cover
Contact Name
Gusti Ayu Made Suartika
Contact Email
ayusuartika@unud.ac.id
Phone
+6289685501932
Journal Mail Official
ruang-space@unud.ac.id
Editorial Address
R. 1.24 LT.1, Gedung Pascasarjana, Universitas Udayana, Kampus Sudirman Denpasar Jalan P.B. Sudirman, Denpasar 80232, Bali (Indonesia).
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
RUANG: JURNAL LINGKUNGAN BINAAN (SPACE: JOURNAL OF THE BUILT ENVIRONMENT)
Published by Universitas Udayana
ISSN : 23555718     EISSN : 2355570X     DOI : -
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal RUANG-SPACE mempublikasikan artikel-artikel yang telah melalui proses review. Jurnal ini memfokuskan publikasinya dalam bidang lingkungan binaan yang melingkup beragam topik, termasuk pembangunan dan perencanaan spasial, permukiman, pelestarian lingkungan binaan, perancangan kota, dan lingkungan binaan etnik. Artikel-artikel yang dipublikasikan merupakan dokumentasi dari hasil aktivitas penelitian, pembangunan teori-teori baru, kajian terhadap teori-teori yang ada, atau penerapan dari eksisting teori maupun konsep berkenaan lingkungan terbangun. Ruang-Space dipublikasi dua kali dalam setahun, setiap bulan April dan Oktober, oleh Program Studi Studi Magister Arsitektur Universitas Udayana yang membawahi Program Keahlian Perencanaan dan Pembangunan Desa/Kota; Konservasi Lingkungan Binaan; dan Kajian Lingkungan Binaan Etnik.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 1 No 2 (2014): October 2014" : 8 Documents clear
PERILAKU MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN SAMPAH PERMUKIMAN DI KELURAHAN SEMPIDI I Nyoman Manuaba
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 1 No 2 (2014): October 2014
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (587.746 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2014.v01.i02.p06

Abstract

Abstract In Bali waste management is at crisis levels. A comprehensive and well participated public-based garbage management system is an important element toward the formation of a livable urban environment. It would benefit the economy, public health, and environmental safety, as well as being an agent for change in public attitudes towards wastes in general. Various attempts such as gelatik (plastic garbage movement); clean and green; and the 3R principle (reuse, reduce, recycle) have been carried out to change people’s behavior in handling garbage. Attitudes unfortunately remain unchanged. This is a complex problem involving the creation, dispersal, collection and disposal across the entire island. The following paper addresses questions concerning people’s unhealthy attitudes towards waste management; and the factors driving such behavior. Research is conducted on the basis of the descriptive qualitative method. Findings show that garbage collection, sorting, storing, and disposal have not been fully recognized and supported by government and local people. Significantly, major determining factors such as a lack of supporting infrastructure and facilities also emerge as priority considerations and waste management remains a neglected field both by government and non-governmental agencies. Keywords: public behavior, motivating factors, domestic garbage Abstrak Di Bali, pengelolaan sampah sedang berada pada titik kiritis. Pengelolaan sampah yang komprehensif dan berbasis masyarakat merupakan elemen penting dalam pembangunan lingkungan layak huni. Hal ini akan memberi manfaat terhadap pertumbuhan ekonomi, kesehatan masyarakat, keamanan lingkungan, dan bisa juga menjadi agen perubahan tingkah laku publik terhadap produk buangan secara umum. Beragam usaha dalam penanganan sampah, seperti misalnya gelatik (gerakan sampah plastik), clean and green dan konsep 3R (reuse, reduce, recycle), telah dilaksanakan untuk merubah tingkah laku masyarakat. Sayang sekali, tingkah laku ini tidak berubah. Ini merupakan permasalahan yang kompleks yang melibatkan pengadaan, penyebaran, pengumpulan, dan pembuangan sampah. Paper berikut ini menjawab pertanyaan terkait tingkah laku tidak sehat masyarakat terkait penanganan sampah serta faktor-faktor yang menjadi pemicu kemunculannya. Penelitian ini dilaksanakan dengan menerapkan metode kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukan bahwa proses pengumpulan, pemisahan, pewadahan, dan pemusnahan atau pembuangan sampah belum sepenuhnya dilakukan dan didukung, baik oleh pemerintah maupun masyarakat lokal. Secara signifikan, faktor-faktor utama yang mempengaruhi kondisi ini, seperti misalnya, kurang adanya sarana, prasarana, dan fasilitas, tetap muncul sebagai prioritas yang harus ditangani; serta isu pengelolaan sampah yang masih dilalaikan, baik oleh pemerintah maupun agen-agen non-pemerintah. Keywords: perilaku masyarakat, faktor-faktor pendorong perilaku, sampah rumah tangga
PEMANFAATAN HUNIAN UNTUK FUNGSI KOMERSIAL DI LINGKUNGAN PADANGTEGAL TENGAH, UBUD I Dewa Gede Putra; Ida Ayu Armeli; Ngakan Putu Sueca
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 1 No 2 (2014): October 2014
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.655 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2014.v01.i02.p08

