cover
Contact Name
Usman Malik
Contact Email
 usman.malik@lecturer.unri.ac.id
Phone
+62811756227
Journal Mail Official
kfi@ejournal.unri.ac.id
Editorial Address
Jurusan FMIPA Universitas Riau Kampus Bina Widya Km 12,5 Simpang Baru Pekanbaru
Location
Kota pekanbaru,
Riau
INDONESIA
Komunikasi Fisika Indonesia
Published by Universitas Riau
ISSN : 14122960     EISSN : 2579521X     DOI : 10.31258/jkfi
KFI mempublikasikan artikel hasil penelitian dan review pada bidang fisika, namun tidak terbatas, yang meliputi fisika murni, geofisika, plasma, optik dan fotonik, instrumentasi, dan elektronika, dan fisika terapan (aplikasi fisika).
Articles 390 Documents
IDENTIFIKASI LAPISAN AKUIFER MENGGUNAKAN METODE GEOLISTRIK KONFIGURASI SCHLUMBERGER DI PERUMAHAN ARZA GRIYA MANDIRI JAMBI Irfan Afifuddin; Rustan Rustan; Tika Restianingsih
Komunikasi Fisika Indonesia Vol 18, No 3 (2021)
Publisher : Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jkfi.18.3.173-178

Abstract

Sumber daya air merupakan hal penting bagi masyarakat karena air merupakan kebutuhan pokok makhluk hidup termasuk manusia. Meningkatnya populasi manusia disertai dengan perkembangan sektor pembangunan mengakibatkan kebutuhan akan air bersih sangat tinggi. Di sisi lain, pencemaran lingkungan dan pemanasan global telah menyebabkan sumber air bersih di permukaan terus berkurang. Perlu dilakukan eksplorasi air tanah bawah permukaan untuk memenuhi kebutuhan terhadap air bersih. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan sebaran dan kedalaman lapisan akuifer, yang berpotensi menyimpan cadangan air bawah tanah. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode geolistrik resistivitas konfigurasi schlumberger. Akuisisi data dilakukan menggunakan 16 lintasan dengan panjang masing-masing lintasan yaitu 200 m. Pengolahan data dilakukan menggunakan perangkat lunak Res2Dinv dan perangkat lunak Surfer. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dari 16 lintasan pengukuran, lapisan akuifer yang dapat diinterpretasi mengandung air tanah terletak antara 1035’50’’ - 1036’40’’ Lintang Selatan dan 103030’50’’ - 104031’40’’ Bujur Timur mengarah ke selatan dengan kedalaman 50 - 100 meter.
PERANCANGAN SISTEM PEMANTAUAN PARAMETER FISIS AIR BERBASIS INTERNET OF THINGS (IoT) MENGGUNAKAN RASPBERRY PI Mardian Peslinof; M. Ficky Afrianto; Yoza Fendriani; Benedika Ferdian Hutabarat
Komunikasi Fisika Indonesia Vol 18, No 3 (2021)
Publisher : Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jkfi.18.3.208-216

Abstract

Pada penelitian ini telah dilakukan perancangan sistem pemantauan parameter fisis air berbasis Internet of Things (IoT) menggunakan Raspberry Pi. Parameter yang dipantau pada sistem ini yaitu pH, temperatur air, kekeruhan air, dan ketinggian air. Parameter yang dipantau merupakan parameter yang penting untuk menentukan tingkat kualitas dan kuantitas air. Sensor yang digunakan adalah sensor suhu tipe DS18B20, sensor kekeruhan tipe SEN0189, sensor pH air tipe SEN0161, dan sensor ultrasonic HCSR04 trigger untuk ketinggian air. Perangkat lunak sistem yaitu program yang ditanamkan pada mikroprosesor Raspberry Pi. Mekanisme kerja dari sistem pemantauan yaitu sistem akan mendeteksi parameter fisis dari sensor, hasil sinyal dari sensor akan diproses melalui Raspberry Pi, dan data yang telah diproses tersimpan diserver yang bisa diakses pada web. Tingkat sensitifitas sensor yang didapatkan dari observasi terhadap sistem untuk parameter pH, kekeruhan, temperatur, dan ketinggian air masing-masing adalah 52,715 mV/pH, 0,0005 V/NTU, 0,0255 V/°C, dan 0,0583 milidetik/cm. Persentase ketepatan rata-rata yang didapatkan pada pengujian sistem adalah berkisar antara 96,86% sampai 99,9%. Ketelitian pada sistem berkisar antara 0,94 sampai dengan 0,99. Dari hasil pengujian ketepatan dan ketelitian maka sistem pemantauan parameter fisis air dapat bekerja dengan baik. Penelitian ini harapannya dapat menghasilkan sistem pemantauan parameter fisis pada air  yang berfungsi membantu pihak terkait untuk mengidentifikasi kualitas dan kuantitas air dengan mudah, efisien, dan akurat.
MEMBANGUN MODEL NEUTRON POROSITY BAWAH PERMUKAAN DENGAN PROPERTI FISIK DATA SEISMIK PADA RESERVOIR KARBONAT Tabah Fatchur Rubiyana; Paul Hutabarat
Komunikasi Fisika Indonesia Vol 18, No 3 (2021)
Publisher : Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jkfi.18.3.179-190

