cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
ISSN : 08539987     EISSN : 23383445     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Media Health Research and Development ( Media of Health Research and Development ) is one of the journals published by the Agency for Health Research and Development ( National Institute of Health Research and Development ) , Ministry of Health of the Republic of Indonesia. This journal article is a form of research results , research reports and assessments / reviews related to the efforts of health in Indonesia . Media Research and Development of Health published 4 times a year and has been accredited Indonesian Institute of Sciences ( LIPI ) by Decree No. 396/AU2/P2MI/04/2012 . This journal was first published in March 1991.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 3 Sept (2001)" : 7 Documents clear
KEBIASAAN MEMBERIKAN MAKANAN KEPADA BAYI BARU LAHIR DI PROPINSI JAWA TENGAH DAN JAWA BARAT (NEW BORN INFANT FEEDING HABIT IN CENTRAL JAVA AND WEST JAVA) Widodo, Yekti
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 11, No 3 Sept (2001)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v11i3 Sept.678.

Abstract

Initiation of breast milk should be given to the baby as soon as possible, not more than half hour after the baby was bora If initiate of breast milk is not early, it will be difficult to avoid introduced other food than breast milk to new bom be infant. The objective of research is to know how the community habit, especially in Central Java and West Java in order with infant feeding for new born infant The result of the research showed 77,0% respondent introduced other food to new born infant and 23% respondents initiated breast milk soon after the baby bora Two reason for mother introduced other food before they give breast milk First, as "baby food' for the new born infant (knowing as prelacteal food). Kind of this food are honey (64,2%), water-honey (11,73%), boiled water (13,5%), and milk formula (10,6%). They gave this food for prelacteal food, because breast milk not flows yet (64,8%), for the baby not hungry (14,8%), suggested by traditional birth attendance (dukun bayi), suggested by grandmother (4,7%) and mother not ready yet to give breast milk (3,6%). Second, Not as 'baby food', but because the culture. Usually they give other food just once time, in the first minutes of the baby life. After that, they give breast milk. The kinds of this food are solution water coffee (19,4%), pepper (29,6%), "kurma" (3,7%), onion (21,3%), lime juice (5,6%) and salt solution (18,8%), also white egg (1,9%). The reason to give that food are: to bring out dirty things from baby stomach (82,4%) as the not cramp (13,9%), and religion (3,7%). Actually, the first reason suggested by traditional birth attendance as a "helping delivery package" . This always doing by the traditional birth attendance
KEMUNGKINAN MALARIA PRIMATA SEBAGAI MASALAH ZOONOSIS Shinta, Shinta
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 11, No 3 Sept (2001)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v11i3 Sept.679.

Abstract

Until today, four species of Plasmodium are pedicular to inan {Plasmodium falciparum, P. vivax, P. malariae, and P. ovale) and at least five species are common in simian: Plasmodium inue, P. cynomolgy, P. knowlesi, P. brasilianum and P. simium. There is little doubts that simian Plasmodium can infect man, it is known as zoonosis. Number of cases of zoonosis infection of simian Plasmodium have been reported from several countries; P. knowlesi (1965), in America, P. simium (1966) in Brazilia, P. inui (1971) in Pahang Malaysia, P. cynomolgi (1973) in America and P. Brazilianum in Sao Paulo (1966, 1995). While pro and contra about zoonotic malaria still not clearly discussed, the new cases have occurred. This give an indication that this zoor >tic malaria will probably be in Indonesia where human, primate, Plasmodium (agents) and vector live in the same ecosystem. This paper will discuss the simian Plasmodium and its possibility to be a zoonotic malaria.
UJI TOKSISITAS AKUT (LD50) DAN ANTIPIRETIK INFUS RIMPANG ZINGIBER purpureum ROXB (BENGLE) PADA HEWAN PERCOBAAN Pudjiastuti, Pudjiastuti; Sa'roni, Sa'roni; Nuratmi, Budi
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 11, No 3 Sept (2001)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v11i3 Sept.680.

