cover
Contact Name
Nurhadi Siswanto
Contact Email
corak.jurnalsenikriya@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
corak.jurnalsenikriya@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Corak : Jurnal Seni Kriya
ISSN : 23016027     EISSN : 26854708     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
CORAK adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Jurusan Kriya, Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia Yogyakarta dengan nomor p-ISSN: 2301-6027 dan nomor e-ISSN: 2685-4708. Jurnal ini berisikan tentang artikel hasil penelitan, gagasan konseptual (hasil pemikiran), penciptaan, resensi buku bidang seni kriya dan hasil pengabdian masyarakat dalam bidang kriya.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 2 (2013): NOVEMBER 2013" : 8 Documents clear
SENGKALAN, MAKNA PENANDA DALAM BENTUK KALIMAT ATAU GAMBAR INDAH SEBAGAI BAHASA KOMUNIKASI SENI Febrian Wisnu Adi Adi
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 2, No 2 (2013): NOVEMBER 2013
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (487.738 KB) | DOI: 10.24821/corak.v2i2.2336

Abstract

Sengkalan is expression presentation of from public expression jawa, sengkalan lamba hasthree element that is between sentence or word, figure, and year. sengkalan casquette is amarker visualizinged in the form of picture, patrimony, statue, ornament, train representingfrom an expression forwarding of certain intention. presentation of sengkalan in wording basedon meaning and karakteristikyang refers to the sun, month, nature and form to lay opencontents of intention consisting in in sentence. expansion from word has presentation of word afuguryang relates to applies synonymy term, sound spelling, the and action, intention of similarmeaning, and equation of certain things, and so. charge filled from sengkalan to show image ofsituation of time and certain place, and express case of event of at one time and certain placealso. Keywords: candrasengkala, suryasengkala, picture, ornament, figure  Sengkalan merupakan ekspresi wujud dari ungkapan masyarakat jawa, sengkalan lambamemiliki tiga unsur yaitu diantara kalimat atau kata, figur, dan tahun. sengkalan memet adalahsuatu penanda yang divisualisasikan dalam bentuk gambar, pusaka, patung, perhiasan, keretayang mewakili dari suatu ekspresi penyampaian maksud tertentu. penyajian sengkalan dalamsusunan kata berdasarkan arti dan karakteristikyang mengacu pada matahari, bulan, sifat danwujud untuk mengungkapkan isi maksud yang terkandung di dalam kalimat. pengembangandari kata mempunyai penyajian kata suatu fuguryang berkaitan dengan menggunakan istilahkesinoniman, ejaan bunyi, hal dan tindakan, maksud arti yang serupa, serta persamaan hal-halyang tertentu, dan seterusnya. muatan isi dari sengkalan menunjukkan gambaran situasiwaktu dan tempat tertentu, serta menyatakan kejadian peristiwa pada suatu waktu dantempat yang tertentu juga. Kata Kunci: candrasengkala, suryasengkala, gambar, perhiasan, figur
ALAT TRANSPORTASI KASULTANAN NGAYOGYAKARTA HADININGRAT DALAM PERSPEKTIF INTEGRASI STRUKTURAL Indro Baskoro Miko Putro
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 2, No 2 (2013): NOVEMBER 2013
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (843.002 KB) | DOI: 10.24821/corak.v2i2.2332

