cover
Contact Name
Hayani Anastasia
Contact Email
jvektorpenyakit@gmail.com
Phone
+62811459507
Journal Mail Official
jvektorpenyakit@gmail.com
Editorial Address
Balai Litbangkes Donggala, Jl. Masitudju No.58, Labuan Panimba, Labuan, Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah, 94252
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Vektor Penyakit
ISSN : 19783647     EISSN : 23548835     DOI : https://doi.org/10.22435/vektorp
Jurnal Vektor Penyakit is an open access, per-reviewed, online journal fully dedicated to publishing quality manuscript on all aspects on tropical diseases, i.e malaria, dengue, lymphatic filariasis, chikungunya, schistosomiasis, soil transmitted helminth, leptospirosis and others related to vector, reservoir and zoonotic diseases. Jurnal Vektor Penyakit also concerned to the pathology, epidemiology, prevention, health environment, treatment and control of the parasitic and infectious diseases, tropical diseases as well as public policy relevant to that group of diseases.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 92 Documents
Perilaku Masyarakat Tentang Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik (G1R1J) Dalam Penanggulangan Demam Berdarah Dengue Di Kabupaten Poso Sulawesi Tengah Meiske Elisabeth Koraag; Hayani Anastasia; Risti Risti; Nelfita Nelfita; Samarang Samarang; Phetisya Pamela Frederika Sumolang; Ade Kurniawan; Gunawan Gunawan
Jurnal Vektor Penyakit Vol 14 No 2 (2020): Edisi Desember
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/vektorp.v14i2.2980

Abstract

Abstract Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik (G1R1J) is an effective effort to prevent the DBD in Poso District. However, the DBD case remains to fluctuate annually. The purpose of the research is to assess the community's knowledge, attitudes, and actions before Kawua Village intervention and after the intervention on G1R1J as well as comparing with the Sayo Village as a control area. Research design using the quasi-experimental with a control method. Data Collection is done to the public to know the knowledge, attitudes, and behaviors of The G1R1J program in the intervention area and compare it to the control region. The total sample of 150 households for each part is the intervention and control region. Statistical analysis using the dependent T-test. There are differences in the average knowledge, attitudes, and actions of respondents before and after intervention in the Kawua region (intervention area). There is a significant difference in knowledge, attitudes, and acts of respondents after intervention in the Kawua region (intervention area) and Sayo region (non-intervention area). There was a change in the rate of knowledge, attitudes, and actions of respondents after the intervention of socialization and mentoring four times. Abstrak Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik (G1R1J) merupakan upaya yang efektif untuk mencegah penularan DBD di Kabupaten Poso. Namun, kasus DBD tetap berfluktuasi setiap tahunnya. Tujuan penelitian adalah untuk menilai pengetahuan, sikap dan tindakan masyarakat Kelurahan Kawua sebelum diberikan intervensi dan setelah intervensi tentang G1R1J serta membandingkan dengan Kelurahan Sayo sebagai wilayah yang tidak dilakukan intervensi (kontrol). Disain penelitian menggunakan metode quasi experimental with control. Pengumpulan data dilakukan kepada masyarakat untuk mengetahui pengetahuan, sikap dan perilaku terhadap program G1R1J di wilayah intervensi serta membandingkannya dengan wilayah kontrol. Jumlah sampel sebanyak 150 rumah untuk masing-masing wilayah yaitu wilayah intervensi dan wilayah kontrol. Analisis statistik menggunakan uji T dependen. Terdapat perbedaan rerata pengetahuan, sikap dan tindakan responden yang signifikan sebelum dan setelah intervensi di wilayah Kelurahan Kawua (wilayah intervensi). Terdapat perbedaan rerata pengetahuan dan sikap responden yang signifikan setelah intervensi di wilayah Kelurahan Sayo (non intervensi). Ada perubahan pengetahuan, sikap dan tindakan responden setelah diberikan intervensi sosialisasi dan pendampingan empat kali menjadi lebih baik.
Leptospirosis pada Tikus di Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2016 Leonardo Taruk Lobo; Meiske Elisabeth Koraag; Junus Widjaja; Arum Sih Joharina; Ayu Pradipta Pratiwi
Jurnal Vektor Penyakit Vol 14 No 2 (2020): Edisi Desember
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/vektorp.v14i2.3189

