cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
ISSN : 08539987     EISSN : 23383445     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Media Health Research and Development ( Media of Health Research and Development ) is one of the journals published by the Agency for Health Research and Development ( National Institute of Health Research and Development ) , Ministry of Health of the Republic of Indonesia. This journal article is a form of research results , research reports and assessments / reviews related to the efforts of health in Indonesia . Media Research and Development of Health published 4 times a year and has been accredited Indonesian Institute of Sciences ( LIPI ) by Decree No. 396/AU2/P2MI/04/2012 . This journal was first published in March 1991.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue " Vol 25, No 1 Mar (2015)" : 8 Documents clear
ANALISIS MODEL FAKTOR RISIKO YANG MEMPENGARUHI INFEKSI KECACINGAN YANG DITULARKAN MELALUI TANAH PADA SISWA SEKOLAH DASAR DI DISTRIK ARSO KABUPATEN KEEROM, PAPUA Sandy, Semuel; Sumarni, Sri; Soeyoko, Soeyoko
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 25, No 1 Mar (2015)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.182 KB)

Abstract

AbstrakInfeksi kecacingan yang ditularkan melalui tanah masih merupakan masalah kesehatan di daerah pedesaan. Parasit cacing yang paling banyak menginfeksi adalah Ascaris lumbricoides, Cacing tambang (hookworm) dan Trichuris trichiura. Penyakit ini umumnya terkait dengan faktor sosial-ekonomi, perilaku hidup bersih dan sehat. Penelitian bertujuan mengetahui prevalensi infeksi kecacingan yang ditularkan melalui tanah pada siswa sekolah dasar (SD) di Distrik Arso Kabupaten Keerom dan mengetahui hubungan infeksi kecacingan yang ditularkan melalui tanah terhadap status gizi, status anemia, sosial ekonomi orang tua murid, sanitasi lingkungan dan higiene perorangan. Penelitian menggunakan metode potong lintang (cross sectional) dengan melakukan pengukuran antropometri tinggi badan, berat badan, pengukuran kadar Hb untuk melihat status anemia pada 224 murid SD di Distrik Arso Kabupaten Keerom. Pengumpulan data sosial-ekonomi, sanitasi, higiene perorangan mengunakan kuesioner. Pemeriksaan infeksi kecacingan menggunakan metode Kato-Katz dan pengukuran variable intensitas infeksi berdasarkan metode WHO. Analisis statistik bivariat dan multivariat digunakan untuk melihat variabel faktor risiko yang berperan dalam penularan infeksi kecacingan yang ditularkan melalui tanah. Hasil penelitian menunjukkan infeksi kecacingan pada anak sekolah dasar didapatkan sebesar 29,9% dari 224 murid SD. Jumlah murid sekolah dasar yang terinfeksi ascariasis 23,2%, terinfeksi cacing tambang 7,6% dan terinfeksi trikhuriasis 4,9%. Sedangkan murid SD yang mengalami anemia 12,5% dan indeks massa tubuh (IMT) kurang 79,5%. Hasil analisis multivariat menggunakan regresi logistik diperoleh variabel faktor risiko yang berkaitan dengan infeksi kecacingan STH yaitu: kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dengan air dan sabun (OR = 0,33; 95% CI 0, 14-0, 78 dan nilai p = 0,012). Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian infeksi kecacingan yang ditularkan melalui tanah pada anak sekolah dasar di Distrik Arso Kabupaten Keerom adalah faktor kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dengan air dan sabun.Kata kunci : soil transmitted helminths, anemia, status gizi, higiene, sanitasi lingkunganAbstractSoil transmitted helminths infections (STH) is still become a health problem in rural area. STH is parasitic worm that infects most are Ascaris lumbricoides, hookworm and Trichuristrichiura. The STH infections were associated with socio-economic factors, sanitation, and personals hygiene. This study aims to determine the prevalence of STH infection on primary students in District Arso, Keerom and the relationship between STH infection and the nutritional status, anemia status, socio-economic, sanitation and hygiene. Studies used cross sectional design, involving 224 primary students in District Arso, anthropometric parameter were measured, assessment of anemia and detection of helmintheseggs used Kato-Katz method. Socio-economic data, sanitation, personal hygiene were measured with questionnaires. Bivariate and multivariate statistical analysis was used to determine the association between STH infections with risk factors. The prevalence of STH is 29.9% (67 students) of the 224 students with mild infection intensity at each primary students. The prevalence of ascariasis is 23.2%, hookworm is 4.9%, and trichuriasis is 7.6%. While the primary school students who are anemic 12.5% and body mass index (BMI) less than 79.5%. Multivariate analysis using logistic regression obtained variable risk factors associated with worm infection STH is habit of washing hands with water andsoap before eating (OR = 0.330, 95% CI 0.140 to 0.346 and p = 0.012).It is Concluded that risk factors associated with the incidence of STH infection on primary students in District Arso Keerom are washing hands with water and soap before eating.Keywords : soil transmitted helminths, anemic, nutritional status, hygiene, environmental sanitation
UJI IRITASI DAN AKTIVITAS PERTUMBUHAN RAMBUT TIKUS PUTIH: EFEK SEDIAAN GEL APIGENIN DAN PERASAN HERBA SELEDRI (Apium graveolens L.) Kuncari, Emma Sri; Iskandarsyah, Iskandarsyah; Praptiwi, Praptiwi
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 25, No 1 Mar (2015)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.872 KB)

