cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. jombang,
Jawa timur
INDONESIA
Diglossia
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan diterbitkan oleh Fakultas Bahasa dan Sastra Unipdu
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 7 No. 2 (2016): April" : 6 Documents clear
GAYA BAHASA MARIO TEGUH DALAM EPISODE “JOMBLO MULIA” 8 JUNI 2014 Kajian Retorika LANGUAGE STYLE OF MARIO TEGUH IN “JOMBLO MULIA” ON JUNE 8, 2014 EPISODE Rhetorics Study Binti Qani'ah
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 7 No. 2 (2016): April
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v7i2.565

Abstract

AbstrakRetorika merupakan sebuah teknik pemakaian bahasa sebagai seni.Seni retorika bemacam-macam dan setiap penutur mempunyai kekhususan dalam memilih seni retorika dalam tuturannya. Mario Teguh sebagai seorang motivator juga menggunakan seni retorika tertentu. Seni retorika yang digunakan Mario Teguh meliputi gaya bahasa dan komunikasi nonverbal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan seni retorika yang berupa gaya bahasa dan komunikasi nonverbal yang digunakan Mario Teguh dalam tuturannya. Hasil penelitian menunjukkan gaya bahasa yang digunakan Mario Teguh meliputi gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat (klimaks, antiklimaks, antitesis, repetisi), berdasarkan langsung tidaknya makna (asindenton, polisindenton, eufimismus, pertanyaan retoris), dan bahasa kiasan yang meliputi majas personifikasi, sinekdoke, hiperbola, paradoks, metafora. Sebagai komunikasi nonverbal, Mario Teguh juga menerapkan faktor kinesik yang meliputi ekspresi wajah, gerakan tangan, penampilan dan postur; proksemik; dan paralingual.kata kunci : retorika, gaya bahasa, komunikasi nonverbal AbstractRhetoric is a technique of using language as an art. There are many kinds of the art of rhetoric and every speaker has his/her own specificity in selecting the art of rhetoric in his/her speech. Mario Teguh as a motivator also uses certain rhetorical art. The rhetoric arts used by Mario Teguh are language style and nonverbal communication. The purpose of this study was to describe the art of rhetoric which are in the form of language style and nonverbal communication used by Mario Teguh in his speech. The results showed that the language style used by Mario Teguh are language style which is based on the structure of the sentence (the climax, anticlimax, antithesis, repetition) and based on the direct or the absence of meaning (asyndeton, polisydenton, euphemisms, a rhetorical question). The figurative languages used are personification, sinecdoc, hyperbole, paradox, and metaphor. As nonverbal communication, Mario Teguh also applied kinesic factors which include facial expressions, hand gestures, performance and posture; proxemic; and paralingual.keywords: retorics, language style, nonverbal communication
APLIKASI PEMAHAMAN LINTAS BUDAYA DALAM PENERJEMAHAN ISTILAH BUDAYA DALAM NOVEL LINTANG KEMUKUS DINI HARI KARYA AHMAD TOHARI THE APPLICATION OF CROSS CULTURAL UNDERSTANDING IN TRANSLATING CULTURAL TERMS IN THE AHMAD TOHARI’S NOVEL ‘LINTANG KEMUKUS’ Lestari Ika Prastiwi
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 7 No. 2 (2016): April
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v7i2.566

Abstract

AbstrakDewasa ini banyak sekali orang-orang asing yang mempelajari budaya yang bukan milik mereka. Adanya fenomena tersebut, maka muncullah suatu bidang ilmu yang khusus mengkaji tentang pemahaman lintas budaya dengan sebagai ilmu/ kajian yang melihat bagaimana cara masyarakat berkomunikasi dengan latar belakang budaya yang berbeda. Masyarakat pun memiliki cara tersendiri dalam menafsirkan budaya luar yang disesuaikan dengan budayanya sendiri. Dalam hal ini, penerjemahan memegang peran penting. Seorang penerjemah harus memperhatikan bahwa budaya merupakan bagian dari bahasa yang juga harus disampaikan maknanya. Penerjemahan istilah budaya dapat menggunakan beberapa teknik dan strategi. Dengan demikian, pemahaman lintas budaya dapat membantu dalam memberikan solusi dalam proses penerjemahan istilah-istilah budaya yang timbul.Kata kunci: budaya, pemahaman lintas budaya, penerjemahan AbstractNowdays, many people learn culture that is not theirs . The existence of the phenomenon, then a field of science that specifically examines cross-cultural understanding as a science that look at how people communicate with different cultural backgrounds appeared. The community has its own way of interpreting foreign cultures adapted to his own culture. In this case, the translation plays an important role. A translator must consider that culture is part of the language that must also be conveyed meaning. Translating the cultural terms can use some of the techniques and strategies. Thus, cross-cultural understanding can help in providing solutions in translating cultural terms.Keywords: culture, cross-cultural understanding, translation
STRUKTUR NARATIF ALA MARANDA DALAM LEGENDA UPACARA KASADA SUKU TENGGER – PROBOLINGGO MARANDA’S NARRATIVE STRUCTURE IN THE LEGEND OF KASADA CEREMONY OF TENGGER TRIBE- PROBOLINGGO Novi Andari; Khaira Imandiena Bahalwan
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 7 No. 2 (2016): April
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v7i2.567