Abstract

Abstract Leptospirosis is an endemic zoonotic disease and remains a health problem in Indonesia. The word’s third-heighest cases of leptospirosis. This study aimed to determine the type of mouse as an intermediate transmission of leptospirosis disease in Minahasa District, North Sulawesi. Trapping of rats was performed by using 100 mouse traps (live Trap) for two consecutive days across six ecosystems. Rats were identified by external morphological characteristics. Microscopic Agglutination Test (MAT) and Polymerase Chain Reaction (PCR) were conducted using rat kidney samples. The number of rats caught in the present study was 105 heads consisting of six species e.g Rattus tanezumi, Rattus exulans, Rattus hoffmanni, Bunomis coelestis, Bunomis fratorum, and Paruromys dominator. The proportion of rats identified as MAT-based leptospirosis reservoir was 0.9% while the PCR test was 1.9%. Rattus tanezumi identified as leptospirosis reservoirs were found were found in the NHDP (non forest near to sattlement) ecosystem. Rattus tanezumi trapped near the settlement was positive as leptospirosis reservoirs in the Minahasa District. Abstrak Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis endemik dan masih menjadi masalah Kesehatan di Indonesia. Angka CFR penyakit ini dilaporkan sebesar 2,5 – 16,4% atau rata-rata 7,1% sehingga menempatkan Indonesia sebagai negara peringkat ketiga tertinggi di dunia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis tikus perantara penyakit leptospirosis di Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara. Penangkapan tikus dilakukan dengan menggunakan 100 perangkap tikus (live trap) selama 2 hari berturut-turut di enam ekosistem. Tikus diidentifikasi dengan melihat karakteristik morfologi eksternalnya kemudian dilakukan pemeriksaan secara biomolekuler yaitu uji Microscopic Aglutination Test (MAT) dan Polimerase Chain Reaction (PCR) terhadap sampel ginjal tikus. Jumlah tikus yang tertangkap sebanyak 105 ekor yang terbagi menjadi enam spesies yaitu: Rattus tanezumi, Rattus Exulans, Rattus hoffmanni, Bunomis coelestis, Bunomis fratorum, dan Paruromys dominator. Proporsi tikus yang teridentifikasi sebagai reservoir leptospirosis berdasarkan uji MAT adalah 0,9% dan sebesar 1,9% berdasarkan uji PCR. Spesies Rattus tanezumi teridentifikasi sebagai reservoir leptospirosis dan ditemukan di ekosistem Non Hutan Dekat Pemukiman (NHDP). Beberapa Rattus tanezumi yang tertangkap di lokasi dekat pemukiman teridentifikasi positif sebagai reservoir leptospirosis di Kabupaten Minahasa.
FRONT MATTER JVP VOL.14 NO.2 DESEMBER 2020 jvp managerxot
Jurnal Vektor Penyakit Vol 14 No 2 (2020): Edisi Desember
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/vektorp.v14i2.4148

Abstract

BACK MATTER JVP VOL.14 NO.2 DESEMBER 2020 jvp managerxot
Jurnal Vektor Penyakit Vol 14 No 2 (2020): Edisi Desember
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peran Tikus Got (Rattus norvegicus) dari kelompok tikus dan suncus sebagai Penular Utama Leptospirosis di Kota Semarang Zumrotus Sholichah; Bina Ikawati; Dewi Marbawati; Miftahuddin Majid Khoeri; Dewi Puspita Ningsih
Jurnal Vektor Penyakit Vol 15 No 1 (2021): Edisi Juni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/vektorp.v15i1.2607

