cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jap.anestesi@gmail.com
Editorial Address
Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Jalan Pasteur No. 38 Bandung 40161, Indonesia
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Anestesi Perioperatif
ISSN : 23377909     EISSN : 23388463     DOI : 10.15851/jap
Core Subject : Health, Education,
Jurnal Anestesi Perioperatif (JAP)/Perioperative Anesthesia Journal is to publish peer-reviewed original articles in clinical research relevant to anesthesia, critical care, case report, and others. This journal is published every 4 months with 9 articles (April, August, and December) by Department of Anesthesiology and Intensive Care Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran/Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung.
Arjuna Subject : -
Articles 484 Documents
Perbandingan antara Pemberian Diet Oral Dini dan Tunda terhadap Bising Usus Pascabedah Sesar dengan Anestesi Spinal Pasha, Mohammer; Hanafie, Achsanuddin; Ihsan, Muhammad
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (793.064 KB) | DOI: 10.15851/jap.v6n2.1422

Abstract

Inisiasi diet pascabedah masih merupakan kontroversi pada pasien pascabedah termasuk pada pasien pascabedah sesar. Penelitian ini bertujuan membandingkan waktu kembalinya fungsi gastrointestinal yang dilihat dari munculnya bising usus antara kelompok yang menerima diet oral dini dan diet oral tunda. Uji klinis acak terkontrol tersamar ganda dilakukan pada periode bulan April–Mei 2017 di RSUP Haji Adam Malik Medan, RS Universitas Sumatera Utara Medan, dan RSU Sundari Medan. Sebanyak 40 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak termasuk eksklusi diamati waktu munculnya bising usus pascabedah sesar dan keluhan gastrointestinal yang muncul berupa mual, muntah, dan kembung. Dari 40 pasien tersebut, 20 subjek merupakan kelompok diet oral dini dan 20 subjek lagi merupakan kelompok diet oral tunda. Data dianalisis dengan menggunakan uji chi-square dan Mann-Whitney. Munculnya bising usus tidak berbeda signifikan (p>0,05) antara kedua kelompok dan tidak ada perbedaan yang signifikan dalam hal keluhan mual, muntah, dan kembung pascaoperasi antara kedua kelompok (p>0,05). Pemberian diet oral dini dapat diberikan 2 jam pascaoperasi bedah sesar tanpa penyulit dengan anestesi spinal tanpa keluhan gastrointestinal yang bermakna.  Kata kunci: Anestesi spinal, bedah sesar, diet oral dini, diet oral tunda, keluhan gastrointestinal Comparison of Peristaltic Sound between Early and Late Oral Diet Administration  in  Post-Caesarean Section Post-with Spinal Anesthesia A controversy still exists for post-operative diet administration, including for post-post-post-caesarean section patients. The aim of this study was to compare the return of gastrointestinal function reflected by the peristaltic sound between groups receiving early oral diets and late oral diets. This was a double blind randomized controlled trial performed from April to May 2017 in Haji Adam Malik General Hospital Medan, North Sumatera University Hospital, Medan, and Sundari General Hospital, Medang on 40 patients who met the inclusion and exclusion criteria. Subjects were observed to determine the time when bowel movement started as well as for gastrointestinal complaints. Of all 40sujects enrolled in this study, 20 were provided with early oral diet nd the remaining 20 subjects received late oral diet group. Data were then analyzed using chi-square and Mann-Whitney tesst The return of peristaltic sound was not significantly different between both groups (p>0.05). No significant difference found in the occurence of post-operative nausea, vomiting, and post-bloating between the two groups (p>0.05). Oral diet may be administered safely 2 hours after uncomplicated cesarean section under spinal anesthesia without any significant gastrointestinal complaint.Key words: Cesarean section, delayed oral diet, early oral diet, gastrointestinal complication, spinal anesthesia
Perbandingan Kedalaman Sedasi antara Deksmedetomidin dan Kombinasi Fentanil-Propofol Menggunakan Bispectral Index Score pada Pasien yang Dilakukan Kuretase Singarimbun, Daniel Asa; Indriasari, Indriasari; Maskoen, Tinni T.
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (929.029 KB) | DOI: 10.15851/jap.v6n2.1424

