cover
Contact Name
Ayusia Sabhita Kusuma
Contact Email
ayusia.kusuma@unsoed.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
insignia.hi@unsoed.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
Insignia: Journal of International Relations
ISSN : 20891962     EISSN : 25979868     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Insignia Journal of International Relations is published biannually (April & November) by Laboratorium of International Relations, Faculty of Social and Political Sciences, Jenderal Soedirman University. This journal contains articles or publications from all issues of International Relations such as: International Politics, Foreign Policy, Security Studies, International Political Economy, Transnational Studies, Area Studies & Non-traditional Issues.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 8 No 1 (2021): April 2021" : 6 Documents clear
Ketergantungan Transfer Senjata: Studi Kasus Pembelian F-35 oleh Italia Muhammad Rizky Pangestu
Insignia: Journal of International Relations Vol 8 No 1 (2021): April 2021
Publisher : Laboratorium Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.ins.2021.8.1.3326

Abstract

Tulisan ini akan mencoba menjelaskan mengapa Italia sebagai negara yang bisa membuat pesawat tempur secara domestik tetap melakukan pembelian F-35 dari Amerika Serikat. Padahal menurut infromasi yang beredar F-35 memiliki beberapa kelemahan fatal yang tentunnya bisa melemahkan kemampuan militer Italia dan mendapat pertentangan di dalam negeri mereka sendiri. Selain pembelian ini dipertanyakan sebab Italia adalah salah satu negara yang bisa membuat pesawat tempur mereka sendiri yaitu Eurofighter Typhoon yang cukup canggih. Dalam menjelaskan kasus ini penulis akan menggunakan konsep ketergantungan transfer senjata oleh David Kinsella. Menurut Kinsella ketika sebuah negara sudah mengalami ketergantungan transfer senjata, maka negara tersebut akan selalu bergantung kepada negara yang menyuplai senjata untuk memenuhi kebutuhan keamanannya. Ada dua indikator utama untuk menilai apakah negara sudah mengalami ketergantungan transfer senjata pertama adalah rendahnya kapasitas dan produksi senjata dalam negeri dan terfokusnya supplier senjata suatu negara dengan satu atau beberapa negara lain saja. Data yang akan digunakan unutk menganalisis kasus ini adalah data yang berasal dari sumber daring seperti jurnal akademik, buku, dokumen resmi dan portal berita yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Hasil tulisan ini menunjukan bahwa Italia masih memiliki ketergantungan transfer senjata dengan Amerika Serikat sebab kemampuan industri pertahanan dalam negeri mereka yang belum memadai dan masih terfokusnya pembelian senjata mereka dengan Amerika Serikat. Kata kunci: Amerika Serikat, F-35, Italia, ketergantungan transfer senjata This paper will try to explain why Italy, as a country that can make fighter aircraft domestically, continues to purchase F-35s from the United States.Because based on the information that is availvable, F-35 is having some critical flaws that can compromissed Italian defense, Italian decision to buy F-35 also creating domestic opposition regarding that act. This decision also raised some question because Italian is one of the countries that can domestically produce a rather sophisticated jet fighter, the Eurofighter Typhoon. In explaining this case the author will use the concept of arms transfer dependency by David Kinsella. According to Kinsella, when a country has experienced a dependency on arms transfers, that country will always depend on the country that supplies weapons to meet its security needs. There are two main indicators to assess whether a country has experienced a dependency on arms transfers. The first is the low capacity and production of domestic weapons and the focus on arms suppliers dari one country to one or several other countries. The data that is used in this paper will be based on online source such as academic journal, books, official documents and trusted news website. The results of this paper show that Italy still has a dependency on arms transfers with the United States because of the inadequate capability of their domestic defense industry and their weapons that is still based on United States import. Keywords: arms transfer dependence, F-35, Italy, United States
Migration and Its Impact on Sustainable Development Muslih Faozanudin; Shainima Islam
Insignia: Journal of International Relations Vol 8 No 1 (2021): April 2021
Publisher : Laboratorium Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.ins.2021.8.1.3871

