cover
Contact Name
Putu Indra Christiawan
Contact Email
indra.christiawan@undiksha.ac.id
Phone
+6281805329239
Journal Mail Official
indra.christiawan@undiksha.ac.id
Editorial Address
Jl. Udayana Kampus Tengah Singaraja, Bali, Indonesia 81116
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora
Core Subject : Humanities, Social,
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora (JISH) is a journal that uses a double-blind peer review model that can be accessed online. The purpose of JISH is to publish a journal containing quality articles that will be able to contribute thoughts from a theoretical and empirical perspective in society and humanities at a regional, national, and global scale. The writings at JISH will significantly contribute to critical thinking in the area of society and humanities. The scope of the fields contained in JISH covers the following areas: social work, social welfare, social change, and social policy; humanism and human rights; corporate governance, and community studies; crosscultural and multiculturalism studies; population, and development studies; ethics, and intergroup relations; war, conflict, and international relations; linguistics, literature, and media studies; performing arts (music, theatre, and dance); studies of inequality (class, race and gender studies); and other related areas. Articles published on research results and literature review with acceptable research methodologies, qualitative studies, quantitative studies, or a combination of both, statistical analysis, case studies, field research, and historical studies. JISH received manuscripts from various related circles, such as relevant researchers, professors, students, policy-makers, scientists, and others.
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol. 6 No. 1 (2017)" : 9 Documents clear
STRATEGI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT UNTUK PENGEMBANGAN EKOWISATA WILAYAH PESISIR DI KABUPATEN BULELENG I Putu Ananda Citra
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 6 No. 1 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish-undiksha.v6i1.8484

Abstract

AbstrakPenelitian ini dilaksanakan di wilayah pesisir Kabupaten Buleleng dengan tujuan 1) mendeskripsikan potensi sumber daya pesisir untuk pengembangan ekowisata, 2) Menganalisis strategi pemberdayaan masyarakat  untuk pengembangan potensi ekowisata di pesisir Kabupaten Buleleng. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survai didukung dengan metode observasi. Pengambilan sampel dengan teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan dengan teknik analisis deskriptif kualitatif dan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan, 1) Sumber daya pesisir di Kabupaten Buleleng yang meliputi: (1) sumber daya hayati yaitu potensi perikanan dan terumbu karang, (2) sumber daya buatan yaitu dermaga dan (3) sumber daya jasa-jasa lingkungan yaitu keindahan terumbu karang, atraksi lumba-lumba dan pemandangan sunset sebagai potensi ekowisata. 2) Strategi pengembangan sumber daya pesisir untuk pemberdayaan masyarakat pembudidayaan ikan, pelestarian terumbu karang, pelatihan peningkatan pelayanan wisata, penyediaan tempat pelelangan ikan, pengadaan modal dan kerjasama bagi usaha-usaha masyarakat dalam membuat kerajinan tangan, penegakan hukum atau awig-awig beserta sanksi, memberikan batasan masuknya produk perikanan dari luar daerah.Kata kunci: Potensi Sumber Daya Pesisir, Pemberdayaan Masyarakat, Wilayah Pesisir Abstract This research was conducted in the coastal region of Buleleng with the purpose of 1) describe the potential of coastal resources for the development of ecotourism, 2) analyzing community empowerment strategies for potential development of ecotourism in the coastal district of Buleleng. The method used in this study is a survey supported by the observation method. Sampling with purposive sampling technique. Data was analyzed using qualitative descriptive analysis techniques and SWOT analyzed. The results showed, 1) Resources coast in Buleleng which includes: (1) the biological resources that is potential for fisheries and coral reefs, (2) made resources, namely docks and (3) the resources of environmental services, namely the reefs, dolphins and sunset views as its ecotourism potential. 2) The development strategy of coastal resources for community empowerment cultivation of fish, coral reef conservation, training to improve tourism services, provision of fish auctions, procurement of capital and cooperation to the efforts of society in making handicrafts, law enforcement or awig awig and penalties, provide limits entry of fishery products from outside the region.Keywords: Potential Coastal Resources, Community Empowerment, Coastal Region 
PROFESI CERTIFIED SUSTAINABILITY REPORTING SPECIALIST, PELAPORAN KEBERLANJUTAN, DAN TEORI ENTERPRISE (Suatu Tinjauan Mengenai Profesi CSRS dalam Pelaporan Keberlanjutan) Putu Sukma Kurniawan
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 6 No. 1 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish-undiksha.v6i1.9478