Abstract

The means of transport belonging to the palace of Yogyakarta Sultanate is treated asan heirloom that gets legitimacy sultan as Kagungan Dalem (the king) in accordance habitswithin the palace. Royal heirlooms, including transportation and the name has a certain degreeof corresponding 'proximity' to the sultan. Heirloom that has been used or is still used by theSultan and was named Kyai masculine , while the feminine was named Nyai. If the vehicle is amajor heirloom, then in front of Kyai or Nyai title is added to the title Kanjeng.Palace as the creator of "symbols", his actions are not solely based on theinterpretation of freedom as well as his own accord, but in pursuance of a stimulusinterpretation for the creation of a public servant interpretation response Ngayogyakartapalace. The existence of the palace transportation, must be addressed by society as a symbol ofthe greatness of Yogyakarta Yogyakarta Sultanate dynasties that have stood the test of time,proven to date is revitalized through rituals jamasan Kanjeng heritage train Nyai amulets andtrain companion Sura month, the exhibition train palace Mulud every month, and theprocession procession procession procession jumenengan sultan and the palace weddingreception using the train. Keywords: transportasi, Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Integrasi Struktural  Alat-alat transportasi milik keraton Kasultanan Yogyakarta diperlakukan sebagaipusaka yang mendapat legitimasi sultan sebagai Kagungan Dalem (milik raja) sesuai kebiasaandilingkungan keraton. Benda-benda pusaka keraton, termasuk alat transportasi mempunyainama dan gelar tertentu sesuai ‘kedekatannya’ dengan sultan. Pusaka yang pernah digunakanatau masih digunakan oleh sultan dan bersifat maskulin diberi gelar Kyai, sedangkan yangbersifat feminin diberi gelar Nyai. Apabila kendaraan tersebut merupakan pusaka utama, makadidepan gelar Kyai atau Nyai tersebut akan ditambahkan gelar Kanjeng.Keraton sebagai pencipta “simbol-simbol”, tindakannya tidak semata-mataberdasarkan pada interpretasi kebebasan maupun kemauannya sendiri, namun dalamkerangka memberikan stimulus interpretasi bagi terciptanya respon interpretasi darimasyarakat kawula keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Keberadaan alat transportasi keratontersebut, tentunya akan ditanggapi oleh masyarakat Yogyakarta sebagai simbol kebesarandinasti Kasultanan Yogyakarta yang tidak lekang oleh waktu, terbukti sampai saat ini masihdirevitalisasi melalui upacara-upacara ritual jamasan pusaka kereta Kanjeng Nyai Jimat dankereta pendampingnya dibulan Sura, pameran kereta keraton setiap bulan Mulud, dan prosesiarak-arakan kirab jumenengan sultan maupun kirab resepsi pernikahan menggunakan keretakeraton. Kata Kunci: transportasi, Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Integrasi Struktural
KAJIAN ESTETIK DESAIN MATA UANG RUPIAH PADA MASA PEMERINTAHAN SOEKARNO PERIODE 1945-1949 Afrizal Afrizal
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 2, No 2 (2013): NOVEMBER 2013
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (603.16 KB) | DOI: 10.24821/corak.v2i2.2337

