cover
Contact Name
Hayani Anastasia
Contact Email
jvektorpenyakit@gmail.com
Phone
+62811459507
Journal Mail Official
jvektorpenyakit@gmail.com
Editorial Address
Balai Litbangkes Donggala, Jl. Masitudju No.58, Labuan Panimba, Labuan, Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah, 94252
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Vektor Penyakit
ISSN : 19783647     EISSN : 23548835     DOI : https://doi.org/10.22435/vektorp
Jurnal Vektor Penyakit is an open access, per-reviewed, online journal fully dedicated to publishing quality manuscript on all aspects on tropical diseases, i.e malaria, dengue, lymphatic filariasis, chikungunya, schistosomiasis, soil transmitted helminth, leptospirosis and others related to vector, reservoir and zoonotic diseases. Jurnal Vektor Penyakit also concerned to the pathology, epidemiology, prevention, health environment, treatment and control of the parasitic and infectious diseases, tropical diseases as well as public policy relevant to that group of diseases.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 92 Documents
Masterplan Pengendalian Schistosomiasis Dalam Upaya mendukung Eliminasi di Kabupaten Sigi Propinsi Sulawesi Tengah 2022-2024 Junus Widjaja; Anis Nurwidayati; Hayani Anastasia; Octaviani Octaviani; Ahmad Erlan
Jurnal Vektor Penyakit Vol 16 No 2 (2022): Edisi Desember
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/vektorp.v16i2.6122

Abstract

ABSTRACT Schistosomiasis is a neglected tropical disease caused by blood trematodes of the genus Schistosoma, which remains a major public health problem worldwide. Schistosomiasis japonica, in Asia endemic to China, the Philippines and parts of Indonesia. Schistosomiasis in Indonesia is only found in Central Sulawesi Province, namely Napu Highlands and Bada Highlands, Poso Regency and Lindu Highlands, Sigi Regency. Schistosomiasis can cause anemia and trigger stunting and reduced learning abilities in children. It also causes organ damages, such as severe hepatosplenism, periportal fibrosis, even some cases died. With Indonesia's commitment to realizing Sustainable Development Goals (SDGs) as stated in the 2030 Agenda, schistosomiasis is one of the diseases that will be eliminated in Indonesia. This study used descriptive analysis method with a qualitative approach through in-depth interviews and discussions in the form of meetings. The results of the preparation of the schistosomiasis control master plan 2021-2024. The Masterplan is prepared cross-sectorally between the Health Service, Public Works and Spatial Planning, Livestock and Animal Health Service, Community and Village Empowerment Service, Food Security and Fisheries Service, Food Crops and Horticulture Service, Education and Culture Office and Planning and Research Agency. Area. The structured activities are treatment for humans and animals, environmental modification, control of snail habitat, implementation of surveillance on humans and animals and snails that transmit schistosomiasis, technical capacity building, provision of drinking water and proper and sustainable sanitation. Schistosomiasis control master plan which can be the basis and guideline for schistosomiasis control in Sigi District in 2022-2024. ABSTRAK Schistosomiasis adalah penyakit tropis terbaikan yang disebabkan oleh trematoda darah dari genus Schistosoma, yang tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di seluruh dunia. Schistosomiasis japonica, di Asia endemik di Cina, Filipina dan sebagian Indonesia. Schistosomiasis di Indonesia hanya ditemukan di Propinsi Sulawesi Tengah, yaitu Dataran Tinggi Napu dan Dataran Tinggi Bada, Kabupaten Poso serta Dataran Tinggi Lindu, Kabupaten Sigi. Schistosomiasis ini dapat menyebabkan anemia dan memicu kekerdilan (stunting) dan berkurangnya kemampuan belajar pada anak-anak. Penyakit tersebut juga menimbulkan kerusakan organ spesifik organ seperti hepatosplenisme parah, fibrosis periportal, bahkan beberapa kasus meninggal dunia. Dengan komitmen Indonesia untuk mewujudkan Pembangunan yang Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) sebagaimana tertuang dalam Agenda 2030, maka schistosomiasis menjadi salah satu penyakit yang akan dieliminasi di Indonesia. Penelitian menggunakan metode analisis deskriptif dengan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam dan diskusi dalam bentuk pertemuan. Hasil penelitian adalah tersusunnya masterplan pengendalian schistosomiasis 2021-2024. Penyusunan masterplan dilakukan dengan lintas sektor antara Dinas Kesehatan, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan, Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Badan Perencanaan dan Penelitian Daerah. Kegiatan yang termasuk dalam master plan pengendalian schistosomiasis meliputi pengobatan pada manusia dan hewan, modifikasi lingkungan, pengendalian pada habitat keong, pelaksanaan surveilans pada manusia dan hewan serta pada keong perantara schistosomiasis, peningkatan kapasitas teknis, penyediaan air minum dan sanitasi yang layak dan berkesinambungan. Masterplan pengendalian schistosomiasis yang dapat menjadi dasar dan pedoman kegiatan pengendalian schistosomiasis di Kabupaten Sigi Tahun 2022-2024.
Pengaruh Pengobatan dan Prevalensi Infeksi Cacing Usus pada Anak Sekolah Dasar di Kecamatan Dampelas dan Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah Anis Nur Widayati; Phetisya Pamela Frederika Sumolang; Made Agus Nurjana; Junus Widjaja
Jurnal Vektor Penyakit Vol 16 No 2 (2022): Edisi Desember
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/vektorp.v16i2.6155