Abstract

People’s mobility and international migration are quite interesting phenomena to discuss. Until now, there are still differences in views between industrialized countries and developing countries regarding the contribution of migration to development for both sending and receiving countries. This paper aims to analyze based on existing secondary data the linkage between migration and sustainable development. For analysis, this study uses a descriptive approach, with secondary data as the primary source. The analysis found that both sending and receiving countries - benefited from population mobility and international migration. The least developed countries in the economy and overall infrastructure are supplying countries for this migration process, and increasing remittances and skilled workers to help other countries. Although it is realized that this condition is the impact of the weak economic system of developing countries on the one hand and the demographic that occur in advanced industrialized countries on the other. To maintain the stability of the supply chain for economic development, international migration is included as one of the sustainable development programs that apply more humane values. Therefore, migrants should be seen as potential contributors to the growth of sending and receiving countries, and some even claim that they are heroes of foreign exchange. Keywords: migration, remmitance, sustainable development Mobilitas masyarakat dan migrasi internasional merupakan fenomena yang cukup menarik untuk dibahas. sampai saat ini masih terdapat perbedaan pandangan antara negara industri dan negara berkembang, tentang kontribusi migrasi terhadap pembangunan, baik bagi negara yang asal migrant maupun bagi negara penerima. Makalah ini bertujuan untuk menganalisis berdasarkan data sekunder yang ada mengenai keterkaitan antara migrasi dan pembangunan berkelanjutan. Untuk analisis, penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif, dengan data sekunder sebagai sumber primer. Hasil analisis menemukan bahwa kedua negara-negara pengirim dan penerima - mendapat manfaat dari mobilitas penduduk dan migrasi internasional. Negara-negara kurang berkembang dalam ekonomi dan infrastruktur secara keseluruhan menjadi negara pemasok untuk proses migrasi ini, dan meningkatkan pengiriman uang dan pekerja terampil untuk membantu negara lain. Meskipun disadari bahwa kondisi ini merupakan dampak dari lemahnya sistem perekonomian negara berkembang di satu sisi dan faktor demografi dan kesuburan yang terjadi di negara industri maju di sisi lain. Untuk menjaga stabilitas rantai pasokan pembangunan ekonomi, migrasi internasional dimasukkan sebagai salah satu program pembangunan berkelanjutan yang menerapkan nilai-nilai yang lebih manusiawi. Oleh karena itu, para migran harus dilihat sebagai kontributor potensial bagi pertumbuhan negara pengirim dan penerima, bahkan ada yang mengklaim bahwa mereka adalah sebagai pahlawan devisa. Kata kunci: migrasi, pembangunan berkelanjutan, remiten
Penanggulangan Terorisme di ASEAN Melalui Our Eyes Initiatives Prisilla Octaviani Winarto; Arfin Sudirman
Insignia: Journal of International Relations Vol 8 No 1 (2021): April 2021
Publisher : Laboratorium Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.ins.2021.8.1.2667

Abstract

Terorisme diketahui sebagai salah satu bentuk kejahatan transnasional, dimana pergerakannya cenderung acak, dan seiring berjalannya waktu terus berkembang melalui perluasan wilayah. Keadaan terorisme yang sudah mulai memasuki kawasan Asia Tenggara, khususnya negara-anggota ASEAN, memberikan keresahan tersendiri. Bahkan, beberapa jaringan-jaringan teroris yang terdapat di beberapa wilayah di negara-anggota ASEAN menunjukkan adanya keterkaitan dengan kelompok terorisme besar lainnya. Beberapa aksi-aksi teror kerap terjadi di negara-anggota ASEAN, ditambah dengan adanya perubahan karakteristik maupun pola terorisme di ASEAN yang semakin mengkhawatirkan. Menyadari hal tersebut, Indonesia, dibawah ASEAN Defense Ministerial Meeting mengusulkan kerja sama keamanan Our Eyes Initiative dengan tujuan agar Our Eyes Initiative dapat mengurangi dan memberantas terorisme di negara-anggota ASEAN. Fokus dalam penelitian ini adalah untuk mengkaji bagaimana cooperative security dapat diterapkan dalam Our Eyes Initiative. Metode kualitatif digunakan dalam penelitian ini guna mengumpulkan data-data yang dapat didapatkan melalui jurnal-jurnal terdahulu, dokumen-dokumen penting maupun wawancara secara langsung. Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa Our Eyes Intiative dapat dikatakan sebagai cooperative security walaupun hanya terdapat tiga dari empat ring cooperative security yang ada di dalam Our Eyes Initiative, namun hal tersebut perlu dilihat berdasarkan pengertian dari cooperative security dan fungsi tujuan dari Our Eyes Intiative juga. Our Eyes Initiative dapat memberantas terorisme melalui perlindungan individu masing-masing negara, saling menjaga keamanan masing-masing neagra, dan memberikan kesadaran terhadap aksi teror yang kian meresahkan.
Bantuan Australia kepada Kiribati melalui Program Kiribati Australia Nursing Initiative (KANI) Dewi Nawar Sri Juita; Baiq L. S. W. Wardhani
Insignia: Journal of International Relations Vol 8 No 1 (2021): April 2021
Publisher : Laboratorium Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.ins.2021.8.1.3486