Abstract

AbstrakPerasan seledri (Apium graveolens L.) biasa dipergunakan untuk memacu pertumbuhan rambut. Salah satu senyawa utama yang terkandung di dalam seledri adalah apigenin. Penelitian ini membahas tentang pengaruh pemakaian gel yang mengandung apigenin dan perasan herba seledri sebagai penumbuh rambut, meliputi uji iritasi dan aktivitas pertumbuhan rambut pada tikus putih jantan galur Spraque-Dawley. Uji iritasi menggunakan metode Kamkaen dan Rao, sedangkan uji aktivitas penumbuh rambut menggunakan metode Hattori-Ogawa dan Suzuki-Hamada. Berdasarkan indeks iritasi primer, semua formulasi gel tidak potensial menyebabkan iritasi pada kulit tikus putih (p>0,05). Gel yang mengandung apigenin dan perasan herba seledri menunjukkan aktivitas lebih baik dalam memacu pertumbuhan rambut (p<0,05) dibandingkan kontrol tanpa perlakuan. Apigenin menunjukkan aktivitas lebih baik (p<0,05) dalam meningkatkan ketebalan rambut dibandingkan kontrol tanpa perlakuan.Namun perlakuan perasan herba seledri tidak nyata (p>0,05) meningkatkan ketebalan rambut. Dapat disimpulkan bahwa gel yang mengandung apigenin dan perasan herba seledri dapat meningkatkan pertumbuhan rambut pada tikus putih dibandingkan kontrol tanpa perlakuan.Kata kunci : seledri, apigenin, gel, iritasi kulit, penumbuh rambutAbstractCelery (Apium graveolens L.) juice is widely used for promoting hair growth. One of the main compounds in celery is apigenin. This research discusses about the effect of gel containing apigenin and celery juice application as hair growth in term of skin irritation and its hair growth activity on Spraque-Dawley male mice. The irritation test was Kamkaen and Rao methods, while hair growth activity was HattoriOgawa and Suzuki-Hamada methods. Based on primary index irritation, all of the gel formulations did not signifiantly potential in resulting skin irritation on the mice (p>0,05). Gel containing apigenin andcelery juice showed better activity in promoting hair growth (p<0,05) than control without treatment. Apigenin showed better activity (p<0,05) in increasing hair thickness as well than control without treatment. However treatment of celery juice did not signifiantly (p>0,05) increase hair thickness. Itcan be concluded that gel containing apigenin and celery juice may result in better hair growth on mice compared to control without treatment.Keywords : celery, apigenin, gel, skin irritation, hair growth
PENGETAHUAN SIKAP DAN PERILAKU MASYARAKAT TENTANG MALARIA DI DAERAH ENDEMIS KALIMANTAN SELATAN Suharjo, Suharjo
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 25, No 1 Mar (2015)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (542.73 KB)