Abstract

AbstrakPerubahan dalam paradigma pelaporan perusahaan menghasilkan sebuah konsep pelaporan keberlanjutan (sustainability reporting). Pelaporan keberlanjutan merupakan sebuah bentuk tanggung jawab perusahaan kepada seluruh pemangku kepentingan perusahaan. Peran profesi certified sustainability reporting specialist (CSRS) sangat penting dalam proses penyusunan sebuah laporan keberlanjutan agar penyampaian informasi dari perusahaan kepada pemangku kepentingan dapat lebih komprehensif. Peran profesi CSRS dan pelaporan keberlanjutan pada dasarnya merupakan sebuah jawaban bagi penerapan teori enterprise (entreprise theory) bahwa bisnis yang dijalankan oleh perusahaan seharusnya bermanfaat kepada semua pemangku kepentingan perusahaan.Kata kunci: certified sustainability reporting specialist, pelaporan keberlanjutan, teori enterprise AbstractChanges in corporate reporting paradigm to produce a sustainability reporting concept. Sustainability reporting is a form of corporate responsibility to all stakeholders of the company. The role of certified sustainability reporting specialist is very important in the process of preparing a sustainability report in order to deliver information to the stakeholders of the company can be more comprehensive. The role of profession of CSRS and sustainability reporting is essentially a response to the application of the enterprise theory that the business carried on by the company should have been beneficial to all stakeholders of the company.Keywords :  certified sustainability reporting specialist, sustainability reporting, enterprise theory
PEMBERDAYAAN USAHA KECIL DAN MENENGAH KAIN TENUN CEPUK DI KECAMATAN NUSA PENIDA KABUPATEN KLUNGKUNG, BALI Ni Luh Wayan Sayang Telagawathi
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 6 No. 1 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish-undiksha.v6i1.9537

Abstract

 AbstrakArtikel ini mengelaborasi model-model pemberdayaan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang bisa dikembangkan di tengah pengerajin kain tenun cepuk di Desa Tanglad dan Desa Pejukutan Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali. Dengan menggunakan perspektif pemberdayaan dan kewirausahaan serta metode penelitian partisipatif yang emansipatoris dengan melibatkan para pengerajin dalam merancang dan melaksanakan program. Artikel ini mengidentifikasi ada tiga model pemberdayaan industri kecil kain tenun cepuk. Ketiga model pemberdayaan tersebut adalah pemberdayaan pemasaran, pemberdayaan sumber daya manusia, dan pemberdayaan kelompok pengerajin. Ketiga model pemberdayaan tersebut pada dasarnya melibatkan tiga komponen penting dalam usaha pemberdayaan industri kerajinan kain tenun cepuk yaitu: pemerintah, swasta, komponen pariwisata, dan sudah tentu pengerajin kain cepuk itu sendiri.Kata kunci: model pemberdayaan, usaha kecil dan menengah, kewirausahaan, kain tenun cepuk AbstractThis article elaborates on the model for empowerment of UKM (Usaha Kecil dan Menengah), small and medium enterprises that can be developed in the Desa Tanglad (Tanglad Village) and Desa Pejukutan (Pejukutan Village) District of Nusa Penida, Klungkung, Bali. Using entrepreneurial perspective and empowerment and research methods, the emancipatory with participatory involve designing the craftsmen hearts and doing programs. This article identifyed three empowerment model for UKM (Usaha Kecil dan Menengah). The three models empowerment is empowerment for marketing, human resources empowerment, and empowerment group and craftsmen. All three models of the Empowerment essentially involved three components are: government, private, tourism component, of course craftsmen.Keywords: empowerment model, UKM (Usaha Kecil dan Menengah), entrepreneurship, tenun cepuk
KARAKTERISTIK PRAMUWISATA DALAM PENGEMBANGAN DESA WISATA AGRO DI KABUPATEN BANDUNG BARAT Encang Saepudin; Agung Budiono; Agus Rusmana
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 6 No. 1 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish-undiksha.v6i1.9689

