat kuat terhadap sesuatu. Dalam QS. Yusuf ayat 30, frasa syaghafaha hubban digunakan untuk melukiskan perasaan cinta obsesif istri Al-Aziz terhadap Nabi Yusuf, yang intensitasnya mampu mengaburkan rasionalitas. Meskipun konsep ini sering disebut dalam tafsir, kajian yang mengaitkan analisis semantik frasa tersebut dengan refleksi etika Qur’ani masih jarang dilakukan. Padahal, pemahaman mendalam terhadapnya penting untuk mengkaji relasi antara bahasa wahyu, dinamika emosi ekstrem, dan kendali moral dalam kehidupan modern. Penelitian ini bertujuan menganalisis makna semantik syaghafaha hubban dengan pendekatan semantik reflektif-etika, yakni perpaduan analisis sintagmatik dan paradigmatik dengan telaah moral berdasarkan nilai-nilai Qur’ani. Data dihimpun melalui studi pustaka terhadap tafsir klasik dan modern, serta kajian linguistik Al-Qur’an untuk menelusuri pergeseran makna dalam konteks kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa syaghafaha hubban merepresentasikan bentuk cinta obsesif yang dapat melemahkan pengendalian diri dan mendorong perilaku yang bertentangan dengan prinsip tauhid. Temuan ini memperkaya studi semantik Al-Qur’an dengan mengintegrasikan analisis linguistik dan refleksi etis, sekaligus mengisi celah kajian yang menghubungkan bahasa wahyu dengan kesehatan emosional modern. Penelitian ini merekomendasikan penguatan praktik spiritual, internalisasi nilai tauhid, dan pendidikan emosional berbasis Qur’ani sebagai langkah preventif dalam mengelola emosi ekstrem, sehingga pesan moral QS. Yusuf ayat 30 dapat diterapkan secara kontekstual di era kini.
Kebebasan Beragama dalam Konteks Sosial Perspektif Al-Qur’an Zahratul Jannah
QURANICUM: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 2 No. 1 (2025)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Al Qur'an dan Tafsir, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/quranicum.v2i1.6661

Abstract

The use of religious identity to create a negative view of other religious groups if not limited by tolerance will greatly affect the social attitude between religious communities, because claims can damage social relations. Misunderstandings in interpreting religious texts exist in every religion, including Islam. So it is important for Muslims to understand the meaning of the Qur'an as a reference for their religion. This research focuses on several verses of the Qur'an that are considered closest to discussion the freedom of religion in a social context. The purpose of this study is to understand the meaning of religious freedom in the Qur'an through classical and contemporary interpretations, reveal how the Qur'an builds interfaith social dialogue, and tolerance of religious freedom based on the Qur'an. This type of research is library research, with qualitative methods and analytical descriptive data analysis techniques. The results of this study indicate that QS. Al-An'am (6):108 prohibits insulting the gods of polytheists as a reflection of manners in Islam, QS. Al-Mumtahanah (60):8 allows doing good to non-Muslims who do not fight Islam with a variety of interpretations by the mufasir, and QS. Al-Kafirun (109):6 emphasizes the uncompromising separation of beliefs, with different mufasir focuses. Dialogue in the Qur'ān includes deep interaction between creatures and God, fellow human beings and nature, promoting wisdom, respect, justice and equality. Tolerance in the Qur'an includes religious freedom, recognition of diversity, peace, cooperation in goodness, protection for minorities, and viewing differences as sunnatullah that support harmony in the life of the nation and state. ABSTRAK Penggunaan identitas agama untuk menciptakan pandangan negatif terhadap kelompok agama lain jika tidak dibatasi dengan toleransi akan sangat berpengaruh kepada sikap bersosial antar umat beragama, karena klaim tertentu dapat merusak hubungan sosial. Kesalahpahaman dalam memaknai nash-nash agama hampir ada di setiap agama termasuk agama Islam. Maka umat muslim penting untuk memahami dengan baik maksud Al-Qur’an sebagai rujukan agamnya. Penelitian ini fokus pada beberapa ayat Al-Qur’an yang dianggap paling dekat dengan pembahasan kebebasan beragama dalam konteks sosial. Tujuan penelitian ini untuk memahami maksud kebebasan beragama dalam Al-Qur’an melalui tafsir klasik dan kontemporer, mengungkap cara Al-Qur’an membangun dialog dan toleransi antaragama berdasarkan Al-Qur’an. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research), dengan metode kualitatif dan teknik analisis data deskriptif analitis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa QS. Al-An’am (6):108 melarang menghina Tuhan kaum musyrik sebagai cerminan adab dalam Islam, QS. Al-Mumtahanah (60):8 membolehkan berbuat baik kepada non-Muslim yang tidak memerangi islam dengan variasi tafsir oleh para mufasir, dan QS. Al-Kafirun (109):6 menegaskan pemisahan akidah tanpa kompromi, dengan fokus mufasir yang berbeda-beda. Dialog dalam Al-Qur’an mencakup interaksi mendalam antara makhluk dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam, mengedepankan hikmah, penghormatan, keadilan, dan kesetaraan. Toleransi dalam Al-Qur’an mencakup kebebasan beragama, pengakuan keberagaman, perdamaian, kerja sama dalam kebaikan, perlindungan bagi minoritas, dan memandang perbedaan sebagai sunnatullah yang mendukung harmoni dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Peningkatan Kualitas Hafalan Al-Qur’an Dengan Metode Sima’an di SDIT Daarul Qur’an Al-Aziziyah Banda Aceh Maulida Putri; Maizuddin Maizuddin; Samsul Bahri
QURANICUM: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 2 No. 1 (2025)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Al Qur'an dan Tafsir, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/quranicum.v2i1.6788