Abstract

ABSTRACT Semarang city is one of leptospirosis endemic area in Central Java Province and the disease is always found annualy with its mortality rate had tendency to increase. The Case Fatality Rate (CFR) in the period 2014-2018 increased from 18% to 25%. Rodents, especially rats are the most important reservoir and a maintenance host. A survey was conducted in Semarang city from March to November 2016. Rats was trapped twice and their kidneys were tested for Leptospira by using PCR. Kidneys containing leptospira were then examined by sequencing. Trap success in Jangli was 15,41% consisting of R. norvegicus, R. tanezumi and insectivora S. murinus. The success trap in Gajahmungkur was 35,89% including Bandicota indica, Rattus norvegicus, Rattus tanezumi and insectivora Suncus murinus. Positive Leptospira was found in Jangli Village (38,09%) and Gajahmungkur Village (56,25%) The positive leptospira were from B. indica, R. norvegicus and R. tanezumi. Result of the sequencing revealed that nine from 17 sample homolog with pathogenic leptospira. Among rat populations, especially norway rats are specific serovar maintenance host in the region and are proved to carry a pathogenic Leptospira bacteria. ABSTRAK Kota Semarang merupakan salah satu daerah endemis leptospirosis dan penyakit tersebut selalu ditemukan setiap tahun dengan angka kematian yang cenderung meningkat. Pada periode 2014–2018 angka kematian leptospirosis meningkat dari 18% menjadi 25%. Tikus merupakan reservoir paling penting dan merupakan maintenance host Leptospira. Survei dilakukan di Kota Semarang yakni di daerah Kelurahan Jangli dan Kelurahan Gajahmungkur pada bulan maret-november 2016. Penangkapan tikus dilakukan sebanyak 2 kali dan diambil sampel ginjal untuk pemeriksaan Leptospira dengan Polymerase Chain Reaction (PCR). Ginjal dengan hasil PCR positif Leptospira dilanjutkan dengan tahapan sekuensing. Keberhasilan penangkapan tikus di Jangli 15,41% dengan spesies Rattus norvegicus, Rattus tanezumi dan Suncus murinus. Keberhasilan penangkapan tikus di Gajahmungkur 35,89% dengan spesies tikus Bandicota indica, Rattus norvegicus, Rattus tanezumi dan Suncus murinus. Positif Leptospira ditemukan di Kelurahan Jangli (38,09%) dan Kelurahan Gajahmungkur (56,25%). Hasil pemeriksaan PCR positif berasal dari spesies Bandicota indica, Rattus norvegicus dan Rattus tanezumi. Hasil sekuensing menunjukkan bahwa 9 dari 17 sampel mempunyai hubungan kekerabatan dengan Leptospira patogenik. Diantara populasi tikus, khususnya tikus got merupakan maintenance host serovar tertentu di wilayah tersebut dan terbukti membawa bakteri Leptospira patogenik.
Malaria pada Kelompok Wanita Usia Subur dan Anak di Indonesia: Analisis Data Riskesdas 2013 Revi Rosavika Kinansi; Rika Mayasari; Hotnida Sitorus
Jurnal Vektor Penyakit Vol 15 No 1 (2021): Edisi Juni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/vektorp.v15i1.3170

Abstract

ABSTRACT Infants, toddlers, and pregnant women are high-risk groups that often experience deaths from malaria. Difficulty in accessing health services is one of the contributing factors, besides poverty, expensive health costs, lack of health workers, and limited health facilities. This study aims to look at the relationship between socio-economic factors, distance, environment, and community behavior with malaria incidence. This type of research is non-intervention observation with a cross-sectional design description and approach. The study population is all malaria-endemic areas in Indonesia, while a sample of all selected households in the census block (BS). The dependent variable is the incidence of malaria in children 0-14 years and women of childbearing age (WUS), the independent variable is the respondent's characteristics, preventative behavior, environment, and access to health services. The results of the linear regression analysis of the characteristics (age, education, and occupation) of WUS and children aged 0-14 years plus the sex of the child to the incidence of malaria showed a significant relationship. The results of the analysis of prevention behavior towards malaria-borne mosquito bites and the availability of health care facilities in the WUS group were almost all significant variables with the incidence of malaria. While the results of the analysis of prevention behavior against malaria-transmitted mosquito bites such as using the mosquito nets, repellent, and insect spray and then availability of health care facilities for children aged 0-14 years for the presence of health centers / auxiliary health centers and poskesdes / poskestren are significant. ABSTRAK Bayi, anak balita dan ibu hamil adalah kelompok risiko tinggi yang sering mengalami kematian akibat malaria. Kesulitan akses pelayanan kesehatan merupakan salah satu faktor penyebabnya, disamping kemiskinan, biaya kesehatan yang mahal, kurangnya tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan yang masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan faktor sosial ekonomi, jarak, lingkungan dan perilaku masyarakat dengan kejadian malaria. Jenis penelitian observasi non intervensi dengan desain deskripsi dan pendekatan potong lintang. Populasi penelitian seluruh masyarakat daerah endemis malaria di Indonesia, sedangkan sampel seluruh rumah tangga yang terpilih di blok sensus (BS). Variabel terikat yaitu kejadian malaria pada anak 0-14 tahun dan wanita usia subur (WUS), variabel bebas yaitu karakteristik responden, perilaku pencegahan, lingkungan dan akses pelayanan kesehatan. Hasil analisis regresi linier terhadap karakteristik (umur, pendidikan dan pekerjaan) pada WUS dan anak usia 0-14 tahun ditambah dengan jenis kelamin anak terhadap kejadian malaria menunjukkan hubungan yang signifikan. Hasil analisis perilaku pencegahan terhadap gigitan nyamuk penular malaria dan ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan pada kelompok WUS hampir semua variabel bermakna signifikan dengan kejadian malaria. Hasil analisis perilaku pencegahan terhadap gigitan nyamuk penular malaria seperti penggunaan kelambu tidur, pemakaian repelen dan penggunaan obat semprot serangga serta ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan pada anak usia 0-14 tahun untuk variabel keberadaan puskesmas/puskesmas pembantu dan poskesdes/poskestren bermakna signifikan.
Pengaruh Tempat Penampungan Air dengan Kejadian DBD di Kabupaten Bangka Barat Tahun 2018 Octaviani Octaviani; Muhammad Putra Kusuma; Tri Yunis Miko Wahyono
Jurnal Vektor Penyakit Vol 15 No 1 (2021): Edisi Juni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/vektorp.v15i1.3263

