cover
Contact Name
Ayusia Sabhita Kusuma
Contact Email
ayusia.kusuma@unsoed.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
insignia.hi@unsoed.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
Insignia: Journal of International Relations
ISSN : 20891962     EISSN : 25979868     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Insignia Journal of International Relations is published biannually (April & November) by Laboratorium of International Relations, Faculty of Social and Political Sciences, Jenderal Soedirman University. This journal contains articles or publications from all issues of International Relations such as: International Politics, Foreign Policy, Security Studies, International Political Economy, Transnational Studies, Area Studies & Non-traditional Issues.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 4 No 02 (2017): November 2017" : 10 Documents clear
Konseptualisasi dalam Gastro Diplomasi: Sebuah Diskusi Kontemporer dalam Hubungan Internasional
Insignia: Journal of International Relations Vol 4 No 02 (2017): November 2017
Publisher : Laboratorium Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.358 KB) | DOI: 10.20884/1.ins.2017.4.02.666

Abstract

AbstractFood has a story and people are the sole object constructing the story. Food also has meaning for a community group,where tradition, customs, values, and geographical location will determine what kind of dish is placed in a servingdevice. In other words, food can not be separated from the cultural aspects of a community group, because of courseevery community or a nation has a distinctive style to the food and in the end can set the identity. The concept ofgastronomy is certainly not a rare and peculiar thing, but when it is combined with diplomacy, the story may bedifferent. A decade and a half ago, a leading weekly magazine raised the news about gastro diplomacy activities andmade International Relations scholars captivated to further interpret this concept. This paper will elaborate theconcepts, practices, and debates surrounding gastro diplomacy regarding disparities to similar concepts. In addition,this paper also tries to analyze the affiliation of gastro diplomacy with nation branding. The purpose of this paper isto provide a comprehensive overview of the concept of gastro diplomacy.Keywords: gastro diplomacy, cultural diplomacy, public diplomacy, nation branding AbstrakMakanan memiliki sebuah kisah dan manusia merupakan objek tunggal yang mengkonstruksi kisah itu. Makanan jugamemiliki makna bagi suatu kelompok masyarakat, dimana tradisi, adat istiadat, nilai-nilai sampai letak geografisakan menentukan hidangan jenis apa yang diletakan dalam sebuah peranti saji. Dengan kata lain, makanan tidak bisaterlepas dari aspek budaya suatu kelompok masyarakat, karena tentunya setiap kelompok masyarakat ataupun suatubangsa memiliki corak yang khas terhadap makanannya dan pada akhirnya dapat menata identitas. Konsep tentanggastronomi sudah tentu bukan hal langka dan ganjil, namun ketika ini dipadukan dengan diplomasi, ceritanya bisalain. Satu setengah dekade lalu, sebuah majalah mingguan terkemuka mengangkat berita tentang aktivitas gastrodiplomasi dan membuat para akademisi Hubungan Internasional terpikat untuk menginterpretasi lebih jauh konsepini. Tulisan ini akan mengelaborasi konsep, praktik, dan perdebatan seputar gastro diplomasi mengenai disparitasterhadap konsep-konsep yang serupa. Selain itu, tulisan ini juga mencoba menganalisis afiliasi gastro diplomasidengan nation branding. Tujuan dari tulisan ini untuk memberikan gambaran secara menyeluruh mengenai konsepgastro diplomasi.Kata-kata Kunci: Gastro Diplomasi, Diplomasi Kebudayaan, Diplomasi Publik, Nation Branding
Kebijakan Pengelolaan Air Limbah Dalam Penanganan Limbah Batik Di Kota Pekalongan
Insignia: Journal of International Relations Vol 4 No 02 (2017): November 2017
Publisher : Laboratorium Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (764.389 KB) | DOI: 10.20884/1.ins.2017.4.02.667