Abstract

Properti fisik sering diaplikasikan pada analisis eksplorasi migas dengan menggunakan data seismik. Namun, pada kenyataannya, tidak satupun properti fisik (atribut) dari data seismik yang dapat mengungkapkan seluruh jenis litologi suatu lapisan bawah permukaan. Diperlukan kombinasi dari berbagai properti fisik (multi-atribut) dan data lain untuk melakukan pemetaan terhadap sebaran litologi suatu lapisan bawah permukaan. Salah satu dari atribut seismik yang dapat digunakan dalam menggambarkan keadaan litologi bawah permukaan adalah impedansi akustik (AI). Impedansi akustik dapat memberikan informasi berupa litologi batuan pada suatu lapisan. Informasi ini dapat diinterpretasikan dengan melakukan inversi. Inversi yang dilakukan terhadap impedansi akustik mendapatkan hasil penampang sebaran impedansi akustik yang menunjukkan litologi. Dengan kondisi litologi yang ada, korelasi terhadap properti fisik lain dapat dimodelkan. Beberapa proprti fisis yang digunakan ini disebut dengan istilah multi-atribut. Metode multi-atribut dapat memprediksi dan memodelkan porositas batuan dari atribut seismik. Penerapan metode ini digunakan untuk menggambarkan sebaran lateral dan pemetaan porositas (neutron porosity). Hasil penelitian dengan menggunakan metode multi-atribut seismik yang diterapkan pada data seismik Lapangan LMGS diperoleh peta sebaran neutron porosity. Nilai neutron porosity yang didapatkan untuk menunjukkan suatu reservoir hidrokarbon berkisar antara 0,05 sampai dengan 0,2 dalam skala fraction.
KAJIAN PENGARUH MESOSCALE CONVECTIVE COMPLEX DI PULAU JAWA TERHADAP CURAH HUJAN SAAT KEJADIAN BANJIR DI KENDAL PADA 26-27 JANUARI 2019 Muhammad Ikko Safrilda Maulana; Nur Irfan Wicaksono; Yosafat Donni Haryanto
Komunikasi Fisika Indonesia Vol 18, No 3 (2021)
Publisher : Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jkfi.18.3.217-224

Abstract

Mesoscale Convective Complex (MCC) merupakan bagian dari Mesoscale Convective System (MCS) yang karakteristiknya dapat diamati menggunakan citra satelit Himawari-8 kanal infrared. Dalam penelitian ini pengaruh MCC dihitung berdasarkan nilai estimasi curah hujan di pusat inti dan selimut awan terhadap jumlah curah hujan observasi dengan menerapkan metode Convective Stratiform Technique (CST) dan Modified Convective Stratiform Technique (MCST).CST merupakan metode estimasi curah hujan dengan pemisahan kelompok konvektif dan stratiform, sedangkan MCST merupakan modifikasi dari CST pada intensitas curah hujan dan luasan area lingkup piksel rata-ratanya. Kedua metode tersebut diverifikasi menggunakan data curah hujan observasi di Kendal dengan stasiun pengamatan yang terdekat dengan pusat inti dan selimut awan MCC. Tujuan penelitian ini yaituuntuk mengetahui pengaruh MCC di Pulau Jawa terhadap tingginya curah hujan saat kejadian banjir pada 26-27 Januari 2019 di Kendal. Hasil pengolahan estimasi curah hujan menunjukkan nilai curah hujan yang mendekati nilai observasi pada inti awan MCC 2 senilai 84,989 mm menggunakan metode CST. Meskipun nilai estimasi curah hujan di kedua metode cenderung underestimate, namun hasil verifikasi pengaruh MCC terhadap curah hujan di Kendal menunjukkan hubungan sedang hingga kuat pada metode CST dengan nilai korelasi berkisar antara 0,30 hingga 0,61. Sedangkan metode MCST berkisar antara 0,30 hingga 0,59 yang menunjukkan kategori lemah hingga sedang. Nilai error CST juga lebih kecil dibandingkan nilai error MCST dengan nilai yang berkisar antara 3,17 hingga 8,63. Sehingga metode CST lebih baik digunakan untuk mengestimasi curah hujan pada pusat inti MCC dan pusat selimut MCC.
POTENSI DAUN KETAPANG (TERMINALIA CATAPPA) SEBAGAI BIOREDUKTOR UNTUK SINTESIS NANOPARTIKEL PERAK DALAM PENYERAPAN METILEN BIRU Mega Wati Siregar; Yanuar Yanuar
Komunikasi Fisika Indonesia Vol 18, No 3 (2021)
Publisher : Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jkfi.18.3.191-196