Abstract

Kuretase tergolong bedah minor yang menyebabkan nyeri dan ketidaknyamanan pasien sehingga memerlukan tindakan sedasi-analgesi. Tujuan penelitian adalah membandingkan kedalaman sedasi antara deksmedetomidin dan kombinasi fentanil-propofol menggunakan bispectral index score (BIS) pada pasien yang dilakukan kuretase. Penelitian ini merupakan penelitian randomized controlled trial dengan teknik double blind pada 36 pasien dengan status fisik American Society of Anesthesiologists (ASA) I−II yang menjalani kuretase di ruangan Obstetri dan Ginekologi RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Juli sampai Oktober 2017. Kelompok deksmedetomidin mendapatkan loading dose deksmedetomidin 1 mcg/kgBB dalam waktu 10 menit dilanjutkan dosis pemeliharaan 0,5 mcg/kgBB/jam. Kelompol fentanil-propofol mendapatkan loading dose propofol 1 mg/kgBB dalam 10 menit diikuti dosis pemeliharaan 50 mcg/kgBB/jam ditambah fentanil 1 mcg/kgBB dalam 5 menit, lalu dicatat nilai BIS. Data dianalisis dengan uji-t dan Uji Mann-Whitney dengan p<0,05 dianggap bermakna. Analisis data statistik nilai BIS kelompok deksmedetomidin 79,50±2,121 dan fentanil-propofol 85,22±0,732 dengan perbedaan bermakna (p<0,05). Simpulan, penelitian ini menunjukkan kedalaman sedasi pada kelompok deksmedetomidin menghasilkan nilai BIS lebih rendah dibanding dengan fentanil-propofol pada pasien yang dilakukan kuretase. Kata kunci: Bispectral index score(BIS), dexmedetomidine, fentanil, kuretase, propofol Comparison of Sedation Depth between Dexmedetomidine and Fentanyl-Propofol using Bispectal Index Score in Patients Undergoing Curettage Curettage is a minor surgical procedure that can cause pain and anxiety. Therefore, analgesia and sedation are needed. The purpose of this research was to compare the depth of sedation using bispectral index score (BIS) scale between dexmedetomidine and fentanyl-propofol combination in patients undergoing curettage. This was a double blind randomized controlled trial on 36 patients with American Society of Anesthesiologists (ASA) physical status I−II at the delivery room of Dr. Hasan Sadikin General Hospital  from July to October 2017. Subjects were randomized into two groups: dexmedetomidine group receiving a loading dose of 1 mcg/kgBW dexmedetomidine in 10 minutes followed by 50 mcg/kgBW/hour for maintenance and fentanyl-propofol group receiving a loading dose of 1 mg/kgBW propofol in 10 minutes and fentanyl 1 mcg/kg within 5 minutes followed by a maintenance dose of propofol 50 mcg/kgBW/hour. The BIS score in dexmedetomidine group (79.0±2.121) was significantly lower than in fentanyl-propofol group (85.22±0.732) with p<0.05. Hence, the sedation depth observed through BIS score evaluation shows that the score in dexmedetomidine group is lower than in fentanyl-propofol group in patients undergoing curettage. Key words: Bispectral index score (BIS), curettage, dexmedetomidine, fentanyl, propofol 
Efektivitas Analgesik 24 Jam Pascaoperasi Elektif di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2017 Prabandari, Dita Aryanti; Indriasari, Indriasari; Maskoen, Tinni Trihartini
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (798.105 KB) | DOI: 10.15851/jap.v6n2.1221