Abstract

AbstractSince batik is recognized by UNESCO as a nation heritage, batik industry in Pekalongan is increasing, but it caused environmental issues. Then, the government of Pekalongan issued local regulation No. 9 of 2015 about waste water management to minimalized the waste impact in Pekalongan. The sustainable development can be meant as a development concept which fulfills needs of the present without forfeiting the fulfillment rights of needs for future generation. There are three understanding apects in the sustainable development, such as social aspect, economy and environment. Generally, the implementation of local regulation No. 9 of 2015 about waste water management in Pekalongan is a balancer of the sustainable development from batik industry which has been done. There are three sustainable development principles which are suitable with local regualation No. 9 of 2015, such as principle of intergenerational equity, principle of integration between environmental protection and development, and principle of preventive measure. In its implementation, these principles have been already done, but the use of IPAL which has not been maximized caused less water quality standard and become an indication of river pollution.Keywords: batik, waste water, local regulation, sustainable development AbstrakSemenjak diakuinya batik oleh UNESCO sebagai warisan bangsa, industri batik di Kota Pekalongan semakin meningkat, namun hal tersebut menimbulkan peramasalahan lingkungan. Pemerintah Kota Pekalongan kemudian mengeluarkan Perda No 9 tahun 2015 tentang pengelolaan Air Limbah guna meminimalisisr dampak limbah di Kota Pekalongan. Pembangunan berkelanjutan dapat diartikan sebagai konsep pembangunan yang memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan hak pemenuhan kebutuhan-kebutuhan pada generasi yang akan datang. Terdapat tiga aspek pemahaman dalam pembangunan berkelanjutan, yaitu aspek sosial, ekonomi dan lingkungan. Secara umum implementasi Perda Kota Pekalongan No 9 Tahun 2015 Tentang Pengelolaan Air Limbah merupakan suatu penyeimbang dari pembangunan berkelanjutan dari industri batik yang telah terlaksana. Terdapat tiga prinsip pembangunan berkelanjutan yang sesuai dengan Perda No 9 Tahun 2015, yaitu prinsip keadilan antar generasi (Intergenerational equity), Prinsip Keterpaduan antara Perlindungan Lingkungan Hidup dan Pembangunan, dan prinsip tindakan pencegahan. Pada implementasinya, semua sudah terlaksana, namun penggunaan IPAL yang belum maksimal sehingga menimbulkan kadar baku mutu air diatas yang seharusnya dan menjadi indikasi pencemaran sungai.Kata-kata kunci: batik, air limbah, peraturan daerah, pembangunan berkelanjutan
Gerakan Populis sebagai Tren Global: Dari Amerika Latin sampai Occupy Movement Darmawan, Arif
Insignia: Journal of International Relations Vol 4 No 02 (2017): November 2017
Publisher : Laboratorium Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.243 KB) | DOI: 10.20884/1.ins.2017.4.02.593

Abstract

AbstractThe gap in Latin American countries is a fertile ground for the emergence of a populist movement, so that populism is not considered as a deviation, but become a rational alternative to address the problems rooted in the failure of the nation-building process. The existence of populism in Latin America indirectly also has an influence on the movement rooted in populism in the global sphere. This paper will analyze the close connection between the recent wave of populism in the international world by looking at the historical roots of how populism developed in Latin America and its effect on the “Occupy Movement” movement phenomenon in order to know how the pattern of populist movements in the global realm. This article will begin by understanding the clear definition of what is populism, then the roots of populist history in Latin America, and how it relates to the emergence of the Occupy Movement as a new form of populist movement that is becoming a global tren.Keywords: populism, Latin America, Occupy MovementAbstrakKesenjangan yang terjadi di negara-negara Amerika Latin memang menjadi lahan subur munculnya gerakan populis, sehingga populisme tidak dianggap sebagai sebuah penyimpangan, tetapi menjadi satu bentuk alternatif rasional untuk mengatasi permasalahan yang berakar pada kegagalan proses nation-building. Keberadaan populisme di Amerika Latin ini secara tidak langsung juga mempunyai pengaruh terhadap gerakan yang berakar pada populisme di ranah global. Makalah ini akan menganalisis keterkaitan yang erat antara gelombang populisme yang akhir-akhir ini terjadi di dunia internasional dengan melihat akar sejarah bagaimana populisme berkembang di Amerika Latin serta pengaruhnya terhadap fenomena pergerakan Occupy Movement dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana pola gerakan populisme di ranah global. Artikel ini akan mengawali dengan memahami definisi yang jelas mengenai apa itu populisme, kemudian akar sejarah populisme di Amerika Latin, dan bagaimana keterkaitannya dengan kemunculan Occupy Movement sebagai bentuk gerakan populis baru yang menjadi tren global.Kata kunci: populisme; Amerika Latin; Occupy Movement
Home Country Features dalam Mendukung Internasionalisasi Perusahaan (Studi Kasus : Internasionalisasi Foxconn)
Insignia: Journal of International Relations Vol 4 No 02 (2017): November 2017
Publisher : Laboratorium Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.214 KB) | DOI: 10.20884/1.ins.2017.4.02.664

