cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Arete
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Jurnal Ilmiah Fakutas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Jurnal ilmiah ini diharapkan menghasilkan kontribusi yang positif dari Fakultas Filsafat bagi pemikiran-pemikiran filosofis di Indonesia yang secara jujur dan setia melihat, memahami, dan menilai realitas sosial di tanah air dengan kritis dan cerdas.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 1 (2023)" : 6 Documents clear
PENDIDIKAN HUMANIS DI ERA DISRUPSI Koesoema, Doni
Arete: Jurnal Filsafat Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mengkaji status filsafat pendidikan di era disrupsi merupakan sebuah tema yang menantang bagi para filsuf. Ini terjadi karena era disrupsi yang terjadi saat ini menantang kita untuk meredifinisi kembali apa makna dan arti terdalam dari sebuah proses pendidikan dan berbagai macam konsep dalam dunia pendidikan yang selama ini kita andaikan begitu saja. Era disrupsi mengubah secara ideologi atau filosofis cara kita memandang tujuan pendidikan, pengajaran, pembelajaran, kurikulum, evaluasi, siswa, guru, dan keseluruhan struktur dan kebijakan di dalam sebuah sistem pendidikan (Schiro, 2008). Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi sudah mendisrupsi praktik-praktik pendidikan pada saat ini dan akan berjalan terus di masa depan.Makalah ini membahas dan memberikan butir-butir pemikiran tentang peranan filsafat pendidikan dalam memberikan jalan dan solusi bagi pengambil kebijakan dan praktisi pendidikan di era disrupsi agar proses pendidikan tetap menunjukkan wajah kemanusiaannya di tengah berbagai macam ancaman teknologisasi dalam dunia pendidikan. Teknologisasi dalam dunia pendidikan, melalui fenomena Revolusi Industri 4.0, bila tidak dipahami dalam esensinya yang terdalam justru akan memiliki dampak besar terhadap kemanusiaan itu sendiri.
DISRUPSI DALAM TINJAUAN MANUSIA EKONOMI: KESEJAHTERAAN BERSAMA DI ERA DISRUPSI Herdiawan, Junanto
Arete: Jurnal Filsafat Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Makalah ini menelusuri hakikat dasar kelahiran ilmu ekonomi dari sudut pandang terbentuknya manusia ekonomi (homo economicus). Dalam upaya itu, aspek pengejaran “self interest” yang melandasi kelahiran manusia ekonomi menjadi titik sentral pembahasan. Dari aspek itulah, makalah ini masuk ke dalam perjalanan sistem ekonomi dari masa ke masa hingga saat ini yang diwarnai oleh dominasi kapitalisme.Pemikiran filsuf Yunani Klasik, Adam Smith, Thomas Piketty, David Harvey, dan Karl Polanyi akan menjadi landasan argumen tentang perjalanan ekonomi sejak abad ke-18. Munculnya ketidakpuasan global, krisis dan resesi, hingga pandemi Covid-19 menjadi pemicu pertanyaan, apakah manusia ekonomi dapat membawa nalarnya mewujudkan kesejahteraan bersama? Janji kesejahteraan yang kerap dicetuskan oleh ilmu ekonomi sulit untuk bisa ditepati. David Harvey menganggap bahwa sistem kapitalisme saat ini didasari oleh motif mencari keuntungan yang didukung oleh sifat modal yang dalam dirinya mengandung kontradiksi internal. Sifat tersebut, menurut Harvey, menjadi akar terjadinya krisis yang semakin hari semakin tidak dapat ditolerir dan membahayakan.Tulisan ini mencoba menunjukkan bagaimana para pemikir ekonomi menemukan kesulitan untuk menjawab permasalahan yang diakibatkan setiap sistem ekonomi. Manusia ekonomi yang kelahirannya adalah sebuah andaian epistemis, untuk mempermudah bangunan ilmu ekonomi, telah dianggap sebagai andaian ontologis. Dengan demikian, masalah kesejahteraan di era disrupsi tidak akan mudah karena akan sangat bergantung pada pilihan-pilihan etis manusia yang menjalankan sistem ekonomi. Melihat pada perjalanan sejarah, upaya mewujudkan kesejahteran tidak bisa dipatok secara permanen, termasuk di era disrupsi digital saat ini, tetapi hanya bisa dikenali dari gerak pendulum gejalanya.Kata kunci:  Manusia Ekonomi, Homo Economicus, Eudaimonia, Self Interest, Modal, Kapitalisme, Ruang (Space), Waktu (Time), ruang-waktu, Ruang Perkotaan, Kontradiksi