cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Muhammadiyah
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 4 (2015): JURNAL KEDOKTERAN" : 10 Documents clear
Tingkat Kontrol Asma Mempengaruhi Kualitas Hidup Anggota Klub Asma di Balai Kesehatan Paru Setyoko -; Andra Novitasari; Anita Mayasari
Jurnal Kedokteran Muhammadiyah Vol 4 (2015): JURNAL KEDOKTERAN
Publisher : Jurnal Kedokteran Muhammadiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (49.971 KB)

Abstract

Latar Belakang : Asma mempunyai tingkat fatalitas yang rendah, namun kasus nya cukup banyak ditemukan pada masyarakat. Asma tidak dapat disembuhkan, tetapi dapat dikontrol. tujuan utama penatalaksanaan asma adalah meningkatkan dan mempertahankan kualitas hidupnya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui korelasi tingkat kontrol asma dengan kualitas hidup yang dinilai dengan Tes Kontrol Asma dan Kuesioner Kualitas Hidup Penderita Asma.Cara : Penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Pengambilan sample dilakukan secara total sampling, Data kontrol asma diambil menggunakan Tes Kontrol Asma dan kualitas hidup penderita asma yang diambil menggunakan Kuesioner Kualitas Hidup Pasien Asma. Data yang selanjutnya diolah menggunakan analisis korelasi rank spearman.Hasil : Data didapatkan 40 responden, yang terdiri atas 15 responden dengan tingkat kontrol asma tidak terkontrol, 15 responden terkontrol baik, dan 10 responden terkontrol total. Rata-rata skor Tes Kontrol Asma pada semua responden adalah 21,17 yang berarti keseluruhan responden mempunyai tingkat kontrol asma terkontrol baik. Rata-rata skor kualitas hidup pada responden dengan tingkat kontrol asma tidak terkontrol adalah 4,2, responden terkontrol baik adalah 5,25,dan responden terkontrol total adalah 5,5. Rata skor kualitas hidup pada seluruh responden adalah 4,9.Kesimpulan : ada hubungan yang signifikan antara kontrol asma dengan kualitas hidup. Semakin tinggi tingkat Kontrol Asma, akan semakin tinggi skor kualitas hidup.Kata Kunci : kontrol asma, kualitas hidup
Profil Lipid sebagai Kontrol Glikemik pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe II Zulfachmi Wahab; Andra Novitasari; Nur Fitria W
Jurnal Kedokteran Muhammadiyah Vol 4 (2015): JURNAL KEDOKTERAN
Publisher : Jurnal Kedokteran Muhammadiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (506.343 KB)

Abstract

Latar Belakang: Jumlah penderita diabetes mellitus (DM) meningkat setiap tahunnya. Kontrol glikemik yang buruk dapat menimbulkan kerusakan jangka panjang pada organ vital seperti ginjal, saraf, mata dan pembuluh darah. Penderita DM memiliki kecenderungan dislipidemia yang merupakan resiko terjadi penyakit kardiovaskuler. HbA1c merupakan kontrol glikemik jangka panjang DM. HbA1c diharapkan mampu berperan sebagai prediktor profil lipid dan kontrol glikemik pada pasien DM.Metode: Penelitian dengan observasi retrospektif bersifat analitik dengan pendekatan corss sectional. Data sekunder menggunakan data rekam medis. Teknik pengambilan sampel dengan purposive sampling. Populasi adalah penderita DM tipe 2.Hasil : Data dari 63 responden penelitian didapatkan karakteristik mayoritas responden adalah perempuan 41 (65.1%). Sebagian besar responden termasuk kategori lansia akhir 19 (30.2%). Uji Chi square didapatkan p<0.1 pada hubungan HbA1c dengan kolesterol total pada usia lansia awal, lansia akhir dan manula baik perempuan dan laki laki. Hubungan HbA1c dengan Trigliserid pada usia lansia awal, lansia akhir dan manula nilai p<0.1. Hubungan kadar HbA1c dengan LDL pada ketegori usia manula dan dewasa berjenis kelamin laki-laki nilai p<0.1. Hubungan kadar HbA1c dengan HDL pada kategori usia manula berjenis kelamin laki laki dan perempuan nilai p<0.1.Simpulan: HbA1c dapat digunakan sebagai biomarker kontrol glikemik jangka panjang dan memprediksi keadaan profil lipid pada penderita DM tipe II. Kata kunci : DM tipe 2,dislipidemia, HbA1c, profil lipid.
Faktor Resiko Kejadian Hipertensi dalam Kehamilan Afiana Rohmani; Muhamad Taufiqy Setyabudi; Diana Ratih Puspitasari
Jurnal Kedokteran Muhammadiyah Vol 4 (2015): JURNAL KEDOKTERAN
Publisher : Jurnal Kedokteran Muhammadiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (64.216 KB)