Abstract

AbstrakMalaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dan upaya pencegahan masih terus diupayakan oleh pemerintah. Di Kalimantan Selatan yaitu kecamatan Mantewe merupakan daerah terpencil dan endemis malaria, dan pernah dilaporkan ada kasus meninggal karena malaria pada 2006.Penduduk di Mantewe adalah suku Dayak dan transmigran asal Jawa yang bekerja sebagai petani dan pendulang emas serta berpendidikan rendah. Penelitian dilakukan dengan tujuan ingin mengetahui karakteristik, pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat tentang pencegahan malaria. Jumlah sampelsebanyak 200 responden ditentukan dengan rumus secara statistik. Pemilihan responden dilakukan secara acak sederhana dari populasi yang telah ditentukan. Hasil penelitian didapatkan sebanyak 200 responden berhasil diwawancarai. Dari jumlah tersebut 98,0% responden pernah tahu atau mendengar tentang malaria, dan sisanya hanya 2,0% responden yang menyatakan tidak tahu atau belum pernah mendengar tentang malaria. Mengenai gejala malaria 50,3% responden menyebut demam menggigil, 39,3% responden mengaku sakit kepala dan 5,2% responden menjawab muka pucat dan kurang nafsu makan. Sikap responden dalam upaya pencegahan malaria sudah cukup positif. Perilaku pencegahan gigitan malaria 77,0% responden memakai kelambu, dan 23,0% responden menggunakan obat nyamuk bakar/disemprot. Kesimpulan, secara umum pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat terhadap malaria sudah baik. Perilaku mereka masih sebatas akan melakukan dan belum diwujudkan dalam tindakan nyata, sehingga keberadaan nyamuk malaria masih tetap tinggi. Disarankan kepada Dinas Kesehatan setempat untuk meningkatkan surveilance malaria dan dilakukan penelitian yang lebih komprehensif.Kata kunci : pengetahuan, sikap, perilaku, masyarakat, endemis, malaria.AbstractMalaria remains a public health problem in Indonesia and prevention efforts continue to be pursued by the government. In South Kalimantan, subdistrict Mantewe is a remote area and endemic malaria, and there have been reported cases died of malaria in 2006. Residents in Mantewe is Dayak and transmigrants from Java who worked as farmers and miners of gold and less educated. The study was conducted with the aim to investigate the characteristics, knowledge, attitudes and behavior about malaria prevention. The total sample of 200 respondents was determined by statistical formulas. Selects respondents randomly from the population that has been determined. The results showed as many as 200 respondents were interviewed. Of these 98.0% of respondents never knew or heard of malaria, and the rest is only 2.0% of respondents who did not know or have never heard of malaria. Regarding the incidence of malaria by 50.3% of respondents mention fever chills, 39.3% of respondents reported headache and 5.2% of the respondents answered pallor and lack of appetite. The attitude of the respondents in the prevention of malaria has been quite positive. Behavior bite prevention of malaria nets 77.0% of respondents,and 23.0% of respondents use mosquito coils/sprayed. Conclusions, general knowledge, attitudes and behavior toward malaria are good. Their behavioris still limited will do and have not been realized in action, so the presence of the malaria mosquito remains high. It is recommended to the local Health Department to improve malaria surveillance and more comprehensive research.Keywords : knowledge, attitude, behavior, society, endemic, malaria.
KAJIAN PESTISIDA BERBAHAN AKTIF ANTIBIOTIKA Raini, Mariana
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 25, No 1 Mar (2015)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.476 KB)