Abstract

Bengle (Zingiber purpureum ROXB) teramasuk famili Zingiberaceae. Ini merupakan tanaman yang banyak dikenal oleh masyarakat dan biasa digunakan untuk menanggulangi penyakit, salah saru diantaranya adalah sebagai penurun panas. Untuk mengetahui keamanan khasiat penggunaannya, perlu didukung data ilmiah maka dilakukan uji toksisitas akut (LD50) dan antipiretik rimpang bengle pada hewan coba. Uji toksisitas akut menggunakan cara Weil C.S. dengan mencit sebagai hewan percobaannya. Dan, uji antipiretik menggunakan cara B.Wahjoedi yang dimodifikasi dengan tikus sebagai hewan percobaan. Hasil percobaan LD50 infus rimpang bengle adalah 31,56 (24,96 - 39,87)mg/10g bb, menurut penggolongan Gleason termasuk dalam bahan Practically Non Toxic. Hasil uji antipiretik infus rimpang bengle dosis 220mg/100 g bb tidak berbeda dengan asetosal dosis 0,52mg/100g bb.
UJI DAYA ANTIBAKTERI INFUS DAN EKSTRAK KULIT BATANG PULOSARI (ALYXIA REINWARDTII BL.) SECARA IN-VITRO DAN UJI TOKSISITAS (LD50) EKSTRAK Sundari, Dian; Nuratmi, Budi; Soekarso, Triyani
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 11, No 3 Sept (2001)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v11i3 Sept.681.

Abstract

Pulosari (Alyxia reinwardtii BI) dari famili Apocynaceae sering digunakan untuk mengobati beberapa keluhan penyakit baik bahan tunggal maupun campuran dalam b antuk ramuan jamu. Secara empirik pulosari digunakan antara lain untuk obat disentri dan diare (mencret). Untuk mengetahui efek antibakteri dari kulit batang pulosari, telah dilakukan uji daya antibakteri dari infus dan ekstrak etanol 70% terhadap bakteri penyebab disentri dan diare seperti Salmonella typhi, Escherichia coli, Shigella dysentria dan Vibrio cholera. Selain itu juga dilakukan uji toksisitas akut (LD50 dari ekstraknya.Pengujian antibakteri dilakukan secara in-vitro memakai metoda difusi agar dengan cakram kertas. Bahan uji yang dicoba adalah infus dengan konsentrasi 20%, 40% dan 80% dan ekstrak konsentrasi 45%, 55% dan 65%. Sebagai pembanding digunakan antibiotik Kloramfenikol dan Tetrasiklin, sedangkan akuades sebagai kontrol. Untuk uji LD50 memakai metoda Weil, C. S. menggunakan hewan percobaan mencit.Hasil penelitian menunjuk an bahwa infus kulit batang pulosari sampai konsentrasi 80% tidak memperlihatkan efek antibakteri untuk semua bakteri uji, sedangkan ekstraknya terlihat adanya efek anubakteri terhadap bakteri Vibrio cholerae pada semua konsentrasi yang dicoba. Dari hasil uji toksisitas akut (LD50) nya, emstrak puloari termasuk golongan Moderately Toxic.
KAITAN PENGETAHUAN, PERILAKU, DAN KEBIASAAN DENGAN INFEKSI KECACINGAN PADA PEKERJA PEMBUATAN BATA MERAH DI DESA MEKAR MUKTI, CIKARANG Hasyimi, M.; Shinta, Shinta; Roswita, Roswita
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 11, No 3 Sept (2001)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v11i3 Sept.682.

Abstract

Telah dilakukan survai prevalensi kecacingan pada pekerja pembuatan bata merah (Lio) di desa Mekar Mukti Cikarang Bekasi Jawa Barat Survai dilakukan pada bulan Agustus - November 1995. Survai ini dilakukan dengan melibatkan sembilan perusahaan , dengan jumlah pekerja 70 orang. Empat puluh lima pekerja di antaranya (64,28%) telah menyerahkan tinjanya untuk diperiksa terhadap infeksi telur cacing. Untuk mendapatkan data tentang karakteristik , pengetahuan dan kebiasaan responden telah dilakukan wawancara dengan alat bantu kuesioner. Sedangkan pemeriksaan tinja dengan cara pemeriksaan langsung.Hasil pemeriksaan tinja memperlihatkan 43 tinja (95,5%) positif Ascaris lumbricoides, lima tinja (11,11%) positif Trichuris trichiura dan empat tinja (8,88%) positif cacing tambang dan dua tinja (4,44%) negatif. Hasil wawancara menunjukkan bahwa pekerja yang pekerjaannya menggali tanah sekaligus mencetak bata merah sebanyak 38 orang (54,28 %), menggali tanah saja 13 orang (18,57%) dan mencetak saja enam orang ( 8,57 %). Pengetahuan mereka tentang cara mencegah kecacingan memperlihatkan bahwa 33 orang ( 47,14 %) mengetahui cara pencegahannya dan 37 orang (52,85%) tidak tahu dan tidak menjawab pertanyaan. Kebiasaan para pekerja mencuci tangan sebelum makan, memperlihatkan bahwa mereka yang selalu mencuci tangan dengan sabun sebanyak 30 orang ( 42,85 %) , mereka yang hanya kadang-kadang mencuci tangan 20 orang (28,57 %), mereka yang tidak mencuci tangan sama sekali sebanyak 14 orang (5,71 %). Pada umumnya mereka makan menggunakan sendok (82,85 %) dan mereka yang hanya kadang-kadang menggunakan 5,71 %.,dan selebihnya tidak menggunakan sendok.
UJI KHASIAT ANTIDIARE INFUS DAUN JATI BELANDA (GUAZUMA ulmifolia LAMK.) PADA TIKUS PUTIH Sundari, Dian; Nuratmi, Budi; Widowati, Lucie
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 11, No 3 Sept (2001)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v11i3 Sept.683.