Abstract

This study examines the implementation of the simā’an method in improving the quality of Qur’anic memorization at SDIT Daarul Qur’an Al-Aziziyah Banda Aceh, a distinctive tahfīẓ institution that applies this method amid the wider prevalence of the tasmī’ method in similar institutions. The simā’an method involves students reciting their memorization aloud in front of classmates as listeners, under the guidance of a tahfīẓ teacher and in the presence of the students’ parents. The objective of this study is to describe the implementation of the simā’an method, analyze its impact on the quality of students’ memorization, and identify the challenges encountered during its application. Employing a qualitative field research approach, data were collected through observation, interviews, and documentation, with research subjects including the school principal, tahfīẓ teachers, students, and parents. Informants were selected using purposive sampling, and data were analyzed using descriptive-analytical methods. The findings indicate that the simā’an method significantly enhances memorization quality, particularly in fluency, tajwīd accuracy, and faṣāḥah. Its implementation involves structured stages of murāja’ah, formal simā’an sessions, and periodic evaluation. Major challenges include the absence of formal policy documentation and the varying abilities of students in memorization. While the method does not fully increase the quantity of memorized material, it proves effective in maintaining and reinforcing the quality of memorization. This study contributes to the development of adaptive and context-based tahfīẓ instructional models in primary Islamic education. Abstrak: Penelitian ini mengkaji implementasi metode simā’an dalam meningkatkan kualitas hafalan Al-Qur’an di SDIT Daarul Qur’an Al-Aziziyah Banda Aceh, sebuah lembaga pendidikan tahfīẓ yang secara khas menerapkan metode ini di tengah dominasi metode tasmī’ pada lembaga tahfīẓ lainnya. Metode simā’an dilaksanakan dengan memperdengarkan hafalan siswa di hadapan teman sekelas sebagai penyimak, dibimbing oleh guru tahfīẓ, serta dihadiri oleh orang tua siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan metode simā’an, menganalisis pengaruhnya terhadap kualitas hafalan siswa, serta mengidentifikasi kendala yang dihadapi dalam pelaksanaannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode lapangan. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, dengan subjek penelitian terdiri atas kepala sekolah, guru tahfīẓ, siswa, dan orang tua. Teknik purposive sampling digunakan untuk menentukan informan, sedangkan analisis data dilakukan secara deskriptif analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode simā’an berdampak positif terhadap peningkatan kualitas hafalan, khususnya dalam aspek kelancaran, ketepatan tajwid, dan faṣāḥah. Tahapan implementasinya meliputi persiapan murāja’ah, pelaksanaan yang terstruktur, serta evaluasi berkala. Kendala utama yang ditemukan adalah belum adanya dokumentasi kebijakan secara formal dan variasi kemampuan siswa dalam menyerap hafalan. Meskipun belum sepenuhnya berdampak pada peningkatan kuantitas capaian hafalan, metode ini terbukti efektif dalam menjaga dan memperkuat kualitas hafalan secara berkelanjutan. Temuan ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan model pembelajaran tahfīẓ yang adaptif dan kontekstual di lingkungan pendidikan dasar.
Pencegahan Bullying di SMAN 2 Banda Aceh Berbasis Al-Quran Nurhaliza Putri Ariani
QURANICUM: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 2 No. 1 (2025)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Al Qur'an dan Tafsir, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/quranicum.v2i1.6789

