Articles
27 Documents
Search results for
, issue
"Vol 5, No 9 (2015)"
:
27 Documents
clear
Uji Kepekaan terhadap Antibiotik
Tri Umiana Soleha
JUKE Unila Vol 5, No 9 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (169.834 KB)
Uji kepekaan antimikroba dimulai ketika WHO memprakarsai pertemuan di Jenewa pada tahun 1977, perhatian yang lebih luas mengenai resistensi antimikroba yang berhubungan dengan infeksi pada manusia atau hewan. Hal ini memicu program pengawasan untuk memantau resistensi antimikroba menggunakan metode yang tepat. Sensitivitas tes antimikroba akan membantu dokter untuk menentukan antimikroba yang tepat dalam mengobati infeksi. Untuk mendapatkan hasil yang akurat, tes sensitivitas harus dilakukan dengan metode yang akurat dan tepat, yang merupakan metode langsung dapat digunakan untuk mendukung upaya pengobatan. Kriteria penting dalam metode uji sensitivitas adalah untuk melakukan dengan respon pasien terhadap terapi antimikroba. [JuKe Unila 2015; 5(9):119-123]
Oksigen Hiperbarik: Terapi Percepatan Penyembuhan Luka
Adityo Wibowo
JUKE Unila Vol 5, No 9 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (94.666 KB)
Terapi oksigen hiperbarik adalah penggunaan 100% oksigen pada tekanan yang lebih besar dari tekanan atmosfer. Terapi ini telah digunakan sebagai terapi tambahan untuk mempercepat penyembuhan luka. Penyembuhan luka pada dasarnya memiliki tiga mekanisme, yaitu kontraksi, epitelialisasi, dan pertumbuhan jaringan pengikat. Perawatan luka yang baik melibatkan kondisi pasien secara lokal maupun sistemik terkait dengan penyembuhan luka sejak proses awal. Oksigen harus ada dalam jumlah yang memadai agar merangsang perkembangan fibroblas dan produksi kolagen. [JuKe Unila 2015; 5(9):124-128]
Cutaneous Larva Migrans yang Disebabkan Cacing Tambang
Shinta Nareswari
JUKE Unila Vol 5, No 9 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (239.668 KB)
Cutaneous larva migrans yang disebabkan cacing tambang adalah suatu penyakit kulit akibat parasit yang disebabkan oleh migrasi dari larva cacing tambang binatang pada epidermis kulit manusia. Larva ini tidak mampu melakukan penetrasi membrana basalis dari kulit manusia, sehingga mereka tidak mampu berkembang dan melanjutkan siklus hidupnya. Cutaneous larva migrans yang disebabkan cacing tambang merupakan self-limiting disease. Namun, jika tidak ditangani dengan tepat, kelainan kulit dapat menetap selama berbulan-bulan. Penularan terjadi ketika kulit terbuka berkontak dengan tanah yang terkontaminasi. Diagnosis ditegakkan secara klinis. Hal ini didukung dengan riwayat perjalanan dalam waktu dekat dan kemungkinan paparan. Gejala klinis berupa papula kecil berwarna kemerahan yang diikuti degan jalur kemerahan, berbentuk garis, sedikit menonjol menjalar pada kulit. Rasa gatal timbul makin lama semakin sering. Infeksi sekunder oleh bakteri dapat terjadi sebagai akibat dari menggaruk. Obat pilihan pada penyakit ini yaitu ivermektin dalam dosis tunggal. Pemberian albendazol dalam dosis berulang merupakan alternatif terbaik pada negara di mana tidak tersedia ivermektin. Pemberian albendazol secara topikal dapat dipertimbangkan bagi orang-orang yang dikontraindikasikan terhadap ivermektin dan albendazol oral. Untuk mengontrol cutaneous larva migrans yang disebabkan cacing tambang pada level komunitas, perlu dilakukan pengobatan berkala kepada anjing dan kucing dengan obat anti helmintik. Hewan harus dijauhkan dari pantai dan area bermain. Untuk perlindungan pada level individu, kulit yang tidak terlindung harus jauh dari kontak dengan tanah yang kemungkinan terkontaminasi. [JuKe Unila 2015; 5(9):129-133]
Trigger Finger
Ahmad Fauzi
JUKE Unila Vol 5, No 9 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (371.714 KB)
ahmadfauzi_dr@yahoo.co.id
Gen PfATP6 dan Resistensi Plasmodium falciparum Terhadap Golongan Artemisinin
Jhons Fatriyadi Suwandi
JUKE Unila Vol 5, No 9 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (109.956 KB)