Abstract

Sastra lisan adalah bagian dari tradisi yang berkembang ditengah rakyat jelata yang menggunakan bahasa sebagai media utama. Folklor adalah kebudayaan yang diturunkan secara turun temurun oleh sekelompok masyarakat atau dalam suatu komunitas yang kolektif. Legenda adalah cerita rakyat pada zaman dahulu yang ada hubungannya dengan peristiwa sejarah dan cerita rakyat yang menceritakan tentang asal usul atau sejarah suatu tempat atau kegiatan masyarakat Legenda adalah produk dari sastra lisan yang memiliki struktur pembentuk yang dapat dianalisis untuk mencari makna keseluruhan. Terdapat banyak legenda di Indonesia yang sangat menarik untuk ditelaah dan terdapat banyak macam struktur pembentuk karya sastra. Dalam makalah ini obyek telaah yang diangkat adalah legenda Upacara Kasada oleh Suku Tengger yang ada di Kabupaten Probolinggo. Pisau analisis yang digunakan adalah Struktur Naratif ala Maranda yang memiliki konsep utama Terem dan Fungsi yaitu simbol yang dilengkapi dengan konteks kemasyarakatan dan kesejahteraan. Dengan demikian hasil analisis terhadap obyek telaah adalah berbentuk symbol-simbolKata kunci: sastra lisan , legenda, struktur naratif maranda AbstrakOral literature is part of a tradition that developes in the life of common people who use language as the main medium. Folklore is the culture inherited from generation to generation by a group of people or a collective community. Legend is the folklore of ancient times that has relation to the events of history and folklore that tells about the origin or history of a place or community activities. Legend is a product of oral literature that has a forming structure which can be analyzed to find the overall meaning. There are many legends in Indonesia which is very interesting to be analized and there are many kinds of forming structures of literary works. In this paper, we the object analized was the legend of Kasada Ceremony by the Tengger tribe in Probolinggo. The theory used to analyze is Narrative Structure by Maranda which has Terem and Functions as the main concepts meaning a symbol which is incorporating with social context and welfare. Thus, the results of the analysis of the object of study is in the form of symbols.keywords: folklor, legend, maranda’s narrative structure
BENTUK NILAI BUSHIDO DALAM NOVEL SAGA NO GABAI BAACHAN KARYA SHIMADA YOSHICHI BUSHIDO FORMS FOUND IN SHIMADA YOSHICHI’S NOVEL: SAGA NO GABAI BAACHAN Putri Rahayuningtyas
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 7 No. 2 (2016): April
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v7i2.568

Abstract

AbstrakBushido merupakan kode etik yang digunakan oleh samurai namun seiring dengan berjalannya waktu meluas hingga menjadi tradisi pada masyarakat Jepang. Nilai-nilai tersebut tampak pada karya sastra Jepang terutama novel yang mencerminkan kehidupan bangsa Jepang. Salah satu novel tersebut adalah Saga no Gabai Baachan yang bercerita mengenai perjuangan hidup masyarakat Jepang pada perang dunia dua. Novel ini dianalisis dengan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya bentuk-bentuk nilai bushido yakni : 1) Kejujuran memiliki bentuk, a) kejujuran dalam berkata,dan kejujuran dalam bersikap, 2) Keberanian memiliki bentuk, keberanian dalam mengakui kesalahan, dan dalam bersikap, 3) Kemurahan hati memiliki bentuk, a) simpati, b) kasih sayang, c) memberikan bantuan kemiskinan, dan d)memberikan bantuan dalam belajar, 4) Kesopanan memiliki bentuk kesopanan dalam bertingkah laku, 5) Kesungguhan memiliki bentuk kesungguhan dalam mewujudkan keinginan, 6) Kehormatan memiliki bentuk kehormatan yang berhubungan dengan nama baik, dan 7) Kesetiaan memiliki bentuk kesetiaan dalam kelompok.Kata kunci: nilai bushido, saga no gabai, bentuk AbstractBushido is an ethic code used by samurai, but over time it has expanded to become a tradition in Japanese society. Those values are shown in the work of Japanese literature, especially novels that reflect the lives of the Japanese people. One of the novels is Saga no Gabai Baachan which tells about the struggle of the Japanese people living in the world war two. This novel was analyzed using descriptive qualitative method. The results of this study showed the forms of values of bushido, namely: 1) The forms of honesty. They are: a) honesty in saying, and honesty in acting, 2) The forms of courage. They are: the courage to admit mistakes, and in attitude, 3) The forms of generosity. They are: a) sympathy, b) affection, c) provide poverty relief, and d) provide assistance in learning. 4) The form of modesty. It is decency in behavior, 5) The form of seriousness. It is seriousness in realizing the desire, 6) the form of honor. This form is associated with a good name, and 7) The form of loyalty. It is loyalty within the group.Key words: bushido value, saga no gabai, forms
DIKSI DAN GAYA BAHASA LAGU MARS PERGURUAN TINGGI SEBAGAI WUJUD KARAKTER BANGSA INDONESIA (SEMANTIK STILISTIKA) DICTION AND LANGUAGE STYLE IN UNIVERSITY MARCH SONG AS A CHARACTER PORTRAIT OF INDONESIA (STYLISTIC SEMATIC) Rosinta Anjar Prima Pangastuti
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 7 No. 2 (2016): April
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v7i2.569