Abstract

ABSTRACT Soil-Transmitted Helminths infection is still remain become a health problem in tropical and sub-tropical countries, one of which is Indonesia. The aim of the study was to determine the STH infection in Banawa and Dampelas sub-districts, Donggala district, Central Sulawesi Province. The study was conducted in February - November 2017 on 153 elementary school students. The collected feces were examined by the direct examination method. The results found infections of Ascaris lumbricoides, hookworm, and Trichuris trichiura. We also found Enterobius vermicularis and mixed infections. However, the logistic regression test showed there was no relationship between taking deworming medication and the incidence of worms in school childrenin Donggala Regency (p-value > 0,05). Based on the results it can be concluded that the prevalence of STH infection in both locations is still high. It is necessary to make efforts to treat school children and counseling on clean and healthy living behavior. ABSTRAK Infeksi Soil Transmitted Helminths masih menjadi masalah kesehatan di negara tropis dan sub tropis, termasuk di Indonesia. Tujuan penelitian adalah untuk menentukan tingkat infeksi STH pada siswa sekolah dasar (SD) wilayah Kecamatan Banawa dan Dampelas, Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah. Penelitiandilakukan pada bulan Februari - November 2017 dengan jumlah sampel 153. Tinja yang terkumpul diperiksa dengan metode pemeriksaan langsung. Hasil penelitian ditemukan infeksi cacing gelang (Ascaris lumbricoides) cacing tambang (Hookworm), dan cacing cambuk (Trichuris trichiura). Selain itu ditemukan infeksi Enterobius vermicularis dan infeksi ganda. Namun uji logistic regression menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara minum obat cacing dengan kejadian kecacingan pada anak sekolah di Kabupaten Donggala (p-value > 0,05).Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa prevalensi infeksi STH di kedua lokasi masih tinggi. Perlu dilakukan upaya pengobatan anti cacing pada anak sekolah serta penyuluhan perilaku hidup bersih dan sehat.
Daya Bunuh Anti Nyamuk Bakar Daun Kemangi (Ocimum basilicum) Pada Nyamuk Aedes aegypti (Studi Pengaruh Konsentrasi Terhadap Kematian Nyamuk Tahun 2022) Imelynia Pratiwi Suhari; Suprijandani Suprijandani; Marlik Marlik; Irwan Sulistio
Jurnal Vektor Penyakit Vol 16 No 2 (2022): Edisi Desember
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/vektorp.v16i2.6158

