cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia
ISSN : 22527702     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
“Experientia” merupakan istilah dalam bahasa Latin yang artinya “pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman”. Pemilihan nama ini selaras dengan metode transfer dan pengembangan ilmu pengetahuan yang dipraktikkan di Unika Widya Mandala Surabaya, yakni “experiential learning” (mahasiswa dan dosen belajar bersama melalui partisipasi aktif dalam pembelajaran akademik). Berkala ilmiah ini dipublikasikan oleh Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, terbit dua kali setahun, dan memuat kajian/analisis/telaah/tinjauan empirik dalam ranah psikologi; yang bisa berupa penelitian lapangan maupun kajian teoretik. Misi jurnal ini adalah “give psychology away”—mengutip kata-kata klasik Philip Zimbardo—yakni membantu pengembangan psikologi menjadi ilmu yang sungguh-sungguh bermanfaat bagi kemaslahatan manusia dalam tataran mikro (individual) dan makro (komunal).
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 2 (2020)" : 7 Documents clear
HUBUNGAN ANTARA ADVERSITY QUOTIENT DAN MOTIVASI BERPRESTASI PADA SISWA YANG MENGIKUTI SPP-SKS DI SMPN 1 SEDATI SIDOARJO Dhea Ramadhani
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v8i2.2844

Abstract

Siswa yang mengikuti program percepatan belajar membutuhkan adanya motivasi berprestasi yang tinggi untuk siswa agar dapat mencapai prestasi yang diinginkan, di dalam mencapai prestasi dibutuhkan adanya usaha atau daya juang dalam mengatasi hambatan dan tantangan yang akan dihadapi. Usaha untuk mengatasi permasalahan tersebut dinamakan dengan adversity quotient. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji ada tidaknya hubungan antara adversity quotient dan motivasi berprestasi pada siswa yang mengikuti SPP-SKS (Satuan Panduan Penyelenggaraan-Sistem Kredit Semester). Subjek dalam penelitian ini adalah 60 adalah siswa yang mengikuti spp-sks di SMPN 1 Sedati Sidoarjo. Penelitian ini menggunakan total population study dengan alat ukur skala yang diisi siswa, yakni skala adversity quotient untuk mengukur daya juang pada siswa dan skala motivasi berprestasi untuk mengukur motivasi berprestasi siswa dalam mengikuti program percepatan belajar. Hasil penelitian ini menunjukkan korelasi yang signifikan dan positif pada adversity quotient dan motivasi berprestasi sebesar 0,697 dengan nilai p sebesar 0,000 (p< 0,05). Semakin tinggi adversity quotient, semakin tinggi motivasi berprestasi. Sebaliknya, semakin rendah adversity quotient, maka semakin rendah motivasi berprestasi pada siswa yang mengikuti SPP-SKS. Kata Kunci : Motivasi Berprestasi, Adversity Quotient, Siswa SPP-SKS
REGULASI DIRI DAN DUKUNGAN SOSIAL DARI KELUARGA PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 Sari, Puspita; Simanjuntak, Ermida
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v8i2.2846