Abstract

Abstract The Ubud community residential units, especially in the Padangtegal Tengah environment have an important role as a place for shelter, socializing and performing religious rituals. Due to the modernization and development of tourism in the study area, residential units also developed into commercial functions resulting in changes in residential land use. The purpose of this study was to establish a study area, and (1) understand commercial typologies and management functions, (2) establish the occupancy use for commercial functions as well as its impact. Of the cases studied, an average of 19 percent of the floor area building capacity is used for commercial functions out of the residential land area. Consequently, spaces become functionally modified or adjusted to suit the present conditions, but some are retained. Commercial functions are able to support incomes, which increased well-being and housing consolidation. The function of traditional space in the residential core is retained, but the adaptations and modifications were carried out on land that has not been used previously, such as the area of the front and the back of the residential units. Due to modernization, the mindset of the people has changed, affecting residential land use. Hence economic rationality is changing both traditional attitudes and spatial functions in the area. Keywords: land use, traditional house, commercial function Abstrak Unit hunian masyarakat Ubud khususnya di Lingkungan Padangtegal Tengah memiliki peran penting sebagai tempat untuk bernaung, bersosialisasi dan melakukan ritual agama. Dengan adanya modernisasi dan perkembangan pariwisata pada wilayah studi, unit hunian turut berkembang menjadi fungsi komersial sehingga terjadi kecenderungan pergeseran dan perubahan pemanfataan lahan hunian. Tujuan dari penelitian ini untuk (1) mengetahui dan memahami jenis dan pengelolaan fungsi komersial, (2) memahami  pemanfaatan hunian untuk fungsi komersial serta dampaknya di wilayah studi. Rata-rata, 19 persen kapasitas luas lantai bangunan digunakan untuk fungsi komersial berbanding luas lahan hunian. Konsekuensinya, telah terjadi modifikasi keruangan berdasarkan fungsi untuk mengakomodasi kondisi kekinian. Fungsi komersial dapat menunjang pendapatan yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan dan konsolidasi hunian. Fungsi ruang tradisional pada bagian inti hunian masih dipertahankan, namun adaptasi dan modifikasi dilakukan pada lahan yang belum dimanfataankan sebelumnya, seperti area depan dan belakang unit hunian. Modernisasi telah mempengaruhi cara pandang masyarakat dalam memanfaatkan lahan huniannya. Cara pikir secara ekonomis telah merubah tingkah lalu tradisional dan fungsi spasial pada area ini. Kata kunci: tata guna lahan, hunian tradisional, fungsi komersial
TRADITIONAL BALINESE HOUSE TRANSFORMATION IN TOURIST VILLAGES I Dewa Gede Agung Diasana Putra
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 1 No 2 (2014): October 2014
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (399.987 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2014.v01.i02.p02