Abstract

Bullying, which is defined as aggressive behavior perpetrated repeatedly against weaker individuals, can have a negative impact on the mental and physical health of the victim. Reseach aims to analyze the phenomenon of bullying at SMAN 2 Banda Aceh, focusing on the forms of bullying that occur, and the prevention efforts implemented by the school in preventing bullying. The research method used is qualitative with the type of research (field research), with data collection techniques through interviews and observations. The results showed that bullying at SMAN 2 Banda Aceh often occurs in the form of verbal, such as taunts and insults, and physical, such as beatings. Factors that influence bullying behavior include seniority, lack of supervision from parents and teachers, and the influence of the social environment. The impact of bullying on victims includes decreased self-confidence, anxiety, and academic problems. In response to this problem, the school has implemented various prevention efforts, such as instilling moral values based on the teachings of the Qur'an, socializing the dangers of bullying, and establishing anti-bullying policies. These prevention efforts are considered effective in their implementation based on data on the decline in bullying cases at SMAN 2 Banda Aceh. And have a positive effect in creating a safer and more inclusive learning environment. Abstrak: Bullying, yang didefinisikan sebagai perilaku agresif yang dilakukan secara berulang terhadap individu yang lebih lemah, dapat berdampak negatif pada kesehatan mental dan fisik korban. Penelitian bertujuan untuk menganalisis fenomena bullying di SMAN 2 Banda Aceh, dengan fokus pada bentuk-bentuk bullying yang terjadi, dan upaya pencegahan yang diterapkan oleh pihak sekolah dalam mencegah Bullying. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan jenis penelitian (field research), dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bullying di SMAN 2 Banda Aceh sering terjadi dalam bentuk verbal, seperti ejekan dan penghinaan, serta fisik, seperti pemukulan. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku bullying antara lain senioritas, kurangnya pengawasan dari orang tua dan guru, serta pengaruh lingkungan sosial. Dampak dari bullying terhadap korban mencakup penurunan kepercayaan diri, kecemasan, dan masalah akademik. Sebagai respons terhadap masalah ini, sekolah telah menerapkan berbagai upaya pencegahan, berupa penanaman nilai-nilai akhlak berdasarkan ajaran Al-Qur'an, sosialisasi tentang bahaya bullying, dan pembentukan kebijakan anti-bullying. Upaya-upaya pencegahan tersebut dinilai efektif penerapannya berdasarkan data menurunya kasus bullying di SMAN 2 Banda Aceh. Dan berpengaruh positif dalam menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman dan inklusif.
Tingkat Pemahaman Mahasiswa Uin Ar-Raniry Tentang Ayat-Ayat Larangan Tabdhir Dalam Al Qur’an Alfia Rahmi
QURANICUM: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 2 No. 2 (2025)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Al Qur'an dan Tafsir, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/quranicum.v2i2.6790