Abstract

AbstrakBerdasarkan pada data RPJMD Kab. Bandung Barat Tahun 2013-2018, Bandung Barat memiliki potensi wisata alam yang sangat besar. Oleh karena itu, pemerintah menetapkan beberapa desa menjadi desa wisata. Selain potensi daerah di sektor agro baik pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan dan perikanan, Kabupaten Bandung Barat juga memiliki beberapa potensi di bidang pariwisata baik wisata alam, wisata minat khusus maupun jenis wisata lainnya. Kawasan wisata KBB dibagi dalam 3 zona wisata utama, yaitu Zona Bandung Utara, Bandung Selatan, dan Bandung Barat. Pada tahun 2014 Pemerintah Kabupaten Bandung Barat menetapkan lima desa menjadi desa wisata. Kelima desa wisata  tersebut adalah  Suntenjaya di Kecamatan Lembang, Rende (Cikalongwetan), Sirnajaya (Gununghalu), Mukapayung (Cililin), dan Cihanjuang Rahayu (Parongpong).  Untuk mengembangkan desa wisata ini diperlukan  pengelola yang handal dan berkarakter. Penelitian ini bertujuan  untuk mengetahui  karakteristik pramuwisata dari segi  kredibilitas sumber dan daya tarik sumber.  Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, Focus Group Discussion, dan setudi pustaka. Teknis analisis data yang digunakan adalah analisis data deskriptif dengan langkah reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi data. Uji Validitas dan reliabilitas yang dilakukan yakni melalui proses trianggulasi data dan trianggulasi sumber. Informan dalam penelitia ini adalah para pengelola desa wisata dan Aparatur pemerintahan desa Mekarwangi berjumlah 9 orang. Manfaat penelitian yakni  sebagai  masukan bagi pemerintah dan beberapa pihak yang terkait mengenai strategi komunikasi (pola komunikasi efektif) dalam pengembangan desa wisata.  Hasil penelitian menunjukkan Kredibilitas sumber didasarkan kepada kualifikasi pendidikan atau pengalaman sumber, penguasaan materi wisata agro, dan sikap berbahasa. Sedangkan daya tarik dititikberatkan kepada pembentukan citra diri positif dengan memperhatikan empat komponen yakni  sikap, motivasi, persepsi, dan kognisi.Kata Kunci: desa wisata, strategi komuniasi, desa wisata agroAbstractBased on 2013-2018 Bandung District’s RPJMD data, Bandung Barat has great natural tourism potential. Therefore, the local government determined some villages to become natural tourism sites. Beside local potential of agro sectors, such as, agriculture, plantation, forestry, animal farms, and fishery, Bandung Barat has also some tourism potentials, both natural tourism, special interest tourism, and other kind of tourism. Bandung Barat District (KBB) tourism areas are divided into three main tourism zones, those are, Bandung Utara (North) Zone, Bandung Selatan (South) Zone and Bandung Barat (West) Zone. In 2014 the government of Bandung Barat District determined five villages as the tourism sites. They are Suntenjaya at Lembang County, Rende (Cikalongwetan), Sirnajaya (Gununghalu), Mukapayung (Cililin), and CihanjuangRahayu (Parongpong). To develop the villages as tourism sites, it is needed reliable and characteristic managers. This research aims to find out guide’s character from the source’s credibility and attractiveness. This research used qualitative approach. Data was collected through observation, interviews, focus group discussion, and literature study. Data analyzing technique used was descriptive analyses with data reduction, data presentation and conclusion draw or data verification. Validity and reliability test conducted by data and resources triangulation.Informants of this research were tourism village managers and nine local government officers of Mekarwangi. The research’s benefits are as input for the government and related parties to communication strategy (effective communication pattern) in tourism village development. The results show that the resources credibility is based on resources’s qualification of education or experience, knowledge of agro tourism materials, and language behaviour. Mean while, attractiveness is focused at positive self image form by considering of four components, i.e. attitudes, motivation, perception and cognition.Keywords: Village tourism, communication strategy, agro-tourism   
DETERMINASI KEBERADAAN PENGEMIS PERKOTAAN DI KECAMATAN DENPASAR BARAT Putu Indra Christiawan; I Gede Astra Wesnawa; Aprilia Riszi Indah
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 6 No. 1 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish-undiksha.v6i1.9711