Abstract

Diabetes melitus adalah kondisi kronis yang ditandai dengan peningkatan konsentrasi glukosa dalam darah disertai urine yang mengandung glukosa. Salah satu tipe dari diabetes melitus adalah tipe 2 atau non insulin dependent diabetes melitus. Pasien dengan kondisi diabetes melitus tipe 2 harus menjalani pengobatan agar kondisi gula darahnya tetap stabil. Keberhasilan pengobatan pasien dipengaruhi oleh regulasi diri yang dimiliki oleh pasien. Salah satu faktor eksternal yang mempengaruhi regulasi diri pasien adalah dukungan sosial dari keluarga. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat hubungan antara regulasi diri dengan dukungan sosial dari keluarga pada pasien diabetes melitus tipe 2. Subjek penelitian ini adalah pasien diabetes melitus tipe 2 (N=74) yang berdomisili di Surabaya. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara purposive sampling. Data dikumpulkan dengan menggunakan skala regulasi diri dan skala dukungan sosial dari keluarga. Hasil penelitian menunjukkan nilai rxy=0,507 dan nilai p=0,000 (p<0,05). Dengan demikian ada hubungan yang signifikan antara regulasi diri dengan dukungan sosial dari keluarga pada pasien diabetes melitus tipe 2. Saran yang dapat diberikan adalah dukungan keluarga merupakan faktor yang penting untuk membantu pasien dalam meregulasi diri terkait pengobatan diabetes melitus tipe 2. Kata kunci:Regulasi diri, dukungan sosial dari keluarga, diabetes melitus tipe 2 Diabetes mellitus is a chronic condition characterized by increased concentration of glucose in the blood with urine containing glucose. One type of diabetes mellitus is type 2 or non-insulin dependent diabetes mellitus. Patients with diabetes mellitus type 2 must undergo treatment in order to achieve stable blood sugar level. Successful treatments are influenced by self-regulation of the patients. One of the external factors that affects the patient's self-regulation is the social support from family. This study aims to identify the relationship between self-regulation and family social suppport on patients diabetes mellitus type 2. Subjects of this study are patients with diabetes mellitus type 2 (N = 74) who live in Surabaya. Samples were taken by using purposive sampling technique. Self-regulation scale and Social support from family scale are used to collect the data. The results show that rxy = 0.507 and p = 0.000 (p < 0.05), means that there is a significant relationship between self-regulation and social support from family on patients with diabetes mellitus type 2. Social support from family is considered to be an important factor to encourage self-regulation of patients with diabetes mellitus type 2 when they undergo medical treatments.Keywords:Self regulation, social support from family, diabetes mellitus type 2
EFEKTIVITAS TEKNIK RELAKSASI PERNAFASAN UNTUK MENURUNKAN KECEMASAN SEBELUM BERTANDING PADA ATLET BULUTANGKIS PUSLATCAB DAN SIAP GRAK SURABAYA Tiara, Ervine Felicia; Rahardanto, Michael Seno
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v8i2.2856

Abstract

Setiap atlet umumnya memiliki keinginan tampil secara maksimal dan mencapai hasil terbaik. Akan tetapi, terdapat banyak faktor yang memengaruhi atlet dalam mencapai prestasi. Kecemasan merupakan salah satu faktor psikologis yang seringkali mengganggu penampilan seorang atlet. Pelatihan relaksasi pernafasan merupakan sebuah teknik yang digunakan untuk mengurangi keadaan cemas dan tegang dengan cara mengatur irama pernafasan dan memusatkan perhatian dengan tujuan mempercepat proses penyembuhan fisik dan mental. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan desain penelitian pretest-posttest control group design. Jumlah subjek penelitian sebanyak 30 orang atlet taruna bulutangkis yang tergabung dalam Puslatcab dan Siap Grak Surabaya. Peneliti membagi subjek menjadi dua kelompok yaitu lima belas subjek untuk kelompok eksperimen dan lima belas subjek untuk kelompok kontrol dengan menggunakan teknik matching. Pemberian teknik relaksasi pernafasan diberikan sebanyak enam kali pertemuan. Instrumen yang digunakan adalah skala kecemasan olahraga. Hasil analisis kuantitatif menggunakan statistik nonparametrik Mann-Whitney U Test dan Wilxocon Signed Ranks Test. Uji hipotesis menggunakan teknik Mann-Whitney U Test menghasilkan nilai Asymp. Sig (2-tailed) sebesar 0.575 (p > 0.05) untuk hasil pretest dan sebesar 0.000 (p < 0.005) untuk hasil posttest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Uji hipotesis menggunakan teknik Wilcoxon Signed Ranks Test menghasilkan nilai Asymp. Sig (2-tailed) sebesar 0.001  untuk kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen. Hasil mean pretest sebesar 70.60 untuk kelompok kontrol, dan sebesar 72.47 untuk kelompok eksperimen. Hasil mean posttest sebesar 78,60 untuk kelompok kontrol, dan sebesar 37.60 untuk kelompok eksperimen, sedangkan nilai effect size yang diperoleh adalah sebesar 0.62 (large effect). Dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan kecemasan antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kelompok kontrol memiliki skor kecemasan yang jauh lebih tinggi daripada kelompok eksperimen serta pelatihan relaksasi memberikan efek yang besar terhadap kecemasan. Hasil ini memperlihatkan bahwa teknik relaksasi pernafasan efektif untuk menurunkan kecemasan sebelum bertanding pada atlet bulutangkis
GAMBARAN HUBUNGAN ROMANTIS PADA WANITA YANG MELAKUKAN ABORSI ATAS PERMINTAAN PASANGAN Fransisca Rosalinda Purnamasari
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v8i2.2764