Abstract

AbstrakPenyakit tanaman yang disebabkan oleh bakteri dapat menghambat produksi panen dan sangat sukar dikendalikan karena selain gejala-gejala penyakit yang nampak, bakteri dapat masuk ke dalam jaringan tanaman sehingga sulit untuk dibasmi hanya dengan memangkas jaringan yang terinfeksi atau pemberian pestisida pada permukaan tanaman. Pestisida antibiotika merupakan senyawa kimia yang sangat baik untuk mengatasi penyakit bakteri dan jamur pada tanaman. Sayangnya, muncul strain bakteri resisten terhadap antibiotika telah membatasi efektifias antibiotika tersebut dalam bidang medik.Resistensi pestisida antibiotika juga telah mengacaukan pengendalian penyakit pada tanaman. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis pestisida antibiotika sehingga dapat dipertimbangkan penggunaannya di Indonesia. Metoda yang digunakan adalah mengkaji artikel pestisida antibiotika dari berbagai jurnalnasional dan internasional. Kajian ini akan menguraikan tentang pestisida antibiotika, jenis, cara kerja, toksisitas, resistensi, dampak yang ditimbulkan, sehingga dapat untuk pertimbangan registrasi di Indonesia. Dengan mempertimbangkan dampak yang ditimbulkan, perilaku petani, sebaiknya dilakukan evaluasi terhadap pestisida antibiotika dan tidak diizinkan untuk beredar di Indonesia.Kata kunci : pestisida, antibiotik, resisten, kontrolAbstractPlant diseases that are caused by bacteria are able to inhibit the crop production. These diseases are very diffiult to manage because of the silent symptoms and bacterias can get into the plant tissues that make it diffiult to eradicate by pruning infected tissues or using pesticide on the plant surface. Antibiotic pesticide is an excellent chemical subtance for the control of several bacterial and fungal diseases in plants. Unfortunately, the emergence resistant strains of bacteria to antibiotics has limited their medical effiacy and reducing plants disease control. The aim of this study is to review articles of studies onantibiotics used as pesticide. The method used is by reviewing and analyzing articles from national and international journals of pesticidal antibiotics. This study describes lists of antibiotic pesticides, mechanism, toxicity, resistance and its impacts as a consideration for registration in Indonesia. By considering the impact and behavior of farmers, antibiotic pesticides have to be evaluated and should not be allowed to be marketed in Indonesia.Keywords : pesticide, antibiotics, resistance, control
EFEK PEMBERIAN SPILANTHES ACMELLA DAN LATIHAN FISIK TERHADAP JUMLAH SEL OSTEOBLAS FEMUR MENCIT YANG DIINDUKSI DEKSAMETASON Laswati, Hening; Agil, Mangestuti; Widyowati, Retno
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 25, No 1 Mar (2015)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (483.348 KB)