Abstract

 AbstrakPenelitian dilaksanakan di Kecamatan Denpasar Barat, Kota Denpasar dengan tujuan: (1) menganalisis faktor pendorong kemunculan pengemis perkotaan, dan (2) menganalisis faktor penarik pengemis perkotaan. Rancangan penelitian menggunakan rancangan deskriptif dengan metode studi kasus. Penentuan sampel menggunakan teknik snowball sampling. Data dikumpulkan dengan teknik observasi dan wawancara mendalam, dan dianalisis menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Faktor pendorong kemunculan pengemis perkotaan dipengaruhi oleh faktor ekonomi meliputi ketiadaan orang yang menanggung hidup, jumlah penghasilan yang tidak mencukupi kebutuhan, keterbatasan keahlian, dan ketidakharmonisan hubungan rumah tangga; dan (2) faktor penarik pengemis perkotaan dipengaruhi oleh faktor daya tarik pekerjaan mengemis yang mudah, fleksibel dan praktis, terutama dipengaruhi oleh simpati calon dermawan, tidak memerlukan waktu lama, rerata penghasilan yang relatif besar dan pemilihan lokasi yang strategis. Kedua faktor pendorong dan penarik ini merupakan kekuatan sentripetal yang mendorong individu dari luar kota untuk mengemis di wilayah Kota Denpasar, khususnya di Kecamatan Denpasar Barat.Kata kunci: pengemis perkotaan, faktor pendorong dan penarik AbstractThe research was conducted in the District of West Denpasar, Denpasar City with the aim of: (1) analyze the push factors the existence of urban beggars, and (2) analyze the pull factors of urban beggars. The design of the study design was descriptive with case study method. The samples using snowball sampling technique. Data collected by observation and depth-interview, and analyzed by descriptive analysis. The results showed that: (1) The push factors for the existence of urban beggars influenced by economic factors include the absence of those who bear life, the amount of income that is insufficient, limited expertise, and disharmony of households relationship; and (2) of the pull factors of urban beggars influenced by the attractiveness of begging is easy, flexible and practical, mainly influenced by sympathy prospective benefactor, does not require a long time, the average income is relatively large and the selection of strategic locations. Both push and pull factors is a centripetal force that encourages people from outside the city to beg in the city of Denpasar, particularly in West Denpasar District.Keywords: urban beggars, push and pull factors
BEBAN GANDA PENGELOLAAN AIR TANAH DI KABUPATEN/KOTA PASCA PEMBATALAN UU NO 7/2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR: ILUSTRASI DARI KOTA BANDUNG Dasapta Erwin Irawan; Ahmad Darul; Hendy Sumadi; Arno Adi Kuntoro; Teti Armiati Argo; Yunie Nurhayati
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 6 No. 1 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish-undiksha.v6i1.9720

Abstract

 AbstrakIndonesia sedang memiliki beban ganda dalam menyelesaikan masalah pengelolaan sumber daya air, khususnya air tanah. Selain karena pembatalan UU No. 7/2004, juga karena pengalihan kewenangan pengelolaan dari pemerintah kabupaten/kota ke pemerintah provinsi sebagai dampak dari UU No. 23/2014. Karena proses komunikasi antara provinsi dan kabupaten/kota tidak mulus, karena berbagai alasan, akibatnya regulasi tidak kunjung dibuat. Pada akhirnya kondisi air tanah akan semakin buruk. Makalah ini mencoba mendudukkan kembali berbagai aspek pengelolaan air tanah yang telah dirumuskan sebelumnya dan masih relevan untuk dijalankan saat ini. Kemudian dipilihlah aspek konservasi dan pemberdayaan sebagai aspek yang dapat dikerjasamakan antara pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota, karena: aspek ini lebih berkaitan dengan aspek monitoring atau pemantauan. Yang mana, pemantauan akan lebih baik dilakukan oleh pemerintah kabupaten/kota karena skala pemetaan yang lebih rinci, dibanding bila dilakukan pada skala provinsi. Selain itu instrumentasi pemantauan yang dimiliki oleh organ tingkat kabupaten/kota lebih lengkap dibanding pemerintah provinsi.Kata kunci: Regulasi, Pengelolaan Air Tanah, Cekungan Air TanahAbstractIndonesia currently has a double burden in solving the problem of water resources, particularly groundwater. In addition to the cancellation of Law No. 7/2004, as well as the transfer of management authority of district/city government to the provincial government as a result of Law No. 23/2014. Due to the communication process between the provincial and district /city is not good, for various reasons, not being made as a result of regulation. Ultimately groundwater conditions will be getting worse. This paper tries to reinstate the various aspects of groundwater management has been formulated previously and are still relevant to the current run. Then chosen aspects of conservation and empowerment as an aspect to cooperation between the provincial and district /city government, because: this aspect is more related to aspects of monitoring. Which, monitoring would be better done by the district /city for more detailed mapping scale. Besides monitoring instrumentation owned by organs of district/municipal level is more complete than the provincial government.Keywords: Regulation, Groundwater Management, Groundwater Basin
PENGEMBANGAN AGROWISATA ANGGUR BERBASIS MASYARAKAT DI DESA BANYUPOH, KECAMATAN GEROKGAK, KABUPATEN BULELENG-BALI I Gede Putra Nugraha
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 6 No. 1 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish-undiksha.v6i1.9848

