cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
ISSN : 08539987     EISSN : 23383445     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Media Health Research and Development ( Media of Health Research and Development ) is one of the journals published by the Agency for Health Research and Development ( National Institute of Health Research and Development ) , Ministry of Health of the Republic of Indonesia. This journal article is a form of research results , research reports and assessments / reviews related to the efforts of health in Indonesia . Media Research and Development of Health published 4 times a year and has been accredited Indonesian Institute of Sciences ( LIPI ) by Decree No. 396/AU2/P2MI/04/2012 . This journal was first published in March 1991.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue " Vol 23, No 1 Mar (2013)" : 6 Documents clear
GAMBARAN NYERI PINGGANG PADA PARAMEDIS DI BEBERAPA RUMAH SAKIT DI JAKARTA Tana, Lusianawaty; Delima, Delima
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 23, No 1 Mar (2013)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | http://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/MPK/article/view/3059

Abstract

Abstrak Nyeri pinggang merupakan gangguan otot rangka yang paling sering di antara gangguan otot rangka, dan masih merupakan masalah bagi paramedis.Penelitian ini bertujuan mendapatkan gambaran nyeri pinggang pada paramedis di beberapa rumah sakit di Jakarta. Disain penelitian adalah belah lintang pada paramedis di bagian perawatan dari 3 rumah sakit di Jakarta. Diagnosis nyeri pinggang berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik oleh dokter. Kriteria inklusi adalah berusia 20-45 tahun dan masa kerja minimal 1 tahun. Hasil penelitian menunjukkan proporsi nyeri pinggang dalam 1 tahun terakhir pada paramedis 28,5% (n=382 orang). Nyeri pinggang terjadi saat memindahkan pasien di tempat tidur 55% dan saat memindahkan pasien ke/dari kursi roda 23,9%. Nyeri pinggang yang mengalami kekambuhan lebih dari 1 kali/tahun 90,8%, yang mengalami rasa nyeri lebih buruk dari sebelumnya 11%, dan yang mencari pengobatan ke dokter 43,1%. Persentase nyeri pinggang lebih tinggi pada umur 40 tahun ke atas dibandingkan umur kurang dari 40 tahun, pada lama kerja lebih dari 15 tahun dibandingkan lama kerja 15 tahun ke bawah (p<0,05). Persentase nyeri pinggang tidak berbeda berdasarkan jenis kelamin, status pegawai, dan lokasi kerja (p>0,05). Paramedis sebaiknya mengangkat dan menangani pasien dengan cara yang benar untuk mencegah nyeri pinggang. Kata kunci:  nyeri pinggang, paramedis, rumah sakit Abstract Back pain is the most frequent musculosceletal diorders and still be a  problem in paramedics.The objective of this study was to identify back pain among paramedics who work in several hospitals in Jakarta. A cross sectional study was conducted to paramedics who were working at care unit of three hospitals in Jakarta. Back pain was diagnosed by anamnesis and physical examination by physicians. The inclusion criteria were aged 20 – 45 years old and had been working in the hospitals for more than 1 year. The percentage of back pain in the last one year  was 28.5 % (N=382). Fifty five percents of the back pain occurred when moving patients in bed, 23.9 % when moving patients to or from wheel chair. Almost all paramedics with back pain (90.8 %) experienced recurrent back pain more than once in a year, 11 % had been worse back pain than before, and 43.1 % went to see a physician. The percentage of back pain was higher in paramedics aged 40 years old and above and also in paramedics with working period more than 15 years (p<0.05). Back pain was not significantly different between sex, employment status, and workplace. (p>0.05). Paramedics should  follow the correct method for lifting  and handling patients to prevent back pain. Key words:  back pain, paramedics, hospital
EFEK EKSTRAK AIR DAN HEKSAN HERBA SURUHAN Peperomia pellucida (L) Kunth) TERHADAP PENURUNAN KADAR ASAM URAT SERUM DARAH AYAM KAMPUNG JANTAN Yunarto, Nanang
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 23, No 1 Mar (2013)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | http://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/MPK/article/view/3060