Abstract

ABSTRACT Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is an endemic disease in the tropical area. The spread of the disease can occur fast if it is not controlled. DHF is caused by the dengue virus that is transmitted through Aedes aegypti dan Aedes albopictus. According to Bangka District Health Office, It was reported that the number of DHF cases in 2017 was 51 and 50 cases in 2018 (until March 2018). The objective of this study was to know the association between the water container and DHF cases in West Bangka District in 2018. This was a case- control study with a total respondent of 183 respondents and the ratio of case and control was 1:2. The results showed that the presence of Aedes larvae (OR=0,007; p-value=0,007; 95% CI: 1,59-19,96), presence of water container (OR=5,12; p-value=0,01; 95% CI: 1,47- 17,86), water container opened/closed (OR=2,72; p-value=0,063; 95% CI: 0,94-7,84) were associated with DHF cases. Houses where Aedes larvae were founded, in or outside the house (with container index >20%) have a 5.6 times higher risk to be contracted with DHF compare to houses with no Aedes larva. In addition, houses with water containers can be founded near the houses have a 5.1 times higher risk to be contracted with DHF. Houses with opened water containers were associated with DHF with 2.7 times higher risk to be infected with DHF. Therefore, community participation in eliminating mosquitoes breeding places needs to be encouraged. ABSTRAK Upaya pengendalian demam berdarah dititik beratkan pada penggerakan potensi masyarakat untuk dapat berperan serta dalam Pengendalian Sarang Nyamuk (PSN) melalui 3M plus. Tempat Penampungan Air (TPA) merupakan salah satu tempat perkembangbiakan jentik Aedes Aegyti, semakin banyak TPA yang digunakan berpotensi untuk menjadi tempat perkembangbiakan jentik. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka Barat jumlah kasus DBD pada tahun 2017 sebanyak 51 kasus dan sampai bulan maret 2018 sebanyak 50 kasus terlaporkan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh tempat penampungan air dengan kejadian DBD di Kabupaten Bangka Barat. Desain penelitian adalah case control dengan jumlah total responden adalah 183 responden dengan perbandingan kasus dan kontrol adalah 1:2. Hasil penelitian menunjukkan tempat penampungan air terbuka/tertutup (OR=2,72; p-value=0,063; 95% CI: 0,94-7,84), keberadaan jentik (OR=0,007; p-value=0,007; 95% CI: 1,59-19,96), tempat penampungan air (OR=5,12; p-value=0,01; 95% CI: 1,47-17,86). Rumah dengan tempat penampungan terbuka mempunyai risiko 2,7 kali lebih besar untuk transmisi DBD, rumah yang ditemukan jentik di tempat penampungan air dalam maupun di luar rumah (CI >20%) mempunyai risiko 5,6 kali lebih besar untuk terkena DBD dan rumah yang disekitarnya ditemukan tempat penampungan air berisiko 5,1 kali lebih besar untuk menderita DBD. Pengelola program DBD agar terus melaksanakan kegiatan – kegiatan penanggulangan dan tatalaksana kasus DBD.
Perilaku Mikrofilaria Brugia timori dan Wuchereria bancrofti pada Kasus Filariasis dengan Infeksi Campuran di Kabupaten Sumba Barat Daya Rais Yunarko; Yona Patanduk
Jurnal Vektor Penyakit Vol 15 No 1 (2021): Edisi Juni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/vektorp.v15i1.3391