Abstract

Abstrak Bali bersandar pada kebudayaan dalam menjaga posisinya sebagai sebuah destinasi wisata. Kebudayaan dalam konteks ini termasuk praktek-praktek terkait tradisi dan arsitektur. Sebagai salah satu wujud arsitektur, rumah tradisional Bali seringkali menjadi sasaran transformasi dalam rangka mengakomodasi bermacam-macam aktivitas kepariwisataan. Praktek-praktek yang seperti ini telah memodifikasi konteks, ruang-ruang di dalam rumah, serta pada akhirnya wujud rumah tinggal secara keseluruhan. Sehingga praktek-praktek keruangan tradisional yang didasari filosofi Tri Hita Kharana pada level domestik juga dipengaruhi. Fenomena ini memunculkan isu-isu yang mengusik terkait bagaimana keduanya bisa diwadahi dalam satu kesatuan keruangan rumah tinggal - yang merupakan fokus bahasan dari artikel ini. Adapun metode yang dipakai dalam menginvestigasi topik ini termasuk kajian terhadap bangunan-bangunan dan ruang-ruang dalam rumah tinggal, dan interview dengan para penghuni untuk menstudi bagaimana mereka telah mengakomodasi perubahan-perubahan yang ada.Kata kunci: Kebudayaan, rumah tradisional Bali, transformasi AbstractBali relies on its culture to maintain its position as a tourist destination. This includes traditional practices as well as architecture. But the traditional Balinese house is frequently transformed in order to accommodate tourism activities. Such practices have modified the context, internal spaces and form of dwellings as a whole. Thus traditional domestic practices based on the philosophy of Tri Hita Kharana are also affected. This phenomenon raises the vexed issue as to how both can coexist within the same spatial envelope, which is the subject of this paper. The method of investigation includes an examination of buildings and spaces as well as interviews with occupants as to how they accommodate such change. Keywords:culture, the traditional Balinese house, transformation
CULTURAL HERITAGE TOURISM – CASE STUDY OF PALEMBANG Listen Prima
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 1 No 2 (2014): October 2014
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.481 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2014.v01.i02.p03

Abstract

Abstrak Artikel ini mengkaji tentang site-site peninggalan yang ada di Palembang, beserta potensinya untuk dijadikan wisata warisan budaya di Indonesia. Palembang sangat tergantung terhadap tantangan dan keuntungan yang diperoleh dari industri kepariwisataan, sehingga proses perbaikan-pun perlu dilaksanakan di segala bidang untuk keberlanjutan kondisi serta kesejahteraan ekonomi dari salah satu provinsi yang berlokasi di sebelah selatan Pulau Sumatra ini. Penelitian ini merupakan sebuah studi empiris yang menginvestigasi: beragam metode terkait konservasi serta peningkatan dan efektifitas dari tata aturan yang ada, baik yang diinstigasi di tingkat nasional, regional, dan lokal. Setiap variabel dikaji dari sisi potensi yang kemungkinan dimilikinya, dan dievaluasi berdasarkan data-data yang telah didokumentasikan berkenaan dengan masing-masing studi kasus. Ketergantungan Palembang terhadap pendapatan yang diperoleh dari industri kepariwisataan, mensyaratkan adanya peningkatan dalam aspek pendanaan, kesadaran masyarakat, konservasi, perubahan dalam tata aturan, dan yang paling penting adalah proses pentaatan masyarakat terhadap tata aturan yang ada pada semua level. Hasil analisis disini secara mengkhusus merekomendasikan adanya efesiensi dari perundang-undangan yang ada, salah satu aspek dasar yang sangat perlu peningkatan di Palembang. Kata kunci: proteksi, peningkatan, peninggalan, legislasi, pariwisata Abstract This paper examines heritage sites in Palembang and their potential for cultural heritage tourism in Indonesia. Palembang is very reliant on the challenges and dominance of tourism benefits, and upgrading in all areas is necessary for Palembang's (a province located in the southern part of Sumatra) continuing economic well-being. This research is empirically focused and investigates methods for conservation, enhancement and the effectiveness of existing legislation at national, regional and local levels. Each variable is assessed as to its potential, and evaluated on the basis of case study material. Since Palembang is very reliant on revenues from tourism and it is imperative that significant improvement occurs in terms of funding, public awareness, conservation, legislative change and most importantly, enforcement of the law at all levels. The result of this analysis lead to recommendations in all areas, but specifically for the effectiveness of regional legislation, which is currently represents a catastrophe for Palembang. Keywords: protection, enhancement, heritage, legislation, tourism
TERITORIALITAS DAN INTERAKSI MULTI-ETNIK DI TANJUNG BENOA, BALI Stefanie Ongelina
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 1 No 2 (2014): October 2014
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (537.609 KB)