Abstract

Abstrak Salah satu tanaman yang selama ini digunakan masyarakat sebagai pilihan obat tradisional untuk asam urat adalah suruhan (Peperomia pellucida (L) Kunth). Penelitian ini dilakukan untuk menguji efek dari ekstrak air dan heksan herba suruhan terhadap penurunan kadar asam urat serum darah pada ayam kampung jantan. 40 ayam kampung jantan dibuat hiperurisemia dengan pemberian kombinasi antara jus hati ayam 4 ml/kg BB dan urea 1 mg/kg BB selama 12 hari. Hewan uji tersebut dibagi menjadi 8 kelompok. Kelompok I sebagai kontrol negatif dengan pemberian Polivinil Pirolidon (PVP) 0,5%. Kelompok II diberi Allopurinol 10 mg/kg BB sebagai kontrol positif, kelompok III-V diberi ekstrak air 100; 200; 400 mg/Kg BB dan kelompok VI-VIII diberi ekstrak heksan 100; 200; 400 mg/Kg BB. Pemberian bahan uji mulai hari ke-13 sampai 20. Pada hari ke-15,18 dan 21 diambil serum darah hewan uji melalui vena lateralis sayap untuk diukur kadar asam uratnya serta dihitung persentase penurunan kadar asam urat . Hasil uji secara pre klinik hari ke-21, ekstrak air herba suruhan 200 mg/Kg BB mampu menurunkan kadar asam urat paling tinggi yaitu 62,49±2,80% dan penurunan kadar asam urat dengan ekstrak heksan paling tinggi hanya 19,62±3,95% pada dosis 400 mg/Kg BB. Potensi ekstrak air 200 mg/Kg BB sebanding dengan Allopurinol 10 mg/Kg BB. Ekstrak air dan heksan herba suruhan memiliki khasiat untuk menurukan kadar asam urat yang mengindikasikan bahwa kandungan kimia dalam herba suruhan dapat dikembangan menjadi obat antihiperurisemia. Kata kunci : Peperomia pellucida (L) Kunth, asam urat, uji pre klinik, ekstrak air dan heksan Abstract One of the plants that had been used by the local people as a choice of traditional medicine for gout is suruhan (Peperomia pellucida (L) Kunth). This research was conducted to examine the effects of water and hexan extract of suruhan to decrease  uric acid levels in cock. 40 cock made hyperuricemia with the administration combination of chicken liver juice 4 ml / kg and urea 1 mg / kg for 12 days. The test animals were divided into 8 groups. Group I as a negative control with administration of polyvinyl pyrrolidone (PVP) 0.5%. Group II was given allopurinol 10 mg/Kg BW as  a positive control, a group III-V were given water extract 100; 200; 400 mg / Kg BW and group VI-VIII were given hexane extract 100; 200; 400 mg/Kg BW. Treatment begins day 13 to 20. On day 15, 18 and 21 were taken blood serum by vena lateralis wing vein to measure levels of uric acid, and calculated the percentage reduction in uric acid levels. From the result of  pre clinic study on day 21, water extract of suruhan at the dose of 200 mg/Kg BW the highest decrease uric acid level about 62,49±2,80% and the highest decrease uric acid level with hexane extract is 19,62±3,95% at the dose of 400 mg/Kg BW. Potential water extract of suruhan 200 mg / kg BW is equivalent with Allopurinol 10 mg/kg BW. Water and hexan extract of suruhan has potency to decrease uric acid level that indicating the contain some chemical constituents in suruhan that possibly lead development to antihyperuricemia drug. Keywords : Peperomia pellucida (L) Kunth,  uric acid, preclinic study, water and hexan extract
PENETAPAN KADAR ARTEMISININ DALAM EKSTRAK HEKSAN TANAMAN Artemisia annua L. MENGGUNAKAN METODE DENSITOMETRI Isnawati, Ani; Rooslamiati, Indri
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 23, No 1 Mar (2013)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | http://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/MPK/article/view/3061