Abstract

Kiribati merupakan salah satu negara yang terletak di Kepulauan Pasifik yang rentan dengan banjir karena kenaikan permukaan air laut dan diperkirakan akan tenggelam pada tahun 2050. Selain itu, Kiribati juga dihadapkan oleh permasalahan domestik, seperti pengangguran dan kemiskinan. Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah Kiribati berupaya untuk membentuk kebijakan yang dikenal dengan “migration with dignity” dengan meningkatkan program pendidikan dan keterampilan. Untuk mendukung kebijakan tersebut, pemerintah Australia sebagai negara tetangga Kiribati, memberikan bantuan berupa beasiswa kepada masyarakat Kiribati dalam bentuk program beasiswa pendidikan geratis di bidang keperawatan dan memberikan kesempatan bagi masyarakat Kiribati yang telah lulus program tersebut untuk bekerja langsung di Australia. Bantuan beasiswa ini dikenal dengan Kiribati Australia Nursing Initiative (KANI). Penelitian ini menjawab pertanyaan faktor-faktor yang menjadi motif Australia dalam membantu Kiribati. Penelitian ini berupa studi kepustakaan dengan menggunakan metode kualitatif, mengumpulkan data dari buku, internet, dan artikel ilmiah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KANI merupakan program beasiswa yang tidak saja menguntungkan Kiribati sebagai negara penerima, tetapi juga menguntungkan Australia sebagai negara pemberi bantuan luar negeri. Self-interest Australia yang dominan dalam program KANI adalah kebutuhannya pada kekurangan tenaga kerja pada sektor kesehatan akibat terbatasnya sumber daya manusia dalam memenuhi kebutuhan tersebut, sekaligus untuk memenuhi tugas regional Australia sebagai ‘big brother’ di Pasifik. Kata kunci: Australia, bantuan luar negeri, KANI, Kiribati Kiribati is a nation in the Pacific Island that is exposed to flooding due to rising sea levels and is expected to sink by 2050. In addition, Kiribati is also faced domestic problems such as unemployment and poverty. To solve the problems, Kiribati government seeks to establish a policy known as "migration with dignity" by improving education and skills programs. To support this policy, Australian government as a neighboring country of Kiribati, provides scholarship assistance to the Kiribati community in the form of free education scholarship programs in the field of nursing and provides opportunities for kiribati citizen who have passed the program to work directly in Australia. This scholarship assistance is known as Kiribati Australia Nursing Initiative (KANI). This study answers the question of Australia's motive in helping Kiribati. This research is in the form of literature studies using qualitative methods, collecting data from books, the internet, journals and scientific articles. The result showed that KANI is a scholarship program that not only benefits Kiribati as a receiving country, but also benefits Australa as a foreign aid provider. Australia's dominant self-interest in KANI program is its need for workforce shortages in the health sector due to limited human resources in meeting those needs, as well as to fulfill Australia's regional duty as a 'big brother' in the Pacific. Keywords: Australia, foreign aid, KANI, Kiribati
Korean Wave (Hallyu) dan Persepsi Kaum Muda di Indonesia: Peran Media dan Diplomasi Publik Korea Selatan Teguh Puja Pramadya; Jusmalia Oktaviani
Insignia: Journal of International Relations Vol 8 No 1 (2021): April 2021
Publisher : Laboratorium Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.ins.2021.8.1.3857