Abstract

Nyeri akut pascaoperasi masih merupakan permasalahan dalam pelayanan kesehatan di seluruh dunia. Hampir 50% pasien pascaoperasi elektif mengalami nyeri yang berujung terhadap peningkatan kejadian nyeri kronik dan penurunan kepuasan pasien terhadap pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran mengenai analgesik yang digunakan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung dan efektivitasnya terhadap nyeri pascaoperasi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif observasional prospektif cross-sectional yang dilakukan pada pasien usia 18–65 tahun dengan status fisik American Society of Anaesthesiologist (ASA) kelas I–III di ruang perawatan pada jam ke-24 pascaoperasi selama tahun 2017 sebanyak 476 pasien. Subjek penelitian dikelompokkan berdasar atas jenis operasi yang menyebabkan nyeri ringan, sedang dan berat. Jenis analgesik pascaoperasi yang digunakan dan skala nyeri menggunakan numeric rating scale (NRS) dicatat. Efektif bila skala nyeri menggunakan NRS pada jam ke-24 pascaoperasi <4 dan tidak efektif bila NRS ≥4. Hasil penelitian didapatkan jenis analgesik terbanyak yang digunakan pada pasien pascaoperasi elektif adalah kombinasi petidin dan ketorolak i.v. dan derajat nyeri pada jam ke-24 pascaoperasi elektif yang dialami pasien adalah nyeri ringan NRS 1–3 (57,8%), nyeri sedang NRS 4–6 (26,9%), dan nyeri berat NRS 7–10 (2,7%). Simpulan penelitian ini adalah efektivitas analgesik pascaoperasi di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung masih belum baik karena masih terdapat sepertiga pasien mengalami nyeri NRS ≥4 dari target rumah sakit 100% bebas nyeri.Kata kunci: Analgesik pascaoperasi, derajat nyeri pascaoperasi, efektivitas analgesik pascaoperasi Effectiveness of Analgesics 24 Hours Post-Post-Elective Surgery in Dr. Hasan Sadikin General Hospital in 2017Acute post-operative pain is still a worldwide issue in healthcare services. Nearly 50% of post-elective surgery patientspost- experience post-post-operative pain, causing increased chronic pain and decreased patient satisfaction towards healthcare services. This study aimed to provide  description on the types of analgesics used in Dr,Hasan Sadikin General Hospital and their effectiveness on post-operative pain. This  was a cross-sectional descriptive observational prospective study performed on 476 patients aged 18–65 years old with a physical status American Society of Anaesthesiologist (ASA) class I–III, treated in the ward 24 hours post- surgery in 2017. Subjects were classified based on the type of surgery that induced mild, moderate, and severe pain. The types of post-operative analgesics used and post-surgery Numeric Rating Scale (NRS) were documented. Analgesics was considered effective if the 24 hour post-surgery NRS was <4 and ineffective if the NRS was ≥4. This study showed that the type of analgesicsa mostly used for post-operative pain  was the combination of pethidine and ketorolac i.v. Pain scales experienced by patients at 24 hours post- surgery were mild withNRS 1–3 (57.8%), moderate pain with NRS 4–6 (26.9%), and severe pain with NRS 7–10 (2.7%). In conclusion, the post-operative analgesics provided in Dr. Hasan Sadikin General Hospital has not met the 100% pain free target set by the hospital target because some patients still experience pain with NRS ≥4.  . Hence, the effectiveness is still not adequate. Key words: Effectivity of post- operative analgesia, post- operative analgesia, post- operative pain scale
Penggunaan Skor Apfel Sebagai Prediktor Kejadian Mual dan Muntah Pascaoperasi di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Hendro, Rachmad Try; Pradian, Erwin; Indriasari, Indriasari
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (818.136 KB) | DOI: 10.15851/jap.v6n2.1425