Internal Modal, Urbanisasi, Ketimpangan Sosial, Distribusi Pendapatan, Etika, Pemberontakan Etis, Gerakan-balik, Keadilan Sosial. Abstract This essay investigates the fundamentals of the origins of economics from the standpoint of the development of economic humans (homo economicus). In this endeavor, the topic of "self-interest" pursuit—which is fundamental to the emergence of economic humans—takes center stage. From this perspective, the article delves into the history of the economy up to the present, which is shaped by capitalism's hegemony.The thoughts of Classical Greek philosophers, Adam Smith, Thomas Piketty, David Harvey, and Karl Polanyi will serve as the foundation for arguments regarding the journey of the economy since the 18th century. The emergence of global dissatisfaction, crisis and recession, to the Covid-19 pandemic have triggered the question, can economic humans bring their reason to realize common prosperity?  The promise of prosperity that is often put forward by economics is difficult to fulfill. David Harvey believes that the current capitalist system is based on the motive of seeking profit supported by the nature of capital which in itself contains internal contradictions. This nature, according to Harvey, is the root of the crisis which is increasingly intolerable and dangerous.The paper attempts to demonstrate how challenging it is for economists to address the issues raised by various economic systems. Economic humans whose birth is an epistemic assumption, to facilitate the construction of economic science, have been considered as an ontological assumption.Thus, the problem of welfare in the era of disruption will not be easy because it will depend mostly on the ethical choices of humans who run the economic system. Considering the trajectory of history, attempts to achieve welfare, even in the present day of digital disruption, cannot be fixed permanently; instead, they can only be recognized by the pendulum swing of their symptoms.Keywords: Economic Man, Homo Economicus, Eudaimonia, Self Interest, Capital, Capitalism, Space, Time, space-time, Urban Space, Internal Contradictions of Capital, Urbanization, Social Inequality, Income Distribution, Ethics, Ethical Rebellion, Counter-movement, Social Justice.
MENILIK AMBIGUITAS KONSEP MARTABAT MANUSIA DI INDONESIA DENGAN PERSONALISME JACQUES MARITAIN Susanto, Christine
Arete: Jurnal Filsafat Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam masyarakat modern di Indonesia, kita masih melihat bahwa usaha penegakan Hak Asasi Manusia sering mengalami kebuntuan. Bahkan usaha untuk meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya memperjuangkan HAM sepertinya kurang begitu berhasil. Tentunya kita perlu berpikir, mengapa hal ini terjadi?Pada artikel ini penulis hendak mengusung ambiguitas konsep martabat manusia di Indonesia sebagai salah satu faktor mendasar yang menyebabkan kesulitan perjuangan HAM. Didasari dengan pertanyaan ‘apakah itu martabat manusia?’ Kita sering berasumsi begitu saja bahwa kita semua mengetahui apa itu martabat manusia. Tetapi faktanya jika ditilik lebih dalam, ternyata dalam masyarakat ada kerancuan pendapat tentang definisi martabat manusia dan apakah hakikat martabat manusia itu tetap dan universal sebagaimana dirumuskan oleh PBB dalam deklarasi HAM ataukah martabat manusia itu tidak tetap dan dapat naik-turun sesuai dengan harkat dan derajat seseorang? Ataukah ada dua konsep martabat manusia yang sebetulnya hakikatnya saling bertentangan dalam masyarakat Indonesia sehingga menjadi rancu apakah layak kita membela individu atau golongan tertentu yang secara dejarat dan harkat dipandang lebih rendah?Demikianlah artikel ini menguraikan permasalahan konsep dan definisi martabat di Indonesia, kemudian menganalisanya dengan filsafat Personalisme Jacques Maritain yang digunakan oleh PBB untuk merumuskan konsep martabat manusia dalam deklarasi HAM, sehingga dihasilkan analisa tentang bagaimana ambiguitas makna martabat manusia di Indonesia menjadi salah satu hambatan dalam perjuangan HAM.