Abstract

The foreign people’s entry into Indonesia before Indonesian’s Independence aimed totrade. They used transaction means they brought with them from their own countries. Such themeans constituted gold and silver. When gold and silver were replaced with paper money bythe incomers such as Dutch and Japanese as the means of transaction, such the type of papermoney was also used as the legal means of payment in Indonesia. When Indonesiansproclaimed their independence on August 17, 1945, such the form of transaction means wasstill used as the legal means of payment. The use of transaction means the incomers hadbrought as legal payment was considered as not suitable to the Indonesian personality; thus itshould be replaced. For that reason, Indonesian government issued its own money form as thelegal transaction means: Oeang Repoeblik Indonesia (ORI).This study explored specifically the development of ORI design during Soekarno reign in1945-1949 period. The main problem was explained using historical approach and fine artscience such as esthetics and symbolism.The result of research revealed that the development of ORI design was affected byseveral factors. The role of Indonesian government as the organizer of money circulation, therole of artists as ORI’s designer who got full trust to select the picture theme to be applied tothe money form, and Indonesian support to the publication of ORI who wanted to beindependent from the colonial grip were internal factors supporting the development. Theexternal factor was that the money used before Indonesian independence was not Indonesianofficial money.Keywords: design development, rupiah currency, and esthetics.  Masuknya bangsa asing ke Indonesia sebelum bangsa Indonesia merdeka dengantujuan berdagang mereka menggunakan alat transaksi yang dibawa dari negaranya masingmasing,alatransaksi itu berupa emas dan perak. Pada saat itu emas dan perak menjadialatransaksi yang sah di Indonesia. Ketika uang emas dan perak diganti dengan uang kertasoleh bangsa pendatang seperti bangsa Belanda dan bangsa Jepang sebagai alatransaksi, jenisalatransaksi dengan bahan kertas tersebut juga diberlakukan sebagai pembayarang yang sah di Indonesia. Saat bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17Agustus 1945 bentuk alatransaksi itu masih digunakan sebagai alat pembayaran yang sah.Penggunaan bentuk alatransaksi yang dibawa oleh bangsa pendatang sebagai pembayaranyang sah setelah bangsa Indonesia merdeka, alatransasi itu dianggap tidak cocok dengankepribadian bangsa Indonesia, dengan demikian jenis alatransaksi tersebut harus diganti. Olehkarena itu pemerintah Indonesia mengeluarkan bentuk uang sendiri sebagai alatransaksi yangsah yaitu: Oeang Repoeablik Indonesia (ORI).Penelitian ini menggali secara khusus tentang perkembangan desain ORI pada masapemerintahan Soekarno periode 1945-1949. Pokok permasalahan dipaparkan denganpendekatan sejarah dan penggunaan ilmu seni rupa seperti: estetika dan simbolisme.Hasil penelitian menggambarkan bahwa perkembangan desain ORI dipengaruhibeberapa hal. Peran pemerintahan Indonesia selaku pengatur peredaran uang, peran senimansebagai desainer ORI yang mendapat kepercayaan penuh terhadap pemilihan tema gambaryang akan di aplikasikan kedalam bentuk uang, dan dukungan bangsa Indonesia terhadapterbitnya ORI yang ingin bebas dari cengkraman penjajah merupakan faktor internal yangmendukung perkembangan tersebut. Faktor eksternal adalah: uang yang digunakan sebelumbangsa Indonesia merdeka bukan uang resmi bangsa Indonesia. Kata kunci: perkembangan desain, mata uang rupiah, dan estetika
KONTEMPORER FINISHING PADA MEDIA GERABAH NON SILIDRIS DENGAN TEKNIK PAINTING IN THE WATER Arif Suharson; Dwita Anja Asmara
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 2, No 2 (2013): NOVEMBER 2013
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1056.648 KB) | DOI: 10.24821/corak.v2i2.2333

Abstract

Creative terracotta products are required to meet the best possible standard ofmaterial, technique, and finishing method. Innovation in the shapes and finishing application ofnon-cylindrical terracotta products can be an appropriate solution to crease centre of interest,and to meet the need for contemporary and modern terracotta products in the market. Most ofthe artisans of terracotta products have not diversified their products. Neither have they madeinnovation about the design for non-cylindrical terracotta products for interior or exteriorornaments. The finishing of products has not improved due to the minimal knowledge in thecomposition of color and technique.This study is an applied research to identify the innovation in shapes of non-cylindricalterracotta products and the quality of terracotta art products. Finishing is the last step in theprocess of production. It has to be in harmony with the contemporary design and trend in orderto increase the price of products. This study specifically found the finishing composition withthe method of painting in the water the process of which is performed in the water to result inunique and artistic color combination.Products of the creative industry of terracotta have attracted both domestic andinternational consumers’ attention. Innovation in non-cylindrical shapes and application ofcontemporary finishing technique of painting in the water will be attractive and beneficial inimproving the quality of terracotta productions in global market era. Therefore, they can resultin superior advantages that lead to the increase of economic welfare especially for thoseinvolved in creative works of terracotta.Key words: finishing, terracotta, product, creative, technique  Produk-produk kreatif seni gerabah terracotta dituntut mampu memenuhi standarkualitas baik dari segi, bahan, teknik, dan finishingnya. Inovasi bentuk gerabah non silindris danaplikasi finishing mampu menjadi solusi yang tepat untuk membuat centre of interest, danmengarah pada pemenuhan kebutuhan gerabah kontemporer atau modern, sehingga dapatmemenuhi keinginan pasar. Kalangan pengrajin banyak yang belum melakukan diversifikasidan inovasi desain bentuk gerabah non silindris yang difungsikan sebagai elemen seni hias interior/eksterior. Finishing produk gerabah juga mengalami kendala dan seolah hanya pasrahdengan finishing yang ada, dikarenakan minimnya pengetahuan dalam mengkomposisikanwarna dan teknik finishing baru yang dianggap sulit.Penelitian ini merupakan penelitian terapan yang mengarah pada inovasi bentukproduk gerabah non silindris dan pencapaian mutu finishing pada produk seni gerabahterracotta. Finishing merupakan teknik akhir dalam menyelesaikan produk agar menjadi lebihbaik, menyelaraskan dengan trend desain terkini, dan mampu mengangkat harga jual suatuproduk. Penelitian ini akan menemukan komposisi finishing dengan metode painting in thewater. Dimana proses pelaksanaan finishing gerabah dilakukan dalam air dengan hasil finishingkontemporer dengan perpaduan warna yang unik dan artistik.Produk-produk dari dunia industri kreatif terutama seni gerabah terracotta mulaibanyak diminati oleh konsumen, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Inovasi bentukgerabah non silindris dan aplikasi finishing kontemporer dengan teknik painting in the waterakan menjadi salah satu daya tarik dan mampu meningkatkan mutu produksi seni gerabahterracotta yang akan memberikan dampak kemajuan pada seni tradisional di era pasar global.Sehingga mampu memberikan keunggulan yang berdampak pada penghasilan ekonomikesejahteraan, terutama bagi insan dunia kreatif pada bidang seni gerabah terracota. Kata kunci: finishing, gerabah terracotta, produk, kreatif, teknik
METODE PEMBANGKITAN IDE KREATIF DALAM PENCIPTAAN SENI Edi Eskak
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 2, No 2 (2013): NOVEMBER 2013
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (434.975 KB) | DOI: 10.24821/corak.v2i2.2338