Abstract

Latar Belakang : Kejadian hipertensi dalam kehamilan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor (multiple causation). Usia ibu (<20 atau ?35 tahun), primigravida, nulliparitas dan peningkatan Indeks Massa Tubuh (IMT) merupakan faktor resiko untuk terjadinya hipertensi dalam kehamilan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor-faktor resiko dengan kejadian hipertensi dalam kehamilan di bagian Obstetri dan Ginekologi RSUD Tugurejo Semarang Periode Oktober-Desember 2013.Metode : Penelitian ini merupakan studi observasional dengan metode cross-sectional terhadap variabel usia maternal, graviditas dan indeks massa tubuh terhadap kejadian hipertensi dalam kehamilan. Sampel dalam penelitian ini adalah ibu hamil yang datang di Poli Rawat Jalan Spesialis Obstetri dan Ginekologi RSUD Tugurejo Semarang pada bulan Oktober-Desember 2013. Sampel didapatkan dengan teknik total sampling , sebanyak 43 orang dari 531 ibu mengalami hipertensi dalam kehamilan.Hasil : Hasil analisis : variabel graviditas menunjukkan bahwa tidak ada hubungan dengan kejadian hipertensi dalam kehamilan(p=0,077). Sedangkan variabel usia maternal (OR=2,774; p = 0,004) dan indeks massa tubuh (OR = 2,602; p = 0,005) menunjukkan bahwa ada hubungan dengan kejadian hipertensi dalam kehamilan. Hasil analisis multivariat menunjukan bahwa variabel usia maternal) merupakan faktor risiko paling dominan (p=0,003) terjadinya hipertensi dalam kehamilan.Simpulan : Ada hubungan antara usia maternal dan indeks massa tubuh dengan kejadian hipertensi dalam kehamilan dan tidak ada hubungan antara graviditas dengan kejadian hipertensi dalam kehamilan.Kata kunci : Usia maternal, graviditas, indeks massa tubuh, hipertensi dalam kehamilan
Korelasi Tehnik Bermain dengan Cidera Bahu pada Pemain Bulu Tangkis Muhammad Riza Setiawan; Sigit Muryono; Indah Nurul Maghfiroh
Jurnal Kedokteran Muhammadiyah Vol 4 (2015): JURNAL KEDOKTERAN
Publisher : Jurnal Kedokteran Muhammadiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (32.991 KB)

Abstract

Latar Belakang: Olahraga bulutangkis merupakan suatu usaha untuk menjatuhkan shuttlecock didaerah permainan lawan dan berusaha agar lawan tidak memukul shuttlecock kembali dan menjatuhkannya di daerah permainan sendiri. Bulutangkis merupakan olahraga yang banyak menggunakan kemampuan lengan dimana penggunaan lengan secara berlebihan dan berulang-ulang dan dengan frekuensi tinggi akan menyebabkan timbulnya otot bekerja berlebihan, tidaklah mengherankan apabila dalam olahraga bulutangkis seorang pemain bulutangkis sangat rentan terhadap terjadinya cedera. Cedera menjadi suatu risiko bagi siapa saja yang berolahraga baik pemain biasa ataupun atlet.Tujuan :Menganalisis korelasi antara teknik bermain dengan cedera pada bahu (cingulum membri superioris) akibat aktivitas olahraga bulutangkis di Kota Semarang.Metode:Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik deskriptif atau survey analitik, dengan desain penelitian cross sectional dengan pendekatan retrospektif. Penelitian ini dilaksanakan di tiga puluh klub bulutangkis di Kota Semarang.Tekhnik pengambilan sampel dengan proporsional random sampling, dimana didapatkan sebanyak 80 sampel. Seluruh proses pengolahan dan analisis data menggunakan program komputer.Hasil :Berdasarkan 80 sampel pemain bulutangkis, sebanyak 54 pemain (67.5%) pernah mengalami cedera bahu. Dan dari 54 pemain yang mengalami cedera bahu, sebanyak 48 (88.9%) disebabkan karena teknik keliru. Untuk hasil bivariat dengan chi square didapatkan hasil, ada hubungan yang signifikan antara teknik keliru dengan kejadian cedera bahu (p = 0,000). Sedangkan jenis cedera yang sering terjadi yaitu spasme otot (45%), sprain (8.8%), strain (6.3%), dislokasi (5%), subluksasio (1.3%) dan ruptur ligamentum (1.3%).Simpulan : Teknik bermain yang salah pada olahraga bulu tangkis mempengaruhi terjadinya cidera bahu.Kata kunci:Teknik Bermain, cedera bahu (cingulum membri superioris), olahraga bulutangkis
Analisis Faktor yang Mempengaruhi Derajat Infeksi Dengue Pada Anak Andra Novitasari; Galuh Ramaningrum; Devi Yanuar P
Jurnal Kedokteran Muhammadiyah Vol 4 (2015): JURNAL KEDOKTERAN
Publisher : Jurnal Kedokteran Muhammadiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (53.16 KB)