Abstract

Abstrak Penyakit malaria masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia karena angka kesakitan penyakit ini masih cukup tinggi. Kinin dan klorokuin masih merupakan obat malaria yang banyak digunakan masyarakat di dunia, namun telah mengalami resisten. Artemisinin dan derivatnya merupakan obat yang digunakan terhadap plasmodium yang resisten terhadap klorokuin. Artemisinin diperoleh dari ekstrak tanaman Artemisia Annua L. Tanaman ini berasal dari daratan China namun dapat dibudidayakan di BPTO Tawangmangu. Penetapan kadar artemisinin menggunakan metode densitometri yang telah divalidasi. Ekstraksi heksan Artemisia annua L dilakukan fraksinasi dengan menggunakan acetonitril. Fraksi acetonitril  di uji dengan menggunakan KLT dengan fasa diam silica gel 60 GF254 dan eluen hexan: etil asetat (4:1) guna mengidentifikasi artemisinin. Pemisahan lebih lanjut dilakukan dengan kromatografi kolom dengan fase diam silika gel dan fase geraknya yaitu n-heksan: etil asetat (4:1). Eluat yang diperoleh diujikan pada plat KLT silica gel 60 GF254 menggunakan eluen yang sama dengan sebelumnya. Eluat yang mempunyai Rf sama digabung menjadi satu fraksi dan ditetapkan kadar artemisinin menggunakan densitometri beserta validasi metodenya. Hasil validasi metode menunjukkan bahwa linearitas dengan koefisien korelasi 0,998, batas deteksi 0,028mg/mL dan batas kuantitasi 0,094mg/mL dan nilai simpangan baku relatif artemisinin memenuhi persyaratan untuk presisi yaitu lebih kecil dari 2%. Hasil perolehan kembali untuk artemisinin adalah 100,08%. Kadar artemisinin dalam ekstrak heksan herba Artemisia annua L dengan metode densitometri sebesar 0,46% dan kadar artemisinin dalam herba Artemisia annua L. 0,02% Kata Kunci: Artemisinin, Artemisia annua L, ekstrak heksan daun Artemisia annua L, Densitometri. Abstract Malaria desease is still problem health people in Indonesia, because morbiditas rate is high. Kinin and Klorokuin are used by most of people in the world, but it were resistance. Artemisinin and it’s derivate are used against resistance’s plasmodium. Artemisinin is isolation from Artemisia Annua L. plant. This is Chinese original plan but is cultivated in BPTO Tawangmangu. Artemisinin content determination in heksane extract from Artemisa annua using validated densitometry method. Artemisinin extract can be obtained by soxletasi using hexane and then fractionation was done by using acetonitril. This acetonitril extract is concentrated by rotary evaporator and artemisinin detection use thin layer chromatography with silica gel 60 GF 254 and eluen hexan :etil acetate (4:1). Separation was done by colloumm chromatography with silica gel and eluen hexane : etil acetate (4:1). Eluat which is content artemisinin determinated with the same way. Eluat with same Rf is fused and determination content using validated densitometry method. The validation result showed that linieritas with correlation coefficient is 0,9998, detection limit is 0,028 mg/ml, detection quantitation limit is 0,094 mg/ml, and deviation relative at least 2%. Recovery result artemisinin is 100,08%. Artemisinin content in heksane extract from Artemisia annua L with denisitometry method is 0,0850 grm and Artemisinin content in Artemisia annua L plant is 0,02% Key words: Artemisinin, Artemisia annua L, hexane extract Artemisia annua L, Densitometry method
PENGARUH KETINGGIAN HABITAT KELAPA (Cocos nucifera) TERHADAP PENGEMBANGBIAKAN Bacillus thuringiensis H-14 DAN TOKSISITASNYA TERHADAP JENTIK (Anopheles aconitus) Susanti, Lulus; Ch.P, Blondine
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 23, No 1 Mar (2013)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | http://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/MPK/article/view/3062