DISRUPSI SEBAGAI PROBLEM SUBJEK, PERSONA, DAN KOMUNITAS Widyawan Louis, Aloysius
Arete: Jurnal Filsafat Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Manusia kini hidup dalam era disrupsi yang mengguncang seluruh sendi kehidupannya. Kemajuan teknologi informasi menjadi salah satu faktor penentu disrupsi. Di satu sisi, guncangan itu menantang manusia untuk beradaptasi secara cepat dengan segala perubahan yang ada. Di sisi lain, disrupsi ini menggerus, meninggalkan, menyingkirkan, dan mengabaikan manusia-manusia yang dianggap tak mumpuni mengikuti arus perubahan zaman. Disrupsi ini bisa menjadi locus philosophicus untuk memperdalam makna hakiki kemanusiaan. Pokok-pokok pemikiran personalistik Karol Wojtyla (1920-2005), seorang filsuf, teolog, dan paus dari Polandia, dapat dijadikan pisau analisis untuk membedah dan menjawab tantangan disrupsi. Beranjak dari analisis atas tindakan, Wojtyla melihat bahwa teknologi beserta dampaknya yang luas bagi kehidupan manusia tak pernah boleh diabaikan, disingkirkan atau diperalat. Manusia sebagai persona adalah subjek dari tindakan. Melalui tindakannya, ia mengejawantahkan ke-persona-annya sebagai pribadi dan bagian dari komunitas manusia yang berdinamika mencapai tujuan-tujuan hidup pribadi dan bersama. Dalam refleksinya itu, ia mengungkapkan bahwa partisipasi adalah kunci bagi persona mewujudkan komunitas yang manusiawi, bebas dari berbagai bentuk alienasi, bahkan alienasi yang menjauhkan manusia dari dirinya sendiri, dari komunitasnya, dan dari berbagai arus perubahan zaman. Kata kunci: Personalisme, Praxis, Partisipasi, Alienasi, Solidaritas, Komunitas  Abstract Humans nowadays live in an era of disruption that shakes all aspects of their lives. Advances in information technology is one of the determining factors for disruption. On the one hand, these shocks challenge humans to adapt quickly and unconditionally to all the changes that exist. On the other hand, this disruption erodes, leaves, removes, and ignores human beings who are considered incapable of keeping up with the changing times. This disruption can become a locus philosophicus to deepen the true meaning of humanity. The personalistic principles of Karol Wojtyla (1920-2005), a philosopher, theologian, and pope from Poland, can be used as an analytical method to dissect and answer the challenges of disruption. Moving on from an analysis of actions, Wojtyla sees that technology and its broad impact on human life must never be ignored, pushed aside, or used. Man as a person is the subject of action. Through his actions, he manifests his personality as a person and part of a dynamic human community to achieve personal and collective life goals. In his reflections, he revealed that participation is the key for the person to create a humane community, free from various forms of alienation, even alienation that distances humans from themselves, from their community, and from various currents of changing times. Keywords: Personalism, Praxis, Participation, Alienation, Solidarity, Community
PERJUMPAAN WAJAH YANG LAIN SEBAGAI DASAR ETIKA MENURUT EMANUEL LEVINAS Simon, Untara
Arete: Jurnal Filsafat Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Tulisan ini memhabas tentang Etika menurut Emanuel Levinas. Penempatan ‘Yang lain’ sebagai yang transenden yang mana di hadapannya, sang Aku berjumpa dengan yang tak berhingga dan disandera untuk bertanggungjawab terhadapnya adalah sumbangan yang sangat penting bagi filsafat dan etika. Berdasarkan pada perjumpaan wajah, etika harus diterjemahkan lebih jauh dalam ranah praktis. Levinas sendiri tidak mengatakan bahwa dalam hidup sehari-hari, orang harus selalu mengutamakan orang lain. Ia hanya menunjukkan suatu kenyataan bahwa dalam perjumpaan wajah yang kita lakukan dalam hidup sehari-hari, kita berjumpa dengan wajah yang transenden yang secara eksistensial kita bertanggungjawab terhadapnya. Akhirnya, tentang kehidupan bernegara ini, secara lebih khusus, Levinas menegaskan bahwa dalam kehidupan bernegara, keadilan harus diperjuangkan. Keadilan ini adalah keadilan yang berdasarkan pada cinta. Cinta inilah cinta yang memiliki tanggung jawab tidak terbatas pada sesama, cinta yang asimetris.Kata kunci:  Etika, Levinas, Tanggung Jawab, Wajah Abstract This article is about Ethics according to Emanuel Levinas. The placement of the 'Other' as the transcendent one before which the I encounter the infinite and is held hostage to it is a very important contribution to philosophy and ethics. Based on face-to-face encounters, ethics must be translated further in the practical realm. Levinas himself did not say that in daily life, people should always put others first. It simply shows the fact that in the face encounters we have in our daily lives, we encounter a transcendent face for whom we are existentially responsible. Finally, about this state life, more specifically, Levinas emphasized that in the life of the state, justice must be fought. This justice is justice based on love. This love is a love that has a responsibility not limited to others, an asymmetrical love. Keywords:  Ethics, Levinas, Responsibility, Face
HANS-GEORG GADAMER DAN FUSI HORIZON Ryadi, Agustinus
Arete: Jurnal Filsafat Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Komentar saya terhadap buku ini berjalan sesuai dengan metodologi sebagai berikut. Langkah-langkah berjumlah empat bagian. Tiga bagian pertama menjelaskan buku dan isi buku ini, sedangkan bagian keempat merupakan hasil dari membaca buku ini. Tiga bagian pertama terdiri dari pertama, saya mencoba memahami buku ini, buku Emanuel Prasetyono, yang berjudul “Fusi Horizon Hermeneutika Hans-Georg Gadamer bagi Dialog Antarbudaya”; Kedua, buku ini mengelaborasi apa?; Ketiga, bagaimana Emanuel mengkritisi fusi horizon; Keempat, pencerahan tentang fusi horizon Gadamer yang didapat dari pembacaan.

Page 1 of 1 | Total Record : 6