Abstract

Latar Belakang : Infeksi virus dengue sering menyerang anak usia dibawah 15 tahun. Penyakit infeksi dengue timbul secara akut dan dalam waktu singkat keadaan pasien dapat memburuk dan sering berakibat fatal akibat terlambat tertangani. Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyebab kematian dengan jumlah yang bermakna.Infeksi virus dengue tidak selalu berkembang menjadi DBD. Faktor yang mempengaruhi salah satunya adalah sistem imun yang dipengaruhi juga oleh status gizi, umur dan jenis kelamin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi derajat infeksi dengue pada anak.Metode : Penelitian observasional analitik secara retrospektif dengan desain cross sectional. Pengambilan sampel dengan metode simple random sampling dengan memperhatikan kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis data menggunakan uji chi square dilanjutkan dengan uji regresi logistik.Hasil : Sampel penelitian adalah sebesar 77 sampel. Analisis bivariat menunjukkan hasil uji chi square pada status gizi (p = 0,013<0,05) dan jenis kelamin (p = 0,026<0,05). Pada analisis regresi logistic pada status gizi diperoleh OR = 9,474 (95% CI : 1,177-76,227).Kesimpulan : Ada hubungan yang signifikan antara status gizi dan jenis kelamin dengan derajat infeksi dengue. Status gizi merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap derajat infeksi dengue. Status gizi buruk/kurang memiliki peluang 9,474 kali menderita DBD. Kata Kunci : status gizi, umur, jenis kelamin, derajat infeksi dengue
Efek Toksik Formalin terhadap Gangguan Fungsi Hepar Afiana Rohmani; Sri Latiyani Djamil; Ayu Rindwita Indah
Jurnal Kedokteran Muhammadiyah Vol 4 (2015): JURNAL KEDOKTERAN
Publisher : Jurnal Kedokteran Muhammadiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (55.819 KB)

Abstract

Latar Belakang: Formalin merupakan salah satu xenobiotik yang sekarang ini banyak ditemukan dalam industri makanan sebagai pengawet. Jejas kimia formalin dapat memacu terbentuknya senyawa reactive oxygen species (ROS) dan proses hipoksia histotoksik. Hepar merupakan organ yang memiliki kapasitas metabolik tertinggi dibanding organ lain. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian formalin peroral terhadap kadar SGOT dan SGPT, sebagai parameter fungsi hepar , pada tikus Wistar (Rattus norvegicus) .Metode: Penelitian ini menggunakan penelitian eksperimental laboratorik dengan post test only control group design. Jumlah sampel sebanyak 20 ekor tikus Wistar yang telah memenuhi kriteria Ekslusi dan inklusi. Tikus diadaptasi selama 7 hari, pada hari ke-8 tikus Wistar dibagi secara simple random sampling menjadi 2 kelompok. Kelompok kontrol diberi placebo peroral. Kelompok Perlakuan diberi formalin peroral 0.1mL/kgBB/hari, Setelah 2 minggu semua sampel penelitian dilakukan pemeriksaan kadar SGOT dan SGPT. Analisa pada penelitian ini menggunakan uji Independent Sampel T Test.Hasil:. Terdapat pengaruh pemberian formalin terhadap kadar SGOT/SGPT hepar tikus wistar dengan uji T Test (p= 0,00).Kesimpulan: Terdapat peningkatan kadar SGOT dan SGPT hepar tikus putih (Rattus norvegicus) galur Wistar pada pemberian formalin peroral dibandingkan kontrol placebo (p=0.00)Kata kunci: Formalin, Kadar SGOT SGPT, fungsi hepar
Faktor Prediktor Carpal Tunnel Syndrome (CTS) pada Pengrajin Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) Rochman Basuki; M. Naharuddin Jenie; Zimamul Fikri
Jurnal Kedokteran Muhammadiyah Vol 4 (2015): JURNAL KEDOKTERAN
Publisher : Jurnal Kedokteran Muhammadiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (42.189 KB)