Abstract

Abstrak Penggunaan Bacillus thuringiensis H-14 sebagai biolarvasida sudah banyak diketahui di masyarakat. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit (B2P2VRP) telah menguji penggunaan media buah kelapa sebagai media pengembangbiakan B.thuringiensis H-14. Pada penelitian ini dilakukan pengembangbiakkan B.thuringiensis H-14 galur lokal dengan menggunakan media air kelapa yang diambil dari berbagai wilayah dengan memperhatikan ketinggian wilayahnya. Lokasi pengambilan sampel air kelapa adalah daerah dengan ketinggian < 20 m dpl (pantai Parangtritis), 21 – 250 m dpl (Kabupaten Purworejo), 251 – 500 m dpl (Kabupaten Semarang) dan 501 – 750 m dpl (Kota Salatiga). Penelitian ini dilakukan dengan mengambil air buah kelapa hijau umur 4 – 6 bulan atau berat mencapai > 600 gram dari masing-masing wilayah penelitian. Kemudian air kelapa dari masing-masing wilayah penelitian diambil secara random untuk dilakukan pengujian kandungan nutrisinya, sedangkan sisanya di sterilisasi untuk dijadikan media pengembangbiakan B.thuringiensis H-14. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan hasil pengembangbiakan di media air kelapa yang didapatkan dari lokasi dengan ketinggian habitat yang berbeda-beda, serta efek toksisitasnya terhadap jentik Anopheles aconitus. Hasil uji analisa air kelapa dari pantai Parangtritis adalah kadar karbohidrat 1,82%, dengan lemak 0,02%, protein 0,04% dan gula reduksi sebesar 1,67%. Air kelapa dari kabupaten Purworejo kandungan karbohidrat 1,92%, lemak 0,01%. protein 0,06% dan gula reduksi 1,87%. Air kelapa dari Kabupaten Semarang kandungan karbohidrat 1,68%, lemak 0,01%, protein 0,12% dan gula reduksi 1,52%. Sedangkan kandungan karbohidrat dari air kelapa kota Salatiga adalah 3,12% merupakan kandungan yang tertinggi dibandingkan dari daerah lain, kandungan lemak 0,01%, protein 0,11% dan gula reduksi 2,97%, merupakan kandungan tertinggi dibandingkan dengan hasil dari daerah lain. Hasil pertumbuhan sel dan spora B.thuringiensis H-14 dari media air kelapa pantai Parangtritis pada pH 7,5 adalah 85,7 x1010 dan 11,1 x 1010, sedangkan dari kabupaten Purworejo jumlah sel dan spora yang dihasilkan adalah sebesar 2,3 x 1010 dan 2,5 x 1010. Media air kelapa dari kabupaten Semarang jumlah sel dan spora sebesar 24,9 x 1010 dan 23,9 x 1010, dan air kelapa yang berasal dari kota Salatiga 62,7 x 1010 dan 1,1 x 1010. Kesimpulan dari penelitian ini adalah B.thuringiensis yang dikembangbiakkan dalam media dari kabupaten Semarang memiliki Lc50 0,003 % dan Lc95 0,021%,yang merupakan Lc terkecil dibandingkan dengan B.thuringiensis yang dikembangbiakkan dalam media air kelapa dari daerah lain. Kata kunci : B.thuringiensis H-14, Air kelapa, toksisitas Abstract Using of Bacillus thuringiensis H-14 as a Biolarvacide are more commonly on this decade. Institute of Vector Control and Reservoir Disease (IVCRD) has used coconut as a medium for B.thuringiensis  H-14. This research used only coconut water that was took from many kind of places with difference on altitudes. Locations of this research were  from Parangtritis (with altitude < 20 m dpl)), Purwerojo district (150 m dpl), Semarang district (400 m dpl) and Salatiga municypality (650 m dpl). The objective of this study is to know what difference result of B.thuringiensis  H-14 spores that was growth from many kind of habitat (locations) which is diferent on altitudes, and the eficacy of B.thuringiensis H-14 to An.aconitus larvae. The nutrition that contain on coconut water was analise by Health Laboratory on Semarang District. Result of this research shows that coconut water from Parangtritis beach was contain of carbohidrat 1.82 %, fats 0.02%, protein 0.04% dan glucose 1.67%. Coconut water from Purworejo district was contain carbohydrat 1.92%, fats 0.01%, protein 0.06% and glucose 1.87%. There for coconut water from Semarang district was contain carbohydrats 1.68%, fats 0.01%, protein 0.12% and glucose 1.52%. And the coconut water from Salatiga Munycipality was contain carbohydrat 3.12%, that is the highest than others, fats 0.01%, protein 0.11% and glucose 2.97%. Number of sels and spores that growth on that medium were different. Number of sels and spores from parangtritis beach medium were85.7 x 1010 and 11.1 x 1010. Coconut water medium from Purworejo district may potencial to growth B. thuringiensis H.14. number sels and spores from Purworejo district medium were 2.3 x 1010 and 2.5 x 1010. Coconut water medium from Semarang district could resulting number of sels and spores were 24.9 x 1010 and 23.9 x 1010, and the medium from Salatiga municypality were 62.7 x 1010 and 1.1 x 1010. The efficacy from  B.thuringiensis to the An.aconitus larvae shows that lethal concentration from Semarang district were Lc50 0.003% dan Lc95 0.021%, which is the lowest concentration than B.thuringiensis that was growth on the medium from other places. Keywords : B.thuringiensis H-14, coconut water, An.aconitus
PENGGUNAAN METODE SURVEI PUPA UNTUK MEMPREDIKSI RISIKO PENULARAN DEMAM BERDARAH DENGUE DI LIMA WILAYAH ENDEMIS DI DKI JAKARTA Shinta, Shinta; Sukowati, Supratman
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 23, No 1 Mar (2013)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | http://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/MPK/article/view/3063

