cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
elharakahjurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam
ISSN : 18584357     EISSN : 23561734     DOI : -
Core Subject : Health,
EL HARAKAH (ISSN 1858-4357 and E-ISSN 2356-1734) is peer-reviewed journal published biannually by Maulana Malik Ibrahim State Islamic University (UIN) of Malang. The journal is accredited based on the decree No. 36a E. KPT 2016 on 23 May 2016 by the Directorate General of Higher Education of Indonesia, for the period August 2016 to August 2021 (SINTA 2). The journal emphasizes on aspects related to Islamic Culture in Indonesia and Southeast Asia. We welcome contributions from scholars in the field, papers maybe written in Bahasa Indonesia, English, or Arabic.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH" : 7 Documents clear
Spiritualisasi Keilmuan: Mengkonstruksi Peradaban Intelektual Muslim Abad Ke-21 Mohammad Miftahusyai'an
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.312 KB) | DOI: 10.18860/el.v0i0.439

Abstract

Western scholars who separate between science and religion have brought people in the final point of civilization. Therefore, the duty of Moslem scholar in the 21th century is to rebuild the spiritual intellectual integrity in the frame of science and civilization. The main responsibility of Moslem scholars, nowadays, in reaching the brightness of life is reconstructing science paradigm by relocating God as the main stream of thought. The bright time of Madinah civilization is the starting point of the glory of Islamic civilization which successfully has entered all over the world. Therefore, intellectual orientation which has become Moslem’s responsibility is to reform the principles of Madinah civilization to be reconstructed to the present time. This is very important issue as Madinah civilization has not established yet that will be possible for Moslem scholars can speak much about the 21th century civilization.  At the beginning of Islam period, the fight proposed by Moslem scholars was deconstructed the jahiliyah’s way of thinking, furthermore, the great jihad of Moslem scholars in the present time is reconstructing the scientific way of thinking which is currently empirical-minded. Moreover, the Moslem scholar’s responsibility is to present spiritualism in scientific discourse. The integration of science and religion has become conceptualization of his science, hence, al Quran will be always the eternal source of science. Sarjana Barat yang memisahkan antara sains dan agama telah membawa orang di titik akhir peradaban. Oleh karena itu, tugas sarjana Islam di abad ke 21 adalah membangun kembali integritas intelektual spiritual dalam kerangka sains dan peradaban. Tanggung jawab utama ulama Muslim, saat ini, dalam mencapai kecerahan hidup adalah merekonstruksi paradigma sains dengan merelokasi Tuhan sebagai aliran pemikiran utama. Waktu cemerlang peradaban Madinah menjadi titik awal dari kemuliaan peradaban Islam yang telah berhasil masuk ke seluruh dunia. Oleh karena itu, orientasi intelektual yang telah menjadi tanggung jawab umat Islam adalah mereformasi prinsip peradaban Madinah untuk direkonstruksi hingga saat ini. Ini adalah isu yang sangat penting karena peradaban Madinah belum terbentuk, yang mungkin bagi ulama Islam dapat berbicara banyak tentang peradaban abad 21. Pada awal periode Islam, pertarungan yang diajukan oleh para ilmuwan Muslim mendekonstruksi cara berpikir jahiliyah, jihad besar ulama Muslim saat ini sedang membangun kembali cara berpikir ilmiah yang saat ini bersifat empiris. Lebih dari itu, tanggung jawab ilmuwan Muslim adalah menyajikan spiritualisme dalam wacana ilmiah. Integrasi sains dan agama telah menjadi konseptualisasi sainsnya, oleh karena itu, al Quran akan selalu menjadi sumber sains abadi.
Relevansi Ilmu Pengetahuan, Filsafat, Logika dan Bahasa dalam Membentuk Peradaban Inayatur Rosyidah
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.148 KB) | DOI: 10.18860/el.v0i0.440