Abstract

Ide merupakan konsep pemikiran yang akan diwujudkan menjadi karya, tanpa ideseniman tidak akan bisa menciptakan karya seni. Ide menjadi penting karena merupakan titiktolak menciptakan suatu karya seni, namun dalam mengeksplorasi ide, banyak senimanterkendala dalam menemukan ide yang akan dituangkan menjadi karya. Maka perlu dikajiberbagai metode pembangkitan ide kreatif dari berbagai sumber yang dapat diaplikasikanguna membangkitkan ide-ide baru dalam penciptaan seni. Metode yang dikaji adalah:membaca, observasi, curah gagasan, berpikir lateral, serta bersosialisasi dan berdiskusi,Membaca meningkatkan pengetahuan dan memperluas wawasan. Observasi merupakanupaya mendapatkan pengetahuan baru yang mendalam dengan pengamatan, sehinggaseniman mendapatkan ide-ide baru. Bila mengalami ketiadaan ide, seniman dapat melakukancurah gagasan yang dilakukan secara bebas sehingga dapat terhindar dari kebuntuan ide.Berpikir lateral merupakan cara penyegaran pikiran dengan mencoba keluar dari kotakkemapanan, rutinitas, atau dari penjara idiologi, agar menemukan ide inovatif dalampenciptaan seni. Bersosialisasi dan berdiskusi memperbanyak teman untuk bertukar pikiranserta mendapatkan pengalaman yang inspiratif. Kata kunci: ide, kreativitas, dan penciptaan seni,  The idea is the concept of thinking translated into the work. An artist will not be able to createart work with no idea. The idea is a starting point to create an art work so that become as animportant issue. However in exploring the idea, many artists are constrained in finding it sothat will be poured into the work. Then it is necessary to study various methods of generatingcreative ideas from a variety of sources that can be applied in order to generate new ideas inthe creation of art. The methods studied were: reading, observation, brainstorming, lateralthinking, as well as socializing and discussion. Reading increases knowledge and broaden yourhorizons. Observation is an effort to gain a profound new knowledge, so the artists get newideas. When experiencing lack of ideas, artists brainstorming ideas can be freely made in orderto avoid deadlock ideas. Lateral thinking is a way of refreshing the mind trying to get out of thebox stability, routine, or the ideology, in order to find innovative ideas in the creation of art.Socializing and discusing multiply with friends to exchange ideas and getting inspirativeexperiences. Keywords: ideas, creativity, and artistic creation.
TENUN LURIK DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT JAWA Isbandono Hariyanto
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 2, No 2 (2013): NOVEMBER 2013
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1132.64 KB) | DOI: 10.24821/corak.v2i2.2334