Abstract

Abstrak Demam berdarah dengue (DBD) adalah salah satu masalah kesehatan di Indonesia. Untuk saat ini, belum ada obat atau vaksin untuk mencegah DBD. Oleh karena itu pencegahan dan pengendalian vektor menjadi sangat penting. Indikator yang digunakan untuk melakukan surveilans dalam pengawasan kepadatan populasi Ae. aegypti dan memprediksi risiko penularan adalah pupa indeks. Pupa indeks digunakan untuk mengukur HPI, CPI, pupa/orang, pupa/rumah, dan pupa/ kontainer. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui habitat reproduksi terbesar, kepadatan penduduk dan persentase pupa di lima kecamatan di DKI Jakarta yaitu Johar Baru (Jakarta Pusat), Tanjung Priok (Jakarta Utara), Kramat Jati (Jakarta Timur), Kebun Jeruk (Jakarta Barat), dan Cilandak (Jakarta Selatan). Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan teknik stratified random sampling. Hasil penelitian menunjukkan habitat pupa Ae. Aegypti, yaitu kontainer air (bak mandi, bak WC, drum, tempayan, bak wudhu, dan bak tandu), wadah air  tidak permanen (barang bekas, bekas sumur, vas/pot bunga, kolam/akuarium, tempat minum unggas, tatakan dispenser, wastafel dan bath tube), habitat alami (potongan bambu dan pelepah daun). Nilai rata-rata indeks pupa di lima wilayah penelitian adalah CPI = 8,45%; HPI = 23,98%; pupa/orang = 0,65; pupa/rumah = 3,58; dan pupa/kontainer = 0,96. Ada konsistensi nomor indeks di semua wilayah penelitian;  Jika indeks HPI tinggi, indeks pupa lainnya akan tinggi juga. Kata kunci: Aedes aegypti, pupa indeks, DBD Abstract Dengue fever is one of the most concerning health problems in Indonesia. For this time, there are merely no known medicines or vaccines to prevent this disease from manifesting. Rigorous studies are still conducted intensively.  Hence, vector prevention and control efforts become very important. Indicator used here to conduct surveillance, measure Ae.aegypti population density and predict transmission risk was pupa index. Pupa index was used to measure HPI, CPI, pupae/person, pupae/house, and pupa/container. This research is aimed to determine the biggest reproduction habitat, population density and pupae percentage in five sub districts in DKI Jakarta; Johar Baru (Central Jakarta), Tanjung Priok (North Jakarta), Kramat Jati (East Jakarta), Kebun Jeruk (West Jakarta), and Cilandak (South Jakarta). Method used was descriptive throught the technique was stratified random sampling technique.  Result of this study showed various reproduction of Ae.aegypti pupae habitat. They were water containers (bathtub, lavatory, drums, jars, buckets, tubs ablution and bath water litters) and non-water containers (used goods, wells that are not used, vase, flower pots, pool, aquarium, drinking birds, dispenser, wastafel, and bath tub) and natural habitats (pieces of bamboo and leaf midrib). The mean value of pupae index in five research regions were CPI=8.45%; HPI=23.98%; pupae/person=0.65; pupae/house=3.58; and pupae/container=0.96.  There’s an index number consistency in all research regions.   If the HPI index is high, the other pupae indexes will be high too. Keywords:  Aedes aegypti, pupae index, DHF
PENILAIAN INDEKS DMF-T ANAK USIA 12 TAHUN OLEH DOKTER GIGI DAN BUKAN DOKTER GIGI DI KABUPATEN KETAPANG PROPINSI KALIMANTAN BARAT Notohartojo, Indirawati Tjahja; D.A., Magdarina
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 23, No 1 Mar (2013)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | http://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/MPK/article/view/3064