Abstract

AbstrakTelah dilakukan penelitian untuk mengetahui uji aktivitas anti-osteoporosis secara in vivo dari tanaman Spilanthes acmella terhadap sel osteoblas tulang trabekula proksimal femur mencit jantan model osteoporosis induksi deksametason. Penelitian ini dilakukan dengan rancangan penelitian posttest only control group, 60 ekor mencit jantan sehat (usia >5 bulan) dikelompokkan secara random menjadi 10 kelompok yaitu kelompok sehat tanpa induksi deksametason dan kelompok osteoporosis induksi deksametason. Kontrol positif mendapat suspensi alendronat dan kelompok latihan fiik menggunakantreadmill mencit berjalan 10m/menit bertahap selama 5 -12 menit, 3 kali dalam satu minggu, kelompok kombinasi ekstrak etanol 70% dan latihan fiik serta kelompok uji fraksi butanol, heksan, etil asetat dan air. Penelitian ini dilakukan selama 4 minggu. Osteoporosis akibat pemakaian glukokortikoid menjadi penyebab osteoporosis sekunder yang meningkatkan risiko fraktur. Telah banyak bukti klinik tentang peran fioestrogen dalam pengobatan osteoporosis pada pascamenopause. Spilanthes acmella, atau yang dikenal masyarakat dengan sebutan Legetan, termasuk famili Asteracea merupakan satu tanaman obat di Indonesia yang mempunyai kandungan senyawa polifenol dan flvonoid. Dari hasil penelitian sebelumnya diketahui bahwa baik fraksi butanol dan air dari tanaman tersebut mampu meningkatkan aktivitas enzim alkalin fosfatase yang merupakan marker pembentukan tulang. Hasil menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% Spilanthes acmella dikombinasikan dengan latihan fiik meningkatkan jumlah sel osteoblas secara bermakna bila dibandingkan dengan hanya ekstrak etanol atau latihan fiik. Ini membuktikan bahwa ekstrak etanol 70% Spilanthes acmella mempunyai efek additive terhadap efek latihan pembebanan aksial pada kondisi osteoporosis. Fraksi heksana, etil asetat dan air juga meningkatkan secara bermakna jumlah sel osteoblas. Fraksi non polar merupakan fraksi yang lebih potensial untuk pembentukan tulang karena fraksi tersebut banyak mengandung senyawa turunan amida dan sesquiterpena. Kesimpulan penilitian ini menunjukan adanya efek additive ekstrak etanol 70% dari Spilanthes Acmella pada latihan fiik dengan meningkatkan jumlah sel osteoblas.Kata kunci: Spilanthes acmella, osteoporosis sekunder, osteoblasAbstractStudy was conducted to analyse the anti-osteoporosis effect of Spilanthes acmella plant in vivo on osteoblast cell trabecular bone of femur male mice with dexamethasone- induced osteoporosis. This study using a post test control group design, 60 male healthy mice (>5 months old) were randomizely devided into 10 groups, there are healthy control group (without induction dexamethaxone), and osteoporosis groups (induction with dexamethaxone). The positive control receive suspension alendronat suspension and the exercise group walking using mice treadmill 10m/minute, 5-12 minutes 3 times a week,the combination group of 70% extract ethanol and exercise, the butanol, hexane, etil asetat and water fraction group. The study conducted for 4 weeks. Glucocorticoid-induced osteoporosis is leading cause of secondary osteoporosis and an increase in fracture risk. There were clinical evidence suggest a role for phytoestrogen in the treatment of post-menopausal osteoporosis. Spilanthes acmella, or already known by public society as Legetan, include in Asteracea family, is one of Indonesia medicinal plants that contain of polyphenol and flvonoids. Previously in vitro study showed that buthanol and water fraction from this plant have increased alkaline phosphatase that known as marker of bone formation.The results showed that 70% ethanol extract of Spilanthes acmella that combined by physical exercise increasing osteoblast cells signifiantly than only 70% ethanol extract or physical exercise. Additionally hexane, ethyl acetate and water fractions from Spilanthes acmella also increasing osteoblast cells signifiantly. Non-polar fraction is a potential fraction of bone formation because it contains many nonpolar compounds such as amides derivatives and sesquiterpene. The study concluded that 70% ethanol extract of Spilanthes acmella have an additive effect to weight bearing exercise in osteoporotic condition.Keywords : Spilanthes acmella, secondary osteoporosis, osteoblast
PENGARUH RADIASI SINAR GAMMA Co-60 TERHADAP STERILITAS DAN PERKEMBANGAN EMBRIO CULEX QUINQUEFASCIATUS Setiyaningsih, Riyani; Widiarti, Widiarti; Heriyanto, Bambang
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 25, No 1 Mar (2015)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (552.314 KB)