Abstract

ABSTRACT Natural insecticides can prevented people from mosquito bites provides the advantage that it is safe for health. Basil leaves (Ocimum basilicum) contain active ingredients of saponins, flavonoids, essential oils, and tannins that are capable to be used as natural insecticides. The aims of the study was to analyze the killing power ofmosquito coils based on basil leaf powder on the Aedes aegypti. The type of research was a pured experiment with posttest only with control group design. The object of the study used Aedes aegypti mosquitoes aged 2-5 days with 25 mosquitoes for each treatment. The treatment group exposed to various concentrations of mosquito coils basil leaf powder 50%, 60%, and 70% with six replications for 20 minute and mosquito mortality will be counted 24 hours after exposured. The quality of the mosquito coil basil leaf powder O. basilicum met the standards of SNI 06-3566-1994. The results of the One Way Anova test indicate that there was at least one concentration of mosquito coil basil leaf powder O. basilicum) which has a higher killing power of Aedes aegypti mosquitoes. The probit test results show that the value of LC50 is 61,763%. Increased concentration needed to get effective killing power. ABSTRAK Penggunaan insektisida alami untuk menghindarkan masyarakat dari gigitan nyamuk memberikan keuntungan yaitu aman bagi kesehatan. Serbuk daun kemangi (Ocimum basilicum) memiliki kandungan bahan aktif saponin, flavonoid, minyak atsiri dan tanin yang mampu menjadi insektisida alami. Pemanfaatan serbuk daun kemangi sebagai anti nyamuk bakar aplikatif untuk diterapkan di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis daya bunuh anti nyamuk bakar berbahan serbuk daun kemangi pada nyamuk Aedes aegypti. Desain penelitian adalah posttest only with control group design. Objek penelitian nyamuk Aedes aegypti berusia 2 - 5 hari yang berjumlah 25 tiap perlakuan akan dipaparkan dengan anti nyamuk bakar serbuk daun O. basilicum konsentrasi 50%, 60% dan 70% dengan enam kali replikasi selama 20 menit dan diamati jumlah kematian nyamuk setelah 24 jam. Analisis data menggunakan uji probit dan One Way Anova. Kualitas mutu anti nyamuk bakar serbuk daun O. basilicum memenuhi standar SNI 06-3566-1994. Uji Anova menunjukkan minimal satu pasang konsentrasi anti nyamuk bakar serbuk daun O. basilicum yang mempunyai daya bunuh lebih tinggi. Hasil uji probit menunjukkan nilai LC50 sebesar 61,763%. Peningkatan konsentrasi perlu dilakukan untuk mendapatkan daya bunuh yang efektif.
Pengetahuan dan Perspektif Masyarakat Lokal Terhadap Schistosomiasis di Indonesia Ningsi Ningsi; Hayani Anastasia; Made Agus Nurjana; Rina Isnawati; Octaviani Octaviani; Gunawan Gunawan; Ahmad Erlan
Jurnal Vektor Penyakit Vol 16 No 2 (2022): Edisi Desember
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/vektorp.v16i2.6194