Abstract

ABSTRACT Brugia timori is a filariasis worm which distribution is limited in the East Nusa Tenggara Islands, while Wuchereria bancrofti is widespread almost all over the world. The density of microfilariae shows daily behavior that varies depending on the species of microfilariae. Cases of mixed infections between B. timori and W. bancrofti were reported in the Kahale Village, Southwest Sumba Regency. This study aims to determine the microfilariae periodicity of B. timori and W. bancrofti in filariasis patients with mixed infections. The Subjects in this study were five positive people with filariasis with mixed infections of W. bancrofti and B. timori. The Blood sampling was conducted 12 times in 24 hours with intervals of two hours, starting from 2:00 PM to midnight local time. Data were analyzed using Aikat and Das formula. The Circadian rhythm of microfilariae B. timori and W. bancrofti showed those cases had the circadian or harmonic wave. B. timori and W. bancrofti microfilaria had the same periodicity index (D) above 100%, with peak densities (K) both of microfilaria species in peripheral blood circulation, between 11:00 PM to 03:00 AM. The Behaviors of microfilariae B. timori and W. bancrofti in mixed infection cases were not different. The behavior of those microfilariae species was as nocturnal periodic. ABSTRAK Brugia timori merupakan cacing yang penyebarannya terbatas di Kepulauan Nusa Tenggara Timur, sedangkan Wuchereria bancrofti adalah mayoritas penyebab kasus filariasis limfatik di seluruh dunia. Kepadatan mikrofilaria menunjukkan perilaku harian berbeda-beda bergantung dari jenis mikrofilaria. Kasus infeksi campuran antara B. timori dan W. bancrofti dilaporkan terjadi di Desa Kahale, Kabupaten Sumba Barat Daya. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui perilaku B. timori dan W. bancrofti pada penderita filariasis dengan infeksi campuran. Subjek dalam penelitian ini adalah lima orang positif infeksi campuran W. bancrofti dan B. timori. Pengambilan darah dilakukan 12 kali dalam rentang waktu 24 jam dengan interval dua jam, dimulai dari pukul 14.00 sampai pukul 12.00 waktu setempat. Analisis statistik yang digunakan dalam penentuan periodisitas mikrofilaria adalah formula Aikat dan Das. Ritme sirkadian (F) perilaku mikrofilaria B. timori dan W. bancrofti menunjukkan gelombang yang harmonik atau sirkadian. Mikrofilaria B. timori dan W. bancrofti mempunyai indeks periodisitas (D) yang sama diatas nilai 100%, dengan puncak kepadatan (K) kedua spesies mikrofilaria di peredaran darah tepi antara pukul 23.00 sampai pukul 03.00. Tidak ada perbedaan perilaku mikrofilaria B. timori dan W. bancrofti pada kasus infeksi campuran yaitu periodik nokturnal.
Respon Musca domestica terhadap Target Visual Berwarna Fly Grill Cici Apriza Yanti; Mila Sari; Yulia Yesti; Dendi Herta
Jurnal Vektor Penyakit Vol 15 No 1 (2021): Edisi Juni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/vektorp.v15i1.3678