Abstract

Abstract Tanjung Benoa is occupied by five different ethnicities which over time have established a very well bound multi ethnic relationship. They live side by side physically and socially. The condition is in contradiction to the ethnocentricism in which one ethnicity tends to demonstrate its superiority over others (Sumner in Liliweri 2005). This situation has grounded the formation of this article whose focus is to explore the relationship between ethnic interactions and the use of space. There are three issues addressed within, including: (i) how and when multi ethnic interactions take place; (ii) type of ethnic behavioral and spatial patterns that have emerged within; and (iii) various factors underlining the formation of both behavioral and spatial pattern in Tanjung Benoa. The study was conducted using ethnographic approach and qualitative research method for data collection. Research findings demonstrate that multi-ethnic interactions have been performed in various manners that led to the development of both unique behavioral and spatial settings. Determining factors influencing the formation of these settings include, ritual and religious activities; personal and individual reasons; the conduct of various art performances; occupancy of each ethnic group involved; and land availability. Keywords: territoriality, multi ethnic interactions, behavioral pattern, spatial pattern Abstrak Tanjung Benoa ditempati oleh lima suku yang berbeda, yang lambat laun telah membangun keterikatan multi-etnik yang baik. Mereka hidup secara berdampingan, baik secara fisik maupun sosial. Kondisi ini bertolak belakang dengan paham etnosentrisis yang menyatakan bahwa dalam masyarakat multi etnik akan selalu ada minimal satu suku yang memiliki superioritas di atas suku yang lain (Sumner dalam Liliweri 2005). Kondisi inilah yang melatarbelakangi penulisan artikel ini, yang memiliki tujuan untuk mengekplorasi hubungan antar interaksi etnik dengan pemanfaatan ruang. Ada tiga isu yang yang dibahas di dalamnya, termasuk: (i) bagaimana dan kapan terjadinya interaksi multi-etnik; (2) tipe dari beragam patrun perilaku etnik serta setting keruangan yang terjadi; dan (iii) faktor-faktor yang mempengaruhi kedua patrun ini di Tanjung Benoa. Penelitian ini memakai pendekatan etnografi dengan menerapkan metode penelitian kualitatif dalam pengkoleksian data. Hasil studi menunjukan bahwa interkasi multi-etnik di Tanjung Benoa telah dilaksanakan dengan beragam cara yang telah mendorong kemunculan pola perilaku dan  pola pemanfaatan ruang yang unik. Adapun faktor-faktor penentu yang memicu terbentuknya kondisi ini adalah adanya aktivitas ritual dan keagamaan; alasan individu/personal; pelaksanaan beragam atraksi kesenian; mata pencaharian dari anggota masyarakat yang terlibat; dan ketersediaan lahan. Keywords: teritorialitas, interaksi multi-etnik, pola perilaku, pola spasial
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP FUNGSI KEKINIAN CATUSPATHA DENPASAR Eka Diana Mahira
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 1 No 2 (2014): October 2014
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.379 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2014.v01.i02.p07