Abstract

Salah satu pemakaian empirik daun jati-belanda adalah sebagai obat mencret atau diare. Diketahui di dalam daun jati-belanda terkandung zat yang berperan sebagai astrigen yaitu menciutkan lapisan permukaan usus, sehingga mengurangi kepekaan sekresi yang dapat menekan peristaltik usus. Untuk mengetahui efek antidiare infus daun jati-belanda, telah dilakukan percobaan uji khasiat antidiare infus daun jati-belanda (Guazuma ulmifolia Lamk.) menggunakan model tikus putih yang dibuat diare dengan pemberian minyak jarak. Infus daun jati-belanda diberikan secara oral dengan dosis 60 mg, 180 mg dan 600 mg/100 g bb. satu jam sebelum pemberian minyak jarak. Sebagai pembanding positif digunakan Loperamide HC1 dengan dosis 0,12 mg/100 g bb. serta akuades sebagai kontrol negatif. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pemberian infus dengan dosis 60 mg dan 180 mg/100 g bb. memperlihatkan efek antidiare dibandingkan dengan akuades, tetapi bila dibandingkan dengan Loperamide kedua dosis tersebut efek antidiarenya lebih kecil. Infus dosis 600 mg/100 g bb. mempunyai efek antidiare yang hampir sama dengan Loperamide.   Kata kunci: Tanaman Obat, Jati-Belanda (Guazuma ulmifolia Lamk.), Antidiare.
TELAAH ANTI KLASTOGENIK EKSTRAK KASAR RIMPANG KENCUR (KAEMPFERIA galanga L.) TERHADAP AKTIVITAS KLASTOGENIK MITOMISIN C PADA ERITROSIT POLIKROMATIK MENCIT Setiorini, Setiorini; Bowolaksono, Anom
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 11, No 3 Sept (2001)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v11i3 Sept.684.

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui potensi antiklastogenik rimpang kencur terhadap aktivitas klastogenik mitomicin C eritrosit polikromatik mencit. Penelitian ini menggunakan uji mikronukleus 30 ekor mencit (Mus musculus L.) jantan galur Swiss yang dibagi menjadi 6 kelompok perlakuan, masing-masing 5 ulangan. Perlakuan I adalah kontrol, yaitu mencit yang diberi dengan akuades murni. Perlakuan II, III, IV, V, dan VI yaitu mencit yang diberi ekstrak kencur dengan dosis berturut-turut 6,25; 12,5; 25; 50; dan 100 mg/kg berat badan (bb). Mulut mencit diberi ini selama 7 hari berturut-turut. Pada hari ke-8 mencit-mencit tersebut disuntik dengan mitomicin C (MMC) secara intra peritoneal sebanyak 1,5 mg/kg bb dan dibiarkan selama 30 jam. Setelah itu dibuat sediaan sumsum tulang. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa ekstrak rimpang kencur dengan dosis 6,25; 12,5; 25; dan 50 mg/kg BB dapat menghambat kerusakan sitogenetik yang diinduksi oleh MMC pada eritrosit polikromatik sumsum tulang mencit. Sedangkan, dosis 100 mg/kg bb tidak menyebabkan penurunan mikronukleus.Kata Kunci: Rimpang Kencur (Kaempferia galanga L), Antiklastogenik.

Page 1 of 1 | Total Record : 7