Abstract

Post operative nausea and vomiting (PONV) merupakan kejadian mual dan atau muntah setelah tindakan operasi menggunakan anestesi pada 24 jam pertama pascaoperasi. Kejadian PONV dilaporkan memiliki perbedaan pada berbagai bangsa dan etnis. Skor Apfel merupakan salah satu prediktor PONV yang objektif dan paling sederhana. Sebelum menggunakannya sebagai prosedur rutin di RSHS, dilakukan penelitian ini yang bertujuan menilai apakah skor Apfel dapat digunakan sebagai prediktor PONV pada pasien yang menjalani operasi dengan anestesi umum di RSHS. Dilakukan suatu studi diagnostik secara potong lintang pada 100 pasien yang menjalani operasi elektif dengan anestesi umum di RSHS pada bulan September–Oktober 2017. Subjek penelitian dikelompokkan dalam 5 kelompok skor Apfel, yaitu perempuan, tidak merokok, menggunakan opioid pascaoperasi, dan memiliki riwayat PONV sebelumnya. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat 42% angka kejadian PONV, terdiri atas skor Apfel 0 (8,3%), skor 1 (19,04%), skor 2 (36,6%), skor 3 (63,63%), dan skor 4 (80%) yang sesuai dengan nilai prediktif skor Apfel. Angka kejadian PONV pada skor Apfel risiko tinggi (≥3) 61,9%, bermakna secara signifikan dapat membedakan kejadian PONV dengan nilai sensitivitas 61,9%, spesifisitas 81,0%, dan nilai AUC 0,777. Hasil ini menunjukkan bahwa skor Apfel memiliki validitas yang baik untuk membedakan antara pasien yang akan mengalami PONV dan yang tidak. Simpulan penelitian ini, skor Apfel dapat dipakai untuk memprediksi kejadian PONV di RSHS. Kata kunci: Post operative nausea and vomiting, prediktor, skor Apfel, validitas  Use of Apfel Score as a Predictor for Post-Post-operative Nausea and Vomiting in Dr. Hasan Sadikin General HospitalPost-operative nausea and vomiting (PONV) is defined as any nausea, retching, or vomiting that occurs  during the first 24 hour after surgery. Previous studies have reported that nationality and ethnicity influence the incidence of PONV. Apfel score is one of the objective and best simplified predicting PONV scoring systems available. Until recently, no predicting PONV score is used in Dr. Hasan Sadikin General Hospital (RSHS). Before implementing any scoring system as a protocol in this hospital, validation of the clinical risk assessment score in the hospital setu is needed. This was a cross-sectional diagnostic study on 100 patients underwentpost- various elective surgeries under general anesthesia. Subjects were divided into five groups, based on the Apfel risk scoring system. Factors observed consisted of four factors: female gender, nonsmoking status, post-operative use of opioids, and history of PONV or motion sickness. The results  were analyzed for total incidence of PONV in each Apfel score group. Of 100 patients assessed, a total of 42% experienced PONV. Patients  in Apfel score 0, 1, 2, 3, and 4 presented a PONV incidence score of 8.3%, 19.04%, 36.6%, 63.63%, and 80%, respectively. This incidence corresponds to the previous predicted values Apfel score. The incidence of PONV in patients  under high risk Apfel score (≥3) was 61.9%, showing a significant correlation with PONV. The sensitivity was 61.9%, the specificity was 81.0%, and the AUC value was 0.777. This confirms that Apfel score has good validity to predict the incidence of PONV. In conclusion, Apfel scoring system is useful for identifying patients with PONV in RSHS.Key words: Apfel score, post-post-operative nausea and vomiting, predictor, validity
Perbandingan Bupivakain 0,25% dengan Kombinasi Bupivakain 0,25% dan Deksametason 8 mg pada Blok Transversus Abdominis Plane dengan Panduan Ultrasonografi sebagai Analgesia Pascahisterektomi Delis, Eddo Alan; Pradian, Erwin; Yadi, Dedi Fitri
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (843.499 KB) | DOI: 10.15851/jap.v6n2.1240