Abstract

AbstrakLagu termasuk salah satu karya sastra yang terdiri dari rangkaian kata-kata indah dan disuarakan dengan nada-nada tertentu. Salah satu jenis lagu yang mempunyai karakteristik khas mencerminkan kepribadian bangsa Indonesia adalah lagu-lagu mars perguruan tinggi. Karakteristik yang dimaksud adalah style atau gaya bahasa yang digunakan. Oleh karena itu peneliti tertarik meneliti diksi dan gaya bahasa dalam lagu mars perguruan tinggi. Tujuan penelitian ini untuk menggambarkan karakter bangsa Indonesia melalui diksi dan gaya bahasa pada lagu mars perguruan tinggi. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif didukung oleh penelitian semantik stilistika. Dengan mendeskripsikan diksi dan gaya bahasa dalam lagu mars perguruan tinggi sebagai bentuk karakter bangsa Indonesia maka dihasilkan pendeskripsian, pilihan kata dalam bahasa Jawa, pilihan kata penggugah semangat , pilihan kata khas Indonesia, dan gaya bahasa metafora yang menunjukkan semangat untuk bangsa Indonesia.Kata kunci : diksi, gaya bahasa, karakter bangsa Indonesia AbstractThe song is one of the literary work consists of a series of beautiful words and voiced by certain tones. One type of songs that have distinctive characteristics reflect the personality of the Indonesian nation is a university march song. The characteristics meant in this case is language style applied. Therefore, the researcher is interested in examining the diction and language style in college. This research is aimed at describing characters of Indonesian people. This research applies descriptive qualitative approach supported by stylistic semantics. As the result, the language style used in march’s song are the description of Javanese diction, motivational words, Indonesian orinally words, and metaphors showing motivation and passion for the people of Indonesia. Key words: diction, language style, Indonesian national character
THE IMPORTANCE OF LISTENING SKILL AS THE FOUNDATION TO A GOOD COMMUNICATION . Maisarah
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 7 No. 2 (2016): April
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v7i2.646

Abstract

Maisarah Universitas Pesantren Tinggi Darul ‘Ulum Jombang  Inmai5@yahoo.com   Abstrak Orang bijak mengatakan bahwa manusia memiliki dua telinga dan satu mulut, Secara filosofis, seseorang harus lebih banyak mendengar daripada berbicara. Dalam komunikasi, orang tidak hanya berbicara, tetapi yang lebih penting, mereka mendengarkan. Ketika seseorang berbicara, yang lain berinteraksi dengan memberikan respon. Respon ini tidak hanya secara verbal saja tetapi juga nonverbal. Sebelum mereka memberikan tanggapan, mereka harus mendengarkan agar dapat memberikan masukan. Masalahnya adalah keterampilan mendengarkan tidak sering diajarkan dalam pendidikan formal. Dalam beberapa hal, kurangnya kemampuan dalam mendengarkan dapat menyebabkan kesalahpahaman. Selain itu, mendengarkan bukanlah aktivitas pasif. Untuk menjadi pendengar yang aktif dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu komunikasi nonverbal dan komunikasi verbal. Kemampuan yang baik dalam keterampilan mendengarkan dapat menciptakan dan mengelola hubungan yang baik dan menghasilkan pemahaman yang lebih baik pula. Kata kunci: Keterampilan mendengarkan, komunikasi verbal, komunikasi nonverbal  Abstract Wise people said that human being has two ears and one mouth. Philosophically, people should listen more rather than speaking. In communication, people do not only speak, but more importantly, they are listening. While someone is speaking, the other is interacting by giving responses. The responses are not only verbal but also nonverbal. Before they give responses, they have to listen to be able to give feedbacks. The problem is that, listening skill is not often taught in formal education. In some ways, the lack of ability in listening can cause misunderstanding among others. Furthermore, listening is not a passive activity. Active listening can be done in two ways. Those are nonverbal communication and verbal communication. Good listening skill ability can create and manage a good relationship and generate a better understanding. Key words: listening skill, verbal communication, nonverbal communication

Page 1 of 1 | Total Record : 6