Abstract

ABSTRACT Schistosomiasis, also known as snail fever, is caused by a parasitic worm. These parasites emerge from snails (conch) to contaminate fresh water and then infect humans or mammals such as cows, buffalo, and pigs whose skin is in contact with water. Various efforts continue to be encouraged so that cases of schistosomiasis decrease. Methods to prevent disease include increasing access to clean water, reducing snail populations, improving waterways, and the role of local community leaders. This study aimed to explore people's local knowledge and perspectives in endemic schistosomiasis areas. This study uses a cross-sectional design for quantitative and qualitative by collecting data through FGD. With as many FGD participants in each group, as many as ten people. The number of respondents was selected by simple random sampling. The results showed that local people's knowledge was still low, especially about the causes and modes of transmission of schistosomiasis. The community's perspective on controlling schistosomiasis carried out by cross-sectoral and health services and their staff is quite good. Local people expect stockpiling/drying of snail-focused areas, giving PPE boots for free. Local perspectives on the involvement of community leaders are still lacking, especially in community social groups such as PKK and dasawisma. In addition, cross-sectoral collaboration, the health office, and community leaders still need to be improved. The need for strengthening the eradication of schistosomiasis by involving informal, formal leaders in endemic schistosomiasis areas ABSTRAK Schistosomiasis atau disebut juga demam keong, disebabkan oleh parasit cacing. Parasit ini muncul dari siput (keong) untuk mencemari air tawar dan kemudian menginfeksi manusia ataupun hewan mamali. Metode untuk mencegah penyakit ini adalah meningkatkan akses terhadap air bersih, mengurangi populasi keong, perbaikan saluran air, dan peran dari tokoh masyarakat setempat. Tujuan penelitian ini mengeksplorasi pengetahuan dan perspektif lokal masyarakat di daerah endemis schistosomiasis. Peneltian ini menggunakan desain cross-sectional melalui pendekatan kuantitatif dan Kualitatif dengan cara pengumpulan data melalui Focus Group Discussion (FGD). Jumlah peserta FGD masing-masing kelompok sebanyak 10 orang. Jumlah responden 1692 yang dipilih secara simple random sampling. Hasil penelitian menunjukkan, pengetahuan masyarakat lokalmasih rendah khususnya tentang penyebab dan cara penularan schistosomiasis. Persepektif masyarakat tentang pengendalian schistosomiasis yang dilakukan oleh lintas sector dan dinas kesehatan bersama jajarannya sudah cukub baik. Masyarakat lokal mengharapkan penimbunan/ pengeringan areal fokus keong,pemberian Alat Pelindung Diri (APD) sepatu bot secara gratis. Perspektif lokal tentang keterlibatan tokoh-tokoh masyarakat masih kurang terutama kelompok sosial masyarakat seperti Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dan dasawisma. Selain itu kerjasama lintas sektor, dinas kesehatan dan tokoh-tokoh masyarakat masih perlu ditingkatkan. Perlunya penguatan dalam pemberantasan schistosomiasis dengan melibatkan tokoh formal nonformal di daerah endemis schistosomiasis.
Fasciolosis dan Cryptosporidiosis pada Ternak Sapi di Desa Maranatha, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah Samarang Samarang; Junus Widjaja; Primasari Primasari; Muchlis Syahnuddin
Jurnal Vektor Penyakit Vol 16 No 2 (2022): Edisi Desember
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/vektorp.v16i2.6195