Abstract

AbstrakTeknik Serangga Mandul merupakan teknik pengendalian vektor yang ramah lingkungan dan spesifi target. Aplikasi Teknik Serangga Mandul dalam pengendalian Cx quinquefasciatus belum pernah dilakukan di Indonesia, sehingga perlu uji pendahuluan sebelum aplikasi ke alam. Penelitian bertujuanmenentukan dosis optimal iradiasi sinar gamma Co-60 yang dapat mensterilkan dan berpengaruh terhadap perkembangan embrio Culex quinquefasciatus. Pupa jantan diradiasi dengan sinar gamma pada dosis 50 Gy, 50 Gy, 60 Gy, dan 70 Gy. Radiasi di lakukan di BATAN Jakarta. Nyamuk jantan yang muncul dari pupa kemudian di kawinkan dengan betina normal. Hasil perkawinan diamati sterilitas telur dan perkembangan embrio. Hasil penelitian menunjukkan sinar gamma Co-60 dosis 40 Gy, 50 Gy, 60 Gy, dan 70 Gy menyebabkan sterilitas telur yang dihasilkan 20,919%, 48,995%, 89,48%, dan 100%.Perlakuan dosis 40 Gy menghasilkan telur steril dengan 29,39% mengandung embrio dan 70,66% tidak mengandung embrio. Perlakuan dosis 50 Gy menghasilkan telur steril dengan 16,71% mengandung embrio dan 86,56% tidak mengandung embrio. Perlakuan dosis 60 Gy 9,35% telur steril mengandungembrio dan 90,64% tidak mengandung embrio. Perlakukan dosis 70 Gy 100 % telur yang dihasilkan steril dan tidak mengandung embrio. Dosis optimal yang dapat mensterilkan dan berpengaruh terhadap perkembangan embrio Culex quinquefasciatus adalah dosis 70 Gy.Kata kunci : Teknik Serangga Mandul, Culex quinquefasciatus dan sterilitasAbstractSterile Insect Tecnique is a vector control techniques that are environmentally safe and specifi targets. SIT application in the control of Cx quinquefasciatus has never been done in Indonesia, so we need a preliminary test before application to the nature. The aim of the study are to determine the optimal dose of gamma Co-60 radiation to sterilize and effect develop of embrio Culex quinquefasciatus. Male pupae radiated with gamma rays at a dose of 50 Gy, 50 Gy, 60 Gy, and 70 Gy. Radiation conducted in BATAN Jakarta. Male mosquitoes emerging from the pupa then matting with a normal female. Eggs producingfrom matting obserbed for the sterility and embryonic development. The result of the study showed that gamma Co-60 ray dose of 40 Gy, 50 Gy, 60 Gy, and 70 Gy caused sterility of eggs produced 20.919%, 48.995%, 89.48%, and 100%. At a dose of 40 Gy produced sterile eggs containing embryos with 29.39% and 70.66% does not contain an embryo. At a dose of 50 Gy produced sterile eggs containing embryos with 16.71% and 86.56% does not contain an embryo. At a dose of 60 Gy 9.35% sterile eggs containing embryos and 90.64% does not contain an embryo. Dose of 70 Gy 100% of eggs produced sterile anddoes not contain an embryo. Thus, the optimal dose to sterilize and effect on embryo development Culex quinquefasciatus is a dose of 70 Gy.Keywords : Sterile Insect Technique, Culex quinquefasciatus, Sterility
ANALISIS GEN HAEMAGGLUTININ PADA VIRUS CAMPAK LIAR Subangkit, Subangkit; Mursinah, Mursinah; Bela, Budiman; Ibrahim, Fera
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 25, No 1 Mar (2015)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.115 KB)

Abstract

AbstrakPenyakit Campak disebabkan oleh virus campak yang termasuk genus Morbilivirus dan Family Paramyxoviridae. Penyakit campak masih menjadi masalah kesehatan karena masih ditemukan Kejadian Luar Biasa (KLB) di Indonesia. Salah satu penyebab terjadinya KLB tersebut diduga sebagaiakibat perbedaan antigenesitas antara strain vaksin yang digunakan dengan strain virus campak liar yang beredar di Indonesia. Penelitian ini bertujuan mendapatkan gambaran tentang karakteristik genetik gen Haemagglutinin virus campak liar yang ada di Indonesia. Spesimen yang digunakan sebanyak 27 isolat virus penyebab KLB dari 17 propinsi selama periode tahun 2003-2010. Isolat virus dilakukan pemeriksaan secara RT-PCR dan sekuensing dengan metode Sanger. Hasil sekuensing dianalisis dengan menggunakan perangkat lunak Bioedit 7.0 dan MEGA 4.0. Hasil penelitian didapatkan perbedaan 10 asam amino antara virus campak strain vaksin CAM-70 dan virus campak liar pada posisi D416N; K424T; V451M; N455T; V466I; I473T; F476L; Y481S atau Y481N; H495N; G505D. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat perbedaan karakteristik genetik antara virus campak liar di Indonesia berbeda dengan strain virus vaksin CAM-70.Kata kunci : Campak, Analisis Molekuler, Hemagglutinin, CD46AbstractMeasles is caused by virus belonging to the genus Morbilivirus and Family Paramyxoviridae. Measles is still a public health problem because outbreak of measles still found in Indonesia. Outbreak is suspected as a result of differences in antigenicity between vaccine strains used with wild-type measles virus strains circulating in Indonesia. This study aims to get genetic characteristics of wild-type measles virus haemagglutinin gene in Indonesia. The specimens were used 27 viral isolates from 17 provinces period 2003-2010. Viral isolates examined by RT-PCR and sequencing with Sanger method. Sequencing analysis were conducted using Bioedit 7.0 and MEGA 4.0 software. The results showed 10 amino acid differences between the vaccine strain measles virus CAM-70 and wild-type measles virus in position D416N; K424T; V451M; N455T; V466I; I473T; F476L; Y481S or Y481N; H495N; G505D. Conclusion: There is a difference between the genetic characteristics of wild-type measles virus in Indonesia and vaccine strain CAM-70.Keywords : Measles, Molecular Analisys, Haemagglutinin, CD46
DETEKSI ANTIGEN EKSKRETORI-SEKRETORI Schistosoma japonicum DENGAN METODE ELISA PADA PENDERITA SCHSISTOSOMIASIS DI NAPU SULAWESI TENGAH Samarang, Samarang; Satrija, Fadjar; Murtini, Sri; Nurjana, Made Agus; Chadijah, Sitti; Maksud, Malonda; Tolistiawaty, Intan
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 25, No 1 Mar (2015)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.206 KB)