Abstract

Latar Belakang: Carpal Tunnel Syndrome (CTS) adalah disfungsi saraf medianus yang terjadi karena peninggian tekanan di dalam terowongan karpal. Faktor prediktor CTS adalah usia, jenis kelamin, lama kerja, masa kerja, beban kerja serta frekuensi gerakan repetitif yang terjadi dalam jangka waktu yang lama misalnya pekerja di bagian produksi kain tenun ATBM ( Alat Tenun Bukan Mesin). Menurut National Health Interview Study (NHIS) memperkirakan bahwa prevalensi CTS yang dilaporkan dengan populasi dewasa sebesar 1.55% (2,6 juta).Tujuan : Menganalisis faktor prediktor CTS yaitu : usia, lama kerja, masa kerja, beban kerja, gerakan repetitive.Metode: Jenis penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional ini menggunakan keseluruhan populasi sebanyak 60 orang pengrajin Tenun ATBM.. Variabel bebas adalah usia, jenis kelamin, lama kerja, masa kerja, beban kerja, gerakan berulang. Variabel terikat adalah Kejadian CTS. Analisis data menggunakan uji Chi Square dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil : Hubungan usia dengan CTS nilai p = 0,026, hubungan lama kerja dengan CTS nilai p = 0,000, hubungan masa kerja dengan CTS nilai p = 0,000, hubungan beban kerja dengan CTS nilai p = 0,000, dan hubungan gerakan berulang dengan CTSnilai p = 0,001:Kesimpulan : Ada hubungan antara usia, lama kerja, masa kerja, beban kerja, gerakan repetitive dengan kejadian CTS.Kata Kunci: Usia, Lama Kerja, Masa Kerja, Beban Kerja, Gerakan Berulang, Carpal Tunnel Syndrome(CTS)
Faktor Maternal yang Berpengaruh dengan Perilaku Pemberian ASI Eksklusif 6 Bulan Pertama Kelahiran Gunadi -; Rochman Basuki; Dahlia Dwi Prasetyaningrum
Jurnal Kedokteran Muhammadiyah Vol 4 (2015): JURNAL KEDOKTERAN
Publisher : Jurnal Kedokteran Muhammadiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (81.458 KB)

Abstract

Latar Belakang : ASI eksklusif merupakan nutrisi terpenting yang dibutuhkan oleh bayi yang idealnya diberikan selama 6 bulan tanpa diberi makanan lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor predisposisi yaitu pengetahuan tentang ASI eksklusif, pendidikan, intensitas menyusui pada ibu bekerja dengan perilaku pemberian ASI eksklusif pada bayi umur 0-6 bulan.Metode : Penelitian ini merupakan studi observasional dengan desain cross sectional yang dianalisis dengan menggunakan uji chi square meliputi analisis univariat dan analisis bivariat terhadap variabel pengetahuan tentang ASI, pendidikan, dan intensitas menyusui pada ibu bekerja dengan perilaku pemberian ASI eksklusif. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 87 responden. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik random sampling.Hasil : Hasil analisis bivariat dari 87 responden yang menyusui dan mempunyai bayi usia 0-6 bulan. Pengetahuan tentang ASI eksklusif ( P- value 0,024), pendidikan (P- value 0,000), dan intensitas menyusui pada ibu bekerja (P-value 0,000), dari hasil di atas menunjukkan bahwa ada hubungan bermakna antara pengetahuan tentang ASI eksklusif ( P- value 0,024 < ? 0,05), pendidikan (P- value 0,000 < ? 0,05) , dan intensitas menyusui pada ibu bekerja dengan perilaku pemberian ASI eksklusif (P-value 0,000 < ? 0,05).Kesimpulan : Ada hubungan antara pengetahuan tentang ASI eksklusif, pendidikan, dan intensitas menyusui pada ibu bekerja dengan perilaku pemberian ASI eksklusif pada bayi umur 0-6 bulan.Kata kunci : ASI eksklusif, faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku.
Prevalensi Derajat Asfiksia Neonatorum pada Berat Badan Bayi Lahir Rendah Afiana Rohmani; Lilia Dewiyanti; Prima Maulana cahyo Nugroho
Jurnal Kedokteran Muhammadiyah Vol 4 (2015): JURNAL KEDOKTERAN
Publisher : Jurnal Kedokteran Muhammadiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (45.235 KB)