Abstract

ABSTRACT Fasciolosis and Cryptosporidiosis are zoonotic parasitic diseases. Fasciolosis in Indonesia is caused by the trematode worm Fasciola gigantica species and generally attacks ruminants, while cryptosporidiosis is caused by the protozoan species Cryptosporidium parvum as a source of diarrheal disease infection. The purpose of the study was to identify fasciolosis and cryptosporidiosis infections in cattle in Maranatha Village, Sigi District, Central Sulawesi which was carried out for four months. The research design was cross-sectional with the determination of the sample using a purposive sampling method. The research sample was feces from cattle aged 6 months–2 years. The collected samples were prepared using the formalin ether sedimentation method. The results of 62 stool samples identified fasciolosis and cryptosporidiosis infections in cattle in Maranatha village, namely 38.7% and 14.52%, respectively. Conclusions: More than one-third of the cows examined were infected with fasciolosis and about a quarter of the cows examined were infected with C. parvum. Suggestions should be regular supervision or monitoring of the provision of deworming drugs to livestock, as well as counseling supervision and provision of clean water sources for the local community. ABSTRAK Fasciolosis dan cryptosporidiosis merupakan penyakit parasiter bersifat zoonosis. Fasciolosis di Indonesia disebabkan oleh cacing trematoda spesies Fasciola gigantica dan umumnya menyerang ternak ruminansia, sedangkan cryptosporidiosis disebabkan oleh protozoa spesies Criptosporodium parvumsebagai sumber infeksi penyakit diare. Tujuan penelitian yaitu mengidentifikasi infeksi fasciolosis dan cryptosporidiosis pada sapi di Desa Maranatha, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah yang dilaksanakan selama empat bulan. Disain penelitian adalah cross sectional dengan penentuan sampel menggunakan metode purposive sampling. Sampel penelitian adalah tinja dari ternak sapi yang berumur 6 bulan–2 tahun. Sampel yang terkumpul dipreparasi menggunakan metode sedimentasi formalin eter. Hasil dari 62 sampel tinja teridentifikasi infeksi fasciolosis dan cryptosporidiosis pada sapi di Desa Maranatha yaitu sebesar 38,7% dan 14,52%. Kesimpulan lebih dari sepertiga jumlah sapi yang diperiksa terinfeksi fasciolosis dan sekitar seperempat dari sapi yang diperiksa ternfeksi C. parvum. Saran sebaiknya ada pengawasan atau pemantauan secara berkala pada pemberian obat cacing pada ternak, serta penyuluhan, pengawasan dan pengadaan sumber air bersih untuk masyarakat setempat.
Pemeriksaan Leptospirosis pada Tikus di Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat Gunawan Gunawan; Agus Ari Wibowo; Eko Budi Nuridaryanto; Dinda Sekar Mentari; Oka Septitiani; Ningsi Ningsi
Jurnal Vektor Penyakit Vol 16 No 2 (2022): Edisi Desember
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/vektorp.v16i2.6202

Abstract

ABSTRACT Leptospirosis is still a global health problem. Leptospirosis is caused by Leptospira bacteria and is zoonotic. This study aims to detect the presence of Leptospira bacteria in rats in Ciwidey District, Bandung Regency, West Java, using the PCR method. This research is routine surveillance conducted by the Jakarta Center for Environmental Health and Disease Control Engineering (BBTKLP) in Muncang Village, Rawabogo and Nengkelan, Ciwidey District, Bandung Regency, West Java. The activity was carried out in June 2022 using a cross-sectional research design. The results showed 46 rats caught with the species R. exulans, R. tiomanicus, R. norvegicus, M. Musculus, and Muscaroli. Success trap on the traps installed in the village of Rawabogo 1.3%, Lebak Muncang Village 2.6%, and Nengkelan 1.6%. At the same time, the results of the calculation of the average success trap obtained a value of 5.5%. The results of the PCR examination showed that 11 of 46 samples of the examined rat kidney contained the DNA of the pathogenic Leptospira. It is necessary to control rats in residential areas in Ciwidey District, Bandung Regency, West Java, to prevent the transmission of pathogenic Leptospira bacteria from rats to humans. ABSTRAK Leptospirosis masih menjadi masalah kesehatan global. Leptospirosis disebabkan oleh bakteri Leptospira dan bersifat zoonosis. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi keberadaan bakteri Leptospira pada tikus di Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat dengan menggunakan metode PCR. Penelitian ini merupakan surveilans rutin yang dilakukan oleh Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta (BBTKLP). Surveilans tikus dilaksanakan di Desa Muncang, Rawabogo dan Nengkelan, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Kegiatan dilaksanakan pada bulan Juni tahun 2022 dengan menggunakan desain penelitian cross sectional. Hasil penelitian menunjukkan 46 tikus berhasil ditangkap dengan spesies R. exulans, R. tiomanicus, R. norvegicus, M. Musculus dan Muscaroli. success trap pada perangkap yang terpasang yaitu di Desa Rawabogo 1,3%, Desa Lebak Muncang 2,6% dan Nengkelan 1,6%.. Sedangkan hasil perhitungan Succes Trap rata rata didapatkan nilai 5,5 %. Hasil pemeriksaan PCR menunjukkan bahwa 11 dari 46 sampel ginjal tikus yang diperiksa mengandung DNA Leptospira patogen. Perlu dilakukan upaya pengendalian tikus dilingkungan pemukiman di Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat untuk mencegah transmisi bakteri Leptospira patogenik dari tikus ke manusia.
Gambaran Ketepatan Sasaran Pendistribusian Kelambu Berinsektisida Terhadap Pengendalian Malaria Di Enam Wilayah Endemis Malaria Di Indonesia Shinta Prawoto; Rina Marina
Jurnal Vektor Penyakit Vol 16 No 2 (2022): Edisi Desember
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/vektorp.v16i2.6207