Abstract

AbstractDeveloping a company from local level to multinational company generally is not a trait that could easily be achieved in a small developing state. Nevertheless, Foxconn as a company originate from Taiwan--a small developing state-- was able to grow into big multinational company supplying it’s product globally. This paper is written to see how Foxconn developed from being a local company to internationalization process in which allow it to be one of the biggest electronic manufacturing service (EMS) company in the world. The role of home country will be seen as a driving factor--how home country features influence state’s policies dan the character of a company--which have an important role in the proccess of Foxconn internationalization and its journey to become one of the biggest multinational company in it’s sector.Keywords: home country, multinational company, Foxconn, internasionalizationAbstrakBagi perusahaan yang berasal dari negara kecil berkembang, mengembangkan perusahannya dari lokal menjadi suatu perusahaan multinasional merupakan hal yang umumnya sulit untuk dilakukan. Namun, Foxconn sebagai perusahaan yang berasal dari Taiwan, sebuah negara kecil berkembang, mampu tumbuh menjadi perusahaan multinasional besar yang memasok produknya secara global. Tulisan ini mencoba melihat bagaimana Foxconn berkembang dari perusahaan lokal hingga mengalami internasionalisasi dan berhasil menjadi salah satu perusahaan electronic manufacturing service terbesar di dunia dengan melihat peran home country atau negara asal perusahaan sebagai faktor pendorong. Akan dilihat bagaimana home country features berpengaruh terhadap kebijakan-kebijakan negara dan karakter sebuah perusahaan yang berperan penting dalam proses internasionalisasi Foxconn dan prosesnya menjadi salah satu perusahaan multinasional terbesar dalam sektornya.Kata-kata Kunci: home country, multinational company, Foxconn, internasionalisasi
Russia Domination Policy: Implementation of Military Operation in Ukraine (2014 – 2015) Manurung, Hendra
Insignia: Journal of International Relations Vol 4 No 02 (2017): November 2017
Publisher : Laboratorium Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.542 KB) | DOI: 10.20884/1.ins.2017.4.02.665

Abstract

AbstrakFederasi Rusia merupakan aktor global yang menerapkan kebijakan tegas terhadap Ukraina. Guna mencapai tujuan politik nasional Rusia yang dikendalikan dari Moskwa, melalui operasi militer di tahun 2014, didefinisikan bagaimana negara tersebut berperilaku. Melalui kombinasi operasi militer dan non-militer, Rusia secara perlahan memperoleh kekuasaan melalui aneksasi Krimea. Efektivitas metoda ini dipergunakan untuk menentukan strategi perang Rusia saat ini. Dengan demikian menjelaskan bagaimana kebijakan luar negeri dan kebijakan pertahanan Rusia dari tahun 2000 hingga 2013 yang memiliki ketergantungan pada lingkungan strategis Ukraina terhadap Rusia, dan kepentingan nasional Rusia pada Ukraina. Fokus utama penelitian ini adalah pencapaian tujuan politik Rusia dalam operasi militer yang dilaksanakan di Ukraina dan menganalisa komponen keamanan nasional Rusia yang signifikan mempengaruhi interaksi konflik asimetrik.Kata-kata kunci: keamanan nasional, tujuan politik, operasi militer, perilaku negara AbstractRussia Federation as global actor applied its policies towards Ukraine remains assertive. In pursuing state’s political objectives from Moscow, the escalation of military operation in 2014 defined as the way on how the state behaves. By means of the combination of military and non-military measures on the conduct of operation, Russia is now slowly regaining its power through the annexation of Crimea. The effectiveness of this method determines to be Russia’s strategy on contemporary warfare. Thus, it explains how Russian foreign and defense policy from 2000 to 2013 that depend on surrounding strategic environment of Ukraine to Russia, and the national interests of Russia to Ukraine. The main focus of this research is on the achievement of Russia’s political objective in its military operation in Ukraine and analysis on Russia’s national security components that are significantly influence the interaction of this asymmetric conflict.Keywords: national security, political objectives, military operations, state’s behavior
Gerakan Populis sebagai Tren Global: Dari Amerika Latin sampai Occupy Movement Arif Darmawan
Insignia: Journal of International Relations Vol 4 No 02 (2017): November 2017
Publisher : Laboratorium Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.243 KB) | DOI: 10.20884/1.ins.2017.4.02.593