Abstract

Abstrak Indeks DMF-T adalah indeks untuk menilai  status kesehatan gigi dan mulut dalam hal karies gigi permanen. Karies gigi umumnya disebabkan karena kebersihan mulut yang buruk, sehingga terjadilah akumulasi plak yang mengandung berbagai macam bakteri. Indikator utama pengukuran DMF-T menurut WHO adalah pada anak usia 12 tahun. Penelitian ini menggunakan desain penelitian Uji beda mean , dengan membandingkan hasil pengukuran 10 (sepuluh) dokter gigi dan 10 (sepuluh) bukan dokter gigi. Penelitian dilakukan di propinsi Kalimantan Barat, dikarenakan memiliki DMF-T tinggi. Subjek penelitian berjumlah 30 anak, yang terdiri dari anak laki-laki dan anak perempuan berusia 12 tahun. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan pemeriksaan dokter gigi dan bukan dokter gigi dan untuk  mendapatkan ketepatan pemeriksaan agar hasil survei kesehatan gigi dan mulut melalui Riskesdas yang akan datang atau survei lainnya yang dilakukan dengan metode observasi dapat diprediksi dengan lebih tepat. Hasil penelitian  didapatkan  rata-rata DMF-T dengan pemeriksa dokter gigi  adalah 3.35, sedangkan pemeriksa bukan dokter gigi adalah 3.15, dengan beda mean 0.1967, dan nilai p ; 0.0001, yang berarti  bermakna. Agar didapat hasil yang baik dan akurat dalam pengukuran  DMF-T sebaiknya dilakukan oleh dokter gigi atau perawat gigi. Kata kunci : karies, indeks DMF-T, dokter gigi, bukan dokter gigi Abstract DMF-T index is an index to assess oral health status in terms of permanent tooth caries. Dental caries are usually caused by poor oral hygiene, so that there is an accumulation of plaque contains a variety of bacteria. The main indicator of DMF-T measurements according to the WHO is for 12-years old children. A cross sectional study was conducted to compare DMF-T index assessed by 10 dentists and 10 non dentists. It was conducted in West Kalimantan province, due to having high DMF-T index. A total of 30 children aged 12 years old, consisting of boys and girls, were examined. The purpose of this study was to obtain the accuracy of examination in order to decide wheter non dentist are suitable to assess DMF-T index for the coming Riskesdas or other surveys conducted by observational method. The average of DMF-T index assessed by dentists (3.35) and non dentists (3.15) was significantly different (mean difference 0.1967, p=0.0001). To get good and accurate results of DMF-T index, it is better to be be done by dentist or dental nurse. Keywords : caries, DMF-T index, dentist, non dentist.

Page 1 of 1 | Total Record : 6