Abstract

bstrakDeteksi antigen ekskretori-sekretori Schistosoma japonicum (S.japonicum) dengan metode ELISA pada penderita schistosomiasis dilakukan di Napu Kabupaten Poso selama sembilan bulan, yaitu dari April hingga Desember 2013. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan nilai optical density (OD)pada penderita positif schistosomiasis dengan infeksi tinggi, sedang, dan rendah. Menetapkan nilai sensitivitas dan spesifiitas dari konformasi ELISA yang digunakan. Kegiatan dalam penelitian yang dilakukan meliputi kegiatan di lapangan dan kegiatan di laboratorium. Kegiatan di lapangan antara lainsurvei tinja dan survei darah. Kegiatan di labotarorium adalah optimasi ELISA. Hasil penelitian yaitu diperoleh nilai absorbansi pada infeksi rendah berkisar 0.468 ± 0.699 dengan kepadatan telur 1-10 telur/ slide, pada infeksi sedang nilai absorbansinya berkisar 0.700 ± 0.899 dengan kepadatan telur 11-20telur/slide dan untuk infeksi tinggi nilai absorbansinya yaitu 0.900 ± 1.166 dengan kepadatan telur 21-44 telur/slide. Nilai sensitivitas sebesar 74% dan untuk nilai spesifiitasnya sebesar 90%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah metode ELISA yang dikembangkan mempunyai nilai sensitivitas dan spesifiitasbaik untuk mendeteksi AgES S. japonicum pada serum penderita schistosomiasis.Kata Kunci: Schistosomiasis, ELISA, Sensitivitas, Spesifiitas, Indonesia.AbstractDetection of Schistosomajaponicum (S.japonicum) excretory-secretory antigens by ELISA method in human schistosomiasiswas conducted in Poso district Napu valey for nine months, from April to December 2013. The purpose of the study was to get the optical density for the low, medium, and high infection at human schistosomiasis and than to determine the specifiity and sensitivity ELISA conformation. The activities in this study with the laboratory and the fild. The fild activities included stool survey and blood survey. The laboratory activities was optimization of the ELISA method. The results of the study obtained value of sensitivity was 74% and specifiity 90%. Absorbance values ranges from 0699±0468 with density of eggs 1-10 eggs/slide was low infection, the absorbance values was 0.700±0.899 for medium infection the density of eggs 11-20 eggs/slide and high infection the absorbance values were 0.900±1,166 with density of eggs 21-44 eggs/slide. Therefore, it can be concluded of this study that developed ELISA method has good sensitivity and specifiity values for detecting ESAg S.japonicumin human schistosomiasis.Keywords: Schistosomiasis, ELISA, sensitivity, specifiity, Indonesia

Page 1 of 1 | Total Record : 8