Abstract

Pada suatu hubungan romantis terdapat unsur-unsur keintiman fisik, hal tersebut yang membedakan hubungan romantis dengan hubungan teman dekat. Pada masa emerging adult kebanyakan individu mulai aktif secara seksual meskipun belum menikah. Adanya dorongan tersebut yang membuat timbulnya perilaku seks pranikah yang memiliki beberapa resiko, salah satunya kehamilan diluar pernikahan. Pilihan dari kejadian kehamilan diluar pernikahan adalah menikah atau melakukan aborsi. Di Indonesia sendiri fenomena aborsi masih terjadi di setiap tahunnya. Salah satu dampak aborsi adalah adanya tekanan emosional, hal tersebut dapat juga mempengaruhi kestabilan hubungan romantis suatu pasangan. Penelitian ini mencari tahu gambaran hubungan romantis pada wanita yang pernah melakukan aborsi atas permintaan pasangan. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif model single case study dengan teknik analisis data inductive thematic analysis. Subjek dalam penelitian ini adalah wanita yang pernah melakukan aborsi minimal dua kali atas permintaan pasangan dan masih mempertahankan hubungan romantis dengan pasangannya. Subjek dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling. Hasil dari penelitian ini ditemukan bahwa gambaran hubungan romantis wanita yang pernah melakukan aborsi saat ini rumit karena tidak memiliki tujuan untuk masa depannya. Alasan subjek tetap mempertahankan hubungannya adalah karena adanya ketertarikan terhadap pasangan dan keintiman yang memuaskan. Kata kunci: Aborsi, hubungan romantis, keintiman dan ketertarikan pada pasangan
PERBEDAAN INTENSITAS LONELINESS PADA MAHASISWA INDONESIA YANG MELANJUTKAN STUDI DI LUAR NEGERI DITINJAU DARI TIPE KEPRIBADIAN Eileen Kristlyna; Jaka Santosa Sudagijono
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v8i2.2867

Abstract

ABSTRAKLoneliness adalah suatu emosi negatif yang terjadi karena berkurangnya hubungan sosial atau karena seseorang tidak mampu untuk membangun hubungan sosial sesuai dengan apa yang diharapkannya. Loneliness dapat terjadi pada mahasiswa yang melanjutkan studi di luar negeri karena salah satu faktor loneliness adalah karakteristik individual yaitu kepribadian. Tipe kepribadian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kepribadian ekstrovert dan introvert. Individu dengan tipe kepribadian introvert memiliki kecenderungan untuk mengalami kesepian lebih tinggi daripada individu dengan tipe kepribadian ekstrovert karena mereka memiliki karakteristik yang memilih lingkungan yang tenang, memilih kegiatan yang dilakukan seorang diri, cenderung menarik diri dari lingkungan sosial, sedangkan individu dengan tipe kepribadian ekstrovert memiliki karakteristik yang mudah bergaul, suka berkumpul dengan banyak orang, dan mudah beradaptasi di lingkungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan intensitas loneliness ditinjau dari tipe kepribadian pada Mahasiswa Indonesia yang melanjutkan studi di luar negeri. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik pengambilan data purposive dan snowball sampling. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan skala tipe kepribadian Eysenck Personality Questionnaire (EPQ) dan skala Loneliness yang disusun oleh peneliti. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa Indonesia yang melanjutkan studi di luar negeri yang berusia 18-22 tahun. Data diolah dengan menggunakan teknik statistik non-parametrik Mann-Whitney U karena tidak memenuhi uji asumsi. Hasil pada penelitian ini mengatakan bahwa tidak ada perbedaan antara intensitas loneliness pada mahasiswa Indonesia yang melanjutkan studi di luar negeri ditinjau dari tipe kepribadian karena adanya faktor lain yaitu self-esteem, dukungan sosial dan juga adanya perkumpulan mahasiswa Indonesia.Kata Kunci: Loneliness, Tipe Kepribadian, Mahasiswa yang Melanjutkan Studi Di Luarnegeri.ABSTRACTLoneliness is a negative emotion that occurs due to reduced social relationships or becausesomeone is unable to build social relationships in accordance with what they expect. Loneliness can occur in students who continue their studies abroad because one of the factors of loneliness is individual characteristic, namely personality. The personality types used in this study are extrovert and introvert personality. Introverted individuals have a higher tendency to experience loneliness than extroverted individuals because they havecharacteristics that prefer quiet environments, choose activities that are carried out alone,tend to withdraw from social environments, while individuals with extrovert personality types have characteristics that are easy to get along with, likes to hang out with many people, and easy to adapt in social environment. This study is to determine the difference in loneliness intensity in terms of personality types among Indonesian students who continue their studies abroad. This study used a quantitative methods with purposive and snowball sampling techniques. Data were collected using the Eysenck Personality Questionnaire (EPQ) personality type scale and the Loneliness scale compiled by the researcher. Subjects in this study are Indonesian students who studies abroad, aged 18-22 years. The data are process using non-parametric statistical techniques Mann-Whitney U because it did not meet the assumption test. The results said that there was no difference between the intensity of loneliness among Indonesian students who continued their studies abroad in terms ofpersonality types due to other factors such as self-esteem, social support and also Indonesian students associations.Keywords: Loneliness, Personality Type, Students Who Study Abroad.
PERBEDAAN TINGKAT SELF-EFFICACY PADA ANAK DISLEKSIA DENGAN PELATIHAN BERKONSEP GROWTH MINDSET Veronica Amelinda Chauwito; Eli Prasetyo
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v8i2.2765