Abstract

Nanopartikel perak dapat disintesis dengan metode kimia, namun metode ini dapat menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan karena penggunaan zat beracun. Sehingga metode biosintesis lebih diminati karena ramah lingkungan. Biosintesis nanopartikel perak dilakukan menggunakan bioreduktor ekstrak daun ketapang (Terminalia Catappa) sebagai potensi untuk penyerapan metilen biru. Nanopartikel perak adalah bahan semikonduktor yang memiliki potensi sebagai fotokatalis untuk menyerap metilen biru.  Proses biosintesis berlangsung pada suhu 80 °C selama 10 menit. Hasil karakterisasi UV-Vis menunjukkan bahwa nanopartikel perak yang disintesis menggunakan perbandingan ekstrak dan larutan AgNO3 1:7 memiliki serapan panjang gelombang yang merupakan karakteristik pembentukan nanopartikel perak pada panjang gelombang 424 nm. Analisa SEM menunjukkan bahwa nanopartikel perak memiliki bentuk morfologi berupa serat nano atau nanofiber. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin lama waktu kontak degradasi maka semakin besar persentasi degradasi zat warna metilen biru. Nanopartikel perak mampu mendegradasi metilen biru dengan konsentrasi 25 mg/L dengan nilai efesiensi degradasi pada waktu optimum 6 jam adalah 86,13%.
IDENTIFIKASI HEWAN BERDASARKAN POLA AKUSTIK DENGAN PRINSIP EKSTRAKSI WAVELET DAN KLASIFIKASI MULTI-LABEL JARINGAN SYARAF TIRUAN Defrianto Defrianto; Titrawani Titrawani; Lazuardi Umar; Vepy Asyana
Komunikasi Fisika Indonesia Vol 19, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jkfi.19.1.51-56

Abstract

An acoustic identification and classification system of frogs has been designed based on the principle of wavelet extraction and label classification using an artificial neural network (ANN). This system consists of electronic detection for frog audio as well as an interface using the MATLAB 2018b software as an ANN provider device. As input for the neural network, 5 types of frogs were used, namely the rock frog (Limnonectes macrodon), the blentung frog (Kaloula baleata), the hip frog (Limnonectesblythii), the rice field frog (Fejervarya cancrivora), and the trench frog. frog. frog (Fejervarya limnocharis). ), each with 12 sound samples. Before being inserted into the neural network, 3 levels of sound samples were extracted and denoised using wavelet symlet 3. Furthermore, in the neural network training process, 3 validation samples and 3 test samples were used. After training, the artificial neural network was able to identify the type of frog being tested.
ANALISA SENSITIVITAS SENSOR TGS PADA HIDUNG ELEKTRONIK UNTUK IDENTIFIKASI GANODERMA DI BAGIAN AKAR KELAPA SAWIT Mhd Feri Desfri; Minarni Minarni; Dewi Laila Sari; Dewi Anjarwati Mahmudah; Ihsan Okta Harmailil; Irfan Cahyadi
Komunikasi Fisika Indonesia Vol 19, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jkfi.19.1.1-6

Abstract

Palm oil is one of the main commodities for Indonesia. It is important to identify the disease-causing the decline in productivity. Root rot disease that causes total damage to oil palm plants due to fungal infection G. boninense sp has volatile organic compounds that can be detected using an electronic nose. The electronic nose system is designed with 6 sensor arrays, namely TGS 2612, TGS 822, TGS 2611, TGS 2610, TGS 813, and TGS 2620 which are sensitive to certain VOC compounds. The sample used was infected and uninfected oil palm seedlings aged 4 months. The detection process is carried out on plant roots. Python program is used as a data acquisition system in voltage retrieval. The obtained voltage is processed and further analyzed using a trapezoidal area to determine the sensor response in the identification of Ganoderma. The results of processing using a trapezoidal plane show that TGS 2611 has a very good response. The TGS 2611 sensor has a higher trapezoidal area in identifying oil palm plants that are attacked by Ganoderma with 4 classifications, namely healthy, moderate, sick, and severe.
KARAKTERISASI SIFAT ELEKTROKIMIA ELEKTRODA KARBON AKTIF BERBASIS LIMBAH SABUT KELAPA MUDA MENGGUNAKAN SEPARATOR MEMBRAN KULIT TELUR AYAM Angela Carolina Simanjuntak; Awitdrus Awitdrus
Komunikasi Fisika Indonesia Vol 19, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jkfi.19.1.31-34