Abstract

Analgesia dinding abdomen anterior dan lateral dapat dilakukan dengan blok transversus abdominis plane (TAP). Penelitian ini bertujuan menilai waktu kebutuhan analgesik pertama dan skor nyeri 2, 4, 6, 12, 24 jam pascahisterektomi antara bupivakain 0,25% dengan kombinasi bupivakain 0,25% dan deksametason 8 mg pada blok TAP. Penelitian menggunakan uji klinis acak terkontrol buta tunggal, dilakukan di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung pada bulan Oktober–Desember 2017. Pasien dibagi menjadi grup bupivakain 0,25% (grup B, n=20) dan grup kombinasi bupivakain 0,25% deksametason 8 mg (grup BD, n=20). Uji statistik menggunakan uji-t berpasangan, Uji Wilcoxon, dan uji chi-square. Hasil penelitian mengungkapkan waktu kebutuhan analgesik pertama lebih lama pada grup BD (866,45±98,11 menit) dibanding dengan grup B (352,75±43,32 menit) dengan perbedaan signifikan (p<0,05). Median skor nyeri  pascahisterektomi grup BD pada 4 jam (1), 6 jam (2), 12 jam (2), dan 24 jam (2) lebih rendah dibanding dengan grup B dengan median skor nyeri 4 jam (2), 6 jam (3), 12 jam (4), dan 24 jam (3), dengan perbedaan signifikan (p<0,05). Simpulan penelitian ini adalah kombinasi bupivakain 0,25% dan deksametason 8 mg pada blok TAP menghasilkan waktu kebutuhan analgesik pertama lebih lama dan skor nyeri pascahisterektomi lebih rendah dibanding dengan bupivakain 0,25%.Kata kunci: Blok transversus abdominis plane, deksametason, skor nyeri, waktu kebutuhan analgesik pertamaComparison between 0.25% Bupivacaine  and Combination of 0.25% Bupivacaine and 8 mg Dexamethasone  on Transversus Abdominis Plane Block Ultrasound-guided as Post- Hysterectomy Analgesia Analgesia for  anterior and lateral abdominal walls can be provided through transversus abdominis plane (TAP) block. This study aimed to evaluate the timing of first analgesic requirement and post- hysterectomy pain scores at 2, 4, 12, 24 hours between 0.25% bupivacaine and combination of 0.25% bupivacaine and 8 mg dexamethasone on TAP block. This was a randomized single-blind controlled trial study on patients Dr. Hasan Sadikin Hospital (RSHS) Bandung in the period of October–December 2017. Patients were randomly divided into 0.25% bupivacaine (B group, n=20) and o0.25% bupivacaine 8 mg dexamethasone combination (BD group, n=20). Statistical test was performed using paired t test, Wilcoxon test, and chi-square test. It was revealed that the time to first analgesic requirement was longer in BD group (866.45±98.11 minutes) than in B group (352.75±43.32 minutes) with a significant difference (p<0.05). The post-hysterectomy pain score medians in BD group at 4 hours (1), 6 hours (2), 12 hours (2), and 24 hours (2) were lower than those of B group with a significant difference (p<0.05). Therefore, 0.25% bupivacaine and 8 mg dexamethasone combination for ultrasound-guided TAP block presents longer time to first analgesic requirement and lower pain score compared to  0.25%. bupivacaine Key words:  Dexamethasone, pain  score, time  to  first  analgesic requirement,   transversus abdominis plane  block 
Sindrom Burnout pada Peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Sutoyo, Dessy; Kadarsah, Rudi Kurniadi; Fuadi, Iwan
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (912.559 KB) | DOI: 10.15851/jap.v6n3.1360

Abstract

Sindrom burnout didefinisikan sebagai kelelahan kronik yang mencakup tiga komponen, yaitu kelelahan emosional, depersonalisasi, dan berkurangnya kepuasan terhadap pencapaian pribadi. Peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) berisiko tinggi mengalami kelelahan dan sindrom burnout akibat beban kerja yang tinggi yang dihadapi baik dalam hal melakukan pelayanan dalam bidang anestesi dan beban dalam pendidikannya. Penelitian ini bertujuan mengetahui angka kejadian sindrom burnout pada peserta PPDS Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (FK Unpad). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan pendekatan kuesioner yang dilakukan pada peserta PPDS Anestesiologi dan Terapi Intensif FK Unpad yang masih aktif dan memberikan pelayanan di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan April 2018 sebanyak 89 orang. Dilakukan penilaian menggunakan kuesioner yang mencakup data demografik, pendidikan dan pekerjaan, pencapaian prestasi pribadi, serta maslach burnout inventory yang sudah diterjemahkan. Hasil penelitian didapatkan angka kejadian sindrom burnout pada peserta PPDS Anestesiologi dan Terapi Intensif FK Unpad adalah 44%. Simpulan penelitian ini adalah angka kejadian sindrom burnout pada peserta PPDS Anestesiologi dan Terapi Intensif FK Unpad cukup tinggi, yaitu 44%.  Kata kunci: Depersonalisasi, kelelahan emosional, maslach burnout inventory, peserta PPDS Anestesiologi dan Terapi Intensif, sindrom burnoutBurnout Syndrome among Anesthesiology Residents in Universitas PadjadjaranBurnout syndrome is defined as chronic exhaustion that is characterized by emotional exhaustion, depersonalization, and a sense of low professional accomplishment. The main component of this syndrome is emotional exhaustion. Residents who are being trained in anesthesiology and intensive therapy  department have s high risk to exhaustion that will lead to burnout syndrome due to stressful environment and high work load in both medical service and medical education. The purpose of this study was to assess the incidence of burnout syndrome among residents in Anesthesiology and Intensive Therapy Department, Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran. This was a cross-sectional descriptive study on 89 residents that was performed in April 2018. Assessment was performed using a questionnaire on demographic, education, personal achievement, and medical service data as well as the translated Maslach Burnout Inventory to reveal the incidence of burnout syndrome among residents of Anesthesiology and Intensive therapy department, faculty of medicine, Universitas Padjadjaran. From the analysis, it was discovered that 44% of the residents experienced burned out syndrom. In conclusion, the incident of burn out syndrome among residents of Anesthesiology and Intensive Therapy Department, Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran is high. Key words: Anesthesiology and intensive care residents, burnout syndrome, depersonalization, emotional exhaustion, Maslach burnout inventory
Perbandingan Keberhasilan dan Waktu Intubasi Endotrakeal pada Manekin antara Bantal Intubasi Standar dengan Bantal Intubasi Modifikasi Permana, Sendy Setiawan; Pradian, Erwin; Yadi, Dedi Fitri
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1111.488 KB) | DOI: 10.15851/jap.v6n3.1363