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan 1) untuk mengetahui potensi agrowisata di Desa Banyupoh, 2) untuk mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dalam pengembangan Agrowisata di Desa Banyupoh. Data yang diperoleh bersumber dari hasil wawancara, observasi dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan deskriftif kualitatif. Subjek dari penelitian ini adalah petani atau masyarakat di Desa Banyupoh yang dapat memberikan data terkait, sedangkan objek dari penelitian ini adalah dengan menggunakan Analisis SWOT untuk mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa 1) Desa Banyupoh memiliki potensi untuk perkembangan agrowisata, seperti perkebunan anggur. 2) Kekuatan Desa Banyupoh adalah perkebunan anggur yang dapat dijadikan sebagai daerah tujuan wisata petik anggur dengan menggunakan konsep “Petik Buah Langgsung dari pohonnya”. Kelemahan Desa Banyupoh berdasarkan faktor dari dalam berupa tidak tersedianya sarana akomodasi, pemanfaatan atraksi alam yang kurang, aksesibilitas yang masih minim serta belum ada pemandu wisata atau lembaga terkait. Peluang yang dimiliki Desa Banyupoh dalam pemanfaatan potensi agrowisata adalah tren atau keinginan wisatawan untuk beralih kesuasana alam dan budaya menjadikan peluang yang baik dengan dikembangakannya wisata agro di Desa Banyupoh dengan memanfaatkan lahan perkebunan anggur. Ancaman yang dimiliki Desa Banyupoh adalah banyak munculnya desa wisata yang berbasis community based tourism, sehingga sehingga persaingan relatif ketat khususnya dengan wisata agro yang dipegang oleh Sababay Winery Bali.Kata kunci: deskriptif kualitatif, potensi, pengembangan, kekuatan, kelemahan, peluang, ancaman.AbstractThe aim of the study are 1) to know the potential of agrotourism in Banyupoh village, 2) to know the Strength, Weaknesses, Opportunities and Treats in developing agro tourism in Banyupoh village. The data that found of a source from result the interview, observation and documentation. This research used descriptive qualitative. The subjek of this research is farmer or society in Banyupoh Village that can give the related data. Where leas object of this research is with use SWOT Analysis to know the Strength, Weaknesses. Opportunities and Treats. The result of this research explaint that are 1) Banyupoh Village has Potential to developing Agro tourism, such as grapes plantation. 2) The Strength of Banyupoh village is grapes plantation that can will as the aim territory of pick grape with use concept “pick grape directly from the trees”. The Weakness of Banyupoh Village be based on the factor from inside like not available accommodation medium, utilization of nature attraction that decrease the accessibility that still limited and the absence of tour guide or related institution. Opportunities of the Banyupoh Village in exploiting the potential of agro tourism is a trend or the development of agro tourism to switch to natural atmosphere and culture to make q good opportunity with the developing of agro tourism in the Banyupoh Village with land use wineries. Threats owned Banyupoh Village is much the emergence of tourism village based of community, so that relatively tight competition especially with agro tourism held by Sababay Winery Bali.Keywords: descriptive qualitative, potential, developing, strengths, weaknesses, opportunities, treats.
PERSEPSI KONSUMEN THEMATIC COFFEE HOUSE TERHADAP MEREK, KUALITAS PRODUK DAN PELAYANAN SERTA NILAI PELANGGAN PRODUK KOPI LOKAL (Survei Konsumen Filosofi Kopi Jakarta Selatan) Hesty Nurul Utami; Nuri Kamilia
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 6 No. 1 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish-undiksha.v6i1.9870