Abstract

Weaving itself is generally defined as the process of making cloth by crossing threadsvertically (lungsi) and horizontal (weft) using a loom.There are dynamics in the presence of striated in the Java community weaving bothfrom the technical aspects, form and function. The development of striated weaving in Java asa result of culture can not be separated from the various factors that accompany it. It is seenfrom the aspect woven fabric striated function in Javanese society today has been a shift from,it can be seen from the dynamics that occur in the presence of the Java community weavingstriated striated fabric that is both profane and can also be magical. Tenun sendiri secara umum diartikan sebagai proses pembuatan kain denganmenyilangkan benang secara vertikal (lungsi) serta horizontal (pakan) dengan menggunakanalat tenun.Ada dinamika yang terjadi pada keberadaan tenun lurik dalam masyarakat Jawa baikitu dari aspek teknis, bentuk maupun fungsinya. Perkembangan tenun lurik di Jawa sebagaisebuah hasil budaya tidak lepas dari berbagai faktor yang menyertainya. Hal tersebut terlihatdari aspek fungsi kain tenun lurik dalam kehidupan masyarakat Jawa saat ini telah terjadipergeseran dari, hal ini terlihat dari dinamika yang terjadi pada keberadaan tenun lurik dalammasyarakat Jawa kain lurik yang bersifat profan dan dapat pula bersifat magis.
KEBAYA DALAM ARENA KULTULRAL Inva Sariyati
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 2, No 2 (2013): NOVEMBER 2013
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (595.05 KB) | DOI: 10.24821/corak.v2i2.2339

Abstract

Kebaya is partof Indonesian fashion undergone significant changes. Kebaya changenot only in shape, but also the changes experienced of kebaya also occur in terms of functionand value. Changes that happened can not be separated from the habitus of producers andconsumers and capitals which dominate in an field. With that in mind Bourdieu can be seenhow the kebaya in a society, placing it as art and how capital appreciation as wrestling in afield.Key word: kebaya, habitus, field, capital Kebaya adalah bagian fashion Indonesia yang mengalami perubahan yang signifikan.Kebaya berubah bukan hanya pada bentuknya saja, akan tetapi perubahan yang dialamikebaya juga terjadi dari segi fungsi dan nilainya. Perubahan yang dialaminya tidak dapatterlepas dari habitus produsen dan konsumennya dan modal-modal yang mendominasi dalamsebuah arena. Dengan pemikiran bourdieu dapat dilihat bagaimana kebaya dalam sebuahmasyarakat, menempatkannya sebagai barang seni dan bagaimana apresiasinya sebagai modalyang bergulat dalam sebuah arena.Kata kunci: kebaya, habitus, arena, modal
KONTROVERSI DI DUNIA ORNAMEN SUATU TELAAH AWAM DAN INTELEKTUAL Ahmad Zaenuri
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 2, No 2 (2013): NOVEMBER 2013
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (891.602 KB) | DOI: 10.24821/corak.v2i2.2335

Abstract

As the growing development of science, technology and art, as well as thesophistication of today's information technology. A person can easily see the world, anytime,anywhere. And each region is so diverse culturally revealing.Of the arts in the West and the East, the more things that are almost the same, or acharacteristic associated with arts identity that are in it, there is a difference but there are alsosimilarities. Although unrelated human though, this can happen, even though such an event isoften called the cultural parallelism, this is real and never a problem.Keywords: Controversy, World, Ornament Seiring tumbuh berkembangnya ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, sertacanggihnya teknologi informasi saat ini. Seseorang dapat dengan mudah melihat sisi dunia,kapan pun, di mana pun. Dan masing-masing daerah menampakkan budayanya yangbegitu beragam.Tentang kesenian yang ada di Barat dan Timur, semakin banyak hal-hal yanghampir sama, terkait dengan ciri khas atau identitas seni-seni yang berada di dalamnya,ada perbedaan tetapi juga ada kesamaan. Walaupun manusianya tidak berhubungansekalipun, hal ini dapat terjadi, meskipun peristiwa semacam ini sering disebut denganparalelisme kebudayaan, ini nyata dan tidak pernah dipermasalahkan. Kata Kunci: Kontroversi, Dunia, Ornamen

Page 1 of 1 | Total Record : 8