cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jap.anestesi@gmail.com
Editorial Address
Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Jalan Pasteur No. 38 Bandung 40161, Indonesia
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Anestesi Perioperatif
ISSN : 23377909     EISSN : 23388463     DOI : 10.15851/jap
Core Subject : Health, Education,
Jurnal Anestesi Perioperatif (JAP)/Perioperative Anesthesia Journal is to publish peer-reviewed original articles in clinical research relevant to anesthesia, critical care, case report, and others. This journal is published every 4 months with 9 articles (April, August, and December) by Department of Anesthesiology and Intensive Care Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran/Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung.
Arjuna Subject : -
Articles 484 Documents
ANALISIS HUBUNGAN EARLY WARNING SCORE (EWS) DENGAN KEJADIAN IN HOSPITAL CARDIAC ARREST (IHCA) : STUDI RETROSPEKTIF DI RS PENDIDIKAN UTAMA Listiarini, Dian Ayu; Yulianti, Suryani; Alfaruq, Ahmad Umar; Safira, Alya
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 13, No 2 (2025)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v13n2.4062

Abstract

Henti jantung saat masih menjadi penyebab utama kematian di dunia. Kejadian in-hospital cardiac arrest (IHCA) perlu dideteksi sedini mungkin oleh tenaga kesehatan agar dapat segera dilakukan penaganan. Salah satu instrumen yang digunakan untuk mendeteksi perubahan klinis pasien ialah early warning sign (EWS). Nilai EWS yang tinggi dikaitkan dengan peningkatan risiko terjadinya IHCA. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara EWS dan kejadian IHCA di RS Islam Sultan Agung Semarang. Penelitian ini merupakan studi retrospektif dengan desain cross sectional menggunakan data sekunder dari rekam medis pasien di RS Islam Sultan Agung Semarang periode Mei–Juli 2023. Sebanyak 110 subjek pada penelitian ini diperoleh melalui metode non probability sampling dengan teknik consecutive sampling. Analisis data dilakukan menggunakan uji spearman untuk menilai hubungan dan keeratan antar variabel. Hasil penelitian menunjukan bahwa pasien dengan EWS risiko tinggi (skor>7) memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian IHCA (p<0,001) dengan keeratan sedang (r=0,638). Temuan ini menunjukan bahwa pasien dengan skor EWS>7 berisiko tinggi mengalami IHCA. 
Blokade Peribulbar dengan Adjuvan Fentanil: Efek Hemodinamik dan Analgetik pada Vitrektomi Yadi, Dedi Fitri; Nadya, Siti Fairuz; Halimi, Radian Ahmad; Tavianto, Doddy; Pradian, Erwin; Fuadi, Iwan
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 13, No 2 (2025)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v13n2.4413

Abstract

Operasi vitrektomi membutuhkan analgesia adekuat dan stabilitas hemodinamik, terutama pada pasien usia lanjut dengan komorbiditas. Ropivakain adalah anestesi lokal yang umum digunakan untuk blokade peribulbar, namun kualitas bloknya dapat ditingkatkan dengan penambahan opioid seperti fentanil. Studi ini merupakan penelitian pertama yang membandingkan efektivitas ropivakain 0,75% dengan kombinasi ropivakain 0,75% dan fentanil 3 μg/mL pada tekanan darah dan kualitas analgesia pada operasi vitrektomi. Desain penelitian ini adalah single blind randomized controlled trial yang melibatkan 54 pasien yang menjalani vitrektomi. Penelitian dibagi menjadi dua kelompok yang masing-masing terdiri 27 pasien: kelompok R yang menerima ropivakain 0,75% dan kelompok RF yang menerima ropivakain 0,75% dan fentanil 3 μg/ml. Tekanan darah sistolik, diastolik, MAP, serta kualitas analgesia (NRS) diukur pada tiga waktu yaitu sebelum, selama dan setelah operasi. Analisis statistik menggunakan uji t tidak berpasangan, Mann Whitney dan Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna dalam perubahan tekanan darah sistolik, diastolik, dan MAP antara kedua kelompok (p>0,05). Kualitas analgesia yang dinilai menggunakan NRS juga tidak menunjukkan perbedaan signifikan (p>0,05). Kesimpulan penelitian ini adalah kombinasi ropivakain 0,75 % dan fentanil 3 mcg/ml memberikan hasil yang sebanding dengan ropivakain 0,75 % saja dalam hal stabilitas hemodinamik dan kualitas analgesia pada operasi vitrektomi.
Faktor Risiko Komorbid pada Mortalitas Sepsis Pramono, Ardi; Maryani, Nova; Wardhani, Ufita Dauma Ummi Nusuka; Ramadhan, Muhammad Tahfiz; Afaki, Sajida Fihrisa
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 13, No 2 (2025)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v13n2.4426

Abstract

Sepsis merupakan disfungsi organ yang disebabkan oleh respons berlebihan tubuh terhadap infeksi dan dapat mengancam jiwa. Secara global, insiden sepsis di rumah sakit mencapai 189 kasus per 100.000 orang per tahun dengan tingkat moralitas 26,7%. Salah satu faktor yang dapat memengaruhi luaran pasien adalah komorbiditas. Penelitian observasional analitik dengan desain potong lintang dilakukan untuk menilai faktor risiko komorbid yang berhubungan dengan kematian pasien sepsis di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gamping pada tahun 2022–2023. Berdasarkan data rekam medik diperoleh 55 subjek dengan sepsis, baik yang meninggal maupun hidup, dengan komorbid meliputi gangguan paru, gangguan jantung, gangguan ginjal, gangguan saraf, dan diabetes mellitus. Analisis menggunakan uji chi-square menunjukkan bahwa dari lima faktor komorbid yang dianalisis, dua faktor berhubungan signifikan dengan mortalitas, yaitu gangguan paru dan gangguan ginjal (p<0,05).
Manajemen Anestesi Perioperatif Operasi Bypass Jantung pada Pasien dengan Fraksi Ejeksi 26 % dan Regurgitasi Aorta Berat Tanpomas, Irvan; Boom, Cindy Elfira
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 13, No 2 (2025)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v13n2.4452

Abstract

Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan kondisi ketika suplai darah ke miokardium tidak optimal akibat pengerasan dan penyempitan arteri koroner, dan menjadi penyebab 26,4% kematian di Indonesia. Regurgitasi aorta adalah aliran balik darah pada fase diastole dari aorta ke ventrikel kiri yang terjadi akibat kegagalan koaptasi katup aorta, baik karena kelainan pada daun katup aorta maupun akar aorta. Kondisi ini menyebabkan beban volume berlebih pada atrium dan ventrikel kiri, meningkatkan tekanan ventrikel kiri, menimbulkan disfungsi ventrikel, serta mengurangi perfusi koroner. Laporan kasus ini membahas manajemen anestesi pada pasien laki-laki berusia 65 tahun dengan PJK dan regurgitasi aorta berat yang menjalani operasi bypass arteri koroner dan penggantian katup aorta di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita pada Maret 2025. Pasien dengan fraksi ejeksi rendah dan regurgitasi aorta memerlukan strategi anestesi yang cermat karena berisiko mengalami penurunan curah jantung, berkurangnya perfusi sistemik, serta perburukan kondisi hemodinamik. Operasi berlangsung selama 5,5 jam, pasien dipindahkan ke unit perawatan intensif, dilakukan ekstubasi 24 jam pascaoperasi, dan dirawat selama 4 hari di ruang intensif.