Abstract

ABSTRACT Malaria is a global health burden because of its high mortality, morbidity and cost to the country's economy. Malaria data in 2021 in Indonesia reached 94,610 cases as many as 167 (32%) out of 514 districts/cities still have problems with malaria. Proper malaria prevention and management is essential. The use of LLIN is the main strategy for controlling malaria in the world, including in Indonesia. The aim of the study was to describe the accuracy of the targeting of the distribution of insecticide-treated mosquito nets in 6 malaria endemic areas in Indonesia. This type of research is observational with a cross-sectional design and n=30. The research population was the stake holder of the District/City Health Office, Public Health Center and malaria cadrein Indonesia, while the sample of the stake holder of the District/City Health Office, Public Health Center and malaria cadre was 6 malaria endemic areas in Indonesia. Data collected by the management of the malaria control program. The result is the priority of malaria prevention is the use of LLIN, but the distribution is not evenly distributed. Malaria control other than LLIN are IRS, MBS, larvicides and removal of mosses. IRS is done if API> 20‰. The main problem is the lack of funds for distribution activities, not all regions can collaborate across sectors and share budgets, as well as conduct training. Monev was not carried out due to limited funds. It is necessary for the role of stakeholders to advocate to the Governor/Regent in allocating sufficient andprioritized budgets. It is necessary to socialize the use and maintenance of LLINs, as well as to calculate the exact need for mosquito nets in each region. ABSTRAK Malaria merupakan beban kesehatan global karena mortalitas, morbiditas dan biayanya tinggi terhadap ekonomi negara. Data malaria tahun 2021 di Indonesia mencapai 94.610 kasus. Sebanyak 167 (32%) dari 514 kabupaten/kota masih bermasalah dengan malaria. Pencegahan dan manajemen malaria yang tepat sangatdiperlukan. Penggunaan LLIN merupakan strategi utama pengendalian malaria di dunia termasuk di Indonesia. Tujuan penelitian untuk melihat gambaran ketepatan sasaran pelaksanaan pendistribusian kelambu berinsektisida di 6 wilayah endemis malaria di Indonesia. Jenis penelitian observasional dengan desain potong lintang dan n=30. Populasi penelitian stake holder Dinkes Kabupaten/kota dan Puskesmas di Indonesia, sedangkan sampel stake holder Dinkes Kab/kota, Puskesmas serta kader malaria 6 wilayah endemis malaria di Indonesia. Data yang dikumpulkan manajemen program pengendalian malaria. Hasil penelitian adalah prioritas utama pencegahan malaria adalah penggunaan LLIN, namun distribusi belum merata. Pengendalianmalaria selain LLIN yaitu IRS, MBS, larvasida dan pengangkatan lumut. IRS dilakukan apabila API>20‰. Masalah utama kurangnya dana untuk kegiatan pendistribusian, tidak semua wilayah bisa melakukan kerjasama lintas sektor dan sharing budget, serta melakukan pelatihan. Monitoring dan evaluasi tidak dilakukan karena keterbatasan dana. Kesimpulan, diperlukan peran stakeholder untuk advokasi kepada Gubernur/Bupati dalam pengalokasian anggaran yang cukup dan mendapat prioritas. Diperlukan sosialisasi penggunaan dan pemeliharaan LLIN, juga perhitungan tepat kebutuhan kelambu di setiap wilayah.
FRONT MATTER JVP VOL.16 NO. 1 JUNI 2022 jvp managerxot
Jurnal Vektor Penyakit Vol 16 No 1 (2022): Edisi Juni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/vektorp.v16i1.6228