Abstract

God grant to the great potential of human reason as an instrument for thinking. And the reason humans can develop a philosophical exploration. The philosophical exploration can build by creating dialogue and collaborations between science, philosophy, logic and language. Civilization as composite from spirit and attitude and ways of social life can’t separate from philosophy in forming of good society’s behavior. In the other hand, language, science and technology are also having important roles in civilization. The results of science are impossible to understand with societies if never communicate by language. Therefore, with the achievement of those aspects and discoveries of human philosophy can build a civilization throughout historical from time to time. Thus, in the history of human civilization, science, philosophy, logic and language have their respective roles that sometimes require the dialogue and or cooperation between the fourth in a valuable form of civilization in the history of life. Tuhan memberikan potensi besar akal manusia sebagai instrumen untuk berpikir. Itu menjadi alasan manusia bisa mengembangkan eksplorasi filosofis. Eksplorasi filosofis bisa dibangun dengan menciptakan dialog dan kolaborasi antara sains, filsafat, logika dan bahasa. Peradaban sebagai gabungan dari semangat dan sikap dan cara hidup sosial tidak bisa lepas dari filsafat dalam membentuk perilaku masyarakat yang baik. Di sisi lain, bahasa, sains dan teknologi juga memiliki peran penting dalam peradaban. Hasil sains tidak mungkin bisa dipahami dengan masyarakat jika tidak pernah berkomunikasi dengan bahasa. Karena itu, dengan tercapainya aspek dan penemuan filsafat manusia ini bisa membangun peradaban sepanjang sejarah dari waktu ke waktu. Dengan demikian, dalam sejarah peradaban manusia, sains, filsafat, logika dan bahasa memiliki peran masing-masing yang terkadang memerlukan dialog dan atau kerja sama antara yang keempat dalam bentuk peradaban yang berharga dalam sejarah kehidupan.
Konsep Seni Islam Sayyid Husein Nasr A. Khudori Soleh
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.276 KB) | DOI: 10.18860/el.v0i0.441

Abstract

Sayyid Husein Nasr divided art into three parts: pure art, traditional art and religious art. Islamic art included on pure art, relates to the principle of cosmos unity and principle of individual life unity and society. Because of that, according to Nasr, thinking about Islamic art is not based on material and social political experience that scope on inner reality of al Quran. In other hand, Islamic art also based on wisdom or knowledge that inspired of spiritual values, therefore Islamic art can be made as a result of khazain al ghaib. Because of that, Islamic art always reflected on religious values and explained of spiritual qualities. Actually, there are four functions which carry out by Islamic art. (1) Aims a blessed as cause of spiritual relation with Islamic spiritual dimension; (2) Remembering presence of the God in everywhere peoples are; (3) As criteria to evaluate social movement, cultural or politic that really Islamic or not; (4) to determined step of intellectual relation and religious of society.Sayyid Husein Nasr membagi seni menjadi tiga bagian: seni murni, kesenian tradisional dan seni religius. Seni Islam termasuk seni murni, berkaitan dengan prinsip kesatuan kosmos dan prinsip persatuan kehidupan individu dan masyarakat. Karena itu, menurut Nasr, pemikiran tentang seni Islam tidak didasarkan pada pengalaman material dan sosial politik yang lingkup realitas batin al quran. Di sisi lain, seni Islam juga didasarkan pada hikmat atau pengetahuan yang mengilhami nilai-nilai spiritual, oleh karena itu seni Islam bisa dijadikan khazirah al ghaib. Karena itu, seni Islam selalu tercermin pada nilai-nilai agama dan menjelaskan kualitas spiritual. Sebenarnya ada empat fungsi yang dilakukan oleh seni Islam. (1) Bertujuan diberkati sebagai penyebab hubungan spiritual dengan dimensi spiritual Islam; (2) Mengingat keberadaan Tuhan di mana-mana orang-orang; (3) Sebagai kriteria untuk mengevaluasi gerakan sosial, budaya atau politik yang benar-benar Islami atau tidak; (4) menentukan langkah relasi intelektual dan religius masyarakat.
Superioritas Laki-Laki dalam Dunia Sufi: Tinjauan Budaya Islam dalam Praktek Kepemimpinan Spiritual Abdur Rohmat
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.749 KB) | DOI: 10.18860/el.v0i0.442