Abstract

Abtract: The Qur'an has talked a lot about the prohibition of wasteful behavior. However, in reality, wasteful behavior still occurs, both among ordinary people and among students. The main issue in this study is the understanding of the verses prohibiting tabdhir behavior from the perspective of UIN Ar-Raniry students. The method used to answer the above problem is a qualitative method with the type of research (field research) and data collection techniques through interviews and observations. The results of the study found that UIN Ar-Raniry Banda students' understanding of the meaning of the word “redundant” is good. But in general, their knowledge of the verses of the Qur'an that prohibit wasteful behavior is still limited. Among the verses about waste, the majority of students know about the verses of waste in Surah al-Isra' verse 27 and very few students mention Surah al-A'raf verse 63 as a reference regarding the prohibition of wasteful behavior. This diversity and limited understanding is possible due to the factor of lack of interest in reading, which causes them not to explore more deeply about this theme in the literature, including the Qur'an. While related to the practice of verses related to tabdhir, students of UIN Ar-Raniry Banda often apply these principles in their daily lives, but there is also recognition that they are negligent in applying them and also due to factors that are not single, including social environment, friendship, lifestyle, and limitations in time management. Therefore, messages about the prohibition of waste should be alive among students. Abstrak:  Al-Qur'an telah banyak berbicara tentang larangan perilaku boros. Namun, pada kenyataannya, perilaku boros masih terjadi, baik di kalangan masyarakat awam maupun di kalangan mahasiswa. Persoalan utama dalam penelitian ini adalah bagaimana pemahaman ayat-ayat larangan perilaku tabzir dari sudut pandang mahasiswa UIN Ar-Raniry. Metode yang digunakan untuk menjawab permasalahan di atas adalah metode kualitatif dengan jenis penelitian (field research) dan teknik pengumpulan data melalui wawancara dan observasi. Hasil penelitian menemukan bahwa pemahaman mahasiswa UIN Ar-Raniry Banda terhadap makna kata “boros” sudah baik. Namun secara umum, pengetahuan mereka terhadap ayat-ayat Al-Qur'an yang melarang perilaku boros masih terbatas. Di antara ayat-ayat tentang boros, mayoritas mahasiswa mengetahui tentang ayat boros pada surat al-Isra' ayat 27 dan sangat sedikit mahasiswa yang menyebutkan surat al-A'raf ayat 63 sebagai rujukan terkait larangan perilaku boros. Keragaman dan keterbatasan pemahaman ini dimungkinkan karena faktor kurangnya minat baca, yang menyebabkan mereka tidak mengeksplorasi lebih dalam tema ini dalam literatur, termasuk Al-Qur'an. Terkait praktik ayat-ayat yang berkaitan dengan tabzir, mahasiswa UIN Ar-Raniry Banda seringkali menerapkan prinsip-prinsip ini dalam kehidupan sehari-hari, tetapi ada juga yang menyadari bahwa mereka lalai dalam menerapkannya dan juga disebabkan oleh faktor-faktor yang tidak tunggal, termasuk lingkungan sosial, pertemanan, gaya hidup, dan keterbatasan dalam manajemen waktu. Oleh karena itu, pesan-pesan tentang larangan membuang-buang sampah seharusnya tetap hidup di kalangan mahasiswa.
Politik Dalam Perspektif Al-Qur’an Rosmalita
QURANICUM: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 2 No. 2 (2025)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Al Qur'an dan Tafsir, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/quranicum.v2i2.6816

Abstract

Abstract: Politics is a noble teaching of Islam. However, it is often considered dirty, cunning, manipulative, and has other negative connotations. This study was conducted with the aim of understanding the interpretation of verses about politics in the Qur'an, and to determine the characteristics of politics in the Qur'an. This research is a library research, using the maudhū'i method. Data analysis was carried out using content analysis techniques. The results of the study showed that the word siyāsah (politics) is not found in the Qur'an, however the Qur'an mentions other terms that have the same meaning as siyāsah (politics), namely: al-hukm, khalīfah, isti'mar, al-imām, al-ummah, al-Mulk, al-syūrā, ūli al-amr and sulṭān. And the characteristics of politics in the Qur'an through QS. an-Nisā': 58 are trustworthy and just. For further research, a study of political language in the Qur'an can be conducted. Abstrak: Politik merupakan ajaran Islam yang mulia. Namun, seringkali dianggap kotor, culas, manipulatif, dan konotasi negatif lainnya. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui penafsiran ayat tentang politik dalam al-Qur’an, dan untuk mengetahui karakteristik politik dalam al-Qur’an. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research), dengan menggunakan metode maudhū’i. Analisis data dilakukan dengan teknik analisis isi (Content analysis). Hasil penelitian diperoleh bahwa kata siyāsah (politik) tidak ditemukan dalam al-Qur’an, akan tetapi al-Quran menyebut istilah lain yang semakna dengan siyāsah (politik) yaitu: al-hukm, khalīfah, isti’mar, al-imām, al-ummah, al-Mulk, al-syūrā,  ūli al-amr dan sulṭān, dan diperoleh karakteristik politik dalam al-Qur’an melalui QS. al-Nisā': 58 adalah amanah dan adil. Untuk penelitian selanjutnya dapat dilakukan kajian lafaz politik dalam al-Qur’an.
Manifestasi Sifat Yahudi pada Diri Muslim menurut Tafsir al-Bahr al-Madid Muhammad Nurkhalis
QURANICUM: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 2 No. 1 (2025)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Al Qur'an dan Tafsir, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/quranicum.v2i1.7502