Abstract

AbstractThe gap in Latin American countries is a fertile ground for the emergence of a populist movement, so that populism is not considered as a deviation, but become a rational alternative to address the problems rooted in the failure of the nation-building process. The existence of populism in Latin America indirectly also has an influence on the movement rooted in populism in the global sphere. This paper will analyze the close connection between the recent wave of populism in the international world by looking at the historical roots of how populism developed in Latin America and its effect on the “Occupy Movement” movement phenomenon in order to know how the pattern of populist movements in the global realm. This article will begin by understanding the clear definition of what is populism, then the roots of populist history in Latin America, and how it relates to the emergence of the Occupy Movement as a new form of populist movement that is becoming a global tren.Keywords: populism, Latin America, Occupy MovementAbstrakKesenjangan yang terjadi di negara-negara Amerika Latin memang menjadi lahan subur munculnya gerakan populis, sehingga populisme tidak dianggap sebagai sebuah penyimpangan, tetapi menjadi satu bentuk alternatif rasional untuk mengatasi permasalahan yang berakar pada kegagalan proses nation-building. Keberadaan populisme di Amerika Latin ini secara tidak langsung juga mempunyai pengaruh terhadap gerakan yang berakar pada populisme di ranah global. Makalah ini akan menganalisis keterkaitan yang erat antara gelombang populisme yang akhir-akhir ini terjadi di dunia internasional dengan melihat akar sejarah bagaimana populisme berkembang di Amerika Latin serta pengaruhnya terhadap fenomena pergerakan Occupy Movement dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana pola gerakan populisme di ranah global. Artikel ini akan mengawali dengan memahami definisi yang jelas mengenai apa itu populisme, kemudian akar sejarah populisme di Amerika Latin, dan bagaimana keterkaitannya dengan kemunculan Occupy Movement sebagai bentuk gerakan populis baru yang menjadi tren global.Kata kunci: populisme; Amerika Latin; Occupy Movement
Home Country Features dalam Mendukung Internasionalisasi Perusahaan (Studi Kasus : Internasionalisasi Foxconn) Arum Tri Utami
Insignia: Journal of International Relations Vol 4 No 02 (2017): November 2017
Publisher : Laboratorium Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.214 KB) | DOI: 10.20884/1.ins.2017.4.02.664

Abstract

AbstractDeveloping a company from local level to multinational company generally is not a trait that could easily be achieved in a small developing state. Nevertheless, Foxconn as a company originate from Taiwan--a small developing state-- was able to grow into big multinational company supplying it’s product globally. This paper is written to see how Foxconn developed from being a local company to internationalization process in which allow it to be one of the biggest electronic manufacturing service (EMS) company in the world. The role of home country will be seen as a driving factor--how home country features influence state’s policies dan the character of a company--which have an important role in the proccess of Foxconn internationalization and its journey to become one of the biggest multinational company in it’s sector.Keywords: home country, multinational company, Foxconn, internasionalizationAbstrakBagi perusahaan yang berasal dari negara kecil berkembang, mengembangkan perusahannya dari lokal menjadi suatu perusahaan multinasional merupakan hal yang umumnya sulit untuk dilakukan. Namun, Foxconn sebagai perusahaan yang berasal dari Taiwan, sebuah negara kecil berkembang, mampu tumbuh menjadi perusahaan multinasional besar yang memasok produknya secara global. Tulisan ini mencoba melihat bagaimana Foxconn berkembang dari perusahaan lokal hingga mengalami internasionalisasi dan berhasil menjadi salah satu perusahaan electronic manufacturing service terbesar di dunia dengan melihat peran home country atau negara asal perusahaan sebagai faktor pendorong. Akan dilihat bagaimana home country features berpengaruh terhadap kebijakan-kebijakan negara dan karakter sebuah perusahaan yang berperan penting dalam proses internasionalisasi Foxconn dan prosesnya menjadi salah satu perusahaan multinasional terbesar dalam sektornya.Kata-kata Kunci: home country, multinational company, Foxconn, internasionalisasi
Russia Domination Policy: Implementation of Military Operation in Ukraine (2014 – 2015) Hendra Manurung
Insignia: Journal of International Relations Vol 4 No 02 (2017): November 2017
Publisher : Laboratorium Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.542 KB) | DOI: 10.20884/1.ins.2017.4.02.665