Abstract

Substantially, the spiritual teaching of Sufism is not represented and represents one of gender group, male or female an sich. The Sufism spiritual teaching has great universal scope for male and female. In the empirical domain, in fact, the spiritual teaching still conduct patrimonial culture behavior which makes the original Sufism spiritual teaching endangered to fail. This situation also happened in the leadership on the practices of tasawuf teaching culture which has been dominated by the males. As a consequence, the female will never get the chance to lead the teaching practice. The situation encourages the writer to dig up the issues on imbalance in the male and female role in the Sufism teaching practices. The article raises the questions on should the spiritual teacher be the male? And why does the leadership capacity of the spiritual teaching has been dominated by the male? Furthermore, the exploration will be helpful resource to have better understanding on the Sufism teaching practice. Secara substansial, ajaran spiritual tasawuf tidak terwakili dan mewakili salah satu kelompok gender, pria atau wanita saja. Ajaran spiritual Sufisme memiliki cakupan universal yang besar untuk pria dan wanita. Dalam ranah empiris sebenarnya ajaran spiritual masih melakukan perilaku budaya patrimonial yang membuat ajaran spiritual Sufisme asli terancam punah. Keadaan ini juga terjadi pada kepemimpinan pada praktik budaya pengajaran tasawuf yang telah didominasi oleh laki-laki. Sebagai konsekuensinya, perempuan tidak akan pernah mendapatkan kesempatan untuk memimpin praktik mengajar. Situasi tersebut mendorong penulis untuk menggali isu ketidakseimbangan peran pria dan wanita dalam praktik pengajaran tasawuf. Artikel tersebut mengangkat pertanyaan tentang apakah guru spiritual itu adalah laki-laki? Dan mengapa kapasitas kepemimpinan ajaran spiritual didominasi oleh laki-laki? Selanjutnya, eksplorasi akan menjadi sumber yang berguna untuk memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai praktik pengajaran tasawuf.
Nahdhatul Ulama dan Perubahan Budaya Politik di Indonesia Muhammad Muhammad
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.682 KB) | DOI: 10.18860/el.v0i0.444

Abstract

The aim of article to descriptive relationship between Nahdhatul Ulama institution and change of political culture in Indonesia. The first, explore many terminology of political culture, type of political culture and political behavior. Secondly, this article to analysis ideology of Nahdhatul Ulama and democracy. The last, this article recommended the new role of Nahdhatul Ulama to contribution in change of political culture in Indonesia. Tujuan artikel ini untuk menjabarkan hubungan antara lembaga Nahdhatul Ulama dan perubahan budaya politik di Indonesia. Yang pertama, yaitu dengan menjelajahi banyak terminologi budaya politik, jenis budaya politik dan perilaku politik. Kedua, artikel ini untuk menganalisis ideologi Nahdhatul Ulama dan demokrasi. Yang terakhir, artikel ini merekomendasikan peran baru Nahdhatul Ulama untuk berkontribusi dalam perubahan budaya politik di Indonesia.
Nahdhatul Ulama dan Perubahan Budaya Politik di Indonesia Muhammad, Muhammad
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v0i0.444

Abstract

The aim of article to descriptive relationship between Nahdhatul Ulama institution and change of political culture in Indonesia. The first, explore many terminology of political culture, type of political culture and political behavior. Secondly, this article to analysis ideology of Nahdhatul Ulama and democracy. The last, this article recommended the new role of Nahdhatul Ulama to contribution in change of political culture in Indonesia. Tujuan artikel ini untuk menjabarkan hubungan antara lembaga Nahdhatul Ulama dan perubahan budaya politik di Indonesia. Yang pertama, yaitu dengan menjelajahi banyak terminologi budaya politik, jenis budaya politik dan perilaku politik. Kedua, artikel ini untuk menganalisis ideologi Nahdhatul Ulama dan demokrasi. Yang terakhir, artikel ini merekomendasikan peran baru Nahdhatul Ulama untuk berkontribusi dalam perubahan budaya politik di Indonesia.
Relevansi Ilmu Pengetahuan, Filsafat, Logika dan Bahasa dalam Membentuk Peradaban Rosyidah, Inayatur
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v0i0.440