Abstract

Latar Belakang : Bayi berat lahir rendah (BBLR) merupakan bayi yang lahir dengan berat badan lahir kurang dari 2.500 gram tanpa memandang masa kehamilan. Pada BBLR beresiko untuk mengalami kegagalan nafas yang akan menjadi asfiksia neonatorum. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi derajat asfiksia neonatorum pada BBLR di RSUD Kabupaten Karanganyar periode 1 Agustus 2012 31 Agustus 2013.Metode : Jenis penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Cara pengambilan sample dilakukan secara total sampling, dengan memperhatikan kriteria inklusi dan eksklusi sehingga didapatkan 125 BBLR.Hasil :Jumlah BBLR dengan derajat BBLR (berat bayi lahir 1500 2500) merupakan yang terbanyak dengan jumlah 107(85,6%). Jumlah Asfiksia Neonatorum tingkat keparahan sedang merupakan yang terbanyak dengan jumlah 104 (83,2%). BBLR dengan kejadian asfiksia neonatorum ringan sebanyak 7 dengan prosentase 5,6%, kejadian asfiksia neonatorum sedang sebanyak 97 dengan prosentase 77,6%, dan kejadian asfiksia berat sebanyak 3 dengan prosentase 2,4%. BBLSR dengan kejadian asfiksia nenonatorum ringan sebanyak 0 dengan prosentase 0,0%, kejadian asfiksia neonatorum sedang sebanyak 7 dengan prosentase 5,6%, dan kejadian asfiksia neonatorum berat sebanyak 1 dengan prosentase 0,8%. BBLASR dengan kejadian asfiksia neonatorum ringan sebanyak 0 dengan prosentase 0,0%, kejadian asfiksia neonatorum berat sebanyak 0 dengan prosentase 0,0%, sedangkan kejadian asfiksia neonatorum berat sebanyak 10 dengan prosentase 4,3%.Kesimpulan : Derajat BBLR dengan asfiksia neonatorum dengan tingkat keparahan sedang adalah yang tertinggi angka kejadiannya.Kata Kunci : BBLR, Asfiksia Neonatorum.
Merokok berperan pada kejadian andropouse Kanti Ratnaningrum; Muh. Sudiat; Ray Subandriya
Jurnal Kedokteran Muhammadiyah Vol 4 (2015): JURNAL KEDOKTERAN
Publisher : Jurnal Kedokteran Muhammadiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (36.001 KB)

Abstract

Latar Belakang: Merokok menyebabkan kadar Sex Binding Hormon Globulin (SHBG) meningkat dan bioavailabilitas testosteron dalam darah menurun dan penurunan hormon testosteron dapat menpercepat andropouse. Sedangkan kondisi obesitas menyebabkan penumpukan lemak yang merubah hormon testosteron menjadi esterogen. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor risiko merokok dan obesitas dengan kejadian andropause.Metode: Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan pendekatan cross sectional, teknik penentuan sampel menggunakan purposive sampling. Sampel adalah laki-laki usia >40 tahun yang bertempat tinggal di Desa kembang, kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali. Kriteria eksklusi meliputi kebiasaan konsumsi alkohol, riwayat penyakit diabetes mellitus/ kardiovaskuler, pernah atau sedang menjalani terapi radiasi. Data merupakan data primer dan sekunder menggunakan kuisioner dan wawancara. Data dianalisis menggunakan uji chi square.Hasil: Dari 138 sampel, di dapatkan hasil adanya hubungan antara kebiasaan merokok dan obesitas dengan kejadian andropause (p-value=0,000; p-value=0,035) sedangkan usia, jumlah anak, tingkat pendidikan, dan pekerjaan bukan merupakan faktor yang berhubungan dengan kejadian andropouse.Simpulan: merokok dan obesitas berhubungan dengan kejadian Andropause.Kata kunci : Andropause , rokok, obesitas

Page 1 of 1 | Total Record : 10