Abstract

Abstract The current catuspatha of Denpasar is a legacy of the Badung Kingdom. It is composed both of built areas and an open space. These are transformed as the city changes, and the process affects the functions performed in the space. Catuspatha is a substantial traditional element of towns and should be conserved. In order to determine current transformations, a preliminary study of public perception was made using qualitative research methods. Findings demonstrate that socio-economic functions dominate catuspatha in Denpasar. This however contradicts the Spatial Plan for Denpasar which designates the area for urban governance related functions. The expectation is that the government will recognize the results of this study and consolidate a land use plan for the Catuspatha as an important legacy of the Badung Kingdom. Keywords: catuspatha, perception, sosio-economic function Abstrak Catuspatha Denpasar yang ada saat ini merupakan sebuah peninggalan dari Kerajaan Badung. Catuspatha ini dibentuk oleh ruang terbangun dan ruang terbuka. Seiring pertumbuhan kota, kedua elemen ini telah mengalami perubahan, dan prosesnya telah berpengaruh terhadap fungsi-fungsi yang ada di dalamnya. Catuspatha secara tradisional merupakan salah satu elemen kota yang substansial, yang harus dilestarikan dan diberlanjutkan keberadaannya. Dalam rangka mendalami beragam tansformasi yang telah terjadi sampai saat ini, diperlukan sebuah studi awal tentang persepsi masyarakat terhadap fungsi-fungsi yang diwadahi di dalamnya dengan menerapkan metode penelitian kualitatif. Hasil studi menunjukan bahwa fungsi sosial-ekonomi telah mendominasi pemanfaatan Catuspatha Denpasar. Temuan ini bertentangan dengan ketentuan yang ada di Tata Ruang Kota Denpasar yang mengatur Catuspatha ini sebagai zona utama yang mewadahi fungsi-fungsi berkenaan pemerintahan kota. Diharapkan, pemerintah akan memperhatikan hasil studi yang diperoleh disini dan mengkonsolidasikan sebuah tata guna keruangan untuk Catuspatha Denpasar sebagai legasi penting dari Kerajaan Badung. Keywords: catuspatha, persepsi, fungsi sosio-ekonomi
TATA BANGUNAN FASADE DI KORIDOR LEGIAN, KUTA Widiastuti Widiastuti; Syamsul Alam Paturusi
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 1 No 2 (2014): October 2014
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.708 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2014.v01.i02.p04

Abstract

Abstrak Studi ini mengambil lokasi di sepanjang Koridor Legian, Kuta-Bali. Penelitian ini dilaksanakan untuk mencapai dua tujuan utama. Pertama, mengindentifikasi wujud dari beragam fasade bangunan yang ada di sepanjang koridor ini. Kedua untuk mengevaluasi konformansi bangunan-bangunan yang ada. Adapun regulasi kunci yang dijadikan acuan adalah Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 5 tahun 2005 tentang Persyaratan Arsitektur Bangunan Gedung. Ketiga, di dalam prosesnya, penelitian ini juga menstudi ketidakefisienan dalam pemanfaatan lahan yang dilihat dari aspek ketinggian bangunan. Sehingga studi ini memfokuskan bahasannya pada bentuk dasar bangunan; langgam arsitektur; ketinggian bangunan; dan pemanfaatan material bangunan. Metoda kualitatif deskriptif telah diterapkan oleh penelitian ini, yang didukung oleh dokumentasi foto terkait 129 unit fasade yang disurvey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 62% bangunan tidak menerapkan langgam arsitektur Bali seperti yang disyaratkan; 61% menggunakan material fabrikasi (bukan alami); dan 65,8% merupakan bangunan berlantai tunggal. Kondisi tersebut mengindikasikan terjadinya pelangggaran terhadap tata aturan yang berlaku di seluruh Bali, dan ketidakefisiensian dalam pemanfaatan lahan pada Koridor Legian, dimana nilai ekonomis lahan tergolong relatif sangat tinggi.. Kata kunci: fasade, bahan bangunan, ketinngian & bentuk bangunan, efisiensi lahan Abstract This study, which takes place along Legian Corridor in Kuta-Bali, is conducted to achieve three main goals. The first is to identify forms of facade exhibited by various structures existing along this Corridor. Second, to evaluate the conformance of buildings. The key legislation here is Local Regulation No 5 year 2005 regarding Building Codes and Architectural Requirements. Third, in the process to investigate inefficiencies in land use based on building heights. So this study focuses on basic building forms, architectural styles, building heights, and the use of building materials. Descriptive qualitative research methods are used, supported with photographic documentation of all the 129 units being surveyed. Research findings demonstrate that 62 % of these building units do not incorporate Balinese architectural elements as is required; 61 % use various fabricated building materials; and 65.8 % of the units are single storey structures. These conditions indicate violations of building codes and regulations enforced across the Island, as well as inefficient land use within the Legian Corridor where land price is relatively very high. Keywords: facade, building materials, building height & form, land efficiency
Book Review : Companion to Urban Design Alexander R. Cuthbert
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 1 No 2 (2014): October 2014
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.711 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2014.v01.i02.p09

Abstract

-

Page 1 of 1 | Total Record : 8