Abstract

AbstrakFederasi Rusia merupakan aktor global yang menerapkan kebijakan tegas terhadap Ukraina. Guna mencapai tujuan politik nasional Rusia yang dikendalikan dari Moskwa, melalui operasi militer di tahun 2014, didefinisikan bagaimana negara tersebut berperilaku. Melalui kombinasi operasi militer dan non-militer, Rusia secara perlahan memperoleh kekuasaan melalui aneksasi Krimea. Efektivitas metoda ini dipergunakan untuk menentukan strategi perang Rusia saat ini. Dengan demikian menjelaskan bagaimana kebijakan luar negeri dan kebijakan pertahanan Rusia dari tahun 2000 hingga 2013 yang memiliki ketergantungan pada lingkungan strategis Ukraina terhadap Rusia, dan kepentingan nasional Rusia pada Ukraina. Fokus utama penelitian ini adalah pencapaian tujuan politik Rusia dalam operasi militer yang dilaksanakan di Ukraina dan menganalisa komponen keamanan nasional Rusia yang signifikan mempengaruhi interaksi konflik asimetrik.Kata-kata kunci: keamanan nasional, tujuan politik, operasi militer, perilaku negara AbstractRussia Federation as global actor applied its policies towards Ukraine remains assertive. In pursuing state’s political objectives from Moscow, the escalation of military operation in 2014 defined as the way on how the state behaves. By means of the combination of military and non-military measures on the conduct of operation, Russia is now slowly regaining its power through the annexation of Crimea. The effectiveness of this method determines to be Russia’s strategy on contemporary warfare. Thus, it explains how Russian foreign and defense policy from 2000 to 2013 that depend on surrounding strategic environment of Ukraine to Russia, and the national interests of Russia to Ukraine. The main focus of this research is on the achievement of Russia’s political objective in its military operation in Ukraine and analysis on Russia’s national security components that are significantly influence the interaction of this asymmetric conflict.Keywords: national security, political objectives, military operations, state’s behavior
Konseptualisasi dalam Gastro Diplomasi: Sebuah Diskusi Kontemporer dalam Hubungan Internasional Riski M. Baskoro
Insignia: Journal of International Relations Vol 4 No 02 (2017): November 2017
Publisher : Laboratorium Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.358 KB) | DOI: 10.20884/1.ins.2017.4.02.666