Abstract

Abstrak    Pendidikan dianggap sebagai hal yang penting dalam kehidupan manusia, dan akan berlangsung sepanjang hayat manusia. Namun tidak semua anak dapat melalui proses pendidikan dengan baik. Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders 5th Edition (DSM-5; APA, 2013), terdapat tiga jenis gangguan belajar yang dapat mempengaruhi proses belajar di masa kanak-kanak, yaitu disleksia, disgrafia, dan diskalkulia. Disleksia sendiri adalah gangguan belajar yang paling sering ditemui diantara tiga jenis gangguan belajar yang lainya. Anak-anak dengan disleksia memiliki kecenderungan self-efficacy yang rendah dibandingkan anak-anak pada umumnya. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan self-efficacy anak dengan disleksia dengan memberikan perlakuan yang berlandaskan pada konsep Growth Mindset. Metode penelitian ini adalah dengan menggunakan desain penelitian single case-experimental design. Jumlah subjek yang digunakan adalah dua orang, satu sebagai subjek try out dan satu sebagai subjek perlakuan. Metode pengumpulan data adalah dengan menggunakan kuesioner dan wawancara. Hasil pre-test dan post-test menunjukkan adanya peningkatan yaitu dari 53 ke 75. Serta diperoleh hasil dari wawancara bahwa subjek lebih mau mencoba dan tidak mudah menyerah.  Sehingga hipotesa penelitian diterima yaitu ada perbedaan tingkat self-efficacy pada anak dengan disleksia sebelum dan sesudah diberi pelatihan yang berlandaskan pada konsep Growth Mindset, ada peningkatan self-efficacy pada anak dengan disleksia sesudah diberi pelatihan yang berlandaskan pada konsep Growth Mindset.Kata kunci: Disleksia; self-efficacy; Growth Mindset 
PENGARUH RELIGIOSITAS TERHADAP KECEMASAN PADA ANGGOTA KOMUNITAS ORANG MUDA KATOLIK (OMK) DI KEVIKEPAN SURABAYA SELATAN Maria Annuntiata Tiara Ayu Kusuma; Dicky Susilo
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v8i2.2874

Abstract

Kecemasan merupakan salah satu fenomena yang kerap terjadi pada masa dewasa awal. Kecemasan tersebut dipicu oleh ketidakmampuan individu dalam menghadapi permasalahan dan perubahan pada masa tersebut. Di Indonesia, sebesar 9,8% penduduk berusia 15 tahun ke atas mengalami gangguan mental emosional yang ditunjukkan dengan munculnya gejala kecemasan. Kecemasan pada masa dewasa awal ini juga dialami oleh anggota Orang Muda Katolik (OMK). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh religiositas terhadap kecemasan pada anggota komunitas OMK di Kevikepan Surabaya Selatan. Penelitian ini dilakukan pada anggota komunitas OMK yang aktif di setiap paroki dalam Kevikepan Surabaya Selatan (N = 162). Penarikan sampel dilakukan dengan teknik Convenience Sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan skala Kecemasan dengan 3 aspek dan skala Religiositas dengan 5 dimensi. Data dianalisis dengan teknik statistika analisis regresi. Hasil pengolahan data mendapatkan nilai F sebesar 5,609 yang memiliki nilai p 0.019 (p < 0,05) yang berarti ada pengaruh religiositas terhadap kecemasan pada anggota komunitas OMK di Kevikepan Surabaya Selatan dan sebesar 3,4% variansi kecemasan dijelaskan oleh religiositas.

Page 1 of 1 | Total Record : 7