Abstract

In general, the main issue in this study is the discussion of Jewish traits within Muslims as explained in al-Bahr al-Madid fi Tafsir al-Qur’an al-Majid by Ibn Ajibah. The negative characteristics of the Jews have, throughout human history, generated continuous antipathy. At present, a paradox exists among Muslims: on the one hand, they strongly condemn the attitudes and behaviors attributed to the Children of Israel as criticized in the Qur’an; on the other hand, some Muslims, often unconsciously, display similar tendencies, such as hypocrisy, long and unrealistic ambitions, and excessive attachment to worldly life. This paradox is precisely the subject of criticism raised by the great Moroccan scholar Ibn Ajibah. Based on this background, the researcher is compelled to examine more deeply the Jewish traits within Muslims according to al-Bahr al-Madid. The purpose of this study is to analyze these traits in light of Ibn Ajibah’s interpretations. This research is qualitative in nature and employs a library research method. In addition, it applies the thematic method, by collecting, studying, and analyzing Qur’anic verses related to the criticized traits of the Jews, and then examining their relevance to contemporary Muslim conditions. The study concludes that Ibn Ajibah views these traits as the negative characteristics of the Jews that emerge among Muslims. Ibn Ajibah mentions them nine times, consisting of arrogance, greed and long ambitions, envy, injustice in judgment, malice, inciting evil, heresy, distortion of facts, and following one’s desires in matters of religion. According to Ibn Ajibah, these traits arise from the attachment of a Muslim’s heart to worldly affairs. To restrain or minimize them, it can only be pursued through purification of the heart by subduing the lower self. This study recommends that Muslims take Ibn Ajibah’s insights as a form of spiritual reflection to avoid the emergence of such traits through strengthening tazkiyat al-nafs (purification of the soul). Abstrak: Secara garis besar masalah utama dalam penelitian ini adalah pembahasan sifat Yahudi di dalam diri Muslim sebagaimana dijelaskan dalam al-Bahr al-Madid fi Tafsir al-Qur’an al-Majid karya Ibnu Ajibah. Sifat-sifat negatif Yahudi sepanjang sejarah manusia telah menimbulkan antipati sepanjang masa. Saat ini sebuah paradoks terjadi di kalangan Muslim. Di satu sisi, mereka mengecam dengan keras sikap dan perilaku buruk yang dinisbatkan kepada Yahudi sebagaimana dikritik dalam Al-Qur’an. Namun di sisi lain, sebagian umat Islam tanpa disadari justru menampakkan perilaku serupa, seperti kemunafikan, panjang angan-angan, dan kecintaan berlebihan terhadap dunia. Paradoks inilah yang menjadi kritik dari seorang ulama besar dari Maroko, Ibnu Ajibah. Berdasarkan latar belakang ini, penulis terdorong untuk mengkaji lebih jauh tentang sifat Yahudi pada diri Muslim menurut al-Bahr al-Madid. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis sifat Yahudi pada diri Muslim menurut penafsiran Ibnu Ajibah. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan metode kajian kepustakaan. Selain itu, penelitian ini juga menerapkan metode tafsir tematik, yaitu dengan menghimpun dan menganalisis ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan, kemudian menelaah relevansinya dengan kondisi umat Islam masa kini. Penelitian ini berkesimpulan bahwa Ibnu Ajibah memandang sifat-sifat Yahudi tersebut sebagai karakteristik negatif yang muncul dalam diri umat Islam. Ibnu Ajibah menyebutkannya sebanyak sembilan kali, yang terdiri dari sifat sombong, tamak dan panjang angan-angan, iri hati, tidak adil dalam menilai sesuatu, dengki, mengajak kepada keburukan, zindik, memutarbalikkan fakta, dan mengikuti hawa nafsu dalam beragama. Ibnu Ajibah berpendapat sifat-sifat tersebut muncul karena keterikatan hati seorang Muslim dengan duniawi. Untuk menghambat atau meminimalisirnya, hanya dapat dilakukan melalui pembersihan hati dengan menundukkan hawa nafsu. Penelitian ini merekomendasikan agar umat Islam menjadikan kajian Ibnu Ajibah sebagai refleksi spiritual untuk menghindari munculnya sifat-sifat tersebut melalui penguatan tazkiyat al-nafs.

Page 2 of 4 | Total Record : 31