Resistensi P. falciparum terhadap antimalaria sangat bergantung pada kondisi genetik parasit tersebut. Gen yang saat ini dilaporkan bertanggung jawab terhadap timbulnya resistensi terhadap artemisinin adalah PfATP6. Hal ini sesuai dengan mekanisme kerja artemisinin yang menghambat sarcoendoplasmic reticulum calcium-dependent ATPase (SERCA) Ca2+-pump ATPase6. Posisi mutasi yang ditemukan pada berbagai codon menyebabkan sulitnya menentukan posisi codon yang berkaitan dengan timbulnya resistensi ini. Berdasarkan penelitian yang telah dipublikasikan ditemukan 4 posisi codon (263, 431, 623, dan 769) yang secara tunggal atau bersama-sama menurunkan suseptibilitas terhadap artemisinin. Tingginya variasi genetik gen PfATP6, menimbulkan keraguan mengenai kaitannya pada resistensi Plasmodium terhadap artemisinin. Hal ini menunjukkan kemungkinan adanya gen atau protein lain yang bertanggung jawab terhadap mekanisme resistensi ini. Berbagai penelitian untuk mengungkap marker molekuler ini terus dilakukan. Penelitian di Kamboja melaporkan adanya Mutant K13-propeller alleles pada isolat Plasmodium yang resisten terhadap artemisinin di Kamboja. Berdasarkan hasil penelitian ini, tampak bahwa mekanisme resistensi P. falciparum terhadap artemisinin tidak sepenuhnya berkaitan dengan gen PfATP6. [JuKe Unila 2015; 5(9):141-146]
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ketertarikan Mahasiswa Kuliah Dalam Kelas Besar
Rika Lisiswanti;
Oktadoni Saputra
JUKE Unila Vol 5, No 9 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (88.108 KB)
Kuliah masih merupakan salah satu strategi pembelajaran yang tidak bisa dihilangkan. Dengan adanya kuliah mahasiswa bisa mendapatkan pengetahuan dari ahlinya walaupun kurikulum yang digunakan adalah kurikulum Problem-Based Learning (PBL). Akhir-akhir ini banyak keluhan karena motivasi mahasiswa kuliah menurun. Ada banyak faktor yang mempengaruhi mahasiswa untuk kuliah atau mengikuti perkuliahan. Faktor tersebut di antaranya adalah metode PBL yang mendukung mahasiswa untuk mengembangkan keterampilan Self-Directed Learning (SDL) sehingga mahasiswa terbiasa mandiri. Kemudian keterampilan dosen dalam mengajar, mengaktifkan, dan memotivasi mahasiswa. Faktor lainnya adalah motivasi mahasiswa yang rendah, gaya belajar yang tidak sesuai, dan lingkungan belajar yang tidak mendukung. Simpulan, Untuk meningkatkan ketertarikan mahasiswa bisa dilakukan dengan mengembangkan strategi mengajar di dalam kelas. [JuKe Unila 2015; 5(9):115-118]
Effectiveness of Accommodating Intra Ocular Lens
Muhammad Yusran
JUKE Unila Vol 5, No 9 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (109.1 KB)
Cataract surgery is effective in restoring distance vision. However, standard monofocal intraocular lenses (IOLs) have a fixed refractive power, leaving patients presbyopic and dependent on spectacles for near vision. Restoring the accommodative ability in pseudophakic patients is still challenging. This literature research focus to review the result of near visual acuity and amplitude of accommodation of available accommodating IOLs. Conducted from the Pubmed database and library research for journal articles that were published and related to accommodating IOLs using the keywords accommodating intraocular lens or monofocal intraocular lens or pseudophakic accommodation. Subjective and objective and measurement of amplitude of accommodation was observed. Subjectively, amplitude of accommodation is measured by defocus and near point of accommodation. Accommodation amplitude was measured by dynamic streak retinoscopy, power refractor and IOL movement objectively. Defocus measurement of accommodating IOL showed that the accommodative amplitude was between 0.94 D to 1.90 D and near point of accommodation (NPA) resulted in power around 0.5 D to 3.83 D meanwhile in the monofocal IOL, defocus power was between 0 to 1.52 D and NPA was between 0.42 D to 2.4 D. Dynamic retinoscopy of accommodating IOL showed power between 0.98 D to 0.99 D while monofocal IOL ranged between 0.17 D to 0.24 D. The movement of accommodating IOL was between 0.151 mm to 0.82 mm while it ranged between 0.02 mm to 0.4 mm for monofocal IOLs. Measurement by using power refractor showed that the power was between 0.39 D to 1.00 D for accommodatin IOL while it was 0.10 D to 0.17 D for monofocal IOL. Conclusion, accommodating IOL provided better near vision compared to monofocal IOL. [JuKe Unila 2015; 5(9):147-153]