Abstract

ABSTRACT Flies are insects belonging to the Diphtera order which can act as mechanical vectors of a disease. Just like insects in general, flies are sensitive to differences in wavelengths of light (color). Therefore, this study aims to determine the difference in the color of the fly grill with the density of flies. This type of research is experimental with a one shot case study design. This research was conducted at the Nanggalo Siteba market, The measurement points were carried out around the Tempat Pembuangan Sampah. The number of measurement points is five points, the center point, and four points according to the cardinal directions (west, east, north, and south from the center point). Flies density measurements were carried out at each point 10 times repetition for 30 seconds of each measurement, then the mean was sought. The data obtained were analyzed using the ANOVA test. The fly grill used is painted white, blue, yellow, red, black and is not painted. From the ANOVA test calculation, it was found that there were significant results between the color variants of the fly grill and the number of flies that landed. The average fly densities from the lowest to the highest were as follows: blue, white, black, unpainted, yellow and red fly grill. Based on this research, it can be seen that the preferred color of flies is red and those that are not preferred are blue. ABSTRAK Lalat merupakan serangga yang termasuk dalam ordo Diphtera yang dapat bertindak sebagai vektor mekanik dari suatu penyakit. Lalat sama seperti serangga pada umumnya yaitu mempunyai kepekaan terhadap perbedaan panjang gelombang cahaya (warna). Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan warna fly grill dengan kepadatan lalat. Jenis penelitian ini adalah eksperimental dengan desain one shot case study. Penelitian dilakukan di pasar Nanggalo Siteba Kota Padang. Titik pengukuran dilakukan sekitar Tempat pembuanganSampah. Jumlah titik pengukuran yaitu lima titik, titik pusat, dan empat titik sesuai dengan arah mata angin (barat, timur, utara, dan selatan dari titik pusat). Pengukuran kepadatan lalat dilakukan pada masing - masing titik sebanyak 10 kali pengulangan selama 30 detik masing-masing pengukuran kemudian dicari reratanya. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji ANOVA. Fly grill yang digunakan dicat warna putih, biru, kuning, merah, hitam dan tidak dicat. Dari perhitungan uji ANOVA, didapatkan hasil yang signifikan antara varian warna fly grill terhadap jumlah lalat yang hinggap. Rerata kepadatan lalat dari yang terendah sampai yang tertinggi adalah sebagai berikut: fly grill biru, putih, hitam, tidak dicat, kuning dan merah. Berdasarkan penelitian ini dapat diketahui warna yang disukai lalat adalah warna merah dan yang tidak disukai adalah biru.
Gambaran Pengetahuan Masyarakat tentang Malaria Knowlesi di Perbatasan Kecamatan Badau Kabupaten Kapuas Hulu Dewi Apriani; Diana Natalia; Rangga Putra Nugraha
Jurnal Vektor Penyakit Vol 15 No 1 (2021): Edisi Juni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/vektorp.v15i1.4117

Abstract

ABSTRACT Knowlesi malaria is a malaria that occurs in long-tailed macaques (Macaca fascicularis) and pig-tailed macaques (Macaca nemestrina) which is caused by Plasmodium knowlesi. Cases of knowlesi malaria found at Sarawak Malaysia in 2004, where the Kecamatan Badau is an area directly adjacent to Sarawak, Malaysia, so the potential for transmission can also occur. Knowledge about Plasmodium knowlesi malaria is the community knowledge about its specific symptoms, vector and host of Plasmodium knowlesi, as wel as the prevention of malaria knowlesi. This research is descriptive statistics of community knowledge concerning knowlesi using cross-sectional design. A purposive sampling was conducted in August 2019 in Desa Janting, Desa Sebindang and Desa Badau to select 94 respondents. Data were collected by using structured questionnaires as research instruments. The results obtained including distribution of proportion of respondents, which were mostly females (75,50%) at the age group of 18-40 years (57,45%), graduated from elementary and junior high school (60,60%), and housewives (53,40%). Respondents in this study had low level of knowledge (72%). In conclusion, the knowledge of respondents concerning knowlesi malaria at subdistrict border of Badau, Kapuas Hulu District was lacking. ABSTRAK Malaria knowlesi merupakan penyakit malaria yang terjadi pada kera ekor panjang (Macaca fascicularis) dan kera ekor babi (Macaca nemestrina) yang disebabkan oleh parasit Plasmodium knowlesi. Kasus malaria knowlesi ditemukan pada manusia di Sarawak Malaysia pada tahun 2004, dimana Kecamatan Badau merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan Sarawak, Malaysia sehingga potensi penularan juga dapat terjadi. Pengetahuan tentang malaria knowlesi adalah pengetahuan masyarakat tentang gejala khasnya, hewan penular dan hospesnya serta tindakan pencegahan malaria knowlesi. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif untuk menentukan pengetahuan masyarakat tentang malaria knowlesi dengan menggunakan desain cross-sectional. Pengambilan sampel dengan teknik purposive sampling dilakukan di bulan Agustus 2019 di Desa Janting, Desa Sebindang dan Desa Badau untuk memilih 94 responden. Data dikumpulkan dengan menggunakan pertanyaan kuesioner terstruktur sebagai instrumen penelitian. Hasil yang didapatkan yaitu distribusi proporsi responden yang paling banyak dalam penelitian ini adalah jenis kelamin perempuan (75,50%) pada kelompok usia 18-40 tahun (57,45%), tamat SD dan SMP (60,60%), ibu rumah tangga (53,40%). Responden dalam penelitian ini memiliki pengetahuan kurang (72%). Disimpulkan pengetahuan masyarakat tentang malaria knowlesi di perbatasan Kecamatan Badau Kabupaten Kapuas Hulu adalah kurang.

Page 6 of 10 | Total Record : 92