Abstract

BACK MATTER JVP VOL.16 NO. 1 JUNI 2022 jvp managerxot
Jurnal Vektor Penyakit Vol 16 No 1 (2022): Edisi Juni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/vektorp.v16i1.6229

Abstract

Muatan Lokal Schistosomiasis pada Anak Sekolah di Dataran Bada Kabupaten Poso Sulawesi Tengah Ahmad Erlan; Hayani Anastasia; Gunawan Gunawan
Jurnal Vektor Penyakit Vol 16 No 2 (2022): Edisi Desember
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/vektorp.v16i2.6254

Abstract

ABSTRACT Schistosomiasis in Indonesia is caused by the trematode worm, Schistosoma japonicum, with the snail Oncomelania hupensis lindoensis as the intermediate host. This disease in addition to infecting humans also infects all types of mammals, both domesticated and wild animals. Chronic schistosomiasis reduces the patient's ability to work, and in some cases causes death in all age groups. Intestinal helminth infections in school-age children exacerbate malnutrition. Prolonged malnutrition and intestinal worm infection can lead to stunting in school-age children. The research used is a mixed-method, namely qualitative and quantitative data collection. Data were obtained by in-depth interviews with key informants and focus group discussions. Provide schistosomiasis subject matter to school children by measuring students' knowledge level through pre and post-test. The study was conducted in an endemic area of Bada schistosomiasis to January-November 2019. The number of samples of junior high school students who took the pre and post-test was 69 samples and 101 samples of elementary school students. Based on the statistical analysis found a significant increase in students' knowledge about schistosomiasis with a p-value <0.001. Community empowerment through the provision of schistosomiasis subject matter to school children is proven to be effective in increasing students' knowledge to reduce the risk of stunting in children, increase the scope of feces collection, and change community behavior for the better to avoid transmission and always work devoutly to clean the focus of snail. ABSTRAK Schistosomiasis di Indonesia disebabkan oleh cacing trematoda jenis Schistosoma japonicum dengan hospes perantara keong Oncomelania hupensis lindoensis. Penyakit ini selain menginfeksi manusia, juga menginfeksi semua jenis mamalia baik hewan peliharaan maupun binatang liar. Schistosomiasis kronis menurunkan kemampuan penderita dalam bekerja, dan beberapa kasus menimbulkan kematian pada semua golongan umur. Infeksi cacing usus pada anak-anak usia sekolah memperburuk malnutrisi. Malnutrisi berkepanjangan dan infeksi cacing usus dapat mengakibatkan stunting pada anak usia sekolah. Penelitian yang digunakan adalah mixed method yaitu pengumpulan data secara kualitatif dan kuantitatif. Data diperoleh dengan wawancara mendalam kepada informan kunci dan diskusi kelompok terarah. Memberikan materi pelajaran schistosomiasis kepada anak sekolah dengan mengukur tingkat pengetahuan siswa melalui pre dan post-test. Penelitian telah dilakukan di daerah endemis schistosomiasis Bada sejak Bulan Januari-November 2019. Jumlah sampel siswa sekolah tingkat pertama yang mengikuti pre dan post test 69 sampel dan siswa sekolah dasar 101 sampel. Berdasarkan analisis statistik ditemukan peningkatan yang signifikan pengetahuan pada siswa tentang schistosomiasis dengan nilai p-value<0,001. Pemberdayaan masyarakat melalui pemberian materi pelajaran schistosomiasis pada anak sekolah terbukti efektif meningkatkan pengetahuan siswa sehingga mengurangi resiko stunting pada anak-anak, meningkatkan cakupan pengumpulan tinja dan mengubah perilaku masyarakat menjadi lebih baik untuk menghindari penularan dan selalu bekerja bakti membersihkan fokus keong.

Page 9 of 10 | Total Record : 92