Abstract

The supercapacitor is an energy storage device with an electrochemical characteristic that can provide high energy and power density. The supercapacitor cell consists of a current collector, electrode, electrolyte, and separator. This study used young coconut fiber biomass as a supercapacitor electrode, H2SO4 as an electrolyte, 316L stainless steel as a current collector, and chicken eggshell membrane as a separator. The fabrication of electrode carbon made from young coco fiber begins with the pre-carbonization process, chemical activation using 0.5M KOH, carbonization process using N2 gas at a temperature of 600 °C, and physical activation using CO2 gas at a temperature of 750 °C. Analysis of electrochemical characteristics using cyclic voltammetry method resulting in a specific capacitance value of 197.05 F/g for a scan rate of 1 mV/s, 157.215 F/g for a scan rate of 2 mV/s, and 129.42 F/g for scan rate of 5 mV/s.
ANALISA SIFAT FISIS NANOPARTIKEL ZnO DI-DOPING Ag YANG DISINTESIS MENGGUNAKAN METODE BIOSINTESIS Rita Meldayani; Iwantono Iwantono; Ari Sulistyo Rini; Yolanda Rati
Komunikasi Fisika Indonesia Vol 19, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jkfi.19.1.7-10

Abstract

Nanotechnology is developing rapidly with a variety of synthetic materials, apart from the perceived work efficiency, which is also prioritized in terms of safety and non-toxicity. The synthesis that has the potential to be carried out based on these criteria is the type of Ag-doped ZnO nanoparticles. ZnO nanoparticles were prepared by a biosynthetic method using pineapple peel extract as a reducing agent. This study aims to look at the effect of adding Ag to ZnO nanoparticles. The percentage variation of Ag to ZnO is 1%, 3%, and 5%. The pineapple peel extract was mixed with 0.05 M (Zn(NO3)2)·6H2O and 0.05 M AgNO3 precursor solutions. The solution was heated at 80 °C for 2 hours. The results of the biosynthesis were characterized using Spectroscopy UV-Vis, X-ray diffraction (XRD), and scanning electron microscopy (SEM). The UV-Vis spectrum informs that strong absorption occurs at wavelengths below 400 nm. The maximum absorption is shown by sample ZnO:Ag 3% and the minimum absorption is shown by the pure ZnO sample. XRD characterization showed that the formation of seven diffraction peaks occurs at a diffraction angle (2θ) of: 31.729°; 34,397°; 36,214°; 47,467°; 56,541°; 62.831°; and 67.922°. The SEM results showed surface morphology of ZnO and ZnO:Ag 1% samples are floral and spherical, while ZnO:Ag 3%  and ZnO:Ag 5% samples are coral rocks.
PENGGUNAAN METODE GEOLISTRIK RESISTIVITAS KONFIGURASI SCHLUMBERGER UNTUK MENGETAHUI LAPISAN STRUKTUR LITOLOGI BAWAH TANAH DI TAMAN ILMU UNIVERSITAS RIAU Aprianturi Rega; Usman Malik
Komunikasi Fisika Indonesia Vol 19, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jkfi.19.1.35-38

Abstract

Research has been carried out at the Science Park, Riau University to determine the layers of underground lithological structures using the one-dimensional Schlumberger configuration Geoelectric resistivity method. Research data processing is done using Software Progress. The results of data processing show that lanes 1 and 2 consists of layers of alluvium, sand, gravel, and clay. On track 1, the highest soil layer resistivity value of 863.14 m is interpreted as a layer of sand and gravel at a depth of 2.28 - 31.12 m, while the smallest is 226.90 m which can be interpreted as a layer of clay at a depth of 0.68 - 1.28 m. On track 2, the highest soil layer resistivity value of 1027.83 m is interpreted as a layer of sand and gravel at a depth of 0.28 - 1.15 m, while the smallest is 188.08 m interpreted as a clay layer at a depth of 0 - 0.28 m. The highest and lowest resistivity values tend to be identified as sand, gravel, and clay, respectively.