Abstract

 AbstrakIndonesia merupakan salah satu negara penghasil kopi terbesar di dunia dengan tingkat konsumsi kopi yang diproyeksikan terus meningkat setiap tahun serta didukung meningkatnya jumlah coffee house di Indonesia. Filosofi Kopi merupakan coffee house yang beroperasi kurang dari satu tahun di wilayah Jakarta dengan konsep thematic coffee house yang menjual kopi lokal khas Indonesia yang harus bersaing dengan coffee house internasional yang membuka cabangnya di kota besar seperti Jakarta. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan persepsi konsumen terhadap kesadaran merek, kualitas kopi, kualitas pelayanan dan nilai pelanggan di Filosofi Kopi untuk meningkatkan daya saing coffee house lokal di Indonesia. Membangun merek dapat memberikan perlindungan secara legal terhadap keunikan sebuah merek, sedangkan kualitas produk dan kualitas pelayanan dapat meningkatkan nilai yang dirasakan konsumen. Sehingga suatu produk akan berhasil jika memberikan nilai yang lebih tinggi bagi konsumen dan dapat dijadikan sebagai alat ukur daya saing. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kuantitatif dengan menggunakan diagram ular sebagai alat analisis data. Sampel dipilih melalui teknik proporsional stratified random sampling terhadap 60 orang responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumen sulit untuk mengingat nama jenis kopi yang dijual namun mudah mengenali logo dengan perspektif positif atas rasa dan aroma kopi lokal yang superior dan cara penyajian kopi yang tepat, namun belum didukung fasilitas layanan coffee house yang memuaskan konsumen. Edukasi konsumen dan kampanye pemasaran melalui merek dan kualitas produk diperlukan untuk meningkatkan daya saing kopi lokal.Kata kunci: kopi lokal, jasa makanan, penciptaan nilai, perilaku konsumenAbstractIndonesia is one of the largest coffee producer in the world with coffee consumption level predicted to be increased every year and supported by the rise of coffee house in Indonesia. Filosofi Kopi is a brand new coffee house with thematic and unique concept in Jakarta that sold Indonesia local coffee and should compete with numerous international coffee house brand that open their store branch in big city such as Jakarta. This study objectives are to describe customers perspective on brand awareness, coffee quality, service quality and customer value to improve business competitiveness. Building brand could give legal protection for brand uniqueness, while product quality and service quality are predicted to improve customer perceived value. Thus a product successfulness is undeniable with favour to high customer value that utilize as tool for competitiveness. The research method applied descriptive quantitative with snake diagram for data analysis. Proportional stratified random sampling technique was applied to 60 respondents. The results show that customer face difficulties recognizing local coffee names while it is easier to remember product logo. Filosofi Kopi show positive perspective on local coffee product quality by product flavour and aroma, while service quality superiority gain through precise coffee presentation but less supported physical evidence of a coffee house to reveal consumer satisfaction. Customer education and marketing campaign on product brand and product quality required to improve local coffee competitiveness.Keywords: local coffee, food services, value creation, consumer behavior
FULL DAY SCHOOL DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER SISWA SMKN 13 KOTA MALANG Marleny Leasa; John Rafafy Batlolona
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 6 No. 1 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish-undiksha.v6i1.9903

Abstract

 AbstrakPendidikan dengan kualitas yang bermartabat dan baik dimulai dari terbentuknya karakter mulia peserta didik. Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan pembinaan dan pembentukan karakter siswa (taruna) jurusan keperawatan di SMK Negeri 13 Malang. Penelitian menggunakan statistik deskriptif, untuk mengungkap respon sekolah terhadap program Full Day School (FDS) dalam rangka pembinaan dan pembentukan karakter siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa respon sekolah (kepala sekolah, guru pembina) termasuk dalam kategori sangat baik, sedangkan instruktur TNI AL termasuk dalam kategori baik. Perolehan nilai karakter keperawatan siswakelas X yaitu 13,63% kategori memuaskan; 31,82% kategori sangat baik; dan 54,54% kategori baik. Dengan demikian disimpulkan bahwa sekolah dan siswa sama-sama memberikan respon yang positif terhadap kegiatan FDS. Penelitian selanjutnya disarankan untuk memperoleh informasi tentang output karakter lulusan di dunia kerja atau di masyarakat.Kata kunci: full day school, karakter, peserta didik Abstract Education with dignity and good quality starts from the formation of a noble character learners. This study aims to describe the development and character formation of student majoring in nursing at SMK Negeri 13 Kota Malang. Research using descriptive technique to uncover the response of FDS program in the framework of development and character formation of the student. The result showed that the response of the school (principals teachers) included in the very good category, while the Navy instructors included in good category. The character values of nursing students of class X is 13,63% which is a statisfactory category; 31,82 as very good category; and 54,54 has good category. Thus concluded that the shcool and students a like responded positively to FDS activities. Future students recommended to obtain information about the character output of graduates in the workplace or in the community as an input to evaluate this program.Keywords: full day school, character, student

Page 1 of 1 | Total Record : 9