Abstract

Intubasi pipa endotrakeal adalah standar baku manajemen jalan napas. Direct laryngoscopy dengan memposisikan kepala dan leher secara sniffing position menggunaan bantal agar visualisasi glotis optimal merupakan kunci untuk melakukan tindakan intubasi endotrakea. Tujuan penelitian adalah membandingkan keberhasilan dan lama waktu intubasi endotrakea pada manekin menggunakan bantal intubasi standar dan bantal intubasi modifikas. Penelitian menggunakan metode crossover randomized study dengan teknik nonprobability sampling oleh 31 orang residen anestesi pada manekin di ruang skill lab Departemen Anestesiologi dan Terapi Intesif FK Unpad  RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung periode maret 2018. Penelitian dibagi menjadi kelompok bantal intubasi standar (A) melakukan intubasi endotrakeal menggunakan bantal intubasi standar dilanjutkan menggunakan bantal intubasi modifikasi. Kelompok bantal modifikasi (B) melakukan intubasi endotrakeal dengan bantal intubasi modifikasi dilanjutkan menggunakan bantal intubasi standar, dinilai keberhasilan dan lama waktu intubasi. Data dianalisis dengan Uji t dan Uji Mann-Whitney dengan p<0,05 dianggap bermakna. Analisis data statistik menunjukkan angka keberhasilan yang sama pada kedua kelompok, sedangkan lama waktu intubasi endotrakea lebih singkat pada kelompok bantal modifikasi dibandingkan dengan kelompok bantal standar dengan perbedaan bermakna (p<0,05). Simpulan penelitian menunjukkan waktu intubasi menggunakan bantal intubasi modifikasi lebih singkat dibanding dengan menggunakan bantal standar, sedangan keberhasilan intubasi sama pada kedua kelompok.
Kesesuaian Pengkajian Nyeri Pascaoperasi dan Tidak Lanjutnya dengan Standar Prosedur Operasional Asesmen Nyeri pada Pasien Pediatrik di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2016 Tanjung, Iervan Churniawan; Tavianto, Doddy; Suwarman, Suwarman
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (805.121 KB) | DOI: 10.15851/jap.v6n3.1347