Abstract

God grant to the great potential of human reason as an instrument for thinking. And the reason humans can develop a philosophical exploration. The philosophical exploration can build by creating dialogue and collaborations between science, philosophy, logic and language. Civilization as composite from spirit and attitude and ways of social life can’t separate from philosophy in forming of good society’s behavior. In the other hand, language, science and technology are also having important roles in civilization. The results of science are impossible to understand with societies if never communicate by language. Therefore, with the achievement of those aspects and discoveries of human philosophy can build a civilization throughout historical from time to time. Thus, in the history of human civilization, science, philosophy, logic and language have their respective roles that sometimes require the dialogue and or cooperation between the fourth in a valuable form of civilization in the history of life. Tuhan memberikan potensi besar akal manusia sebagai instrumen untuk berpikir. Itu menjadi alasan manusia bisa mengembangkan eksplorasi filosofis. Eksplorasi filosofis bisa dibangun dengan menciptakan dialog dan kolaborasi antara sains, filsafat, logika dan bahasa. Peradaban sebagai gabungan dari semangat dan sikap dan cara hidup sosial tidak bisa lepas dari filsafat dalam membentuk perilaku masyarakat yang baik. Di sisi lain, bahasa, sains dan teknologi juga memiliki peran penting dalam peradaban. Hasil sains tidak mungkin bisa dipahami dengan masyarakat jika tidak pernah berkomunikasi dengan bahasa. Karena itu, dengan tercapainya aspek dan penemuan filsafat manusia ini bisa membangun peradaban sepanjang sejarah dari waktu ke waktu. Dengan demikian, dalam sejarah peradaban manusia, sains, filsafat, logika dan bahasa memiliki peran masing-masing yang terkadang memerlukan dialog dan atau kerja sama antara yang keempat dalam bentuk peradaban yang berharga dalam sejarah kehidupan.

Page 1 of 1 | Total Record : 7


Filter by Year

2010 2010


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH Vol 26, No 2 (2024): EL HARAKAH Vol 26, No 1 (2024): EL HARAKAH Vol 25, No 2 (2023): EL HARAKAH Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH Vol 24, No 1 (2022): EL HARAKAH Vol 23, No 2 (2021): EL HARAKAH Vol 23, No 1 (2021): EL HARAKAH Vol 22, No 2 (2020): EL HARAKAH Vol 22, No 1 (2020): EL HARAKAH Vol 21, No 2 (2019): EL HARAKAH Vol 21, No 1 (2019): EL HARAKAH Vol 20, No 2 (2018): EL HARAKAH Vol 20, No 1 (2018): EL HARAKAH Vol 19, No 2 (2017): EL HARAKAH Vol 19, No 1 (2017): EL HARAKAH Vol 18, No 2 (2016): EL HARAKAH Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH E-Harakah (Vol 14, No 2 Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 13, No 1 Vol 12, No 3 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 2 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 12, No 3 el-Harakah (Vol 12, No 2 el-Harakah (Vol 12, No 1 Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 2 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 1 (2009): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 11, No 2 el-Harakah (Vol 11, No 1 Vol 10, No 3 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 2 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 1 (2008): EL HARAKAH Vol 9, No 3 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 2 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 1 (2007): EL HARAKAH Vol 8, No 3 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 2 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH Vol 7, No 1 (2005): EL HARAKAH Vol 6, No 2 (2004): EL HARAKAH Vol 5, No 2 (2003): EL HARAKAH Vol 5, No 1 (2003): EL HARAKAH Vol 4, No 3 (2002): EL HARAKAH Vol 4, No 2 (2002): EL HARAKAH Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH Vol 2, No 1 (2000): EL HARAKAH Vol 1, No 3 (1999): EL HARAKAH More Issue