Abstract

Budaya populer Gelombang Korea (Korean Wave/Hallyu) dari Korea Selatan telah menyebar hampir ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Produk budaya Korea Selatan seperti musik, film, tarian, drama televisi, hingga produk budaya lain seperti bahasa dan kuliner, banyak digemari oleh masyarakat Indonesia, terutama generasi muda. Sebagai dampak globalisasi yang menyebarkan Gelombang Korea, kaum muda tentu saja mendapatkan porsi yang besar, karena mereka menjadi penikmat semua aspek budaya popular tersebut. Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, penelitian yang membahas mengenai Korea Selatan, terutama mengenai Korean Wave-nya menjadi salah satu topik paling populer. Oleh karena itu, peneliti mengajukan pertanyaan penelitian: Bagaimana Pengaruh Korean Wave (Hallyu) Terhadap Persepsi Kaum Muda mengenai Korea Selatan di Indonesia, khususnya pada Mahasiswa Hubungan Internasional Fisip Unjani? Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, dengan teknik pengumpulan data menggunakan data focus group discussion, observasi, serta teknik dokumentasi. Hasil penelitian menyatakan bahwa Gelombang Korea memang memiliki pengaruh yang cukup besar pada mahasiswa, sehingga para mahasiswa ini tertarik untuk mempelajari aspek-aspek budaya yang berasal dari Korea Selatan. Kata kunci: budaya pop Korea; pengaruh Korean Wave, mahasiswa Indonesia.
Peran TNI dalam Mengamankan Wilayah Perbatasan Darat Indonesia-Malaysia Agus Subagyo
Insignia: Journal of International Relations Vol 8 No 1 (2021): April 2021
Publisher : Laboratorium Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.ins.2021.8.1.2673

Abstract

Wilayah perbatasan darat Indonesia dengan Malaysia berada di Provinsi Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Provinsi Kalimantan Utara. Wilayah ini sangat rawan terjadinya berbagai pelanggaran batas wilayah. TNI sebagai alat pertahanan negara wajib melakukan pengamanan terhadap wilayah perbatasan. Satgas Pamtas Yonif Raider 301/PKS merupakan satuan TNI AD yang diberikan tugas untuk mengamankan wilayah perbatasan darat Indonesia-Malaysia, dengan wilayah penugasan di Provinsi Kalimantan Barat, khususnya di Kabupaten Sanggau, Kabupaten Sintang, dan Kabupaten Kapuas Hulu, mulai 1 Maret 2019–30 November 2019. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis apa saja peran Satgas Pamtas Yonif Raider 301/PKS dalam mengamankan wilayah perbatasan darat Indonesia-Malaysia. Kerangka teoritis yang digunakan adalah teori peran, dimana peran terbagi menjadi peran aktif dan peran partisipatif. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif, melalui teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran Satgas Pamtas Yonif Raider 301/PKS dalam mengamankan wilayah perbatasan darat Indonesia-Malaysia diwujudkan dengan peran aktif dan peran partisipatif. Peran aktif berupa pengamanan wilayah perbatasan dari ancaman militer dan non-militer, seperti pengamanan patok batas, pengamanan yang dilakukan satgas pamtas terhadap kejahatan transnasional, illegal logging, illegal mining, kejahatan narkoba, penyelundupan barang. Peran partisipatif berupa kegiatan sosial kemanusiaan (civic mission) yang dilakukan satgas pamtas dalam bidang pendidikan, bidang kesehatan, bidang sosial, dan bidang infrastruktur, sehingga sangat dirasakan oleh masyarakat di wilayah perbatasan. Kata kunci: peran, TNI, perbatasan darat, Indonesia-Malaysia The land border between Indonesia and Malaysia is in the Province of West Kalimantan, East Kalimantan, and North Kalimantan. This region is very prone to various violations of territorial boundaries. The Indonesian Military as a means of national defense is obliged to carry out security against border areas. The task force of Raider Infantry Battalion 301/PKS is an army unit assigned to secure the Indonesia-Malaysia land border area, with assignment areas in West Kalimantan Province, specifically in Sanggau, Sintang, and Kapuas Hulu Regencies, starting March 1, 2019-30 November 2019. The purpose of this study is to analyze the role of the task force of Raider Infantry Battalion in securing the Indonesia-Malaysia land border area. The theoretical framework used is role theory, where roles are divided into active roles and participatory roles. The study was conducted using qualitative methods, through data collection techniques in the form of interviews, observation, and documentation studies. The results showed that the role of the task force of Raider Infantry Battalion 301/ PKS in securing the Indonesia-Malaysia land border area was realized with an active and participatory role. An active role in the form of securing border areas from military and non-military threats, such as security carried out by the task force for transnational crime, illegal logging, illegal mining, drug crimes, smuggling of goods. Participatory role in the form of humanitarian social activities (civic mission) carried out by the task force in the field of education, health sector, social field, and infrastructure, so it is very much felt by the people in the border areas. Keywords: border, Indonesian military, role, Indonesia-Malaysia

Page 1 of 1 | Total Record : 6