Abstract

Nyeri bukan hanya persepsi sensorik, tetapi juga emosi, kognitif, dan perubahan perilaku Pengkajian nyeri pada anak dinilai dengan berbagai sistem skoring. Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin Bandung telah membuat Standar Prosedur Operasional untuk menilai nyeri di ruang perawatan. Penelitian bertujuan mengetahui kesesuaian pengkajian nyeri pascaoperasi dan tindak lanjutnya dengan SPO asesmen nyeri pada pasien pediatrik di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin Bandung pada tahun 2016. Penelitian menggunakan metode deskriptif observasional retrospektif terhadap 158 rekam medis pasien pediatrik yang dirawat pada tahun 2016. Penelitian dilakukan di RSUP Dr. Hasan Sadikin sejak Februari sampai dengan Maret 2018. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa pengkajian nyeri sesuai SPO adalah 150 pasien (94,9%), tidak sesuai SPO 8 pasien (5,1%). Tindak lanjut pengkajian nyeri yang sesuai SPO adalah 138 pasien (87,4%), tidak sesuai SPO 13 pasien (8,2%), dan tidak dilakukan tindak lanjut 7 pasien (4,4%). Evaluasi ulang setelah tindak lanjut pengkajian nyeri sesuai SPO adalah 130 pasien (82%) dan tidak sesuai SPO 28 pasien (18%). Simpulan penelitian ini bahwa pengkajian nyeri pascaoperasi dan tindak lanjutnya sebagian besar sudah sesuai dengan Standar Prosedur Operasional. Kata kunci: Nyeri pascaoperasi, pediatrik, pengkajian nyeriCompliance of Postoperative Pain and Follow Up Assessment with Painful Assessment Standard Operating Procedures in Pediatric Patientsin Dr. Hasan Sadikin Bandung Year 2016Pain does not only involve sensoric perception. It also involves emotional, cognitive, and behavioral changes. Pain assessment inf children is performed using various scoring systems. Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung has developed Standard Operating Procedures to assess pain in treatment rooms. The objective of this study was to determine the compliance of postoperative pain assessment and its follow-up to the SOP on pediatric pain assessment in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung in 2016. This was a retrospective observational descriptive study on 158 medical records of pediatric patients who were treated during the period of 2016. The study was conducted from February to March 2018. It was revealed that pain assessment was assessed in compliance to the SOP in 150 patients (94.9%) while the remaining 8 patients (5.1%) were not assessed according to the SOP. The follow-up of pain assessment was performed in compliance with the SOP in 138 patients (87.4%), Thirteen patients (8.2%) were followed up using procedures that are not in compliance with the SOP while 7 patients (4.4%) were not followed up at all. Reevaluation after pain assessment follow up was performed in compliance with the SOP in 130 patients (82%) while the remaining 28 patients (18%) were reevaluated without using the SOP. It is concluded that most postoperative pain assessments and their follow-up are conducted in compliance with the Standard Operating Procedures.Key words: Postoperative pain, pediatric, pain assessment
Gambaran Penggunaan, Obat, Teknik, dan Permasalahan yang Dihadapi pada Blokade Kaudal di Kota Bandung Tahun 2016 Harsono, Handoyo; Tavianto, Doddy; Suwarman, Suwarman
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (822.207 KB) | DOI: 10.15851/jap.v6n3.1487