Abstract

AbstractFood has a story and people are the sole object constructing the story. Food also has meaning for a community group,where tradition, customs, values, and geographical location will determine what kind of dish is placed in a servingdevice. In other words, food can not be separated from the cultural aspects of a community group, because of courseevery community or a nation has a distinctive style to the food and in the end can set the identity. The concept ofgastronomy is certainly not a rare and peculiar thing, but when it is combined with diplomacy, the story may bedifferent. A decade and a half ago, a leading weekly magazine raised the news about gastro diplomacy activities andmade International Relations scholars captivated to further interpret this concept. This paper will elaborate theconcepts, practices, and debates surrounding gastro diplomacy regarding disparities to similar concepts. In addition,this paper also tries to analyze the affiliation of gastro diplomacy with nation branding. The purpose of this paper isto provide a comprehensive overview of the concept of gastro diplomacy.Keywords: gastro diplomacy, cultural diplomacy, public diplomacy, nation branding AbstrakMakanan memiliki sebuah kisah dan manusia merupakan objek tunggal yang mengkonstruksi kisah itu. Makanan jugamemiliki makna bagi suatu kelompok masyarakat, dimana tradisi, adat istiadat, nilai-nilai sampai letak geografisakan menentukan hidangan jenis apa yang diletakan dalam sebuah peranti saji. Dengan kata lain, makanan tidak bisaterlepas dari aspek budaya suatu kelompok masyarakat, karena tentunya setiap kelompok masyarakat ataupun suatubangsa memiliki corak yang khas terhadap makanannya dan pada akhirnya dapat menata identitas. Konsep tentanggastronomi sudah tentu bukan hal langka dan ganjil, namun ketika ini dipadukan dengan diplomasi, ceritanya bisalain. Satu setengah dekade lalu, sebuah majalah mingguan terkemuka mengangkat berita tentang aktivitas gastrodiplomasi dan membuat para akademisi Hubungan Internasional terpikat untuk menginterpretasi lebih jauh konsepini. Tulisan ini akan mengelaborasi konsep, praktik, dan perdebatan seputar gastro diplomasi mengenai disparitasterhadap konsep-konsep yang serupa. Selain itu, tulisan ini juga mencoba menganalisis afiliasi gastro diplomasidengan nation branding. Tujuan dari tulisan ini untuk memberikan gambaran secara menyeluruh mengenai konsepgastro diplomasi.Kata-kata Kunci: Gastro Diplomasi, Diplomasi Kebudayaan, Diplomasi Publik, Nation Branding
Kebijakan Pengelolaan Air Limbah Dalam Penanganan Limbah Batik Di Kota Pekalongan Yuki Aliffenur Romadhon
Insignia: Journal of International Relations Vol 4 No 02 (2017): November 2017
Publisher : Laboratorium Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (764.389 KB) | DOI: 10.20884/1.ins.2017.4.02.667

Abstract

AbstractSince batik is recognized by UNESCO as a nation heritage, batik industry in Pekalongan is increasing, but it caused environmental issues. Then, the government of Pekalongan issued local regulation No. 9 of 2015 about waste water management to minimalized the waste impact in Pekalongan. The sustainable development can be meant as a development concept which fulfills needs of the present without forfeiting the fulfillment rights of needs for future generation. There are three understanding apects in the sustainable development, such as social aspect, economy and environment. Generally, the implementation of local regulation No. 9 of 2015 about waste water management in Pekalongan is a balancer of the sustainable development from batik industry which has been done. There are three sustainable development principles which are suitable with local regualation No. 9 of 2015, such as principle of intergenerational equity, principle of integration between environmental protection and development, and principle of preventive measure. In its implementation, these principles have been already done, but the use of IPAL which has not been maximized caused less water quality standard and become an indication of river pollution.Keywords: batik, waste water, local regulation, sustainable development AbstrakSemenjak diakuinya batik oleh UNESCO sebagai warisan bangsa, industri batik di Kota Pekalongan semakin meningkat, namun hal tersebut menimbulkan peramasalahan lingkungan. Pemerintah Kota Pekalongan kemudian mengeluarkan Perda No 9 tahun 2015 tentang pengelolaan Air Limbah guna meminimalisisr dampak limbah di Kota Pekalongan. Pembangunan berkelanjutan dapat diartikan sebagai konsep pembangunan yang memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan hak pemenuhan kebutuhan-kebutuhan pada generasi yang akan datang. Terdapat tiga aspek pemahaman dalam pembangunan berkelanjutan, yaitu aspek sosial, ekonomi dan lingkungan. Secara umum implementasi Perda Kota Pekalongan No 9 Tahun 2015 Tentang Pengelolaan Air Limbah merupakan suatu penyeimbang dari pembangunan berkelanjutan dari industri batik yang telah terlaksana. Terdapat tiga prinsip pembangunan berkelanjutan yang sesuai dengan Perda No 9 Tahun 2015, yaitu prinsip keadilan antar generasi (Intergenerational equity), Prinsip Keterpaduan antara Perlindungan Lingkungan Hidup dan Pembangunan, dan prinsip tindakan pencegahan. Pada implementasinya, semua sudah terlaksana, namun penggunaan IPAL yang belum maksimal sehingga menimbulkan kadar baku mutu air diatas yang seharusnya dan menjadi indikasi pencemaran sungai.Kata-kata kunci: batik, air limbah, peraturan daerah, pembangunan berkelanjutan

Page 1 of 1 | Total Record : 10