Abstract

Penanganan nyeri pada pasien anak merupakan tantangan yang cukup besar bagi dokter spesialis anestesi. Blokade kaudal merupakan salah satu teknik anestesi regional yang mudah dan sangat efektif sebagai analgetik pada anak yang menjalani operasi di bawah umbilikus. Data yang diperoleh dari Inggris dan Irlandia selama bulan April sampai dengan Juni 2008 menunjukkan bahwa penggunaan blokade kaudal masih rendah ( 61% ). Tujuan penelitian ini adalah mengetahui penggunaan, obat, teknik, dan masalah yang dihadapi pada blokade kaudal di Kota Bandung. Penelitian dilakukan selama bulan Maret hingga April 2018. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan  menggunakan kuesioner yang diberikan kepada 70 dokter spesialis anestesi di kota Bandung yang direspons oleh 64 orang (78%) dengan mengembalikan kuesioner. Dari penelitian ini didapatkan dokter spesialis anestesi yang melakukan blokade kaudal pada tahun 2016 sebesar 55%. Blokade kaudal digunakan untuk kombinasi anestesi dan analgesik pascaoperasi pada 62% responden. Teknik yang digunakan dalam blokade kaudal ini adalah blind technique tanpa alat bantu. Obat yang paling sering digunakan adalah bupivakain (91%). Permasalahan yang dihadapi di Kota Bandung yang mengakibatkan rendahnya penggunaan blokade kaudal adalah keterbatasan waktu tindakan (20%) dan ketersediaan obat dan alat (23%).Kata kunci: Blokade kaudal, bupivakain, teknik butaOverview on Usage, Drug, Technique and Problems on Caudal Blockade Procedure in Bandung City on 2016Pediatric pain management in pediatric is a big challenge for anesthesiologists. The caudal blockade is one of the easy and highly effective analgesic approaches for surgical procedure below umbilicus in children. Data from Ireland and United Kingdom show that the application of caudal blockade is relatively low (61%). The aim of this study was to explore the drug, technique, and challenges faced in caudal blockade application in Bandung City. This study was conducted from March to April 2018. This was a descriptive study using a questionnaire distributed to 70 anesthesiologist in Bandung city. The response rate was 77.65% (64 persons). This study found that 59.09% anesthesiologist had performed caudal block during 2016 which was used for anesthesia and post-operative analgesics by 61,54% respondents. Blind technique was used in this procedure without using additional equipment. The most frequently used was bupivacaine (97.44%). The low application of caudal block in Bandung during 2016 was caused by the limited time for the procedure (23.44%) and the availability of drug and equipment (23.44%).Key words: Caudal block, Bupivacaine, Blind technique
Gambaran Acute Physiologic and Chronic Health Evaluation (APACHE) II, Lama Perawatan, dan Luaran Pasien di Ruang Perawatan Intensif Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin Bandung pada Tahun 2017 Pamugar, Bramantyo; Pradian, Erwin; Fuadi, Iwan
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (850.734 KB) | DOI: 10.15851/jap.v6n3.1344

Abstract

Skor acute physiologic and chronic health evaluation (APACHE) II, lama perawatan, dan luaran pasien merupakan indikator penting di Intensive Care Unit (ICU). Ketiga indikator ini dapat berbeda dari satu dengan tempat lain. Ketiga indikator ini dapat dibandingkan di tempat lain untuk meningkatkan pelayanan ICU. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran skor APACHE II, lama perawatan, dan angka mortalitas pada pasien yang dirawat di ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada tahun 2017. Metode yang digunakan adalah deskriptif observasional yang dilakukan secara retrospektif terhadap 303 objek penelitian. Objek penelitian diambil di bagian rekam medis pada bulan April 2018. Penelitian ini memperoleh hasil skor APACHE II berkisar 0−56  dengan rerata 16,68, angka mortalitas sebesar 130 (42,3%), dan lama perawatan berkisar 2−79 hari dengan rerata 9,89 hari. Data skor APACHE II terhadap angka kematian berbeda dengan Amerika Serikat yang dapat dikarenakan perbedaan acuan prediksi mortalitas, underestimation derajat keparahan pasien cedera kepala, bias yang disebabkan oleh penatalaksanaan pasien pre-ICU, dan satu waktu pemeriksaan skor APACHE II.Kata kunci: APACHE II, ICU, lama perawatan, luaran pasienOverview of Acute Physiologic and Chronic Health Evaluation (APACHE) II, Length of Stay, and Patient Outcome in the Intensive Care Unit of Dr. Hasan Sadikin General Hospital in 2017The APACHE II score, length of stay, and patient outcome are important indicators in Intensive Care Unit (ICU). Those indicators could be different from one place to another and can be compared to increase the quality of health services in ICU. The purpose of this study was to describe acute physiologic and chronic health evaluation (APACHE) II, length of stay, and mortality rate of patients at the ICU of Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung from January 1 to December 31, 2017. This was a retrospective descriptive observational study on 303 patient medical records. It was revealed that the APACHE score was ranging from 0−56 (mean =16.68); the mortality rate was 42.9% (n=130); and the length of stay was 2−79 days (mean 9.89 days). This suggests a gap in these indicators between Dr. Hasan Sadikin General Hospital and hospitals in the United States of America which may be due to differences in the the standard that is used to predict the mortality rate, underestimation of severity of head injury, treatment before admission to ICU, and single time assessment of APACHE II.Key words: APACHE II, ICU, length of stay, outcome